Tou Tareran Pelopor Gereja Otonom Minahasa: Joel Silvanus Walintoekan dan Hendrik Sinaoelan.
Tou Tareran Pelopor Gereja Otonom Minahasa: Joel Silvanus Walintoekan dan Hendrik Sinaoelan dalam Sejarah Lahirnya KGPM.
Oleh : Alffian Walukow
Sejarah berdirinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) merupakan bagian dari proses panjang perjuangan masyarakat Kristen Minahasa untuk memperoleh kemandirian dalam kehidupan bergereja. Gerakan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba pada tahun 1933, melainkan berakar pada pergumulan para guru Injil, pendeta pribumi, dan kaum nasionalis Minahasa sejak penghujung abad ke-19. Mereka mempertanyakan sistem gereja kolonial yang menempatkan gereja sebagai bagian dari struktur pemerintahan Hindia Belanda melalui Indische Kerk, sementara peranan orang Minahasa dalam kepemimpinan gereja masih sangat terbatas.
Dalam lintasan sejarah itu, nama Joel Silvanus Walintoekan dan Pendeta Hendrik Sinaoelan menempati posisi penting. Keduanya berasal dari kawasan Tareran, Minahasa Selatan, dan mewakili dua generasi perjuangan yang saling melanjutkan. Joel Silvanus Walintoekan dikenal sebagai perintis gagasan gereja otonom, sedangkan Hendrik Sinaoelan menjadi tokoh yang mengimplementasikan cita-cita tersebut melalui pelayanan pastoral hingga memasuki masa lahirnya KGPM.
Joel Silvanus Walintoekan: Perintis Kesadaran Gereja Mandiri
Arsip-arsip Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG) menunjukkan bahwa Joel Silvanus Walintoekan merupakan seorang guru Injil (hulpprediker) yang dipercaya melayani di wilayah Amurang pada akhir abad ke-19. Laporan-laporan zending mencatat keterlibatannya dalam pendidikan Kristen dan pelayanan jemaat bersama sejumlah guru Injil pribumi lainnya. (Malesung)
Menurut tradisi sejarah KGPM dan penelitian lokal, Joel Silvanus Walintoekan juga pernah melayani di Jemaat Wiau Lapi sekitar tahun 1890–1897.
Pada masa inilah ia mulai menyuarakan perlunya sebuah gereja yang dipimpin oleh orang Minahasa sendiri. Penolakannya terhadap pengalihan jemaat-jemaat NZG ke Indische Kerk membuatnya berhadapan dengan otoritas gereja kolonial hingga akhirnya diberhentikan dari jabatannya sebagai guru zending. (kgpm-sentrum.blogspot.com)
Walaupun perjuangannya belum berhasil pada zamannya, gagasan mengenai "Gereja Minahasa Berdiri Sendiri" terus diwariskan kepada generasi berikutnya dan menjadi salah satu fondasi lahirnya KGPM beberapa dasawarsa kemudian.
Wiau Lapi dan Akar Keluarga Sinaulan
Perjalanan sejarah gereja di Tareran juga berkaitan erat dengan keluarga besar Sinaulan. Berdasarkan penelitian genealogi, leluhur marga ini adalah Abram Sinaulan, yang menurut tradisi keluarga bernama asli Mamusung. Setelah menerima baptisan Kristen pada tahun 1856, ia menggunakan nama Abram Sinaulan.
Dalam sejarah lokal Wiau Lapi, Abram Sinaulan dikenal sebagai Hukum Tua Kampung Lapi, guru masyarakat, sekaligus tokoh yang bersama Arnold Kalangi memprakarsai penyatuan Kampung Lapi dan Kampung Wiau menjadi Desa Wiau Lapi pada tahun 1890. Dari garis keturunannya lahir sejumlah tokoh gereja, pendidik, dan pemimpin masyarakat yang berpengaruh di Minahasa Selatan.
Hendrik Sinaoelan: Penghubung Gereja Zending dan Gereja Pribumi
Di antara keturunan keluarga tersebut, Pendeta Hendrik Sinaoelan menjadi salah seorang tokoh gereja yang paling menonjol.
Menurut penelitian sejarah Paroki Singkil, Hendrik Sinaoelan lahir di Manado pada 9 Desember 1875. Ia menikah dengan Sophie Rintjap dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Engelbert Sinaulan dan Elfrida Sinaulan. Walaupun lahir di Manado, akar keluarganya berasal dari Wiau Lapi, Tareran. (Iverdixontinungki)
Hendrik Sinaoelan menempuh pendidikan di School Tot Opleiding Voor Inlandsch Leeraren (STOVIL) di Tomohon, lembaga pendidikan guru Injil yang didirikan NZG. Pendidikan tersebut membentuk dirinya sebagai guru Injil, pendeta, pendidik, dan organisator gereja yang kelak memainkan peranan penting dalam masa transisi menuju gereja pribumi.
Pelayanan dari Suluun hingga Singkil
Sebelum ditempatkan di Singkil, Hendrik Sinaoelan melayani di Jemaat Suluun selama sekitar sepuluh tahun. Ia kemudian melanjutkan pendidikan kependetaan di Pulau Jawa dan sempat melayani jemaat keluarga KNIL di Bondowoso.
Pada tahun 1903, ia diangkat sebagai pemimpin Paroki Singkil, salah satu wilayah pelayanan terbesar di Manado Utara. Di bawah kepemimpinannya dibangun Gereja Singkil–Sindulang dan pelayanan diperluas ke berbagai kampung pesisir melalui jaringan guru jemaat dan penatua. (Iverdixontinungki)
Laporan resmi NZG pada periode 1908–1911 juga mencatat nama H. Sinaoelan sebagai guru Injil yang melayani di Tombatu, Silian, Ranoketang, hingga Tondano. Selain itu, surat kabar kolonial De Indische Courant dan Deli Courant pada tahun 1930–1931 memberitakan keterlibatannya dalam berbagai pelayanan gerejawi yang mendapat perhatian pemerintah kolonial.
Memasuki Era KGPM
Ketika gerakan gereja pribumi berkembang pesat pada awal dekade 1930-an, Hendrik Sinaoelan termasuk pendeta yang bergabung dalam Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) setelah mengakhiri pelayanannya di bawah NZG.
Ia kemudian dipercaya menjadi anggota Majelis Gembala dalam Pucuk Pimpinan KGPM di bawah kepemimpinan A. Jacobus. Dalam periode yang sama, perjuangan gereja otonom memperoleh dukungan dari tokoh-tokoh nasional Minahasa seperti Sam Ratulangi, Bernard Wilhelm Lapian, dan A.A. Maramis, yang memandang kemerdekaan gereja sebagai bagian dari perjuangan kebangsaan Indonesia. (Iverdixontinungki)
Namun demikian, sumber-sumber primer yang tersedia belum menunjukkan bahwa Sam Ratulangi merupakan pendiri KGPM. Arsip dan kajian sejarah lebih menegaskan perannya sebagai tokoh nasional yang mendukung berkembangnya gerakan gereja pribumi.
Penutup
Jika disusun secara kronologis, tampak adanya kesinambungan sejarah yang jelas. Joel Silvanus Walintoekan menjadi perintis yang menanamkan gagasan tentang gereja Minahasa yang mandiri. Beberapa dasawarsa kemudian, Hendrik Sinaoelan melanjutkan perjuangan itu melalui pelayanan pastoral, pendidikan, dan kepemimpinan gereja hingga memasuki masa berdirinya KGPM.
Keduanya merupakan mata rantai penting dalam sejarah Kekristenan Minahasa. Perjuangan mereka menunjukkan bahwa lahirnya KGPM bukan hanya sebuah peristiwa gerejawi, melainkan juga bagian dari kebangkitan kesadaran nasional, emansipasi kepemimpinan pribumi, dan perjuangan masyarakat Minahasa untuk menentukan masa depan gerejanya sendiri.
Daftar Sumber
Arsip Primer
Maandberichten voorgelezen in de Vergaderingen der Nederlandsche Zendelinggenootschap (1860; 1885–1886).
Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap (1908–1911).
De Indische Courant (1930–1931).
Deli Courant (1931).
Sumber Sezaman dan Sejarah Lokal
Iverdixon Tinungki. Paroki Singkil 1903–1973 (Sejarah GMIM Wilayah Manado Utara II). (Iverdixontinungki)
Alffian W.P. Walukow. 116 Tahun Desa Wiau Lapi (penelitian sejarah lokal dan genealogi).
Dokumen silsilah keluarga Sinaulan, Wiau Lapi.
Daftar Pustaka
Aritonang, Jan Sihar & Karel Steenbrink (Ed.). A History of Christianity in Indonesia. Leiden: Brill, 2008.
Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press.
Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Schwarz, J.A.T. Tontemboansche Teksten. Leiden: E.J. Brill, 1907.
Steller, K.G.F. Literatuur van de Sangirese Taal.
Graafland, N. De Minahassa.
Arsip dan profil Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) tentang KGPM. (PGI.OR.ID)
