Postingan

KEPULAUAN TALAUD DALAM JALUR KUASA DAN MONOPOLI VOC ABAD KE-17 HINGGA AWAL ABAD KE-18

Gambar
  KEPULAUAN TALAUD DALAM JALUR KUASA DAN MONOPOLI VOC ABAD KE-17 HINGGA AWAL ABAD KE-18 Oleh : Alffian   Walukow Kajian ini merekonstruksi kondisi geografis, demografis, tata politik, militer, serta dinamika sosial-keagamaan di Kepulauan Talaud pada akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18. Dengan mengandalkan sumber primer kolonial, terutama mahakarya François Valentyn, Oud en Nieuw Oost-Indië (1724), serta laporan ekspedisi militer-sipil VOC, studi ini menunjukkan bahwa Talaud bukanlah wilayah pinggiran yang pasif. Sebaliknya, Kepulauan Talaud merupakan arena kontestasi geopolitik yang dinamis antara kerajaan-kerajaan lokal (Tabukan, Taruna, Manganitu, Siau, dan Tagulandang), Kesultanan Ternate, Kesultanan Maguindanao di Filipina Selatan, dan VOC yang agresif dalam memaksakan monopoli rempah-rempah melalui kebijakan ekstirpasi. BAB I: GEOGRAFI MARITIM DAN PETA DEMOGRAFI KEPULAUAN TALAUD 1. Letak Spesifik dan Signifikansi Navigasi Dalam konstelasi geopolitik marit...

PENEMUAN AWAL, CENGKIH DI TALAUD

Gambar
  CENGKIH DI KEPULAUAN TALAUD: JEJAK REMPAH DALAM JARINGAN PERDAGANGAN NUSANTARA DAN KEBIJAKAN MONOPOLI VOC   Oleh   : Alffian   Walukow Litografi  Pejumpaan  awal  Orang Eropa  dengan  Penduduk  Takaud Cengkih ( Syzygium aromaticum ) merupakan salah satu komoditas rempah paling berharga dalam sejarah dunia. Selama berabad-abad, rempah ini menjadi penggerak utama perdagangan internasional yang menghubungkan Nusantara dengan Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Eropa. Secara botani, cengkih merupakan tanaman endemik Kepulauan Maluku Utara yang pada masa lampau hanya tumbuh secara alami di Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Namun berbagai sumber sejarah menunjukkan bahwa persebaran cengkih tidak berhenti pada wilayah asalnya. Melalui jaringan perdagangan antarpulau yang telah berkembang jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, cengkih menyebar ke berbagai kawasan lain di Nusantara, termasuk Kepulauan Talaud di ujung utara Sulawe...

LEGENDA MUSTIKA BATU ULAR KOMALA DARI KEPULAUAN TALAUD

Gambar
  LEGENDA MUSTIKA BATU ULAR KOMALA DARI KEPULAUAN TALAUD Cerita   Rakyat   Talaud   dari   tahun1600-an Di ufuk timur, tak jauh dari gugusan pulau-pulau besar, terbaring Pulau Nusa—atau yang penduduk setempat kerap menyebutnya Pulau Noeffa. Pulau ini kecil saja, berbentuk nyaris bulat sempurna dengan bentangan terumbu karang yang mengelilinginya. Konon, untuk mengitari pulau ini, diperlukan perjalanan sejauh empat mil. Bagi masyarakat Talaud yang hidup di akhir tahun 1600-an, pulau ini bukan sekadar daratan biasa, melainkan tempat yang menyimpan rahasia alam yang tak terjamah. Ada sebuah kepercayaan yang turun-temurun di kalangan penduduk, sebuah cerita tentang cahaya misterius yang tampak di kejauhan. Orang-orang sering berbisik, bahwa pada cuaca yang paling cerah, dari puncak pulau ini kita bisa melihat kelap-kelip cahaya kebun dari tanah Mindanao yang jauh. Meski banyak yang meragukan karena jaraknya yang mencapai lebih dari dua puluh mil, penduduk sete...

MARGA LAHUNDUITAN

Gambar
  MARGA     LAHUNDUITAN ANALISIS ETIMOLOGI, SEJARAH MIGRASI, DAN REKAM JEJAK INTELEKTUAL Oleh : Alffian   Walukow   Kubur  Tua  Lahunduitan di  Tariang  Baru Nama Lahunduitan (atau dalam ejaan lama: Lahoendoeitan ) bukan sekadar identitas keluarga, melainkan sebuah rekaman sejarah dan nilai luhur masyarakat Sangihe. Melalui integrasi data sejarah dan leksikografi, kita dapat memahami betapa mendalamnya makna yang terkandung dalam marga ini. Fakta Sejarah dan Migrasi Marga Bukti sejarah menunjukkan bahwa penduduk mula-mula di Tariang Lama berasal dari Kendahe, yang bermigrasi akibat letusan Gunung Api Awu pada tahun 1640-an. Dalam konteks ini, Upung Marange Lahunduitan diketahui berasal dari Kerajaan Kendahe. Akibat bencana erupsi tersebut, keluarga Lahunduitan berpencar menuju berbagai tempat pengungsian, salah satunya di wilayah bernama Matane yang kemudian dikenal sebagai Tariang. Dari Tariang inilah cikal bakal persebaran mar...