BENCANA MANALU 1913-2026

SETELAH 113   TAHUN,  SEJAK  BENCANA  TAHUN 1913, 

BENCANA  MANALU TERULANG KEMBALI

DI  TITIK – TITIK  YANG  SAMA

 

 

Oleh  ; Alffian  Walukow




Ilustrasi  Bencana  manalu  tahun 1913


LESABE  BARU


 

Laporan Bencana: Perjalanan ke Manalu

 

Sumber Dokumen: Bataviaasch Nieuwsblad (Edisi Siang / Middag)

Tanggal Terbit: 14 Mei 1913 | Penerbit: Kolff & Co., Batavia

Nomor PPN: 044595018 | Periode Penerbitan: 1885–1950

 

I. Perjalanan Menuju Lokasi Bencana

  • 24 Maret (Menjelang Malam)

Saya melakukan perjalanan menunggang kudabersama Raja menuju Manalu. Sepanjang jalur, tampak kerusakan parah di beberapa daerah:

    • Desa Bowongkulu, Sensong, dan Tariang-Baru: Banyak rumah berbahan bambu yang runtuh, retakan besar menganga di tanah, dan longsor terjadi di mana-mana.
    • Perhentian di Talengen (Pukul 18.00): Perjalanan darat ke Manalu terputus akibat tanah longsor, sementara jalur laut bergelombang sangat tinggi. Kami memutuskan menginap di Talengen.
  • 25 Maret (Pagi Hari)

Kami melanjutkan perjalanan menggunakan perahu dan tiba di Manalu. Desa kecil yang biasanya padat dan asri tersebut tampak sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yang menyambut kami di pantai, di antaranya:

    • Jogugu (Pejabat/Patih local)
    • Kapitan Laut / Kapitalaung (Kepala Desa)
    • Penulong (Guru Injil)

 

 

II. Kondisi Lokasi Bencana (Kampung Lesabe)

 

Setibanya di lokasi, kawasan yang dulunya merupakan Kampung Lesabe yang makmur kini telah berubah menjadi dataran tandus yang tertutup timbunan tanah.

  • Skala Kerusakan:
    • Area terdampak membentang dari kaki Gunung Endongo (ketinggian 80 meter) mencakup wilayah seluas  dengan lebar .
    • Ketebalan material tanah dan batuan yang menimbun pemukiman mencapai 2 hingga 3 meter.
    • 29 rumah terkubur sepenuhnya.
    • 117 jiwa diperkirakan tertimbun dan gugur dalam peristiwa ini.

 

 

III. Analisis Kebencanaan & Geologi

 

Berdasarkan pengamatan di lapangan, bencana ini disimpulkan sebagai aktivitas vulkanik dari gunung berapi non-aktif:

  1. Kondisi Gunung Endongo:
    • Terjadi tekanan internal yang sangat dahsyat sehingga gunung tampak hancur berkeping-keping. Massa tanah dalam jumlah raksasa terlempar ke udara lalu menimbun pemukiman.
  2. Kondisi Geologis & Retakan:
    • Jalan setapak menuju puncak menunjukkan retakan menganga (lebar > 0,5 meter dan kedalaman tak terukur).
    • Gunung terbelah dua dan membentuk teras selebar  tanpa adanya kawah aktif.
    • Terbentuk retakan lebar dan dalam yang membujur hingga ke puncak Gunung Sahendarumang (gunung berapi tidak aktif di tengah Pulau Sangir) serta area Hohosang (retakan mencapai lebar 2 meter).
  3. Indikasi Sebelum Bencana:
    • Gempa lokal berulang kali dirasakan di sekitar area gunung beberapa bulan sebelumnya.
    • Warga mendengar suara gemuruh dari bawah tanah saat gempa terjadi.
    • Gempa utama berlangsung selama  (diawali gerakan vertikal kemudian horizontal).

 

IV. Penanganan Bencana & Pertolongan Korban

 

1. Evakuasi & Penyelamatan

  • Warga yang selamat berhasil menyelamatkan 2 anak dari 5 rumah di tepi area reruntuhan:
    • Seorang anak berusia 2 tahun (selamat).
    • Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun (selamat, mengalami luka-luka).

2. Bantuan Logistik & Pangan

  • Pendeta: Membeli 10 karung beras menggunakan kas kota.
  • Keluarga Basalama: Menyumbangkan 2 karung beras pribadi.
  • Pemerintah Local: Mengizinkan Raja membeli 10 karung beras dan pakaian menggunakan kas sub-divisi.
  • 26 Maret: Bantuan beras tambahan dari Talengen tiba di Manalu.

3. Pembentukan Komite Bantuan

  • Dibentuk komite khusus untuk menggalang dana dan barang bantuan di Pulau Sangi. Anggota komite terdiri dari raja-raja Sangi dan tokoh-tokoh agama setempat.

4. Sanitasi & Penanganan Jenazah

  • Kebijakan Penguburan: Hanya jenazah di tepi reruntuhan yang dievakuasi, ditaburi larutan asam karbolat (carbolic acid), lalu dikuburkan.
  • Penghentian Penggalian: Penggalian massal dihentikan untuk mencegah wabah penyakit akibat pembusukan jenazah di bawah timbunan tebal.
  • Pemberantasan Hama: Diperintahkan untuk membasmi babi liar dan anjing di sekitar lokasi agar tidak memakan bangkai.

 

 

V. Penanganan Pengungsi & Relokasi Pemukiman

 

  • Relokasi Mandiri:
    • Kapitalaung Kampung Lesabe, Willem Sarapil (putra Raja Tabukan), berhasil mengumpulkan warga yang mengungsi ke pegunungan.
    • Pemukiman baru dibangun di dataran tinggi () yang memiliki pasokan air bersih sepanjang tahun.
  • Ketahanan Pangan:
    • Warga mulai menanam ubi jalar dan tanaman cepat panen lainnya. Diperkirakan dalam waktu 2 bulan warga sudah mandiri secara pangan.
  • Alasan Relokasi Permanen:
    • Warga enggan kembali ke lokasi lama karena trauma parah serta kepercayaan lokal/kepercayaan terhadap hantu dan pengikut Makabanasa (dewa kejahatan).
    • Lokasi bekas Kampung Lesabe ditetapkan tetap menjadi pemakaman umum massal demi alasan kebersihan dan sanitasi.

 

VI. Dampak di Wilayah Sekitar & Langkah Lanjutan

 

  1. Pemeriksaan Keamanan:

Dibentuk 2 komite untuk memeriksa lereng-lereng gunung guna mengantisipasi bahaya tanah longsor atau reruntuhan batu susulan.

  1. Dampak Kerusakan Wilayah Lain:
    • Kampung Betung: Mengalami kerusakan rumah, jalan, dan jembatan secara parah.
    • Pulau Tehang: 4 orang tewas akibat tertimpa reruntuhan batu.
    • Sungai Manganitu: Dihantam badai dan menyebabkan jembatan Mentahi hanyut.
  2. Kondisi Pelayaran & Jalur Laut:
    • Jalur laut ke Teluk Tahuna, Teluk Petta, dan Tamako tetap aman dilalui kapal.
  3. Instruksi Pemulihan:
    • Para raja diinstruksikan untuk segera memperbaiki infrastruktur dasar (jalan, jembatan, dan bangunan sekolah) secepat mungkin.

 

Laporan Bencana: Bencana di Pulau Sangihe dan Talaud

Sumber Dokumen: Leeuwarder Courant

Tanggal Terbit: 30 Mei 1913

 

 

 

Sumber Informasi Asli: Bataviaasch Nieuwsblad ("Bat. Nbl.")

 

I. Informasi Umum & Lokasi Bencana

  • Waktu Kejadian Bencana: 14 Maret 1913
  • Cakupan Wilayah Terdampak: Gugusan kepulauan di sebelah utara Sulawesi, meliputi Pulau Sangihe (Sangi) dan Talaud.
  • Wilayah Terdampak Terparah: Lanskap Tabukan (Taboekan), khususnya wilayah Pulau Sangihe.

 

II. Kondisi di Lapangan & Tindakan Awal

  • Kunjungan Pejabat Sipil:

Pengawas Sementara, Bapak J. J. C. van Dijk, tiba di lokasi bencana dan mendapati kondisi Kampung Manalu yang sangat memprihatinkan.

  • Kondisi Masyarakat:

Kampung Manalu yang sebelumnya padat penduduk mendadak kosong sama sekali. Diliputi rasa panik dan ketakutan yang luar biasa, para warga melarikan diri mengungsi ke area pegunungan dengan mengabaikan seluruh harta benda yang mereka tinggalkan.

 

 

III. Dampak Bencana di Desa Manalu

 

Desa Manalu terdiri dari dua kampung (Lesabe dan Bentung), keduanya mengalami kehancuran yang sangat hebat:

  1. Kampung Lesabe (Musnah Total):
    • Kerusakan: Lenyap sepenuhnya dari peta. Area pemukiman berubah menjadi dataran tandus yang membentang sekitar 1.000 meter dari kaki gunung.
    • Penyebab: Tekanan bawah tanah yang sangat kuat mendorong dan melemparkan material tanah ke udara, yang kemudian jatuh menimbun seluruh area Kampung Lesabe.
    • Ketebalan Timbunan: Pemukiman terkubur di bawah lapisan tanah setebal 2 hingga 3 meter.
    • Jumlah Korban: Diperkirakan 117 orang tewas terkubur di bawah reruntuhan.
  2. Kampung Bentung & Sekitarnya:
    • Perumahan: Seluruh rumah warga hancur total.
    • Infrastruktur: Seluruh jembatan di sekitar wilayah tersebut putus/rusak, dan akses jalan mengalami kerusakan sangat parah di berbagai titik.

IV. Jangkauan Gempa

  • Dampak Luas:

Guncangan gempa bumi yang dahsyat ini dirasakan dengan intensitas bervariasi di wilayah yang sangat luas, bahkan getarannya menjangkau hingga ke area lautan di sekitarnya.

 

Laporan Bencana: Bencana di Manalu Menewaskan 117 Orang

Sumber Dokumen: Algemeen Handelsblad

Tanggal Terbit: 29 Mei 1913

Sumber Informasi Asli: Bataviaasch Nieuwsblad ("Bat. Nbl.")

 

I. Informasi Umum

  • Waktu Kejadian: 14 Maret 1913
  • Cakupan Wilayah Terdampak: Gugusan kepulauan di utara Celebes (Sulawesi), khususnya Kepulauan Sangihe (Sangir Besar) dan Talaud.
  • Pusat Kerusakan Terparah: Wilayah Tabukan (Taboekan), Sangir Besar.

 

II. Peninjauan Lapangan & Evakuasi Warga

  • Inspeksi Pejabat Kolonial:

Pejabat Sipil selaku Pengawas Sementara, Bapak J. J. C. van Dijk, meninjau lokasi bencana dan mendapati Kampung Manalu yang sebelumnya padat penduduk telah kosong melompong.

  • Kondisi Pengungsi:

Masyarakat yang panik dan diselimuti ketakutan luar biasa memilih melarikan diri mengungsi ke daerah pegunungan, meninggalkan seluruh harta benda milik mereka.

 

III. Kerusakan di Wilayah Manalu

Desa Manalu yang terdiri dari dua kampung (Lesabe dan Bentung) mengalami kehancuran parah:

  1. Kampung Lesabe (Musnah Total):
    • Kerusakan: Kampung ini lenyap sepenuhnya. Di lokasi yang dulunya merupakan permukiman, kini hanya tersisa dataran tandus yang membentang dari kaki gunung sepanjang .
    • Kronologi Timbunan: Keretakan dan tekanan bawah tanah yang luar biasa mendorong massa tanah dari gunung hingga terlempar tinggi, lalu jatuh menimpa dan mengubur seluruh Kampung Lesabe.
    • Jumlah Korban: Sebanyak 117 orang tewas terkubur di bawah reruntuhan dan timbunan tanah setebal 2 hingga 3 meter.
  2. Kampung Bentung & Sekitarnya:
    • Kerusakan Bangunan: Seluruh rumah di permukiman ini hancur total.
    • Infrastruktur: Seluruh jembatan di kawasan sekitarnya putus, serta jaringan jalan mengalami kerusakan berat di berbagai titik.
    •  

IV. Jangkauan Dampak Bencana

  • Guncangan Luas:

Guncangan gempa bumi dahsyat ini tidak hanya menghancurkan pusat bencana di Sangir Besar, tetapi juga dirasakan dengan intensitas berbeda di area yang sangat luas, hingga menjangkau kawasan lautan di sekitarnya.

 

Laporan Bencana: Gempa Bumi di Kepulauan Sangihe & Penyebab Longsor di Manalu

Sumber Informasi: Warga Menado (Laporan tertanggal 20 Maret 1913)

Waktu Kejadian Bencana: 14 Maret 1913

Wilayah Terdampak: Siau (Siaoe), Sangihe (Sangi), dan Talaud (Talaut)

 

I. Pusat Bencana & Mekanisme Longsor

  • Pusat Aktivitas Vulkanik:

Diperkirakan bersumber dari Gunung Sahendarumang (Sahendaremang), gunung berapi tidak aktif di bagian tengah Pulau Sangihe, dengan puncaknya yaitu Gunung Endongo (ketinggian 80 meter).

  • Dampak Letusan/Longsor:
    • Puncak gunung pecah dan menimbun dataran di sekitarnya seluas 1.000 meter x 150 meter.
    • Ketebalan material tanah/batuan yang menimbun pemukiman mencapai 2 hingga 8 meter.
  • Kerusakan & Korban di Pusat Bencana:
    • Desa Lesabe: Terkubur sepenuhnya. Sebanyak 117 jiwa terkubur hidup-hidup. Hanya 2 anak dari rumah-rumah di tepi dataran yang berhasil diselamatkan.
    • Desa Me: Desa makmur di kawasan tersebut hancur total.

 

II. Karakteristik Gempa Bumi & Fenomena Alam

  • Durasi & Arah Guncangan:

Gempa berlangsung selama 4–5 menit dengan guncangan membujur dari arah Utara ke Selatan (N-S).

  • Jenis Guncangan & Gelombang Pasang:
    • Diawali guncangan vertikal yang sangat kuat hingga memicu luapan air setinggi 15 meter di berbagai titik.
    • Diikuti oleh gelombang pasang hebat (tsunami) berkepanjangan yang menimbulkan keretakan tanah di mana-mana.
  • Fenomena Gunung Api Bawah Laut & Cuaca Ekstrem:
    • Para nelayan melaporkan adanya indikasi aktivitas vulkanik pada kawah bawah laut di dekat Pulau Mahangetang (Ma-lengetan) saat gempa terjadi.
    • Gempa memicu tersumbatnya Sungai Menelos serta memicu badai petir yang hebat.
  •  

III. Dampak Kerusakan Wilayah & Korban Jiwa Lainnya

Kerusakan fisik meluas terutama di wilayah Sangihe Timur dan Tenggara.

  • Bangunan & Infrastruktur Utama yang Runtuh:
    • Bangunan Pemerintah Besar (Groote Gouvts)
    • Sekolah Tamako
    • Kediaman Raja Tabukan (Taboekan)
    • Pesanggrahan Enemawira
    • Jalan dan jembatan di berbagai titik mengalami kerusakan parah.
  • Korban Jiwa di Luar Lesabe:
    • Pulau Tehang (Te Hang): 4 orang tewas tertimpa batu yang jatuh dari tebing/lereng.
    • Te Oeloe Sisoe: 1 orang tewas terkubur.

 

IV. Penanganan, Logistik, dan Tindakan Pemerintah

  1. Kondisi Sosial-Masyarakat:

Kepanikan umum melanda masyarakat. Meski kerusakan material cukup besar, kebutuhan dasar masyarakat masih terukur sehingga warga masih dapat saling membantu (gotong royong).

  1. Pengiriman Bantuan & Kapal Perang:
    • Kapal Flamingo: Yang sedang dalam tugas ke Teluk Tomini dipanggil kembali melalui telegram untuk dikirim ke lokasi bencana guna membawa bantuan beras ke pulau-pulau kecil.
    • Dukungan Armada: Kehadiran kapal perang sangat diharapkan—bukan hanya untuk logistik, melainkan untuk memberikan rasa aman, menenangkan warga, dan menunjukkan kepedulian pemerintah.

 

 

 

Tanggal dan Waktu Tepat Terjadinya Bencana


Berdasarkan silang informasi dari laporan surat kabar sezaman (Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, Het Vaderland, dan De Avondpost):

  • Tanggal Kejadian: 14 Maret 1913
  • Lokasi Kejadian: Desa Menaloe (Kampung Lesabe/Leiabe), Lanskap Taboekan, Kepulauan Sangihe (Groot Sangi)
  • Penyebab Utama: Letusan Gunung Awu / Gunung Endongo yang memicu gempa bumi dahsyat, tanah longsor dari Bukit Engg/Enggo, banjir/penyumbatan Sungai Menaloe, serta runtuhnya bukit yang menimbun pemukiman.
  • Dampak: Desa Menaloe (khususnya Kampung Lesabe/Leiabe) hancur/tertimbun tanah longsor, merenggut sekitar 117 hingga 200 korban jiwa yang tertimbun hidup-hidup.

Catatan Redaksional: Laporan surat kabar pada bulan Mei/Juni yang menyebutkan "tanggal 14 bulan ini" mengutip laporan resmi atau surat telegram tertanggal bulan Maret 1913.

Daftar Kepustakaan Sejarah: Bencana Kepulauan Sangihe & Talaud (1913)

1. Het Vaderland — 25 Maret 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Bantuan bagi yang Menderita
  • Rincian: Letusan Gunung Endongo terjadi pada 14 Maret 1913. Desa Manalu (Menaloe) hancur, dan sebanyak 117 orang tertimbun hidup-hidup.

2. Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië — 31 Maret 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Gempa Bumi di Groot Sangir
  • Rincian: Laporan awal mengenai Manalu (lanskap Tabukan) yang tertimbun reruntuhan bukit Endongo (Engg), dengan perkiraan  orang tertimbun.

3. Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië — 1 April 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Gempa Bumi di Kepulauan Sangi
  • Rincian: Catatan mengenai ditemukannya kawah bawah laut di dekat Pulau Mahangetang (Malengetan), penyumbatan Sungai Manalu, dan dampak badai di Pulau Tehang.

4. De RK Familievens / RK Dagblad — 1 April 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Bencana Sangihe dan Talaud
  • Rincian: Laporan awal mengenai rentetan peristiwa bencana alam yang melanda Kepulauan Sangihe dan Talaud.

5. De Express — 3 April 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Gempa Bumi di Kepulauan Sangir
  • Rincian: Terjadi badai dan batu-batu berjatuhan dari lereng; 4 orang dilaporkan terluka akibat tertimpa batu di Pulau Tehang, lepas pantai Manalu.

6. Algemeen Handelsblad — 28 April 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Gempa Bumi di Kepulauan Sangir
  • Rincian: Pengiriman bantuan awal berupa 10 karung beras dan pakaian ke Manalu, serta pembentukan komite bantuan untuk korban bencana.

7. Bataviaasch Nieuwsblad — 14 Mei 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Dari Koloni Kami
  • Rincian: Laporan mengenai warga yang mengungsi ke pegunungan serta musnahnya Kampung Lesabe di Desa Manalu secara total.

8. Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië — 15 Mei 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Gempa Bumi Dahsyat
  • Rincian: Gempa bumi dahsyat melanda Siau, Sangihe, dan Talaud. Kampung Lesabe (Leiabe) terkubur bersama 117 korban jiwa.

9. Nieuwe Tilburgsche Courant — 16 Mei 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Hindia Belanda
  • Rincian: Mengulas pengungsian warga ke wilayah pegunungan dan hancurnya Kampung Lesabe.

10. De Tijd — 30 Mei 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Dari Koloni
  • Rincian: Informasi kerusakan parah dan lenyapnya Kampung Lesabe di wilayah Manalu.

11. De Avondpost — 30 Mei 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Koloni
  • Rincian: Catatan tentang gempa dahsyat tanggal 14 Maret yang menyebabkan Kampung Lesabe (Leiabe) terkubur bersama 117 korban jiwa.

12. De Nederlander — 4 Juni 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Bencana di Kepulauan Sangihe & Talaud
  • Rincian: Pembaharuan informasi mengenai pengiriman bantuan logistik ke Manalu yang tiba pada 26 Maret.

13. Het Vaderland — 9 Juni 1913

  • Judul Berita / Catatan Ringkas: Surat Kabar Belanda Timur Kami
  • Rincian: Rangkuman berita dari Javasche Courant dan Deli Courant (periode akhir Maret–April) mengenai aktivitas kawah bawah laut, penyumbatan sungai, serta banjir di Manalu.

 

 

 

Bencana Manalu terbaru di Lesabe dan sekitarnya   tahun 2026 :

 

Laporan Bencana: Banjir & Tanah Longsor Kepulauan Sangihe (22 Juli 2026)

Waktu Kejadian: Rabu, 22 Juli 2026

Penyebab Utama: Cuaca ekstrem dan hujan dengan intensitas sangat tinggi

Wilayah Terdampak Utama: Kecamatan Tabukan Selatan (Lesabe) & Kecamatan Tamako


I. Kondisi Dampak Bencana di Wilayah Lesabe (Kec. Tabukan Selatan)


Berbeda dengan bencana tahun 1913 yang disebabkan oleh aktivitas geologi/vulkanik, bencana tahun 2026 ini dominan berupa banjir genangan dan tanah longsor parah.

  • Kelumpuhan Akses Transportasi Total:
    • Kampung Lesabe 1: Material tanah longsor dan batu-batu besar menutupi seluruh badan jalan, menutup total akses keluar-masuk kampung.
    • Jalur Bowolagu: Ruas jalan penghubung Kampung Lesabe dan Malamenggu tertutup material longsoran.
    • Jalur Lesabe–Bukide: Akses transportasi tertimbun material tanah perbukitan.
  • Banjir Genangan:

Laporan BPBD Sangihe mencatat wilayah Lesabe, Lesabe I, Bentung, dan Simueng terendam banjir genangan akibat tingginya curah hujan yang terus-menerus.


II. Dampak Banjir Bandang di Kecamatan Tetangga (Tamako)


Sementara Lesabe dihantam longsor dan genangan, wilayah tetangga di Kecamatan Tamako diterjang banjir bandang akibat luapan sungai.

  • Area Terdampak: Kampung Balane, Binala, Lelipang, dan Dagho.
  • Kerusakan Pemukiman & Infrastruktur:
    • 2 unit jembatan hanyut terbawa arus sungai yang sangat deras.
    • 2 rumah hilang dan 5 rumah rusak berat.
    • Lebih dari 200 rumah warga terendam air bercampur lumpur.
  • Kondisi Korban Jiwa:
    • Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka (jauh berbeda dari tragedi 1913).
    • Sebanyak  warga telah dievakuasi ke tempat pengungsian yang lebih aman.

III. Penanganan & Tanggap Darurat


Pemerintah Daerah Kepulauan Sangihe bersama TNI, Polri, dan relawan lokal langsung melakukan aksi tanggap darurat:

  1. Menyiagakan personel untuk membersihkan titik-titik longsoran yang menutupi badan jalan.
  2. Menyalurkan bantuan logistik darurat untuk warga terdampak dan para pengungsi.

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA