Episentrum Ksatria Timur: Sintesis Sejarah, Seni Rupa, dan Linguistik dalam Tari Perang Maluku, Minahasa, dan Sangihe. Artikel ini mengeksplorasi sintesis sejarah, seni rupa, dan linguistik pada tarian perang di Nusantara Timur, khususnya Cakalele (Maluku), Kabasaran (Minahasa), serta Salo dan Alabadiri (Sangihe). Secara historis, tarian-tarian ini berevolusi dari ritual ksatria purba menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Dari perspektif linguistik, terjadi pelapisan makna pada istilah seperti Caka (roh) dan Upase (pengawal), yang mencerminkan adaptasi bahasa lokal terhadap pengaruh asing. Dalam aspek seni rupa, penggunaan warna merah dan geometri perisai Salawaku serta Pata melambangkan kosmologi perlindungan dan keberanian. Kajian ini menyimpulkan bahwa meskipun kolonial Belanda menggeneralisasi tarian ini sebagai "Cakalele," masing-masing memiliki genealogi unik yang memperkokoh identitas kultural maritim. English This article explores the synthesis of hist...