Postingan

Gambar
  KAJIAN TOPONIMI DAN ONOMASTIK “MONANGO LABO”, “WENANG”, DAN “MANADO” BERDASARKAN KAJIAN HISTORIOGRAFI, LINGUISTIK, DAN KAMUS BAHASA DAERAH SULAWESI UTARA Oleh  :  Alffian  Walukow Kajian ini berangkat dari tulisan berjudul Historiografi “Wenang”: Membedakan Wenang dari Manado Tua dan Manado karya Denni H.R. Pinontoan. Tulisan tersebut menekankan pentingnya membedakan tiga entitas historis yang selama ini sering dipertukarkan secara tidak tepat, yaitu Wenang, Manado Tua, dan Manado. Dalam historiografi lokal Sulawesi Utara, nama “Wenang” dipahami sebagai nama asli kawasan daratan yang kini menjadi Kota Manado. Nama ini merujuk pada pemukiman tua di pesisir Minahasa yang berhubungan dengan keberadaan pohon wenang ( Macaranga hispida ). Sementara itu, “Manado” pada awalnya lebih berkaitan dengan pulau di Teluk Manado yang sekarang dikenal sebagai Manado Tua atau Babontehu. Tulisan Denni H.R. Pinontoan juga mengangkat istilah “Monango Labo” sebagai bagian pent...

Jejak Iman K. Buchori Ibrahim

Gambar
  Jejak Iman K. Buchori Ibrahim: Kisah Sang Perwira Rohani Islam dan Pencarian Kebenaran dari Palembang Bagi masyarakat Palembang di dekade 1950-an, sebuah pameo tak tertulis begitu kuat mengakar: "Hampir tidak ada orang Palembang asli yang beragama Kristen." Identitas kesukuan dan keyakinan religius laksana dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Namun, sejarah selalu punya celah untuk melahirkan kisah-kisah pencarian spiritual yang tak biasa. Di tengah kokohnya tradisi itu, sebuah kesaksian yang dimuat dalam Warta Gereja Advent No. 11 Tahun 1959 mencatat babak unik dalam sejarah misi di Sumatra Selatan. Kisah itu milik K. Buchori Ibrahim, seorang anggota Tentara Republik Indonesia (TRI) kelahiran Banyuasin, 15 Juni 1924. Benih yang Tertanam di Tanah Ambon Perjalanan spiritual Buchori tidak bermula di tepian Sungai Musi, melainkan ribuan kilometer di timur Nusantara. Tujuh tahun sebelum kisah ini ditulis, tugas ketentaraan membawanya ke Ambon. Di sana, sang prajurit kep...

KARAMNYA KAPAL VOC “DE SANDLOOPER” DAN MISTERI JANGKAR TANJUNG LESA TAHUNA

Gambar
  KARAMNYA KAPAL VOC “ DE SANDLOOPER”   DAN MISTERI JANGKAR TANJUNG LESA TAHUNA Oleh  :  Alffian  Walukow Sebuah Kajian Sejarah Maritim tentang Bencana Vulkanik, Jalur Pelayaran VOC, dan Artefak Bawah Laut di Kepulauan Sangihe Perairan Kepulauan Sangihe sejak lama dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran penting di kawasan utara Nusantara. Posisinya yang berada di antara Laut Maluku, Laut Sulawesi, Ternate, Mindanao, dan Manado menjadikan wilayah ini lintasan strategis perdagangan rempah-rempah sejak masa Portugis, Spanyol, hingga VOC Belanda. Di kawasan Tanjung Lesa, Tahuna, ditemukan sebuah jangkar tua yang selama beberapa dekade sering diasosiasikan oleh sejumlah peneliti maritim sebagai peninggalan kapal Portugis abad ke-16. Namun apabila dikaji kembali melalui sumber-sumber arsip VOC abad ke-17, terutama catatan mengenai karamnya kapal VOC de Sandlooper pada tahun 1673, muncul kemungkinan historis baru bahwa jangkar tersebut justru berkaitan dengan...