Grup Musik The Happy Boys (Manado, 1956

 

Grup Musik The Happy Boys (Manado, 1956)



Pada tahun 1956, di kawasan Tikala, Manado, tepatnya di rumah orang tua pemilik Apotik Bakti Farma yang berada di samping Toko dan Service National, berdiri sebuah grup musik yang dikenal dengan nama The Happy Boys.
Masa ini merupakan periode awal pasca-kemerdekaan Indonesia, ketika Manado berkembang sebagai kota pelabuhan dan pusat budaya di Indonesia Timur. Musik menjadi bagian penting dari kehidupan sosial kaum muda kota, terutama di lingkungan keluarga terdidik dan elite lokal.
Nama The Happy Boys mencerminkan pengaruh budaya Barat yang kuat pada dekade 1950-an. Pilihan nama berbahasa Inggris lazim digunakan oleh grup-grup musik Manado saat itu.
Grup ini mengusung genre musik Hawaiian, yang pada masa tersebut sangat populer di Manado dan wilayah Indonesia Timur, berdampingan dengan:
musik keroncong,
musik dansa,
lagu-lagu populer Barat dan Melayu.
Formasi dan Personel (Lengkap & Revisi)
Susunan lengkap pemain The Happy Boys adalah sebagai berikut:
Gitar :
Sem Lumape
Sil Lampa
Gitar Hawaiian (Steel Guitar) :
Litol Bastian
Keroncong :
Boy Manumpil
Bass :
Manaf Asrar (asal Manado)
Penyanyi :
Joni Tambuwun (asal Sonder)
Bay Tumimomor (asal Langoan)







Formasi ini menunjukkan kematangan musikal yang tinggi untuk ukuran Manado tahun 1950-an, dengan pembagian instrumen yang sudah menyerupai band modern.
Para pemain gitar, gitar Hawaiian, dan keroncong merupakan putra-putra asal Kepulauan Sangihe. Lebih dari itu:
Dua di antaranya berasal dari kalangan bangsawan, yaitu:
bangsawan Kerajaan Tabukan,
bangsawan Kerajaan Siau.
Litol Bastian, pemain gitar Hawaiian, dikenal sebagai bangsawan Tahuna, dengan latar keluarga terpandang di Kepulauan Sangihe.
Sementara itu:
Manaf Asrar (bass) berasal dari Manado, mewakili unsur lokal kota.
Joni Tambuwun (penyanyi) berasal dari Sonder, dan
Bay Tumimomor (penyanyi) berasal dari Langoan, keduanya dari wilayah Minahasa daratan.
Komposisi ini menunjukkan bahwa The Happy Boys adalah grup lintas wilayah yang menyatukan:
Kepulauan Sangihe,
Minahasa daratan,
dan kota Manado.
The Happy Boys dalam Sejarah Grup Band Manado (1950-an)
Keberadaan The Happy Boys tidak dapat dilepaskan dari konteks perkembangan musik Manado pada era 1950-an, yang ditandai oleh:
Dominasi musik Hawaiian dan keroncongMusik Hawaiian menjadi simbol modernitas dan kosmopolitan masyarakat pesisir Manado.
Peran elite kepulauan dan kaum terdidikBanyak grup musik awal Manado lahir dari keluarga bangsawan dan intelektual, terutama dari Sangihe dan Minahasa.
Manado sebagai simpul budayaKota Manado berfungsi sebagai ruang pertemuan budaya Minahasa, Sangihe, Siau, Talaud, dan Maluku.
Cikal bakal band modern Grup-grup musik seperti The Happy Boys menjadi fondasi bagi perkembangan band pop dan rock Manado pada dekade berikutnya (1960–1970-an).
Seluruh informasi mengenai: nama grup,
tahun dan lokasi, formasi personel,
genre musik, serta asal-usul para pemain,
bersumber dari catatan, unggahan, dan kesaksian sejarah keluarga yang dibagikan melalui akun Facebook Ratman Asrar, yang berfungsi sebagai sumber utama (primary source) dalam penulisan sejarah musik lokal Manado.
Dalam konteks historiografi lokal, sumber ini tergolong sejarah lisan-tertulis, yang sangat berharga mengingat keterbatasan arsip resmi musik Manado tahun 1950-an.
The Happy Boys merupakan representasi penting dari awal perkembangan musik band di Manado. Dengan latar pemain yang berasal dari Sangihe, Minahasa, dan Manado, serta keterlibatan anak-anak bangsawan kepulauan, grup ini memperlihatkan bagaimana musik menjadi ruang perjumpaan sosial dan budaya di Sulawesi Utara pasca-kemerdekaan.

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

PERIODISASI SEJARAH MINAHASA DAN CIKAL BAKAL PENGGUNAAN NAMA MINAHASA

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA