John Piet Sondakh

 

 

Mengenal Papanialo atau  John  Piet Sondakh : Pegiat Teater Sulawesi Utara

Oleh: Alffian  Walukow

John  Piet  Sondakh

Nama John Piet Sondakh mungkin terdengar begitu elegan di lembar-lembar naskah teater formal. Namun bagi masyarakat Sulawesi Utara, sosoknya lebih hangat dan akrab dikenal melalui nama panggung ikonisnya: Papanialo. Ia bukan sekadar aktor teater kawakan atau dramawan senior, melainkan salah satu pilar utama yang menyalakan obor teater rakyat dan drama komedi khas Manado selama berminggu-minggu, bertahun-tahun, hingga melintasi dekade.



Makna di Balik Nama "Papanialo" dan Kekerabatan Minahasa

Secara etimologi kultural, nama panggung Papanialo merupakan singkatan khas bahasa Melayu Manado dari sebutan "Papa ni Alo" (Ayahnya si Alo). Nama ini bukan sekadar julukan panggung biasa, melainkan cerminan dari akar kekerabatan dan tradisi lisan Minahasa yang sangat kental.

 

Dalam sistem kekerabatan dan tradisi lisan Minahasa, "Alo" adalah sapaan atau panggilan kesayangan untuk anak laki-laki, saudara laki-laki (kakak/adik), atau teman laki-laki. Panggilan ini berakar kuat dan sangat umum digunakan di wilayah sub-etnis Tontemboan (salah satu suku pakasaan di Minahasa). Namun dalam perkembangannya, sapaan ini telah diserap dan digunakan secara luas di seluruh pelosok Sulawesi Utara melalui bahasa Melayu Manado.

 

Sebagai sebuah fungsi sosial, sapaan "Alo" menjadi ekspresi keakraban, kasih sayang, dan penghormatan dalam hubungan kekeluargaan maupun pertemanan sehari-hari. Dalam dialektika panggilan Minahasa, jika anak atau kerabat laki-laki disapa dengan sebutan Alo, maka anak atau kerabat perempuan memiliki sapaan kesayangan tersendiri seperti Utu , Tole (di daerah tertentu) atau dan Keke. Lewat identitas panggung "Papanialo", John Piet menghadirkan sosok figur ayah rakyat yang hangat, jenaka, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Minahasa.



Akar Kebudayaan dan Teladan dari Kawangkoan

Lahir dan dibesarkan dalam denyut nadi budaya Minahasa yang kuat, karakter seni John Piet Sondakh mengalir deras dari garis keturunannya. Sang ayah, Paul Frederik Sondakh (lebih dikenal sebagai Ayah Feki), merupakan seorang birokrat di Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Sulawesi Utara yang membidangi urusan kebudayaan.

 

Keluarga besar mereka berakar dari rumpun Sondakh-Lumentut-Mapaliey di Kanonang, Kawangkoan, Minahasa. Latar belakang sebagai Tou Kawangkoan membentuk pribadi John Piet menjadi sosok yang kritis, jenaka, dan ekspresif. Rumah keluarga Sondakh di Manado pun dikenal sarat jiwa sosial. Pada akhir era 1960-an, rumah ini menjadi tempat bernaung dan membimbing seniman tunanetra legendaris asal Tareran, John Mapaliey, dalam mempelajari musik dan huruf Braille—sebuah bukti nyata bahwa seni dan kemanusiaan telah menyatu dalam keluarga ini sejak dini.




Gemblengan Keras di Ibu Kota

Berbeda dengan komedian tradisional pada umumnya yang semata-mata mengandalkan kejelian humor spontan, John Piet Sondakh membekali dirinya dengan pilar akademis yang kukuh. Ia merantau ke Jakarta pada akhir era 1970-an hingga awal era 1980-an untuk mengasah bakatnya di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ)—yang kini dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

 

Di kampus legendaris tersebut, John Piet berada dalam satu angkatan dengan aktor watak ternama tanah air, Mathias Muchus. Gemblengan teater yang keras dan terstruktur di LPKJ membentuk teknik vokal, kontrol ekspresi wajah, serta kedalaman penjiwaan karakter John Piet hingga berada pada taraf yang sangat matang.



Pulang Kampung dan Kejayaan Teater Dian

Ketika banyak sejawat seangkatannya memilih meniti karier di gemerlap industri perfilman nasional di ibu kota, John Piet mengambil keputusan berani: pulang ke tanah Minahasa. Ia membawa pulang ilmu teater modern untuk merevolusi dan menaikkan kelas teater rakyat Manado melalui wadah Teater Dian.

 

Bersama Teater Dian, John Piet melahirkan genre drama komedi satir yang cerdas, berbobot, namun sangat merakyat. Di panggung ini, kharisma Papanialo makin bersinar lewat kolaborasi erat bersama deretan legenda hiburan lokal Sulawesi Utara, seperti Bu Tahanusang (Alm. Tamaka Kakunsi), Om Kale (Jusuf Magulili), Tanta Mien / Tanta Keke (Jean Waturandang), Amoy (Ramli Hiola), hingga Om Sampel dan Sule.



Dari Panggung Rakyat hingga Layar Lebar

Jangkauan seni John Piet tak berhenti di atas panggung pertunjukan. Keaktoran dan daya pikat humornya juga merambah industri film. Dalam karya layar lebar drama komedi bertajuk Free WiFi produksi KPro Film yang disutradarai Donny Mamahit, John Piet kembali menunjukkan kelasnya. Ia menyatukan kembali energi komedi para legenda Sulawesi Utara dan beradu peran dengan stand-up comedian nasional asal Manado, Mongol Stres. Film ini turut mencatatkan namanya dalam basis data sinema internasional seperti The Movie Database (TMDB).



Dedikasi Sastra dan Pengabdian di Usia Senja

Di luar seni peran dan komedi, John Piet Sondakh memiliki kedalaman seni dalam pembacaan puisi. Salah satu penampilannya yang paling emosional dan membekas di hati publik adalah ketika melepas kepergian sahabat karibnya, Bu Tahanusang, pada Juli 2023. Saat itu, ia mementaskan 10 puisi komedi satir dan obituari karya sastrawan Iverdixon Tinungki, termasuk karya ikonis bertajuk "Bicara Ubi Kupas".

 

Hingga usia senjanya, kharisma panggung Sang Maestro tetap tak pudar. Ia terus aktif berkontribusi sebagai juri dalam berbagai ajang kesenian daerah—seperti Festival Seni Budaya Bantik—serta secara konsisten mendedikasikan ilmunya bagi pengembangan teater keagamaan di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).

 

John Piet Sondakh "Papanialo" adalah bukti nyata bahwa komedi dan teater bukan sekadar hiburan pelepas lelah, melainkan media kebudayaan yang luhur, cerdas, dan bermartabat.



Sumber & Referensi Literatur

  1. Arsip LPKJ / Institut Kesenian Jakarta (IKJ): Replikasi data alumni & kemahasiswaan Fakultas Seni Pertunjukan.

 

  1. Iverdixon Tinungki: Ulasan kebudayaan dan dokumentasi teater rakyat Sulawesi Utara.

 

  1. Alffian Walukow (2018): Biografi John Mapaliey: Komponis, Arranger, Evangelist, Tunanetra dari Tareran Minahasa, Penerbit Azkiya, Bogor (Mencatat rekam jejak Paul Frederik Sondakh).

 

  1. The Movie Database (TMDB): Katalog sinema internasional untuk film Free WiFi.

 

  1. Studi Linguistik & Tradisi Lisan Minahasa: Penggunaan sapaan kekerabatan Alo, Utu, Nono, dan Keke dalam dialek Tontemboan dan Melayu Manado.

 

Postingan populer dari blog ini

DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.

MEDINOS BAND, Legenda Band Manado

Connie Constantia