Lagu Genjer-Genjer di takuti di masa ORDE BARU

 

SEJARAH LAGU GENJER-GENJER, SEBUAH LAGU YANG DITAKUTI DI MASA ORDE BARU.

Mohamad Arif


Genjer-genjer: Sejarah Lagu Rakyat, Politisasi Budaya, dan Memori Kolektif Indonesia
Pendahuluan
Lagu Genjer-genjer merupakan salah satu karya musik rakyat Indonesia yang mengalami perubahan makna paling drastis dalam sejarah modern. Diciptakan pada masa pendudukan Jepang sebagai refleksi penderitaan rakyat kecil, lagu ini kemudian mengalami politisasi, stigmatisasi, dan pelarangan panjang pada era Orde Baru. Akibatnya, Genjer-genjer tidak hanya menjadi lagu, tetapi juga simbol konflik ideologi, kekerasan tafsir sejarah, dan represi memori budaya.
Artikel ini bertujuan mengkaji Genjer-genjer secara historis-kritis dengan pendekatan sejarah modern, dimulai dari kajian linguistik istilah genjer, konteks sosial penciptaannya, profil pencipta lagu, hingga dinamika politisasi dan posisi lagu ini dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia.


Kajian Linguistik Kata Genjer
Secara etimologis, kata genjer berasal dari bahasa Jawa, khususnya dialek Jawa Timur dan wilayah Banyuwangi. Kata ini merujuk pada tumbuhan air liar yang tumbuh di sawah, rawa, dan perairan dangkal, dengan nama ilmiah Limnocharis flava. Dalam kajian linguistik, genjer merupakan nomina konkret yang menunjuk pada objek alam yang dekat dengan kehidupan agraris masyarakat pedesaan.
Bentuk genjer-genjer adalah reduplikasi penuh, suatu proses morfologis yang lazim dalam bahasa Jawa. Reduplikasi ini berfungsi untuk:
Memberi penekanan makna,
Menunjukkan kelimpahan,
Menciptakan efek ritmis dalam tuturan lisan dan nyanyian.
Dalam konteks sosial Jawa, ungkapan “mangan genjer” mengandung makna konotatif tentang kehidupan serba kekurangan. Dengan demikian, secara linguistik dan semantik, kata genjer telah mengandung muatan sosial-ekonomi jauh sebelum menjadi simbol politik.

Genjer dalam Konteks Sosial-Ekonomi Rakyat
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan Jawa, mengalami krisis pangan berat. Kebijakan penyerahan padi, eksploitasi tenaga kerja melalui sistem romusha, dan kerusakan sistem pertanian menyebabkan kelaparan meluas.
Dalam situasi tersebut, genjer menjadi sumber pangan alternatif bagi rakyat kecil. Ia mudah diperoleh, tidak memerlukan biaya, dan dapat diolah secara sederhana. Dalam praktik keseharian, genjer merepresentasikan strategi bertahan hidup masyarakat miskin sekaligus simbol ketimpangan struktural yang dialami petani dan buruh tani.

Sejarah Penciptaan Lagu Genjer-genjer
Konteks Historis
Lagu Genjer-genjer diciptakan sekitar tahun 1943, pada puncak penderitaan rakyat akibat pendudukan Jepang. Lagu ini lahir dari pengalaman langsung masyarakat Banyuwangi dan Jawa Timur, yang menghadapi kelaparan, kerja paksa, dan penghisapan ekonomi secara sistematis.
Berbeda dengan lagu perjuangan yang bersifat heroik dan nasionalistik, Genjer-genjer menggunakan pendekatan realisme sosial. Liriknya menggambarkan aktivitas sederhana rakyat miskin—memetik genjer, memasaknya, dan menjadikannya makanan sehari-hari.
Fungsi Sosial Awal
Pada fase awal kemunculannya, Genjer-genjer berfungsi sebagai:
Media ekspresi penderitaan rakyat,
Kritik sosial tersirat terhadap ketidakadilan,
Lagu solidaritas komunitas petani.
Lagu ini menyebar secara lisan dan menjadi bagian dari kesenian rakyat seperti ludruk dan gandrung.

Profil Pencipta Lagu: Muhammad Arief
Pencipta lagu Genjer-genjer adalah Muhammad Arief, seorang seniman rakyat asal Banyuwangi, Jawa Timur. Ia berasal dari lingkungan budaya Using (Osing), yang memiliki tradisi kuat dalam seni lisan, musik rakyat, dan ekspresi budaya agraris.
Muhammad Arief bukan tokoh politik dan tidak dikenal sebagai aktivis partai. Ia adalah seniman akar rumput yang hidup dekat dengan realitas sosial masyarakat petani. Genjer-genjer diciptakannya sebagai refleksi atas kondisi hidup rakyat pada masa pendudukan Jepang, bukan sebagai alat propaganda ideologis.
Keterbatasan dokumentasi tertulis mengenai kehidupan Muhammad Arief merupakan ciri umum seniman tradisi lisan. Namun, berbagai kajian sejarah dan budaya sepakat bahwa lagu ini lahir dari pengalaman kolektif rakyat, dengan Arief sebagai penggubah utamanya.

Politisasi Lagu dan Perubahan Makna
Setelah kemerdekaan Indonesia, Genjer-genjer tetap populer sebagai lagu rakyat. Namun, pada dekade 1950–1960-an, lagu ini sering dinyanyikan dalam kegiatan organisasi buruh dan tani. Dalam konteks inilah Genjer-genjer mengalami politisasi dan mulai diasosiasikan dengan gerakan kiri.
Pasca peristiwa 1965, lagu ini mengalami stigmatisasi ekstrem. Rezim Orde Baru melabelinya sebagai “lagu terlarang” dan simbol komunisme. Akibatnya, Genjer-genjer dilarang dinyanyikan di ruang publik dan menjadi sumber ketakutan sosial.
Ironisnya, lagu ini justru dipopulerkan secara visual melalui film propaganda negara, tetapi dalam kerangka demonisasi dan penyederhanaan makna sejarahnya.

Genjer-genjer dalam Perspektif Sejarah Modern
Dalam kajian sejarah modern dan studi memori, Genjer-genjer dipahami sebagai contoh bagaimana karya budaya dapat mengalami kekerasan tafsir akibat kepentingan politik. Lagu ini bukan hanya produk seni, melainkan juga dokumen sosial yang merekam pengalaman rakyat kecil.
Pasca Reformasi 1998, Genjer-genjer mulai dikaji kembali secara kritis oleh sejarawan, antropolog, dan musikolog sebagai bagian dari upaya merekonstruksi sejarah budaya Indonesia yang lebih adil dan kontekstual.

Kesimpulan
Lagu Genjer-genjer adalah representasi kuat dari hubungan antara seni, rakyat, dan kekuasaan. Berangkat dari kata sederhana yang menunjuk pada tumbuhan liar, lagu ini tumbuh menjadi simbol penderitaan, perlawanan diam, dan akhirnya korban politisasi sejarah.
Muhammad Arief, sebagai penciptanya, merepresentasikan seniman rakyat yang karyanya lahir dari pengalaman hidup, bukan dari agenda ideologi. Sejarah Genjer-genjer mengingatkan bahwa seni rakyat tidak pernah berdiri di ruang hampa, dan bahwa makna budaya selalu diperebutkan dalam arena kekuasaan.

Daftar Pustaka
Anderson, Benedict R. O’G.Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1990.
Cribb, Robert.The Indonesian Killings of 1965–1966: Studies from Java and Bali. Clayton: Monash University, 1990.
Geertz, Clifford.The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.
Heryanto, Ariel.State Terrorism and Political Identity in Indonesia: Fatally Belonging. London: Routledge, 2006.
Kartodirdjo, Sartono.Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia, 1992.
Koentjaraningrat.Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka, 1984.
Lindsay, Jennifer.Javanese Gamelan: Traditional Orchestra of Indonesia. Oxford: Oxford University Press, 1992.
McGregor, Katharine.History in Uniform: Military Ideology and the Construction of Indonesia’s Past. Honolulu: University of Hawai‘i Press, 2007.
Ricklefs, M. C.A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford: Stanford University Press, 2008.
Supardi, Nunus.“Seni Rakyat dan Politik Kebudayaan Indonesia.” Jurnal Sejarah dan Budaya, Vol. 7, No. 2, 2013.

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

PERIODISASI SEJARAH MINAHASA DAN CIKAL BAKAL PENGGUNAAN NAMA MINAHASA

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA