Emiria Soenassa: Perempuan Minahasa Berdarah Tidore, Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia.
Emiria Soenassa: Perempuan Minahasa Berdarah Tidore, Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia.
Disusun oleh : Alffian Walukow
Nama Emiria Soenassa menempati posisi penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu pelukis perempuan pertama yang berhasil menempatkan dirinya dalam perkembangan seni lukis modern Indonesia pada paruh pertama abad ke-20. Namun, di balik reputasinya sebagai seniman, kehidupan Emiria menyimpan persoalan historiografi yang hingga kini masih menjadi bahan kajian, terutama mengenai identitas keluarga dan silsilah kebangsawanannya.
Di satu sisi, berbagai arsip kolonial mencatat dirinya sebagai perempuan Minahasa yang lahir di Tanawangko dengan nama baptis Emiria Emma Wilhelmina Pareira (atau Parera). Di sisi lain, dalam berbagai dokumen resmi setelah Indonesia merdeka, ia menggunakan identitas kebangsawanan Boki Emiria Soenassa Wama'na Poetri Al-Alam Mahkota Tidore, serta menyatakan dirinya sebagai putri Sultan Tidore dan keturunan Sultan Nuku.
Kedua identitas tersebut hingga kini belum sepenuhnya dapat dipadukan oleh dokumen primer yang bersifat konklusif. Karena itu, penulisan biografi Emiria harus ditempatkan secara kritis dengan membedakan antara fakta sejarah yang telah diverifikasi dan klaim genealogis yang masih menjadi objek penelitian.
Lahir dan Tumbuh di Tanah Minahasa
Secara geografis maupun kultural, kehidupan awal Emiria Soenassa sangat erat dengan tanah Minahasa. Sebagian besar penelitian sejarah seni menyebut bahwa ia lahir sekitar tahun 1894–1895 di Tanawangko, Tombariri, Minahasa (kini Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara).
Masa kecilnya dijalani dalam lingkungan masyarakat Minahasa yang pada akhir abad ke-19 telah mengalami perubahan sosial akibat masuknya pendidikan Barat dan pelayanan misi Kristen. Lingkungan inilah yang membentuk pendidikan awal serta kepribadian Emiria sebelum ia merantau ke Batavia untuk mengikuti pendidikan sebagai perawat.
Selain dunia kesehatan, Emiria menunjukkan minat yang besar terhadap seni. Ia kemudian memperoleh kesempatan mempelajari balet di Eropa. Pengalaman tersebut memperluas wawasan artistiknya dan menjadi salah satu fondasi penting dalam pembentukan karakter estetik karya-karya lukisnya yang kemudian dikenal unik dalam sejarah seni rupa Indonesia.
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Emiria juga aktif dalam Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) di Jakarta. Keterlibatannya dalam organisasi tersebut memperlihatkan bahwa ikatan emosionalnya dengan masyarakat Sulawesi, khususnya Minahasa, tetap terpelihara meskipun sebagian besar hidupnya dijalani di luar daerah kelahirannya.
Misteri Dua Identitas Emiria Soenassa
Salah satu persoalan terbesar dalam kajian biografi Emiria Soenassa adalah munculnya dua identitas keluarga yang berbeda dalam berbagai sumber sejarah.
Identitas Pertama: Perempuan Minahasa dari Keluarga Pareira
Sejumlah arsip kolonial, penelitian sejarah seni, dan catatan genealogi menyebut bahwa nama lahir Emiria adalah:
Emiria Emma Wilhelmina Pareira (Parera).
Nama baptis tersebut memperlihatkan latar belakang Kristen yang kuat. Dalam tradisi lisan Minahasa maupun sejumlah catatan genealogi lokal, keluarga Pareira sering dikaitkan dengan jaringan keluarga Manoppo–Pareira yang berkembang di Minahasa pada masa kolonial.
Di sisi lain, nama Pareira/Parera juga dikenal sebagai salah satu fam besar di Tahuna, Kepulauan Sangihe. Karena itu, hubungan genealogis antara keluarga Pareira di Minahasa dan Sangihe masih memerlukan penelitian lebih lanjut berdasarkan arsip keluarga maupun dokumen gereja.
Apabila identitas ini benar, maka Emiria tumbuh dalam lingkungan masyarakat Minahasa yang telah lama dipengaruhi pendidikan Barat dan tradisi Kristen Protestan.
Identitas Kedua: Putri Kesultanan Tidore
Berbeda dengan arsip kolonial tersebut, setelah Indonesia merdeka Emiria menggunakan nama resmi yang jauh lebih panjang:
Boki Emiria Soenassa Wama'na Poetri Al-Alam Mahkota Tidore.
Melalui sejumlah surat-menyurat resmi, korespondensi politik, dan dokumen administrasi, Emiria menyatakan dirinya sebagai anggota keluarga Kesultanan Tidore.
Menurut silsilah yang digunakannya:
Ayah: Sultan Iskandar Sahajuan (Sultan Sahadjuan Alting), yang disebut sebagai Sultan Tidore pada akhir abad ke-19.
Ibu: Patimah Poetri Al-'Alam, yang dinyatakan sebagai keturunan langsung Sultan Nuku.
Melalui garis ibu tersebut Emiria menggunakan gelar kebangsawanan Poetri Al-Alam, sedangkan gelar Mahkota Tidore memperlihatkan kedudukannya dalam struktur keluarga kerajaan menurut klaim genealogi yang ia gunakan.
Hubungan Genealogis dengan Sultan Nuku
Berdasarkan dokumen silsilah yang digunakan Emiria sendiri, hubungan genealogis tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Sultan Nuku merupakan penguasa besar Kesultanan Tidore yang memimpin perlawanan terhadap VOC dan Inggris serta memperluas pengaruh Tidore hingga Papua dan Raja Ampat.
Dari garis keturunan Sultan Nuku lahir Patimah Poetri Al-'Alam, yang dalam silsilah keluarga disebut sebagai keturunannya.
Patimah kemudian menikah dengan Sultan Iskandar Sahajuan, yang oleh Emiria disebut sebagai ayah kandungnya.
Dari pasangan tersebut lahirlah Emiria Soenassa, yang kemudian menggunakan gelar Boki Emiria Soenassa Wama'na Poetri Al-Alam Mahkota Tidore.
Perlu ditekankan bahwa hubungan genealogis tersebut berasal dari dokumen dan klaim keluarga yang digunakan Emiria sendiri, dan belum seluruhnya memperoleh verifikasi independen melalui dokumen primer Kesultanan Tidore maupun arsip kolonial.
Mengapa Muncul Dua Versi Silsilah?
Perbedaan kedua identitas tersebut kemungkinan berkaitan dengan sejarah panjang hubungan antara Minahasa dan Kesultanan Tidore.
Tanawangko, tempat kelahiran Emiria, sejak lama memiliki kawasan yang dikenal sebagai Kampung Tidore, yaitu permukiman masyarakat yang memiliki hubungan historis dengan Kesultanan Tidore.
Sejak masa VOC hingga pemerintahan Hindia Belanda terjadi:
perpindahan penduduk,
hubungan perdagangan,
hubungan politik,
perkawinan antaretnis,
serta interaksi budaya antara masyarakat Tidore dan Minahasa.
Dalam konteks tersebut bukan hal yang mustahil apabila seorang anak lahir di Minahasa, dibesarkan dalam lingkungan Kristen Minahasa, namun memiliki garis keturunan keluarga bangsawan Tidore.
Kemungkinan lain adalah bahwa Emiria Emma Wilhelmina Pareira merupakan identitas sipil yang digunakan sejak kecil, sedangkan Boki Emiria Soenassa Wama'na Poetri Al-Alam Mahkota Tidore merupakan identitas genealogis dan kebangsawanan yang digunakannya ketika dewasa.
Peran Politik dan Nasionalisme
Selain dikenal sebagai pelukis, Emiria memainkan peran penting dalam perjuangan mempertahankan wilayah Indonesia Timur.
Beberapa arsip penting yang sering dijadikan rujukan antara lain:
Buku Orang Indonesia Terkemoeka di Djawa (1944) yang diterbitkan pemerintah militer Jepang, memuat data mengenai Emiria beserta identitas kebangsawanannya.
Arsip Nationaal Archief Belanda mengenai Konferensi Meja Bundar (1949), yang menunjukkan keterlibatan Emiria dalam perjuangan politik mengenai status Papua.
Penelitian Heidi Arbuckle (University of Melbourne, 2011) menjelaskan bahwa Emiria secara konsisten menggunakan identitas keturunan Kesultanan Tidore ketika bekerja bersama Silas Papare dalam memperjuangkan agar Papua Barat tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Dalam konteks tersebut, identitas kebangsawanan Tidore tidak hanya dipahami sebagai persoalan asal-usul keluarga, tetapi juga memiliki dimensi politik dan diplomasi yang sangat penting pada masa perjuangan kemerdekaan.
Pandangan Historiografi
Hingga kini para sejarawan belum menemukan dokumen primer yang sepenuhnya mampu menjembatani dua versi identitas Emiria Soenassa.
Karena itu, pendekatan historiografi yang paling dapat dipertanggungjawabkan adalah menyajikan kedua versi tersebut secara proporsional.
Fakta-fakta yang telah memperoleh dukungan kuat dari berbagai sumber adalah:
Emiria lahir dan dibesarkan di Tanawangko, Minahasa.
Ia memperoleh pendidikan modern pada masa Hindia Belanda.
Ia merupakan salah satu pelopor seni lukis modern Indonesia.
Ia aktif dalam organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS).
Dalam berbagai dokumen resmi pada masa dewasanya ia menggunakan identitas sebagai bangsawan Kesultanan Tidore.
Sementara itu, pernyataan bahwa ia adalah putri Sultan Iskandar Sahajuan dan cucu keturunan Sultan Nuku masih berada dalam ranah klaim genealogis yang didukung oleh sejumlah dokumen keluarga, korespondensi politik, dan arsip tertentu, tetapi belum diterima secara universal sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi oleh seluruh kalangan akademik.
Penutup
Emiria Soenassa merupakan tokoh yang mempertemukan dua tradisi besar di kawasan timur Nusantara. Ia lahir dan dibesarkan di Minahasa, memperoleh pendidikan modern pada masa kolonial, berkembang menjadi pelopor seni lukis modern Indonesia, serta pada masa dewasanya menampilkan identitas sebagai bangsawan Kesultanan Tidore.
Kompleksitas identitas tersebut justru menjadikan Emiria sebagai sosok yang menarik untuk dikaji, tidak hanya dalam sejarah seni rupa Indonesia, tetapi juga dalam studi sejarah sosial, genealogi, identitas politik, dan hubungan historis antara Minahasa, Tidore, dan Papua.
Daftar Pustaka
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), koleksi korespondensi Emiria Soenassa.
Claire Holt. Art in Indonesia: Continuities and Change. Cornell University Press.
Ensiklopedia Tokoh Seni Rupa Indonesia.
Galeri Nasional Indonesia. Katalog dan dokumentasi mengenai Emiria Soenassa.
Arsip Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS).
Orang Indonesia Terkemoeka di Djawa. Goenseikanbu, 1944.
Nationaal Archief (Belanda), arsip Konferensi Meja Bundar dan korespondensi mengenai Papua.
Heidi Arbuckle. Thesis, University of Melbourne, 2011.
Catatan genealogi keluarga Manoppo–Pareira di Minahasa.
Dokumen silsilah dan korespondensi keluarga Kesultanan Tidore yang digunakan oleh Emiria Soenassa.
Kajian sejarah Tanawangko dan komunitas Kampung Tidore di Minahasa.
Publikasi sejarah seni Indonesia mengenai Emiria Soenassa.
