Friska Mariane Salendeho, S.Kom. sebagai Kapitalaung (Kepala Desa) Kampung Kalurae Terpilih
Selamat dan
sukses atas terpilihnya Friska Mariane Salendeho, S.Kom. sebagai Kapitalaung
(Kepala Desa) Kampung Kalurae, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan
Sangihe, untuk periode masa bakti 2026–2034.
Berdasarkan
hasil Pemilihan Kapitalaung (Pilkades) serentak yang digelar pada Rabu, 21
Oktober 2026, ia berhasil meraih kemenangan dengan selisih 14 suara setelah
mengalahkan petahana (incumbent), Aner Manise. Meskipun dalam administrasi resmi
menggunakan marga leluhur Salendeho, marga asli dari Friska adalah Londonaung.
Terpilihnya Friska Salĕndehọ menjadi sangat penting karena merupakan
Kapitalaung Definitif perempuan pertama
di Kampung Kalurae, sekaligus menjadi Kapitalaung di pusat Kerajaan Tabukan.
Diharapkan di masa kepemimpinannya dapat mengangkat kembali kurang lebih 20
situs sejarah Kerajaan Tabukan dari masa Penyatuan Tabukan sampai berpindah ke
Tabukan Baru (Enemawira) yang masih terlantar.
Dalam studi kebahasaan dan leksikon
bahasa Sangihe berdasarkan catatan kamus daerah, entri Salĕndehọ
memiliki beragam fungsi kultural dan tradisional. Kata ini digunakan sebagai
nama diri atau nama milik pribadi, serta berfungsi sebagai sarana pengobatan
atau ritual untuk mendapatkan hasil panen padi yang sangat melimpah dengan cara
ditiupkan ke arah keranjang panen dan lumbung beras (ilẹhopa su luwe r. su
rasagẹ). Selain itu, Salĕndehọ digunakan untuk mengatasi lima mahẹtu
(kondisi gangguan koordinasi gerak atau tidak bisa berjalan lurus akibat
garis-garis pada telapak tangan), digunakan pada perahu melalui tenunan atau
tiupan (iwẹbuha su sakaeng), serta dimanfaatkan dalam kesehatan
reproduksi untuk mencegah keguguran atau agar cepat hamil melalui cara diminum
(ipakiinung, bandingkan dengan istilah popasẹ).
Dari sisi morfologi, kata berawalan
salĕ- terbentuk melalui penggabungan prefiks sa- dengan sisipan
atau awalan lanjutan li- (atau lĕ-), yang kemudian diikuti oleh
berbagai morfem dasar. Awalan salĕn- ini berfungsi menurunkan nomina,
verba, maupun adjektiva, di mana kehadiran infiks intransitif seperti -um-
(seperti pada sumalëndia atau sumalënduing) memperluas fungsi
leksikal kata dasarnya. Medan makna dari kata ini terbagi ke dalam domain
perilaku atau psikologis—seperti Salëndenge (ceroboh/tergesa-gesa), Salëndia
(ragu-ragu), Salënduing (usil/ikut campur), dan Salënggëguhẹ
(menggigil/gugup)—serta domain material dan tradisional—seperti Salënda
(sayatan kulit kayu sakedę) dan Salënggihi (pohon berkayu lunak
untuk obat herbal). Secara etimologis dan leksikografis, kata Salendeho murni
berstatus sebagai kosakata apelatif atau kata benda umum, istilah
ritual/pengobatan, penanda sifat, maupun nama diri personal dalam struktur
bahasa Sangihe.
Oleh karena itu, kemunculannya
tidak memiliki kaitan historis, etimologis, ataupun hubungan kekerabatan marga
dengan "Salindeho" (fam yang umum dijumpai di Siau), karena keduanya
merupakan entitas yang berbeda.
Menelusuri rekam jejak wilayahnya,
Kampung Kalurae memiliki nama asli Soa Ṭĕbẹ yang berarti Kampung Tua, di mana
nama administratif Kalurae sendiri baru mulai digunakan dan dikenal secara luas
setelah tahun 1892.
Kampung ini merupakan desa
pesisir-perbukitan strategis yang terletak di Kecamatan Tabukan Utara,
Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, serta berbatasan langsung
dengan wilayah perbatasan laut Indonesia-Filipina. Sebagai wilayah induk historis,
pada tahun 2008 salah satu dusun di bawah pemerintahannya resmi memekarkan diri
menjadi desa mandiri yang kini dikenal sebagai Kampung Raku.
Nama wilayah ini juga tercatat
dalam literatur ilmiah kolonial Belanda, di antaranya dilaporkan oleh P. M. L.
Tammes dalam penelitian mengenai migrasi belalang kembara. Dalam laporannya,
penjabat Kontrolir Kepulauan Sangihe menyebutkan bahwa gerombolan belalang
kembara yang mendarat di pantai timur Groot-Sangihe dekat Kaloerae datang
terbang dari laut pada pertengahan Mei dan melayang cukup lama di atas buih
ombak sebelum akhirnya mendarat di belakang Kaloerae.
Adapun kepemimpinan di Kampung
Tabukan Lama (Soa Tebe) berakar dari masa sebelum lahirnya kampung tersebut
yang berada di bawah pemerintahan Raja Dalero hingga masa pemerintahan
Cornelius Siri Darea.
Selanjutnya, masa Kampung Tabukan Lama dipimpin secara berturut-turut oleh S. Tondongdarere Janis (1892–1918) di bawah masa pemerintahan Raja David Jonathan Papukule Sarapil, Johanis Macpal (1918–1928), Ampingan Tasin (1928–1936) di bawah Pemerintahan J. Katiandagho, Johanis Landangkasiang (1936–1942), Jeheskiel Macpal (1942–1943), dan Amos Tasin (1943–1945) di bawah Pemerintahan Raja Lepinus P. Macpal. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Spener Dareho (1945–1952) di bawah Pemerintahan Umar Muhamad, Herling Ussu (1952–1956) di bawah Pemerintahan Bidjol Pontoh, Hamade Kaomaneng (1956–1959), Jusaf Bagensa (1959–1962), Abdul Mangamba (1962–1968), Antanasius Bawotong (1968–1976), Herson Panggulu (1976–1978), Arsitobolus Janis (1978–1983), Frederick Landangkasiang (1983–1992), Husein Lendes (1992–1999), Samsudin Tatangindatu (1999–2009), Aner Manise (2010–), Fitriani Tasin, hingga kembali dijabat oleh Aner Manise.
Pj. Kapitalaung Saat Ini:
Benhard Leonard Barahama, S.T. mulai menjabat sejak proses serah terima jabatan (sertijab) pada 31 Agustus 2026. Tugas utamanya termasuk mengawal jalannya roda pemerintahan transisi dan memfasilitasi pemilihan pimpinan definitif.
Benhard adalah suamin dari Friska Salendeho.
