Pendiri Taman Safari
Diaspora Nusa Utara dari Pulau Sangihe :
HADI MANANSANG
(MIZU TJOA KIM HIAN)
Dihimpun oleh : Alffian Walukow
Dari Penyintas Badai Laut Utara hingga Pelopor Konservasi Indonesia. Pendiri Oriental Sircus Indonesia dan Taman Safari.
Masa Muda dan Pergolakan di Daratan China (1916–1940-an)
Lahir di Shanghai, China, pada tahun 1916, pemuda bernama asli Mizu Tjoa Kim Hian ini tumbuh dengan memiliki keahlian khusus di bidang seni akrobat. Namun, kehidupan di tanah kelahirannya berubah drastis akibat pergolakan politik pasca-Perang Dunia II dan berkecamuknya perang saudara di daratan China. Demi menyambung hidup dan menghindari konflik, ia terpaksa bergabung dalam gelombang pengungsian besar-besaran ke Asia Tenggara pada pertengahan abad ke-20.
Pelarian Ganas dan Penyelamatan di Kepulauan Sangir
Perjalanan mencari suaka ini dipenuhi dengan marabahaya. Setelah sempat terdampar dan bertahan hidup di Filipina, situasi perairan yang kian gawat memaksanya untuk kembali melarikan diri ke arah selatan.
Mengarungi Laut Lepas: Menggunakan perahu kayu kecil, ia nekat mengarungi lautan lepas yang ganas demi menghindari konflik.
Terdampar di Nusa Utara: Badai laut membawanya terdampar di pesisir Kepulauan Sangir (Sangihe), Sulawesi Utara. Ia mendarat sebagai imigran tanpa dokumen, tanpa harta, dan tidak menguasai bahasa setempat.
Kemanusiaan Suku Sangir: Di tengah kondisi yang kritis, masyarakat lokal Suku Sangir menyambutnya dengan tangan terbuka. Warga memberikan perlindungan, makanan, serta menyembunyikannya dari otoritas hukum laut agar tidak dideportasi kembali ke wilayah konflik.
Bertahan Hidup: Di tanah Nusa Utara ini, ia memulai hidup barunya dengan mengamen akrobat jalanan dan menjual koyok herbal tradisional.
Asimilasi Budaya: Lahirnya Fam Manansang (1966)
Kebaikan emosional masyarakat Sangir membekas seumur hidup dalam diri Mizu Tjoa Kim Hian. Ketika ia berpindah ke Manado dan merantau ke Pulau Jawa untuk mengembangkan kariernya, memori akan tanah Nusa Utara tidak pernah pudar.
Pada tahun 1966, Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan asimilasi melalui Keputusan Presidium Kabinet No. 127/U/Kep/12/1966 yang menganjurkan warga keturunan Tionghoa mengubah nama mereka. Dalam proses ini, banyak yang menggunakan strategi "Padanan Fonetik Daerah". Mizu Tjoa Kim Hian mengambil keputusan emosional sekaligus strategis: ia menanggalkan marga Tjoa (蔡) dan secara resmi mengadopsi fam (marga) asli Suku Sangihe, yaitu Manansang.
Sejak saat itu, ia menyandang nama Hadi Manansang, sementara anak sulungnya, Tjoa Ah Sjan, berganti nama menjadi Jansen Manansang. Penggunaan fam ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi dan rasa terima kasih abadi kepada tanah Sangir yang telah menyelamatkan nyawanya dari maut di laut lepas.
Perintisan Karier: Dari Jalanan Menuju Panggung Megah (1950-an–1970-an)
Dipersenjatai nama baru dan semangat juang yang tinggi, Hadi Manansang bersama anak-anaknya merintis karier dari bawah di Pulau Jawa:
Era 1950–1960-an: Hadi melakukan aksi akrobat solo ekstrem di alun-alun kota, seperti membengkokkan besi dengan dada dan melempar trisula sembari berjualan obat. Ia kemudian membentuk kelompok "Bintang Akrobat dan Gadis Plastik".
Tahun 1972: Kelompok kecil ini berkembang pesat hingga Hadi mendirikan Oriental Circus Indonesia (OCI), sirkus keliling modern pertama dan terbesar di Indonesia yang kelak tampil hingga ke mancanegara.
Menjadi Raja Konservasi: Cikal Bakal Taman Safari Indonesia
Seiring berjalannya waktu, pertunjukan OCI mulai melibatkan satwa liar seperti gajah, harimau, dan singa. Karena rasa cintanya yang mendalam pada binatang dan keinginan agar hewan-hewan tersebut dapat hidup layak serta berkembang biak, Hadi aktif mencari lahan penangkaran.
Tempat penangkaran yang ia rintis di Cisarua, Bogor inilah yang menjadi cikal bakal Taman Safari Indonesia. Tempat ini kini diakui sebagai salah satu lembaga konservasi alam ex-situ (pelestarian di luar habitat asli) terbaik di Asia.
Warisan Literasi dan Identitas Kultural
Walaupun secara biologis Hadi Manansang tidak memiliki garis keturunan Nusa Utara (berbeda dengan seniman asli Sangir seperti Edwin Manansang), lewat jalur asimilasi budaya, identitas "Orang China Sangir" telah melekat erat sebagai bagian sejarah kesuksesan keluarga Taman Safari Indonesia. Kisah luar biasa mengenai bagaimana pelarian seorang imigran asal Shanghai berhasil mentransformasikan dirinya menjadi pahlawan konservasi kini abadi dalam sebuah karya literasi.
DAFTAR PUSTAKA
Asih, Augustina. Tiga Macan Safari. (Buku biografi resmi mengenai sejarah keluarga Manansang dan berdirinya Taman Safari Indonesia).
Pemerintah Republik Indonesia. Keputusan Presidium Kabinet No. 127/U/Kep/12/1966 mengenai peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia keturunan asing.
Kompas.com. Arsip liputan sejarah industri hiburan dan pendirian Oriental Circus Indonesia (OCI).
