Dalumatehē

 

DALUMATEHĒ DALAM BAHASA DAN KEBUDAYAAN SANGIHE

Kajian Linguistik, Etnolinguistik, dan Transformasi Makna Menjadi Ritual Adat dan Doa

Oleh  :  Alffian  Walukow


Penganut  Kepercayaan  Sundeng sedang Berdoa



Dalumatehē merupakan istilah dalam lingkungan bahasa dan kebudayaan Sangihe yang menarik karena memperlihatkan hubungan antara perubahan makna bahasa dan perkembangan praktik budaya. Dalam penggunaan masyarakat Sangihe masa kini, Dalumatehē dikenal sebagai suatu ritual adat dan doa, terutama dalam konteks menghadapi keadaan luar biasa, termasuk bencana alam.

Sementara itu, sumber leksikografis lama memperlihatkan bentuk dalumatehē yang dirujukkan kepada lumatehē dan patehē. Pada kelompok patehē ditemukan medan makna yang berkaitan dengan melihat, mengamati, memperkirakan, menerka, dan meramal. Pada sumber yang sama terdapat pula leksem pate yang berarti mati atau membunuh, dengan bentuk turunan mamate, papate, tahapate, dan mĕtumpate. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pate dan patehē tidak dapat begitu saja disamakan hanya berdasarkan kemiripan bentuk.

Kajian ini menempatkan Dalumatehē dalam hubungan dengan lumatehē dan patehē, sekaligus membedakannya dari kelompok pate. Perkembangan penggunaan Dalumatehē sebagai ritual adat dan doa dapat dipahami sebagai kemungkinan spesialisasi semantis dan leksikalisasi budaya, yaitu ketika sebuah istilah bahasa memperoleh makna khusus dalam kehidupan adat. Namun, kesinambungan historis antara makna leksikografis lama dan praktik ritual kontemporer tetap memerlukan pembuktian melalui tradisi lisan, sejarah lokal, teks adat, dan dokumentasi ritual.

Kata kunci: Dalumatehē, bahasa Sangihe, patehē, pate, ritual adat, doa, bencana alam, etnolinguistik, perubahan makna.

 

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di dalam bahasa tersimpan pengalaman, pengetahuan, cara berpikir, pandangan terhadap alam, dan nilai-nilai budaya suatu masyarakat. Karena itu, perubahan sebuah kata sering kali tidak hanya menunjukkan perubahan bahasa, tetapi juga dapat mencerminkan perubahan dalam kehidupan sosial dan kebudayaan penuturnya.

Dalam masyarakat Sangihe, istilah Dalumatehē mempunyai kedudukan yang menarik. Dalam penggunaan masyarakat masa kini, Dalumatehē dikenal sebagai suatu ritual adat yang disertai doa. Ritual tersebut, menurut keterangan tradisi yang hidup di kalangan tetua adat, dapat dilakukan ketika masyarakat menghadapi keadaan luar biasa, termasuk bencana alam.

Akan tetapi, sumber leksikografis lama memperlihatkan bentuk dalumatehē dalam hubungan dengan lumatehē dan patehē. Pada kelompok patehē terdapat makna yang berkaitan dengan melihat, memperkirakan, menerka, dan meramal.

Keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan penting:

Apakah terdapat hubungan antara makna leksikal lama Dalumatehē dengan fungsi ritual adat dan doa yang dikenal masyarakat Sangihe pada masa kini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut diperlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga etnolinguistik dan kebudayaan.

 

DATA LEKSIKOGRAFIS

Data lama yang tersedia memperlihatkan dua kelompok bentuk yang secara bunyi dan tulisan mempunyai kemiripan, tetapi secara makna sangat berbeda.

Kelompok pertama adalah pate.

Dalam sumber, pate mempunyai arti:

mati; membunuh.

Dari bentuk tersebut terdapat mamate, yang berarti membunuh; papate, yang berarti kematian; tahapate dan tahapamate, yang berarti pembunuh atau seseorang yang sering membunuh; serta mĕtumpate, yang berkaitan dengan membunuh diri sendiri atau bunuh diri.

Dengan demikian, kelompok pate memiliki medan makna yang berhubungan dengan:

kematian, membunuh, pembunuhan, dan pelaku pembunuhan.

Sumber juga memberikan bentuk nipatene = nilomene, dengan arti lumpuh total atau lumpuh sepenuhnya, serta merujukkannya kepada lome. Data ini menunjukkan bahwa makna suatu bentuk turunan tidak selalu dapat ditentukan hanya dengan menerjemahkan salah satu unsur katanya secara terpisah.

Kelompok kedua adalah patehē.

Dalam sumber, patehē berkaitan dengan bentuk mamatēhē dan mēpatehē, dengan medan makna yang berkaitan dengan melihat, memperkirakan, menerka, atau meramal.

Kemudian terdapat patehang, yang mempunyai arti kira-kira atau kurang lebih berdasarkan perkiraan.

Ada pula makipatehē, yang berkaitan dengan meminta diramalkan atau meminta ramalan, dan tahapatehē, yang berarti peramal.

Dengan demikian, kelompok patehē mempunyai medan makna:

melihat, mengamati, memperkirakan, menerka, meramal, meminta ramalan, dan orang yang meramal.

 

PATE DAN PATEHĒ TIDAK BOLEH LANGSUNG DISAMAKAN

Kemiripan bentuk antara:

pate

dan

patehē

memang sangat mencolok.

Namun, dalam linguistik, kemiripan bentuk belum cukup untuk menyatakan bahwa dua kata mempunyai asal-usul yang sama.

Hal ini semakin jelas apabila dibandingkan:

tahapate = pembunuh

dengan:

tahapatehē = peramal.

Keduanya mempunyai bentuk yang sangat mirip, tetapi maknanya berbeda secara fundamental.

Karena itu, untuk sementara pate dan patehē harus diperlakukan sebagai dua leksem yang berbeda.

Kita belum dapat menyatakan bahwa:

patehē = pate + hē

sebelum tersedia bukti bahwa -hē memang merupakan morfem yang mempunyai fungsi tertentu.

Dengan demikian, penelitian terhadap Dalumatehē sebaiknya tidak dimulai dari asumsi bahwa kata tersebut berkaitan dengan pate dalam arti “mati” atau “membunuh”.

 

PATE SEBAGAI KELOMPOK LEKSIKAL

Kelompok pate memperlihatkan pola derivasi yang cukup jelas:

pate → mamate → papate → tahapate → mĕtumpate.

Bentuk tersebut memperlihatkan bahwa suatu leksem dapat berkembang menjadi bentuk yang menunjukkan tindakan, keadaan, peristiwa, maupun pelaku.

Pate berarti mati atau membunuh.

Mamate berarti membunuh.

Papate berarti kematian.

Tahapate berarti pembunuh.

Mĕtumpate berkaitan dengan membunuh diri sendiri.

Kelompok ini secara keseluruhan berpusat pada konsep kematian dan tindakan membunuh.

Karena itu, kelompok ini harus dibedakan secara tegas dari kelompok patehē.

 

PATEHĒ DAN MEDAN MAKNA PENGAMATAN SERTA RAMALAN

Kelompok patehē menunjukkan medan makna yang berbeda.

Patehē berkaitan dengan:

melihat, mengamati, memperkirakan, menerka, dan meramal.

Dari sini terdapat perkembangan konseptual yang menarik:

melihat → mengamati → menilai → memperkirakan → menerka → meramal.

Hubungan tersebut masuk akal secara semantis karena seseorang dapat melakukan perkiraan berdasarkan apa yang dilihat atau diamatinya.

Akan tetapi, urutan tersebut merupakan analisis semantis, bukan bukti bahwa sejarah kata patehē benar-benar berkembang dalam urutan tersebut.

 

DERIVASI PATEHĒ

Keberadaan sejumlah bentuk turunan memperlihatkan bahwa patehē bukan bentuk yang berdiri sendiri.

Mēpatehē berkaitan dengan kegiatan meramal, menerka, atau memperkirakan.

Makipatehē berkaitan dengan meminta ramalan.

Tahapatehē berarti peramal.

Patehang berkaitan dengan kira-kira atau kurang lebih.

Dengan demikian, patehē dapat dipandang sebagai pusat sebuah jaringan leksikal yang berhubungan dengan perkiraan, penerkaan, dan ramalan.

Hal ini penting karena nantinya memungkinkan kita melihat Dalumatehē bukan sebagai kata yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari jaringan leksikal yang lebih luas.

 

DALUMATEHĒ DAN LUMATEHĒ

Sumber leksikografis lama menghubungkan dalumatehē dengan lumatehē dan patehē.

Hubungan tersebut merupakan petunjuk penting bahwa dalumatehē perlu diteliti dalam lingkungan kata patehē, bukan langsung dikaitkan dengan pate yang berarti mati atau membunuh.

Selain itu terdapat bentuk:

daļumatehē

dan bentuk-bentuk lain seperti:

daļumasudē, daļumasugē, daļumatagē.

Kemudian terdapat bentuk dengan unsur mē-, seperti:

mēdalumatehē, mēdalumasudē, mēdalumasugē.

Data tersebut memberikan kemungkinan bahwa daluma- merupakan bagian dari pola morfologis yang lebih luas dalam bahasa Sangihe.

Namun, belum dapat dipastikan apakah bentuk tersebut harus dianalisis sebagai:

da- + luma- + X

atau sebagai:

daluma- + X.

Untuk menentukan batas morfem tersebut diperlukan penelitian terhadap lebih banyak data dari keseluruhan kamus.

 

MĒDALUMATEHĒ DAN MAKNA MEMPERTIMBANGKAN

Salah satu bentuk yang menarik adalah:

mēdalumatehē.

Bentuk ini dikaitkan dengan makna:

mempertimbangkan, memikirkan, atau merenungkan sesuatu.

Makna tersebut menarik apabila dibandingkan dengan medan semantik patehē.

Kita dapat melihat kemungkinan hubungan konseptual:

melihat → mengamati → menilai → memperkirakan → mempertimbangkan → mengambil keputusan.

Dengan demikian, terdapat kemungkinan bahwa kelompok kata tersebut berhubungan dengan aktivitas kognitif manusia dalam menghadapi sesuatu yang belum diketahui secara pasti.

Sekali lagi, hubungan ini merupakan interpretasi semantis, bukan rekonstruksi historis yang sudah terbukti.

 

PATEHANG DAN MAKNA PERKIRAAN

Bentuk patehang juga mempunyai nilai penting.

Maknanya berkaitan dengan:

kira-kira, kurang lebih, atau berdasarkan perkiraan.

Keberadaan bentuk ini memperkuat pengamatan bahwa konsep perkiraan merupakan bagian penting dari medan semantik patehē.

Artinya, kelompok tersebut tidak hanya berhubungan dengan ramalan dalam arti sempit, tetapi juga dengan penilaian terhadap sesuatu yang belum dapat diketahui secara pasti.

 

DALUMATEHĒ DALAM PERKEMBANGAN BUDAYA

Dalam penggunaan kontemporer masyarakat Sangihe, Dalumatehē mempunyai makna budaya yang lebih khusus, yaitu sebagai ritual adat dan doa.

Di sinilah terjadi persoalan penting dalam kajian linguistik.

Sebuah istilah dapat mengalami perubahan dari:

makna leksikal

menjadi:

nama tindakan

kemudian:

nama praktik sosial

dan akhirnya:

nama ritual budaya.

Jika proses tersebut benar terjadi pada Dalumatehē, maka fenomena ini dapat disebut sebagai spesialisasi semantis atau leksikalisasi budaya.

 

 

MENGAPA DALUMATEHĒ DIHUBUNGKAN DENGAN BENCANA ALAM?

Keterangan bahwa para tetua adat melakukan Dalumatehē sebagai ritual doa karena adanya bencana alam memberikan dimensi budaya yang sangat penting.

Bencana alam menciptakan keadaan yang tidak pasti bagi masyarakat.

Ketika menghadapi:

gempa bumi, badai, banjir, tanah longsor, kekeringan, gelombang besar, atau peristiwa alam luar biasa,

masyarakat tradisional tidak selalu memandangnya hanya sebagai peristiwa alam dalam pengertian modern.

Peristiwa tersebut juga dapat menimbulkan pertanyaan:

Apa yang sedang terjadi?

Mengapa hal ini terjadi?

Apa yang harus dilakukan?

Bagaimana masyarakat harus merespons?

Bagaimana keselamatan masyarakat dapat dipohonkan?

Dari keadaan tersebut dapat muncul kebutuhan akan petunjuk, perlindungan, dan doa.

 

HUBUNGAN PATEHĒ DENGAN PENCARIAN PETUNJUK

Di sinilah hubungan antara kajian linguistik dan budaya menjadi menarik.

Jika patehē mempunyai medan makna:

melihat → mengamati → memperkirakan → menerka → meramal,

maka secara konseptual terdapat gagasan:

mencari pengetahuan terhadap sesuatu yang belum diketahui.

Dalam perkembangan budaya, gagasan tersebut dapat memperoleh bentuk yang berbeda.

Dalam satu konteks:

mencari tahu atau memperkirakan.

Dalam konteks lain:

mencari petunjuk.

Dan dalam konteks keagamaan:

memohon petunjuk dan keselamatan melalui doa.

Karena itu, terdapat kemungkinan hubungan konseptual antara medan semantik patehē dengan fungsi ritual Dalumatehē.

Namun hubungan tersebut belum boleh dinyatakan sebagai bukti etimologis.

 

DARI RAMALAN KE DOA?

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan sangat hati-hati.

Jika patehē mempunyai makna yang berkaitan dengan ramalan, tidak berarti Dalumatehē adalah ritual ramalan.

Ritual kontemporer dapat mempunyai fungsi yang berbeda dari makna lama.

Perkembangan budaya yang mungkin terjadi adalah:

mencari tahu keadaan

menjadi:

mencari petunjuk

kemudian:

memohon petunjuk

dan akhirnya:

memohon perlindungan serta keselamatan melalui doa.

Dengan demikian, ramalan dan doa tidak perlu dianggap sama. Keduanya dapat berada dalam medan budaya yang sama-sama berkaitan dengan menghadapi ketidakpastian, tetapi mempunyai fungsi yang berbeda.

 

PERAN PARA TETUA ADAT

Kenyataan bahwa tetua adat mempunyai peran dalam pelaksanaan Dalumatehē juga penting secara etnolinguistik.

Dalam masyarakat adat, tetua bukan sekadar orang yang lebih tua secara usia. Mereka dapat menjadi penjaga:

pengetahuan adat, tata cara ritual, bahasa adat, sejarah lisan, norma, dan memori kolektif.

Karena itu, ketika mereka memimpin suatu ritual, mereka juga berfungsi sebagai pemegang otoritas budaya.

Dalam perspektif perubahan budaya, fungsi orang yang dahulu dianggap memiliki pengetahuan khusus mengenai keadaan dapat berkembang menjadi fungsi tetua yang memimpin doa dan ritual adat.

Namun hubungan historis tersebut tetap harus dibuktikan melalui kesaksian dan dokumentasi adat.

 

DALUMATEHĒ SEBAGAI RESPONS BUDAYA TERHADAP BENCANA

Jika Dalumatehē memang dilaksanakan setelah bencana alam, ritual tersebut dapat mempunyai beberapa fungsi sosial dan budaya.

Pertama, sebagai doa permohonan keselamatan.

Kedua, sebagai sarana mengumpulkan masyarakat.

Ketiga, sebagai bentuk penguatan solidaritas sosial.

Keempat, sebagai cara masyarakat memberikan makna terhadap peristiwa luar biasa.

Kelima, sebagai sarana mempertahankan adat dan identitas budaya.

Keenam, sebagai bentuk hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan lingkungan sosialnya.

Dengan demikian, Dalumatehē dapat mempunyai makna yang jauh lebih luas daripada terjemahan satu kata.

 

DUA KEMUNGKINAN SEJARAH RITUAL

Untuk mengetahui asal-usul Dalumatehē sebagai ritual, terdapat dua kemungkinan yang harus diteliti.

Kemungkinan pertama adalah bahwa Dalumatehē sudah menjadi praktik adat sebelum terjadi bencana tertentu. Dalam keadaan demikian, bencana hanya menjadi salah satu situasi yang menyebabkan ritual tersebut dilakukan.

Kemungkinan kedua adalah bahwa Dalumatehē muncul atau dilembagakan setelah suatu bencana besar. Para tetua adat mungkin berkumpul, melakukan doa, kemudian praktik tersebut diwariskan dan akhirnya menjadi ritual adat.

Perbedaan antara kedua kemungkinan tersebut sangat penting.

Jika kemungkinan pertama benar, kita sedang melihat kelangsungan tradisi lama.

Jika kemungkinan kedua benar, kita sedang melihat pembentukan tradisi budaya sebagai respons terhadap peristiwa sejarah.

 

PERLUNYA MENELUSURI BENCANA YANG MENJADI LATAR RITUAL

Penelitian akan menjadi jauh lebih kuat apabila dapat ditemukan peristiwa sejarah yang menjadi latar munculnya Dalumatehē.

Pertanyaan pentingnya adalah:

Bencana apa yang menyebabkan ritual tersebut dilakukan?

Kapan peristiwa itu terjadi?

Di kampung mana?

Siapa tetua yang memimpin?

Apa yang diucapkan?

Kepada siapa doa ditujukan?

Apa perlengkapan ritual?

Apakah ritual dilakukan sebelum atau sesudah bencana?

Apakah Dalumatehē dilakukan hanya ketika terjadi bencana?

Apakah ritual juga dilakukan untuk memohon agar bencana tidak terjadi?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menyusun sejarah lisan Dalumatehē.

 

BAHASA DALAM RITUAL

Aspek yang tidak kalah penting adalah bahasa yang digunakan dalam pelaksanaan Dalumatehē.

Jika dalam ritual terdapat:

  • doa khusus;
  • ungkapan adat;
  • sastra lisan;
  • istilah kuno;
  • nama-nama leluhur;
  • permohonan tertentu;
  • formula pembukaan atau penutupan,

maka bahan tersebut akan sangat berharga untuk penelitian linguistik.

Bahasa ritual sering kali mempertahankan bentuk-bentuk lama yang sudah jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Karena itu, teks atau tuturan Dalumatehē dapat menjadi bukti penting untuk menguji apakah istilah tersebut benar-benar mempunyai kesinambungan dengan bentuk leksikografis lama.

 

DIKRITIK DALAM SUMBER LAMA

Dalam penelitian bahasa Sangihe, bentuk asli sumber sebaiknya dipertahankan.

Misalnya:

patehē

tidak sebaiknya langsung ditulis menjadi patehe ketika sedang membahas sumber asli.

Demikian pula:

mamatēhē

dan:

daļumatehē

perlu dipertahankan ketika dikutip.

Tanda ē dan ļ mungkin memiliki fungsi dalam sistem ortografi lama dan dapat menyimpan informasi fonologis yang penting.

Karena itu, modernisasi ejaan harus dibedakan dari transkripsi sumber asli.

 

HUBUNGAN LINGUISTIK DAN BUDAYA

Dari seluruh data dapat dibangun sebuah model konseptual:

PATEHĒ

→ melihat

→ mengamati

→ memperkirakan

→ menerka

→ meramal

→ mencari petunjuk

→ menghadapi ketidakpastian

→ menghadapi bencana

→ berkumpul

→ berdoa

→ memohon petunjuk dan keselamatan

→ DALUMATEHĒ sebagai ritual adat.

Model tersebut menunjukkan bagaimana sebuah konsep bahasa dapat berhubungan dengan kebutuhan budaya.

Tetapi perlu ditekankan bahwa rangkaian tersebut merupakan model interpretatif, bukan bukti bahwa setiap tahap benar-benar terjadi dalam sejarah kata.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan data leksikografis dan keterangan mengenai praktik budaya kontemporer, Dalumatehē dapat dikaji sebagai fenomena yang berada di antara bahasa, sejarah, adat, dan spiritualitas masyarakat Sangihe.

Secara linguistik, pate dan patehē harus dibedakan. Pate mempunyai medan makna yang berhubungan dengan mati, membunuh, kematian, dan pembunuh. Sementara patehē mempunyai medan makna yang berkaitan dengan melihat, mengamati, memperkirakan, menerka, dan meramal.

Kelompok patehē juga menghasilkan bentuk seperti mēpatehē, makipatehē, tahapatehē, dan patehang, yang menunjukkan adanya jaringan leksikal yang berhubungan dengan perkiraan, penerkaan, dan ramalan.

Dalumatehē dalam sumber lama ditempatkan dalam hubungan dengan lumatehē dan patehē. Karena itu, secara metodologis lebih tepat menelusuri Dalumatehē melalui kelompok patehē daripada menghubungkannya secara langsung dengan pate yang berarti mati atau membunuh.

Dalam penggunaan kontemporer, apabila Dalumatehē merupakan ritual adat dan doa yang dilakukan ketika masyarakat menghadapi bencana alam, maka istilah tersebut telah memperoleh fungsi budaya yang lebih khusus. Fenomena ini dapat dipahami sebagai kemungkinan spesialisasi semantis dan leksikalisasi budaya.

Hubungan konseptual yang mungkin adalah:

pengamatan → penafsiran → perkiraan → pencarian petunjuk → permohonan petunjuk → doa → ritual adat.

Namun, belum tepat menyatakan bahwa Dalumatehē secara etimologis berarti “ramalan” atau “doa bencana”. Data yang tersedia baru menunjukkan hubungan leksikografis dengan kelompok lumatehē–patehē serta fakta budaya bahwa istilah tersebut digunakan sebagai nama ritual adat pada masa kini.

Untuk membuktikan kesinambungan sejarahnya, penelitian selanjutnya perlu menggabungkan kamus lama, teks adat, tuturan ritual, sejarah lisan para tetua, dokumentasi bencana alam, serta observasi terhadap pelaksanaan Dalumatehē.

 

Rumusan akhir

Dalumatehē dapat dipandang sebagai salah satu contoh penting hubungan antara bahasa dan kebudayaan Sangihe. Istilah ini memperlihatkan kemungkinan bahwa sebuah bentuk bahasa yang berada dalam jaringan makna pengamatan, perkiraan, penerkaan, dan pencarian petunjuk kemudian memperoleh fungsi budaya yang lebih khusus sebagai nama ritual adat. Ketika ritual tersebut digunakan dalam menghadapi bencana alam, fungsi linguistiknya berkembang menjadi fungsi sosial, spiritual, dan simbolik: masyarakat berkumpul, memohon petunjuk, memohon perlindungan, dan meneguhkan kembali ikatan adat serta kehidupan bersama. Dengan demikian, Dalumatehē bukan hanya persoalan arti sebuah kata, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat Sangihe menyimpan pengetahuan, menghadapi ketidakpastian, merespons bencana, dan mempertahankan warisan budaya melalui bahasa dan ritual.

 

 

Postingan populer dari blog ini

DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.

MEDINOS BAND, Legenda Band Manado

Connie Constantia