Postingan

KALENDER LUNAR TRADISIONAL MASYARAKAT SANGIR

Gambar
  KAJIAN ASTRONOMI KULTURAL : REKONSTRUKSI SISTEM PENANGGALAN LUNAR TRADISIONAL MASYARAKAT SANGIR   Oleh: Alffian Walukow, S.Pd. M.Pd     Lenganeng : 2026 SANGGAR   APAPUHANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat bahari di Kepulauan Nusa Utara, khususnya etnis Sangir, telah mengembangkan sistem navigasi dan kronometri yang sangat canggih jauh sebelum adopsi kalender Gregorian secara masif. Kehidupan yang sangat bergantung pada fluktuasi pasang surut air laut ( tidal forces ) dan siklus vegetasi pertanian menuntut adanya pemahaman presisi terhadap pergerakan benda langit, terutama Bulan sebagai satelit alami Bumi. Secara astronomis, masyarakat Sangir melakukan observasi terhadap Periode Sinodik , yakni interval waktu yang dibutuhkan Bulan untuk kembali ke fase yang sama (misalnya dari Bulan Baru ke Bulan Baru berikutnya). Meskipun secara modern kita mengenal periode ini rata-rata $29,53$ hari, intelektualitas lokal Sangir tel...

Taman Robert Wolter Monginsidi

Gambar
  Taman : ROBERT WOLTER MONGISIDI (BOTE) Patung Robert Wolter Monginsidi yang berdiri kokoh di Lapangan Bantik, Malalayang, tampil sebagai monumen yang memancarkan kewibawaan sekaligus kedekatan emosional dengan tanah kelahirannya. Sosok pahlawan nasional ini digambarkan dalam posisi berdiri tegak. Tatapan matanya dibuat tajam menghadap ke arah pemukiman warga, seolah sedang mengawasi dan menjaga semangat patriotisme masyarakat asli Malalayang. Patung ini diletakkan di atas landasan beton yang cukup tinggi, di mana biasanya terpahat kutipan legendaris "Setia hingga akhir dalam keyakinan" sebagai pengingat akan keteguhan prinsip beliau sebelum dieksekusi di Makassar. Keberadaan monumen ini di tengah Lapangan Bantik menjadikannya jantung dari aktivitas sosial dan budaya masyarakat setempat. Lingkungan di sekitarnya yang relatif tenang dengan pepohonan rindang menciptakan suasana yang khidmat, berbeda dengan monumen formal di pusat kota yang penuh hiruk pikuk kendaraan. Area i...

Taman Kelong Tomohon

Gambar
  Taman Kelong: Dari Bisikan Burung Imam Karema hingga "New Zealand" di Jantung Tomohon Pernahkah Anda menyeruput kopi hangat di tepi kolam yang tenang, sembari menatap kemegahan Gunung Lokon yang berselimut kabut? Jika sedang berada di Tomohon, kemungkinan besar Anda sedang berada di Taman Kelong. Destinasi yang terletak di Kakaskasen Dua, Tomohon Utara ini, belakangan viral dan dijuluki sebagai "New Zealand-nya Sulawesi" karena hamparan hijaunya yang asri. Namun, di balik keindahan estetisnya yang kekinian, tersimpan sebuah narasi tua yang membawa kita kembali ke masa awal peradaban Minahasa. Sebuah Nama yang Lahir dari "Penolakan" Langit Nama "Kelong" bukanlah sekadar nama tanpa makna. Merujuk pada catatan Pdt. Prof. Dr. W. A. Roeroe dalam Sejarah Manusia Pertama Di Minahasa, alkisah Imam Karema memanjatkan doa kepada Empung Wailan Wangko (Tuhan Yang Maha Besar). Namun, semesta memberi jawaban berbeda. Melalui suara burung yang dianggap ...

KAWASARAN, OTORITAS BUDAYA, DAN “TRADISI YANG DICIPTAKAN KEMBALI”

Gambar
  KAWASARAN, OTORITAS BUDAYA, DAN “TRADISI YANG DICIPTAKAN KEMBALI” Polemik atas Narasi Kebudayaan dalam Artikel “Taroreh, Mahsasau dan Tradisi Kawasaran” sumber :  https://kelung.co.id/taroreh-mahsasau-dan-tradisi-kawasaran/  9 Desember 2025 Artikel “Taroreh, Mahsasau dan Tradisi Kawasaran” yang ditulis oleh Rikson Karundeng menghadirkan narasi mengenai kebangkitan Kawasaran melalui figur Rinto Taroreh. Dalam narasi tersebut, Taroreh digambarkan sebagai penjaga tradisi, pelestari ritus Mahsasau, sekaligus figur kunci yang menghidupkan kembali Kawasaran di Minahasa. Namun jika dibaca secara kritis, tulisan tersebut tidak hanya sekadar menceritakan proses pelestarian budaya. Ia juga membangun konstruksi otoritas budaya yang problematis: seolah-olah pemahaman tentang Kawasaran yang berasal dari satu komunitas lokal dapat mewakili keseluruhan kebudayaan Minahasa. Tulisan ini berargumen bahwa narasi tersebut tidak hanya lemah secara metodologis, tetapi juga berkontri...