Dokumen VOC tentang : Kerajaan Kaidipang adalah milik Kerajaan Siau
Dokumen VOC
tentang : Kerajaan Kaidipang
adalah milik Kerajaan
Siau
SERANOS
KEPADA RAJA BINANKAL.
Surat Yang Mulia telah saya terima dengan baik, dan saat ini
saya memerlukan tanggapan lebih lanjut. Saya telah menyampaikan permohonan Yang
Mulia kepada Raja Siau, yang menjawab dengan kalimat: “Que la detiene por
Regones.” Penerjemah dapat menjelaskan makna ungkapan dalam bahasa Spanyol
tersebut, dan setelah itu saya akan membalas surat Yang Mulia secara prinsipil.
Terkait persoalan perbedaan pendapat ini, saya telah menulis
kepada Kapten Jenderal di Batavia untuk menjelaskan bahwa tanah Kaudipan
merupakan milik Raja Siau. Namun hingga kini saya belum menerima jawaban,
sehingga hal ini belum dapat dipahami sepenuhnya oleh Kapten Jenderal di
Manila. Meski demikian, beliau telah memerintahkan saya untuk membalas surat
Yang Mulia berdasarkan apa yang telah Yang Mulia sampaikan dan mohonkan kepada
saya.
Mengenai
persoalan perkawinan, bagaimana mungkin seorang Kristen memiliki dua istri?
Saya sendiri tidak mengetahui bahwa Raja Siau memiliki lebih dari satu istri,
dan kami pun tidak mengetahui adanya istri lain selain istri yang sah menurut
hukum. Namun, jika sebelumnya ia pernah memiliki selir, maka hal tersebut tidak
boleh terjadi lagi, karena saya dan para Bapa tidak dapat mentoleransi keadaan
demikian.
Lebih lanjut,
putri Anda saat ini tinggal jauh dari desa Raja. Karena gosip semacam ini tidak
seharusnya terus beredar, saya telah meminta Raja untuk mengirim putri Anda
dari tempat ini ke Desa Tomako, agar segala pembicaraan tersebut dapat
dihentikan, setidaknya sampai Kapten Jenderal di Batavia memberikan jawaban
atas surat saya pada waktunya.
Di benteng
St. Rossa, 7 Desember 1674. (Di
bawah ini tertulis) (Ditandatangani)
U HH. Teman, ANDREAS SERANOS.
Bahwa dia
tetap menjadikannya ratu.
Negorij di
Groot-Sangi, di bawah raja Siauw.
“SERANOS AAN
KONING BINANKAL” dalam Bijlagen jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land-
en Volkenkunde (BKI), Volume 14 (tepatnya bagian lampiran berisi
transkripsi surat VOC dari tahun 1674).
“Sebanos aan Koning Binankal” — Surat VOC tertanggal 7
Desember 1674 yang ditandatangani Andreas Seranos dari benteng St.
Rossa. Di Pulau Siau
Bagian Bijlagen
dari Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI), volume 14, yang
merupakan kumpulan dokumen arsip VOC transkripsi.
Bijdragen tot
de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI), Volume 14, Part: Bijlagen – VOC Transcripts, khusus
bagian:
“Seranos aan
Koning Binankal”
ditandatangani oleh Andreas Seranos, tanggal 7 Desember 1674 dari
benteng St. Rossa.
Kerajaan Kaidipang
Kerajaan Kaidipang adalah salah satu kerajaan tua di
wilayah Sulawesi Utara, yang berlokasi di kawasan pesisir Bolaang
Mongondow Utara saat ini. Dalam sumber-sumber kolonial Belanda abad ke-17
dan ke-18, wilayah ini sering ditulis sebagai Kaidipan, Caudipan, Kaudipan,
atau Kaidipang, menunjukkan variasi ejaan Eropa terhadap nama lokal.
Letak dan Wilayah
Kerajaan Kaidipang terletak di pesisir utara Pulau Sulawesi,
menghadap langsung ke Laut Sulawesi, menjadikannya wilayah strategis
dalam jalur pelayaran antara:
- Sangihe–Talaud
- Minahasa
- Kesultanan
Sulu dan Mindanao
- Kepulauan
Maluku
Wilayah Kaidipang mencakup daerah pesisir dan pedalaman yang
subur, sehingga berperan sebagai pusat perdagangan lokal hasil laut, pertanian,
dan hutan.
Asal-usul dan Kedudukan Politik
Kaidipang berkembang sebagai kerajaan lokal yang dipimpin
oleh raja-raja pribumi, dengan struktur kekuasaan tradisional yang kuat. Dalam
konteks politik kawasan, Kaidipang tidak berdiri sepenuhnya terisolasi,
melainkan berada dalam jejaring kekuasaan regional, khususnya dengan:
- Kerajaan
Siau (Sangir)
- Bolaang
Mongondow
- Pengaruh
tidak langsung dari Kesultanan Ternate
Beberapa sumber VOC menyebut bahwa tanah Kaidipang pernah
dianggap berada di bawah pengaruh atau klaim Raja Siau, terutama dalam
sengketa wilayah dan legitimasi kekuasaan, sebagaimana tercermin dalam
surat-surat resmi abad ke-17.
Hubungan dengan VOC dan Dunia Kolonial
Sejak pertengahan abad ke-17, Kerajaan Kaidipang mulai masuk
dalam perhatian VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Arsip-arsip
VOC mencatat:
- Sengketa
kepemilikan wilayah Kaidipang
- Hubungan diplomatik antara raja-raja
Kaidipang, Raja Siau, dan pejabat VOC
- Keterlibatan Kapten Jenderal di
Batavia dan Manila dalam urusan politik lokal
Kaidipang menjadi
penting karena posisinya yang strategis dalam pengendalian jalur laut serta
pengaruhnya terhadap kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.
Agama dan
Budaya
Sebelum masuknya
agama-agama besar, masyarakat Kaidipang menganut kepercayaan tradisional
lokal yang berakar pada penghormatan leluhur dan alam. Pada abad
ke-17:
- Islam mulai berpengaruh melalui jaringan Ternate
dan perdagangan
- Kristen (Katolik dan kemudian Protestan) masuk
melalui misi Eropa dan kontak dengan VOC
Dalam dokumen kolonial, persoalan agama sering muncul,
termasuk isu:
- legitimasi
raja Kristen,
- larangan
poligami bagi raja yang telah dibaptis,
- pengawasan
moral oleh misionaris Eropa.
Kemunduran dan Integrasi
Seiring menguatnya kekuasaan kolonial Belanda pada abad
ke-18 dan ke-19, Kerajaan Kaidipang perlahan kehilangan kedaulatannya.
Wilayahnya kemudian:
- diintegrasikan
ke dalam administrasi kolonial Hindia Belanda,
- digabungkan
ke dalam struktur pemerintahan Bolaang Mongondow,
- dan
pada masa modern menjadi bagian dari Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
