KISAH PERJALANAN Pendeta N. Graafland dari Sonder ke Kapoya tahun 1898

 

Kapoya dalam De Minahassa

KISAH  PERJALANAN Pendeta  N. Graafland  dari  Sonder  ke Kapoya  tahun 1898

 Disusun  oleh  : Alffian  Walukow


Pemandangan dari Sonder. Suku Alifuru. Arsitektur bangunan. Keberangkatan. Perbandingan karakter antara penganut kepercayaan lama dan Kristen: sisi positif dan negatif. Kehidupan pedesaan Alifuru. Tincap dan air terjunnya. Timbukar. Jalan setapak di tengah hutan. Suluun dan pemandangan indahnya. Kondisi masyarakat lokal saat ini. Gedung gereja sekaligus sekolah. Sistem pendidikan di Minahasa. Kalewoan. Kapoya. Percakapan malam hari. Kondisi sosial dan moral Minahasa tempo dulu: rumah, penduduk, dan lingkungan. Tradisi perburuan kepala (headhunting). Perang antara Kenilow dan Tompaso. Legenda setempat. Perlawanan Tondano terhadap Kompeni (VOC). Praktik perbudakan. Konsep Tumoktok se tou. Warisan kepercayaan lama dan apa yang lebih baik darinya. Kehidupan rumah tangga.

Pagi yang begitu indah. Tak lama lagi, kita akan mandi di bawah pancuran air yang deras di pemandian umum—fasilitas yang sengaja dibangun untuk menyambut kunjungan Yang Mulia Gubernur Jenderal Duymaer van Twist. Dahulu, pemandian ini terletak di kaki gunung, tepat di depan penginapan.

Sekarang, mari berjalan sejenak menuju tanah lapang. Luaskan pandangan Anda ke sekeliling. Betapa agungnya alam ini! Tepat di hadapan kita, menjulang pegunungan Linkoan, Bowis, dan Bawona yang diselimuti vegetasi lebat, dengan puncak-puncak yang mulai disapa cahaya matahari pertama.

Di sebelah kiri, rangkaian pegunungan yang lebih rendah memanjang, memperlihatkan Gunung Lokon dengan seluruh puncaknya yang tampak sangat memesona. Cahaya matahari yang lembut memperjelas lekuk lereng dan puncaknya, dipisahkan oleh jurang-jurang gelap yang membelah dari atas hingga ke bawah. Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan keindahan yang terhampar di tempat ini.

Tempat menarik yang bisa dikunjungi di Sonder sebenarnya terbatas. Bangunan gereja, yang juga difungsikan sebagai sekolah swasta atau sekolah jemaat, tidak memiliki keunikan arsitektur yang menonjol. Namun, bangunan sekolah negeri yang baru memberikan kesan yang lebih baik. Sementara itu, gudang kopi di sini serupa dengan gudang-gudang kopi di daerah lain. Gereja dan sekolah selalu ramai, namun dalam beberapa tahun terakhir, pasokan kopi ke gudang tersebut jauh menurun dibandingkan sebelumnya.

Distrik Sonder terdiri atas lima desa dengan rincian penduduk sebagai berikut (data tahun 1895):

  • Kolongan Atas: 1.188 jiwa
  • Kolongan Bawah: 844 jiwa
  • Kauneran: 916 jiwa
  • Talikuran: 652 jiwa
  • Tounelet: 945 jiwa

Total penduduk mencapai 4.543 jiwa, dengan sekitar 650 orang di antaranya masih menganut kepercayaan leluhur.

Setelah menikmati kopi, kami kembali memacu kuda. Kali ini kami memilih keluar dari jalur utama. Kami ingin menunjukkan jalan pintas agar Anda bisa mengenal Minahasa yang autentik—jauh dari jalan raya besar—dan melihat rute-rute tradisional seperti di masa lalu.

"Nah, Mayor, sudah waktunya kita berangkat!"

"Tuan-tuan, mohon dimaafkan," katanya sambil mengangguk hormat, "Pekerjaan saya sangat menumpuk sehingga tidak bisa mendampingi Anda. Namun, saya akan mengirimkan seseorang yang dapat dipercaya untuk memandu kalian."

Begitulah kesepakatannya.

Gambaran singkat mengenai watak suku Alifuru tidak akan mengurangi kenyamanan perjalanan Anda. Kami ingin melukiskannya secara apa adanya, sebagaimana karakter mereka secara umum di masa lalu. Kami tidak akan membahas para kriminal atau gelandangan yang memang ada di mana-mana; jika kami melakukannya, tulisan ini akan berubah menjadi novel intrik layaknya karya Eugene Sue.

Kita perlu menekankan perbedaan yang muncul antara masyarakat penganut kepercayaan lama dan penganut Kristen, serta perbedaan antara masa lalu dan masa kini. Namun, jangan membayangkan perbedaan itu sangat kontras. Perubahan tersebut terjadi secara alami. Bagaimanapun, Kekristenan membawa prinsip hidup yang secara bertahap memengaruhi siapa pun yang bersentuhan dengannya.

Mengenai pendidikan, para misionaris (yang kini menjabat Asisten Pengkhotbah) awalnya memutuskan untuk tidak mengajukan subsidi karena dana tersebut tidak bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru—hal yang sangat krusial. Namun, peraturan tersebut telah diubah. Sejak Januari 1896, subsidi sudah bisa diajukan dan sebagian dialokasikan untuk membantu para guru. Dengan demikian, kendala untuk menerima bantuan pemerintah telah hilang.

Kami melanjutkan perjalanan menempuh jalan yang cukup sulit. Setelah beberapa mil, tibalah kami di sebuah pemukiman yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai "tempat yang buruk". Tempat itu disebut Kalewoan (yang berarti batu balok). Lokasi ini juga dinamai Pinapelangkow, yang berarti tempat Langkow atau sapi hutan (Anoa depressicornis).

Di sini, tidak ada pagar tanaman maupun jalan setapak yang jelas. Kami sempat kebingungan mencari jalan keluar jika tidak ada pemandu. Tempat ini mencerminkan wajah Minahasa di masa lampau yang masih sangat alami dan liar. Karena tidak ingin berlama-lama di antara bebatuan dan perut pun mulai lapar, kami bergegas menuju Kapoya.

Tiba di Kapoya

Kini kami tiba di Kapoya, desa yang namanya diambil dari pohon jenis serupa. Sekali lagi, letak pemukiman ini tergolong unik; berada di jalur pegunungan yang panjang dengan bukit-bukit yang menjulang tidak beraturan di kedua sisinya.

Di atas bukit, berdiri gedung sekolah, gereja, dan rumah kepala sekolah. Kami menuju ke sana. Kepala sekolah di sini adalah sosok yang paling terpelajar di desa. Berbeda dengan kepala suku setempat yang masih menganut kepercayaan lama dan tampak canggung saat menyambut tamu Eropa. Meski terpencil, Kapoya tidak lagi tertutup. Keadaan desa secara keseluruhan tampak rapi, terutama rumah kepala sekolah yang menjadi teladan bagi warga lainnya.

Menyeberangi Sungai Rano-tuana

Dahulu ada jalan bagus dari Kapoya menuju Amurang di pesisir, namun kini terbengkalai. Kami memilih jalur yang jarang dilalui—menembus hutan, kebun, jurang, hingga menyusuri dasar sungai berbatu yang bahkan tidak tercantum di peta.

Jalannya sangat licin, namun pemandu kami, seorang warga Kapoya yang ramah, berlari dengan ringan. Ia melesat mendaki bukit dan menuruni lereng dengan sangat cepat hingga kuda-kuda kami kesulitan mengejarnya. Di bawah lereng curam, ia sudah menunggu kami di tepi sungai yang berarus deras: Rano-tuana, sungai yang bermuara di Tumpaan.

Pemandu kami tersenyum melihat kami ragu. Ia tahu arus sungai ini sangat kuat dan sulit diseberangi. Namun, kami pantang mundur. Kapoya itu masuk ke air yang tingginya mencapai dada, memegang tali kekang kuda, dan menariknya ke tengah arus. Meski sempat ragu sesaat, kami memacu kuda-kuda itu berenang hingga akhirnya berhasil mencapai seberang. Setelah mendaki tebing curam, kami tiba di Pinamerongan dan kembali ke jalan utama.

Kini, akses dari Kapoya ke Pinamerongan sudah jauh lebih baik. Sudah ada jalan yang bisa dilalui gerobak dan jembatan di atas Rano-tuana, sehingga perjalanan berbahaya seperti yang kami lakukan tidak perlu lagi dialami oleh pelancong masa kini.

 

Geografi dan Sejarah Lokal

Jika ditarik garis dari Manado ke arah selatan, setelah dua pertiga perjalanan, kita akan sampai di jembatan Sungai Sao. Dari sana jalan bercabang:

  1. Ke Kiri (Selatan): Melintasi pegunungan menuju Lotta, Kenilow, Kakaskasen, dan Tomohon.
  2. Ke Kanan (Barat): Menyisir pantai melalui Malalayang, Tateli, Tanawangko, hingga mencapai Amurang.

Pinamerongan, tempat kami berada sekarang, dahulu merupakan bagian dari Distrik Kawangkoan, namun kini masuk wilayah Tombasian. Nama desa ini memiliki sejarah kelam sebagai pusat perburuan kepala di masa lalu.

Di wilayah ini, pengaruh Kekristenan dan peradaban mulai terlihat nyata. Sejarah penginjilan di Amurang dan sekitarnya mengalami perubahan besar sejak kedatangan K.T. Herrmann pada tahun 1836. Sebelumnya, Kekristenan hanya dipahami sebagai formalitas baptisan tanpa pembinaan. Herrmann bekerja keras, bahkan di daerah-daerah sulit seperti Wuwuk, Kanejan, hingga Kumelěmbuai, membangun sekolah dan membentuk jemaat yang aktif hingga saat ini.

 

Catatan Kaki:

  • Munte (A.): Sebutan untuk jeruk atau apel Cina.
  • Porong: Berasal dari kata porong (topi), merujuk pada penutup kepala dari kulit kayu yang digunakan oleh pemburu kepala.
  • Warga Negara: Merujuk pada status sosial masyarakat yang berkembang berkat bimbingan administrasi kolonial dan aktivitas ekonomi di pasar Amurang yang ramai.

 

Sumber: Graafland, N. 1898. De Minahassa: Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand. Jilid I. Batavia: G. Kolff & Co.


Biografi Nicolaas Graafland (1827–1898)



Pendidik, Penulis, dan Pionir Misionaris di Tanah Minahasa

Nicolaas Graafland merupakan sosok penting dalam sejarah penginjilan dan pendidikan di Sulawesi Utara. Ia dikenal bukan hanya sebagai seorang misionaris, tetapi juga sebagai intelektual yang memberikan kontribusi besar melalui karya tulis dan pemetaan wilayah.

Kehidupan Awal dan Awal Karier

Nicolaas Graafland lahir di Rotterdam, Belanda, pada tahun 1827. Sebelum mendedikasikan hidupnya di tanah misi, ia memulai kariernya sebagai seorang guru di tanah kelahirannya. Pengalaman sebagai pendidik inilah yang nantinya menjadi fondasi utama dalam metode penginjilannya di Hindia Belanda.

Misi di Minahasa dan Kontribusi Pendidikan

Pada tahun 1849, Graafland dikirim oleh Lembaga Misionaris Belanda (Nederlandsch Zendeling Genootschap atau NZG) ke Minahasa, Sulawesi Utara. Perjalanannya di tanah Celebes mencatat beberapa pencapaian penting:

  • Pendidikan Guru: Tahun 1850, saat ditempatkan di Sonder, ia mendirikan sekolah khusus untuk mencetak guru-guru pribumi.
  • Perpindahan Tugas: Tahun 1854, ia pindah ke Tanawangko. Wilayah ini kemudian masuk dalam yurisdiksi Indische Kerk pada tahun 1878.
  • Inspektur Pendidikan: Berkat keahliannya, pemerintah mempekerjakan Graafland dari tahun 1883 hingga 1895 untuk mengawasi dan memeriksa kualitas pendidikan pribumi di wilayah Ambon dan Tondano.

Karya Tulis dan Intelektualitas

Sebagai seorang penulis produktif, Graafland mendokumentasikan pengalamannya dalam berbagai bentuk literatur yang menjadi rujukan sejarah hingga saat ini. Beberapa karya monumentalnya meliputi:

  1. Buku: Wat is waarheid ten aanzien van de zending in de Minahassa (1866) dan De Minahassa jilid I-II (1867-1869).
  2. Jurnalistik: Ia menyunting dan menerbitkan majalah lokal Minahasa bernama Tjahaja Sijang.
  3. Kartografi: Ia juga berjasa dalam pembuatan peta wilayah Minahasa yang mendetail.

 

Pandangan Strategis dan Misi di Sulawesi Tengah

Graafland memiliki pandangan yang sangat strategis mengenai penyebaran agama di Sulawesi. Bersama Pendeta C. Rogge, ia mendukung penuh pembukaan ladang misi baru di Gorontalo dan Poso.

Ia adalah tokoh kunci yang meyakinkan Lembaga Alkitab Belanda (Nederlands Bijbelgenootschap) untuk mengirim peneliti linguistik ke Poso sebagai langkah awal penerjemahan Injil. Graafland memiliki kekhawatiran yang besar terhadap penyebaran Islam di Sulawesi Tengah; baginya, membiarkan masyarakat jatuh ke pengaruh Islam tanpa adanya alternatif Injil adalah sebuah bentuk "ketidaktanggungjawaban" misi.

Akhir Hayat

Setelah menyelesaikan tugas inspeksi pendidikannya pada tahun 1895, Graafland memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya di Depok, Jawa Barat. Ia tutup usia di sana pada tanggal 11 Oktober 1898, meninggalkan warisan besar berupa sistem pendidikan dan literatur sejarah Minahasa.


Daftar Pustaka Referensi:

  • Bartelds, J. C. E. (1930). Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek.
  • Noort, Gerrit (2006). De weg van magie tot geloof.


 

 

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

PERIODISASI SEJARAH MINAHASA DAN CIKAL BAKAL PENGGUNAAN NAMA MINAHASA

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA