Kue Adat Tamo

 

Tradisi Pemotongan Kue Adat Tamo 

dari Sangihe








1. Hakikat dan Arti Kata Tamo: Simbol Cinta Kasih Gumansalangi dan Sangiang Konda Wulaeng

Tradisi Menuwang Tamo (atau Memoto Tamo) merupakan ritual pemotongan kue adat sakral berbentuk kerucut raksasa yang memegang peranan penting dalam peradaban etnis Sangihe. Secara etimologis, sebagian kalangan mengartikan kata Tamo dari istilah Tamolokang, yang didefinisikan sebagai sebuah kelengkapan.

Lebih dari sekadar sajian kuliner, Tamo diyakini sebagai simbol pernyataan cinta yang lahir dari kisah percintaan suci antara Gumansalangi dan Sangiang Konda Wulaeng—putri kayangan yang menjadi cikal bakal atau ibu dari orang-orang Sangihe sekaligus pendiri kerajaan di Sangihe.

Kue Tamo tradisional terbuat dari komoditas hasil bumi lokal seperti beras, gula merah, dan santan, dengan sebutir telur yang ditancapkan di puncaknya sebagai simbol kehidupan baru yang diamanatkan dalam kisah Konda Wulaeng.

Catatan Penting mengenai Tradisi: Berdasarkan kelaziman dan aturan adat yang semestinya, pemotongan Kue Adat Tamo hanya dapat dilakukan pada pesta pernikahan, dan bukan diupacarakan atau dipotong dalam rangkaian upacara adat Tulude.

2. Sejarah dan Asal-usul Tamo Menurut Alffian Walukow

Berdasarkan dokumentasi sejarah lisan (oral history) yang dihimpun oleh Alffian Walukow dalam bukunya Kebudayaan Sangihe (2009), tradisi pembuatan kue adat ini memiliki akar historis yang spesifik:

Perkawinan Historis: Kue Tamo pertama kali dibuat pada masa lampau untuk merayakan pesta pernikahan antara Kesatria Mangulundagho dengan Putri Bangsang Peliang.

Lokasi Awal: Peristiwa bersejarah tersebut bertempat di wilayah Bongko Lumenehe, yang saat ini secara administratif dikenal sebagai Kampung Dagho di Sangihe.

Bahan Purba: Pada awal pembuatannya, Tamo dibentuk dari berbagai macam campuran bahan makanan lokal yang oleh leluhur Sangihe disebut sebagai Golopung.

3. Ritual Sasalamate Tamo dan Kesakralannya

Alffian Walukow menegaskan bahwa Memoto Tamo tidak boleh dipandang sekadar sebagai aktivitas memotong makanan biasa. Proses pemotongan wajib dipimpin oleh tetua adat yang memiliki otoritas moral dan spiritual:

Pelafalan Sastra Lisan: Selagi memotong kue, pemangku adat harus menuturkan syair lisan sakral yang disebut Sasalamate Tamo (sastra lisan doa penyelamatan).

Muatan Isi Doa: Menurut kajian Walukow, isi dari Sasalamate Tamo wajib memuat dua hal utama:
Penuturan kembali mengenai riwayat dan asal-usul Tamo.

Penyampaian pesan, petuah, nilai moral, dan nasihat tentang kebaikan kepada khalayak umum.

4. Makna Simbolis dan Refleksi Kepemimpinan

Secara filosofis, keberadaan Tamo Banua (Tamo berskala besar untuk negeri atau kampung) mewakili simbol kolektif atas persatuan, kekeluargaan, serta kesuksesan bersama masyarakat.

Lebih lanjut, struktur Tamo yang kokoh dan mengerucut ke atas bertindak sebagai pengingat bagi para pejabat, pemerintah, atau pemangku adat (Mehengken Nusa). Struktur ini menyimbolkan bahwa seorang pemimpin yang menduduki posisi tinggi wajib mengayomi rakyatnya, menjaga moralitas, serta memastikan jaminan nilai kemanusiaan dan keadilan.

Ketika Tamo selesai dipotong dan diiris, kue ini dibagi merata kepada masyarakat sebagai simbol redistribusi berkat dan kebersamaan.

5. Rekor MURI dan Pelestarian Budaya: Tamo Raksasa 4,5 Meter

Kecintaan Alffian Walukow terhadap pelestarian tradisi ini dibuktikan secara konkret pada tahun 2006 melalui perancangan dan pembuatan Kue Tamo Raksasa setinggi 4,5 meter. Karya budaya monumental ini merupakan replika perbesaran dari kue adat Sangihe yang biasanya dibuat setinggi 40 hingga 75 cm.

Karya ini sukses mencatatkan rekor nasional di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai kue adat terbesar dalam sejarah Indonesia dengan spesifikasi berikut:

Komposisi Bahan: 1.000 kg beras, 1.000 kg gula merah, 250 liter minyak kelapa.

Aksesoris: 10 kg udang, 300 butir telur rebus yang diisi dalam replika telur pada pucuk kue, serta 100 kg buah-buahan.

Total Berat: Hampir mencapai 3.000 kg beserta bahan lainnya.

Langkah ini sejalan dengan misi beliau dalam mendirikan Sanggar Apapuhang (yang kini menjadi museum budaya representatif keluarga Walukow-Bawele di Sangihe) guna mendokumentasikan benda-benda sejarah dan seni Sangihe agar tetap lestari.

🌐 Sumber Referensi

Buku & Karya Tulis Budaya: Walukow, Alffian W.P. (2009). Kebudayaan Sangihe.

Kajian Ilmiah Sastra & Ritual: Kantor Berita Resmi Antara News – Melestarikan Adat Tulude Warisan Etnis Sangihe Talaud.

Arsip Pemikiran Tokoh Adat & Mitologi: Repositori Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) serta Arsip Cerita Rakyat Sangihe (Kisah Gumansalangi & Sangiang Konda Wulaeng).

Ensiklopedia & Arsip Publik: Wikipedia Bahasa Indonesia (Entri: Tamo) & Wikimedia Commons.

Postingan populer dari blog ini

DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.

MEDINOS BAND, Legenda Band Manado

Connie Constantia