SEJARAH LAGU NATAL " KESUKAAN BESAR " "African-American Spiritual Song"

 

SEJARAH  LAGU  KESUKAAN  BESAR

John Wesley Work Jr. (August 6, 1871 – September 7, 1925) 


Nortier Simanungkalit (17 Desember 1929 – 9 Maret 2012 ) 



 

Simfoni Pembebasan: Evolusi "Go Tell It on the Mountain" dari Mississippi hingga Tanah Batak

Lagu Natal "Kesukaan Besar" (atau "Go Tell It on the Mountain") bukan sekadar nyanyian liturgis musiman. Ia adalah dokumen sejarah hidup yang merekam jejak penderitaan, pelestarian budaya, dan adaptasi lintas benua. Dari rahim perbudakan Amerika hingga menjadi standar paduan suara di tangan komposer Batak, lagu ini membawa pesan universal tentang keberanian.

 

I. Akar Spiritual: Musik sebagai Senjata dan Doa (Abad ke-19)

Secara historis, lagu ini dikategorikan sebagai "African-American Spiritual". Berbeda dengan Himne Eropa yang tertulis rapi, lagu spiritual lahir dari tradisi lisan budak-budak Afrika di Amerika Serikat bagian selatan sebelum Perang Saudara (pre-1865).

  • Makna Tersembunyi: Bagi para budak, "gunung" sering kali merupakan kode dalam Underground Railroad (jalur pelarian budak) atau simbol tempat tinggi di mana suara kebebasan bisa terdengar tanpa gangguan pengawas perkebunan.
  • Pola Musik: Menggunakan pola Call and Response (Panggil dan Jawab). Pola ini merupakan warisan struktur musik tradisional Afrika Barat yang kemudian menjadi fondasi musik Blues, Jazz, dan Gospel.

II. John Wesley Work Jr. dan Penyelamatan Literasi (1907)

Lagu ini mungkin akan hilang jika tidak ada upaya kodifikasi dari John Wesley Work Jr. (1871–1925). Ia adalah direktur musik di Fisk University, Nashville, dan merupakan pionir pengumpul musik rakyat kulit hitam.

  • Publikasi Kunci: Bersama saudaranya, Frederick J. Work, ia menerbitkan buku "New Jubilee Songs as Sung by the Fisk Jubilee Singers" pada tahun 1907. Dalam buku inilah untuk pertama kalinya "Go Tell It on the Mountain" muncul dalam notasi musik modern.
  • Kontribusi Kreatif: Work Jr. sering kali dianggap sebagai penulis bait-bait (stanzas) yang menceritakan detail Alkitab (kisah para gembala), sementara bagian refrainnya ia ambil dari tradisi lisan yang sudah ada sejak era perbudakan.

III. Jembatan Budaya: Dari Fisk ke Indonesia

Bagaimana lagu ini sampai ke Indonesia? Jalurnya melalui misi pekabaran Injil dan penyebaran buku nyanyian gereja global di awal abad ke-20. Namun, lagu ini menemukan "rumah kedua" yang sangat cocok di Tanah Batak.

  • Kesesuaian Tipografi: Secara geografis, wilayah Tapanuli yang berbukit-bukit membuat lirik "Siarkan di gunung" terasa sangat kontekstual bagi jemaat Batak dibandingkan jemaat di dataran rendah.
  • N. Simanungkalit dan Standarisasi Paduan Suara: Nortier Simanungkalit (1929–2012) memainkan peran krusial. Dalam berbagai kumpulan aransemennya untuk paduan suara (seperti dalam buku-buku terbitan Yamuger), ia mengadaptasi ritme spiritual yang dinamis ini ke dalam harmoni SATB yang megah. Simanungkalit memahami bahwa vokal orang Batak memiliki tessitura (jangkauan suara) yang tinggi dan bertenaga, sangat cocok dengan klimaks lagu ini pada bagian refrain.

IV. Analisis Musikalitas Batak-Spiritual

Komponis Batak sering kali memberikan interpretasi "Gospel" yang unik:

  1. Sinkopasi: Ketukan yang tidak teratur (up-beat) pada lagu ini menyerupai pola ritme Gondang Sabangunan, sehingga jemaat Batak dapat menyanyikannya dengan alunan tubuh yang natural.
  2. Harmoni: Penggunaan akor-akor dominan ketujuh (dominant 7th) yang sering muncul dalam musik Gospel Amerika diadopsi secara alami dalam aransemen paduan suara Batak, menciptakan nuansa kemenangan.

V. Sumber Literatur dan Referensi

Untuk melacak sejarah lagu ini lebih lanjut, berikut adalah referensi kunci yang digunakan dalam studi musikologi gereja:

Sumber Literatur

Penulis/Editor

Tahun Terbit

Fokus Bahasan

New Jubilee Songs as Sung by the Fisk Jubilee Singers

John Wesley Work Jr.

1907

Publikasi pertama notasi musik lagu ini.

The Spirituals and the Blues: An Interpretation

James H. Cone

1972

Analisis teologis dan sejarah perlawanan dalam lagu spiritual.

Kidung Jemaat (KJ) No. 120

Yamuger (Yayasan Musik Gereja)

1984

Adaptasi lirik dan melodi ke dalam Bahasa Indonesia.

Karya Musik Gerejawi N. Simanungkalit

N. Simanungkalit

Berbagai Edisi

Koleksi aransemen paduan suara yang mempopulerkan lagu ini di Indonesia.

Encyclopedia of African American Music

Emmett G. Price III, dkk.

2010

Sejarah evolusi musik spiritual menjadi musik populer.


Frederick Jerome Work (sekitar 1878/1879 – 1942) adalah seorang kolektor, penyusun (arranger), dan komposer musik Amerika yang memiliki peran vital dalam pelestarian lagu-lagu spiritual Afrika-Amerika. Ia merupakan adik dari John Wesley Work Jr. dan paman dari John Wesley Work III.

Berikut adalah sejarah hidup dan kontribusi Frederick J. Work:

1. Kehidupan Awal dan Pendidikan

Frederick Jerome Work lahir di Nashville, Tennessee. Ia berasal dari keluarga musisi; ayahnya adalah seorang direktur paduan suara gereja di Nashville. Frederick menempuh pendidikan di Fisk University, sebuah institusi bersejarah bagi warga kulit hitam, dan lulus di bidang musik pada tahun 1903.

2. Kolektor Lagu Spiritual di Lapangan

Berbeda dengan banyak akademisi saat itu, Frederick terjun langsung ke lapangan untuk mendokumentasikan musik rakyat.

  • Transkripsi Lapangan: Pada musim panas tahun 1900 dan 1901, ia dibayar oleh Fisk University untuk menghadiri pertemuan-pertemuan ibadah (camp meetings) dan mencatat serta mentranskripsikan lagu-lagu spiritual yang dinyanyikan oleh masyarakat umum.
  • Keaslian Aransemen: Ia dikenal karena kemampuannya menyusun aransemen yang tetap menjaga keaslian bentuk asli lagu-lagu tersebut, di saat banyak orang lain mencoba mengubahnya agar terdengar lebih modern atau kebarat-baratan.

3. Publikasi Monumental

Frederick J. Work menerbitkan beberapa koleksi penting yang menjadi sumber rujukan dunia untuk lagu spiritual:

  • New Jubilee Songs (1902): Buku ini disusun dan diharmonisasikan oleh Frederick saat ia masih sangat muda. Edisi keduanya diterbitkan pada tahun 1904.
  • Folk Songs of the American Negro (1907): Buku ini disusun bersama kakaknya, John Wesley Work Jr. Dalam buku inilah lagu "Go Tell It on the Mountain" pertama kali diterbitkan secara resmi dalam bentuk notasi musik.

4. Karier sebagai Pendidik dan Dirigen

Sepanjang hidupnya, Frederick adalah seorang pendidik musik yang berdedikasi:

  • Ia mengajar musik di berbagai sekolah menengah dan memimpin paduan suara pemuda yang diakui kualitasnya di Nashville, Kansas City, dan Pine Bluff.
  • Selama 20 tahun terakhir kariernya, ia mengajar di Bordentown, New Jersey, hingga ia wafat pada Januari 1942.

5. Warisan bagi "Go Tell It on the Mountain"

Meskipun John Wesley Work Jr. sering disebut sebagai tokoh utama, Frederick J. Work adalah orang yang melakukan harmonisasi teknis pada musiknya. Tanpa ketelitian Frederick dalam mentranskripsikan melodi-melodi dari tradisi lisan menjadi lembaran musik, lagu-lagu Natal yang kita kenal sekarang mungkin tidak akan pernah mencapai standar internasional.

 

Ringkasan Data Sejarah:

  • Nama Lengkap: Frederick Jerome Work
  • Lahir: 11 Agustus 1878 (atau 1879) di Nashville, Tennessee.
  • Wafat: 24 Januari 1942 di Bordentown, New Jersey.
  • Karya Kunci: New Jubilee Songs (1902), Folk Songs of the American Negro (1907).

 

John Wesley Work Jr. (1871–1925) adalah tokoh sentral dalam sejarah musik Amerika yang menjembatani kesenjangan antara tradisi lisan budak Afrika-Amerika dengan dunia musik akademis. Ia dikenal sebagai sarjana, kolektor, dan komposer kulit hitam pertama yang secara sistematis melestarikan lagu-lagu spiritual agar tidak punah.

Berikut adalah sejarah hidup dan dedikasi John Wesley Work Jr.:


1. Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir pada 6 Agustus 1871 di Nashville, Tennessee, John Wesley Work Jr. tumbuh di lingkungan yang kental dengan musik. Ayahnya adalah seorang pemimpin paduan suara gereja yang sering menulis lagu untuk kelompok-kelompok vokal profesional.

Work Jr. menempuh pendidikan di Fisk University, sebuah institusi sejarah bagi warga kulit hitam (HBCU) di Nashville. Ia lulus pada tahun 1895 dengan gelar di bidang Bahasa Latin dan Sejarah, namun hasrat utamanya selalu tertuju pada musik rakyat kaumnya.

2. Penyelamat Lagu-Lagu Spiritual

Setelah lulus, Work Jr. mengajar di Fisk University, tetapi ia menghabiskan waktu luangnya untuk meneliti lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para budak di perkebunan-perkebunan Selatan.

Pada masa itu, banyak warga kulit hitam yang telah merdeka ingin melupakan lagu-lagu spiritual karena dianggap sebagai pengingat masa perbudakan yang pahit. Namun, Work Jr. memiliki visi berbeda: ia melihat lagu-lagu tersebut sebagai karya seni agung dan identitas spiritual yang harus dihormati.

3. Karya Monumental: "New Jubilee Songs" (1907)

Bersama saudaranya, Frederick J. Work, John Wesley menerbitkan buku-buku yang sangat penting bagi sejarah musik dunia:

  • New Jubilee Songs as Sung by the Fisk Jubilee Singers (1907): Di sinilah lagu "Go Tell It on the Mountain" (Kesukaan Besar) pertama kali dibakukan dalam bentuk notasi musik modern.
  • Folk Songs of the American Negro (1915): Buku ini adalah salah satu studi sosiologis dan musikologis pertama mengenai musik Afrika-Amerika.

Tanpa upaya kodifikasi dari Work Jr., melodi-melodi seperti Go Tell It on the Mountain, Swing Low, Sweet Chariot, dan Steal Away mungkin akan hilang seiring berjalannya waktu.

4. Direktur Fisk Jubilee Singers

Work Jr. menjabat sebagai direktur Fisk Jubilee Singers, kelompok paduan suara yang bertugas menggalang dana untuk universitas. Di bawah kepemimpinannya, kelompok ini menjadi terkenal secara internasional.

Ia tidak hanya melatih mereka secara vokal, tetapi juga mengajarkan martabat dan sejarah di balik setiap nada yang mereka nyanyikan. Ia memastikan bahwa lagu spiritual tidak dinyanyikan sebagai hiburan "minstrel" (komedi ejekan), melainkan sebagai nyanyian iman yang khidmat.

5. Warisan dan Akhir Hayat

John Wesley Work Jr. meninggal pada 7 September 1925. Meskipun ia menghadapi banyak tantangan rasial pada masanya, warisannya tetap hidup melalui:

  • Pelestarian Budaya: Ia membuktikan bahwa musik Afrika-Amerika memiliki nilai akademis dan teologis yang setara dengan musik klasik Eropa.
  • Inspirasi Komposer: Karyanya menjadi fondasi bagi komposer-komposer masa depan di seluruh dunia (termasuk para maestro di Indonesia) dalam menyusun aransemen paduan suara yang berbasis pada musik rakyat.
  • Tradisi Keluarga: Dedikasinya diteruskan oleh putranya, John Wesley Work III, yang juga menjadi komposer ternama dan melanjutkan penelitian musik ayahnya.

Ringkasan Profil

  • Nama: John Wesley Work Jr.
  • Lahir: 6 Agustus 1871 (Nashville, USA).
  • Wafat: 7 September 1925.
  • Peran Utama: Kolektor musik rakyat, Komposer, Profesor Latin.
  • Kontribusi Terbesar: Membukukan lagu "Go Tell It on the Mountain" ke dalam literatur musik dunia.


Nortier Simanungkalit (1929–2012), atau yang lebih dikenal sebagai N. Simanungkalit, adalah sosok fenomenal yang dijuluki sebagai "Bapak Paduan Suara Indonesia". Beliau adalah tokoh yang memberikan "identitas" pada musik paduan suara di Indonesia, menggabungkan teknik vokal Barat dengan jiwa musik Nusantara.

Berikut adalah sejarah lengkap perjalanan hidup dan dedikasi N. Simanungkalit:

 

1. Latar Belakang dan Masa Kecil

Nortier Simanungkalit lahir pada 17 Desember 1929 di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Tumbuh di tanah Batak yang kental dengan tradisi menyanyi di gereja (HKBP) menjadi fondasi utama musikalitasnya. Bakatnya sudah menonjol sejak kecil, di mana ia sangat peka terhadap harmoni suara.

2. Pendidikan dan Awal Karier

Meskipun dikenal sebagai maestro musik, latar belakang pendidikan formalnya sebenarnya adalah bidang pendidikan. Ia menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, gairahnya pada musik tak terbendung. Ia belajar musik secara otodidak dan melalui kursus-kursus, hingga akhirnya mendalami teknik komposisi dan dirigen.

3. Kontribusi Terbesar: Komposisi dan Aransemen

N. Simanungkalit adalah orang yang paling berjasa dalam menyusun standar paduan suara di Indonesia. Beberapa kontribusi utamanya meliputi:

  • Aransemen Lagu Rakyat: Beliau menggubah lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia (seperti Anju Au, O Ina Ni Keke, Yamko Rambe Yamko) ke dalam format empat suara (SATB—Sopran, Alto, Tenor, Bass). Hal ini membuat lagu daerah naik kelas dari sekadar lagu rakyat menjadi karya seni yang layak dipentaskan di panggung internasional.
  • Lagu-Lagu Patriotik dan Mars: Beliau adalah pencipta banyak mars dan himne untuk institusi negara, termasuk Mars Pemilu ("Pemilihan umum telah memanggil kita...") yang sangat ikonik sejak era Orde Baru hingga sekarang.
  • Paduan Suara Gerejawi: Sebagai orang Batak, pengaruhnya di musik gereja sangat besar. Ia banyak menerjemahkan dan mengaransemen lagu Natal dunia (seperti "Kesukaan Besar" atau "Go Tell It on the Mountain") ke dalam gaya yang bisa diterima oleh telinga masyarakat Indonesia, khususnya jemaat di Sumatera Utara.

4. Kiprah di Tingkat Nasional dan Internasional

  • Pelatih Tim Nasional: Beliau sering dipercaya memimpin paduan suara raksasa pada upacara bendera 17 Agustus di Istana Merdeka.
  • Diplomasi Budaya: Melalui paduan suara, ia membawa nama Indonesia ke kancah dunia. Ia sering menjadi juri di berbagai kompetisi paduan suara internasional dan membawa delegasi Indonesia meraih penghargaan.
  • Penulisan Buku: Ia menulis buku panduan teknik vokal dan paduan suara yang hingga kini masih menjadi referensi utama bagi para pelatih paduan suara di seluruh Indonesia. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Teknik Paduan Suara.

5. Ciri Khas Aransemen

Aransemen N. Simanungkalit memiliki ciri khas:

  1. Megah dan Gagah: Sering menggunakan harmoni yang tegas dan dinamika yang kuat.
  2. Karakter Vokal yang Kuat: Ia memahami bahwa vokal orang Indonesia (terutama Batak) memiliki kekuatan pada power dan kejernihan, sehingga ia sering menulis bagian Tenor dan Sopran yang cukup menantang namun indah.
  3. Nasionalisme: Hampir seluruh karyanya bernapaskan kecintaan pada tanah air dan Tuhan.

6. Akhir Hayat dan Penghargaan

N. Simanungkalit wafat pada 9 Maret 2012 di Jakarta dalam usia 82 tahun. Atas jasa-jasanya, ia menerima berbagai penghargaan dari pemerintah, termasuk Satyalancana Kebudayaan.


Sumber Literatur dan Referensi:

  • Buku: Teknik Paduan Suara oleh N. Simanungkalit (Penerbit Gramedia/Yamuger).
  • Jurnal Musik: Analisis Aransemen Paduan Suara N. Simanungkalit dalam berbagai tesis musikologi di ISI Yogyakarta dan Universitas Negeri Medan.
  • Arsip Nasional: Koleksi lagu-lagu Mars Pemilu dan dokumentasi Upacara Kemerdekaan RI.
  • Ensiklopedia Musik Indonesia: Catatan mengenai tokoh-tokoh musik nasional.

Hubungan dengan Lagu "Kesukaan Besar"

Dalam konteks tulisan sebelumnya, N. Simanungkalit adalah "jembatan" yang mempertemukan sejarah John Wesley Work Jr. dengan telinga pendengar di Indonesia. Aransemennya untuk lagu-lagu Natal spiritual membuat pesan kebebasan dari Amerika tersebut bergema dengan jiwa patriotik dan religiusitas lokal Indonesia.

 

 



 

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

PERIODISASI SEJARAH MINAHASA DAN CIKAL BAKAL PENGGUNAAN NAMA MINAHASA

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA