MARIA CATHARINA JOSEPHINE TAMBAJONG, ISTERI SAM RATULANGIE

 

Mengenal  Perempuan  Minahasa dari  Amurang ;

MARIA CATHARINA JOSEPHINE TAMBAJONG (1901–1983)

ISTERI  SAM  RATULANGIE

Pendidik, Pejuang Kemanusiaan, dan Mitra Perjuangan Sam Ratulangi

Oleh  ; Alffian  Walukow



Tulisan  ini mengkaji kehidupan Maria Catharina Josephine Tambajong (1901–1983) sebagai salah satu perempuan Minahasa yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah Indonesia, tetapi belum banyak memperoleh perhatian dalam historiografi nasional. Selama ini, namanya lebih dikenal sebagai istri kedua Dr. G.S.S.J. Sam Ratulangi, Pahlawan Nasional dan Gubernur Sulawesi pertama. Padahal, berdasarkan sumber-sumber primer dan sekunder, Maria memiliki peran yang jauh lebih luas sebagai pendidik, organisator sosial, ibu keluarga, dan pendamping perjuangan yang aktif dalam masa Revolusi Kemerdekaan.

Kajian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber utama berasal dari otobiografi Riwayat Hidup Ibu M.C.J. Ratulangie–Tambajong, yang diperkaya dengan arsip pemerintahan Hindia Belanda, dokumen genealogi keluarga Tambajong dan Lefrandt, literatur mengenai Sam Ratulangi, sejarah Minahasa, serta berbagai publikasi ilmiah yang relevan. Pendekatan sejarah sosial dan sejarah perempuan digunakan untuk menempatkan Maria sebagai subjek sejarah yang memiliki peran mandiri, bukan semata-mata sebagai pendamping tokoh nasional.

Hasil kajian menunjukkan bahwa latar belakang keluarga Tambajong sebagai salah satu keluarga elite Minahasa, dipadukan dengan tradisi pendidikan yang kuat dari keluarga Lefrandt, membentuk karakter Maria sebagai perempuan terdidik pada awal abad ke-20. Pendidikan yang ditempuh di sekolah-sekolah berbahasa Belanda dan sekolah guru di Batavia menjadikannya seorang pendidik profesional sebelum menikah dengan Sam Ratulangi pada tahun 1928. Setelah memasuki kehidupan rumah tangga, Maria tidak hanya menjalankan peran domestik, tetapi juga menjadi mitra intelektual dan sosial bagi suaminya dalam berbagai aktivitas pendidikan, kemasyarakatan, dan perjuangan kebangsaan.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia, Maria berperan aktif dalam mendukung pemerintahan Republik di Sulawesi, mengembangkan kegiatan sosial dan pendidikan, serta tetap mendampingi Sam Ratulangi ketika menghadapi tekanan politik hingga masa pengasingan di Serui, Papua. Setelah wafatnya Sam Ratulangi pada tahun 1949, Maria melanjutkan pengabdiannya melalui kegiatan sosial, organisasi perempuan, dan pelestarian warisan pemikiran suaminya hingga akhir hayatnya pada tahun 1983.

Tulisan ini menegaskan bahwa Maria Catharina Josephine Tambajong merupakan representasi perempuan Minahasa modern yang memadukan pendidikan, pengabdian keluarga, pelayanan sosial, dan semangat kebangsaan. Kehidupannya menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh yang tampil di ruang publik, tetapi juga oleh perempuan-perempuan yang bekerja melalui pendidikan, keluarga, dan pelayanan masyarakat. Oleh karena itu, penempatan Maria sebagai salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah Minahasa dan sejarah nasional merupakan bagian dari upaya memperkaya historiografi Indonesia dengan perspektif yang lebih inklusif dan berimbang.

  • Kata Kunci: Maria Catharina Josephine Tambajong, Sam Ratulangi, perempuan Minahasa, sejarah perempuan, pendidikan, Revolusi Kemerdekaan Indonesia, historiografi.

Catatan: Abstrak ini dapat disesuaikan kembali apabila buku telah selesai seluruhnya, sehingga isi abstrak benar-benar mencerminkan keseluruhan pembahasan dan temuan akhir.

BAGIAN I

MENGENAL PEREMPUAN MINAHASA

Maria Catharina Josephine Tambajong (1901–1983): Lebih dari Sekadar Istri Sam Ratulangi

Di antara tokoh-tokoh perempuan Minahasa yang memberikan kontribusi penting bagi perjalanan bangsa Indonesia, nama Maria Catharina Josephine Tambajong menempati posisi yang istimewa. Selama ini, ia lebih dikenal sebagai istri kedua Dr. G.S.S.J. Ratulangi (Sam Ratulangi), Pahlawan Nasional Indonesia dan Gubernur Sulawesi pertama. Namun, penyebutan tersebut sesungguhnya belum menggambarkan keseluruhan perjalanan hidup dan pengabdiannya.

Maria Catharina Josephine Tambajong bukan sekadar pendamping seorang tokoh besar. Ia adalah seorang guru berpendidikan Belanda, organisator sosial, pejuang kemanusiaan, pelopor pendidikan pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia, penulis otobiografi, serta salah satu perempuan Minahasa yang berhasil memadukan nilai-nilai pendidikan Barat dengan budaya Minahasa dan semangat nasionalisme Indonesia.

Sebagian besar kisah hidupnya diketahui melalui naskah otobiografi yang ditulisnya sendiri, Riwayat Hidup Ibu M.C.J. Ratulangie–Tambajong. Dokumen tersebut memiliki nilai historiografis yang tinggi karena merupakan sumber primer yang ditulis langsung oleh pelaku sejarah. Melalui otobiografi tersebut dapat dipahami bagaimana kehidupan keluarga elite Minahasa pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, perkembangan pendidikan perempuan pribumi, kehidupan sosial pada masa kolonial, pendudukan Jepang, Revolusi Kemerdekaan, hingga masa awal Republik Indonesia.

Perjalanan hidup Maria juga tidak dapat dipisahkan dari keluarganya. Ia dilahirkan dalam keluarga Tambajong, salah satu keluarga terpandang di Minahasa yang selama beberapa generasi melahirkan pejabat pemerintahan adat dan kolonial. Ayahnya, Jan Nicolaas Tambajong, merupakan Hukum Besar (Kepala Distrik) yang pernah memimpin sejumlah distrik penting di Minahasa serta menjadi anggota Minahasaraad. Ibunya, Fransina (Francina) Everdina Lefrandt, berasal dari keluarga Kristen terdidik yang turut membentuk tradisi pendidikan dan kehidupan rohani dalam keluarga.

Melalui kedua orang tuanya, Maria memperoleh warisan nilai yang kemudian membentuk seluruh perjalanan hidupnya, yaitu disiplin, pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, kesetiaan kepada keluarga, serta iman Kristen yang kuat. Nilai-nilai tersebut menjadikan dirinya mampu menjalani berbagai perubahan zaman, mulai dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, pengasingan politik di Serui, hingga masa pembangunan Indonesia setelah kemerdekaan.

Oleh karena itu, mengkaji kehidupan Maria Catharina Josephine Tambajong bukan hanya berarti menulis biografi seorang perempuan Minahasa, melainkan juga memahami peranan perempuan Indonesia dalam sejarah nasional dari perspektif keluarga, pendidikan, dan perjuangan kemerdekaan.

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN II

KELUARGA TAMBAJONG

SALAH SATU KELUARGA ELITE MINAHASA

Dalam sejarah Minahasa, keluarga Tambajong merupakan salah satu keluarga yang memiliki kedudukan penting dalam bidang pemerintahan, pendidikan, dan kehidupan sosial sejak pertengahan abad ke-19. Pengaruh keluarga ini berkembang melalui jabatan-jabatan pemerintahan tradisional yang kemudian berlanjut ke dalam sistem administrasi kolonial Hindia Belanda.

Menurut berbagai catatan sejarah Minahasa, leluhur keluarga Tambajong berasal dari wilayah Tombasian, Amurang. Sebelum terbentuknya pemerintahan kolonial Belanda, keluarga ini telah menjadi bagian dari kelompok pemimpin adat atau Kepala Balak yang memegang peranan dalam kehidupan masyarakat setempat.

Setelah Belanda membangun sistem pemerintahan modern di Minahasa, sejumlah anggota keluarga Tambajong diangkat menjadi Hukum Besar (Kepala Distrik), Majoor, maupun pejabat pemerintahan lainnya. Tradisi kepemimpinan tersebut berlangsung lintas generasi sehingga menjadikan keluarga Tambajong sebagai salah satu dinasti birokrasi pribumi yang paling berpengaruh di Minahasa.

Dalam otobiografinya, Maria Catharina Josephine Tambajong menjelaskan bahwa keluarganya berasal dari keturunan para Kepala Balak Tombasian (di Amurang). Setelah agama Kristen berkembang di Minahasa, leluhurnya menerima nama baptis Jurian Benjamin Tambajong. Keterangan ini memperlihatkan kesinambungan antara struktur kepemimpinan adat Minahasa dengan birokrasi kolonial yang kemudian berkembang pada abad ke-19.

Tradisi Pendidikan dan "Tambajong Sisters"

Selain menonjol dalam bidang pemerintahan, keluarga Tambajong juga dikenal sebagai keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Hampir seluruh anggota keluarganya memperoleh pendidikan formal pada sekolah-sekolah Belanda, sesuatu yang pada masa itu hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat bumiputra.

Tradisi pendidikan inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri utama keluarga Tambajong. Pendidikan dipandang bukan sekadar sarana memperoleh pekerjaan, tetapi sebagai jalan untuk meningkatkan martabat keluarga dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Nilai tersebut kemudian diwariskan secara konsisten kepada seluruh anak-anak Jan Nicolaas Tambajong, baik laki-laki maupun perempuan.

Keputusan untuk memberikan pendidikan tinggi kepada anak perempuan merupakan langkah yang sangat maju pada awal abad ke-20. Ketika sebagian besar perempuan pribumi masih dibatasi aksesnya terhadap pendidikan, keluarga Tambajong justru mengirim putri-putrinya belajar di sekolah-sekolah Belanda hingga ke Batavia. Kebijakan keluarga ini menunjukkan bahwa pendidikan perempuan telah menjadi bagian dari budaya keluarga jauh sebelum isu emansipasi berkembang luas di Indonesia.

Empat putri keluarga Tambajong kemudian dikenal dalam lingkungan keluarga sebagai "Tambajong Sisters" atau "The Four Swans of Amurang". Julukan tersebut tidak hanya mencerminkan kecantikan dan keanggunan mereka, tetapi juga tingkat pendidikan, kecakapan sosial, dan penghormatan masyarakat terhadap keluarga tersebut. Dari keluarga inilah lahir Maria Catharina Josephine Tambajong.

Kedudukan Keluarga Tambajong dalam Masyarakat Minahasa

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, masyarakat Minahasa mengalami perubahan besar akibat berkembangnya pendidikan Barat, penyebaran agama Kristen, dan pembentukan birokrasi kolonial. Dalam perubahan tersebut muncul kelompok elite pribumi yang memperoleh pendidikan Barat dan dipercaya menduduki jabatan pemerintahan. Keluarga Tambajong merupakan bagian dari kelompok elite tersebut.

Status sebagai keluarga elite bukan semata-mata didasarkan pada kedudukan sosial, tetapi juga pada kemampuan mereka menggabungkan kepemimpinan tradisional Minahasa dengan administrasi modern. Melalui jabatan pemerintahan yang diemban Jan Nicolaas Tambajong dan para leluhurnya, keluarga ini memiliki pengaruh yang luas dalam pemerintahan lokal.

Di sisi lain, perkawinan Jan Nicolaas Tambajong dengan Fransina Everdina Lefrandt memperkuat jaringan sosial keluarga melalui hubungan dengan keluarga Lefrandt, yang dikenal sebagai keluarga Kristen terdidik. Perpaduan kedua keluarga tersebut menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi perkembangan intelektual anak-anak mereka. Dalam lingkungan inilah Maria tumbuh dan dibesarkan.

 

 

BAGIAN III

JAN NICOLAAS TAMBAJONG

Hukum Besar Minahasa dan Arsitek Generasi Perempuan Terdidik

 


Jan  Nicolaas  Tambajong  dan  Isterinya : Fransina Everdina Lefrandt

Sumber  foto : https: //www.imexbo.site/lefrandt-f-e/




Sumber  foto : https://adrianuskojongian.blogspot.com/search?q=Tambajong

Jan Nicolaas Tambajong

  • Jabatan: Mantan Hukum Besar (Kepala Distrik/Walak) Amurang
  • Lahir: 8 Oktober 1867
  • Wafat: 30 November 1938

Fransina Everdina Lefrandt

  • Lahir: Di Manado, 29 April 18….
  • Wafat: Di Amurang, 17 Juni 1936

Catatan Pernikahan (RA1889):

Jan Nicolaas Tambajong X Fransisca Everdina Lefrandt

Menikah pada tanggal 2 September 1887 di Amurang

 

BIOGRAFI: JAN NICOLAAS TAMBAJONG  berdasarkan  Adrianus Kojongian :

1. Informasi Pribadi & Keluarga

  • Lahir: Amurang, 8 Oktober 1867
  • Wafat: Amurang, 30 November 1938
  • Silsilah: Cucu dari Jurian Benjamin Tambajong
  • Pernikahan: Menikah dengan Francina Everdina Lefrandt dan dikaruniai 11 orang anak.
  • Catatan Keluarga:
    • Semua putra-putrinya mengenyam pendidikan tinggi, bahkan hingga ke Pulau Jawa.
    • Empat putrinya dikenal luas sebagai Tambajong Sisters.
    • Salah satu putrinya, Maria Catharina Josephine Tambajong, diperistri oleh Pahlawan Nasional Dr. G.S.S.J. Ratulangi (Sam Ratulangi).

2. Karir Pemerintahan (Inlandsch Bestuur)

  • Hukum Kedua (Onderdistrictshoofd) Klas 1 Tombasian
    • Agustus 1900: Merangkap sebagai Anggota Landraad Manado untuk Afdeeling Amurang.
  • Kepulauan / Distrik Tompaso (berkedudukan di Motoling)
    • 21 September 1904: Dipromosikan menjadi Kepala Distrik dengan titel Hukum Besar, menggantikan Majoor J.W. Runtuwene.
  • Kepala Distrik Maumbi
    • 6 Juni 1907: Pindah dan menjabat sebagai Hukum Besar Kepala Distrik Maumbi.
  • Kepala Distrik Rumoong-Tombasian
    • 8 Oktober 1909 – 19 Juni 1914: Menjabat sebagai Kepala Distrik dengan titel Hukum Besar Klas 1.
  • Kepala Distrik Kakas-Remboken
    • 8 Oktober 1918 – 8 Agustus 1921: Jabatan terakhirnya sebagai Hukum Besar Kepala Distrik.

3. Karir Politik & Perwakilan Rakyat

  • Anggota Minahasaraad:
    • Periode 1919–1923: Mewakili kiesdistrict (distrik pemilihan) Kakas-Remboken.
    • Periode 1932–1934: Terpilih kembali sebagai anggota Minahasaraad.

 

 

 

Fondasi utama pembentukan karakter Maria tidak dapat dilepaskan dari sosok ayahnya, Jan Nicolaas Tambajong. Dalam sejarah Minahasa, ia dikenal bukan hanya sebagai seorang pejabat pemerintahan kolonial, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki pandangan jauh ke depan mengenai arti pendidikan, khususnya bagi anak perempuan.

Pada masa Hindia Belanda, jabatan Hukum Besar (Districtshoofd) merupakan salah satu kedudukan tertinggi yang dapat diduduki oleh seorang pribumi dalam struktur pemerintahan daerah. Hukum Besar berfungsi sebagai kepala distrik yang bertanggung jawab atas administrasi pemerintahan, pelaksanaan hukum adat, penarikan pajak, pemeliharaan keamanan, pembangunan infrastruktur lokal, serta menjadi penghubung antara pemerintah kolonial dengan masyarakat Minahasa.

Latar Belakang dan Rekam Karier

Jan Nicolaas Tambajong lahir di Amurang pada 8 Oktober 1867. Ia berasal dari keluarga yang selama beberapa generasi menjadi pemimpin masyarakat di wilayah Tombasian. Silsilahnya dapat ditelusuri kepada Jurian Benjamin Tambajong, seorang Majoor/Kepala Distrik Tombasian.

Karier Jan Nicolaas Tambajong berkembang secara bertahap melalui jenjang pemerintahan pribumi (Inlandsch Bestuur):

Tahun

Jabatan / Penempatan

Sebelum 1904

Hukum Kedua Tombasian

21 September 1904

Hukum Besar Distrik Tompaso

6 Juni 1907

Hukum Besar Distrik Maumbi

8 Oktober 1909

Hukum Besar Distrik Rumoong–Tombasian

8 Oktober 1918

Hukum Besar Distrik Kakas–Remboken

1919–1923

Anggota Minahasaraad (Periode Pertama)

1932–1934

Anggota Minahasaraad (Periode Kedua)

Penempatan di berbagai distrik tersebut menunjukkan kepercayaan besar pemerintah kolonial terhadap kemampuan birokrasi Jan Nicolaas. Selain itu, keikutsertaannya dalam Minahasaraad (dewan perwakilan daerah Minahasa) memperluas jaringan sosial keluarga dengan kalangan profesional, pendeta, dokter, dan intelektual pribumi lainnya.

Pandangan Progresif tentang Pendidikan

Warisan terbesar Jan Nicolaas Tambajong sesungguhnya adalah pandangannya mengenai pendidikan. Pada awal abad ke-20, ketika kesempatan perempuan pribumi untuk menempuh pendidikan menengah sangat terbatas, Jan Nicolaas mengambil keputusan progresif dengan menyekolahkan seluruh anak-anaknya—tanpa membedakan jenis kelamin—ke sekolah-sekolah Belanda hingga sekolah guru di Batavia.

 

 

BAGIAN IV

KIPRAH DALAM DUNIA PENDIDIKAN DAN PERTEMUAN DENGAN SAM RATULANGI

Pada awal abad ke-20, profesi guru merupakan salah satu bidang paling terhormat bagi perempuan pribumi terdidik. Bagi Maria, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pelayanan kepada masyarakat.

1. Karier Mengajar (1918–1928)

  • Manado (1918–1919): Maria mengajar di Hollandsch-Chineesche School (HCS) Manado, sebuah sekolah dengan bahasa pengantar Belanda untuk komunitas Tionghoa. Pengalaman ini membentuk kemampuannya beradaptasi dalam masyarakat multietnis.
  • Manado (Lanjutan): Dipindahkan ke Tweede Europeesche Lagere School (ELS) Manado sebagai bentuk pengakuan atas profesionalismenya.
  • Batavia (s.d. 1920): Maria dipindahkan ke Vierde Europeesche Lagere School di Batavia. Batavia sebagai pusat intelektual membawanya berinteraksi dengan lingkar mahasiswa, dokter, guru, dan aktivis pergerakan kebangsaan dari berbagai daerah.

2. Menikah dengan Sam Ratulangi

Pada dekade 1920-an, Dr. G.S.S.J. Sam Ratulangi telah dikenal luas sebagai intelektual Minahasa berpendidikan Eropa yang aktif dalam pergerakan politik dan organisasi kemasyarakatan. Setelah berpisah dari istri pertamanya (Emilie Suzanne Houtman), Ratulangi mencurahkan waktunya untuk perjuangan nasional.

Melalui jaringan masyarakat Minahasa dan kaum terpelajar di Batavia, Maria mengenal Sam Ratulangi. Hubungan mereka didasari oleh kesamaan nilai dalam memandang pendidikan, pengabdian sosial, dan kecintaan terhadap tanah air.

  • Pernikahan: Pada 2 Juni 1928, Maria Catharina Josephine Tambajong resmi menikah dengan Sam Ratulangi di Bogor.
  • Kehidupan Rumah Tangga: Kehidupan mereka jauh dari kemewahan dan kerap diwarnai kesulitan ekonomi serta tekanan politik kolonial.
  • Peran Ibu: Dari pernikahan ini lahir tiga putri: Milia Maria Matulanda (Milly), Everdina Augustina (Lani), dan Wulan Rugian Manampira (Uki). Maria juga mengasuh dua anak Sam Ratulangi dari pernikahan sebelumnya dengan penuh kasih sayang tanpa membeda-bedakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN   V

MENDAMPINGI SAM RATULANGI DALAM PERJUANGAN BANGSA (1928–1945)

1. Rumah sebagai Ruang Intelektual

Sebagai istri tokoh pergerakan, Maria menjadikan rumah tangga mereka sebagai ruang terbuka bagi para aktivis, guru, dan tokoh masyarakat untuk berdiskusi. Dalam perspektif sejarah sosial, dukungan domestik dan manajemen rumah tangga yang dijalankan Maria merupakan pilar penting yang memungkinkan Sam Ratulangi memfokuskan pikiran pada perjuangan politik.

2. Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)

Ketika Jepang menduduki Indonesia, sistem pemerintahan kolonial runtuh dan krisis ekonomi terjadi di mana-mana. Banyak sekolah ditutup dan kebutuhan pokok sulit didapat. Dalam masa kritis ini, keterampilan Maria dalam mengelola rumah tangga dan ketahanannya sebagai seorang ibu menjadi tumpuan utama keluarga di tengah tekanan kondisi perang.

BAGIAN VI: MASA REVOLUSI KEMERDEKAAN DAN PEMERINTAHAN DI SULAWESI

1. Proklamasi dan Tugas Baru di Sulawesi

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 membawa tanggung jawab baru. Pemerintah Republik Indonesia mengangkat Dr. G.S.S.J. Sam Ratulangi sebagai Gubernur Sulawesi Pertama.

Maria mendampingi suaminya berangkat ke Sulawesi di tengah situasi yang sangat rawan, di mana wilayah tersebut menjadi arena sengketa antara kekuasaan Republik Indonesia, pasukan Sekutu, dan pihak Belanda (NICA).

2. Peran Aktif Perempuan dalam Masa Revolusi

Di Makassar, Maria tidak membatasi diri pada fungsi formalitas. Ia menggalang potensi perempuan untuk membantu perjuangan kemerdekaan melalui:

  • Pengelolaan dapur umum dan bantuan pangan bagi rakyat serta pejuang;
  • Pelayanan kesehatan dan penanganan pengungsi korban konflik;
  • Pendirian Sekolah Menengah Nasional dan Perguruan Nasional di Sulawesi agar anak-anak tetap memperoleh pendidikan berwawasan kebangsaan di tengah krisis perang.

 

 

BAGIAN VII

PENANGKAPAN, PENGASINGAN DI SERUI, DAN AKHIR HAYAT (1946–1983)

1. Penangkapan oleh NICA dan Pengasingan ke Serui

Pada April 1946, situasi politik di Sulawesi Selatan memuncak. Pihak NICA/Belanda menangkap Gubernur Sam Ratulangi beserta jajaran utamanya. Maria dan anak-anaknya turut serta dalam penahanan politik tersebut.

Pemerintah kolonial kemudian mengasingkan Sam Ratulangi dan keluarganya ke lokasi yang terisolasi di Serui, Pulau Yapen, Papua (1946–1948).

2. Kiprah Perjuangan di Serui

Masa pengasingan tidak menghentikan langkah Maria. Di tempat terpencil tersebut, ia tetap melakukan aksi nyata:

  • Mendirikan Organisasi "Ibunda Irian": Bersama perempuan setempat, Maria menggalang kegiatan pendidikan, kesehatan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat Papua.
  • Peringatan Hari Kartini Pertama di Serui: Maria menginisiasi dan memimpin peringatan Hari Kartini pertama di tanah Papua, sebuah momentum penting dalam menanamkan semangat emansipasi dan rasa persatuan kebangsaan Indonesia di wilayah timur.

3. Pasca-Kemerdekaan hingga Akhir Hayat (1949–1983)

Setelah masa pengasingan berakhir, Sam Ratulangi wafat di Jakarta pada 30 Juni 1949. Sepeninggal suaminya, Maria melanjutkan pengabdiannya secara mandiri:

  1. Aktif dalam pelbagai organisasi sosial dan kewanitaan di tingkat nasional.
  2. Menulis naskah otobiografi Riwayat Hidup Ibu M.C.J. Ratulangie–Tambajong, sebuah dokumen primer berharga bagi penulisan sejarah perempuan Indonesia.
  3. Merawat, mendokumentasikan, dan melestarikan warisan pemikiran serta rekam jejak perjuangan Dr. G.S.S.J. Sam Ratulangi hingga akhir hayatnya pada tahun 1983.

 

Hukum Besar J.L.Tambajong, (30 Juni 1923-28 Desember 1929).

 

Deskripsi  foto  :

Foto ini menampilkan jajaran pejabat administratif kolonial dan pribumi yang bertugas di wilayah tersebut:

  • W.E.C. Veen: Duduk dengan posisi paling kiri, beliau merupakan seorang aspirant-controleur (calon pengawas) dari kalangan Eropa yang sedang menjalani masa tugasnya.
  • Tambajong: Duduk di samping Veen, sosok pamong praja berpengaruh yang menjabat sebagai Hofd van het Distrik (Kepala Distrik/Hukum Major).
  • Momuat: Berdiri di posisi paling kiri, menjabat sebagai schrijver (penulis/panitera) yang juga menjalankan peran sebagai djaksa.
  • Wakkay: Berdiri di tengah, bertugas sebagai tweede schrijver (penulis kedua).
  • Dengah: Berdiri mendampingi, seorang leerling-schrijver (penulis magang/siswa) yang sedang menimba ilmu dalam birokrasi pemerintahan.

Makna dan Nilai Sejarah

Foto karya Tjiong Waij Sang ini bukan sekadar rekaman gambar biasa, melainkan potret interaksi struktur pemerintahan di era Hindia Belanda. Di dalamnya terpancar kolaborasi antara Administrator Kolonial (Eropa) dan Administrator Pribumi (Minahasa) dalam menjalankan roda birokrasi lokal pada awal abad ke-20.

Sumber : https://commons.wikimedia.org/wiki/File:W.E.C._Veen_(zittend_1e_v.l.),_aspirantcontroleur,_met_districtshoofd_Tambajong_(zittend),_schrijvers_en_de_djaksa_(staand_1e_v.r.)_te_Amoerang_ten_zuidwesten_van_Manado,_KITLV_179515.tiff

Sumber foto  : https://adrianuskojongian.blogspot.com/search?q=Tambajong

 

KESIMPULAN

Perjalanan hidup Maria Catharina Josephine Tambajong membuktikan bahwa ia bukan sekadar figur pendamping di balik nama besar Dr. G.S.S.J. Sam Ratulangi. Berakar dari tradisi keluarga elite Minahasa yang menghargai pendidikan, Maria tumbuh menjadi seorang guru profesional, penggerak sosial, pelopor pendidikan pada masa perang, dan pejuang kemanusiaan di tempat pengasingan.

Kehidupannya memberikan gambaran utuh bahwa sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dibangun tidak hanya melalui forum-forum politik dan medan pertempuran, melainkan juga melalui ruang-ruang pendidikan, ketahanan keluarga, dan pelayanan masyarakat yang digerakkan oleh kaum perempuan.

SUMBER REFERENSI

  1. Ratulangie-Tambajong, Maria Catharina Josephine. Riwayat Hidup Ibu M.C.J. Ratulangie–Tambajong (Naskah Otobiografi).
  2. Ratulangi, Lani. "Maria Catharina Josephina Ratulangie Tambajong." Dokumen keluarga via laniratulangi.com.
  3. Kojongian, Adrianus. Tentang Kepala Minahasa (S–W).
  4. Kojongian, Adrianus. Para Kepala Amurang.

 

 

 


Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Connie Constantia