GUSTAF ADOLF MALONDA (1923–1982)
GUSTAF ADOLF MALONDA (1923–1982)
Pelukis Minahasa yang Terlupakan dalam Sejarah Seni Rupa Sulawesi Utara
Ada nama-nama seniman yang masuk dalam buku sejarah, tercatat dalam katalog pameran, diberitakan media, dan karyanya tersimpan di museum. Namun, ada pula seniman yang berkarya dalam diam. Karyanya tersimpan di rumah keluarga, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan namanya lebih banyak hidup dalam ingatan keluarga daripada dalam buku-buku sejarah seni.
Salah satu sosok tersebut adalah Gustaf Adolf Malonda (1923–1982), seorang putra Minahasa yang dikenal sebagai pelukis, juru gambar (draftsman), dan tenaga teknis yang berkaitan dengan pekerjaan perencanaan dan pembangunan.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, sejumlah lukisannya masih menjadi bagian dari warisan keluarga. Beberapa di antaranya pernah disimpan di rumah tua keluarga di Liningaan, Tondano. Salah satu karya bahkan kembali didokumentasikan oleh cucunya dan dibagikan melalui media sosial.
Kisah Gustaf Adolf Malonda dengan demikian bukan hanya kisah tentang seorang pelukis. Ini adalah kisah tentang seni, pekerjaan, keluarga, ingatan, dan warisan budaya Minahasa.
Dari Dunia Gambar Teknik ke Dunia Seni Lukis
Gustaf Adolf Malonda hidup pada masa ketika pekerjaan menggambar masih sangat mengandalkan keterampilan tangan. Sebelum hadirnya perangkat komputer dan teknologi desain digital seperti sekarang, seorang draftsman harus menguasai garis, ukuran, proporsi, perspektif, serta ketelitian yang tinggi.
Gustaf memiliki kemampuan tersebut.
Pada era 1970-an, ia bekerja sebagai juru gambar (draftsman) pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa. Pekerjaan tersebut menempatkannya dalam dunia gambar teknik dan perencanaan pembangunan.
Salah satu jejak profesional yang dikaitkan dengan dirinya adalah keterlibatannya sekitar Agustus 1974 dalam City Planning Rehabilitasi Jantung Kota Amurang Tahap I, termasuk pekerjaan yang berkaitan dengan rencana pembangunan Shopping Centre dan Sub-Terminal.
Catatan mengenai keterlibatan Gustaf dalam proyek tersebut masih perlu dilengkapi dengan dokumen-dokumen lama seperti blueprint, arsip Dinas Pekerjaan Umum, dokumen Pemerintah Kabupaten Minahasa, atau arsip perencanaan Kota Amurang. Namun, informasi tersebut menjadi bagian penting dari cerita mengenai perjalanan hidupnya sebagai seorang pekerja teknik sekaligus seniman.
Menariknya, dunia drafting dan dunia seni lukis sebenarnya memiliki banyak persinggungan.
Seorang draftsman bekerja dengan garis dan ruang. Seorang pelukis juga bekerja dengan garis dan ruang, tetapi ditambah dengan warna, cahaya, suasana, tekstur, dan ekspresi.
Di tangan Gustaf, kemampuan teknis tersebut kemudian bertemu dengan kepekaan artistik.
Ia tidak hanya menggambar untuk kebutuhan pekerjaan. Ia juga menggambar dan melukis untuk mengabadikan apa yang dilihat, dirasakan, dan mungkin dialaminya.
Lukisan yang Tetap Tinggal di Rumah Keluarga
Berbeda dengan seniman yang karya-karyanya sejak awal dipamerkan di galeri, karya Gustaf lebih banyak bertahan di lingkungan keluarga.
Beberapa lukisannya pernah disimpan di Liningaan, Tondano, dan menjadi bagian dari benda-benda peninggalan keluarga.
Salah satu bukti paling menarik datang dari sebuah unggahan Facebook dengan nama “Cynthia Wuisang”.
Dalam unggahan tersebut terdapat keterangan:
“Lukisan terakhir yang saya dokumentasikan dari rmh tua di Liningaan, Tondano, karya Opa Gustaf Adolf Malonda (1923–1982).”
Unggahan itu menjelaskan bahwa lukisan tersebut merupakan lukisan cat minyak yang bertema dermaga dan kapal laut, dengan suasana gelap, malam, atau menjelang pagi.
Pada bagian lain, pemilik akun bertanya-tanya apakah tema tersebut mungkin berkaitan dengan pengalaman sang kakek ketika berlayar. Pertanyaan tersebut tentu lebih tepat dipandang sebagai kenangan atau dugaan keluarga, bukan sebagai fakta yang sudah dapat dipastikan.
Yang lebih penting adalah keterangan bahwa lukisan tersebut dibuat ketika Gustaf masih hidup dan kini telah menjadi warisan atau heirloom keluarga besar Malonda–Pelealu.
Dokumentasi tersebut memberikan gambaran bahwa karya Gustaf tidak sekadar dianggap sebagai benda lama. Ia masih dipandang sebagai bagian dari sejarah keluarga.
Cucunya: Dr. Cynthia Erlita Virgin Wuisang
Dalam keterangan keluarga yang menjadi dasar penelusuran ini, Gustaf Adolf Malonda adalah kakek dari Dr. Cynthia Erlita Virgin Wuisang, S.T., M.Urb.Hab.Mgt., Ph.D.
Cynthia juga menggunakan nama Cynthia Wuisang pada akun Facebook tempat ia mendokumentasikan lukisan kakeknya.
Hal ini menjadi penting karena memberikan hubungan langsung antara karya yang masih tersimpan dan generasi keturunan Gustaf yang mengenal dan mengingatnya sebagai “Opa Gustaf”.
Jadi, dokumentasi lukisan tersebut bukan sekadar foto sebuah lukisan lama. Di balik foto itu terdapat cerita keluarga: seorang cucu mendokumentasikan kembali karya kakeknya yang masih tersimpan di rumah tua keluarga di Liningaan, Tondano.
Siapa Dr. Cynthia Erlita Virgin Wuisang?
Dr. Cynthia Erlita Virgin Wuisang, S.T., M.Urb.Hab.Mgt., Ph.D. adalah seorang akademisi, arsitek, dan peneliti senior dari Manado, Sulawesi Utara.
Ia dikenal sebagai akademisi di bidang arsitektur dan lingkungan binaan serta memiliki perhatian besar terhadap arsitektur lanskap, lanskap kebudayaan, sejarah kota, pusaka kota, lingkungan, dan kebudayaan Minahasa.
Beliau merupakan lulusan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi untuk pendidikan sarjana.
Pada jenjang berikutnya ia menempuh pendidikan Master of Urban Habitat Management (M.Urb.Hab.Mgt.).
Kemudian ia memperoleh gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang Architecture dari The University of Adelaide, Australia Selatan, pada tahun 2014.
Tesis doktornya berhubungan erat dengan kebudayaan Minahasa, yaitu mengenai genius loci dan lanskap budaya masyarakat etnis Minahasa di Sulawesi Utara. University of Adelaide – Cynthia Erlita Virgin Wuisang
Profil akademik yang tersedia secara publik juga mencatat perjalanan panjangnya sebagai akademisi Universitas Sam Ratulangi.
Ia telah mengajar sejak tahun 2002, termasuk pada bidang Arsitektur dan Perencanaan Wilayah dan Kota serta Program Magister Arsitektur.
Di lingkungan Universitas Sam Ratulangi, beliau tercatat sebagai dosen senior dan akademisi bidang arsitektur serta pernah/menjabat dalam posisi kepemimpinan akademik, termasuk sebagai Koordinator/Kepala Program Studi Magister Arsitektur.
Universitas Sam Ratulangi juga mencatat nama Cynthia Erlita Virgin Wuisang, S.T., M.Urb.Hab.Mgt., Ph.D. dalam lingkungan Fakultas Teknik. Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi – Laboratorium Arsitektur
Karier dan Organisasi
Perjalanan akademik Cynthia tidak berhenti di ruang kuliah.
Ia pernah dipercaya menjadi Ketua/Presiden Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) periode 2017–2020.
Ia juga terlibat dalam Asian Cultural Landscape Association (ACLA).
Dalam dunia publikasi ilmiah, namanya juga berkaitan dengan Media Matrasain Journal, jurnal yang membahas berbagai persoalan arsitektur, lingkungan binaan, dan perencanaan kota. Ia tercatat sebagai Editor in Chief/Chief Editor jurnal tersebut. Media Matrasain – Editorial Team UNSRAT
Karya-karya penelitiannya antara lain membahas:
lanskap budaya Minahasa;
arsitektur vernakular;
pusaka kota;
konservasi;
lanskap perkotaan;
koridor hijau;
biodiversitas perkotaan;
perencanaan kawasan;
lingkungan binaan;
serta hubungan antara masyarakat, budaya, arsitektur, dan ruang hidup.
Salah satu penelitiannya secara khusus membahas lanskap vernakular etnis Minahasa di wilayah perdesaan pesisir Kecamatan Kema, Sulawesi Utara. Media Matrasain – Pelestarian Lansekap Budaya Minahasa
Penelitian lain membahas konservasi biodiversitas dan evaluasi lanskap koridor hijau di Kota Manado. Media Matrasain – Konservasi Biodiversitas di Kota Manado
Ia juga menulis mengenai teori dan metode perancangan arsitektur. Media Matrasain – Kajian Arsitektur
Sebuah Kesinambungan yang Menarik
Di sinilah cerita Gustaf Adolf Malonda menjadi semakin menarik.
Sang kakek adalah seorang yang hidup dalam dunia gambar, ruang, tata kota, dan seni lukis.
Sementara generasi cucunya, Dr. Cynthia Erlita Virgin Wuisang, menjalani kehidupan akademik yang juga sangat dekat dengan arsitektur, ruang, lanskap, kota, lingkungan, dan kebudayaan Minahasa.
Tentu saja, hal tersebut tidak harus diartikan bahwa kemampuan atau profesi Gustaf secara otomatis diwariskan kepada cucunya.
Tetapi dalam sebuah keluarga, warisan tidak selalu berbentuk benda.
Warisan dapat berupa cerita, ingatan, kebiasaan, cara memandang lingkungan, kecintaan terhadap budaya, dan penghargaan terhadap karya orang tua atau kakek-nenek.
Dalam konteks keluarga Malonda, sebuah lukisan yang ditemukan kembali di rumah tua Liningaan menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Tiga Lukisan Gustaf Adolf Malonda yang Berhasil Didokumentasikan
Dalam penelusuran keluarga, terdapat tiga lukisan Gustaf Adolf Malonda yang sempat disimpan keluarga di Tondano.
1. Dua Anak Kucing di Atas Meja
Lukisan pertama menampilkan dua ekor anak kucing di atas meja.
Seekor berwarna gelap/hitam berada di sisi kiri dan seekor lainnya berwarna putih berada di bagian tengah. Di antara keduanya terdapat sebuah benda berbentuk bulat. Pada bagian kanan terlihat sebuah keranjang berisi buah-buahan, sedangkan latar belakang dipenuhi tumbuhan.
Kontras antara warna hitam dan putih menjadi salah satu kekuatan visual lukisan ini.
Meja kayu, keranjang buah, dedaunan, dan kedua kucing membentuk sebuah komposisi yang terasa akrab dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Judul “Dua Anak Kucing di Atas Meja” merupakan judul deskriptif yang digunakan untuk memudahkan identifikasi karena judul asli karya belum diketahui.
2. Buku, Botol Kaca, dan Rangkaian Bunga
Lukisan kedua berupa komposisi still life.
Di dalamnya terdapat buku-buku, termasuk sebuah buku yang terbuka, kemudian sebuah wadah atau botol kaca di bagian tengah, serta rangkaian bunga dan dedaunan pada bagian kanan.
Latar belakang yang gelap membuat benda-benda utama tampil lebih kuat.
Karya ini memperlihatkan ketertarikan terhadap benda sehari-hari, bentuk, cahaya, warna, tekstur, dan komposisi.
Seperti karya pertama, judul “Buku, Botol Kaca, dan Rangkaian Bunga” merupakan judul identifikasi sementara, karena belum ditemukan informasi mengenai judul asli yang diberikan Gustaf.
3. Dermaga dan Kapal Laut
Karya ketiga adalah lukisan yang memiliki dokumentasi keluarga paling kuat.
Lukisan ini menggunakan cat minyak dan menggambarkan dermaga dengan kapal-kapal laut.
Suasananya gelap dan dramatis. Warna langit di bagian belakang memperlihatkan nuansa jingga, kemerahan, ungu, dan gelap. Kapal-kapal terlihat seperti siluet di antara cahaya dan bayangan.
Di bagian depan terdapat dermaga dan permukaan air, sementara di kejauhan terlihat bentuk kapal serta cahaya di cakrawala.
Karya ini memberikan suasana seperti malam atau menjelang pagi.
Dalam unggahan Facebook “Cynthia Wuisang”, muncul pertanyaan apakah tema dermaga dan kapal tersebut mungkin merupakan gambaran dari pengalaman Gustaf ketika berlayar.
Kita belum dapat memastikan hal tersebut.
Namun, justru pertanyaan itu menunjukkan bahwa karya tersebut masih memiliki hubungan emosional dengan ingatan keluarga terhadap sang kakek.
Yang telah dinyatakan dalam unggahan tersebut adalah bahwa karya itu merupakan lukisan Gustaf Adolf Malonda (1923–1982), didokumentasikan dari rumah tua di Liningaan, Tondano, dan telah menjadi warisan/heirloom keluarga besar Malonda–Pelealu.
Mengapa Gustaf Disebut Pelukis yang Terlupakan?
Ketika disebut sebagai “Pelukis Minahasa yang Terlupakan”, maksudnya bukan bahwa keluarga telah melupakan Gustaf.
Justru sebaliknya.
Keluarga masih menyimpan karya-karyanya.
Keluarga masih mengingatnya sebagai Opa Gustaf.
Dan cucunya bahkan kembali mendokumentasikan karya tersebut setelah sekian lama tersimpan di rumah tua keluarga.
Yang dimaksud “terlupakan” adalah belum hadirnya nama Gustaf secara kuat dalam sejarah seni rupa Sulawesi Utara yang terdokumentasi secara luas.
Belum banyak ditemukan katalog pameran, buku seni rupa, arsip galeri, atau tulisan khusus mengenai dirinya sebagai pelukis.
Padahal, karya-karya yang masih tersisa menunjukkan bahwa ia memiliki perjalanan artistik yang layak dikenang.
Warisan yang Hampir Hilang
Ada sesuatu yang sangat menyentuh dari kisah Gustaf Adolf Malonda.
Lukisan-lukisan tersebut tidak berada di museum.
Tidak berada di galeri besar.
Tidak terpajang dalam ruang pamer resmi.
Karya-karya itu justru bertahan di rumah tua keluarga di Liningaan, Tondano.
Di sanalah karya-karya tersebut melewati waktu.
Dari tangan sang pelukis kepada keluarga, kemudian kepada anak-anak dan cucu-cucunya.
Sampai akhirnya salah satu cucunya, melalui akun Facebook Cynthia Wuisang, kembali mengabadikan karya tersebut dalam bentuk digital.
Dengan demikian, sebuah karya yang sebelumnya hanya dapat dilihat oleh anggota keluarga kini memiliki kesempatan untuk dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Gustaf Adolf Malonda dan Keluarga Besar Malonda–Pelealu
Keterangan mengenai keluarga besar Malonda–Pelealu juga menjadi bagian penting dalam cerita ini.
Lukisan tidak hanya dianggap sebagai karya seni milik pribadi, tetapi telah menjadi heirloom, sebuah benda warisan keluarga yang memiliki nilai emosional dan sejarah.
Nilainya tidak hanya terletak pada cat minyak, kanvas, warna, atau bingkai.
Nilainya juga terletak pada cerita:
Siapa yang melukisnya?
Kapan dibuat?
Di mana dibuat?
Apa yang dilihat oleh sang pelukis?
Mengapa karya tersebut disimpan?
Bagaimana karya itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat lukisan Gustaf menjadi bagian dari sejarah keluarga sekaligus sejarah budaya visual Minahasa.
Dari Kakek kepada Cucu
Hubungan antara Gustaf dan Dr. Cynthia Erlita Virgin Wuisang membuat cerita ini semakin menarik.
Gustaf dikenal melalui gambar teknik dan seni lukis.
Cynthia kemudian berkembang sebagai arsitek, akademisi, peneliti lanskap, dan pemerhati kebudayaan Minahasa.
Gustaf menggambar ruang melalui garis dan warna.
Cynthia mempelajari ruang melalui arsitektur, lanskap, kota, budaya, dan lingkungan.
Gustaf meninggalkan lukisan.
Cynthia kemudian ikut menjaga ingatan terhadap lukisan tersebut.
Di sinilah warisan antargenerasi terlihat bukan hanya sebagai hubungan darah, tetapi juga sebagai hubungan antara memori, ruang, seni, dan budaya.
Mengembalikan Nama Gustaf ke Ingatan Publik
Mungkin sudah waktunya nama Gustaf Adolf Malonda kembali disebut ketika kita berbicara mengenai sejarah seni rupa Sulawesi Utara.
Bukan untuk membandingkannya dengan seniman lain.
Bukan pula untuk memberikan penghargaan yang belum pernah ia terima.
Tetapi untuk mengakui bahwa di Minahasa pernah hidup seorang lelaki yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menggambar, memahami ruang, bekerja sebagai draftsman, terlibat dalam pekerjaan pembangunan, dan menciptakan karya seni lukis.
Tiga lukisan yang masih dapat dilacak menjadi awal untuk mengenalnya kembali.
Satu di antaranya telah memiliki cerita yang sangat kuat: lukisan cat minyak tentang dermaga dan kapal laut, ditemukan dari rumah tua di Liningaan, Tondano, didokumentasikan oleh cucunya, dan kini menjadi bagian dari warisan keluarga besar Malonda–Pelealu.
Penutup
Gustaf Adolf Malonda (1923–1982) adalah bagian dari sejarah visual Minahasa yang selama ini belum banyak diceritakan.
Ia adalah seorang pelukis sekaligus draftsman yang pernah bekerja dalam lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa. Pada dekade 1970-an, ia dikaitkan dengan pekerjaan City Planning Rehabilitasi Jantung Kota Amurang Tahap I, termasuk rencana Shopping Centre dan Sub-Terminal.
Di luar pekerjaannya, ia menghasilkan lukisan yang hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan keluarganya.
Tiga karya yang telah didokumentasikan memperlihatkan beragam perhatian artistik: kehidupan sehari-hari melalui anak kucing, benda-benda melalui still life, serta suasana laut dan dermaga melalui lanskap maritim.
Dan kini kita mengetahui bahwa salah satu cucunya adalah Dr. Cynthia Erlita Virgin Wuisang, S.T., M.Urb.Hab.Mgt., Ph.D., akademisi dan arsitek dari Sulawesi Utara yang memiliki perhatian luas terhadap arsitektur, lanskap budaya, lingkungan binaan, dan kebudayaan Minahasa.
Melalui akun Facebook “Cynthia Wuisang”, ia mendokumentasikan kembali salah satu karya sang kakek dari rumah tua keluarga di Liningaan, Tondano.
Keterangan sederhana tentang sebuah lukisan akhirnya membuka kembali sebuah cerita besar:
tentang seorang kakek yang melukis, sebuah keluarga yang menyimpan karya, seorang cucu yang mendokumentasikannya, dan sebuah warisan seni yang hampir hilang dari ingatan sejarah.
Mungkin Gustaf Adolf Malonda tidak meninggalkan nama melalui galeri besar atau buku sejarah seni.
Tetapi ia meninggalkan sesuatu yang tidak kalah penting:
lukisan yang masih berbicara.
Dan selama lukisan-lukisan itu masih ada, selama keluarga masih mengingat siapa yang membuatnya, maka Gustaf Adolf Malonda belum benar-benar hilang dari sejarah.
Sumber dan Kepustakaan
Sumber keluarga
Cynthia Wuisang, unggahan Facebook mengenai lukisan karya Opa Gustaf Adolf Malonda (1923–1982), dokumentasi dari rumah tua di Liningaan, Tondano. Unggahan menyebut lukisan cat minyak bertema dermaga dan kapal laut serta statusnya sebagai heirloom keluarga besar Malonda–Pelealu. Dokumentasi/screenshot akun Facebook yang diberikan untuk penelusuran ini, 13 Agustus 2026.
Koleksi keluarga Malonda–Pelealu, Liningaan, Tondano, berupa tiga lukisan yang pernah disimpan keluarga dan didokumentasikan kembali. Judul “Dua Anak Kucing di Atas Meja”, “Buku, Botol Kaca, dan Rangkaian Bunga”, dan “Dermaga dan Kapal Laut” merupakan judul identifikasi sementara, bukan judul asli yang telah terverifikasi.
Sumber akademik dan institusional
Wuisang, Cynthia Erlita Virgin. (2014). Defining Genius Loci and Qualifying Cultural Landscape of the Minahasa Ethnic Community in the North Sulawesi, Indonesia. Ph.D. Thesis, The University of Adelaide. University of Adelaide Research Repository
Universitas Sam Ratulangi, Fakultas Teknik. Profil Laboratorium Arsitektur dan Cynthia Erlita Virgin Wuisang. Fakultas Teknik UNSRAT
ResearchGate – Cynthia Wuisang. Profil akademik dan publikasi Cynthia Erlita Virgin Wuisang. ResearchGate – Cynthia Wuisang
Media Matrasain, Universitas Sam Ratulangi. Publikasi mengenai pelestarian lanskap budaya dan lanskap vernakular etnis Minahasa. Media Matrasain – Lanskap Budaya Minahasa
Media Matrasain, Universitas Sam Ratulangi. Publikasi mengenai konservasi biodiversitas dan koridor hijau Kota Manado. Media Matrasain – Konservasi Biodiversitas Kota Manado
Media Matrasain, Universitas Sam Ratulangi. Publikasi mengenai kajian arsitektur dan metode perancangan. Media Matrasain – Kajian Arsitektur
Media Matrasain – Editorial Team. Informasi mengenai Cynthia E.V. Wuisang sebagai Editor in Chief. Media Matrasain – Editorial Team
Detik/ABC Australia. “Dua Arsitek Perempuan Asal Indonesia Mengukir Prestasi di Adelaide.” Detik/ABC Australia
SINTA Kemdiktisaintek – Cynthia Wuisang. Rekam jejak akademik dan publikasi. SINTA Kemdiktisaintek


