FRANS DAROMES SENIMAN ASAL SANGIHE

 

DIASPORA  SANGIHE

FRANS  DAROMES

PELOPOR REKAMAN LAGU-LAGU DAERAH MINAHASA

Pionir Kebudayaan Daerah (Kategori Musik Tradisional): Frans Daromes diakui secara historis sebagai salah satu musisi nasional pertama yang berhasil mengangkat, merekam, dan mengomersialkan musik tradisional Kolintang Minahasa ke dalam industri piringan hitam nasional (1971).

 Oleh  :  Alffian  Walukow



Frans Daromes (yang dalam beberapa arsip media lama kerap ditulis Frans Daromez) lahir pada tanggal 26 Oktober 1944 di Desa/Kelurahan Kolongan, Kecamatan Tahuna—sebuah wilayah yang menjadi pusat urat nadi dari Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Sebagai putra asli Sangir (Suku Sangihe), latar belakang kultural ini kelak membentuk ikatan emosional dan identitas musikal yang sangat kuat sepanjang kariernya di panggung nasional.

Sebelum melangkah jauh ke ibu kota dan dikenal luas sebagai penyanyi legendaris, bakat visual dan pesona Frans Daromes lebih dulu terasah di tanah daerahnya, Sulawesi Utara. Pada pertengahan era 1960-an, Frans memulai langkah pertamanya di dunia hiburan di Kota Manado bukan sebagai seorang penyanyi, melainkan sebagai seorang model.

Dengan postur tubuh yang proporsional tinggi  178 cm dan modal visual rupawan khas pemuda Sangir, Frans aktif dalam berbagai peragaan busana lokal, kontes bakat, serta sesi pemotretan di Manado. Pengalaman di dunia modeling inilah yang membentuk rasa percaya diri, pembawaan yang karismatik, serta kepekaan estetika panggung (stage presence) yang kuat pada dirinya. Karier modeling di Manado ini menjadi batu loncatan yang sangat krusial bagi Frans untuk mengumpulkan keberanian merantau ke Jakarta demi mengejar impian yang lebih besar.

Puncak Popularitas dan Era Keemasan di Ibu Kota (1968–1970-an)

Pintu gerbang karier profesional Frans di industri hiburan tanah air terbuka lebar setelah ia bermigrasi ke Jakarta dan berhasil memenangkan ajang kontes menyanyi bergengsi, Pop Songtress Contest pada tahun 1968. Kemenangan ini seketika melambungkan namanya ke permukaan industri hiburan nasional, bahkan wajahnya langsung menghiasi sampul depan berbagai majalah bergengsi saat itu. Frans dikenal luas oleh masyarakat melalui karakter vokalnya yang kuat, berat, namun lembut, serta kesuksesannya dalam membawakan musik pop romantis, duet ikonik, hingga lagu-lagu bernuansa daerah.

Selama era keemasannya di era 1970-an, rekam jejak dan kontribusi musik Frans Daromes mencakup beberapa poin historis penting di bawah label rekaman raksasa seperti Musica Studios:

  • Duet Ikonik Bersama Vivi Sumanti: Hubungan kemitraan estetikanya dengan penyanyi wanita papan atas era tersebut, Vivi Sumanti, menjadi salah satu duet paling ikonik dalam sejarah pop Indonesia. Keduanya menghasilkan banyak lagu hit romantic pop bertempo lambat yang sangat digemari. Beberapa judul lagu populer mereka antara lain "Sama-Sama Sajang", "Dendang Sajang", "Semoga Bahagia", dan "Kekasih".
  • Kolaborasi Bersama Ida Royani dan Hubungannya dengan Benyamin Sueb: Hubungan Frans Daromes dengan maestro Betawi Benyamin Sueb dalam sejarah musik Indonesia terikat melalui satu benang merah, yaitu penyanyi wanita legendaris, Ida Royani. Pada periode tahun 1971–1972, kemitraan duet emas antara Benyamin Sueb dan Ida Royani sempat terputus sementara waktu. Untuk mengisi kekosongan tersebut, Ida Royani memilih Frans Daromes sebagai pasangan duet barunya. Hubungan kolaborasi ini memicu pergeseran genre yang unik; jika bersama Benyamin ia lekat dengan pop komedi Betawi, bersama Frans Daromes mereka justru melahirkan album bergenre pop/country yang bernuansa ceria, lincah, dan penuh banyolan segar, seperti album Chi Bhi Dhi dan Berantem (1971–1972). Frans terbukti mampu mengimbangi gaya centil Ida Royani di luar bayang-bayang Benyamin Sueb.
  • Pelopor Rekaman Lagu Daerah Minahasa: Pada tahun 1971, identitas Frans sebagai putra daerah Sulawesi Utara diwujudkan secara nyata di studio rekaman. Frans bersama Vivi Sumanti mengukir sejarah sebagai salah satu pionir yang merekam musik daerah Minahasa/Sulawesi Utara ke dalam bentuk piringan hitam komersial skala nasional. Berkat proyek ini, lagu-lagu tradisional seperti "Oh Ina Ni Keke" dikemas secara modern dan menjadi sangat populer di seluruh pelosok negeri. Kefasihan dan penjiwaan Frans dalam membawakan lirik-lirik lokal ini membuktikan kedekatan kultural yang tidak pernah putus dengan tanah kelahirannya.
  • Tur Antardaerah yang Masif: Popularitasnya yang berada di puncak membawa Frans melakukan berbagai tur panggung besar ke berbagai pelosok Indonesia, termasuk melakukan pertunjukan kolosal bersama diva legendaris Indonesia, Emilia Contessa.

Maestro Pengiring di Balik Layar dan Panggung Pentas

Setiap kali membawakan karya-karyanya, baik dalam proses rekaman di dalam studio maupun setiap kali berpentas di atas panggung pertunjukan, Frans Daromes selalu didukung oleh kelompok musik papan atas yang disesuaikan dengan genre lagunya:

  1. Band Eka Sapta: Band pengiring paling legendaris era 60/70-an (yang dihuni musisi maestro seperti Bing Slamet, Idris Sardi, Enteng Tanamal, Jopo Item, dan Eddy Tulis) mengiringi Frans Daromes dalam lagu-lagu pop romantis, termasuk pada album duet mautnya bersama Vivi Sumanti yang meledak di pasaran, seperti album Pilih-Pilih (1971) dan Dendang Sajang (1971).
  2. Orkes Kolintang Kadoodan: Dipimpin oleh Alfred Sundah, orkes kolintang komersial pertama ini secara khusus mengiringi Frans Daromes dan Vivi Sumanti dalam proyek legendaris pelestarian sekaligus modernisasi lagu-lagu daerah Sulawesi Utara.
  3. Musisi Studio Rekaman: Para musisi kawakan bentukan label mengiringi aransemen musik pop/country yang dinamis dan lincah saat Frans berkolaborasi dengan Ida Royani.

Saking kuatnya nilai historis karya-karyanya, salah satu album terkenalnya, Pilih-Pilih, telah dirilis ulang dalam versi digital (2021 Remastered) dan dapat diakses oleh generasi lintas zaman melalui platform global Spotify.

Perjalanan Spiritual dan Dedikasi Musik Rohani

Memasuki akhir era 1970-an, perjalanan hidup Frans Daromes mengalami titik balik dan transformasi spiritual yang sangat drastis. Setelah sempat berjuang melewati masa-masa kelam ketergantungan narkotika, Frans berhasil sembuh dan bebas total.

Sejak tahun 1978, ia memutuskan untuk mengubah arah hidupnya secara radikal. Frans meninggalkan gemerlap dunia panggung hiburan sekuler dan mendedikasikan sisa hidupnya secara penuh sebagai seorang Pengabar Injil (Penginjil/Misionaris Kristen). Catatan sejarah ini sekaligus mengklarifikasi bahwa ia tidak pernah masuk Islam.

Fase transformasi spiritual ini turut mengubah haluan bermusiknya secara total. Ia mengalihkan seluruh talenta suara emasnya khusus untuk melayani melalui musik gospel dan lagu-lagu rohani Kristen. Dedikasi iman ini diabadikan dalam bentuk karya rekaman album rohani yang legendaris, di antaranya album Marilah Memuji Tuhan (1977) dan Hanya Ada Satu (1978).

Akhir Perjalanan dan Istirahat Panjang Sang Legenda

Perjalanan hidup Frans Daromes harus berakhir di usia yang masih sangat muda, yaitu 38 tahun. Frans mulai jatuh sakit hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya akibat komplikasi dari penyakit darah tinggi (hipertensi) dan radang otak. Berdasarkan catatan arsip resmi dari Majalah Tempo, jenazah sang penyanyi legendaris asal Sangihe ini kemudian dipulangkan ke haribaan tanah dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta.

Penghargaan dan Penghormatan Historis atas Kontribusi Frans Daromes

Sebagai bentuk apresiasi tertinggi terhadap warisan karya dan pengaruhnya di belantika musik Indonesia, Frans Daromes mendapatkan pengakuan serta penghormatan atas beberapa pencapaian bersejarah berikut:

  • Penghargaan Pionir Kebudayaan Daerah (Kategori Musik Tradisional): Frans Daromes diakui secara historis sebagai salah satu musisi nasional pertama yang berhasil mengangkat, merekam, dan mengomersialkan musik tradisional Kolintang Minahasa ke dalam industri piringan hitam nasional (1971). Langkah berani ini membuka jalan bagi musik daerah Sulawesi Utara untuk dikenal dan dihargai secara luas di tingkat nasional hingga mancanegara.
  • Penghargaan Ikon Duet Romantis Legendaris Era 70-an: Pengakuan atas kontribusi emasnya bersama Vivi Sumanti sebagai salah satu mitra duet pop romantis paling berpengaruh di Indonesia, yang karya-karyanya menjadi standar baku musik pop romantis pada masanya.
  • Apresiasi Duta Budaya Antarpulau: Penghormatan atas dedikasinya yang secara konsisten menyuarakan dan membawa identitas tanah leluhurnya (Sangihe/Sulawesi Utara) mulai dari panggung kecil di Manado, melangkah ke panggung megah ibu kota, hingga ke berbagai tur antardaerah di Indonesia.
  • Penghargaan Keabadian Karya (Digital Remastering Recognition): Penghormatan berupa preservasi karya di mana album-album fisik piringan hitam legandarisnya (seperti album Pilih-Pilih) dipilih oleh industri musik modern untuk diproduksi ulang secara digital (Remastered) agar tetap dapat diakses, didengarkan, dan dilestarikan oleh generasi milenial dan Gen-Z di seluruh dunia.

 

Postingan populer dari blog ini

DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.

Connie Constantia

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja