BRAM MAKAHEKUM, SENIMAN ASAL SANGIHE, PENDIRI GRUP MUSIK KAMPUNGAN

 Mengenal Kaum Diaspora Nusa Utara. 

BRAM MAKAHEKUM. 

kedekatannya dengan W.S. RENDRA, SETIAWAN DJODI, IWAN FALS DAN SAWUNG JABO.

Oleh  :  Alffian  Walukow


Bram Makahekum

Musisi, Aktor, Penyair, Dramawan, Pendiri Kelompok Kampungan

Bram Makahekum adalah seniman multidisiplin Indonesia asal Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Namanya dikenal sebagai musisi, penyair, aktor teater, aktor film, pencipta lagu, serta pendiri dan pemimpin Kelompok Kampungan, kelompok musik yang menjadi pelopor perpaduan musik rakyat, sastra, teater, dan kritik sosial di Indonesia. Bersama kelompok tersebut, Bram melahirkan karya-karya yang berpengaruh dalam perkembangan musik alternatif Indonesia sejak akhir 1970-an.

Latar Belakang dan Keluarga

Bram Makahekum lahir di Sangir (kini Kepulauan Sangihe), Sulawesi Utara. Menurut riwayat keluarga, ia berasal dari keturunan bangsawan Kerajaan Manganitu. Marga Makahekum merupakan salah satu marga yang memiliki kedudukan penting dalam struktur pemerintahan tradisional kerajaan. Pada masa Hindia Belanda, nama keluarga ini juga pernah ditulis sebagai Macahecum.

Menurut tradisi keluarga, kakeknya menjabat sebagai Jogugu, jabatan yang setara dengan kepala pemerintahan atau perdana menteri dalam struktur Kerajaan Manganitu. Pada masa pendudukan Jepang, sang Jogugu dikabarkan ditangkap dan dihukum mati dengan cara dipenggal oleh tentara Jepang. Salah seorang anaknya adalah Adela Wawu Mawira Makahekum, saudara kandung ayah Bram.

Keluarga besar Makahekum juga dikenal sebagai keluarga yang aktif dalam pelayanan gereja. Pada masa kolonial Belanda, sejumlah anggota keluarga mengabdi sebagai Guru Injil, Hulpprediker (pembantu pengkhotbah), hingga pendeta pribumi di Kepulauan Sangihe.

Ayah Bram berprofesi sebagai jaksa. Ketika bertugas di Tahuna, Bram menjalani masa kecilnya di kota tersebut. Ia bersekolah di Sekolah Dasar di Tahuna dan tinggal di rumah kakeknya yang berada di samping Lapangan Gesit. Setelah itu ayahnya dipindahkan sebagai jaksa ke Surabaya sehingga keluarga meninggalkan Sangihe.

Pendidikan dan Awal Berkesenian

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Bram melanjutkan pendidikan musik di Akademi Musik Indonesia (AMI) Yogyakarta (kini menjadi bagian dari ISI Yogyakarta). Di kota budaya inilah bakat seni Bram berkembang pesat.

Selain belajar musik, ia aktif di Bengkel Teater pimpinan W. S. Rendra. Pengalaman tersebut membentuk gaya artistiknya yang memadukan musik, puisi, drama, dan kritik sosial.

Kelompok Kampungan

Pada tahun 1977 Bram mendirikan Kelompok Kampungan, sebuah kelompok musik yang menggabungkan musik tradisional Nusantara, folk, blues, jazz, rock, sastra, dan teater.

Sebagai pendiri, pemimpin, vokalis, pencipta lagu, sekaligus pengarah artistik, Bram membangun identitas musikal yang berbeda dari kelompok-kelompok lain pada zamannya.

Kelompok Kampungan melahirkan sejumlah musisi penting Indonesia, di antaranya Sawung Jabo, yang berkembang secara musikal bersama Bram sebelum kemudian mendirikan Sirkus Barock dan bergabung dalam SWAMI maupun Kantata Takwa.

Album Mencari Tuhan (1980) menjadi karya paling monumental kelompok ini. Karena lirik-liriknya yang kritis terhadap kondisi sosial-politik, album tersebut sempat mengalami pencekalan pada masa Orde Baru sebelum akhirnya dirilis ulang pada tahun 2013 dan mendapat apresiasi sebagai salah satu album penting dalam sejarah musik Indonesia. (Seputar Teater Indonesia)

Hubungan dengan W. S. Rendra

Sebagai anggota Bengkel Teater, Bram tampil dalam sejumlah pementasan besar karya W. S. Rendra, antara lain:

Perampok (1977) sebagai Gender.

Kisah Suku Naga (1978) sebagai Carlos.

Lysistrata sebagai Panglima Sinesias.

Pementasan tersebut berlangsung di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. (Seputar Teater Indonesia)

Hubungan dengan Iwan Fals

Hubungan Bram Makahekum dengan Iwan Fals terjalin sejak Iwan masih muda. Dalam sebuah wawancara, Bram mengungkapkan bahwa menurut saudara Iwan, penyanyi tersebut mengagumi Kelompok Kampungan dan pernah mencarinya di Yogyakarta untuk bertemu.

Persahabatan mereka kemudian berlangsung selama bertahun-tahun. Bram bahkan mengundang Iwan Fals tampil dalam konser Nyanyian Bangsa pada tahun 2015 di Taman Ismail Marzuki. Meski jarang tampil bersama, keduanya memiliki kesamaan idealisme dalam mengangkat kritik sosial melalui musik.

Karier Film

Selain dikenal sebagai musisi dan aktor teater, Bram juga bermain dalam film layar lebar.

Filmografi

Wage (2017) — memerankan Sosrokartono, kakak kandung Wage Rudolf Supratman. (Indonesian Film Center)

Gaya Berkesenian

Ciri khas Bram Makahekum antara lain:

memadukan musik rakyat, puisi, dan teater;

mengangkat kritik sosial dan kemanusiaan;

menggunakan alat musik akustik serta instrumen tradisional Nusantara;

tampil sederhana dengan sarung atau atribut etnik sebagai simbol kedekatan dengan rakyat.

Penilaian dan Pengaruh

Majalah Rolling Stone Indonesia melalui tulisan Denny Sakrie menempatkan Bram Makahekum sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah musik alternatif Indonesia. Kelompok Kampungan dipandang sebagai pelopor musik folk-protes yang memadukan sastra, teater, dan musik jauh sebelum berkembangnya SWAMI maupun Kantata Takwa. Album Mencari Tuhan dinilai sebagai salah satu album paling penting dalam sejarah musik Indonesia. (Budaya Jogja)

Karier

Musisi dan pencipta lagu.

Pendiri dan pemimpin Kelompok Kampungan.

Vokalis utama Kelompok Kampungan.

Anggota Bengkel Teater W. S. Rendra.

Aktor teater.

Penyair dan pembaca puisi.

Aktor film.

Penggerak musikalisasi sastra.

Pelopor musik folk-etnik dan musik kritik sosial Indonesia.

Karya Penting

Mencari Tuhan (1980)

Bung Karno, Milik Rakyat Indonesia (1999)

Penghargaan dan Pengakuan

Walaupun tidak banyak menerima penghargaan formal, Bram Makahekum memperoleh berbagai bentuk pengakuan, antara lain:

Diakui sebagai pelopor musik alternatif dan musik protes Indonesia.

Album Mencari Tuhan dirilis ulang pada tahun 2013 karena dinilai sebagai karya bersejarah dalam musik Indonesia. (Seputar Teater Indonesia)

Mendapat apresiasi dari Rolling Stone Indonesia sebagai tokoh penting dalam perkembangan musik independen Indonesia. (Budaya Jogja)

Dikenal sebagai salah satu putra terbaik Kepulauan Sangihe yang mengangkat nilai budaya, kemanusiaan, dan nasionalisme melalui seni.

Hingga kini Bram Makahekum tetap dikenang sebagai seniman yang konsisten mempertahankan idealisme. Melalui musik, teater, puisi, dan film, ia meninggalkan jejak penting dalam sejarah kesenian Indonesia sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Kepulauan Sangihe.

Postingan populer dari blog ini

DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.

Connie Constantia

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja