Postingan

REKONSTRUKSI VISUAL DAN SOSIO-SPASIAL KOMPLEKS MISI LANGOWAN 1847: KAJIAN INTERDISIPLINER ATAS LITOGRAFI J.G. SCHWARZ DALAM DISKURSUS MODERNITAS MINAHASA

Gambar
REKONSTRUKSI VISUAL DAN SOSIO-SPASIAL KOMPLEKS MISI LANGOWAN 1847: KAJIAN INTERDISIPLINER ATAS LITOGRAFI J.G. SCHWARZ DALAM DISKURSUS MODERNITAS MINAHASA Oleh :  Alffian  Walukow   KATA PENGANTAR Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya laporan penelitian mandiri yang berjudul "Rekonstruksi Visual dan Sosio-Spasial Kompleks Misi Langowan: Kajian Interdisipliner atas Litografi J.G. Schwarz 1847 dalam Diskursus Modernitas Minahasa". Penelitian ini merupakan bentuk dedikasi pribadi untuk menggali kembali akar sejarah dan kekayaan seni rupa yang tersimpan dalam lembaran artefak masa lalu yang sering kali terlupakan oleh arus zaman. Objek penelitian ini, sebuah litografi dari tahun 1847, bukan sekadar gambar cetak tua yang kehilangan maknanya. Ia adalah jendela visual yang membawa kita kembali ke masa di mana "fajar baru" pendidikan dan peradaban modern mulai menyingsing di tanah Langowan. Melalui kacamata seni rupa, penelitian ini berupaya ...

Perbedaan kata SMOKOL Sangihe dan Minahasa

Gambar
  Smokol dalam Perspektif Budaya dan Linguistik: Transformasi Makna, Stratifikasi Bahasa, dan Identitas Sosial di Sulawesi Utara Oleh  :  Alffian W.P.  Walukow Sagu  Bakar  Sangihe Jenis "Lau Wango" Dalam khazanah bahasa di Sulawesi Utara, kata Smokol (atau Semokol ) merupakan salah satu fenomena linguistik yang memperlihatkan dinamika lintas bahasa, lintas sejarah, dan lintas makna. Kata ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas makan, tetapi juga merekam jejak kolonialisme, proses adaptasi fonologis, stratifikasi sosial, hingga pembentukan identitas budaya lokal. Fenomena Smokol memperlihatkan bagaimana sebuah kosakata dapat melakukan perjalanan dari bahasa kolonial ke bahasa lokal, mengalami perubahan bunyi dan makna, lalu hidup sebagai simbol kebersamaan masyarakat. Dalam konteks ini, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang negosiasi budaya dan sejarah. Akar Etimologi dan Pergeseran Makna Secara historis, kata Smokol dalam baha...

PENOLAKAN RENOVASI GEREJA RUMOONG ATAS OLEH PENDUDUK HUTAN

Gambar
  PENOLAKAN RENOVASI GEREJA RUMOONG ATAS OLEH PENDUDUK HUTAN DAN DOKUMEN SURAT PERMANDIAN TAHUN 1940 I. Rencana Renovasi Gereja Rumoong Atas dan Penolakan Sebagian Penduduk (1869–1872) Rencana renovasi Gereja Rumoong Atas telah muncul sejak lama. Bahkan, menurut laporan tahun 1872, persiapan kayu untuk pembangunan sudah tersedia. Namun, rencana tersebut sempat mendapat penolakan dari sebagian penduduk, khususnya penduduk Bosch (penduduk yang masih tinggal di wilayah hutan). Mereka menginginkan agar kayu yang telah disiapkan itu digunakan untuk pembangunan pasar di depan gereja, bukan untuk renovasi gereja. Perbedaan pandangan ini menyebabkan tertundanya pelaksanaan pembangunan. Padahal, rencana renovasi tersebut telah dibicarakan selama bertahun-tahun. Pejabat pemerintah seperti HAPPÉ datang dan menyetujui renovasi. Warga VAN DEINSE juga menyatakan persetujuan bahwa pekerjaan pertukangan akan dilakukan, meskipun diminta sedikit waktu lagi. Namun, warga pada waktu itu masih ...

Tata Upacara Adat Tulude 2026

Gambar
 Tata Upacara Adat Tulude dan HUT Sangihe ke 601 Tahun

Tari Perang Maluku, Minahasa dan Sangihe

Gambar
  Episentrum Ksatria Timur: Sintesis Sejarah, Seni Rupa, dan Linguistik dalam Tari Perang Maluku, Minahasa, dan Sangihe. Artikel ini mengeksplorasi sintesis sejarah, seni rupa, dan linguistik pada tarian perang di Nusantara Timur, khususnya Cakalele (Maluku), Kabasaran (Minahasa), serta Salo dan Alabadiri (Sangihe). Secara historis, tarian-tarian ini berevolusi dari ritual ksatria purba menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Dari perspektif linguistik, terjadi pelapisan makna pada istilah seperti Caka (roh) dan Upase (pengawal), yang mencerminkan adaptasi bahasa lokal terhadap pengaruh asing. Dalam aspek seni rupa, penggunaan warna merah dan geometri perisai Salawaku serta Pata melambangkan kosmologi perlindungan dan keberanian. Kajian ini menyimpulkan bahwa meskipun kolonial Belanda menggeneralisasi tarian ini sebagai "Cakalele," masing-masing memiliki genealogi unik yang memperkokoh identitas kultural maritim. English This article explores the synthesis of hist...