JENIS-JENIS TANAMAN TU’IS DALAM KEBUDAYAAN MINAHASA
JENIS-JENIS TANAMAN TU’IS DALAM KEBUDAYAAN MINAHASA
Tu'is adalah nama lokal di Minahasa untuk sekelompok
tumbuhan dari suku jahe-jahe atau temu-temuan (Zingiberaceae). Tumbuhan dalam kelompok ini masih
berkerabat dekat dengan kecombrang/kecipir dan kapulaga.
- Nama
Ilmiah: Etlingera alba (secara historis diidentifikasikan
sebagai Amomum album).
- Nama
Lokal Lain: Tikala (Sulawesi), Galoba Papua, atau Gitipi
Tana (Maluku).
- Ciri
Utama: Memiliki buah yang tumbuh bergerombol di permukaan tanah (dekat
rimpang) dan berwarna oranye cerah saat matang.
II.
INVENTARISASI DAN JENIS-JENIS TU’IS
Dalam kebudayaan
dan bahasa lokal masyarakat Minahasa, dikenal beberapa varietas/jenis tu'is
beserta karakteristik dan pemanfaatannya:
- Tu'is
Rara (Pedas) atau T. Karěngan. Jenis tu'is yang memiliki
sensasi rasa pedas.
- Tu'is Im Batu. Buahnya dapat dimakan dan rasanya
sangat manis tetapi bertekstur keras. Daunnya berukuran besar,
mirip dengan tu'is im pokok.
- Tu'is
Im Pokok Buahnya berada di bagian atas/puncak tanaman dan tidak
dimakan oleh manusia. Daunnya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
membungkus serta memasak nasi (lihat konteks kase'e).
- Tu'is
In Ěre. Buahnya dapat dimakan dan memiliki batang yang halus/licin.
- Tu'is
In Tjěsa' (Cesa). Tidak
dapat dimakan dan tumbuh di area berawa. Di wilayah Kakas, daunnya
digunakan sebagai bahan pembungkus ikan (kěsa').
- Tu'is
In Tjuow (Cuow). Memiliki wujud menyerupai sulur/liana dengan bunga
berwarna merah. Daunnya dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk
meredakan peradangan atau infeksi mata.
- Tu'is
In Tjure (Cure'). Buahnya
dapat dimakan dengan tandan buah berukuran besar (sebesar periuk nasi).
- Tu'is Sangkor. Memiliki karakteristik bentuk yang
bulat.
- Tu'is
Im Balanda. Sebutan lokal
masyarakat untuk buah nanas.
Penggunaan kata tu'is
dalam bahasa Minahasa juga membentuk istilah metafora, fase pertumbuhan
pertanian, hingga terminologi kondisi fisik:
- Tumu'is: Menusuk atau menuding ke arah
sesuatu/seseorang menggunakan tongkat atau batang tu'is.
- Manu'is rowar ěm bene', pa'pa'an itu
nimuluro tanu tu'is i matawiso: Salah satu istilah untuk menggambarkan tahapan dalam pertumbuhan
padi, karena pucuknya yang meruncing pada ujungnya menyerupai bentuk
tanaman tu'is.
- Tu'isěn / Pěngitěn: Bau ketiak pada manusia yang
menyengat seperti bau kelelawar.
- Contoh penggunaan: Katu'isěn tu'u
sia (Alangkah baunya ketiak dia seperti kelelawar).
- Katu'isan: Suatu kawasan atau tempat yang
ditumbuhi/ditanami oleh tu'is.
Berdasarkan
tradisi etnobotani serta kajian ilmiah modern, berikut adalah manfaat dari
tanaman Etlingera alba:
1. Pemanfaatan
Buah
Buah yang matang berwarna oranye dan memiliki rasa asam
segar yang khas.
- Konsumsi
Tradisional: Dikonsumsi langsung sebagai buah segar atau camilan hutan
oleh masyarakat setempat, serta menjadi pakan alami bagi fauna penyebar
biji.
- Obat
Sakit Telinga: Perasan air buah digunakan secara tradisional untuk
meredakan nyeri atau sakit telinga.
- Kesehatan
Pencernaan & Mulut: Membantu meredakan diare, batuk, hingga
menyembuhkan sariawan.
2. Pemanfaatan Batang dan Daun
Bagian batang dan
daun kaya akan minyak atsiri dan senyawa aktif.
- Anti-inflamasi: Ekstrak batangnya digunakan untuk
mengurangi pembengkakan atau memar. Uji laboratorium mengonfirmasi
aktivitas anti-inflamasi yang kuat.
- Perawatan Pasca Melahirkan: Rebusan daun dimanfaatkan untuk
mandi atau diminum guna memulihkan stamina serta membersihkan tubuh ibu
pascamelahirkan.
- Antibakteri
Alami: Ekstrak rimpang dan batang efektif menghambat pertumbuhan
bakteri patogen seperti Salmonella enterica dan Escherichia coli.
3. Potensi Medis Modern
- Kaya
Antioksidan (Diarylheptanoids): Batang dan rimpang mengandung senyawa diarylheptanoid
yang bertindak sebagai antioksidan kuat penangkal radikal bebas.
- Agen
Sitotoksik: Penelitian farmasi menunjukkan adanya aktivitas sitotoksik
(pembunuh sel berbahaya) yang berpotensi dikembangkan sebagai terapi
pendukung antikanker.
Dalam kebudayaan Minahasa, tu'is memegang peranan
simbolis penting dalam mitos asal-usul manusia Minahasa (Tou Toupuren).
Kisah Tongkat Takdir
Pada zaman purba di Tanah Malesung, Karema (wali adat dan
imam wanita pertama) mengutus Lumimuut dan Toar untuk mengembara mengelilingi
bumi guna membiakkan kehidupan. Sebelum berpisah, Karema memotong dahan
tumbuhan menjadi dua bilah tongkat penopang berukuran sama panjang.
- Tongkat
Lumimuut: Dibuat dari batang Pohon Tawaang (Cordyline /
puring merah)—simbol kesucian, batas adat, dan pelindung kehidupan.
- Tongkat
Toar: Dibuat dari batang Pohon Tu'is (Amomum / Etlingera)
atau Kayu Asa—simbol ketahanan, pertumbuhan, dan keteguhan
maskulin.
Karema berpesan bahwa jika kelak mereka dipertemukan kembali
oleh alam, mereka harus mengukur kedua tongkat tersebut. Jika panjangnya masih
sama, artinya mereka masih terikat hubungan darah sebagai ibu dan anak. Namun
jika ukurannya berubah dan tidak lagi sama, hal itu menjadi tanda bahwa ikatan
darah telah terputus oleh perjalanan zaman, sehingga mereka diizinkan bersatu.
Sifat alamiah tanaman tu'is yang vegetatif dan terus
bertunas membuat tongkat Toar bertambah panjang selama perjalanan pengembaraan,
sedangkan tongkat Tawaang milik Lumimuut ukurannya tetap. Ketika dipertemukan
kembali di belantara tanpa saling mengenali, perbandingan kedua tongkat
menunjukkan tongkat Toar jauh lebih panjang. Berdasarkan petunjuk alam
tersebut, pernikahan Toar dan Lumimuut direstui hingga menurunkan suku-suku di
Tanah Minahasa.
Pencatatan mengenai tanaman tu'is, bahasa, etnografi,
serta narasi mitologinya didasarkan pada berbagai referensi ilmiah, farmasi,
dan catatan sejarah berikut:
- Graafland, N. (1898). De Minahasa: haar verleden en
haar tegenwoordige toestand. Batavia: G. Kolff & Co.
(Merekam cerita rakyat awal masyarakat Minahasa
mengenai mitos Toar, Lumimuut, dan Karema serta perbandingan panjang tongkat
penopang).
- Riedel, J. G. F. & Schwarz, P. N.
(1908). Het
Hollandsch-Tontemboansch-Tondanosch Woordenboek / Etnografi Malesung. Batavia
& 's-Gravenhage.
(Mencatat perbendaharaan kata,
pencatatan flora lokal Minahasa, varietas tanaman Tu'is, serta kiasan
pertumbuhan padi).
- Taulu,
H. M. (1952). Adat Istiadat Minahasa & Sejarah Minahasa.
Manado: Penerbitan Local Sejarah.
(Mencatat narasi lisan
mengenai Karema, pembekalan tongkat pemutus hubungan darah, serta simbolisme
pohon Tawaang, Kayu Asa, dan Tu'is).
- Watuseke,
F. S. (1968). Sejarah Minahasa. Manado: Percetakan Negara.
(Menjelaskan kosmologi
suku-suku Minahasa serta tradisi lisan Mawa'lesang yang memelihara kisah
penataan silsilah dan hukum adat pernikahan).
- Jurnal
Etnobotani & Farmakologi Herbal Indonesia:
- Fitokimia
dan Aktivitas Anti-inflamasi Ekstrak Etlingera alba (Zingiberaceae).
- Inventarisasi
Tumbuhan Obat Tradisional Suku Minahasa dan Maluku.
- Schwarz, J. Alb. T. 1908. Tontemboansch-Nederlandsch
Woordenboek met Nederlandsch-Tontemboansch Register. Leiden:
Boekhandel en Drukkerij voorheen E. J. Brill.

