Karnaval Seni Budaya di Menado tahun 1923.
Skenario : Karnaval
Seni Budaya di Menado tahun 1923.
Hari Sabtu 1 September
1923.
Dalam rangka peringatan 25 tahun pemerintahan Yang Mulia
Ratu Wilhelmina.
1. Era Pra-Kolonial dan Legenda (Asal-usul)
Meskipun tidak memiliki angka tahun pasti, bagian awal
ini merujuk pada masa purba Minahasa pasca "Banjir Besar".
- Penyatuan
Mina-esa: Legenda Pingkan dan Matindas yang menjadi simbol lahirnya
persatuan suku-suku menjadi nama "Minahassa".
- Watu
Pinawetengan: Pembagian wilayah menjadi empat suku utama di sebuah batu
besar di Kawangkoan.
2. Era Kontak
Eropa Pertama (Abad 16 - 17)
- Tahun 1538: Kedatangan Antonio
Galvano, Gubernur Portugis di Maluku, yang memulai jejak hubungan dengan
bangsa Eropa.
- Tahun 1640: Awal masa pertengahan (middentijd)
yang ditandai dengan perkenalan masyarakat Minahasa dengan Perusahaan
Hindia Timur Belanda (VOC).
- Tahun 1654: Kunjungan Sersan Koningge
ke Minahasa bersama Kepala Distrik Lumi untuk memeriksa keadaan tanah
tersebut.
- Tahun 1660: Pertemuan besar di
Tondano antara Gubernur Simon Cos dengan seluruh kepala distrik untuk
menyepakati persahabatan dan kemitraan.
- Tahun 1679: Gubernur Robert Padbrugge
tiba di Amurang untuk menandatangani kontrak pertama dengan kepala-kepala
suku, yang berujung pada pengusiran bangsa Spanyol dari Minahasa.
3. Era Administrasi dan Militer (Abad 19)
- Tahun 1812: Masa Administrasi
Sementara Inggris di Menado dan pendirian kembali negeri Tondano.
- Tahun 1819: Pengenalan sistem
pendidikan awal di Minahasa, menggunakan alat tulis sederhana seperti daun
pisang dan papan kayu telur.
- Tahun 1824: Kunjungan Gubernur
Jenderal Baron van der Capellen ke Tondano. Pada tahun ini pula
Menado ditetapkan sebagai wilayah kependudukan independen (residensi) di
bawah Ambon.
- Tahun 1825: Residen Menado pertama,
Tuan Pietermaat, menjabat sebagai Ketua Dewan Minahasa (Landraad).
- Tahun
1827: Pembentukan milisi warga (Schutterij) pertama di Minahasa.
- Tahun
1829: Pengiriman pasukan bantuan dari Minahasa ke Jawa untuk membantu
pemerintah dalam Perang Diponegoro.
- Tahun 1857: Kepulangan milisi Schutterij
dari Kalinaoen setelah memenangkan pertempuran melawan bajak laut
Mindanao.
- Tahun
1859: Perayaan martabat Kepala Distrik melalui Pajoengfeesten (Pesta
Payung) di bawah kepemimpinan Residen Jansen.
- Tahun 1870: Keberangkatan milisi
Minahasa ke Gorontalo untuk menangani pemberontakan di Panipi.
4. Era Perkembangan Pendidikan (1824 - 1886)
Prosesi ini secara detail menunjukkan evolusi sekolah
sebagai simbol kemajuan:
- 1824:
Sekolah Belanda di Menado.
- 1831:
Sekolah Masyarakat (Genootschap).
- 1852:
Sekolah Pelatihan Guru Masyarakat.
- 1864:
Sekolah Utama untuk anak-anak kepala distrik di Tondano.
- 1873:
Sekolah Pemerintah di Menado dan Sekolah Pelatihan Guru Pemerintah di
Tondano.
- 1876: Sekolah Katolik Roma di Menado.
- 1881:
Sekolah Swasta Putri di Tomohon.
- 1886:
Sekolah Pelatihan Guru Internasional (Penolong Indjil) di Tomohon.
5. Era Baru
dan Puncak Perayaan (Abad 20)
- Tahun 1895: Pembentukan komando
militer di Tondano.
- Tahun 1898: Penobatan Ratu
Wilhelmina, yang menjadi titik awal "Zaman Baru" bagi Minahasa
dalam hubungan mereka dengan Kerajaan Belanda.
- Tahun 1923: Pelaksanaan prosesi besar
ini sebagai peringatan 25 tahun masa pemerintahan Ratu Wilhelmina
(Jubileum Perak).
PROGRAMMA
van den
historischen
en allegorischen optocht
te Menado,
te houden op
Zaterdag den $1^{\text{sten}}$ September 1923,
TER
GELEGENHEID
VAN HET 25
JARIG JUBILEUM DER REGEERING
VAN
H. M. KONINGIN
WILHELMINA.
Terjemahan singkat:
Program prosesi historis dan alegoris di Manado, yang
akan diadakan pada hari Sabtu, 1 September 1923, dalam rangka peringatan 25
tahun pemerintahan Yang Mulia Ratu Wilhelmina.
PROGRAM PROSESI SEJARAH DAN ALEGORIS
Menado, Sabtu, 1 September 1923
PERINGATAN 25 TAHUN PEMERINTAHAN YANG MULIA RATU
WILHELMINA
PENGERTIAN ALEGORIS DALAM PROSESI INI
Berdasarkan konteks dokumen ini, alegoris (dari kata allegorisch)
merujuk pada penyajian ide, nilai moral, atau peristiwa sejarah melalui
simbol-simbol dan perumpamaan yang diperankan oleh orang atau benda. Pengertian
tersebut dapat dipahami melalui poin-poin berikut:
- Representasi
Simbolis: Penggunaan sosok atau benda untuk melambangkan konsep abstrak,
seperti "Burung Hantu" yang melambangkan ilmu pengetahuan atau
"Perawan Belanda" yang melambangkan kedaulatan negara.
- Perumpamaan (Tiroean): Kata
"alegoris" sering disepadankan dengan kata "tiroean"
atau "peroempamaan" dalam teks ini. Contohnya adalah
penggambaran kesetiaan wanita Minahasa melalui peragaan tokoh legenda
Pingkan Mogogoenoy dan Matindas.
- Visualisasi Sejarah: Menampilkan
kembali momen penting di masa lalu—seperti perjanjian diplomatik atau
kemenangan perang—bukan sekadar sebagai fakta, melainkan sebagai
pertunjukan yang memiliki makna mendalam bagi identitas rakyat Minahasa.
- Personifikasi: Menggunakan individu
untuk memerankan entitas non-manusia, seperti orang-orang yang mewakili
distrik-distrik, bank, atau lembaga pendidikan untuk menunjukkan
perkembangan kemajuan di bawah pemerintahan Ratu.
Singkatnya,
"prosesi alegoris" ini adalah pawai perumpamaan di mana setiap
rombongan yang lewat membawa pesan, cerita, atau simbol tertentu yang berkaitan
dengan sejarah dan rasa cinta rakyat Minahasa kepada pemerintahannya.
URUTAN PROGRAM PROSESI
BAGIAN I: ASAL-USUL DAN TRADISI
- Musik.
- Penunjuk Jalan (Kavaleri): Penunggang
kuda, 4 tukang tambur, dan 4 peniup selompret.
- Bendera
Belanda.
- Manusia
Pertama di Minahasa (Alegori Asal-usul):
- a.
Lumimuut di Bukit Wulur Mahatus memohon berkat agar dikaruniai anak.
- b.
Kelahiran anak bernama Toar.
- c. Perpisahan Toar dan Lumimuut:
Ujian dua tongkat (Toeis dan Asa).
- d. Toar dan Lumimuut bersama 9 anak
mereka, nenek moyang penduduk Minahasa.
- Enam
Orang Alifuru: Mewakili penduduk asli sebelum berdirinya Minahasa.
- Pinawetengan
in Noewoe: Pertemuan 18 perwakilan suku di batu besar (Kawangkoan) untuk
membagi tanah Minahasa.
- Kabesaran Distrik Kawangkoan: Dengan
kostum zaman dahulu.
- Fosso
Manarongsong: Upacara memohon berkat keluarga (perjalanan hidup).
- Musik
Distrik Amurang.
- Bendera
Distrik Ratahan.
- Potoeasan
Zaman Kinilow: Ahli rahasia agama.
- Teteroesan:
Panglima perang pembela rakyat.
- Kolanus
(Raja): Bangsa Ratahan dengan alat tenun kain Patela.
- Walosong:
Penggambaran tempat tinggal para roh (kegembiraan jiwa).
- Musik.
- Penduduk Allo: Perkenalan pertama
Minahasa dengan bangsa Eropa.
- Pejabat dan Kepala-kepala dari
Ratahan.
- Musik
Wioy-Ratahan.
BAGIAN II:
LEGENDA DAN PERIODE SPANYOL
- Kabesaran
Kecamatan Amurang.
- Alegori
Kesetiaan (Tiroean Pingkan & Matindas):
- a.
Matindas, suami Pingkan Mogogoenoy.
- b.
Perlawanan terhadap Raja Bolaang Mongondow.
- c.
Penyatuan suku-suku menjadi Mina-esa.
- Periode Spanyol: Hubungan sejarah dan
pembangunan benteng. Dipimpin oleh kepala suku Singal.
- Musik
dari Amurang.
BAGIAN III: HUBUNGAN DENGAN BELANDA (ABAD 17-19)
- Kabesaran
Tomohon: Sejarah kontak VOC (1640).
- Perahu
Lumi & Koningge.
- Tjakalele
dari Tanawangko.
- Kapal
"Amsterdam": Representasi diplomatik Simon Cos.
- Musik
Rabana dari Tanawangko.
- Gubernur R. Padbrugge: Penunggang
kuda dan pengiring.
- Pasukan
Hussar Distrik Toulour.
- Pendirian Negeri Tondano (1812):
Menampilkan Residen Inggris.
- Baron van der Capellen (1824):
Gubernur Jenderal dan Istri ditandu.
- Veteran
Toulour: Pasukan kehormatan.
- Residen Menado (1825): Penampilan di
atas gerobak dengan Meja Hijau.
- Musik
Tondano.
- Perwira
Minahasa (Perang Jawa 1829): Tokoh Dotulong, Sigar, Inkiriwang, dan Supit.
- Tjakalele
dari Kakas.
- Alegori
Pertanian (Cultuurstelsel): Hasil bumi dan budaya Mapalus.
BAGIAN IV: PENDIDIKAN DAN SOSIAL
- Paduan
Suara Tondano.
- Pajoengfeesten
(1859): Simbol martabat kepala distrik (9 tembakan meriam).
- Veteran
Tomohon.
- Paduan
Suara Woloan.
- Alegori
Pengetahuan: Burung Hantu, bola dunia, dan alat tulis kuno (1819).
- Sekolah
Belanda Menado (1824).
- Sekolah
Genootschap (1831).
- Sekolah
Guru (1852).
- Sekolah Anak Kepala di Tondano
(1864).
- Sekolah
Pemerintah Menado (1873).
- Sekolah
Guru Pemerintah Tondano (1873).
- Sekolah
Katolik Menado (1876).
- Sekolah
Putri Tomohon (1881).
- Sekolah
Penolong Injil Tomohon (1886).
- Penghormatan
L. Mangindaan: Intelektual pertama Minahasa.
- Musik
Roeroekan.
- Pasukan
Komando Tondano (1895).
- Kabesaran
Distrik Toulour.
BAGIAN V: MILISI DAN KOMUNITAS INTERNASIONAL
- Schutterij (1827): Penembak, tombak,
dan meriam lela.
- Milisi
Kalinaoen (1857): Kemenangan atas bajak laut Mindanao.
- Ekspedisi
Gorontalo (1870): Milisi di atas perahu.
- Musik
Bekas Schutterij Menado.
- Alegori Perawan Belanda: Representasi
kedaulatan dan provinsi.
- Antonio
Galvano (1538): Sejarah Portugis di Maluku/Makassar.
- Patung
Dada Ratu Wilhelmina: Inti prosesi, dikawal 24 penunggang kuda
berselempang oranye.
- Lagu
Kebangsaan Belanda.
- Musik
Tiup Tonsea.
- Pengawal
Tanah (Bekas Prajurit).
- Kidung
Melayu.
- Kabesaran
Bantik Lama.
- Jong Minahasa: Truk pemuda dan musik.
- Sekolah
Kejuruan Wasian: Truk para tukang.
- Musik
String (Gesek) Menado.
- Sekolah
Putri Menado.
- Sekolah
Pertanian Tondano.
- Truk Sekolah M.U.L.O Tondano.
- Truk
Penyanyi Keroncong.
- Truk
Sekolah Khusus.
- Sekolah
Swasta Minahasa.
- Dewan
Kota Menado.
- Musik
Lagu Lama: Tandjoeng Alam.
- Minahasaraad.
- Sekolah
Pelatihan Guru Katolik Woloan.
- Sekolah
H.I.S Woloan.
- Alegori Limburg Stirum: Truk dengan
Gapura Kemenangan.
- Sekolah
Normal Putri Menado.
- Alegori Ekonomi: Truk perbankan (Bank
Jawa, dsb).
- Sekolah
Suster Menado.
- Rumah
Sakit Katolik Tomohon.
- Sekolah
Suci Kristen Menado.
- Alegori Teknologi: Mesin Terbang
Poulet.
- Perawan
18 Distrik: Membawa perisai nama distrik.
- Penyanyi
Pantun Melayu.
- Harmoni
Sosial.
- Pasukan
Hussar.
- Bagian
Tionghoa: Bendera, tarian Macan.
- Kereta
Kaisar Tiongkok.
- Musik.
- Sekolah
Tionghoa Belanda.
- Personifikasi Empat Golongan
Tionghoa: Pejabat, Petani, Tukang, Pedagang.
- Pemimpin
Masyarakat.
- Bagian Arab: Truk mahkota dengan
anak-anak dan bunga.
Lengkapnya :
BAGIAN I: PERIODE TRADISIONAL & TRANSISI (DISTRIK
RATAHAN)
Segmen nomor 14 hingga 18 diorganisir oleh Distrik
Ratahan (Kelompok usia 10-18 tahun).
- No.
14: Walosong. Penggambaran tempat tinggal para roh (kegembiraan jiwa).
- No.
15: Musik. Korps Musik pengiring prosesi.
- No.
16: Gambaran Penduduk Alifuru (Allo). Mewakili masyarakat Minahasa zaman dahulu saat pertama kali
bersentuhan dengan bangsa Eropa. Menampilkan perubahan gaya pakaian
dari masa ke masa.
- No.
17: Korps Pejabat. Barisan pejabat dan pimpinan (Rataban) dari
Ratahan.
- No.
18: Musik Wioy-Ratahan. Korps musik khusus dari wilayah Wioy.
- Tambahan:
Kelompok Tenun. Bangsa Ratahan menampilkan alat tenun tradisional
untuk kain Patela atau Tinontomaha.
- Sosok
Teteroesan: Tampil sebagai pahlawan dari segala pahlawan (Panglima
Perang) yang bertugas menerima tamu pada upacara Fosso.
- Sosok Kolano: Perwakilan sosok Raja (Kolano).
BAGIAN II: LEGENDA MINA-ESA & PERIODE SPANYOL
(DISTRICT AMOERANG)
Segmen nomor 19 hingga 22 diorganisir oleh Distrik
Amurang.
- No.
19: Dewan Distrik & Kabesaran Amurang. Pasukan kehormatan
kecamatan.
- No.
20: Alegori "Pingkan Mogogoenoy & Matindas". Sebuah
gambaran kesetiaan dan cinta wanita Minahasa. Cerita ini merupakan cikal
bakal lahirnya nama "Mina-esa" (Minahasa) melalui penyatuan
suku-suku.
- a.
Penampilan Matindas, suami Pingkan Mogogoenoy.
- b.
Penggambaran Raja Bolaang Mongondow yang mencoba menculik Pingkan
Mogogoenoy yang cantik di Mandolang-Tanahwangko dengan kekuatan militer.
- c.
Kegagalan penculikan berkat kecerdikan Pingkan; diakhiri dengan tewasnya
Raja Mongondow oleh tentaranya sendiri.
- No.
21: Periode Spanyol. Penggambaran masa saat suku Minahasa berhubungan
dengan bangsa Spanyol yang membangun benteng di Menado dan Amurang.
Barisan ini dipimpin oleh perwakilan Kepala Suku Minahasa saat itu yang
bernama Singal.
- No.
22: Grup Musik Distrik Amurang.
BAGIAN III: PERIODE PERTENGAHAN & PERJANJIAN BELANDA
(DISTRIK TOMOHON)
Dimulai dari masa hubungan dengan VOC (sekitar tahun
1640). Menampilkan sejarah pengusiran bangsa Spanyol dan perjanjian dengan
Belanda.
- No.
23: Barisan Kabesaran Tomohon.
- No.
24: Perahu Lumi & Koningge. Menggambarkan perjalanan Kepala
Distrik Tomohon bernama Lumi ke Ternate untuk menemui Gubernur Simon
Cos. Menampilkan pula Sersan Koningge yang dikirim ke Minahasa
pada tahun 1654.
- No.
25: Tarian Tjakalele. Tarian perang dari Tanawangko.
- No.
26: Kapal Pesiar "Amsterdam". Replika kapal yang membawa
Gubernur Simon Cos bersama para Kepala Distrik: Supit, Paath, dan
Lontoh untuk mengadakan pertemuan besar di Tondano pada tahun 1660
(Perjanjian Persahabatan).
- No.
27: Musik Rabana. Kelompok musik dari Tanawangko.
- No.
28: Gubernur Robert Padbrugge. Sosok Gubernur Padbrugge yang
menunggang kuda (mewakili peristiwa tahun 1679 di Amurang), diikuti oleh
para kepala distrik dan rombongan pengiring.
BAGIAN IV: PERIODE MODERN & ADMINISTRASI INGGRIS
(DISTRIK TOULOUR/TONDANO)
Segmen penutup yang mewakili sejarah pembangunan wilayah
Tondano.
- No.
29: Pasukan Hussar Toulour. Pasukan berkuda dari Tondano.
- No.
30: Pendirian Tondano (1812). Penggambaran masa Administrasi Sementara
Inggris.
- Menampilkan Kepala Distrik
"Matalandi" bersama dengan Residen Inggris di Menado
dan rombongannya.
Berikut adalah
kelanjutan susunan program prosesi tersebut yang telah disempurnakan. Bagian
ini fokus pada periode administrasi kolonial abad ke-19, kontribusi militer
Minahasa, dan sejarah perkembangan pendidikan.
BAGIAN V: PERIODE GUBERNUR JENDERAL & OTONOMI
(DISTRIK TOULOUR)
Segmen ini menggambarkan perubahan politik besar di
Minahasa pada awal abad ke-19.
- No. 31: Kunjungan Baron van der
Capellen (1824). *
Peragaan kedatangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron van der
Capellen, dan istri (Baroness) yang ditandu, didampingi para Kepala
Distrik.
- Peristiwa
ini menandai perubahan status Menado menjadi residensi independen di
bawah Gubernur Maluku.
- No.
32: Pasukan Kehormatan. Barisan veteran tentara dari Distrik Toulour
yang memakai bintang penghargaan sebagai pasukan pengawal (Eerewacht).
- No.
33: Pembentukan Dewan Minahasa (1825). * Penampilan Residen pertama
Menado, Tuan Pietermaat, bersama seorang warga Belanda dan lima
Kepala Distrik.
- Mereka digambarkan duduk
mengelilingi Meja Hijau di atas kereta (gerobak), melambangkan
awal mula Landraad (Dewan Pertanahan).
- No.
34: Korps Musik Tondano.
BAGIAN VI: KONTRIBUSI MILITER & PERTANIAN (PERANG
DIPONEGORO)
Penghormatan kepada para pemimpin Minahasa yang terlibat
dalam sejarah militer dan ekonomi.
- No.
35: Perwira Sukarelawan Minahasa (Perang Jawa 1829). * Barisan Kepala Distrik dan Kepala Negeri
dalam seragam Perwira (Mayor Besar, Kapten, Letnan, dan Ajudan).
- Tokoh-tokoh yang diwakili antara
lain: Tuan-tuan Dotulong, Sigar, Inkiriwang, Supit, dll., diikuti
oleh para prajurit berjalan kaki.
- No. 36: Tjakalele Kakas. Tarian perang khas suku Kakas.
- No.
37: Alegori Pertanian & Mapalus. * Peragaan pengenalan Sistem
Budidaya (Cultuurstelsel).
- Menampilkan
meja-meja pikoelan berisi hasil bumi, diikuti kelompok tani pria dan
wanita yang memeragakan budaya Mapalus dengan iringan musik
tradisional Tondano.
- No. 38: Zangclub van Tondano. Klub menyanyi dari Tondano.
- No. 39: Pajoengfeesten (Pesta Payung
1859). * Sebelas
Kepala Distrik mengenakan Jas Ekor (frak) dengan payung berhiaskan
emas di dalam kereta kuda.
- Prosesi
ini disambut dengan dentuman sembilan tembakan meriam sebagai tanda
martabat.
BAGIAN VII: SEJARAH PENDIDIKAN & ILMU PENGETAHUAN
(DISTRIK TOMOHON)
Segmen nomor 40 hingga 54 diorganisir oleh Distrik
Tomohon, menggambarkan evolusi sekolah di Minahasa.
- No.
40: Pasukan Kehormatan Tomohon. Barisan tentara dengan lencana khusus.
- No.
41: Klub Menyanyi Woloan.
- No.
42: Simbol Ilmu Pengetahuan. * Sebuah bola dunia yang dihinggapi
Burung Hantu.
- Penggambaran
sekolah awal dengan Guru asal Ambon dan pesuruh (Marinjoe) tahun
1819.
- Menampilkan alat tulis kuno: daun
pisang muda lipat dan papan tulis kayu telur (Kajoe Teloer).
- Kronologi
Sekolah (No. 43 - 51): Barisan siswa mewakili sejarah berdirinya:
- Sekolah
Dasar Eropa (1824), Sekolah Masyarakat (1831), Sekolah Pelatihan Guru
(1852/1886), Sekolah Utama Tondano (1864), hingga Sekolah Katolik (1876)
dan Sekolah Swasta Putri.
- No.
52: Tokoh L. Mangindaan. Penghormatan kepada Bapak L. Mangindaan,
orang Minahasa pertama yang menempuh pendidikan di Eropa dan menjadi guru
besar di Tondano (1856-1885).
- No.
53: Musik Roeroekan.
- No.
54: Pasukan Komando Pelajar (1895). Diperagakan oleh siswa Sekolah
Negeri No. 1 Tomohon.
BAGIAN VIII: PENUTUP
- No.
55: Kabesaran Distrik Toulour. Pasukan kebesaran penutup.
- No.
56: Milisi Minahasa (1827). Penggambaran pembentukan milisi pertama di
tanah Minahasa.
Berikut adalah susunan dan penyempurnaan bagian terakhir
dari Program Prosesi Sejarah dan Alegoris Menado 1923. Bagian ini
mencakup sejarah militer warga (Schutterij), perkembangan pendidikan formal,
serta puncak perayaan Zaman Baru (Era Ratu Wilhelmina).
BAGIAN IX: MILISI WARGA & SEJARAH PERTAHANAN (BURGERS
MENADO)
Segmen nomor 56 hingga 59 diorganisir oleh kelompok
"Burgers Menado" (Warga Kota).
- No.
56: Pembentukan Schutterij (1827).
- Menampilkan 12 penembak dengan
kostum militer tertua, dibagi menjadi:
- 4
penembak dengan senapan kuno.
- 4
prajurit dengan tombak.
- 4
kru artileri dengan Lela (meriam kecil tradisional).
- No.
57: Kemenangan Kalinaoen (1857).
- Menggambarkan
kembalinya milisi setelah mengalahkan bajak laut Mindanao.
- Prosesi:
4 penembak di depan (dua di antaranya membawa "kepala musuh"
sebagai simbol kemenangan masa lalu), 4 tawanan yang mewakili bajak laut
(mengenakan Tjidako/cawat), dan 4 penembak penjaga belakang.
- No.
58: Ekspedisi Gorontalo (1870).
- Menggambarkan keberangkatan milisi
untuk memadamkan pemberontakan Panipi.
- Menampilkan replika perahu dayung
dengan 4 penembak berpakaian seragam Schutterij kuno lengkap dengan sabuk
peluru.
- No.
59: Musik Bekas Klub Menembak Menado.
BAGIAN X:
HUBUNGAN INTERNASIONAL & TOKOH PENDIDIKAN
Segmen ini
menampilkan hubungan Minahasa dengan dunia Eropa.
- No.
60: Alegori Perawan Belanda & Provinsi.
- Menampilkan sosok "Perawan
Belanda" yang didampingi perwakilan kota Amsterdam dan Den Haag,
sebelas provinsi Belanda, wilayah Timur & Barat, serta Minahasa.
- No.
61: Kedatangan Antonio Galvano (1538).
- Penggambaran
sejarah kedatangan Gubernur Portugis Maluku ke wilayah Nusantara bagian
Timur.
- Catatan: Segmen 60 dan 61 diperankan
oleh warga Eropa (Nona, Nyonya, dan Tuan-tuan Eropa) di Menado.
- No.
52 (Revisi): Penghormatan L. Mangindaan.
- Penampilan sosok perwakilan almarhum
L. Mangindaan, orang Minahasa pertama yang mengenyam pendidikan di
Belanda dan menjadi guru legendaris di Hoofdenschool serta Kweekschool
Tondano (1856-1885).
- No.
53: Musik Roeroekan.
BAGIAN XI: ERA BARU – PENOBATAN RATU WILHELMINA
Puncak prosesi yang melambangkan kesetiaan dan kemajuan
Minahasa di bawah pemerintahan Ratu Wilhelmina.
- No.
62: Peringatan Penobatan 1898.
- Sebuah
mobil dihias membawa Patung Dada Yang Mulia Ratu Wilhelmina.
- Di
dalam mobil duduk 18 orang yang mewakili para Kepala Distrik lama dari
seluruh wilayah Minahasa, mengenakan busana kebesaran (jas ekor/frak).
- Daftar
18 Distrik yang Diwakili:
- Menado
- Bantik
- Tomohon
- Sarongsong
- Maumbi
- Toulimambot
- Touliang
- Tonsea
- Langowan
- Kawangkoan
- Tapa
(Tanpa)
- Tombasian
- Remboken
- Ratahan
- Tonsawang
- Tompasso
- Kakaskassen
- Tombariri
Setiap perwakilan membawa perisai bertuliskan nama
distrik masing-masing sebagai simbol persatuan Minahasa.
RINGKASAN URUTAN PROSESI:
|
Bagian |
Tema Utama |
Penyelenggara |
|
I |
Budaya Purba & Tradisi |
Distrik Ratahan |
|
II |
Legenda Pingkan-Matindas & Spanyol |
Distrik Amurang |
|
III |
Perjanjian VOC & Abad 17 |
Distrik Tomohon |
|
IV |
Administrasi Inggris (1812) |
Distrik Toulour |
|
V |
Era van der Capellen (1824) |
Distrik Toulour |
|
VI |
Perang Jawa & Kemakmuran Tani |
Distrik Toulour |
|
VII |
Sejarah Pendidikan & Sekolah |
Distrik Tomohon |
|
VIII |
Sejarah Militer Schutterij |
Warga Menado |
|
IX |
Penobatan Ratu & 18 Distrik |
Gabungan/Eropa |
BAGIAN XII: PUNCAK PENGHORMATAN & LEMBAGA MODERN
Melanjutkan iring-iringan Patung Dada Ratu Wilhelmina.
- Pengawal
Kehormatan: Mobil patung Ratu dikelilingi oleh 24 Penunggang Kuda
(Hukum Tua) yang mengenakan selempang oranye, dengan pilihan kuda
berwarna abu-abu atau Isabella (krem).
- No.
63 - 66: Paduan Suara & Musik.
- Lagu kebangsaan Belanda oleh
gadis-gadis muda.
- Korps
Musik Tonsea (alat musik tiup).
- Barisan
veteran Minahasa berpangkat ksatria (penerima lencana kehormatan).
- Paduan suara lagu-lagu Melayu dan
Kidung.
- No.
67 - 70: Pemuda & Kreativitas.
- Jong
Minahasa: Para pemuda di atas truk yang bernyanyi dan bermain musik.
- Sekolah
Pertukangan (Ambachtsschool) Wasian: Truk berisi para pekerja
terampil.
- Orkestra
Gesek Menado.
- No.
71 - 81: Pendidikan & Institusi.
- Perwakilan
sekolah-sekolah: Sekolah Putri Menado, Sekolah Pertanian Tondano, M.U.L.O
Tondano, dan sekolah-sekolah khusus lainnya.
- Dewan
Kota (Gemeenteraad) Menado.
- Minahassaraad
(Dewan Minahasa).
- Pusat
Pelatihan Guru Katolik Woloan.
- No.
82: Penghormatan Gubernur Jenderal. Sebuah truk dengan replika Gapura
Kemenangan untuk menghormati kunjungan Jenderal Limburg Stirum.
- No.
84 - 88: Sektor Ekonomi & Kesehatan.
- Alegori perbankan: Bank Jawa, Bank
Tabungan, Escompto, dan Volksbank Tonsea.
- Rumah
Sakit Katolik Tomohon.
- Replika
Pesawat Poulet: Mengenang sejarah penerbangan pertama di Minahasa.
- No.
89: Perawan 18 Distrik: Para wanita yang membawa perisai nama-nama
distrik, diiringi musik dan pantun Melayu.
BAGIAN XIII: DIVISI INTERNASIONAL (TIONGHOA & ARAB)
Menunjukkan
keberagaman penduduk di Menado.
- Bagian
Tionghoa (No. 93 - 97):
- Iring-iringan bendera Belanda dan
bendera Republik Tiongkok, diikuti tarian Barongsai (Matjan).
- Kereta Kaisar: Menggambarkan keagungan dinasti
Tiongkok yang memerintah bijaksana.
- Sekolah Tionghoa-Belanda (HCS)
Menado.
- Mobil alegori empat pilar masyarakat
Tiongkok: Pejabat, Petani, Pengrajin, dan Pedagang.
- Bagian
Arab (No. 99):
- Mobil
berhias mahkota dan bunga yang membawa tiga anak-anak, melambangkan
komunitas Arab di Minahasa.
BAGIAN XIV: MITOLOGI ASAL-USUL (TOAR & LUMIMUUT)
Bagian ini sering ditempatkan sebagai pembuka atau bagian
sakral yang menceritakan lahirnya bangsa Minahasa.
- Kisah
Penciptaan:
- Lumimuut
di Bukit Wulur Mahatus: Memohon kepada Ilahi agar dikaruniai
keturunan.
- Lahirnya
Toar: Anak dari Lumimuut.
- Ujian
Tongkat (Toeis & Asa): Lumimuut memberikan tongkat dari tanaman Toeis
(yang mudah tumbuh) kepada Toar dan menyimpan tongkat Asa (yang
tidak tumbuh) untuk dirinya sendiri. Ketika mereka bertemu kembali
setelah berkelana, perbedaan panjang tongkat tersebut (karena yang satu
tumbuh) menjadi alasan mereka akhirnya menjadi suami-istri untuk mengisi
bumi.
- Sembilan
Keturunan: Toar dan Lumimuut beserta sembilan anak mereka sebagai
nenek moyang orang Minahasa.
- No.
6: Watu Pinawetengan.
- Penggambaran
peristiwa di batu besar (Kawangkoan) di mana sembilan perwakilan suku
membagi tanah Minahasa menjadi empat suku utama untuk menghindari
kepadatan penduduk.
- Upacara
Fosso Manarongsong: Demonstrasi ritual keagamaan kuno untuk memohon
berkat bagi keluarga (pernikahan/kesembuhan) yang dipimpin oleh Walian
Toea.
BAGIAN XV: PENUTUP TRADISIONAL
- Potoeasan
& Teferoesan: Penampilan para tetua adat yang ahli dalam misteri
agama dan panglima perang pemberani.
- Kolanus
(Raja): Penampilan busana raja dengan kain tenun tradisional Patela.
DAFTAR URUTAN
KENDARAAN (TRUK/AUTO)
|
Nomor |
Representasi |
Keterangan |
|
62 |
Patung Ratu Wilhelmina |
Dikawal 24 penunggang kuda |
|
68 |
Jong Minahasa |
Truk musik dan
nyanyian pemuda |
|
69 |
Ambachtsschool Wasian |
Menampilkan kemahiran tukang |
|
73 |
M.U.L.O Tondano |
Anak sekolah menengah |
|
82 |
Gapura Kemenangan |
Replika kunjungan Gubernur Jenderal |
|
84 |
Gabungan Perbankan |
Simbol stabilitas ekonomi |
|
94 |
Kekaisaran Tiongkok |
Bagian dari Divisi Tionghoa |
Pemerintahan Ratu
Wilhelmina (1890–1948) adalah salah satu periode paling krusial dan terlama
dalam sejarah Kerajaan Belanda. Ia naik takhta pada usia 10 tahun setelah
kematian ayahnya, Willem III, namun kekuasaannya dijalankan oleh ibunya, Ratu
Emma, sebagai wali hingga Wilhelmina berusia 18 tahun pada 1898.
1. Kebijakan Terhadap Hindia Belanda (Indonesia)
Di masa kepemimpinan Wilhelmina, kebijakan kolonial Belanda
mengalami pergeseran besar dari eksploitasi murni menuju tanggung jawab moral
yang dikenal sebagai Politik Etis (Ethische Politiek).
- Pidato
Takhta 1901: Dalam pidatonya, Wilhelmina menyatakan bahwa Belanda
memiliki "panggilan moral" dan utang budi (Eereschuld)
terhadap rakyat Hindia Belanda. Hal ini melahirkan program Trias van
Deventer:
- Irigasi:
Pembangunan sarana pengairan untuk pertanian rakyat.
- Emigrasi/Transmigrasi:
Pemindahan penduduk dari Jawa yang padat ke luar pulau.
- Edukasi:
Pembukaan sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi (yang kelak melahirkan
kaum intelektual pergerakan nasional Indonesia).
- Sikap
terhadap Kemerdekaan: Meskipun memulai Politik Etis, Wilhelmina
dikenal sebagai penguasa yang sangat enggan melepaskan Indonesia. Baginya,
Indonesia adalah "permata mahkota" Belanda. Pasca-Perang Dunia
II, ia sempat menjanjikan status persemakmuran dalam pidatonya tahun 1942
dari pengasingan, namun ia tetap menolak pengakuan kedaulatan penuh hingga
akhirnya turun takhta.
2. Peran dalam Dua Perang Dunia
Wilhelmina memimpin Belanda melewati dua krisis global
terbesar abad ke-20:
- Perang
Dunia I (1914–1918): Belanda berhasil menjaga status netral.
Wilhelmina berperan aktif dalam diplomasi dan memperkuat pertahanan
perbatasan untuk mencegah invasi. Ia juga memberikan suaka kepada Kaisar
Wilhelm II dari Jerman setelah perang usai, meskipun ditekan oleh pihak
Sekutu.
- Perang Dunia II (1939–1945): Ketika Jerman menyerbu Belanda pada
1940, Wilhelmina melarikan diri ke London dan membentuk pemerintahan
darurat di pengasingan. Melalui siaran Radio Oranje, ia menjadi
simbol perlawanan (Dutch Resistance) yang membakar semangat rakyat
Belanda untuk melawan pendudukan Nazi.
3. Karakteristik Kepemimpinan
- Tegas
dan Berwibawa: Ia dikenal sebagai "satu-satunya pria di
kabinet" oleh Winston Churchill karena ketegasan dan keberaniannya.
Ia sering berkonflik dengan menteri-menterinya jika merasa kebijakan
mereka lemah.
- Modernisasi
Ekonomi: Di bawah arahannya, Belanda bertransformasi menjadi negara
industri. Ia sendiri merupakan investor yang cerdas dan menjadi salah satu
wanita terkaya di dunia pada masanya melalui saham di perusahaan seperti Royal
Dutch Shell.
- Simbol
Persatuan: Ia berhasil menyatukan rakyat Belanda yang terkotak-kotak
secara politik dan agama melalui citra monarki yang merakyat namun tetap
bermartabat.
Garis Waktu Pemerintahan Ratu Wilhelmina
|
Tahun |
Peristiwa Penting |
|
1890 |
Naik takhta (di bawah perwalian Ratu Emma hingga 1898). |
|
1901 |
Pengumuman Politik Etis untuk Hindia Belanda. |
|
1914-1918 |
Menjaga netralitas Belanda selama Perang Dunia I. |
|
1940 |
Melarikan diri
ke London saat invasi Nazi Jerman. |
|
1942 |
Pidato menjanjikan otonomi bagi wilayah jajahan
pasca-perang. |
|
1945 |
Kembali ke Belanda setelah pembebasan dari Jerman. |
|
1948 |
Abdikasi (turun takhta) dan menyerahkan kekuasaan
kepada putrinya, Juliana. |
Akhir Masa Jabatan
Ratu Wilhelmina turun takhta pada tahun 1948 setelah
memimpin selama 58 tahun. Keputusannya untuk abdikasi dipicu oleh kondisi
kesehatan yang menurun serta tekanan politik akibat konflik kemerdekaan
Indonesia yang menguras energi dan moral bangsa Belanda. Ia wafat pada tahun 1962 dan dikenang sebagai
"Ibu Bangsa" oleh rakyat Belanda.


