Postingan

KRONOLOGI LENGKAP BENCANA MANALU 1913

  BENCANA MENALU 1913: GEMPA TEKTONIK DAN LONGSORAN KATASTROFIK DI SANGIHE Oleh  :  Alffian  Walukow Pada 14 Maret 1913, wilayah Kepulauan Sangihe diguncang gempa bumi kuat yang mengakibatkan longsoran besar dan kehancuran sejumlah permukiman. Peristiwa ini paling parah melanda kawasan Tabukan dan desa Menalu (ditulis pula sebagai Menaloe atau Menalongko dalam arsip kolonial). Bencana ini terekam dalam berbagai surat kabar Hindia Belanda, antara lain Bataviaasch Nieuwsblad (14 Mei 1913), Leeuwarder Courant (30 Mei 1913), Algemeen Handelsblad (9 Juni 1913), dan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië (1 April 1913). Dokumentasi tersebut memberikan gambaran rinci mengenai dampak geologis dan respons sosial pascabencana.   2. Latar Geologi dan Kerentanan Wilayah Pulau Sangihe Besar berada pada zona subduksi aktif di pertemuan Lempeng Laut Filipina dan Lempeng Eurasia. Di bagian tengah pulau berdiri kompleks gunung api tua Gunung Sahendaruman, y...
Gambar
  Pendeta Willem van de Beek:  Fondasi Literasi Talaud, Salah   satu Tokoh   lahirnya Sinode GMIST. Dilupakan  Sejarah oleh : Alffian  Walukow Sejarah modernisasi, perluasan literasi, dan perkembangan kekristenan di batas utara Nusantara tidak dapat dilepaskan dari nama Willem van de Beek. Bersama rekannya, Cornelis Zwaan, Zendeling-leraar (Pendeta Pengajar) asal Belanda ini menjadi motor penggerak transformasi sosial-keagamaan di Kepulauan Sangihe dan Talaud pada awal abad ke-20. Jejak pengabdian mereka tidak hanya terekam dalam lembaran usang arsip kolonial seperti majalah Ons Land , melainkan terus bekerja dan membekas hingga hari ini ( werkzaam tot heden ) dalam denyut nadi kehidupan masyarakat beranda utara. Pada awal abad ke-20, di bawah naungan Comité tot Voorziening in de Geestelijke Behoeften der Inlandsche Christenen op de Sangi- en Talaud-eilanden (Komite Sangihe-Talaud / STC), Willem van de Beek menetapkan Lirung di Pulau Salibabu sebaga...

352 TAHUN PEKABARAN INJIL DI PULAU SANGIHE DAN 343 TAHUN KHOTBAH BAHASA SANGIR.

Gambar
  352   TAHUN PEKABARAN   INJIL   DI   PULAU   SANGIHE   DAN 343 TAHUN   KHOTBAH BAHASA   SANGIR. Menelusuri Sejarah Penginjilan Protestan Mula-Mula di Pulau Sangihe: Jejak Langkah dan Warisan Don Luis Melangin Takaulimang Oleh   :   Alffian   Walukow Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara menyimpan rekam jejak sejarah kekristenan yang panjang, berliku, sekaligus dramatis. Jauh sebelum lembaga misi modern menata pelayanan gerejawi di kawasan perbatasan ini, fajar kekristenan Protestan telah merekah melalui kedatangan para pendeta VOC ( Verenigde Oostindische Compagnie ), yang kemudian diteruskan oleh sosok monumental pribumi pertama: Raja Don Luis Melangin Takaulimang. Bagaimana dinamika pekabaran Injil Protestan mula-mula di tanah Sangihe, dan seperti apa periodisasi sejarahnya hingga tahun 2026 ini? Berikut ulasan mendalamnya. Awal Mula Penginjilan VOC dan Tantangan Kaum Ordo Yesuit Jejak pekabaran Injil Protestan di...

BENCANA LESABE MANALU 1913

Gambar
  Tragedi Gempa & Longsor Sangihe 1913: Kampung Lesabe Lenyap, 117 Warga Tertimbun Hidup-Hidup Tragedi ini menjadi awal Lahirnya Kampung Malamenggu dan Bulude oleh pengungsi dari kampung sekitar Lesabe. Oleh; Alffian Walukow TABUKAN, KEPULAUAN SANGIHE — Sebuah laporan memilukan dari arsip kolonial awal abad ke-20 membuka kembali tabir salah satu bencana alam paling mematikan di utara Sulawesi (Celebes). Pada 14 Maret 1913, gempa tektonik dahsyat yang memicu pergeseran tanah skala besar mengguncang Kepulauan Sangihe dan Talaud. Bencana ini meratakan permukiman warga dan menelan ratusan korban jiwa. Berdasarkan telegram resmi otoritas setempat, dampak terparah berpusat di Pulau Sangihe Besar, tepatnya di wilayah kedatuan (landschap) Tabukan. Kesaksian Mencekam dari Lokasi Bencana Kontrolir Sipil pemerintah Hindia Belanda yang bertugas saat itu, J. J. C. van Dijk, menggambarkan situasi mencekam saat pertama kali tiba di lokasi. Distrik Menalu—salah satu kawasan terpadat saat ...

Kampung Talengen sejak 1904

 TALENGEN SANGIHE — Menelusuri sejarah perbatasan utara Nusantara seolah membuka kembali lembaran-lembaran arsip kolonial yang berdebu. Salah satu wilayah yang menyimpan rekam jejak historis yang kuat adalah Talengen, sebuah kampung yang kini terletak di Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Berdasarkan investigasi dokumen primer abad ke-20, Talengen tercatat bukan sekadar pemukiman biasa. Di masa lalu, wilayah dengan lanskap lembah berbatuan ini merupakan salah satu episentrum penting dalam konstelasi birokrasi, ekonomi perkebunan, hingga pelayanan sosial di Pulau Sangihe Besar. Berikut adalah rekonstruksi jurnalisme sejarah mengenai dinamika perkembangan Talengen dari masa ke masa: Awal Abad ke-20: Masuk dalam Administrasi Kolonial dan Jalur Laut Nama Talengen secara resmi mulai muncul dalam dokumen tata negara Hindia Belanda pada tahun 1904 melalui kitab Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië. Saat itu, Talengen dicatat bersanding dengan w...

MAKNA ZIARAH DALAM KEBUDAYAAN SANGIHE

Gambar
  KAJIAN ETNOLINGGUISTIK: KONSEP KUNJUNGAN  DALAM KOSAKATA SANGIHE DAN PERGESERAN MAKNA ZIARAH TRADISIONAL Dalam kebudayaan tua suku Sangihe, konsep mengenai mobilitas fisik untuk menemui atau mendatangi suatu objek tidak dipandang sekadar sebagai perpindahan tempat yang profan. Berdasarkan analisis semantik terhadap kosakata kuno Sangihe-Belanda yang disajikan, kata "ziarah" dalam kosmologi kuno Sangihe memiliki akar filosofis yang berbeda dengan konsep ziarah modern (yang sering kali diartikan sebagai perjalanan khusus ke pemakaman umum atau tempat keramat yang jauh). Dalam kebudayaan tua suku Sangihe, secara historis tidak ada tradisi berziarah ke makam atau kuburan. Hal ini dikarenakan karakteristik penguburan masa lalu masyarakat Sangihe tidak dipusatkan di lahan pemakaman umum yang terpisah. Sebagian besar kubur orang Sangihe di masa lalu berada di lingkungan domestik—terletak di dekat rumah, di samping rumah, di bawah kolong rumah, bahkan ada yang berada di dalam r...