JEJAK SPIRITUAL NUSANTARA DALAM MANUSKRIP MANILA 1590
JEJAK
SPIRITUAL NUSANTARA DALAM MANUSKRIP MANILA 1590: BATHALA, RITUAL, DAN RAHASIA
ALAM
(Religi
Tua Filipina yang juga pernah dipraktikkan di Sulawesi pada masa silam)
Oleh : Alffian Walukow
Pada
akhir abad ke-16, ketika kekuasaan kolonial Spanyol mulai mengukuhkan dirinya
di kepulauan Filipina, para penulis kolonial mencatat berbagai pengamatan
tentang kehidupan masyarakat lokal. Salah satu sumber penting adalah Manuskrip
Manila tahun 1590, sebuah dokumen yang menggambarkan sistem kepercayaan
masyarakat di Luzon, Panay, dan Cebu sebelum proses kristenisasi berlangsung
sepenuhnya. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun masyarakat di
wilayah-wilayah ini berbicara dalam bahasa yang berbeda, mereka memiliki
struktur kosmologi dan praktik religius yang sangat serupa. Dunia spiritual
mereka memandang alam semesta sebagai ruang yang dipenuhi oleh hubungan antara
manusia, roh leluhur, dan kekuatan ilahi. Dalam perspektif antropologi sejarah,
manuskrip ini tidak hanya memberikan gambaran tentang religi tua Filipina,
tetapi juga memperlihatkan hubungan budaya yang lebih luas dengan masyarakat
bahari di wilayah utara Nusantara, termasuk Sulawesi dan Kepulauan Sangihe.
Sang
Pencipta dan Kehidupan Setelah Mati :
Masyarakat
Filipina kuno mengakui keberadaan otoritas tertinggi di alam semesta yang
mereka sebut dengan berbagai nama seperti Bathala, Molayari, atau Diwata. Sosok
ini dipahami sebagai pencipta dunia dan sumber kekuatan spiritual. Dalam
pandangan mereka, kematian bukanlah akhir dari keberadaan manusia, melainkan
perpindahan jiwa menuju dunia lain. Jiwa diyakini melanjutkan perjalanan ke
tempat yang disebut Maca, yang dapat dipahami sebagai dunia kebahagiaan atau
surga, atau ke Casanaan, tempat penderitaan yang sering dipahami sebagai dunia
bawah atau neraka.
Menariknya,
konsep ketuhanan ini memiliki kemiripan dengan istilah yang ditemukan di
wilayah utara Sulawesi. Dalam bahasa dan kebudayaan masyarakat Sangihe dikenal
istilah Bataha, yang merujuk pada sesuatu yang sakral, suci, atau memiliki
kekuatan gaib yang besar. Sesuatu yang dianggap “Nabataha” berarti sesuatu yang
dikeramatkan atau memiliki kekuatan spiritual tinggi. Hubungan antara Bathala
dan Bataha menunjukkan kemungkinan asal-usul linguistik yang sama, yaitu dari
kata Sanskerta Bhattara, yang berarti tuan, pelindung, atau penguasa ilahi.
Pergeseran makna ini memperlihatkan bahwa konsep tentang entitas tertinggi
sebagai sumber kesaktian dan kesucian telah berkembang luas di kawasan
kepulauan Asia Tenggara.
Hubungan
linguistik lain tampak pada istilah Diwata di Filipina dan Duata atau Duwata di
Sangihe. Dalam tradisi Filipina, Diwata merujuk pada roh-roh alam atau
dewa-dewi yang menghuni gunung, pohon, dan perairan. Dalam religi purba
masyarakat Sangihe, Duata juga dipahami sebagai entitas ilahi atau roh penjaga
alam yang disembah melalui berbagai ritual untuk memohon perlindungan dan hasil
laut yang melimpah. Kedua istilah ini memiliki akar yang sama dalam kata
Sanskerta Devata, yang berarti makhluk ilahi atau dewa. Hal ini menunjukkan
bahwa masyarakat Filipina pada abad ke-16 dan masyarakat Sangihe purba memiliki
persepsi kosmologis yang mirip: alam semesta dipandang sebagai ruang yang
dihuni oleh berbagai entitas gaib yang berperan dalam menjaga keseimbangan
dunia.
Istilah
Batara di Indonesia memperkuat hubungan tersebut. Di berbagai daerah Nusantara,
termasuk Sulawesi Utara, kata Batara sering digunakan sebagai gelar bagi dewa
atau tokoh ilahi, misalnya Batara Guru. Kemunculan nama Bathala di Filipina
kemungkinan merupakan adaptasi lokal dari istilah Batara. Fenomena ini
menunjukkan bahwa sebelum kedatangan kekuasaan kolonial Spanyol di Filipina dan
Belanda di wilayah Indonesia, kawasan kepulauan ini telah menjadi bagian dari
jaringan perdagangan dan pertukaran budaya Asia Tenggara yang dipengaruhi oleh
tradisi Hindu-Buddha. Pengaruh tersebut kemudian berbaur dengan sistem
kepercayaan animistik lokal yang lebih tua.
Dengan
demikian, Manuskrip Manila 1590 bukan sekadar catatan tentang masyarakat
Filipina, tetapi juga merupakan cerminan dari sistem religi bahari yang
berkembang luas di kawasan utara Nusantara. Masyarakat di Luzon, Cebu, dan
Sangihe tampaknya memiliki peta mental kosmologis yang serupa: mereka mengakui
Tuhan tertinggi seperti Bathala atau Batara, namun juga hidup berdampingan
dengan roh-roh penjaga alam seperti Diwata atau Duata yang dianggap memiliki
kekuatan sakral.
Bayog dan Catolonan: Penjaga
Gerbang Dunia Gaib :
Dalam
sistem sosial dan keagamaan masyarakat Filipina pra-kolonial, terdapat
tokoh-tokoh religius yang berfungsi sebagai mediator antara dunia manusia dan
dunia roh. Manuskrip Manila mencatat dua jenis pendeta utama. Pertama adalah Bayog
atau Bayoguin, yaitu pendeta laki-laki yang berpakaian dan berperilaku feminin.
Para penulis kolonial Spanyol mencatat dengan nada heran bahwa para Bayog
sering bertindak seperti perempuan dan dalam beberapa kasus bahkan “menikah”
dengan laki-laki lain. Meskipun demikian, dalam struktur sosial masyarakat
setempat mereka memiliki kedudukan tinggi dan otoritas ritual yang besar.
Jenis
kedua adalah Catolonan, yaitu pendeta perempuan yang biasanya merupakan wanita
tua yang memiliki pengalaman spiritual dan pengetahuan ritual. Mereka dikenal
sebagai penyembuh yang menggunakan doa-doa, kata-kata magis, serta pemanggilan
roh leluhur yang disebut Anito. Dalam kehidupan masyarakat, Catolonan memainkan
peran penting dalam pengobatan tradisional dan berbagai upacara keagamaan.
Para
penulis kolonial sering menilai praktik-praktik ini secara negatif, bahkan
menyebut para pendeta tersebut sebagai penipu yang memanfaatkan kepercayaan
masyarakat. Namun dalam perspektif antropologi, para Bayog dan Catolonan justru
merupakan figur religius yang dihormati dan berfungsi sebagai penjaga
keseimbangan antara dunia manusia dan dunia roh.
Fenomena
ini memiliki kemiripan yang menarik dengan tradisi spiritual masyarakat Bugis
di Sulawesi Selatan. Dalam kebudayaan Bugis dikenal lembaga religius yang
disebut Bissu, pendeta adat yang memiliki peran penting dalam berbagai ritual
sakral sebagaimana tercermin dalam epos La Galigo. Bissu dipahami sebagai gender
kelima dalam sistem sosial Bugis yang mengenal lima kategori gender: oroané
(laki-laki), makkunrai (perempuan), calalai, calabai, dan bissu.
Para Bissu dianggap melampaui identitas gender laki-laki dan perempuan,
sehingga mampu berperan sebagai mediator antara manusia dan dunia ilahi.
Menurut pakar sastra Bugis Nurhayati Rahman, seorang Bissu harus mempertahankan
posisi netral tersebut agar dapat berkomunikasi dengan kekuatan ilahi dalam
ritual sakral.
Dalam
kehidupan masyarakat Bugis, Bissu bertugas memimpin upacara adat, menjaga
pusaka kerajaan, serta menafsirkan simbol-simbol ritual. Mereka juga dikenal
sebagai penjaga tradisi literasi klasik karena mampu membaca naskah kuno
seperti La Galigo yang ditulis dalam aksara Lontara. Manuskrip La Galigo
sendiri dikenal luas melalui salinan yang disimpan di Leiden dan sering disebut
sebagai Manuskrip Leiden, yang disalin di Makassar sekitar tahun 1852–1858 oleh
bangsawan Bugis Colliq Pujié atas permintaan sarjana Belanda Benjamin Frederik
Matthes. Walaupun masyarakat Bugis modern mayoritas beragama Islam, peran
simbolik Bissu tetap dihormati dalam berbagai upacara adat.
Kesamaan
antara Bayog dalam Manuskrip Manila dan Bissu dalam tradisi Bugis menunjukkan
kemungkinan adanya pola religius yang serupa di berbagai masyarakat kepulauan
Asia Tenggara, di mana figur spiritual dengan identitas gender yang tidak biasa
justru memiliki legitimasi sakral sebagai penghubung antara dunia manusia dan
dunia gaib.
Ritual
Maganito: Seruling Gaib dan Perjamuan :
Salah
satu ritual penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Filipina kuno adalah Maganito,
yaitu upacara pemujaan atau penyembuhan yang dipimpin oleh para pendeta. Dalam
ritual besar, para pendeta sering mengklaim mendengar suara seperti seruling
yang diyakini sebagai suara Anito yang menjanjikan kesembuhan bagi orang sakit.
Upacara ini biasanya melibatkan pengorbanan hewan seperti babi atau ayam
sebagai persembahan kepada roh-roh leluhur. Apabila pasien tetap meninggal
setelah ritual tersebut, para pendeta menjelaskan bahwa terdapat roh lain yang
lebih kuat yang menghalangi kesembuhan. Ritual Maganito sering kali berakhir
dengan perjamuan besar yang disertai konsumsi minuman keras, sehingga suasana
sakral bercampur dengan perayaan sosial masyarakat.
Tradisi
Kematian dan Stratifikasi Sosial :
Manuskrip
Manila juga mencatat praktik pemakaman yang mencerminkan struktur sosial
masyarakat. Rakyat biasa biasanya membungkus jenazah dengan kain putih
sederhana dan menguburkannya di dekat rumah atau ladang, kemudian diikuti
dengan pesta minuman keras singkat. Sementara itu kaum bangsawan (principales)
dimakamkan dengan lebih mewah, menggunakan kain sutra terbaik dan peti kayu
yang kuat. Mereka sering dikubur di bawah struktur khusus milik
keluarga dengan sesaji makanan dan lampu yang terus menyala selama
bertahun-tahun.
Terdapat
pula catatan tentang praktik ekstrem dalam beberapa upacara kematian, termasuk pengorbanan
budak yang dibunuh untuk menemani tuannya di alam baka. Bahkan disebutkan
adanya ritual penguburan seluruh kapal yang berisi jenazah, makanan, dan
puluhan budak yang dikubur hidup-hidup. Selain itu terdapat praktik penguburan
sekunder, di mana jenazah dibiarkan membusuk terlebih dahulu hingga tinggal
tulang, kemudian tulang-belulang tersebut disimpan dalam tempayan (tinaja) di
dalam rumah.
Etika
Bertetangga dengan Alam :
Masyarakat
Filipina pada masa itu hidup dalam hubungan yang erat dengan alam. Alam
dipandang sebagai sumber tanda dan petunjuk spiritual. Buaya, misalnya, tidak
dianggap sebagai makhluk buas semata, melainkan sebagai kerabat yang dihormati.
Mereka memanggil buaya dengan sebutan Abuelo atau “kakek”, dan sering
memberikan sesaji makanan di tepi sungai agar tidak diganggu. Apabila seekor
buaya muncul di permukaan air ketika seseorang hendak bepergian, hal itu
dianggap sebagai pertanda buruk sehingga perjalanan biasanya ditunda.
Selain
itu terdapat burung berwarna biru, merah, dan hitam yang disebut Burung Bathala,
yang dipercaya sebagai pembawa pesan ilahi. Jika kicauannya terdengar ketika
seseorang hendak melakukan perjalanan, rencana tersebut biasanya dibatalkan
karena dianggap tidak direstui oleh kekuatan gaib. Fenomena alam lain seperti
hujan yang turun saat matahari bersinar dianggap sebagai tanda bahwa roh-roh
sedang berperang, sedangkan gempa bumi diyakini sebagai aktivitas roh yang
harus ditenangkan dengan teriakan dan bunyi-bunyian keras.
Siklus
Hidup dan Tabu Sosial :
Kehidupan
sehari-hari masyarakat juga diatur oleh berbagai tabu yang berkaitan dengan
siklus hidup. Seorang wanita yang ingin hamil sering memelihara babi dengan
sangat baik untuk kemudian dikorbankan kepada roh leluhur ketika ia melahirkan.
Selama masa kehamilan, di beberapa daerah suami dilarang memotong rambutnya
hingga bayi lahir karena diyakini dapat membahayakan keselamatan anak. Terdapat
pula larangan makan langsung dari tempayan penyimpan padi (tinaja) karena
dipercaya dapat membawa kegilaan atau kematian. Dalam ritual kematian, jenazah
tidak boleh dibawa keluar melalui pintu utama rumah, melainkan melalui jendela
yang kemudian ditutup permanen agar kematian tidak kembali melalui jalur yang
sama.
Sebagai
sumber sejarah awal, Manuskrip Manila 1590 memberikan gambaran yang sangat
berharga mengenai sistem kepercayaan masyarakat Filipina pra-kolonial. Meskipun
ditulis dari sudut pandang kolonial yang sering bias, dokumen ini menunjukkan
bahwa masyarakat kepulauan Asia Tenggara telah memiliki sistem spiritual yang
kompleks jauh sebelum pengaruh agama-agama dunia modern mengubah lanskap budaya
mereka. Kepercayaan terhadap Bathala, Diwata, serta praktik ritual yang
melibatkan para pendeta seperti Bayog dan Catolonan memperlihatkan dunia
kosmologis yang memandang manusia, alam, dan roh sebagai bagian dari satu
kesatuan yang saling berhubungan. Kesamaan konsep dengan tradisi di Sulawesi,
khususnya pada masyarakat Sangihe dan Bugis, menunjukkan bahwa religi purba ini
merupakan bagian dari jaringan budaya bahari yang luas di kawasan Nusantara.
Manuskrip tersebut dengan demikian tidak hanya merekam sejarah Filipina, tetapi
juga menjadi jendela penting untuk memahami akar spiritual masyarakat kepulauan
Asia Tenggara pada masa lampau.
