Postingan

Ĕllang Sangiang, wanita pemberani dari kampung Tariang Lama.

Gambar
  KAJIAN LINGUISTIK DAN HISTORIS TENTANG NARASI ĔLLANG SANGIANG DALAM TRADISI LISAN KAMPUNG TARIANG LAMA Oleh :   Alffian   Walukow Tradisi lisan masyarakat Sangihe merupakan bagian penting dari warisan budaya yang memuat sejarah lokal, identitas etnis, serta sistem pengetahuan masyarakat kepulauan. Salah satu narasi yang masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Kampung Tariang Lama adalah kisah seorang perempuan pemberani bernama Ĕllang Sangiang . Tokoh ini dikenal dalam cerita rakyat sebagai pelindung pemukiman Matane dari serangan bajak laut Mindanao pada masa lampau. Dalam perkembangan modern, muncul perubahan penyebutan nama tokoh tersebut dari “Ĕllang Sangiang” menjadi “Olang Sangiang”. Perubahan ini menimbulkan persoalan linguistik dan historis karena diduga tidak sesuai dengan struktur leksikal Bahasa Sangir serta tidak didukung oleh makna etimologis yang tepat. Oleh sebab itu, tulisan ini bertujuan melakukan pelurusan narasi melalui pendekatan lingui...

KARAENG PATTINGALLOANG

Gambar
  KAJIAN SEJARAH KARAENG PATTINGALLOANG Berdasarkan Dokumen Kolonial, Sumber Lokal, dan Kajian Sejarah Modern Pendahuluan Karaeng Pattingalloang merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah intelektual Nusantara abad ke-17. Ia dikenal sebagai mangkubumi Kesultanan Gowa-Tallo sekaligus seorang cendekiawan yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan, geografi, astronomi, matematika, teknologi militer, serta diplomasi internasional. Dalam berbagai arsip kolonial Belanda dan Portugis, Karaeng Pattingalloang digambarkan sebagai bangsawan Makassar yang sangat terpelajar dan memiliki wawasan global yang luar biasa untuk ukuran zamannya. Sosok ini sering dipandang sebagai simbol keterbukaan intelektual Nusantara terhadap dunia internasional sebelum dominasi kolonial modern berkembang penuh di Indonesia. Anthony Reid menyebut Makassar abad ke-17 sebagai salah satu pusat perdagangan dan kosmopolitanisme terbesar di Asia Tenggara. Dalam konteks inilah Karaeng Pattingall...

Bimtek Pembelajaran Mendalam Digelar di Tabukan Utara.

Gambar
  Bimtek Pembelajaran Mendalam Digelar di Tabukan Utara.18,19 Mei 2026 Penguatan Kurikulum Nasional Menjangkau Wilayah Kepulauan Sangihe TABUKAN UTARA — Pemerintah terus memperkuat transformasi pendidikan nasional hingga ke wilayah kepulauan terluar Indonesia. Salah satu bentuk implementasi tersebut terlihat melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembelajaran Mendalam Kurikulum Nasional yang dilaksanakan pada 18–19 Mei 2026 di SMP Negeri 2 Tabukan Utara untuk wilayah Kecamatan Tabukan Utara dan Nusa Tabukan. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam memperkuat pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai strategi baru transformasi pendidikan Indonesia. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi pelajaran, tetapi menekankan pembelajaran yang bermakna, kritis, reflektif, serta relevan dengan kehidupan nyata peserta didik. (Kemendikdasmen) Bimtek menghadirkan sejumlah fasilitator pendidik...

BAHANDIANG: BALAI RITUAL, ADU AYAM, DAN KOMUNIKASI DENGAN ROH GUNUNG BERAPI DALAM KEBUDAYAAN SANGIHE.

Gambar
  MENGENAL BAHANDIANG DAN BAHĔMBENG: EKSPLORASI TRADISI RITUAL DAN NILAI GOTONG ROYONG SUKU SANGIR Oleh   ; Alffian   W.P. Walukow Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan dari peradaban, sistem kepercayaan, dan nilai sosial masyarakat penuturnya. Dalam naskah kamus kuno bahasa Sangir (Sangihe) yang berpenjelasan bahasa Belanda, terdapat dua kata yang sangat menarik untuk dikaji, yaitu bahandiang dan bahĕmbeng . Kedua kata ini membuka jendela masa lalu mengenai kehidupan spiritual dan sosial masyarakat di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. BAHANDIANG: BALAI RITUAL, ADU AYAM, DAN KOMUNIKASI DENGAN ROH GUNUNG BERAPI   DALAM   KEBUDAYAAN   SANGIHE. B ahandiang (atau dikenal juga sebagai sasendengang dalam dialek Sangir Besar), membawa kita pada atmosfer ritual keagamaan kuno yang magis di Pulau Siau. Bahandiang merupakan sebuah tempat khusus berbentuk balai-balai atau dipan ritual. Balai ini memegang peranan sentral dalam up...

Letusan Gunung Awu (Sangihe) dari dua periode berbeda (1856 dan 1892)

Gambar
  Letusan Gunung Awu (Sangihe) dari dua periode berbeda (1856 dan 1892), serta fragmen opini keagamaan dan pendidikan kolonial. REKONSTRUKSI SEJARAH KEBENCANAAN DAN DINAMIKA SOSIAL KEPULAUAN SANGIHE (1856–1892) Disusun   oleh : Alffian   Walukow   Letusan gunung berapi Gunung Awu, 2 Maret 1856, Sangir Besar, alias Pulau Sangir, Sulawesi Utara, Indonesia bagian utara. Korban jiwa yang ditimbulkan berkisar antara 2.000 hingga 6.000 orang. Sumber   foto :   La Ilustracion Espanola y Americana , diterbitkan tahun 1892.   N ama Publikasi: La Ilustración Española y Americana (Majalah mingguan Spanyol yang berfokus pada sains, seni, sastra, dan berita dunia yang terbit antara tahun 1869–1921). Tahun Publikasi Gambar: 1892. Jenis Dokumen: Ukiran cetak ( engraving ) atau litografi, yang lazim digunakan sebagai dokumentasi visual media cetak pada abad ke-19 sebelum teknologi cetak foto surat kabar meluas. Deskripsi Gambar: Ilustrasi in...