Kue Adat Tamo
Tradisi Pemotongan Kue Adat Tamo dari Sangihe 1. Hakikat dan Arti Kata Tamo: Simbol Cinta Kasih Gumansalangi dan Sangiang Konda Wulaeng Tradisi Menuwang Tamo (atau Memoto Tamo) merupakan ritual pemotongan kue adat sakral berbentuk kerucut raksasa yang memegang peranan penting dalam peradaban etnis Sangihe. Secara etimologis, sebagian kalangan mengartikan kata Tamo dari istilah Tamolokang, yang didefinisikan sebagai sebuah kelengkapan. Lebih dari sekadar sajian kuliner, Tamo diyakini sebagai simbol pernyataan cinta yang lahir dari kisah percintaan suci antara Gumansalangi dan Sangiang Konda Wulaeng—putri kayangan yang menjadi cikal bakal atau ibu dari orang-orang Sangihe sekaligus pendiri kerajaan di Sangihe. Kue Tamo tradisional terbuat dari komoditas hasil bumi lokal seperti beras, gula merah, dan santan, dengan sebutir telur yang ditancapkan di puncaknya sebagai simbol kehidupan baru yang diamanatkan dalam kisah Konda Wulaeng. Catatan Penting mengenai Tradisi: Berdas...