Tagonggong dan Klong Yao
Eksplorasi Komparatif Sejarah dan Peran Klong Yao serta Tagonggong dalam Pusaran Tradisi Nusantara dan Asia Tenggara
Oleh : Alffian Walukow
Klong Yao dari Thailand dan Tagonggong dari Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, merepresentasikan dua warisan instrumen musik membranofon yang tidak hanya berfungsi sebagai alat penghasil bunyi, tetapi juga sebagai penjaga memori kolektif, identitas kultural, dan medium ritual masyarakat pendukungnya.
Asal-Usul Historis dan Akar Peradaban
Akar historis Klong Yao terbentang jauh ke masa kejayaan Kerajaan Ayutthaya di Siam (Thailand) antara tahun 1351 hingga 1767. Selain menjadi bagian dari tradisi seni komunal, instrumen gendang panjang ini dulunya terikat dengan struktur kemiliteran serta interaksi kultural dengan wilayah tetangga seperti Burma. Di sisi lain, Tagonggong di Kepulauan Sangihe memiliki periodisasi etnomusikologi yang berakar sejak abad ke-11. Pada masa lampau, instrumen ini menjadi fondasi spiritual dalam sistem kepercayaan asli masyarakat Sangihe yang disebut Sundeng.
Dinamika Transformasi Sosial dan Ritual
Lintasan sejarah kedua alat musik ini memperlihatkan kemampuan adaptasi yang luar biasa dalam menghadapi perubahan zaman:
Peran Spiritual dan Kepemimpinan Ritual: Dalam tradisi Sundeng masyarakat Sangihe, ketukan ritmis Tagonggong ditabuh bersama alat musik tiup bambu kuno bernama Oli dipimpin oleh para Balian (pemimpin keagamaan Sundeng laki-laki) serta Ampuang (pemimpin keagamaan perempuan) sebagai panduan sakral dalam ritual penghormatan leluhur. Ketika kolonial Hindia Belanda dan misionaris melarang praktik tersebut pada akhir abad ke-19 karena dianggap animisme, masyarakat beradaptasi melalui upacara Medaroro dan mengalihkan fungsi Tagonggong menjadi pengiring sastra lisan Sasambo serta tarian adat seperti Tari Gunde dan Tari Mesalai.
Perayaan Publik dan Diaspora: Klong Yao mengalami transformasi dari sinyal komunal menjadi hiburan rakyat yang meriah. Instrumen ini diintegrasikan ke dalam ansambel Wong Klong Yao untuk mengiringi perayaan penting seperti Songkran, pawai pernikahan, hingga festival panen. Sementara itu, persebaran Tagonggong juga diperkaya oleh sejarah diaspora, seperti migrasi massal masyarakat Sangihe ke Desa Londoun, Gorontalo, pada tahun 1939, yang membawa serta Tagonggong sebagai artefak pemersatu identitas leluhur di tanah rantau.
Karakteristik Organologi dan Material Tradisional
Secara organologis, perajin tradisional dari kedua kebudayaan menunjukkan kecerdasan ekologis dalam memanfaatkan material alam:
Pemilihan Kayu: Kedua instrumen sama-sama mengandalkan batang kayu keras berkualitas tinggi—khususnya kayu nangka—yang dikenal awet, kokoh, serta mampu menghasilkan resonansi optimal.
Konstruksi Membran dan Akustik: Klong Yao menggunakan teknik penempelan pasta nasi-arang yang khas pada permukaan membrannya untuk mengatur karakter suara. Sebaliknya, Tagonggong menggunakan kulit hewan padat yang diikat kuat pada tabung berbentuk goblet drum berukuran 40 hingga 50 cm, di mana rongga bagian dalam kayu dirancang untuk memaksimalkan pantulan suara yang nyaring.
Legitimasi Hukum dan Pengakuan Warisan Budaya
Kelestarian kedua instrumen ini telah diperkuat melalui pengakuan resmi dari negara masing-masing. Pemerintah Thailand secara resmi mendaftarkan Klong Yao sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional pada tahun 2015. Langkah serupa dicapai Tagonggong ketika Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 244/P/2016, serta dicatatkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).
Sumber dan Literatur Pendukung
Buku "Kebudayaan Sangihe" (2009): Karya dokumentasi sejarah lokal oleh budayawan Alffian W.P. Walukow, S.Pd., M.Pd. (diterbitkan di Lenganeng, Sangihe), yang memuat pembahasan mendalam mengenai periodisasi Masa Sundeng, sastra lisan Sasambo, serta peran Balian dan Ampuang.
Aural Archipelago (2019): Artikel etnomusikologi bertajuk "Tagonggong: Sounds from the Edge of Indonesia" oleh Christopher Miller, mendokumentasikan catatan lapangan mengenai fungsi sakral dan transisi ritual instrumen Sangihe.
Literatur Sejarah Kebudayaan Thailand: Catatan arsip mengenai era Kerajaan Ayutthaya (1351–1767) dan perkembangan ansambel tradisional Wong Klong Yao.
Dokumen Resmi Negara: Basis data Warisan Budaya Takbenda Indonesia (Kemendikbudristek SK No. 244/P/2016), DJKI Kemenkumham, serta registrasi Warisan Budaya Takbenda Nasional Thailand (2015).
