SIAPAKAH YANG LAYAK DISEBUT TONA'AS?

 


SIAPAKAH YANG LAYAK DISEBUT TONA'AS?

Oleh ;Alffian Walukow.


"Dia berpakaian sederhana dan tidak meninggikan diri"

Di tengah kebangkitan kembali identitas budaya Minahasa, istilah Tona'as semakin sering terdengar. Gelar tersebut digunakan dalam berbagai kegiatan adat, organisasi kebudayaan, komunitas masyarakat, bahkan untuk menyebut tokoh-tokoh tertentu.
Fenomena ini melahirkan sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat penting bagi sejarah dan kebudayaan Minahasa:
Siapakah yang sesungguhnya layak disebut Tona'as?
Apakah Tona'as adalah gelar yang dapat diwariskan berdasarkan garis keturunan? Apakah seseorang otomatis menjadi Tona'as karena berasal dari keluarga pemimpin adat? Apakah Tona'as adalah gelar kehormatan yang dapat diberikan kepada siapa saja yang dianggap berjasa? Ataukah Tona'as pada hakikatnya merupakan sebuah kedudukan yang lahir dari kemampuan, pengabdian, kepemimpinan, dan pengakuan masyarakat?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu kembali kepada sejarah masyarakat Minahasa dan melihat Tona'as bukan semata-mata sebagai sebuah gelar, tetapi sebagai fenomena kepemimpinan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Minahasa sendiri.

TONA'AS BUKAN RAJA
Salah satu hal pertama yang perlu diluruskan adalah pengertian mengenai struktur pemerintahan tradisional Minahasa.
Masyarakat Minahasa secara historis tidak mengenal sistem kerajaan terpusat seperti kerajaan-kerajaan yang diperintah oleh seorang raja. Pemerintah Kabupaten Minahasa dalam uraian sejarah daerahnya menyebut beberapa fungsi kepemimpinan tradisional, antara lain Walian, Tonaas, Teterusan, dan Potuasan. Tonaas dikaitkan dengan orang yang kuat dan mempunyai keahlian tertentu, terutama dalam bidang pertanian dan kewanuaan, serta mereka yang dapat dipilih menjadi kepala walak. (Minahasa Portal)
Karena itu, menyamakan Tona'as dengan "raja Minahasa" merupakan penyederhanaan sejarah.
Tona'as berada dalam struktur masyarakat yang memiliki banyak komunitas dan pusat kepemimpinan. Kehidupan sosial berlangsung dalam lingkungan wanua dan walak, sementara hubungan antarkelompok dibangun melalui musyawarah dan berbagai bentuk kerja sama.
Dalam konteks inilah kedudukan seorang Tona'as harus dipahami.

DARI MANA LAHIRNYA KEPEMIMPINAN TONA'AS?
Salah satu sumber resmi mengenai sejarah Minahasa menggambarkan Tona'as sebagai orang yang kuat, ahli dalam pertanian dan kewanuaan, serta dapat dipilih menjadi kepala walak. (Minahasa Portal)
Sementara itu, penelitian antropologi Ryan K. Davenport secara khusus membahas peran dan status sosial Tonaas di kalangan masyarakat Minahasa, dengan perhatian terhadap hubungan antara kekuasaan, moralitas, status sosial, dan pandangan masyarakat tentang kemampuan seseorang. Penelitian tersebut diselesaikan di Northern Illinois University pada 2004. (Huskie Commons)
Dari sini terlihat satu hal yang penting:
Tona'as pada dasarnya berhubungan dengan kualitas seseorang, bukan sekadar nama yang ditempelkan di depan atau di belakang nama.
Dalam kajian mengenai kepemimpinan Tona'as, istilah tersebut juga dikaitkan dengan kekuatan, kemampuan, pengalaman, karakter, serta kecakapan yang berada di atas kemampuan rata-rata dalam bidang tertentu. (ResearchGate)
Dengan demikian, seorang Tona'as secara historis bukan sekadar orang yang ingin disebut Tona'as, tetapi seseorang yang mempunyai kapasitas yang diakui oleh masyarakat.

TONA'AS ADALAH ORANG YANG MEMILIKI KEMAMPUAN
Dalam beberapa sumber kebudayaan Minahasa, Tona'as dikaitkan dengan berbagai kemampuan yang dibutuhkan masyarakat.
Sebuah sumber yang tersimpan dalam repositori Kementerian Pendidikan menjelaskan bahwa pada masa lalu Tonaas berperan sebagai pemimpin wanua dan juga sebagai pengajar dalam papendangan. Tonaas memberikan pengetahuan mengenai keberanian, berburu, mengatur wanua, dan berbagai keterampilan yang diperlukan masyarakat. Sumber tersebut membedakan fungsi Tonaas dengan Walian sebagai pemimpin agama dan Teterusan sebagai pemimpin perang. (Kemendikdasmen Repository)
Sementara penelitian lain menguraikan bahwa seseorang dapat dikaitkan dengan Tona'as karena memiliki keahlian khusus, seperti berburu, bertani, membuka lahan, memahami tanda-tanda alam, pengobatan, atau kemampuan lain yang berguna bagi kehidupan masyarakat. (SciELO)
Artinya, konsep Tona'as mempunyai hubungan kuat dengan keahlian yang menghasilkan manfaat bagi komunitas.
Dalam masyarakat tradisional, orang yang mampu membuka lahan, menemukan tempat permukiman baru, mengetahui kondisi alam, melindungi masyarakat, mengatur kehidupan wanua, atau mempunyai kemampuan tertentu tentu memiliki nilai yang tinggi.
Karena itu, menjadi Tona'as bukan sekadar memperoleh kehormatan.
Ada tanggung jawab di balik kehormatan tersebut.

TONA'AS DAN PENGAKUAN MASYARAKAT
Salah satu unsur paling penting dalam memahami Tona'as adalah pengakuan masyarakat.
Seorang individu dapat menyatakan dirinya sebagai Tona'as. Tetapi pernyataan pribadi tidak dengan sendirinya menghasilkan legitimasi sosial.
Dalam konteks sejarah kepemimpinan tradisional, kedudukan pemimpin berkaitan dengan komunitas yang dipimpinnya.
Sebuah publikasi mengenai sejarah dan kebudayaan Minahasa bahkan memberikan gambaran mengenai Tona'as sebagai seorang pemimpin yang memiliki ajaran, masyarakat, wilayah, dan pengakuan. (Kemendikdasmen Repository)
Hal tersebut memberikan prinsip penting:
Tona'as tidak hanya memiliki nama atau gelar; Tona'as memiliki masyarakat yang mengakui kepemimpinannya.
Oleh karena itu, apabila seseorang disebut Tona'as, pertanyaan sejarah yang layak diajukan bukan hanya "siapa yang memberikan gelar itu?", tetapi juga:
"Komunitas mana yang mengakui dia, atas dasar apa, dan dalam kapasitas apa?"

TONA'AS BUKAN SEKADAR GELAR KETURUNAN
Persoalan lain yang sering muncul adalah anggapan bahwa Tona'as harus selalu diwariskan melalui garis keturunan.
Pandangan tersebut perlu dikaji secara kritis.
Memang, keluarga tertentu dapat mempunyai sejarah panjang sebagai keluarga pemimpin masyarakat. Genealogi semacam itu merupakan bagian penting dari sejarah Minahasa dan tidak boleh diabaikan.
Akan tetapi, keturunan seorang Tona'as tidak otomatis menjadi Tona'as hanya karena hubungan darah.
Mengapa?
Karena kedudukan tradisional pada dasarnya mempunyai fungsi sosial.
Jika leluhur seseorang dahulu merupakan pemimpin karena mempunyai kemampuan, pengalaman, keberanian, pengetahuan, serta pengakuan masyarakat, maka keturunannya tetap mempunyai hubungan genealogis dengan tokoh tersebut.
Tetapi hubungan genealogis berbeda dengan legitimasi kepemimpinan.
Dengan kata lain:
Keturunan Tona'as dapat menjadi bukti sejarah tentang garis keluarga, tetapi tidak dengan sendirinya menjadi bukti bahwa seseorang pada masa kini menjalankan fungsi Tona'as.
Inilah perbedaan antara genealogi dan legitimasi sosial.

TONA'AS DAN KEPEMIMPINAN WANUA
Hubungan Tona'as dengan wanua merupakan bagian penting dalam sejarah kepemimpinan Minahasa.
Sumber sejarah kebudayaan menyebut Tonaas sebagai pemimpin wanua. Dalam kehidupan masyarakat, pemimpin tersebut tidak hanya bertugas dalam urusan simbolik, tetapi berkaitan dengan pengaturan kehidupan masyarakat dan wilayahnya. (Kemendikdasmen Repository)
Contoh historis dari Wulurmaatus menunjukkan bagaimana beberapa tokoh disebut Tonaas dan memimpin komunitas tersebut. Sumber tersebut mencatat Tonaas Obetneju Moray, Benyamin Sumilat, Alex Sangkaeng, dan Markus Komaling sebagai pemimpin Wulurmaatus sebelum struktur kepemimpinannya kemudian berubah menjadi pemerintahan Hukum Tua setelah Indonesia merdeka. (Kemendikdasmen Repository)
Contoh tersebut menarik karena memperlihatkan adanya perubahan historis fungsi kepemimpinan.
Ketika negara modern terbentuk, sebagian fungsi pemimpin tradisional kemudian beralih atau beradaptasi ke dalam struktur pemerintahan desa.
Dengan demikian, sejarah Tona'as tidak berhenti pada masa pra-kolonial. Konsep tersebut terus mengalami perubahan sesuai perkembangan masyarakat.

TONA'AS BERBEDA DENGAN WALIAn
Tona'as juga perlu dibedakan dari Walian.
Dalam berbagai sumber mengenai budaya Minahasa, Walian dikaitkan dengan fungsi spiritual, keagamaan, dan ritual, sedangkan Tona'as lebih erat dengan kepemimpinan sosial dan kemampuan tertentu.
Jurnal Masyarakat dan Budaya menjelaskan Tonaas sebagai gelar adat bagi tokoh masyarakat Minahasa yang berkaitan dengan kemampuan khusus, kekuatan, dan kepandaian. Sumber yang sama menjelaskan Walian sebagai pemimpin spiritual atau pemimpin sistem kepercayaan Minahasa kuno. (Ejournal Portal)
Karena itu, tidak semua Walian adalah Tona'as dalam arti yang sama, dan tidak setiap Tona'as otomatis merupakan Walian.
Perbedaan fungsi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Minahasa mengenal pembagian peran dalam kepemimpinan.

TONA'AS DAN KEKUATAN MORAL
Kekuatan seorang Tona'as juga tidak boleh dipahami hanya sebagai kekuatan fisik.
Kajian mengenai Tona'as modern menekankan unsur karakter, pengalaman, kemampuan, dan kekuatan spiritual sebagai bagian dari kualitas kepemimpinan. (ResearchGate)
Dalam kehidupan masyarakat, seorang pemimpin yang kuat tetapi tidak mempunyai moral dan tidak memperhatikan kepentingan masyarakat justru kehilangan dasar kepemimpinannya.
Karena itu, Tona'as yang ideal bukan hanya:
kuat, tetapi juga bertanggung jawab;
bukan hanya berani, tetapi juga bijaksana;
bukan hanya pandai, tetapi juga berguna bagi masyarakat;
dan bukan hanya dihormati, tetapi juga mampu mengemban tanggung jawab sosial.

TONA'AS BUKAN GELAR UNTUK PRESTISE
Perubahan masyarakat modern membawa perubahan terhadap penggunaan berbagai simbol budaya.
Gelar adat dapat mengalami proses yang sama.
Sebuah gelar yang dahulu berhubungan dengan fungsi sosial tertentu dapat berubah menjadi simbol kehormatan atau identitas.
Di sinilah perlu dibedakan antara Tona'as sebagai fungsi kepemimpinan dan Tona'as sebagai gelar kehormatan modern.
Gelar kehormatan modern tidak otomatis salah.
Masyarakat memiliki hak untuk mengembangkan kebudayaannya.
Namun, apabila sebuah tulisan mengklaim bahwa seseorang merupakan Tona'as dalam pengertian historis, maka klaim tersebut seharusnya dapat dijelaskan berdasarkan sumber dan konteks.
Pertanyaan yang perlu diajukan adalah:
Siapa yang memberikan pengakuan?
Komunitas mana yang memberikan pengakuan?
Apa dasar pemberian gelar?
Apakah terdapat fungsi sosial yang dijalankan?
Apakah terdapat kesinambungan dengan tradisi lokal?
Apakah pengakuan tersebut terdokumentasi?
Tanpa penjelasan tersebut, istilah Tona'as berisiko kehilangan makna sejarahnya.

LALU, SIAPAKAH YANG LAYAK DISEBUT TONA'AS?
Berdasarkan berbagai sumber sejarah dan kajian mengenai kepemimpinan Minahasa, seseorang dapat dikatakan memiliki dasar yang kuat untuk disebut Tona'as apabila terdapat beberapa unsur yang saling mendukung.
Pertama — Memiliki kemampuan
Ia mempunyai keahlian, pengetahuan, pengalaman, atau kemampuan tertentu yang berguna bagi masyarakat.
Kedua — Memiliki karakter kepemimpinan
Ia mampu mengambil tanggung jawab dan menjadi teladan bagi masyarakat.
Ketiga — Mengabdi kepada komunitas
Kepemimpinannya tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri, tetapi memberikan manfaat bagi masyarakat.
Keempat — Memiliki pengakuan komunitas
Ada masyarakat atau komunitas yang benar-benar mengakui kapasitasnya sebagai pemimpin atau tokoh adat.
Kelima — Memiliki fungsi nyata
Ia menjalankan fungsi sosial, budaya, adat, atau kepemimpinan yang sesuai dengan konteks pemberian gelar tersebut.
Keenam — Memiliki dasar historis atau adat yang dapat dijelaskan
Jika gelar tersebut diklaim sebagai kesinambungan dari tradisi tertentu, harus terdapat dasar sejarah, tradisi lisan, dokumen, atau kesaksian komunitas yang mendukungnya.
Ketujuh — Menjunjung kepentingan masyarakat
Seorang Tona'as seharusnya tidak menggunakan gelar semata-mata untuk memperoleh prestise pribadi.
Dengan demikian, ukuran Tona'as bukan semata-mata darah, bukan semata-mata gelar, dan bukan semata-mata pengakuan pribadi.
Yang lebih penting adalah hubungan antara:
kemampuan + karakter + pengabdian + fungsi + pengakuan masyarakat + kesinambungan budaya.

BAGAIMANA DENGAN TONA'AS PADA MASA KINI?
Masyarakat Minahasa sekarang tentu berbeda dengan masyarakat Minahasa pada masa walak.
Negara modern telah menggantikan sebagian besar struktur pemerintahan tradisional. Pemerintah desa mempunyai kepala desa atau Hukum Tua, sementara pemerintahan daerah mempunyai struktur administratif modern.
Karena itu, Tona'as pada masa kini lebih tepat dipahami dalam konteks kepemimpinan adat dan budaya, kecuali terdapat komunitas tertentu yang masih mempertahankan fungsi tradisionalnya.
Contoh kontemporer memperlihatkan bahwa seseorang dapat dikukuhkan sebagai Tonaas dalam konteks kelembagaan kebudayaan. Pada 2023, misalnya, Penjabat Bupati Minahasa Jemmy Stani Kumendong dikukuhkan sebagai Tonaas tokoh adat dan budaya dalam kaitannya dengan kepemimpinan Majelis Kebudayaan Minahasa. Pengukuhan tersebut dilakukan dalam musyawarah adat yang melibatkan sejumlah ketua pakasaan. (Sulut Review)
Contoh ini menunjukkan bahwa makna Tona'as telah mengalami perkembangan kelembagaan pada masa modern.
Karena itu, Tona'as kontemporer tidak harus identik dengan Tona'as pada masa walak.
Yang penting adalah menjelaskan konteks pengakuannya.

JANGAN MENGUKUR TONA'AS HANYA DARI GELAR
Jika seseorang memakai gelar Tona'as, hal itu sendiri belum cukup bagi seorang sejarawan untuk menyimpulkan bahwa ia merupakan Tona'as dalam pengertian historis.
Demikian pula, seseorang yang tidak memakai gelar Tona'as belum tentu tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang secara substantif sesuai dengan nilai Tona'as.
Inilah persoalan yang sering terlupakan.
Gelar adalah simbol. Kepemimpinan adalah tindakan.
Seseorang dapat memiliki gelar tetapi tidak menjalankan fungsi kepemimpinan.
Sebaliknya, seseorang dapat menjalankan nilai-nilai kepemimpinan Tona'as tanpa menggunakan gelar tersebut untuk dirinya sendiri.
Karena itu, penelitian sejarah harus lebih memperhatikan fungsi dan konteks daripada sekadar sebutan.

TONA'AS SEBAGAI WARISAN NILAI
Pada akhirnya, persoalan Tona'as bukan hanya persoalan tentang siapa yang boleh menggunakan sebuah gelar.
Yang jauh lebih penting adalah:
nilai apa yang diwariskan oleh konsep Tona'as kepada generasi Minahasa sekarang?
Jika Tona'as secara historis berhubungan dengan keberanian, kemampuan, kepemimpinan, pengetahuan, pengabdian, pengelolaan wilayah, serta tanggung jawab kepada masyarakat, maka nilai-nilai tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan sebutan.
Seorang Tona'as seharusnya hadir ketika masyarakat membutuhkan kepemimpinan.
Ia seharusnya mempunyai pengetahuan ketika masyarakat membutuhkan petunjuk.
Ia seharusnya mempunyai keberanian ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Dan ia seharusnya mempunyai hati untuk mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan dirinya sendiri.

KESIMPULAN
Lalu, siapakah yang layak disebut Tona'as?
Dari perspektif sejarah, Tona'as tidak tepat dipahami hanya sebagai gelar keturunan, gelar kehormatan, atau identitas pribadi.
Tona'as merupakan bagian dari tradisi kepemimpinan masyarakat Minahasa yang secara historis berkaitan dengan kemampuan, kekuatan, pengetahuan, pengalaman, keberanian, fungsi sosial, dan pengakuan masyarakat. Berbagai sumber menggambarkan Tonaas sebagai pemimpin wanua dan tokoh yang mempunyai keahlian tertentu, sementara penelitian akademik menempatkannya dalam hubungan dengan status sosial, kekuasaan, moralitas, dan kemampuan. (Minahasa Portal)
Karena itu, seseorang yang layak disebut Tona'as bukanlah semata-mata orang yang meminta untuk disebut Tona'as, melainkan seseorang yang mempunyai kapasitas, menjalankan fungsi, mengabdi kepada masyarakat, dan memperoleh pengakuan dari komunitas dalam konteks adat dan budaya yang dapat dijelaskan.
Keturunan dapat menjadi bagian dari sejarah.
Pengukuhan dapat menjadi bentuk pengakuan.
Gelar dapat menjadi simbol.
Tetapi yang memberikan makna paling dalam kepada Tona'as adalah kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan demikian, pertanyaan "Siapakah yang layak disebut Tona'as?" pada akhirnya bukan hanya pertanyaan mengenai gelar.
Ia adalah pertanyaan tentang siapa yang benar-benar mempunyai kemampuan untuk memimpin, siapa yang bersedia mengabdi, siapa yang memperoleh kepercayaan masyarakat, dan siapa yang mampu menjaga nilai-nilai kebudayaan Minahasa bagi generasi yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Davenport, Ryan K. 2004. The Logic, Morality, and Metaphysics of Power: The Roles and Social Status of the Tonaas among the Minahasa. M.A. Thesis. Northern Illinois University. (Huskie Commons)
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Pemerintah Kabupaten Minahasa. Sejarah Minahasa. Pemerintah Kabupaten Minahasa. (Minahasa Portal)
Stevanus, Alexander, dan Elfira Pelawiten. 2024. "Tona’as: Sebuah Refleksi Teologis Kepemimpinan Kristen di Minahasa." Euanggelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 5(1), 78–88. (ResearchGate)
Jurnal Masyarakat dan Budaya. 2022. Vol. 24 No. 1, hlm. 85–104. Kajian mengenai Tonaas, Walian, Muntu-Untu, dan praktik budaya Minahasa. (Ejournal Portal)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bunga Rampai Sulawesi. Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bagian mengenai Papendangan, Tonaas, Walian, dan Teterusan. (Kemendikdasmen Repository)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ungkapan Tradisional sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Daerah Sulawesi Utara. Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (Kemendikdasmen Repository)

Catatan Historis
Dalam tulisan ini, Tona'as sengaja tidak diberi satu definisi yang bersifat mutlak untuk seluruh wilayah Minahasa. Tradisi Minahasa memiliki variasi antarkomunitas dan antarmasa. Karena itu, klaim mengenai siapa yang "sah" atau "tidak sah" sebagai Tona'as harus selalu dilihat berdasarkan wilayah adat, periode sejarah, fungsi, mekanisme pengakuan, dan sumber yang digunakan.
Dengan pendekatan tersebut, pembahasan mengenai Tona'as dapat terhindar dari dua ekstrem: menganggap semua penggunaan gelar modern sebagai tidak sah, atau sebaliknya menganggap setiap orang yang menggunakan gelar tersebut otomatis mempunyai legitimasi historis.

Sumber foto :
Di latar belakang, tampak bagian dari dekorasi pemandangan dengan tulisan "Minahasa pada masa *Kastela*" dan sebuah spanduk bertuliskan "Minahasa di masa lampau..." Sekelompok besar orang berkumpul untuk perayaan Hari Ratu di Minahasa.
Tanggal : antara tahun 1930 dan 1936

Postingan populer dari blog ini

DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.

Connie Constantia

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja