JOZEF PANGKEY, HAMBAH  YANG  SALEH  DARI  KAMPUNG WUWUK,TARERAN_MINAHASA

Lahir : 1825 (di Kampung Wuwuk) Wafat 30 Agustus 1915

Oleh: J. Louwerier

Disadur  oleh  : Alffian  Walukow



Pada sekitar tahun 1825, di sebuah desa berudara sejuk bernama Wuwuk—di lembah hijau Tareran, Minahasa—seorang bayi laki-laki dilahirkan dan diberi nama Jozef Pangkei. Tanah kelahirannya bukanlah tempat biasa; Wuwuk adalah ladang subur tempat biji-biji iman bertumbuh pesat. Di bawah bimbingan para pelayan Tuhan seperti Saudara Herrmann, Van der Velde van de Capelle, dan Van de Liefde, jemaat Wuwuk menjelma menjadi mahkota dan sukacita para zendeling, sebuah gambaran keindahan Kristus di tanah Minahasa.

Di sekolah Serikat di tanah kelahirannya itu, Jozef tumbuh sebagai murid yang cerdas, tekun, dan berhati lembut. Usai menimba ilmu, jiwanya yang muda sempat memanggilnya berkelana ke Menado untuk mencari penghidupan. Namun, panggilan Tuhan atas dirinya jauh lebih nyaring daripada riuh rendah kota. Sekembalinya dari Manado, sebuah pengabdian baru menantinya: ia diangkat menjadi seorang guru dan pengajar jemaat.

Masa itu, para guru pribumi tidak lahir dari akademi-akademi megah. Mereka dipilih karena jiwa mereka terpaut erat pada Tuhan, memiliki pemahaman yang memadai, serta memancarkan kerinduan yang besar untuk membawa kabar keselamatan bagi saudara-saudara sebangsanya. Dan di antara para pekerja sederhana yang menyerahkan jiwa raganya di kebun anggur Tuhan, Jozef Pangkei berdiri menonjol dengan kesetiaannya yang tak tergoyahkan.


Pelayanan Jozef resmi dimulai pada 1 Februari 1847 sebagai guru dan voorganger (pemimpin ibadah) di Kaniyaan. Tugas demi tugas kemudian membawanya melintasi berbagai pelosok Minahasa. Dari Amurang ia dipindahkan ke Motoling di wilayah Kumelembuai, hingga akhirnya dikirim ke Poigar—sebuah daerah di perbatasan Bolaang Mongondow. Di sana, ia berdiri bagaikan benteng pertahanan yang kokoh, menjaga fajar kekristenan agar tetap bersinar terang.

Tak lama kemudian, ia ditarik ke Kumelembuai, kediaman misionaris S. Ulfers. Puncak panggilan pelayanannya kian terpancar ketika pada tahun 1857, dalam sebuah perhimpunan khidmat di Tomohon, Jozef Pangkei ditumpangi tangan dan diteguhkan sebagai hulpzendeling (pembantu zendeling).

Berdua bersama Saudara Ulfers, Jozef menjelajahi belantara Minahasa yang lebat dan ganas. Kaki-kakinya menyusuri jalan setapak, menembus rimbunnya dedaunan, dan sering kali hutan belantara menjadi kamarnya di kala malam. Di bawah naungan gubuk sederhana dari dahan dan dedaunan yang dirakit tergesa-gesa, ia melepas lelah. Namun lelah tak pernah memadamkan apinya; dalam sehari ia bisa berkhotbah dua hingga tiga kali, mengajar jemaat hingga larut malam dengan kehangatan cinta yang tak pernah dingin.

Waktu berlalu, dan ladang Kumelembuai memerlukan penataan baru. Pasca wafatnya Saudara Ulfers, Pengurus Gereja (Kerkbestuur) di Batavia menetapkan bahwa Jozef Pangkei dan rekannya, Lampoes, harus mengikuti ujian di Manado pada tahun 1887 untuk diangkat menjadi inlandsch leeraar (pendeta pribumi).

Di ruang ujian yang kaku itu, sosok Jozef tetap menyorotkan keceriaan yang khas. Dengan wajah yang berseri-seri dan mata yang hangat, ia duduk menghadapi para penguji. Kala tiba sebuah pertanyaan rumit yang tak sanggup ia jawab, Jozef tidak panik atau gengsi. Ia berpaling pada Lampoes—rekannya yang jauh lebih muda—lalu berkata dengan nada jenaka yang mencairkan suasana:

"Oh, coba kamu saja yang menjawab pertanyaan itu."

Begitulah Jozef Pangkei: rendah hati, polos, tanpa kepura-puraan, namun menyimpan iman yang sedalam samudra.

Pelayanan Jozef yang begitu panjang tidak berhenti pada dirinya sendiri. Api iman yang membakar dadanya menular kepada generasi penerus dari marga yang sama. Di wilayah Amurang dan Kumelembuai, muncul sosok Guru A. Pangkey, seorang kerabat muda yang meneladani jejak langkah sang pahlawan senior.

Ketika Jozef memasuki masa-masa senjanya, Guru A. Pangkey melanjutkan tongkat estafet sebagai inlandsch leeraar (guru Injil pribumi). Ia berdiri di mimbar-mimbar yang pernah digembalakan oleh Jozef, mengajar anak-anak di sekolah zending, serta merawat jemaat dengan ketulusan yang sama. Dalam lembaran dokumen kolonial, nama Guru A. Pangkey tercatat sebagai bukti hidup bahwa benih yang ditanam oleh Jozef Pangkei di tanah Minahasa Selatan telah berakar dalam dan melahirkan tunas-tunas pelayan Tuhan yang setia.

Lima puluh tahun pelayanan (jubileum) ia peringati pada 1 Februari 1897. Dua tahun berselang, sebuah medali perunggu disematkan di dadanya sebagai tanda penghargaan atas kerja keras dan pengabdian tulusnya bagi masyarakat. Ia melayani di bawah pimpinan berbagai misionaris—Ulfers, de Vries, Loeff, hingga Waardenburg. Hampir dua dekade ia mendampingi Saudara de Vries, yang mengenangnya bukan sekadar sebagai rekan kerja, melainkan sebagai seorang "Pahlawan Allah" yang membawa berkat tak terhingga.

Setelah purna tugas pada tahun 1914, giliran sang hamba beristirahat dari segala jerih payahnya. Pada tanggal 30 Agustus 1915, dalam usianya yang telah lanjut, Jozef Pangkei mengembuskan napas terakhirnya. Ia adalah saksi terakhir dari generasi awal pembantu zendeling pribumi yang meletakkan fondasi iman di tanah Minahasa.

Keesokan harinya, 31 Agustus pukul setengah sebelas pagi, lambaian duka membalut Gereja Kumelembuai. Tokoh-tokoh gereja, Kepala Distrik Tompaso, para guru—termasuk para penerus trah Pangkey—serta segenap rakyat berkumpul memberikan penghormatan terakhir. Di tengah kepasrahan itu, lantunan lagu kesayangannya yang biasa ia nyanyikan setiap malam tahun baru terdengar bergema, membubung ke langit:

"O, jiwaku! Di tengah-tengah kesusahan, usaha, dan perjuangan hidup ini, dihiburkanlah oleh pemikiran akan kehidupan suci yang kekal, di mana penyakit, kesusahan, dan air mata tidak lagi dikenal. Bersoraklah! Ya, bersoraklah, o jiwaku!"

Jozef Pangkei kini dibaringkan dengan tenang di samping belahan jiwanya, Dorkas Paat. Perjuangannya telah usai, jiwanya telah pulang ke rumah Bapa, meninggalkan warisan iman yang terus dilanjutkan oleh generasi Guru A. Pangkey dan anak-cucu tanah Minahasa.

"Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. Ya, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih payah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."

— Wahyu 14:13

 

Postingan populer dari blog ini

DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.

Connie Constantia

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja