DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.
Mengenal DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN (1890–1951)
Isteri Pertama dari
Sam Ratulangie.
Pelopor Dokter Perempuan Eurasia dan Tokoh Kesehatan Jiwa di Hindia Belanda
disusun oleh ; Alffian Walukow
Pelopor Dokter
Perempuan Eurasia dan Tokoh Kesehatan Jiwa di Hindia Belanda
Dr. Suzanne
Emilie Houtman Ratulangi merupakan salah satu perempuan Indo-Eropa (Eurasia
Belanda) paling menonjol dalam sejarah kedokteran Hindia Belanda pada awal abad
ke-20. Ia dikenal sebagai salah satu perempuan Eurasia pertama yang berhasil
menempuh pendidikan kedokteran di Belanda, meraih gelar doktor dalam bidang
neurofisiologi, serta menjadi dokter spesialis neurologi dan psikiatri yang
mendedikasikan hidupnya bagi pelayanan kesehatan masyarakat tanpa memandang
latar belakang ras maupun golongan. Selain kiprahnya di dunia medis, namanya
juga dikenang sebagai istri pertama Pahlawan Nasional Indonesia, Dr.
Gerungan Saul Samuel Jacob (Sam) Ratulangi, sehingga kehidupannya tidak
dapat dipisahkan dari dinamika sejarah Indonesia menjelang kemerdekaan.
Masa Kecil dan
Latar Belakang Keluarga
Suzanne Emilie
Houtman lahir di Batavia (kini Jakarta) pada 12 Agustus 1890. Ia
merupakan putri pasangan Albert Houtman (1856–1899), seorang pengusaha
sukses di Hindia Belanda, dan Emilie Mesman (1846–1933), perempuan
keturunan keluarga Indo-Eropa terkemuka yang berasal dari Makassar. Suzanne
tumbuh bersama adiknya, Albertine (Tine) Houtman, yang lahir pada 6 Mei
1894.
Keluarga Houtman termasuk dalam kelompok masyarakat
Indo-Eropa terpelajar yang hidup di kawasan elit Koningsplein, Batavia,
sebuah kawasan yang pada masa kolonial menjadi pusat pemerintahan Hindia
Belanda. Lingkungan keluarga yang mapan memberikan kesempatan kepada Suzanne
memperoleh pendidikan terbaik pada zamannya, sesuatu yang masih sangat langka
bagi perempuan, terutama perempuan kelahiran Hindia Belanda.
Menempuh
Pendidikan Kedokteran di Belanda
Pada awal abad
ke-20 Suzanne berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas
Amsterdam (Universiteit van Amsterdam). Pada masa itu jumlah
perempuan yang diterima di fakultas kedokteran masih sangat sedikit.
Kehadirannya sebagai perempuan Indo-Eropa di lingkungan akademik Belanda
merupakan pencapaian yang luar biasa.
Ketekunan dan kemampuan akademiknya membawanya menjadi salah
satu perempuan Eurasia pertama yang berhasil memperoleh gelar doktor. Pada tahun 1917, ia mempertahankan
disertasinya dalam bidang neurofisiologi yang berjudul:
Penelitian
tersebut membahas mekanisme fisiologi sistem saraf dan fungsi otot, yang pada
masa itu merupakan bidang penelitian medis yang masih berkembang pesat di
Eropa.
Pernikahan
dengan Sam Ratulangi
Selama menempuh
pendidikan di Amsterdam, Suzanne bertemu dengan mahasiswa asal Minahasa, Gerungan
Saul Samuel Jacob Ratulangi, yang sedang belajar ilmu pasti dan kemudian
meraih gelar doktor di bidang matematika dan ilmu alam.
Keduanya menikah
pada 1915. Pernikahan ini menarik perhatian masyarakat kolonial karena
merupakan salah satu perkawinan lintas ras yang cukup langka pada masa Hindia
Belanda. Di tengah sistem sosial kolonial yang masih membedakan status
berdasarkan ras, keputusan Suzanne menikahi seorang pribumi terdidik
menunjukkan pandangan hidup yang progresif.
Dari pernikahan
tersebut lahir dua orang anak, yang kelak keduanya mengikuti jejak orang tuanya
menjadi dokter.
Berkarier
sebagai Dokter di Bandung
Usai Perang Dunia
I, Suzanne dan Sam Ratulangi kembali ke Hindia Belanda. Suzanne membuka praktik
sebagai dokter spesialis neurologi dan psikiatri di Bandung, sementara
suaminya mengajar matematika dan fisika sebelum akhirnya aktif dalam dunia
politik.
Sebagai dokter,
Suzanne melayani pasien dari berbagai kalangan, baik masyarakat Eropa,
Indo-Eropa, Tionghoa maupun pribumi. Praktiknya dikenal terbuka bagi semua
lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan ras maupun status sosial.
Ia menaruh
perhatian besar terhadap hubungan antara kondisi kejiwaan dengan tekanan budaya
dan sosial. Menurut pengamatannya, banyak gangguan psikologis dipengaruhi oleh
tekanan adat, norma sosial, tabu, kepercayaan tradisional, serta perubahan
sosial yang cepat di Hindia Belanda. Pandangan tersebut menjadikannya salah
satu dokter yang memiliki perhatian khusus terhadap aspek psikososial dalam
pelayanan kesehatan jiwa.
Selain praktik
klinis, Suzanne juga menerbitkan beberapa tulisan ilmiah mengenai kesehatan
mental masyarakat kolonial.
Perpisahan
dengan Sam Ratulangi
Kesibukan
profesional Suzanne dan semakin meningkatnya aktivitas politik Sam Ratulangi
membuat kehidupan rumah tangga mereka mengalami berbagai tantangan. Pada tahun 1926,
keduanya resmi bercerai.
Meskipun
pernikahan mereka berakhir, hubungan keduanya tetap dikenang sebagai bagian
penting dari sejarah intelektual Indonesia, karena masing-masing memberikan
kontribusi besar dalam bidang yang berbeda: Sam Ratulangi di bidang pendidikan,
politik, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, sedangkan Suzanne di bidang ilmu
kedokteran.
Masa
Pendudukan Jepang
Pendudukan Jepang
atas Hindia Belanda pada tahun 1942 mengubah kehidupan Suzanne secara drastis.
Sebagai warga keturunan Eropa, ia ditahan oleh pemerintah militer Jepang dan
ditempatkan di Kamp Interniran Tjideng di Batavia.
Selama masa
penahanan, Suzanne mengalami penderitaan berat. Kekurangan makanan menyebabkan
ia menderita penyakit beri-beri dan kehilangan lebih dari sepertiga
berat badannya. Kondisi kesehatannya memburuk akibat kekurangan gizi dan
perlakuan keras selama berada di kamp.
Kembali
Mengabdi Setelah Perang
Setelah Jepang
menyerah pada Agustus 1945 dan para interniran dibebaskan, Suzanne segera
kembali menjalankan profesinya sebagai dokter. Meskipun kondisi fisiknya masih
lemah, ia membuka kembali praktik dan menangani banyak mantan tahanan perang
serta interniran sipil yang baru dibebaskan.
Dedikasinya
begitu besar sehingga ia bekerja lebih dari dua belas jam setiap hari. Kondisi
kesehatannya yang belum pulih menyebabkan ia hampir pingsan saat melakukan
tindakan medis. Atas pertimbangan para koleganya, Suzanne kemudian
dikirim ke Australia untuk menjalani pemulihan.
Kehidupan di Australia
Masa pemulihan di Australia ternyata menjadi awal babak baru
dalam kehidupannya. Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, situasi politik
yang tidak menentu membuat banyak warga Indo-Eropa memilih meninggalkan tanah
kelahirannya. Suzanne akhirnya menetap di Australia bersama suami keduanya,
seorang mantan pejabat pemerintahan Hindia Belanda.
Meskipun telah memperoleh kewarganegaraan Australia, Suzanne
tetap menyimpan kerinduan mendalam terhadap tanah kelahirannya di Hindia
Belanda. Banyak catatan keluarga menyebutkan bahwa ia selalu mengenang
kehidupan dan pekerjaannya di Indonesia.
Wafat
Akibat dampak jangka panjang penyakit yang dideritanya
selama masa interniran serta kondisi kesehatan yang terus menurun, Suzanne
Emilie Houtman meninggal dunia karena kanker di Fitzroy, Melbourne,
Australia, pada tahun 1951, tidak lama setelah merayakan ulang
tahunnya yang ke-61.
Ia dikenang sebagai dokter yang mengabdikan hidupnya bagi
kemanusiaan, melayani pasien tanpa membedakan ras maupun golongan, serta
sebagai salah satu perempuan pelopor yang membuka jalan bagi kaum perempuan
Hindia Belanda untuk menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran.
Dr. Suzanne
Emilie Houtman Ratulangi meninggalkan warisan penting dalam sejarah Indonesia
dan Belanda. Ia merupakan salah satu perempuan Eurasia pertama yang berhasil
mencapai tingkat pendidikan doktor di bidang kedokteran, pelopor neurologi dan
psikiatri di Hindia Belanda, serta tokoh yang menunjukkan bahwa perempuan mampu
berkiprah dalam dunia ilmu pengetahuan pada masa ketika kesempatan bagi
perempuan masih sangat terbatas.
Namanya juga
memiliki tempat khusus dalam sejarah Indonesia karena menjadi bagian dari
perjalanan hidup Sam Ratulangi, salah seorang tokoh pergerakan nasional dan
Pahlawan Nasional Indonesia. Di luar hubungan tersebut, Suzanne layak dikenang
atas prestasinya sendiri sebagai ilmuwan, dokter, dan pelayan kemanusiaan yang
mengabdikan hidupnya untuk kesehatan masyarakat.
Sumber
- Albert Ratulangie. Suzanne Emilie
Houtman Ratulangie. Lani's Grid (1991; dipublikasikan kembali 2015).
- Humphrey de la Croix. Dr. Suzanne
Houtman (1890–1951): Werken aan een beter IndiĆ« voor vrouwen. IndischHistorisch.nl,
2015.
- KITLV (Koninklijk Instituut voor
Taal-, Land- en Volkenkunde), Leiden. Arsip keluarga
Houtman–Mesman.
- Universiteit van Amsterdam. Arsip
disertasi Dr. Suzanne Emilie Houtman, 1917.
- Regeringsalmanak voor
Nederlandsch-Indiƫ, berbagai edisi.
- NIOD
Institute for War, Holocaust and Genocide Studies. Dokumentasi Kamp
Interniran Tjideng.
- National
Archives of Australia. Arsip migrasi warga Hindia Belanda pasca-Perang
Dunia II.
