BENCANA LESABE MANALU 1913
Tragedi Gempa & Longsor Sangihe 1913: Kampung Lesabe Lenyap, 117 Warga Tertimbun Hidup-Hidup
Tragedi ini menjadi awal Lahirnya Kampung Malamenggu dan Bulude oleh pengungsi dari kampung sekitar Lesabe.
Oleh; Alffian Walukow
TABUKAN, KEPULAUAN SANGIHE — Sebuah laporan memilukan dari arsip kolonial awal abad ke-20 membuka kembali tabir salah satu bencana alam paling mematikan di utara Sulawesi (Celebes). Pada 14 Maret 1913, gempa tektonik dahsyat yang memicu pergeseran tanah skala besar mengguncang Kepulauan Sangihe dan Talaud. Bencana ini meratakan permukiman warga dan menelan ratusan korban jiwa.
Berdasarkan telegram resmi otoritas setempat, dampak terparah berpusat di Pulau Sangihe Besar, tepatnya di wilayah kedatuan (landschap) Tabukan.
Kesaksian Mencekam dari Lokasi Bencana
Kontrolir Sipil pemerintah Hindia Belanda yang bertugas saat itu, J. J. C. van Dijk, menggambarkan situasi mencekam saat pertama kali tiba di lokasi. Distrik Menalu—salah satu kawasan terpadat saat itu—telah berubah menjadi "kampung mati" yang sunyi senyap.
"Seluruh penduduk didera kepanikan yang luar biasa. Mereka berlarian menyelamatkan diri ke pegunungan, meninggalkan rumah dan harta benda mereka begitu saja," tulis laporan berkala tersebut mengutip kesaksian Van Dijk.
Kampung Lesabe Tersapu Bersih dari Peta
Dampak paling fatal terjadi di Kampung Lesabe, salah satu dari dua kampung utama di bawah administrasi Negorij Menalu. Kampung ini benar-benar lenyap dari peta tanpa bekas. Kawasan yang dulunya dipenuhi rumah panggung khas warga berubah total menjadi hamparan dataran tandus yang luas.
Longsoran maut ini membentang sepanjang hampir 1 kilometer dari kaki gunung. Menurut analisis fisik di lapangan, dorongan energi bawah tanah yang sangat kuat melemparkan material bumi ke udara. Gumpalan tanah dan batu raksasa kemudian menghujani Kampung Lesabe dari langit, mengubur seluruh permukiman.
Tim penyelamat menemukan bahwa Kampung Lesabe telah tertimbun lapisan tanah padat setebal 2 hingga 3 meter. Tragisnya, sebanyak 117 penduduk tewas seketika karena terperangkap hidup-hidup di dalam rumah mereka yang hancur.
Kerusakan Massal di Kampung Bentung
Kondisi memprihatinkan juga melanda wilayah tetangganya, Kampung Bentung (Bentoeng). Meski tidak tertimbun total seperti Lesabe, seluruh rumah di kampung ini hancur berantakan. Infrastruktur vital distrik lumpuh total; semua jembatan runtuh dan akses jalan utama rusak parah di berbagai titik.
Meskipun pusat kehancuran berada di Menalu, gempa mahadahsyat ini memicu gelombang getaran yang sangat luas. Guncangan kuat bahkan dirasakan secara signifikan oleh kapal-kapal yang sedang melintas di lautan lepas di sekitarnya.
Arsip Asli (Kliping Bataviaasch Nieuwsblad)
De ramp op de Sangi- en Talaoet-Eilanden. (Bencana di Kepulauan Sangihe dan Talaud)
Het Bat. Nwsbl. kan nog het volgende melden over het onheil dat de eilandengroep benoorden Celebes op 14 Maart heeft getroffen. De ramp was het ergst op Groot-Sangi in het landschap Taboekan.
Toen de civiel gezaghebber, fungd. controleur, de heer J. J. C. van Dijk, daar aankwam, vond hij de dichtbevolkte kampong Menaloe uitgestorven. De menschen waren, in radeloozen angst, met achterlating van have en goed, gevlucht naar het gebergte.
Van de twee kampongs, waaruit de negorij Menaloe bestond, was de kampoeng Lesabe totaal verdwenen, weggevaagd. Op de plaats, waar die kampong gestaan had, strekte zich nu een dorre vlakte uit, van den voet van den berg af over een uitgestrektheid van naar schatting een 1000 meters. De aarde van den berg was door een geweldige ondergrondsche werking omhooggeperst en van boven uit de lucht in geweldige aardkluiten over Lesabe uiteengevallen, zoodat die kampong er geheel door bedolven werd.
Onder de twee tot drie meter dikke aardlaag lagen de huizen vernield, de menschen — ten getale van 117 — dood.
Van de andere vestiging, de kampoeng Bentoeng, waren ook alle huizen verwoest, evenals alle bruggen in den omtrek. De wegen waren op verscheidene plaatsen zwaar beschadigd.
Aldus wat het ergst getroffen punt aangaat. De geweldige aardbeving heeft echter in wijden kring, ja tot in zee, zich min of meer ernstig doen gevoelent.
Daftar Pustaka Historis (Metadata Delpher)
Berikut adalah rekam jejak pemberitaan media cetak Belanda saat meliput tragedi ini pada tahun 1913:
Nama Media
Tanggal Terbit
Deskripsi Berita
Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indiƫ
03 Mei 1913
Memuat telegram awal mengenai runtuhnya jembatan dan kerusakan masif di Kampung Bentung.
Bataviaasch Nieuwsblad
Awal Mei 1913
Media pertama di Batavia yang merangkum laporan resmi Kontrolir J. J. C. van Dijk untuk disebarkan ke media lokal dan Eropa.
Nieuwe Rotterdamsche Courant
29 Mei 1913
Menurunkan tajuk "De ramp op de Sangi-Tala..." yang mengulas kronologi semburan material gunung yang mengubur Kampung Lesabe sedalam 3 meter.
Algemeen Handelsblad
29 Mei 1913
Menulis artikel "Sangi en Taland-eilanden", berfokus pada dampak gempa tektonik yang meluas hingga ke area maritim.
Leeuwarder Courant
30 Mei 1913
Koran regional Belanda Utara yang menyebarluaskan data statistik korban jiwa (117 orang wafat) kepada publik Eropa.
De Nederlander
03 Juni 1913
Melalui rubrik "Uit onze Koloniƫn" (Dari Koloni Kami), menyoroti lumpuhnya infrastruktur jalan pascabencana.
De Nederlander
04 Juni 1913
Menyajikan artikel lengkap mengenai kesaksian penguasa sipil Belanda terkait trauma mendalam penduduk Menalu hingga mengungsi ke gunung.
