KISAH TUA KAPOYA YANG HILANG ( 417 tahun DESA KAPOYA)
Rumah Panjang
Kapoya berdasarkan Gambaran N.
GraaflandHalaman rumah dikelilingi pengaman kanal air yang jembatannya bisa di cabut.
KISAH TUA KAPOYA YANG HILANG
(
417 tahun DESA KAPOYA)
Kumpulan Informasi kesejarahan
ini di himpun
dan disusun
oleh : Alffian Walukow
Ën
Kapoja tinani' i Asa' am tëmbir in dojongan in Tjapoja:
Ën
ambitu tani'in i Lonto' a si sërap tnai:
Si
iasao ën tani'in:
"Desa
Kapoja didirikan oleh Asa' di tepi Sungai Kapoja."
"Di
tempat itulah sebuah desa baru akan didirikan oleh Lonto' pada bulan
depan."
"Di
sinilah tempat di mana desa baru tersebut harus dibangun."
Dst………
Desa Kapoya adalah salah satu desa
yang terletak di Kecamatan Suluun Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi
Sulawesi Utara, Indonesia. Secara administratif, desa ini tercatat dalam basis
data wilayah nasional seperti Wikipedia, serta dalam dokumen pemerintahan
daerah Kabupaten Minahasa Selatan. Selain Desa Kapoya, terdapat pula Desa
Kapoya I yang berada dalam kecamatan yang sama sebagai hasil pemekaran
administratif.
Secara
geografis, Kapoya berada di kawasan perbukitan Minahasa bagian selatan dengan
kontur tanah bergelombang dan subur. Wilayahnya berbatasan dengan Desa Wuwuk,
Pinamorongan, dan Pinapalangkow. Kondisi alam tersebut menjadikan desa ini
bercorak agraris, dengan komoditas utama berupa kelapa (kopra), cengkeh, dan
tanaman perkebunan lainnya. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai
petani dan pekebun, sehingga kehidupan sosial-ekonomi desa sangat dipengaruhi
oleh siklus pertanian dan harga komoditas perkebunan.
Sejarah awal Desa Kapoya banyak
bersumber pada tradisi lisan masyarakat. Dalam narasi yang berkembang,
desa ini diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-17. Nama “Kapoya” diyakini
berasal dari istilah “Kakapoya’an,” yakni sejenis pohon yang dahulu banyak
tumbuh di wilayah tersebut. Tradisi setempat menyebutkan bahwa desa ini
didirikan oleh seorang tokoh tua (dotu) bernama Dotu Sarayar.
Narasi
mengenai silsilah awal dan asal-usul Desa Kapoja/Kapoya secara lebih terperinci
dituliskan oleh Alffian Walukow dalam blog budaya Malesung melalui artikel
berjudul “Silsilah Asa dan Awal Berdirinya Desa Kapoja” (2024). Dalam
tulisan tersebut dijelaskan bahwa pembentukan Kapoya tidak dapat dilepaskan
dari struktur genealogis keluarga-keluarga awal yang membuka lahan dan
membentuk wanua (permukiman adat).
Walukow menekankan bahwa sejarah desa-desa tua di
Minahasa, termasuk Kapoya, bertumpu pada:
- Silsilah
keluarga (genealogi) sebagai dasar legitimasi kepemimpinan adat.
- Toponimi lokal, yakni penamaan desa yang berkaitan
dengan kondisi alam atau vegetasi tertentu.
- Peran
dotu atau leluhur pendiri, yang menjadi figur sentral dalam memori
kolektif masyarakat.
Pendekatan genealogis yang
digunakan Walukow memperlihatkan bahwa Kapoya pada mulanya terbentuk sebagai
komunitas berbasis kekerabatan, sebelum kemudian mengalami perubahan
administratif dan sosial pada masa kolonial dan pascakemerdekaan.
Dalam perkembangan kontemporer,
Desa Kapoya juga dikenal sebagai lokasi implementasi program pembangunan desa,
termasuk Dana Desa yang dilaporkan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Kementerian Keuangan (DJPb Kemenkeu). Selain itu, aspek tata kelola pemerintahan
desa Kapoya pernah menjadi objek penelitian dalam E-Journal UNSRAT (Jurnal
Administrasi Publik Universitas Sam Ratulangi).
Dengan demikian, sejarah Desa
Kapoya memperlihatkan kesinambungan antara fase tradisional (wanua berbasis
genealogis), fase kolonial (reorganisasi pemerintahan dan pengaruh agama),
hingga fase pembangunan modern berbasis kebijakan negara. Penulisan sejarah
Desa Kapoya memerlukan sintesis antara tradisi lisan, tulisan lokal seperti
karya Alffian Walukow, serta dokumen administratif dan kajian akademik untuk
memperoleh gambaran historis yang utuh dan kritis.
Sumber
- Alffian
Walukow. “Silsilah Asa dan Awal Berdirinya Desa Kapoja.” Dalam Malesung,
2024.
- Wikipedia.
Kapoya, Suluun Tareran, Minahasa Selatan.
- Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian
Keuangan. Succes
Story Dana Desa 2017 Desa Kapoya Kecamatan Suluun Tareran.
- E-Journal
UNSRAT. Jurnal Administrasi Publik: Desa Kapoya Kecamatan Suluun
Tareran Kabupaten Minahasa Selatan.
Daftar Pustaka
Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan. Succes Story Dana Desa 2017 Desa
Kapoya Kecamatan Suluun Tareran.
Jakarta: DJPb Kemenkeu.
E-Journal
UNSRAT. Jurnal Administrasi Publik: Desa Kapoya Kecamatan Suluun Tareran
Kabupaten Minahasa Selatan. Manado: Universitas Sam Ratulangi.
Walukow,
Alffian. 2024. “Silsilah Asa dan Awal Berdirinya Desa Kapoja.” Dalam Malesung
Blog.
Wikipedia.
Kapoya, Suluun Tareran, Minahasa Selatan. Ensiklopedia Daring.
Lambang
Desa Kapoya. Jika dikaitkan dengan uraian sejarah dan tulisan Alffian Walukow
dalam Malesung, maka lambang ini dapat dibaca sebagai representasi visual dari
identitas historis, agraris, dan genealogis Desa Kapoya.
Logo ini
di unggah oleh akun resmi : Kapoya Induk 22 Februari
pukul 12.47 · Mohon maaf bagi seluruh masyarakat Desa Kapoya.. 🙏😌 kami Pemerintah Desa Kapoya tidak
melupakan Hari Ulang Tahun Desa Kapoya qta.. Karena mengingat ini merupakan
minggu sengsara. Maka kami Pemdes merencanakan akan dibuat ibadah Ucapan Syukur
pada besok hari dengan sesederhana mungkin..
SELAMAT HARI ULANG TAHUN DESA KAPOYA KE-417 TAHUN
Cita Waya Esa 🙏😌
Berikut hubungan antara narasi sejarah dan simbol dalam
logo:
1. Tulisan “22 Februari 1609”
Angka ini kemungkinan dimaknai sebagai tahun berdirinya
Desa Kapoya menurut tradisi lokal. Dalam narasi asal-usul yang menyebut peran
Dotu Sarayar dan pembentukan wanua awal, angka 1609 menguatkan klaim bahwa
Kapoya termasuk desa tua di Minahasa Selatan.
Secara historiografis, angka ini perlu dikaji ulang
melalui:
- Tradisi
lisan
- Silsilah
keluarga tua
- Arsip
kolonial VOC abad ke-17 (jika ada rujukan)
2.
Pohon Kelapa
Melambangkan:
- Mata
pencaharian utama (kopra)
- Karakter
agraris desa
- Ketahanan
ekonomi masyarakat
Ini
sesuai dengan deskripsi bahwa Kapoya bercorak perkebunan dan mayoritas
penduduknya petani.
3. Padi
Simbol kemakmuran dan ketahanan pangan.
Menunjukkan bahwa selain kelapa dan cengkeh, masyarakat juga mengenal sistem
pertanian pangan.
4. Buah Cengkeh dan Hasil Kebun
Cengkeh
adalah komoditas penting Minahasa sejak masa perdagangan rempah.
Simbol ini menghubungkan Kapoya dengan:
- Jalur
ekonomi kolonial
- Sistem
tanam paksa dan perdagangan rempah
- Identitas
Minahasa sebagai wilayah penghasil cengkeh
5.
Bentuk Perisai
Perisai
melambangkan:
- Ketahanan
dan perlindungan
- Identitas
komunal masyarakat
- Kesatuan
wanua
6.
Kata “Banamange”
Istilah
ini sangat penting secara kultural. Dalam bahasa Minahasa (Tontemboan),
“Banamange” berkaitan dengan:
- Semangat
kebersamaan
- Kesejahteraan
- Kehidupan
yang baik dan harmonis
Jika
dikaitkan dengan pendekatan genealogis yang disebut oleh Alffian Walukow, maka
kata ini mempertegas bahwa desa lahir dari ikatan keluarga dan solidaritas
sosial (soa dan mapalus).
Logo
Desa Kapoya bukan sekadar simbol administratif, tetapi merupakan:
- Representasi
sejarah asal-usul (1609).
- Representasi
ekonomi agraris (kelapa, cengkeh, padi).
- Representasi
identitas budaya Minahasa (Banamange).
- Visualisasi
kesinambungan antara tradisi wanua dan desa modern.
Dengan
demikian, lambang ini memperkuat narasi sejarah Desa Kapoya sebagai:
Desa
tua berbasis genealogis yang berkembang menjadi komunitas agraris modern.
Jika tahun 1609 dipakai sebagai
tahun lahirnya Kapoya, maka kita perlu melihat konteks kolonial di sekitar
wilayah Amurang, Tareran, dan kawasan Minahasa pada awal abad ke-17.
1.
Situasi Politik Minahasa Tahun 1600-an
Pada
awal abad ke-17:
- Wilayah
pesisir Minahasa berada dalam pengaruh Kesultanan Ternate.
- Spanyol
masih memiliki pengaruh di kawasan utara Sulawesi (terutama sekitar Manado
dan Siau).
- Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie
(VOC) mulai aktif memperluas pengaruhnya.
Tahun 1609 adalah periode sangat awal ekspansi VOC di
Sulawesi Utara. Namun, saat itu VOC belum sepenuhnya menguasai Minahasa;
pengaruhnya baru menguat setelah
perjanjian dengan walak-walak Minahasa tahun 1679.
Artinya : 70
tahun sesudah berdirinya Kapoya baru mucul perjanjian walak-walak di Minahasa
dengan Belanda (VOC)
2. Catatan Kolonial Sekitar Amurang
Wilayah Amurang sebagai pelabuhan selatan Minahasa mulai
muncul lebih jelas dalam catatan VOC pada pertengahan hingga akhir abad ke-17,
terutama terkait:
- Pengumpulan
beras dan hasil hutan
- Pengawasan
jalur laut
- Hubungan dengan walak Tombatu dan Tontemboan
Namun,
tidak ditemukan catatan spesifik tahun 1609 yang menyebut Amurang sebagai pusat
kolonial besar. Aktivitas kolonial saat itu masih terfokus pada Manado dan
wilayah pesisir utara.
3.
Bagaimana dengan Tareran?
Wilayah
Tareran pada abad ke-17 masih berupa wilayah pedalaman berbasis wanua dan
walak. Catatan kolonial awal jarang menyebut desa-desa pedalaman secara
spesifik, karena:
- VOC
lebih fokus pada pesisir dan perdagangan rempah.
- Struktur politik Minahasa masih berbasis walak.
- Administrasi
kolonial belum menjangkau detail desa.
Nama-nama
kampung pedalaman biasanya baru muncul dalam laporan zending abad ke-19 atau
dalam registrasi pajak VOC akhir abad ke-17.
4.
Perjanjian 1679: Titik Awal Arsip Lebih Jelas
Peristiwa
penting adalah Perjanjian antara VOC dan walak-walak Minahasa pada 1679 (sering
dikaitkan dengan penataan ulang kekuasaan di sekitar Manado). Sejak saat itu:
- Struktur administrasi Minahasa mulai terdokumentasi.
- Wilayah
selatan (termasuk Amurang dan sekitarnya) mulai lebih sering disebut.
- Produksi pertanian dan kerja paksa mulai tercatat.
Artinya, jika Kapoya berdiri tahun 1609, kemungkinan
besar desa tersebut sudah ada sebagai wanua adat, tetapi belum masuk dalam
arsip tertulis kolonial.
Kesimpulan
Historis
- Tidak
ada bukti arsip kolonial langsung tahun 1609 yang menyebut Kapoya,
Tareran, atau Amurang secara detail.
- Tahun
1609 berada dalam fase:
- Pengaruh
Ternate
- Awal
penetrasi VOC
- Struktur
wanua masih dominan
- Dokumentasi
tertulis tentang wilayah Minahasa Selatan baru lebih jelas muncul setelah
1679 dan semakin lengkap pada abad ke-18 dan ke-19.
Implikasi
untuk Sejarah Kapoya
Jika
angka 22 Februari 1609 tercantum pada lambang desa, maka secara ilmiah itu
dapat dipahami sebagai:
- Tahun
tradisional berdirinya wanua (berdasarkan silsilah lokal)
- Bukan tahun yang diverifikasi melalui arsip VOC
Untuk memperkuat klaim tersebut, diperlukan:
- Penelusuran
arsip VOC (Nationaal Archief Den Haag)
- Catatan
misionaris abad ke-19
- Silsilah
keluarga tua Kapoya
- Perbandingan
dengan walak Tontemboan
KAJIAN KEMINAHASAAN
Keberadaan dan Kelahiran Kapoya
(1609–1904)
I.
Kapoya dalam Fase Pra-Kolonial (sebelum 1609)
Secara
keminahasaan, sebelum abad XVII Minahasa belum mengenal desa administratif,
melainkan:
- Wanua
(permukiman kekerabatan)
- Dipimpin
Tonaas
- Berada
dalam federasi Walak
- Tanah
bersifat komunal
- Struktur
sosial tidak berbentuk kerajaan
Kapoya
sangat mungkin telah ada sebagai wanua Tontemboan sebelum 1609, sebab:
- Wilayah
Tongkimbut–Amoerang adalah jalur lama migrasi Tontemboan
- Struktur kampung 1770 menunjukkan pemukiman sudah
matang
- Tidak
mungkin dalam 160 tahun (1609–1770) muncul dari nol menjadi negeri mapan
Maka
1609 lebih tepat dipahami sebagai:
Tahun awal pengakuan historis dalam konteks kontak Eropa,
bukan awal hunian manusia.
II. Tahun 1609: Konteks Politik Minahasa
Awal abad XVII ditandai oleh:
- Konflik Spanyol–Belanda di Sulawesi Utara
- Aliansi
walak Minahasa dengan VOC
- Konsolidasi
wilayah pesisir
Dalam fase ini kampung-kampung mulai masuk orbit
kekuasaan VOC.
Artinya:
Jika Kapoya menyebut 1609 sebagai tahun kelahiran, maka itu logis sebagai fase integrasi
politik eksternal, bukan pendirian pemukiman baru.
III.
Perbandingan Data 1679 – 1856
Kapoya
tidak muncul dalam kontrak 1679, tetapi:
- Kontrak
1679 hanya mencatat pusat walak utama
- Banyak
wanua kecil tidak disebut
Fakta
bahwa:
- 1770
Kapoya tercatat resmi
- Abad
XIX tetap eksis dalam distrik administratif
Menunjukkan kesinambungan eksistensi, bukan kemunculan
baru.
IV.
Kapoya dalam Daftar 1770 (Tongkimbut–Amoerang)
Tahun
1770, Kapoja tercatat sebagai salah satu dari 17 negeri dalam
Tongkimbut–Amoerang dengan ±3.000 laki-laki dewasa dalam distrik.
Ini
berarti:
- Kapoya
adalah negeri sah
- Sudah
memiliki struktur pemerintahan kampung
- Sudah
masuk sistem pajak VOC
Jika
1770 sudah mapan, maka kelahirannya pasti jauh sebelumnya.
V.
Kapoya dalam Struktur Administrasi Abad XIX
1. Administratif
Walak → Distrik → Onderafdeling → Afdeeling
Kapoya berada dalam:
- Distrik
Tongkimbut–Amoerang
- Kemudian
Afdeeling Amurang
2.
Zending dan Pendidikan
Data
zending menyebut:
- ±80
rumah tangga
- Memiliki
kepala negeri
- Di
bawah Opperhoofd Sonder
- Sekolah
sudah berjalan
- Anak-anak membaca “Geschiedenis des Bijbels”
Artinya
pertengahan abad XIX Kapoya telah:
- Stabil
secara demografis
- Terintegrasi
dalam pendidikan Protestan
- Masuk
sistem administrasi kolonial
VI.
Transformasi Sosial dan Kepemimpinan (1609–1904)
Fase
I – Wanua Adat
- Tonaas
- Struktur
komunal
- Religi
lokal (opo, walian)
Fase
II – Integrasi VOC (1609–1679)
- Aliansi
politik
- Awal
administrasi eksternal
Fase
III – Konsolidasi Negeri (1679–1770)
- Masuk
distrik Tongkimbut
- Struktur
kampung tetap berbasis adat
Fase
IV – Zending & Pendidikan (1800–1870)
- Kristen
Protestan menguat
- Sekolah
berdiri
- Perubahan
struktur sosial
Fase
V – Administrasi Modern (1870–1904)
- Pembagian
Afdeeling
- Kepala
kampung dikukuhkan kolonial
- Jabatan
adat berubah menjadi Hukum Tua
VII.
Kesinambungan Kepemimpinan Kapoya (Pra-1904 – Kini)
Masuknya
sistem kolonial tidak memutus tradisi kepemimpinan lokal, melainkan
mentransformasikannya.
A.
Fase Kuntua (Pra-1904)
- Kuntua
Imbar
- Kuntua
Tengko
- Kuntua
Runtuwarow
- Laoh,
Hermanus
- Laoh,
Markus
Ini menunjukkan kesinambungan marga adat sebagai elite
lokal.
B.
Fase Administratif Kolonial (1904–1940)
- Joseph
Jacob (1904–1914)
- Laoh,
Jusof (1914–1915)
- Runtuwarow,
Alfonsius (1915–1940)
Periode
ini memperlihatkan:
- Jabatan
resmi “Hukum Tua”
- Masa
jabatan panjang
- Integrasi
penuh dalam sistem Hindia Belanda
C.
Masa Transisi & Perang (1940–1950)
- Sorongan,
Jesaya (Pejabat, 1940)
- Laoh,
Karel Marthen (1940–1943)
- Piay,
Yan Pieter Theis (1943–1950)
Menunjukkan instabilitas akibat perang dan perubahan
rezim.
D.
Fase Republik Indonesia
- Londa,
Felix (1950–1965)
- Imbar,
Johan A. (1965–1977)
- Piay,
Herem (Pejabat, 1977–1978)
- Tengor,
Elisa Rawung (1978–2000)
- Laoh,
Marthen Sondakh (2000–2006)
- Imbar,
Adri O. (2006–sekarang)
VIII.
Analisis Historis: Kontinuitas Elite Lokal
Dari
1609 hingga kini terlihat:
- Transformasi
jabatan:
- Tonaas
→ Kuntua → Oekoeng → Hukum Tua
- Kontinuitas
marga:
- Imbar
- Laoh
- Runtuwarow
- Piay
- Adaptasi
sistem:
- Adat
→ VOC → Hindia Belanda → Republik
Artinya,
Kapoya tidak mengalami disrupsi sosial total, tetapi evolusi bertahap.
IX.
Analisis Kelahiran 1609 (Revisi Historis)
Apakah
1609 sah?
✔
Sah sebagai awal integrasi politik regional
✔
Sah sebagai awal masuk dalam orbit sejarah tertulis
✖
Tidak tepat jika dianggap awal hunian
Secara
keminahasaan:
Kapoya
hampir pasti lebih tua dari 1609.
Namun
secara simbolik-historis, 1609 dapat diterima sebagai:
Tahun
Kapoya memasuki sejarah politik Minahasa dalam konteks global.
X.
Kesimpulan Keminahasaan (Lengkap)
- Kapoya
berasal dari sistem wanua Tontemboan.
- Sudah
eksis sebelum 1609.
- 1609
adalah awal integrasi kolonial.
- 1770
membuktikan stabilitas administratif.
- Abad XIX membawa kristenisasi dan pendidikan.
- 1904
menandai kemapanan kolonial.
- Daftar
Hukum Tua menunjukkan kesinambungan elite lokal hingga abad XXI.
PERBANDINGAN TAHUN KELAHIRAN
KAPOYA DAN DESA-DESA TUA LAINNYA DI MINAHASA
Sejarah permukiman di wilayah Minahasa sangat panjang,
dimulai dari pembentukan kelompok keluarga tradisional (soa) dan unit komunitas
adat (pakasa’an). Dalam tradisi lokal, pembagian wilayah leluhur dikaitkan
dengan tempat sakral seperti Watu Pinawetengan yang diperkirakan telah menjadi
pusat sosial sejak abad ke-7 hingga ke-13. Banyak desa yang sekarang dikenal
sebagai “desa tua” tidak memiliki dokumen tertulis pendirian resmi karena
mayoritas lahir dari tradisi lisan dan baru masuk ke dalam dokumentasi Belanda
pada abad ke-17 hingga ke-19. Untuk itu, tulisan ini menyajikan perbandingan
estimasi tahun kelahiran Desa Kapoya dengan estimasi kelahiran beberapa desa
tua lainnya di Minahasa berdasarkan berbagai sumber sejarah lokal dan kolonial.
Studi ini menggunakan pendekatan historiografis dengan
sumber dari:
- Dokumentasi administratif dan ensiklopedi daring
(Wikipedia).
- Tradisi lisan dan tulisan sejarah lokal (Malesung
Blog).
- Catatan
kolonial Belanda (VOC dan reorganisasi pemukiman).
- Publikasi penelitian dan laporan sejarah lokal.
Tahun Kelahiran Desa Tua di Minahasa
Tabel berikut menyusun estimasi tahun atau periode awal
berdirinya beberapa desa tua di Minahasa:
|
Desa
/ Permukiman |
Estimasi
Tahun Lahir / Masa Awal |
Sumber
/ Keterangan |
|
Kapoya
(Tareran) |
1609
(ditulis pada lambang desa) |
Tradisi
lokal dan penulisan dalam lambang desa Kapoya; belum didukung arsip kolonial
tertulis. |
|
Tondano
/ Tou Dano |
1300–1400-an |
Permukiman
awal di sekitar Tondano dan Benteng Moraya dengan sejarah kolonial awal. |
|
Sawangan
(Tombulu) |
1400–1500-an |
Lokasi
dengan waruga tertua yang diperkirakan muncul pada masa prakolonial. |
|
Tanggari
(Tonsea) |
1400–1600-an |
Desa
di wilayah Airmadidi yang dikenal sebagai salah satu permukiman awal. |
|
Tumaratas
(Tontemboan) |
1500–1600-an |
Lokasi
permukiman awal sub-etnik Tontemboan setelah Watu Pinawetengan. |
|
Kiawa |
1560 |
https://kiawa-wangko.blogspot.com/2011/07/wanua-kiowa.html |
|
Lansot-
Tareran |
1560 |
https://valryprang.blogspot.com/2015/12/sejarah-negeri-rumoong-lansot.html |
Analisis
Perbandingan
4.1.
Kapoya (1609)
Desa
Kapoya memiliki angka pendirian 22 Februari 1609 pada lambang resminya yang
melambangkan tradisi sejarah desa. Angka ini belum memiliki bukti kuat dalam
arsip VOC, namun berakar pada tradisi lisan dan identitas komunitas sebagai
wanua yang telah lama ada sebelum dokumentasi kolonial.
Kapoya
merupakan salah satu permukiman tua di bagian Selatan Minahasa (Tareran,
Amurang) yang secara budaya muncul sebagai bagian dari jaringan komunitas adat
lokal.
4.2.
Permukiman Pesisir dan Utara
Permukiman
seperti Tondano, Sawangan, Tanggari, dan Tumaratas muncul lebih awal dari Kapoya
secara tradisional (abad 14–16). Hal ini konsisten dengan fakta bahwa komunitas
pesisir Minahasa sudah lama dikenal dalam hubungan perdagangan antar pulau
sebelum kedatangan VOC.
Konteks
Kolonial Belanda
Sebagian
besar desa baru tercatat secara administratif setelah tahun 1679, yakni ketika
VOC menandatangani perjanjian dengan walak-walak Minahasa untuk memperluas
administrasi dan sistem perpajakan. Arti penting 1679 adalah sebagai titik
dokumentasi pertama yang lebih jelas dalam arsip Belanda untuk wilayah Minahasa
dan sekitarnya. Sebelum itu, sebagian besar sejarah desa hanya terekam dalam tradisi
lisan dan waruga.
Kesimpulan
- Kapoya
memiliki penanda tradisi lokal berupa 1609 sebagai tahun kelahiran yang
paling awal di antara beberapa desa, meskipun belum didukung bukti
kolonial tertulis.
- Beberapa
desa tua lain seperti Tondano, Sawangan, Tanggari, dan Tumaratas memiliki
estimasi pembentukan yang lebih awal (abad 14–16), berdasarkan waruga dan
tradisi budaya.
- Dokumentasi
administratif kolonial baru lebih jelas sejak 1679, sehingga angka-angka
tahun awal berdirinya desa sering kali bersifat tradisional bukan
dokumenter.
Sumber
dan Referensi
- Wikipedia.
Kapoya, Suluun Tareran, Minahasa Selatan.
- Wikipedia.
Ranoketang Tua, Amurang, Minahasa Selatan.
- Alffian
Walukow. “Silsilah Asa dan Awal Berdirinya Desa Kapoja” dalam
Malesung.
- Sejarah
Minahasa (Wikipedia). Sejarah Minahasa – Permukiman awal dan struktur
walak.
- F.
A. Bastiaan, Sejarah Minahasa (sejarah kontak awal VOC).
- Catatan
lokal Desa Wiau Lapi, Tareran.
- Studi
waruga (penelitian arkeologis tentang situs pemakaman Minahasa).
Untuk
memperkuat klaim tahun berdirinya, disarankan:
- Penelitian arsip VOC di Nationaal Archief, Den Haag.
- Kajian
arkeologis waruga dan situs kuno di wilayah desa tua.
- Wawancara dan rekonstruksi silsilah keluarga tua
desa (genealogi).
STRUKTUR PEMERINTAHAN MINAHASA
Sejak Masa
Purba sampai akhir Masa
Kolonial
I.
PERIODE PRA-KOLONIAL (± Abad ke-13 – 1679)
1.
Konfederasi Pakasaan dan Walak
Sebelum
intervensi Eropa, wilayah Minahasa telah memiliki sistem pemerintahan adat
berbasis konfederasi.
Struktur
utamanya:
- Pakasaan
(aliansi besar antar-walak)
- Walak
(kesatuan wilayah adat)
- Wanua
(desa/kampung)
- Ro’ong
(unit genealogis/sub-kelompok keluarga dalam wanua)
Kedudukan
Ro’ong
Ro’ong
adalah unit sosial terkecil berbasis garis keturunan patrilineal.
Fungsinya:
- Mengatur
kepemilikan tanah keluarga
- Menentukan
hak waris
- Menjadi
basis solidaritas perang dan ritual
Dalam
struktur adat:
Ro’ong
→ Wanua → Walak → Pakasaan
Ro’ong
dipimpin oleh kepala keluarga senior dan menjadi fondasi kekuatan politik
Walak.
Sumber:
- Adrianus
Kojongian, kajian tentang struktur sosial Minahasa.
- J.G.F. Riedel, De Minahasa (1864–1870).
- Nicolaas
Graafland, De Minahassa (1869).
II. PERIODE KONTAK VOC (1679 – 1808)
1679 – Perjanjian Minahasa–VOC
Pada tahun 1679 ditandatangani kontrak antara walak-walak
Minahasa dan Vereenigde Oostindische Compagnie.
Dampaknya:
- Walak
tetap diakui.
- Kepala
Walak mulai tunduk pada pengaruh VOC.
- Ro’ong
tetap berfungsi sebagai unit sosial adat.
Namun VOC belum menghapus struktur Pakasaan.
Sumber:
- Arsip
VOC, Kontrak 1679.
- Nicolaas
Graafland (1869).
III.
PERIODE TRANSISI KOLONIAL AWAL (1808 – 1817)
1808–1809: Perang Tondano
Perlawanan besar terhadap Belanda terjadi di wilayah
Tondano.
1817:
Konsolidasi Hindia Belanda
Setelah
penguasaan penuh oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, struktur adat mulai
dilembagakan ulang secara administratif.
Sumber:
- Hermanus
Johannes Klerk, laporan kolonial awal abad ke-19.
- Arsip
Residentie Manado.
IV.
PERIODE RESIDENTIE MANADO (±1824 – 1900)
Struktur
Administratif Kolonial
Wilayah
Minahasa dimasukkan ke dalam:
- Residentie
Manado
- Afdeling
Minahasa
- Onderafdeeling
- Distrik
- Desa
(Wanua)
-
Afdeling dipimpin Asisten Residen
-
Onderafdeeling dipimpin Controleur
-
Distrik menggantikan Walak
-
Hukum Tua memimpin desa
Kedudukan
Ro’ong pada Masa Ini
Ro’ong tidak dihapus, tetapi:
- Tidak
diakui sebagai unit administratif resmi
- Tetap
hidup sebagai struktur sosial internal desa
- Berfungsi
dalam pengaturan tanah kalakeran (tanah komunal keluarga)
Menurut
Ratu Langie (1930), tanah Minahasa terbagi dalam:
- Tanah
walak
- Tanah
desa
- Tanah
keluarga (berbasis ro’ong)
Sumber:
- G.S.S.J. Ratu Langie, De Kalakeran-gronden en het
inlandsche-gemeentewezen in de Minahasa (1930).
- Arsip
Hindia Belanda, Residentie Manado.
V. PERIODE MINAHASA RAAD (1919 –
1942)
1919–1920: Pembentukan Dewan Minahasa
Belanda
membentuk Minahasa Raad sebagai dewan representatif.
Struktur
lama:
- Wali
Pakasaan (pra-kolonial)
Digantikan
oleh:
- Dewan
kolonial yang diawasi Residen
Ro’ong
tetap eksis sebagai struktur adat non-formal.
Sumber:
- Adrianus
Kojongian.
- Staatsblad
Hindia Belanda 1919–1920.
VI. PERIODE KEMERDEKAAN INDONESIA
(1945 – Sekarang)
Setelah
1945:
- Walak
dihapus secara administratif.
- Distrik
berubah menjadi Kecamatan.
- Desa
dipimpin Kepala Desa (Hukum Tua di Minahasa).
Ro’ong:
- Tidak
tercantum dalam struktur negara
- Tetap hidup dalam praktik adat, pewarisan, dan
hubungan marga
Sumber:
- Undang-Undang
Desa RI.
- Kajian lokal Universitas Sam Ratulangi.
STRUKTUR
HIERARKI LENGKAP PERIODE
A.
Pra-Kolonial
Ro’ong
→ Wanua → Walak → Pakasaan
B.
VOC (1679–1808)
Ro’ong
→ Wanua → Walak (di bawah VOC)
C. Hindia Belanda (1817–1942)
Ro’ong (adat) → Desa → Distrik → Onderafdeeling →
Afdeling → Residentie
D.
Indonesia Modern
Ro’ong
(adat) → Desa → Kecamatan → Kabupaten → Provinsi
ANALISIS
KEDUDUKAN RO’ONG
Ro’ong
adalah:
- Fondasi
genealogis Minahasa
- Dasar
penguasaan tanah kalakeran
- Sumber
legitimasi sosial kepala desa
- Unsur
yang bertahan lintas periode
Meskipun
tidak pernah menjadi unit administratif kolonial resmi, Ro’ong tetap menjadi
inti struktur sosial Minahasa hingga sekarang.
DAFTAR
SUMBER
- Adrianus Kojongian. Kajian tentang struktur adat
Minahasa.
- G.S.S.J. Ratu Langie. 1930. De Kalakeran-gronden
en het inlandsche-gemeentewezen in de Minahasa.
- Nicolaas
Graafland. 1869. De Minahassa.
- J.G.F. Riedel. De Minahasa.
- Arsip
Hindia Belanda, Residentie Manado.
- Staatsblad
Hindia Belanda (1919–1920).
ADAT DAN ADAT ISTIADAT MINAHASA
(1679)
Kajian atas Tulisan Robertus Padtbrugge
1. Siapa Robertus Padt-Brugge?
Robertus Padtbrugge adalah pejabat tinggi VOC yang
menjabat sebagai Gubernur Maluku pada paruh kedua abad ke-17. Sebagai
representasi resmi Pemerintah Hindia Belanda di kawasan timur Nusantara, ia
memiliki kepentingan administratif, politik, dan ekonomi terhadap wilayah-wilayah
di bawah pengaruh VOC, termasuk Minahasa.
Pada tahun 1679, Padt-Brugge menyusun laporan berjudul Beschrijving
der Zeden en Gewoonten van de Bewoners der Minahassa (Deskripsi tentang
Adat dan Kebiasaan Penduduk Minahasa). Tulisan ini merupakan salah satu sumber
tertua yang secara sistematis mencatat keadaan sosial, adat, dan batas wilayah
Minahasa pada abad ke-17.
2. Awal Kedatangan dan Konteks Minahasa
Kedatangan Padt-Brugge ke wilayah Minahasa tidak berdiri
sendiri, melainkan merupakan bagian dari ekspansi dan konsolidasi kekuasaan VOC
di kawasan Maluku dan Sulawesi Utara. Sebelum VOC memperkuat posisinya, bangsa
Spanyol dan Portugis telah lebih dahulu mengunjungi wilayah tersebut, meskipun
tidak membentuk koloni permanen yang kuat.
Minahasa pada masa itu dipahami sebagai suatu wilayah di
semenanjung utara Sulawesi yang dikelilingi laut di tiga sisi dan berbatasan
darat dengan Mongondow dan Bolaang. Namun, dalam pemahaman administratif
Padt-Brugge, wilayah seperti Amoerang (Amurang), Bolaang, dan Mongondow tidak
dimasukkan sebagai bagian inti Minahasa. Hal ini menunjukkan bahwa batas
etnografis Minahasa dibedakan dari batas geografisnya.
Catatan pelayaran Belanda yang dimulai dari Ternate pada
awal abad ke-17 memperlihatkan bahwa kawasan ini mulai dipetakan secara
sistematis. Teluk Castricum dan sejumlah teluk lain di pantai timur serta
selatan semenanjung dicatat dalam peta-peta Belanda, memperlihatkan perhatian
serius VOC terhadap potensi ekonomi dan strategis kawasan tersebut.
3. Informasi Penting yang Diperoleh Padt-Brugge
Dari laporannya, terdapat beberapa informasi penting yang
dapat disimpulkan:
a. Batas Wilayah dan Geografi
Padt-Brugge memberikan gambaran geografis Minahasa berdasarkan garis lintang
dan posisi teluk-teluk penting. Ia menekankan bahwa wilayah Minahasa lebih luas
daripada yang tergambar dalam peta awal, serta mencatat posisi Teluk Castricum
dan Amoerang secara relatif.
b. Kesadaran Sejarah Lokal
Penduduk setempat tidak memiliki ingatan yang jelas mengenai kedatangan bangsa
Eropa pertama. Meskipun bangsa Iberia telah hadir lebih awal, dalam persepsi
masyarakat kemudian berkembang anggapan bahwa Belandalah yang pertama menemukan
wilayah tersebut.
c. Kontak Awal dengan Bangsa Eropa
Catatan VOC menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-17, kapal-kapal Belanda telah
datang ke Manado untuk membeli beras. Beberapa ekspedisi antara tahun 1607–1610
memperlihatkan adanya hubungan dagang sebelum pembentukan kontrol politik yang
lebih kuat.
d. Signifikansi Ekonomi
Minahasa telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan regional, khususnya
sebagai pemasok beras bagi Maluku. Hal ini menjelaskan mengapa VOC memiliki
kepentingan strategis terhadap wilayah tersebut.
Tulisan
Robertus Padtbrugge tahun 1679 merupakan salah satu sumber primer terpenting
mengenai Minahasa abad ke-17. Melalui laporan tersebut, tergambar bahwa
Minahasa bukan hanya sebuah wilayah adat dengan struktur sosial tersendiri,
tetapi juga kawasan strategis yang telah masuk dalam jaringan pelayaran dan
perdagangan internasional sejak awal abad ke-17.
Karya
ini memperlihatkan tiga hal utama:
- Penegasan
batas wilayah Minahasa menurut perspektif kolonial VOC.
- Rekam jejak kontak awal dengan bangsa Eropa,
terutama Spanyol dan Belanda.
- Pentingnya
Minahasa dalam sistem ekonomi regional, khususnya perdagangan beras.
Dengan
demikian, laporan Padt-Brugge tidak hanya menjadi deskripsi adat dan kebiasaan,
tetapi juga dokumen politik dan geografis yang membantu memahami proses awal
integrasi Minahasa ke dalam sistem kolonial dan perdagangan global pada abad
ke-17.
1.
Konteks Sejarah Abad ke-17
Tulisan
Padt-Brugge merupakan salah satu sumber Eropa tertua tentang Minahasa. Karya
ini disusun pada masa awal dominasi VOC di Maluku dan Sulawesi Utara.
Pada
abad ke-16 hingga awal abad ke-17:
- Portugis
dan Spanyol berfokus pada perdagangan rempah-rempah.
- Manado
dan wilayah Minahasa menjadi persinggahan strategis antara Maluku dan
Filipina.
- Kehadiran Belanda kemudian menggantikan pengaruh
Iberia secara bertahap.
Kedatangan bangsa Eropa tidak hanya berdampak pada
perdagangan, tetapi juga pada:
- Pemetaan
wilayah,
- Pembentukan
persekutuan politik lokal,
- Transformasi
adat dan sistem sosial.
2.
Minahasa dalam Perspektif Geopolitik
Wilayah
Minahasa secara geografis merupakan semenanjung yang menjorok ke utara Pulau
Sulawesi. Keunggulan strategisnya:
- Dikelilingi
laut (akses pelayaran mudah),
- Dekat
dengan Maluku (pusat rempah),
- Berhadapan
dengan Filipina (wilayah Spanyol).
Karena
itu, Minahasa menjadi wilayah perebutan pengaruh antara:
- Spanyol
(berbasis di Filipina),
- Portugis
(sebelumnya di Maluku),
- Belanda
(VOC).
3.
Kedudukan Adat dalam Masyarakat Minahasa
Meskipun
teks di atas lebih menyoroti aspek geografis dan pelayaran, karya Padt-Brugge
secara umum juga membahas adat dan kebiasaan masyarakat Minahasa. Beberapa
unsur penting adat Minahasa abad ke-17:
a.
Struktur Sosial
- Walak
(wilayah adat) dipimpin oleh kepala walak.
- Hubungan
antarwalak bersifat konfederatif.
- Kepemimpinan didasarkan pada keturunan dan
kemampuan.
b.
Hukum Adat
- Penyelesaian
sengketa melalui musyawarah.
- Sanksi
berupa denda (biasanya hewan atau barang berharga).
- Hukum adat mengatur perkawinan, warisan, dan
hubungan antar-kelompok.
c.
Kepercayaan Tradisional
- Kepercayaan
kepada Opo Empung (Tuhan tertinggi).
- Penghormatan
kepada roh leluhur.
- Upacara adat berkaitan dengan pertanian dan perang.
Tulisan Padtbrugge perlu dibaca secara kritis karena:
- Ditulis
dari sudut pandang kolonial.
- Bertujuan memberikan informasi strategis kepada VOC.
- Tidak
sepenuhnya memahami struktur adat lokal secara mendalam.
Namun
demikian, sumber ini tetap penting karena:
- Memberikan
gambaran awal tentang batas wilayah Minahasa.
- Mencatat interaksi awal dengan bangsa Eropa.
- Menjadi
referensi awal sejarah Minahasa tertulis.
5. Implikasi bagi Studi Sejarah Lokal
Tulisan ini memperlihatkan bahwa:
- Identitas
Minahasa belum sepenuhnya terdefinisi secara teritorial pada abad ke-17.
- Wilayah
seperti Bolaang, Mongondow, dan Amoerang memiliki posisi yang
diperdebatkan.
- Interaksi global telah memengaruhi dinamika adat
lokal jauh sebelum masa zending dan kolonialisme formal abad ke-19.
Karya : Beschrijving der Zeden en Gewoonten van de
Bewoners der Minahassa oleh Robertus Padtbrugge merupakan dokumen penting abad
ke-17 yang mencatat kondisi geografis, batas wilayah, serta awal interaksi
Minahasa dengan bangsa Eropa.
Meskipun
ditulis dalam perspektif kolonial, sumber ini membantu kita memahami:
- Perkembangan
konsep wilayah Minahasa,
- Jejak awal pelayaran dan perdagangan internasional,
- Dinamika
adat dan struktur sosial sebelum transformasi besar abad ke-
LAMPIRAN II
Organisasi dan Pelaksanaan Administrasi Residensi Manado
BESTUURSVORMEN EN BESTUURSSTELSELS IN DE MINAHASSA_M.
BROUWER.
Bentuk-Bentuk Pemerintahan dan Sistem Pemerintahan di
Minahasa
Marten Brouwer,1936
Sebelum kedatangan bangsa Belanda di Minahasa, telah
terbentuk suatu federasi suku yang dalam bahasa daerah disebut pakasaän.
Federasi ini juga dikenal dengan nama Maasa atau Minaêsa¹).
Suku-suku Maasa atau Minaêsa pada awalnya
diperintah oleh seorang kepala suku yang dipilih melalui pemungutan suara
mayoritas oleh seluruh orang dewasa, terutama para tetua suku (pekasaän)
yang disebut achka im banua (dalam bahasa Melayu: orang-orang negeri).
Walaupun kepala suku dipilih dan diangkat untuk masa
jabatan seumur hidup, ia tetap dapat diberhentikan melalui keputusan mayoritas
dalam majelis rakyat apabila terbukti melanggar lembaga adat dan kepentingan
rakyat, atau mengabaikan kepentingan suku (pakasaän). Kepala suku ini secara tradisional
disebut kapala-wangko atau kapala-imbaläk²).
Apabila
seorang kepala suku telah memberikan jasa besar kepada sukunya dan memiliki
seorang putra yang dianggap layak serta diharapkan mengikuti jejak
kepemimpinannya, maka putra tersebut biasanya dipilih oleh penduduk³) melalui
suara mayoritas sebagai penerus ayahnya. Namun, apabila kepala suku tidak
menunjukkan diri sebagai pembela yang baik atas hak-hak sukunya, maka ia dapat
diberhentikan.
Catatan:
- Kata yang murni berasal dari
bahasa Alfur ini kemudian secara keliru ditulis sebagai “Minahasa” atau
“Minahassa” oleh orang-orang Belanda pertama yang datang ke wilayah ini. Ejaan
tersebut kemudian menjadi umum dan digunakan selama beberapa abad.
- Kapala
adalah kata Alfur yang berarti “kepala”; wangko berarti “besar”.
Kata walak berarti suku atau kelompok masyarakat; im
merupakan awalan i dengan tambahan konsonan m. Penafsiran N.
Graafland dalam bukunya De Minahassa, yang menyatakan bahwa gelar
kepala suku di Minahasa berasal dari kata Belanda balk, adalah
keliru. Pendapat
tersebut telah dibantah secara luas oleh Dr. N. Adriani dan J. A. F.
Schwarz.
- Yang dimaksud adalah awoeh,
yakni kepala rumah tangga.
Apabila
seorang kepala suku tidak menunjukkan itikad baik terhadap kepentingan pakasaän-nya,
maka putranya tidak akan dipilih sebagai penerus. Sebagai gantinya, seseorang
dari kalangan achka im banua (bangsawan atau orang terpandang negeri)
akan dipilih untuk memimpin.
Satu suku
atau pakasaän biasanya mendiami beberapa desa dan dusun yang tersebar,
tetapi tetap berada dalam batas wilayah suku (pekasaan) yang sama.
Di setiap
desa (kampung) atau negeri terdapat seorang kepala desa—lebih
tepat disebut kepala kampung atau kepala negeri—yang dalam bahasa daerah
disebut Pamatuan atau Pahedontua. Kepala-kepala kampung atau
negeri ini secara tradisional dipilih melalui pemungutan suara mayoritas dari
seluruh penduduk dewasa di kampung atau negeri tersebut.
Seorang Pahedontua
atau Pamatuan dibantu oleh ukung atau wowato, yang juga
menjadi anggota Negeri-raad (dewan negeri). Mereka bertugas mengadili
atau terlebih dahulu mengupayakan penyelesaian damai atas setiap perselisihan
di antara warga negeri¹).
Selain
para pendeta adat yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula pendeta
kepala dan pendeta kecil yang bertanggung jawab atas kebun-kebun. Pendeta
kepala, yang disebut tonaäs atau leleen, bertugas memastikan
bahwa sawah padi dan sorgum (jagung)—sebagai bahan pangan pokok
masyarakat—ditanam dan dikelola pada waktu yang tepat. Mereka juga memastikan
bahwa fossos (persembahan adat) yang dianggap perlu demi keberhasilan
panen dilaksanakan sesuai waktu yang telah ditentukan.
Upacara fossos
ini terbagi menjadi dua jenis: persembahan individu dan persembahan umum.
Persembahan individu dilakukan oleh perorangan atau rumah tangga, sedangkan
persembahan umum dilakukan oleh seluruh warga kampung atau negeri. Selain itu,
terdapat pula upacara besar yang melibatkan seluruh anggota suku. Karena
keberhasilan tanaman pangan seluruh warga negeri sangat bergantung pada
pelaksanaan tugas para pendeta ini, maka pendeta kepala dan pendeta kebun
memiliki suara yang menentukan dalam Dewan Negeri, khususnya dalam urusan
pertanian.
Di
samping itu, terdapat pula teterúsan, yaitu pendeta atau pemimpin ritual
yang bertugas menjaga keselamatan warga negeri dan sukunya. Apabila pakasaän
atau seluruh suku terlibat perang dengan suku tetangga, para teterúsan
ini memimpin dalam pertempuran. Oleh karena itu, mereka juga memiliki kedudukan dan hak
suara dalam Dewan Negeri.
Tidak ada tindakan penting yang berkaitan dengan suku (pakasaän)
yang boleh diambil oleh seorang kepala suku (kapala-wangko atau kapala
imbalak) tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan semua kepala dan tetua
dari setiap negeri yang berada dalam lingkungan suku tersebut.
¹ Para kepala kampung atau negeri dalam suatu suku secara
bersama-sama menjadi anggota Dewan Suku, yang dipimpin oleh Kapala-imbaläk
(kepala suku). Dewan ini mengadili dan memutuskan perselisihan antaranggota
suku.
Berikut versi yang telah disempurnakan dalam bahasa
Indonesia modern, runtut, dan konsisten secara istilah:
Setiap
keputusan penting harus terlebih dahulu dikonsultasikan dengan suku. Demikian
pula, semua keputusan yang menyangkut suku (pakasaän) wajib diumumkan
oleh kepala negeri atau kepala kampung kepada seluruh warga negeri.
Dari
uraian di atas, jelas bahwa suku-suku (pakasaän) di wilayah ini sejak
dahulu memiliki lembaga-lembaga yang bersifat demokratis dan berfungsi sebagai
komunitas hukum adat.
Pada masa
itu, suku-suku Alfur berada dalam situasi konflik ketika para penguasa Bolaang
Mongondow berusaha memaksa mereka membayar upeti serta melancarkan serangan
terhadap wilayah mereka. Tekanan tersebut menumbuhkan kesadaran akan pentingnya
persatuan dalam bentuk sebuah federasi.
Dalam
periode peperangan melawan pasukan yang dikirim oleh Pangeran Bolaang
Mongondow, bangsa Portugis dan Spanyol juga memasuki wilayah ini. Tidak lama
setelah kedatangan mereka, kedua bangsa Eropa tersebut ditakuti dan diperangi
oleh penduduk setempat karena tindakan sewenang-wenang yang mereka lakukan,
termasuk penculikan perempuan.
Ketika
Portugis dan Spanyol dianggap telah melampaui batas, penduduk setempat mengusir
mereka kembali ke kapal-kapal mereka dengan perlawanan keras. Namun,
komandan Spanyol mengancam akan kembali dengan armada dan pasukan yang lebih
besar untuk membalas tindakan tersebut.
Di bawah ancaman pasukan Pangeran (Kolano) Bolaang
Mongondow, serta tekanan dari Portugis dan Spanyol, seluruh kepala suku (pakasaän)
berkumpul. Setelah bermusyawarah, mereka sepakat membentuk dan mengikrarkan
sebuah federasi. Dalam persekutuan ini, segala permusuhan dan perselisihan
internal dikesampingkan. Mereka berjanji untuk saling membantu dalam menghadapi
musuh bersama, baik melawan Bolaang Mongondow, Portugis, Spanyol, maupun
penyerang lainnya. Sejak saat itu, suku-suku tersebut menyebut diri mereka Se
Maäsa atau Se Minaêsa, yang secara harfiah berarti “yang
dipersatukan” atau “yang bersekutu.”
Sejak terbentuknya federasi tersebut, setiap perselisihan
antar-suku diselesaikan melalui Dewan Se Maäsa, yang dihadiri oleh
perwakilan dari seluruh suku anggota. Perang hanya boleh dilakukan terhadap
musuh bersama, dan tidak lagi antar-suku.
Dalam situasi politik seperti itulah Se Maäsa
(yang bersatu) mengetahui keberadaan bangsa Eropa lain di Ternate yang menjadi
musuh Portugis dan Spanyol.
Dalam pertemuan suku-suku yang telah bersatu (Se Maêsa
atau Se Minaêsa), diputuskan bahwa tiga kepala suku (Kapala-wangko
atau Kapala imbalak) akan diutus kepada Kepala Dagang Belanda di
Ternate. Mereka
memohon bantuan atas nama federasi Se Maäsa atau Se Minaêsa untuk
menghadapi Portugis dan Spanyol serta ambisi penaklukan Pangeran Bolaang
Mongondow.
Menurut dokumen-dokumen lama, peristiwa ini terjadi pada
tahun 1654. Ketika pada tahun 1660 Spanyol dan Portugis bersama beberapa …
Ketika kapal-kapal dari Wanua datang untuk menghancurkan
Wangko—salah satu permukiman tertua dan terbesar suku Minahasa—mereka berhasil
dikalahkan dan diusir oleh Belanda. Pada saat itu, Belanda telah berada di
sebuah benteng berpagar kayu kokoh yang dibangun oleh orang-orang Minahasa di
Menado. Selain itu,
Simon Cos juga berada di Pelabuhan Menado dengan tiga kapal yang turut
memperkuat pertahanan.
Setelah
suku-suku Minaêsa menyaksikan bahwa Belanda menepati janji mereka untuk
mengusir Spanyol dan Portugis dari wilayah tersebut untuk selamanya, maka pada
16 Januari 1679 disepakati Perjanjian Persahabatan dan Aliansi antara suku-suku
Minaêsa atau Maêsa yang bersatu dengan Belanda. Perjanjian ini
kemudian diperbarui dan dipertegas melalui “Perjanjian Lanjutan” pada 10
September 1699.
Kontrak-kontrak tersebut sebelumnya telah dibahas dan
dianalisis oleh sejumlah tokoh yang lebih berkompeten, serta dimuat secara
lengkap dalam Indische Gids. Di antaranya ialah C. E. van Kesteren dan
C. Bosscher (mantan Residen Menado), J. G. F. Riedel dan F. S. A. de Clercq
(mantan Pengawas di Minahasa yang kemudian menjadi Residen Ambon dan Residen
Riouw), P. Brooshooft (Pemimpin Redaksi Locomotief), serta Prof. Dr. G.
A. Wilken (mantan Pengawas di Minahasa). Mereka telah menguraikan secara rinci
dan jelas mengenai hak-hak penduduk atas tanah—baik yang telah ditanami maupun
yang belum ditanami—serta perkembangan pembentukan suku di Minahasa. Oleh
karena itu, penulis cukup merujuk kepada karya-karya mereka.
Hal yang penting untuk ditegaskan ialah bahwa para Kepala
Suku Minahasa dalam semua kontrak tersebut secara tegas menyatakan bahwa mereka
bertindak “untuk dan atas nama masyarakat desa-desa hilir, hulu, dan pedalaman
Minahasa.” Dengan demikian, dalam perjanjian tersebut ditekankan bahwa para
kepala suku menandatangani kontrak persahabatan dan aliansi semata-mata sebagai
wakil dari federasi suku-suku Minahasa.
Kontrak-kontrak tersebut tidak pernah secara resmi
dibatalkan. Dalam beberapa dekade terakhir memang muncul pendapat dari sebagian
pejabat administrasi dan peradilan Eropa yang menyatakan bahwa kontrak tahun
1699 telah batal. Namun, pembatalan suatu perjanjian yang telah disepakati
memerlukan persetujuan kedua belah pihak, dan hal itu tidak pernah terjadi.
Masyarakat
Minahasa merasa bangga karena senantiasa setia mematuhi Perjanjian Persahabatan
dan Aliansi tersebut. Mereka menafsirkan perjanjian itu dalam pengertian bahwa
rakyat Minahasa terikat dan akan selalu terikat kepada Bangsa Belanda oleh
hubungan kesetiaan dan ketaatan yang tidak terputus, dan bahwa Belanda
berkewajiban untuk senantiasa melindungi rakyat Minahasa dari siapa pun yang
menyerang mereka.
“…mungkin
dimaksudkan untuk menimbulkan keresahan, sehingga Belanda akan selalu
melindungi penduduk Minahasa dari para pejabat pemerintah yang memperlakukan
dan menghukum mereka secara tidak adil.”
Selanjutnya,
perlu dibahas mengenai struktur dan pelaksanaan dewan pada masa pemerintahan
kolonial.
Perwakilan
Belanda di Menado pada masa Perusahaan Hindia Timur (VOC) disebut petor.
Setelah VOC dibubarkan dan digantikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, Menado
mula-mula dipimpin oleh seorang Asisten Residen, kemudian ditingkatkan menjadi
Residensi, yang tetap berada di bawah Gubernur Maluku.
Secara
bertahap, wakil Pemerintah Hindia Belanda memperoleh pengaruh yang semakin
besar dalam Dewan Suku Minahasa yang Bersatu. Pada akhirnya, Residen bahkan
menjadi Ketua Dewan Minahasa. Karena dominasi Residen sebagai Ketua Dewan,
lembaga ini praktis tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan
diberlakukannya sistem penanaman kopi, kerja rodi (heerendienst), dan berbagai
kewajiban budaya lainnya, para Residen lebih banyak mengeluarkan perintah yang
harus dipatuhi tanpa perlawanan oleh para Volkshoofden (kepala suku).
Istilah pakasaän
kemudian diganti menjadi “distrik,” dan batas wilayah pakasaän
ditetapkan sebagai batas administratif distrik tersebut.
Kepala
suku atau pemimpin tertinggi suku diturunkan statusnya oleh pemerintah kolonial
menjadi Kepala Distrik. Melalui Kepala Distrik inilah para kepala negeri (desa)
dan pejabat bawahan digunakan untuk memaksa penduduk melaksanakan kerja
pertanian wajib dan berbagai tugas pemerintahan yang berat. Beban kerja
tersebut sedemikian beratnya sehingga penduduk hampir tidak lagi memiliki waktu
untuk mengolah sawah dan ladang jagung mereka sendiri. Akibatnya, di balik
kebun-kebun kopi yang luas dan jalan-jalan yang rapi—yang bahkan disamakan
dengan jalur golf—tersembunyi kenyataan pahit berupa kelaparan di kalangan
petani.
Sistem
ini sepenuhnya menjauhkan para mantan kepala suku—yang dahulu merupakan
pemimpin tertinggi dan lebih dihormati daripada kepala negeri—dari rakyatnya.
Akibatnya, kohesi atau kesatuan komunitas adat pakasaän (suku) menjadi
rusak.
Para
mantan kepala suku dan kepala-kepala bawahan yang sebelumnya dihormati dan
dicintai oleh seluruh anggota pakasaän (yang kini disebut distrik), pada
akhirnya hanya diperlakukan sebagai “pengawas” atau “mandor” yang tugas
utamanya meningkatkan pelaksanaan heerendienst (kerja paksa) dan cultuurdiensten
(kerja wajib tanaman ekspor) setinggi mungkin, demi menghasilkan jalan-jalan
yang indah dan produksi kopi yang melimpah.
Catatan:
- Syukurlah, seperti yang
terjadi di Ambon dan Tiga Oeliaser (lihat Dr. J. G. F. Riedel, Ras
Berambut Lurus dan Keriting antara Selebes dan Papua, hlm. 37–38),
keadaan di Minahasa tidak sampai separah itu.
- Untungnya, sistem kerja wajib
yang sangat berat ini kemudian dihapuskan. Pada tahun 1918, seorang
Anggota Dewan Hindia yang berkunjung ke Minahasa sebagai Komisaris
Pemerintah mengusulkan agar heerendienst dapat ditebus dengan
pembayaran sejumlah uang yang wajar.
Para
kepala suku harus mengenakan pajak penghasilan kepada rakyat mereka setinggi
mungkin, untuk mendapatkan lebih banyak pajak yang harus dikumpulkan secepat
mungkin dan dibayarkan ke kas negara.
Para
kepala distrik dan Negri, melalui sistem yang diterapkan kepada mereka, secara
bertahap berhenti menjadi kepala Adat tetapi masing-masing menjadi pengawas dan
pelaksana mandat dari mantan rakyat mereka.
Sumber kepustakaan dari
Buku Brower :
ADAM, L., Uit en over de Minahassa. Bijdragen tot de
Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Deel 81, blz. 390 e.v.
———, De autonomie van het Indonesisch dorp. Adatrechtbundels.
AERNSBERGEN, A. J. VAN, De Katholieke Kerk en haar
missie in de Minahassa. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van
Nederlandsch-Indië; Deel 81, blz. 80 e.v.
ALKEMA, B., Ons Insulinde.
BOEKE, J. H., Auto-activiteit naast autonomie.
Verslagen Indisch Genootschap 1922.
———, Het zakelijk en het persoonlijk element in de koloniale
welvaartspolitiek. Koloniale Studiën, jaargang 1927. Deel I.
———, Dorpsherstel. Verslagen Indisch Genootschap 1931.
———, Dorp en desa.
BOSSCHER, C., Het tegenwoordige regeeringsbeleid in de
residentie Menado. Indische Gids, jaargang 1880, deel I, blz. 229 e.v.
Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Ned.
Indië. Deel 91, 93.
CARPENTIER ALTING, J. H., Regeling van het
privaatrecht voor de Inlandsche bevolking in de Minahassa-districten der
Residentie Manado. Deel I.
COLIJN, H., Neerlands Indië. Deel II.
Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië.
GALLois, W. O., Rapport nopens den staat van zaken in
de Minahassa uitgebracht door het Lid van den Raad van Nederlandsch-Indië.
Indische Gids, jaargang 1892. Deel II, blz. 1902 e.v., 2142 e.v. en 2332 e.v.
GODÉE MOLSBERGEN, E. C., Geschiedenis van de Minahassa
tot 1829.
GONGGRIJP, G., Schets eener economische geschiedenis
van Nederlandsch-Indië.
GRAAFLAND, N., De Minahassa. Haar verleden en haar
tegenwoordige toestanden, 1867.
HAAN, F. DE, Priangan. Deel I.
———, Oud-Batavia.
HAGA, B. J., De beteekenis van de Inlandsche gemeente
in de Buitengewesten. Verslagen Indisch Genootschap 1932.
———, Het Inlandsche bestuur in het direct gebied van de buitengewesten.
Koloniaal Tijdschrift, jaargang 22, nos 1 en 2.
———, Erkenning van vroegere Inlandsche verbanden. Koloniale Studiën,
jaargang 1928. Deel I.
HELSDINGEN, W. H. VAN, 10 Jaar Volksraadarbeid,
1918—1928.
HESLINGA, J. H., Het Inlandsch bestuur en zijn
reorganisatie in Nederlandsch-Indië.
HOLLEMAN, F. D., Verslag van een onderzoek inzake
adatgrondenrecht in de Minahassa. Mededeelingen van de Afdeeling
Bestuurszaken der Buiten-gewesten van het Departement van Binnenlandsch
Bestuur. Serie A, no
11.
PERIODISASI
SEJARAH PEMERINTAHAN MINAHASA
(Berdasarkan
uraian M. Brouwer)
I. Periode Pakasaän dan Demokrasi Adat
(Sebelum
terbentuknya Federasi Se Maäsa – sebelum ±1654)
Ciri
utama:
- Minahasa terdiri atas
suku-suku (pakasaän).
- Setiap suku dipimpin oleh Kapala-wangko
/ Kapala-imbaläk yang dipilih melalui suara mayoritas orang dewasa
(awoeh).
- Kepala
suku dapat diberhentikan melalui keputusan Dewan.
- Struktur
pemerintahan bersifat demokratis dan kolektif.
- Di
tingkat negeri/kampung terdapat:
- Pahedontua / Pamatuan (kepala
negeri),
- Ukung/Wowato (anggota dewan),
- Tonaäs/Lelleen (pemimpin adat
pertanian),
- Teterúsan (pemimpin ritual
dan perang).
- Semua keputusan penting
diambil melalui musyawarah Dewan Negeri dan Dewan Suku.
- Suku-suku
merupakan komunitas hukum adat yang mandiri.
II. Periode Ancaman Eksternal dan Pembentukan Federasi
(±1654)
Latar belakang:
- Ancaman dari Bolaang
Mongondow.
- Gangguan Portugis dan Spanyol.
Peristiwa
penting:
- Para kepala suku bermusyawarah
dan membentuk federasi Se Maäsa / Se Minaêsa (yang dipersatukan).
- Konflik
internal antar-suku dihentikan.
- Dibentuk Dewan Federasi.
- Tahun 1654: utusan dikirim
kepada Kepala Dagang Belanda di Ternate untuk meminta bantuan.
Makna
periode ini:
- Transformasi dari konfederasi
longgar menjadi federasi politik yang bersatu menghadapi musuh bersama.
III.
Periode Aliansi dengan Belanda (VOC)
(1679–1799)
Peristiwa
penting:
- 16
Januari 1679: Perjanjian Persahabatan dan Aliansi dengan Belanda.
- 10 September 1699: Perjanjian
diperbarui.
Karakteristik:
- Kepala suku bertindak atas
nama seluruh rakyat Minahasa.
- Perjanjian dipahami sebagai
hubungan timbal balik:
- Minahasa setia kepada
Belanda.
- Belanda berkewajiban
melindungi Minahasa.
- Struktur
adat masih tetap berjalan.
- Perwakilan Belanda di Menado
disebut Petor.
IV.
Periode Pemerintahan Hindia Belanda Awal
(Setelah
1799 – awal abad ke-19)
Perubahan
utama:
- VOC dibubarkan.
- Pemerintahan digantikan oleh
Pemerintah Hindia Belanda.
- Menado dipimpin Asisten
Residen, kemudian menjadi Residensi.
- Minahasa berada di bawah Gubernur
Maluku.
Perkembangan:
- Pengaruh pemerintah kolonial
dalam Dewan Suku semakin besar.
- Residen akhirnya menjadi Ketua
Dewan Minahasa.
- Lembaga adat mulai kehilangan
fungsi independennya.
V.
Periode Sentralisasi Kolonial dan Kerja Wajib
(Abad
ke-19 – awal abad ke-20)
Perubahan
mendasar sistem pemerintahan:
- Istilah pakasaän diganti
menjadi Distrik.
- Kapala-wangko diturunkan
statusnya menjadi Kepala Distrik.
- Kepala
negeri dan pejabat adat dijadikan alat pelaksana pemerintah kolonial.
Kebijakan
utama:
- Sistem tanam kopi.
- Heerendienst (kerja rodi).
- Cultuurdiensten
(kerja wajib tanaman ekspor).
- Pajak
penghasilan dipaksakan kepada rakyat.
Dampak:
- Kepala adat berubah menjadi
pengawas/mandor kolonial.
- Hubungan
antara pemimpin dan rakyat terputus.
- Kesatuan
komunitas adat pakasaän melemah.
- Beban
kerja berat menyebabkan penderitaan dan kelaparan tersembunyi.
VI.
Periode Perbaikan Terbatas Sistem Kolonial
(Awal
abad ke-20 – 1918 dan sesudahnya)
Perubahan:
- Sistem kerja wajib yang berat
mulai dihapus.
- Tahun
1918: diusulkan agar heerendienst dapat ditebus dengan pembayaran uang.
- Namun struktur distrik tetap
bertahan sebagai sistem administratif kolonial.
Skema
Perubahan Besar
|
Periode |
Bentuk
Pemerintahan |
Sifat
Kekuasaan |
|
Pra-1654 |
Pakasaän |
Demokratis
adat |
|
1654 |
Federasi
Se Maäsa |
Persatuan
politik |
|
1679–1799 |
Aliansi
VOC |
Kemitraan
formal |
|
1800-an |
Residensi
Manado |
Pengaruh
kolonial meningkat |
|
Abad 19 |
Distrik
& Kerja Wajib |
Sentralisasi
dan eksploitasi |
|
1918+ |
Reformasi
terbatas |
Pelonggaran
sistem kerja |
DARI PAKASAAN
KE DISTRIK
SONDER
Sonder
adalah sebuah permukiman yang didirikan oleh mantan kepala distrik, almarhum
Mayor H. W. Dotoeloeng, salah satu veteran Perang Jawa, yang untuk tujuan ini,
telah memindahkan banyak penduduk dari desa-desa lain di distriknya ke sini.
Apakah ia melakukan hal yang benar masih diragukan. Tempat itu sendiri tidak
sehat, karena air yang mengalir dari perbukitan sekitarnya tidak dapat mengalir
dengan cukup dan mengumpul di genangan. Memang benar bahwa dengan mengisi
sebagian genangan ini dan membendungnya, air telah dialihkan semaksimal mungkin
ke kolam permanen, yang sekarang berfungsi sebagai tambak ikan, tetapi asap
rawa yang berbahaya yang naik dari genangan yang hampir stagnan ini selama
siang hari yang panas tetap berada di lembah, karena ketinggian di sekitarnya
mencegah radiasi yang memadai. Inilah juga alasan mengapa penduduk Sonder
dilanda demam.
Pasangyrahan
Sonder dalam kondisi sangat baik dan menawarkan akomodasi yang nyaman bagi para
pelancong.
Tidak
jauh dari pasangyrahan terdapat rumah
SUMBER
: SEKILAS TENTANG MINAHASSA.
Oleh
M. HAMERSTER. Dilengkapi ilustrasi berdasarkan foto karya penulis.1916
GENEALOGI
ASA’ SEBAGAI
PENDIRI KAPOYA
(Serta Keterkaitannya dengan
Kapoya dan Lapi)
I. Garis Asa dan Perpindahan dari Sonder
Tradisi
lisan menyebut bahwa Asạ berasal dari Sonder pada masa pemerintahan Mamait
sebagai kepala wilayah. Garis keturunannya adalah:
Asạ
→ Sarajar
→ Simbar
→ Sondak
→ Pariei
→ Wolo
Wolo
inilah yang kemudian memeluk agama Kristen dan menerima nama baptis Dirk Regar.
Dari Dirk Regar lahir Israel Regar, yang meneruskan garis keluarga Regar di
Kapoya.
Garis
ini memperlihatkan hubungan migrasi dari Sonder menuju wilayah Kapoya dan
sekitarnya, serta menjadi salah satu fondasi genealogis masyarakat awal Kapoya.
II.
Garis Kitje dan Wulan
Selain
garis Asa, terdapat pula tradisi besar lain yang bersumber dari Kitje dan Wulan,
yang dalam memori kolektif masyarakat dipandang sebagai leluhur penting.
Dari
garis keturunan ini berkembang beberapa cabang keluarga besar.
Anak-anak
Rumondor, Kalumbene, dan Sendowene
(disebut
sebagai adik dari Mamusung)
1.
Rumondor memperanakkan:
- Sem
- Hendrikus
- Kornela
- Katrentje
- Her
2.
Kalumbene memperanakkan:
- Lonseng
- Wereng
3.
Sendowene memperanakkan:
- Marlina
- Johana
III.
Garis Rumangu dan Lahirnya Wolo (Dari Wulan–Kitje)
Rumangu
memperanakkan:
- Maun
- Pangemanan
- Wolo
- Pangaroran
- Laiwene
- Tiwon
Dalam
garis ini muncul kembali nama Wolo, yang menurut tradisi disebut sebagai keturunan
Wulan dan Kitje.
Wolo
dari garis ini dikenal sebagai salah satu dotu (leluhur besar) di Desa Lapi.
Hal
ini menunjukkan bahwa:
- Garis genealogis Kapoya dan Lapi saling berhubungan
- Migrasi dan perkawinan membentuk jaringan antarwanua
- Wolo bukan hanya tokoh keluarga, tetapi figur
leluhur yang memiliki pengaruh wilayah
IV.
Keturunan Wolo (Garis Wulan–Kitje)
Wolo
memperanakkan:
- Rantung
- Kolek
- Sesung
- Paku
Sementara
cabang lain berkembang melalui:
Maun
memperanakkan:
- Wawondatu
- Siyowwene
- Aper
- Karundeng
- Seput
- Ruindungan
- Lintuuran
- Langkay
Pangemanan
memperanakkan:
- Wengkong
- Rasuen
- Spela
Pangaroran
memperanakkan:
- Robuat
- Wuronton
- Kayuwatu
Wuronton
memperanakkan:
- Ratumbanua
(anak angkat)
Ratumbanua
memperanakkan:
- Wokas
- Tijow
Wokas
kemudian bersuami Mamusung (Abram Sinaulan), yang memperlihatkan integrasi
marga dan penguatan posisi sosial keluarga dalam struktur wanua.
V.
Analisis Historis dan Keminahasaan
1.
Wolo sebagai Figur Ganda dalam Tradisi
Nama
Wolo muncul dalam dua jalur:
- Garis
Asa → Pariei → Wolo (Dirk Regar, Kapoya)
- Garis
Wulan–Kitje → Wolo (Dotu Lapi)
Kemungkinan
historis:
- Dua individu berbeda dengan nama yang sama
- Atau cabang keluarga yang terpisah dan kemudian
berkembang di dua wilayah
Dalam
tradisi Minahasa, pengulangan nama leluhur adalah bentuk penghormatan dan
legitimasi genealogis.
2.
Wolo sebagai Dotu di Lapi
Sebagai
dotu, Wolo memiliki makna:
- Leluhur
pemilik wilayah awal
- Pendiri
atau pelindung wanua
- Tokoh yang dihormati dalam struktur adat
Keberadaan Wolo dalam memori Lapi memperlihatkan bahwa
Kapoya dan Lapi memiliki keterkaitan sejarah yang dalam, kemungkinan melalui
migrasi dan perkawinan antarwanua.
3.
Struktur Sosial yang Tercermin
Genealogi
ini memperlihatkan ciri khas keminahasaan:
- Struktur berbasis keret (keluarga besar)
- Kepemilikan
tanah komunal
- Legitimasi
sosial melalui garis keturunan
- Perkawinan sebagai alat konsolidasi kekuasaan lokal
VI. Hubungan dengan Sejarah Kapoya (1609–1904)
Jika dikaitkan dengan kajian besar Kapoya:
- Migrasi dari Sonder memperlihatkan dinamika awal
pembentukan wanua
- Garis Wulan–Kitje menunjukkan konsolidasi lokal
- Wolo
sebagai dotu Lapi memperlihatkan hubungan regional
- Perubahan
Wolo menjadi Dirk Regar menunjukkan transisi adat → Kristen
Ini
semakin menegaskan bahwa:
Kapoya
dan Lapi bukan entitas terpisah, melainkan bagian dari jaringan wanua
Tontemboan yang lebih luas.
VII.
Kesimpulan Historis
- Wolo
adalah simpul penting dalam sejarah genealogis Kapoya dan Lapi.
- Garis Asa dan Wulan–Kitje menunjukkan dua arus
migrasi dan konsolidasi keluarga.
- Tradisi
dotu memperlihatkan sistem legitimasi adat sebelum sistem kolonial.
- Genealogi
ini menguatkan bahwa Kapoya telah memiliki struktur sosial matang jauh
sebelum 1609.
Laporan Pendeta
K.T. Herman
Senin, 3
Desember 1839 dalam
Penerbitan tahun 1840
Hal itu menunjukkan bahwa mereka pun harus belajar dengan
sungguh-sungguh. Secara
umum, saya dapat mengatakan bahwa usaha saya berhasil.
Beberapa
hari kemudian, Gubernur Maluku tiba di Menado dan turut mengunjungi Amurang
serta tiga sekolah yang berada di sana. “Saya melaporkan kepada Yang Mulia,”
tulis Herrmann, “tentang keadaan sekolah-sekolah yang berada di bawah
pengelolaan saya. Kesempatan itu terlalu berharga untuk tidak saya manfaatkan
demi mewujudkan rencana yang telah lama saya susun.
Setelah
sebelumnya membujuk para kepala suku agar menyetujuinya, di hadapan Gubernur
saya mengajukan permohonan agar didirikan sebuah embil sekolah yang besar di
sini. Gedung itu akan menjadi tempat penyatuan tiga sekolah yang telah ada,
sehingga antara dua ratus hingga dua ratus lima puluh anak dapat dididik
bersama oleh satu orang guru dan dua asisten guru.”
Rencana
tersebut berhasil sepenuhnya. Residen kemudian menanyakan langsung kepada para
kepala suku apakah mereka menghendaki hal itu. Di hadapan saya, dan setelah
sebelumnya berjanji mendukung rencana tersebut, mereka hanya berani menjawab
setuju.
Pada saat
saya menuliskan ini, kayu-kayu untuk embilanan sudah ditebang. Saya berharap
dalam waktu sekitar enam bulan embil sekolah itu akan selesai dibangun. Hal ini
memberi saya sukacita yang besar. Dengan demikian, guru dari Romohon dapat saya
tempatkan di embil lain; pekerjaan saya dalam mengelola sekolah tidak lagi
terbagi-bagi; dan karena embil itu terletak dekat dengan rumah saya, saya pun
dapat menyelenggarakan ibadah malam di sana. Tempat itu akan lebih mudah
dijangkau oleh jemaat Romohon dan Kawangkowang, serta tidak lebih sulit diakses
oleh embilan kelompok lainnya. Dengan senang hati saya akan meluangkan waktu
beberapa jam setiap hari untuk berada di sana.
JUMLAH PENDUDUK KAPOYA DALAM PUBLIKASI
1840
Pada hari Jumat yang lalu, saya melakukan perjalanan ke
Pinangmorongan dan Wuwukh. Sekolah di tempat pertama telah mulai berjalan
dengan dua puluh orang murid. Saya telah memilih seorang asisten guru dari
sekolah di Romohon untuk membantu di sana. Namun, untuk saat ini saya belum
dapat menyampaikan banyak hal mengenai perkembangannya.
Dari situ saya melanjutkan perjalanan ke KAPOJA, sebuah
desa yang terdiri dari sekitar delapan puluh kepala keluarga. Kepala
desanya—satu-satunya orang Kristen di tempat itu—atas persetujuan Kepala
Sonder, telah menyatakan keinginannya untuk mendirikan sebuah sekolah.
Sayangnya, ketika saya tiba, ia tidak berada di rumah. Karena itu, saya harus
kembali tanpa hasil dan melanjutkan perjalanan menuju Wuwukh.
Sekolah
yang baru dirintis di sana pada bulan Maret berkembang melampaui harapan saya.
Sekitar lima belas anak telah mampu membaca dengan lancar, mulai belajar
menulis dan berhitung dengan baik, serta telah menghafal beberapa bagian dari
sejarah Alkitab. Kepala Kawangkowang, yang wilayah pemerintahannya mencakup
masyarakat setempat, telah menambah jumlah murid dengan sekitar tiga puluh anak
perempuan dan dua puluh anak laki-laki. Dengan demikian, setiap hari
lebih dari seratus anak menghadiri sekolah tersebut.
Saya melihat semangat ingin tahu di antara anak-anak di
sana—sesuatu yang sebelumnya hanya saya temukan di Ritej, dan kini mulai tampak
juga di Tompassijan. Sepengetahuan saya, hal itu muncul karena para orang tua
menginginkan anak-anak mereka menjadi lebih bijaksana daripada mereka sendiri,
serta terbebas dari perayaan-perayaan kafir yang mereka anggap tidak bermakna.
Penduduk di sana menyambut kedatangan saya dengan
sukacita dan mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang saya sampaikan.
Sebaliknya, di tempat ini sebagian besar orang Kristen justru berusaha
menghindari saya sebisa mungkin.
Sumber : Nederlandsch Zendeling Genootschap. 1840. Maandberigt
van het Nederlandsche Zendeling Genootschap, betrekkelijk de uitbreiding van
het Christendom, bijzonder onder de Heidenen. Nederlandsch Oostindië: Celebes.
Nr. 5. TE ROTTERDAM, bij RI. WYT & ZONEN , Drukkers van het Neder],
Zendeling-Genootschap. (Musim Panas: Serikat Misionaris Belanda. 1840. Laporan
bulanan Serikat Misionaris Belanda, mengenai penyebaran agama Kristen,
khususnya di kalangan orang kafir. Hindia Belanda: Celebes. No. 5.)
LAPORAN
PENDETA TENDELOO, TAHUN 1859 DALAM PENERBITAN TAHUN 1860
CELEBES
(MINAHASA)
Dari
Ambon kita beralih ke Celebes, khususnya ke bagian timur laut pulau itu, yang
dikenal sebagai Minahasa, berpusat di Menado. Sebagaimana dalam laporan bulanan
kedua tahun ini, kembali kita mendengar kabar mengenai pekerjaan saudara kita,
Tendeloo, yang diambil dari catatan hariannya tahun 1859.
Selama
tahun itu, ia menghabiskan 111 hari dalam pergumulan batin—mengalami kesedihan,
tekanan mental, bahkan hampir putus asa—karena kehidupan sebagai misionaris di
Amurang penuh dengan tantangan yang berat. Namun
demikian, di tengah kesulitan tersebut, ia juga merasakan sukacita dan berkat
dalam pelayanannya.
Pada bulan Maret, di samping tugas rutinnya di Amurang,
ia mengunjungi jemaat-jemaat di daerah pegunungan, yakni Pinamorongan, Wuwuk,
Rumoong Atas, dan Talaitad. Di semua tempat itu, ia memeriksa sejumlah besar
calon baptisan, lalu menerima mereka sebagai anggota jemaat.
Kabar meninggalnya Saudara Schwarz sangat mengguncang
hatinya, sedangkan kunjungan Saudara Graafland menjadi sumber penghiburan dan
semangat baru baginya. Tentang Schwarz, Tendeloo menulis:
“Ia adalah seorang pekerja yang setia di kebun anggur
Tuhan. Sebagaimana ia setia pada masa kekuatannya, demikian pula ia tetap teguh
hingga akhir hidupnya.”
Beberapa hari kemudian, Gubernur Maluku tiba di Menado
dan turut mengunjungi Amurang serta tiga sekolah yang berada di sana. Herrmann
menulis:
“Saya melaporkan kepada Yang Mulia mengenai keadaan
sekolah-sekolah yang berada di bawah pengelolaan saya. Kesempatan itu terlalu
berharga untuk tidak saya manfaatkan demi mewujudkan rencana yang telah lama
saya susun.
Setelah sebelumnya membujuk para kepala suku agar
menyetujuinya, di hadapan Gubernur saya mengajukan permohonan agar didirikan
sebuah gedung sekolah besar di sini. Gedung itu akan menjadi tempat penyatuan
tiga sekolah yang telah ada, sehingga antara dua ratus hingga dua ratus lima
puluh anak dapat dididik bersama oleh satu orang guru dan dua asisten guru.”
Rencana tersebut berhasil sepenuhnya. Residen kemudian
menanyakan kepada para kepala suku apakah mereka menghendaki hal itu. Di
hadapan saya—dan setelah sebelumnya berjanji mendukung rencana tersebut—mereka
hanya berani menjawab setuju.
Ketika tulisan ini dibuat, kayu-kayu untuk pembangunan
sudah ditebang. Saya
berharap dalam waktu sekitar enam bulan gedung sekolah itu akan selesai
dibangun. Hal ini memberi saya sukacita yang besar. Dengan demikian, guru dari
Romohon dapat saya tempatkan di lokasi lain; pekerjaan saya dalam mengelola
sekolah tidak lagi terbagi; dan karena gedung itu terletak dekat dengan rumah
saya, saya dapat menyelenggarakan ibadah malam di sana. Tempat itu akan lebih
mudah dijangkau oleh jemaat Romohon dan Kawangkowang, serta tidak lebih sulit
bagi sembilan kelompok lainnya. Dengan senang hati saya akan meluangkan
beberapa jam setiap hari untuk berada di sana.
…kelemahan;
sesungguhnya, hingga akhir hayatnya, tanggung jawab atas kawanan yang
dipercayakan kepadanya tetap membebani hatinya. Ia senantiasa
bekerja tanpa mengenal lelah, meskipun harus menghadapi kekecewaan, pencobaan,
dan berbagai rintangan. Namun, ia juga menyaksikan buah-buah indah dari jerih
payahnya. Ia akan tetap dikenang dengan penuh hormat oleh saya dan oleh semua
orang yang mengasihi pekerjaan Tuhan.
Seorang pria seperti Schwarz layak berdiri di antara
“awan saksi” dan mengambil tempatnya dalam barisan para pahlawan iman yang
telah mendahuluinya, serta menginspirasi orang lain untuk mengikuti
teladannya.¹
Pada bulan April, Tendeloo mengunjungi Lelema dan
berkhotbah di sana. Di tempat itu, sinar terang pertama mulai menembus kabut,
dan lima belas orang—sebagian berasal dari Popontolen dan Tangkoenej—diterima
untuk dibaptis setelah melalui pemeriksaan.
Di jemaat Toempaan yang dikunjunginya pada bulan Mei,
tampak adanya kemajuan, meskipun sekolah di sana masih digunakan secara kurang
teratur. Sementara itu, di KAPOYA dan Soeloeoeng, serta di seluruh distrik
Sonder, belum terlihat kemajuan yang berarti. Hal ini dapat dipahami karena
sebagian besar penduduknya masih menganut kepercayaan pagan.
Selama dua bulan berikutnya, sakit dan kelemahan fisik
menghalangi saudara kita itu untuk melanjutkan pelayanannya hingga bulan
Agustus. Pada tanggal 7 bulan tersebut, asisten misionaris Walintoekan
ditahbiskan untuk tugas pelayanannya. Semua guru di distrik itu hadir dalam
upacara yang khidmat tersebut, dan ia sendiri menyampaikan pidato. Setelah itu,
ia mengunjungi jemaat Ritej untuk meninjau keadaan sekolah dan memberitakan
firman.
¹ Lihat esai penting tentang misionaris Schwarz dalam Mededeelingen:
Leven en werkzaamheden van J. G. Schwarz, zendeling te Langowang, Jilid IV,
Bagian ke-3, hlm. 253 dan seterusnya.
Malikoe, Kanejan, dan Woewoek. Yang pertama, meskipun
setengahnya beragama Kristen, masih relatif belum berkembang. Di Malikoe,
gedung sekolah dan gereja, yang dibangun seluruhnya dari sumbangan sukarela,
segera selesai. Ia meninggalkan sekolah di sana dengan sangat puas. Tetapi ia
sangat senang dengan Kanejan, dengan penampilan dan kemajuan anak-anak sekolah
yang baik. Ada keinginan dan kebutuhan besar akan Alkitab di sana. Di Woewoek,
ia memiliki tugas untuk memperkenalkan guru baru kepada jemaat sebagai pemimpin
dan pendeta.
Kami memiliki dua kesamaan yang luar biasa dengan saudara
kami. Yang pertama memberinya alasan untuk bergembira; yang kedua merupakan
kesedihan yang mendalam baginya.
Meskipun banyak hal terjadi di Amurang yang membuat saya
sedih dan merasa jengkel, terkadang saya merasa putus asa di saat-saat yang
kurang jernih, sehingga saya sangat ingin bertanya pada diri sendiri: "Apa
tujuan dari semua kesulitan dan kekhawatiran ini, keresahan dan siksaan ini?
Bukankah ini seperti membajak di atas batu?" Namun saya tidak dapat
mengabaikan fakta bahwa sesekali beberapa tetes kebahagiaan jatuh kepada saya.
Demikianlah, beberapa hari yang lalu, saya menerima bukti lebih lanjut bahwa
pekerjaan saya di sini tidak sepenuhnya tanpa berkat.
Saya memberkati pasangan suami istri yang telah hidup
bersama selama lebih dari dua puluh tahun tanpa terikat secara hukum satu sama
lain. Hidup bersama tanpa ikatan hukum seperti itu bukanlah hal yang aneh di
kalangan umat Kristen Amurang. Sebaliknya, hal itu sangat umum sehingga bahkan
tidak dianggap jahat atau tidak sesuai dengan ajaran Kristen.
Saya mengenal suami dari pasangan yang dimaksud sebagai
seorang jemaat gereja yang setia. Ia juga tidak pernah absen mengajar. Dari
sini dan dari Apa yang saya dengar lebih lanjut tentangnya mengungkapkan bahwa
ia benar-benar merasa membutuhkan agama. Bahkan dalam pengetahuannya yang
sederhana tentang Injil, ia melampaui banyak pria yang lebih muda. Jawabannya
menunjukkan bahwa ia tahu bagaimana memanfaatkan pendidikan. Ia telah lama
sangat ingin menjadi anggota gereja, tetapi sebuah rintangan besar
menghalanginya. Ia masih belum menikah dengan istrinya, dan keberatan ini,
menurutnya dan banyak orang lain, sulit diatasi, karena mereka berdua, yang berdarah
Belanda, harus menikah dengan cara Belanda, yang akan menimbulkan biaya besar
yang tidak mampu mereka tanggung. Akhirnya, saya mendapat ide untuk bertanya
kepadanya apakah ia yakin telah terdaftar di catatan sipil, dan apakah ia
memiliki bukti tentang hal itu. Ia tidak tahu satu hal, dan ia kekurangan hal
lain, jadi ia memutuskan untuk pergi ke petugas catatan sipil dan meminta izin
untuk menikah dengan cara adat. Ia tidak ragu-ragu. Tak lama kemudian,
instruksi dibacakan, dan ia dikukuhkan dalam pernikahan yang sah. Sekarang ia
juga bisa membaptis anak bungsunya yang berusia delapan tahun, dan saya
berjanji kepadanya bahwa saya akan segera menerimanya sebagai anggota gereja,
setelah menerima pendidikan yang lebih spesifik. Ia menunjukkan kegembiraan yang
tulus dan penuh semangat tentang hal ini. Sejak itu, ia sangat ceria. Saya
percaya saya dapat bersaksi bahwa ia percaya pada kesederhanaan hati. Istrinya,
yang sebelumnya tidak rajin pergi ke gereja, sekarang hadir secara teratur dan
juga mengikuti kelas secara teratur. Semoga pasangan ini diberkati untuk waktu
yang lama.
Sensitif dan lambat untuk menjadi teladan yang
menginspirasi. Saya hampir berani mengatakan bahwa itu sudah terjadi. Baru-baru
ini, setidaknya, saya telah melihat peningkatan kehadiran di gereja dan
pendidikan, termasuk di antara mereka yang, seperti individu-individu yang
disebutkan di atas, hidup bersama secara tidak sah. Itu masih berarti sedikit
dibandingkan dengan banyak orang yang terus hidup acuh tak acuh dan tidak
peduli tentang keselamatan jiwa mereka, tetapi siapa tahu—mungkin ini bisa
menjadi awal kecil dari kebangkitan yang lebih besar. Semoga berkat kecil ini
menghasilkan buah yang abadi. Semoga Tuhan mengabulkannya dalam kasih
karunia-Nya.
Jemaah saya di Kapoja, yang telah bekerja sebagai buruh
upahan kepada orang Arab di Menado; semuanya sangat senang dengannya, memuji
kemurahan hati dan kebaikannya, dan selalu berbicara dengan hormat tentang Tuan
Arab itu. Salah seorang dari mereka, khususnya, sangat menyukainya; orang Arab
itu sering menyuruhnya mengenakan pakaian Arab dan kemudian duduk di sebelahnya
di atas tikar, memperagakan berbagai rukuk saat salat dan melafalkan pepatah
Arab (saya menduga itu adalah rumusan iman). Dengan mencari orang-orang ini di
Menado dan berbicara kepada jemaah di Kapoja tentang masalah ini, saya berhasil
menarik orang-orang upahan ini menjauh dari orang Arab itu. Orang yang
dimaksud, yang belum kembali ke Negerinya selama tiga tahun, tinggal lebih
lama; tetapi karena merasa ditinggalkan oleh rekan-rekannya, ia akhirnya
meninggalkan orang Arab itu dan kembali ke Kapoja, tempat ia sekarang menikah.
Di dekat kepala suku negri, Sarongsong (Tomohon),
terdapat pemukiman Muslim pengungsi; beberapa di antara mereka telah menikahi
seorang wanita yang telah dibaptis. Salah satunya adalah seorang wanita yang
telah dibaptis dari komunitas Ramboennan, yang termasuk dalam wilayah kerja
saya. Gadis itu dijual kepada seorang Muslim oleh ayahnya.
Kasus-kasus perempuan yang telah dibaptis menikah dengan
seorang Muslim, dan dengan demikian, meskipun tidak secara resmi masuk Islam,
menjadi sepenuhnya hilang dari komunitas Kristen, terjadi sesekali di
tempat-tempat di mana banyak Muslim tinggal, seperti di banyak resor tepi
pantai dan di Tondano.
Contoh kedua dari hal serupa yang saya temui di
lingkungan kerja saya berasal dari janda seorang guru di Kapoja. Sebelumnya ia
adalah seorang penganut Islam, lahir dan tinggal di Belang, tempat suaminya
menjadi guru selama masa hidup mendiang misionaris Van der Velden van Capellen.
Setelah menikah dengannya, ia dibaptis dan tinggal selama beberapa tahun di
Kapoja, ketika suaminya dipindahkan ke sana sebagai guru. Setelah kematian
suaminya, ia kembali ke Belang, menjalani kehidupan yang tidak bermoral, secara
resmi memeluk Islam, kemudian berkelana di sekitar Mongondou dengan beberapa
pria, dan sekarang kembali ke Minahassa.
Saya menemukan contoh ketiga dari orang yang dibaptis
yang menikah dengan seorang Muslim di Poïgar. Di sana, di hutan, tinggal
seorang Mongondouer, seorang Muslim, yang memiliki seorang wanita yang dibaptis
dari Karimbou (daerah tempat kerja Saudara ULFERS) sebagai istrinya. Setelah
Poïgar berada di bawah bimbingan saya, pernikahan ini bubar, dan wanita itu
kembali ke tempat kelahirannya, di mana ia merasa lebih bahagia daripada dengan
pria yang memperlakukannya dengan sangat kasar, mencoba memaksanya untuk secara
resmi masuk Islam melalui berbagai cara, dan, terlebih lagi, terus-menerus
mengancam akan meninggalkannya.
Di Poïgar, sebuah permukiman negri perbatasan terjauh di
Minahassa, di mana lalu lintas dengan Bolaäng lebih ramai dan seringkali lebih
mudah daripada dengan Minahassa, di mana para kepala suku dan pendeta Bolaäng
lebih dikenal daripada kepala distrik, dll. dari Minahassa, upaya telah
dilakukan dari waktu ke waktu oleh para pendeta dan pejabat Bolaäng untuk
membujuk orang-orang agar memeluk Islam, tetapi tanpa hasil.
Patut dicatat bahwa kaum Minahasse dan keturunan mereka,
yang menetap di Mongondou (Popo dekat Pontodon) dan dekat Bolaäng di antara
orang-orang Negri di Mariri dan Nanassi, telah melakukan perlawanan selama
waktu yang sangat lama.
Namun, Van Deinse menetapkan bahwa Belang dalam keadaan
sehat; tetapi penggantinya, Tuan Van der Crab, memindahkan dua kampung beberapa
mil ke pedalaman, sebuah tindakan yang sangat saya puji. Namun, salah satu
kampung ini mengalami angka kematian yang tidak kalah tingginya dengan Belang
yang lama. Membangun pertanian baru selalu menelan korban, karena bau busuk
dari tanah baru, dan mungkin orang-orang ini terlalu lemah untuk menanggung
relokasi tersebut. Mereka
adalah orang-orang yang kotor di sana.
Di sana
tidak kekurangan upaya misionaris. Pastor Schwarz membaptis sekitar
30 orang di sana pada tahun 1833 dan tahun-tahun berikutnya. Kemudian, Van de
Velde van Cappellen membaptis banyak orang di Belang. Setelah tiba, saya secara
alami menerima Belang, tetapi hampir tidak menemukan jejak jemaat di sana.
Saya menemukan daftar orang-orang yang dibaptis di Belang
di antara dokumen-dokumen di Langowan; namun, setelah diselidiki, ternyata
hampir semuanya telah meninggal, pindah, atau masuk Islam. Saya hanya menemukan
beberapa keluarga yang masih ada, jejaknya masih tersisa. Dahulu ada sebuah
sekolah; guru sebelumnya, yang menikah dengan seorang gadis dari Belang, telah
dipindahkan ke Kapoja dalam pekerjaan Saudara Schwarz, dan sangat ingin kembali
ke Belang. Saya meminta dan menerima izin dari Serikat untuk membuka sekolah di
sana lagi, dan menunjuk salah satu anak didik saya sebagai guru, yang,
bagaimanapun, segera jatuh sakit; dan saya harus berusaha keras untuk
menyembuhkannya dari demam. Yang lain menggantikannya, tetapi tidak ada yang
mampu bertahan. Kehadiran siswa juga rendah: hanya beberapa anak laki-laki yang
sangat nakal; yang lebih muda pertama-tama harus belajar Al-Quran di
sekolah-sekolah Muslim.
Belajar melafalkan syair. Sekolah-sekolah itu sudah tidak
begitu penting. Akhirnya, saya mendapatkan guru Kapoja dari Br. SCHWARZ. Guru
itu cerdas, tetapi malas dan acuh tak acuh; dia bisa berpikir dengan baik
tentang pekerjaan itu, tetapi tidak menghasilkan apa pun. Dia bukan
satu-satunya di antara para guru, dan kami kehilangan guru seperti itu. Sekolah
itu segera ditutup; guru itu juga jatuh sakit dan ingin kembali ke Kapoja, di
mana dia berjuang untuk waktu yang lama, dan akhirnya meninggal, mungkin juga
karena demam Belang. Istrinya yang berasal dari Belang kemudian kembali menjadi
Muslim dan menjalani kehidupan yang bejat (1).
Pada tahun 1868, selama pemotongan anggaran umum, saya
menutup sekolah Belang, yang kemudian saya sesali.
Selain sekolah itu, yang hasilnya sangat sedikit, saya
juga mencoba berdakwah, dan saya percaya bahwa saya telah menempuh jalan yang
sangat bijaksana. Saya telah setuju dengan para Kepala Suku untuk menceritakan
kisah Muhammad kepada mereka, dan saya mengunjungi mereka setiap bulan, setiap
kali para Kepala Suku dan beberapa orang berkumpul. Delapan pertemuan selalu
dihadiri dengan setia dan penuh hormat serta perhatian. Saya berbicara tentang
Muhammad dan para penerusnya, memuji mereka sebisa mungkin tanpa menyembunyikan
kesalahan mereka. Pada pertemuan terakhir, saya menarik garis pemisah antara
Muhammad dan Yesus, Islam dan Kristen, dengan mayoritas secara alami
menyimpulkan bahwa yang terakhir. Sejak saat itu, saya datang ke Belang dengan
sia-sia. Dengan berbagai alasan, tidak seorang pun datang ke pertemuan itu
lagi. Sekarang saya mengatakan bahwa saya bertindak bodoh; tetapi
bertahun-tahun berlalu sebelum saya dapat mengakui hal ini kepada diri sendiri.
NAMA-NAMA DISTRIK.
NAMA-NAMA TEMPAT.
NAMA-NAMA GURU.
Jumlah anak.
Laki-laki | Perempuan | Total | Jumlah di sekolah Minggu.
Di bawah arahan siapa.
Selain sebagai dupa para pendeta dan pendeta wanita
sebelum pesta kurban, "Woewoek" juga digunakan sebagai obat yang
sangat ampuh, terutama dalam mantra untuk mengusir setan atau roh jahat
lainnya, serta untuk melawan sihir dan sebagainya." Pada tahun 1897, Bapak
Schwarz menulis:
"Aku belum berhasil mendapatkan bunga atau buah dari
pohon Woowook, meskipun sudah berusaha keras. Pohon itu belum berbunga di mana
pun sejak Januari. Tapi begitu aku mendapatkannya, aku akan mengirimkannya
kepadamu dalam alkohol."
Bestuurders van het Nederlandsch Zendelinggenootschap.
(1879). Mededeelingen van wege het Nederlandsch Zendelinggenootschap:
Bijdragen tot de kennis der zending en der taal-, land- en volkenkunde van
Nederlandsch Indië (Drie en twintigste jaargang). Rotterdam: M. Wyt &
Zonen.
Dalam Jurnal Masyarakat Misionaris, Bapak Schwarz menulis
sebagai berikut: "Woewoek adalah getah yang diperoleh dengan membuat
sayatan pada batang pohon woowoek. Pohon ini langka, tidak dikenal di
mana-mana, meskipun mungkin tidak selangka yang dapat disimpulkan dari laporan
penduduk asli. Saya tahu ada tiga pohon woowoek di distrik ini: satu di sekitar
Kiawa, satu di antara Timboekar dan Tangkoenei, di seberang Nimanga, dan satu
di dekat KAPOJA; pohon-pohon itu berukuran raksasa, yang menunjukkan usianya yang
sangat tua. Penduduk asli masih memandang pohon-pohon ini dengan perasaan
campur aduk yang misterius antara takut dan hormat, dan mereka tidak akan mudah
memberi tahu Anda di mana pohon seperti itu berada. Getah ini adalah woowoek
yang ditemukan dalam legenda Minahassa; getah ini digunakan sebagai dupa pada
senjata selama pengorbanan sebelum pertempuran, pada semua jenis benda suci,
dan pada rumah dan pakaian selama pengorbanan atau pesta. Para pendeta wanita
juga sering menggunakan dupa ini sebelum mereka memulai ritual mareindeng.
Karena getah ini tidak mudah diperoleh, getah ini dianggap berharga dan dijaga
dengan hati-hati.Kds 163083 (3821 4. V. 1895).
POHON KAPOJA
NAMA ILMIAHNYA ADALAH SAURAUJA ALTISSIMA ZIPP.
Ranting dan
daun Kapoja atau
Saurauja altissima Zipp
Sumber
: Saurauia madrensis at the University of California
Botanical Garden. Juni 206
1. Cabang dengan bunga dan daun. 2-10. Meta-analisis
bunga. 11. Kebiasaan pohon. (1-10. Berdasarkan bahan herbarium dan spirus Kds
19301 β.)
Saurauja altissima Zipp., Koorders, Flora N.O. Celebes
(1898), 351; Kds-Schum., System. Verzeichnis, III Abteilung (1914), 84.
Pohon; tinggi 6-7 m. Kapoja (TI) atau Kakapojaan (Tb) di
hutan dekat bivak (perkemahan)
Pinamorongan, di jalan dari Menado ke Tomohon dan di G. Lokon-Kapoja (Rt) dekat
Ratahan. - Kokomoan-lila (Tw) di jalan dari Ranoketang ke Amoerang. - Nama S.
altissima bukanlah pilihan yang tepat, karena ada spesies lain yang lebih
tinggi, misalnya S. spadicea Bl. Periode berbunga: Januari-Maret. Bunga putih,
tidak berbau; kelopak berwarna hijau pucat. Mahkota bunga seluruhnya putih
seperti bunga lili, sedikit kehijauan. Benang sari kuning, putik putih. Batang:
cukup lurus tanpa selaput akar. Kulit kayu: kemerahan di luar, sangat rapuh,
tanpa klorofil; rasa sepat, tanpa getah susu, dan tidak berbau.
Dekat Pakoe-oere di Lolomboelan di hutan muda yang jarang
pada ketinggian 400-600 m. Sangat umum. Dekat Ratahan pada ketinggian 300 m.
Kapoja (Tt) dekat Pakoe-oere. - Kaka-pojan-kagoerangan (Rt) dekat Ratahan. Nama
Kapoja (Tt) kurang lebih merupakan nama generik yang sesuai dengan nama Ki-leho
(S) yang digunakan di Jawa, sehingga bukan untuk satu spesies tertentu, tetapi
untuk beberapa spesies Saurauja. Menurut Schwarz, dua potong kayu yang
digunakan untuk membuat api juga disebut Kaka-pojaan (Tt), Swastika bangsa
Arya. Di masa lalu, kayu spesies Saurauja terutama digunakan untuk membuat api
dengan gesekan. Tidak ada penggunaan lain yang diketahui. Semak; tinggi 3-4 m.
Periode berbuah: Maret-April. Tajuk jarang. Kulit kayu: abu-abu di luar. Cabang
berdaun di atas tanah: abu-abu. Tungau laba-laba: putih. - Secara biologis
sangat menarik, karena bunganya ditemukan pada cabang-cabang yang tidak
berdaun, menjalar, berbentuk tali yang muncul dari pangkal batang, terkadang
sepanjang 3-4 meter. Bunga dan buah spesies ini sebelumnya tidak dikenal.
Miquel mendeskripsikan spesies khas ini berdasarkan cabang steril (berdaun). -
Sumber : Verslag eener botanische dienstreis door de
Minahasa: tevens eerste overzicht der flora van N.O. Celebes uit een
wetenschappelijk en praktisch oogpunt
oleh Sijfert Hendrik Koorders (S.H. Koorders), diterbitkan pada 1898 oleh G.
Kolff & Co. sebagai bagian dari Mededeelingen van ’s Lands Plantentuin,
no. XIX (716 halaman, dalam bahasa Belanda).
MINAHASA: ANTARA BERKAT DAN
KEPERCAYAAN LAMA
Minahasa
memang tanah yang sangat diberkati Tuhan. Namun, di sisi lain, kenyataannya
takhayul yang sudah mengakar kuat di hati masyarakat belum sepenuhnya hilang.
Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, mengingat di dunia Kristen sendiri pun
masih banyak kepercayaan serupa yang bertahan.
Pada
tahun 1900, sebuah komunitas Kristen di Minahasa, tepatnya di Kapoja, dilanda
ketakutan yang luar biasa. Seekor kerbau liar yang berbahaya mulai berkeliaran
di sekitar desa.
Teror
"Roh Leluhur"
Masyarakat
yakin bahwa hewan tersebut dirasuki oleh roh salah satu leluhur; jika tidak,
mana mungkin hewan itu betah tinggal di Kapoja selamanya? Penduduk desa sangat
ingin mengusir "roh" yang merusak itu, namun tidak ada satu pun yang
berani bertindak untuk melumpuhkannya.
Bahkan
ketika misionaris meyakinkan mereka bahwa hal mistis seperti itu tidak mungkin
terjadi, tetap saja tidak ada yang berani menyentuh kerbau tersebut. Namun,
lama-kelamaan ulah hewan itu semakin menjadi-jadi:
- Ternak
mati: Sapi dan kuda ditanduk hingga tewas di ladang.
- Gagal
panen: Tanaman warga berulang kali hancur dirusak oleh binatang buas yang
semakin berani dan ganas itu.
Dilema
Tradisi di Tengah Perayaan Iman
Keadaan ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus karena
kerusakan yang ditimbulkan semakin parah. Akhirnya, perburuan pun kembali
direncanakan. Namun, para pemburu yang merasa gugup tidak mampu membidik dengan
tenang; tangan mereka gemetar dan pandangan mereka kabur, sehingga tembakan
mereka selalu meleset.
Kondisi ini bertahan selama tiga tahun hingga akhirnya
mereka memutuskan untuk mengambil risiko. Namun, bukan warga Kapoja sendiri
yang turun tangan—mereka tidak berani. Sebaliknya, mereka meminta bantuan dari
suku lain untuk melakukannya.
Ritual dan Kontradiksi
Dalam upaya ini, mereka tetap menjalankan adat leluhur
dengan sangat patuh:
- Mendengarkan kicauan burung
sebagai pertanda.
- Merapalkan mantra-mantra.
- Menyiapkan jimat-jimat
pelindung.
Akhirnya,
perangkap dipasang di lokasi yang telah ditentukan setelah melalui proses
ritual penyucian dan penangkalan sihir. Ironisnya, semua persiapan ini
dilakukan tepat di antara perayaan Natal dan Tahun Baru. Di saat warga Kapoja
merayakan kedatangan Juru Selamat yang membebaskan manusia dari kuasa dosa dan
kegelapan, mereka justru masih mempraktikkan ritual lama tersebut.
Akhir
Sang "Roh"
Pada
Selasa, 2 Januari 1900, kerbau liar tersebut akhirnya terjerat dalam salah satu
jebakan yang dipasang. Hewan itu kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan
kepada setiap rumah tangga di Kapoja.
Apakah
kejadian ini mematahkan kepercayaan mereka bahwa roh orang mati bisa bersemayam
dalam tubuh hewan? Sulit mengatakannya, karena takhayul tersebut sudah mendarah
daging. Pada edisi mendatang, kami akan membagikan kisah lainnya dari Minahasa.
Sumber : Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in
Nederland (Heidenbode en Mosterdzaad). (1903, November). No. 11.
Secara umum, dapat dikatakan bahwa Islam tidak
dipromosikan di Minahassa. Pada tahun 1864 dan 1865, hingga awal 1866, ada
seorang pedagang Arab di Menado yang mencoba memperkenalkan Islam di antara
penduduk asli Kristen yang datang untuk bekerja kepadanya. Hal ini disampaikan
kepada saya oleh para anggota.
53
Jemaah saya di Kapoja, yang telah bekerja sebagai buruh
upahan kepada orang Arab di Menado; semuanya sangat senang dengannya, memuji
kemurahan hati dan kebaikannya, dan selalu berbicara dengan hormat tentang Tuan
Arab itu. Salah seorang dari mereka, khususnya, sangat menyukainya; orang Arab
itu sering menyuruhnya mengenakan pakaian Arab dan kemudian duduk di sebelahnya
di atas tikar, memperagakan berbagai rukuk saat salat dan melafalkan pepatah
Arab (saya menduga itu adalah rumusan iman). Dengan mencari orang-orang ini di
Menado dan berbicara kepada jemaah di Kapoja tentang masalah ini, saya berhasil
menarik orang-orang upahan ini menjauh dari orang Arab itu. Orang yang
dimaksud, yang belum kembali ke Negerinya selama tiga tahun, tinggal lebih
lama; tetapi karena merasa ditinggalkan oleh rekan-rekannya, ia akhirnya
meninggalkan orang Arab itu dan kembali ke Kapoja, tempat ia sekarang menikah.
Di dekat kepala suku negri, Sarongsong, terdapat
pemukiman Muslim pengungsi; beberapa di antara mereka telah menikahi seorang
wanita yang telah dibaptis. Salah satunya adalah seorang wanita yang telah
dibaptis dari komunitas Ramboennan, yang termasuk dalam wilayah kerja saya. Gadis
itu dijual kepada seorang Muslim oleh ayahnya.
Kasus-kasus perempuan yang telah dibaptis menikah dengan
seorang Muslim, dan dengan demikian, meskipun tidak secara resmi masuk Islam,
menjadi sepenuhnya hilang dari komunitas Kristen, terjadi sesekali di
tempat-tempat di mana banyak Muslim tinggal, seperti di banyak resor tepi
pantai dan di Tondano.
Contoh kedua dari hal serupa yang saya temui di
lingkungan kerja saya berasal dari janda seorang guru di Kapoja. Sebelumnya ia
adalah seorang penganut Islam, dan tinggal di Belang, tempat suaminya menjadi
guru selama masa hidup mendiang misionaris Van der Velden van Capellen. Setelah
menikah dengannya, ia dibaptis dan tinggal selama beberapa tahun di Kapoja,
ketika suaminya dipindahkan ke sana sebagai guru. Setelah kematian suaminya, ia
kembali ke Belang, menjalani kehidupan yang tidak bermoral, kemudian secara
resmi memeluk Islam, berkeliaran di Mongondou dengan beberapa pria, dan
sekarang kembali ke Minahassa. Saya menemukan daftar orang-orang yang dibaptis
di Belang di antara dokumen-dokumen di Langowan; namun, setelah diselidiki,
ternyata hampir semuanya telah meninggal, pindah, atau masuk Islam. Hanya
beberapa keluarga yang masih ada, jejaknya masih tersisa. Dahulu ada sebuah
sekolah; guru sebelumnya, yang menikah dengan seorang gadis dari Belang, telah
dipindahkan ke Kapoja dalam pekerjaan Saudara Schwarz, dan sangat ingin kembali
ke Belang. Saya meminta dan menerima izin dari Serikat untuk membuka sekolah di
sana lagi, dan menunjuk salah satu anak didik saya sebagai guru, yang,
bagaimanapun, segera jatuh sakit; dan saya harus berusaha keras untuk menyembuhkannya
dari demam. Yang lain menggantikannya, tetapi tidak ada yang mampu bertahan.
Kehadiran siswa juga rendah: hanya beberapa anak laki-laki yang sangat nakal;
yang lebih muda pertama-tama harus belajar Al-Quran di sekolah-sekolah Muslim.
Belajar melafalkan. Sekolah-sekolah itu sudah cukup tidak penting. Akhirnya,
saya mendapatkan guru Kapoja dari Br. SCHWARZ. Guru itu cerdas, tetapi malas
dan acuh tak acuh; dia bisa berpikir dengan baik tentang pekerjaan itu, tetapi
tidak menghasilkan apa pun. Dia bukan satu-satunya di antara para guru, dan
kami bingung dengan tipe guru seperti itu. Sekolah itu segera ditutup; guru itu
juga jatuh sakit dan ingin kembali ke Kapoja, di mana dia berjuang untuk waktu
yang lama, dan akhirnya meninggal, mungkin juga karena demam Belang. Istrinya
yang berasal dari Belang kemudian kembali menjadi Muslim dan menjalani
kehidupan yang bejat (1). Pada tahun 1868, selama pemotongan anggaran umum,
saya menutup sekolah Belang, yang masih saya miliki kemudian menyesalinya. Berdasarkan
gambar kedua yang Anda unggah, berikut adalah konversi data tersebut ke dalam
format tabel. Tabel ini mencakup detail distrik, tempat, guru, jumlah anak, dan
kepemimpinan misi.
Data
Statistik Sekolah dan Guru (Minahasa)
|
No |
Namen
der Districten (Distrik) |
Namen
der Plaatsen (Tempat) |
Namen
der Onderwijzers (Guru) |
Jongens
(Laki-laki) |
Meisjes
(Perempuan) |
Totaal
(Total) |
Gezet
opkomenden (Hadir Tetap) |
Onder wiens leiding (Di bawah pimpinan) |
|
44 |
Tonsea |
Treman |
N.
Dumais |
130 |
30 |
160 |
71 |
Tendeloo |
|
45 |
" |
Kassar |
H.
Tampi |
111 |
40 |
151 |
84 |
18
Scholen. |
|
46 |
" |
Toemaloentoeng |
J.
Loentoengan |
115 |
32 |
147 |
56 |
Gezet
opkomenden |
|
47 |
" |
Sawangan |
H.
Tontei |
84 |
64 |
148 |
90 |
44,4% |
|
48 |
" |
Tanggari |
F.
Walanda |
64 |
24 |
88 |
39 |
|
|
49 |
" |
Sockoer |
J.
Woelloer |
46 |
26 |
72 |
21 |
|
|
50 |
" |
Laikit |
J. Maramis |
109 |
66 |
175 |
52 |
|
|
51 |
" |
Tatelloe |
W.
Kamagi |
93 |
43 |
136 |
39 |
|
|
52 |
" |
Talawaan |
D.
Moningka |
51 |
37 |
88 |
54 |
|
|
53 |
" |
Mapangit |
F.
Mantiri |
61 |
24 |
85 |
33 |
|
|
54 |
" |
Teteij |
S.
Tirajoh |
36 |
21 |
57 |
34 |
|
|
55 |
" |
Lilang |
A.
Maramis |
31 |
20 |
51 |
32 |
|
|
56 |
" |
Lansot |
A.
Wuisan |
13 |
13 |
26 |
13 |
|
|
57 |
" |
Tandjoeng-merah |
D.
Tambani |
13 |
12 |
25 |
15 |
|
|
58 |
Likoepang |
Lompias |
A.
Dendeng |
59 |
45 |
104 |
70 |
|
|
59 |
" |
Kokolé |
W.
Roemimpoenoe |
28 |
26 |
54 |
8 |
|
|
60 |
" |
Paslaten |
J.
Roringpandei |
44 |
28 |
72 |
24 |
|
|
61 |
" |
Batoe |
D.
Tangkilisan |
50 |
25 |
75 |
26 |
|
|
Total
Tonsea/Likoepang |
1138 |
576 |
1714 |
761 |
||||
|
62 |
Sonder |
Sonder |
J.
Roemokoi |
158 |
41 |
199 |
74 |
Schwarz |
|
63 |
" |
Kiawa |
S.
Kamagi |
101 |
38 |
139 |
42 |
9
Scholen. |
|
64 |
" |
Leilem |
E. Koho |
64 |
31 |
95 |
48 |
Gezet
opkomn. |
|
65 |
" |
Tintjep |
N.
Ratoe |
37 |
22 |
59 |
40 |
48,5% |
|
66 |
" |
Timboekar |
N.
Roemokoi |
17 |
15 |
32 |
19 |
|
|
67 |
" |
Pinapalangkow |
S.
Rakian |
38 |
30 |
68 |
47 |
|
|
68 |
" |
Kapoja |
F.
Sangeroki |
45 |
17 |
62 |
46 |
|
|
69 |
Sarongsong |
Ramboenan |
A.
Wajongkere |
27 |
8 |
35 |
15 |
|
|
70 |
Kawangkoan |
Poigar |
P.
Rintjap |
17 |
3 |
20 |
13 |
|
|
Total
Sonder dsb. |
504 |
205 |
709 |
344 |
||||
|
71 |
Tombassian |
Pondan |
P.
Ondang |
42 |
42 |
84 |
21 |
van de
Liefde |
|
72 |
" |
Ritei |
S.
Lapian |
58 |
47 |
105 |
48 |
11
Scholen. |
|
73 |
Kawangkoan |
Paslaten |
T.
Rompas |
24 |
20 |
44 |
13 |
Gezet
opkomn. |
|
74 |
" |
Kanejan |
L.
Ratag |
37 |
32 |
69 |
57 |
50,9%
bijna |
|
75 |
" |
Koreng |
Z.
Sinjal |
53 |
34 |
87 |
60 |
|
|
76 |
" |
Pinamorongan |
E. Oroh |
55 |
42 |
97 |
53 |
|
|
77 |
" |
Woewoek |
A.
Roemengan |
68 |
48 |
116 |
77 |
|
|
78 |
" |
Lapi |
G.
Rompas |
44 |
26 |
70 |
42 |
|
|
79 |
" |
Talaitad |
O.
Ratag |
38 |
25 |
63 |
40 |
|
|
80 |
Sonder |
Toempaän |
D.
Jacobus |
53 |
36 |
89 |
36 |
|
|
81 |
Roemoön |
Roemoön-atas |
I.
Toemiwa |
74 |
69 |
143 |
45 |
|
|
Total
Tombassian dsb. |
546 |
421 |
967 |
492 |
||||
|
82 |
Passan-Ratahan |
Ratahan |
H.
Montol |
87 |
21 |
108 |
44 |
Wiersma |
|
83 |
" |
Lindanen |
F. Siwi |
46 |
28 |
74 |
27 |
12
Scholen. |
|
84 |
" |
Tatengesan |
C.
Rahoetoi |
22 |
11 |
33 |
15 |
Gezet
opkomnden |
|
85 |
" |
Benthenan |
W.
Sandag |
15 |
8 |
23 |
14 |
35,3% |
|
86 |
" |
Wijauw |
A.
Pondaag |
26 |
13 |
39 |
23 |
|
|
87 |
" |
Pangaw |
M.
Wuisan |
38 |
20 |
58 |
26 |
|
|
88 |
" |
Wongkai |
P.
Langingi |
30 |
5 |
35 |
16 |
|
|
89 |
" |
Liwoetoeng |
E.
Ginsoe |
73 |
34 |
107 |
44 |
|
|
90 |
" |
Watoelinei |
E.
Ngongoloi |
14 |
9 |
23 |
8 |
|
|
91 |
Tonsawang |
Tombatoe |
J.
Poloean |
110 |
50 |
160 |
40 |
|
|
92 |
" |
Moendoeng |
P.
Soepit |
57 |
12 |
69 |
14 |
|
|
93 |
" |
Silian |
J. Borang |
64 |
43 |
107 |
24 |
|
|
Total
Passan-Ratahan dsb. |
582 |
254 |
836 |
295 |
Catatan:
- Teks dalam tanda kutip
(") menunjukkan pengulangan nama distrik di atasnya.
- Data
ini berasal dari publikasi Het Zendingsblad (1903) sesuai dengan
gambar pertama yang Anda berikan.
- Desa Kapoja (nomor 68)
tercatat berada di bawah pimpinan Schwarz dengan guru bernama F.
Sangeroki.
|
No |
Namen der Districten (Distrik) |
Namen der Plaatsen (Tempat) |
Namen der Onderwijzers (Guru) |
Jongens (Laki-laki) |
Meisjes (Perempuan) |
Totaal (Total) |
Gezet opkomenden (Hadir Tetap) |
Onder wiens leiding (Di bawah
pimpinan) |
|
94 |
Tomohon |
Tomohon |
E. Lasoet |
158 |
47 |
205 |
108 |
Louwerier |
|
95 |
" |
Tataäran |
C. Palar |
104 |
60 |
164 |
51 |
11 Scholen. |
|
96 |
" |
Roeroekan |
L. Lengkong |
33 |
23 |
56 |
20 |
Gezet opkomenden |
|
97 |
" |
Koemelemboai |
J. Roentoekahoe |
16 |
14 |
30 |
7 |
44,2% |
|
98 |
Sarongsong |
Sarongsong |
Vakant (Kosong) |
84 |
27 |
111 |
61 |
|
|
99 |
" |
Lahendong |
J. Lantang |
63 |
39 |
102 |
36 |
|
|
100 |
" |
Tondango |
Z. Pijoh |
37 |
21 |
58 |
33 |
|
|
101 |
" |
Pinaras |
M. Gosal |
32 |
16 |
48 |
15 |
|
|
102 |
Kakaskassen |
Kakaskassen |
N. Sandak |
80 |
38 |
118 |
40 |
|
|
103 |
" |
Kajawon |
Vakant (Kosong) |
26 |
19 |
45 |
23 |
|
|
104 |
" |
Kenilo |
D. Pangemanan |
39 |
8 |
47 |
19 |
|
|
Total Tomohon dsb. |
672 |
312 |
984 |
413 |
||||
|
105 |
Langowan |
Atep |
J. Malingkonor |
32 |
31 |
63 |
43 |
Brouwer |
|
106 |
" |
Palamba |
K. Rondonoewoe |
27 |
15 |
42 |
30 |
20 Scholen. |
|
107 |
" |
Talawatoe |
J. Geroengan |
16 |
16 |
32 |
22 |
Gezet opkomenden |
|
108 |
Kakas |
Passo |
K. Soepit |
110 |
64 |
174 |
115 |
51,4% |
|
109 |
" |
Panassen |
L. Wawoloemaja |
38 |
17 |
55 |
38 |
|
|
110 |
" |
Toulijan |
N. Monintja |
50 |
40 |
90 |
47 |
|
|
111 |
" |
Kaweng |
S. Roemondor |
51 |
40 |
91 |
55 |
|
|
112 |
" |
Kajoewatoe |
N. Roemajar |
35 |
23 |
58 |
35 |
|
|
113 |
" |
Karor |
N. Paoki |
17 |
18 |
35 |
26 |
|
|
114 |
" |
Sombokei |
J. Tawan |
11 |
5 |
16 |
14 |
|
|
115 |
Remboken |
Remboken |
J. Pangemanan |
145 |
53 |
198 |
82 |
|
|
116 |
" |
Kasoeratan |
J. Kaligis |
56 |
62 |
118 |
37 |
|
|
117 |
" |
Parepei |
A. Montolalo |
41 |
31 |
72 |
23 |
|
|
118 |
Tompasso |
Tompasso |
G. Tampanawas |
185 |
108 |
293 |
135 |
|
|
119 |
" |
Tollok |
M. Mandang |
57 |
35 |
92 |
30 |
|
|
120 |
" |
Kanonang |
J. Koemaseh |
43 |
12 |
55 |
23 |
|
|
121 |
Kawangkoan |
Kawangkoan |
I. Soerentoe |
138 |
38 |
176 |
90 |
|
|
122 |
" |
Tondegesan |
A. Koehoe |
36 |
20 |
56 |
31 |
|
|
123 |
" |
Kajoe-wi |
M. Kaligis |
30 |
25 |
55 |
38 |
|
|
124 |
Tombassian |
Tombassian-atas |
S. Oemboh |
67 |
37 |
104 |
50 |
|
|
Total Langowan dsb. |
1185 |
690 |
1875 |
964 |
Informasi Tambahan:
- Data ini diterbitkan dalam majalah Het Zendingsblad
van de Gereformeerde Kerken in Nederland edisi November 1903.
- Terdapat beberapa posisi guru yang tercatat Vakant
(kosong), seperti di Sarongsong dan Kakaskassen.
- Presentase
kehadiran tetap tertinggi di lembar ini berada di wilayah pimpinan Brouwer
dengan 51,4%.
Sumber
Referensi : Majalah Misi (Gambar 1, 2, dan 3)
Referensi
ini mencakup judul majalah dan data statistik sekolah di Minahasa yang Anda
berikan sebelumnya.
Het Zendingsblad van de Gereformeerde Kerken in Nederland
(Heidenbode en Mosterdzaad). (1903, November). No. 11.
- Penerbit/Organisasi:
Nederlandsche Zendelinggenootschap
- Tahun Terbit Dokumen Terakhir:
1879
- Lokasi Terbit: Rotterdam,
Belanda
- Percetakan: M. Wyt & Zonen
- Volume:
Drie en Twintigste Jaargang (Tahun ke-23)
Catatan Etnolinguistik "Kapoja"
Entri kamus atau daftar istilah yang merinci variasi
penyebaran kata atau nama tempat Kapoja:
Kapoja: Alf. Min. (Alfoeren Minahasa). Penduduk Primitif Minahasa
Kapoja adalah
nama pohon.
Tiga Jenis Pohon
Kapoja
1. Kapoja in
taloen: (Kapoja di hutan/kebun).
2. Kapoja
rintek: (Kapoja kecil).
3. Kapoja
sela: (Kapoja besar).
Sumber : Kamus
Botani (Gambar 5 & 6)
Referensi ini merujuk pada kamus istilah tanaman yang
mencantumkan nama tempat atau varietas lokal seperti "Kapoja". Nieuw
plantkundig woordenboek voor Nederlandsch Indië. (1909).
SEKOLAH DI
KAPOYA DIDIRIKAN JULI
1839
Halaman 17
Tabel Wilayah dan Penempatan:
|
DISTRIK |
TEMPAT |
DIBUKA
PADA |
|
Tompasson |
Ritej
met Malinow |
November
1836 |
|
Tompasson |
Maliki |
1830 |
|
Tonteweng |
Lobeu |
Oktober
1838 |
|
Kawang-Kawang |
Pinangworongon |
1838 |
|
idem
(sama) |
Kumelambaye |
1838 |
|
idem
(sama) |
Waken
met Pondos |
Januari
1839 |
|
Sonder |
Kapoja |
Juli
1839 |
|
Tompasson |
Pinalej |
1839 |
Informasi
Sekolah:
Di
sekolah-sekolah ini, terdapat 880 anak yang terdaftar. Para guru di sana
dibiayai oleh organisasi kami. Penginjil (Zendeling) di wilayah tersebut
menerima tunjangan sebesar ƒ 1440.
Daftar
Guru (Meesters) yang digaji oleh Pengurus ini:
- Manuel Josef, di Tremeu.
- Andries Takudong, di Kaasit.
- Tobias Ratty, di Tanawangko.
- Cornelis Karamy, di Ajer
madidih.
- Jozef Wutur, di Mapanghet.
- Ismaël Latusong, di Sondakh.
- Dammes Abraham, di
Ranoawangko.
- Andries Balthasar, di Matany.
- Hermannus Bastiaan, di Lenia.
- Abraham Supit, di Lola.
- Wilhelmus Alexander, di
Taratara.
- Jacob Ismaël, di Woloan.
- Samuel Elias, di Kaskaring.
- Salomon Paulus, di Lolonpej.
- Karel Wiwenkang, di Kombij.
- Amos da Costa, di Kapakaran.
Catatan Tambahan
Dokumen ini menunjukkan struktur birokrasi pendidikan
awal di Minahasa. Menarik untuk dicatat bahwa nama-nama guru tersebut merupakan
perpaduan nama baptis (seperti Andries, Cornelis, Jacob) dengan nama
keluarga atau marga lokal yang masih dikenal hingga saat ini di Sulawesi Utara.
KAPOYA DALAM
KAMUS TOUNTEMBOUAN
Aluk :
(Bandingkan dengan: Tondano advk, Sangihe êlu’,
‘menelan’)
- Definisi: Mengurangi atau
menurunkan sesuatu secara tiba-tiba; menghilang secara tiba-tiba.
- Alukën (Bentuk
Pasif/Kausatif): Berkurang dengan cepat, menghilang dengan cepat; (kiasan)
mati atau binasa.
Catatan: Kata ini sering digunakan dalam konteks kutukan.
Contoh
Penggunaan:
- Si pënana'ana niuluko: Istrinya tiba-tiba
menghilang.
- Se maaluk se tow: Roh-roh yang secara
tiba-tiba melenyapkan (membuat hilang) manusia.
- Raio pèngaalu-un se tow: Tidak akan ada lagi orang
yang akan dibawa pergi/dilenyapkan secara tiba-tiba.
- Tarepe'
ito ialuk a mange n Dano Bengkor: "Sebentar lagi kamu
akan menghilang (mati/binasa) di Danau Bengkor."
Konteks: Contoh terakhir merupakan bentuk kutukan yang
lazim digunakan di wilayah Kapoja, Pinamorongan, dan sekitarnya.
Kapoja
- m.
l. e. n. (merujuk pada kategori linguistik atau klasifikasi tertentu).
- Nama
sebidang hutan (kepolisian); terletak di tepi Sungai Lelema, dekat Sungai
Rerentek, di antara Desa Pinapalangkow dan Kapoja.
- Nama sungai.
- Nama desa; berada pada
ketinggian 305 meter di atas permukaan laut.
Referensi: Lihat keterangan lebih lanjut dalam Tt. T.
Int. Gr. VII dan Verh. No. 57.
Kasani'b :
(Bandingkan dengan: sa'niw, nama sejenis serangga)
- Definisi: Nama sebuah sungai
kecil (anak sungai) yang bermuara ke Sungai Lelema.
- Lokasi: Terletak di sebelah
Tenggara (Z.O. - Zuidoost) dari jembatan yang menghubungkan antara
Desa Kapoja dan Desa Pinapalangkow.
Ku'kur :
(Bandingkan dengan: Merpati/Dara kuitjur dalam
dialek Mokupa)
Secara umum merujuk pada jenis burung dara atau tekukur.
Definisi spesifiknya bervariasi berdasarkan wilayah:
- Ku'kur:
Sebutan untuk tekukur liar (wilde tortelduif) di wilayah Sonder;
atau merpati hutan hijau (groene houtduif) di wilayah Suluun, Lapi,
dan Kapoja.
- Ku'kur
in awa'at: Jenis merpati hutan yang lebih kecil. Karakternya tidak
penakut, biasanya tidak berkelompok melainkan hidup berpasangan.
- Ku'kur in tana: (Di Timbukar
dan Tangkunei disebut juga monete'd). Ciri-cirinya:
- Memiliki sayap berwarna hijau dan dada berwarna cokelat.
- Lebih banyak beraktivitas di
atas tanah.
- Tidak penakut dan ukurannya
sedikit lebih besar daripada tekukur biasa.
- Ku'kur in talun: Sebutan untuk
merpati hutan hijau khusus di wilayah Sonder.
- Kaku'kuran: Istilah untuk
menunjukkan tempat atau waktu di mana terdapat banyak burung tekukur.
Malawi i
Lalek :
- Definisi:
Sebuah tempat yang terletak di dekat air terjun Sungai Tenga (disebut juga
Teka’an in Tenga).
- Lokasi:
Berada di antara wilayah Kapoja dan Metani.
Lëpi :
(Bandingkan dengan: Repi, nama laki-laki)
- Definisi: Nama seorang
perempuan (vr. e. n.).
- Konteks Sejarah: Lëpi adalah
seorang tuan tanah wanita yang besar di Kapoja.
- Pepatah/Ungkapan: Ilëpi-lëpio-mai
ën tana' i Lëpi.
- Arti: Tanah milik Lëpi harus
selalu diwariskan kepada ahli waris Lëpi (dan tidak boleh jatuh ke tangan
orang lain).
Leilei :
(Bandingkan
dengan: loiloi)
- Definisi Medis/Fisik: Air liur
yang menggantung dari mulut; lendir atau sariawan.
- Definisi Tekstil: Manik-manik
atau karang kecil yang dijahit membentuk lengkungan pada tepi tindung
(tutup kepala) atau pakaian adat.
- Nama Tokoh: Nama laki-laki
(ml. e. n.). Dalam mitologi, ia adalah putra dari Marindo.
Lumeilei
- Definisi: Nama perempuan (vr.
e. n.).
- Mitologi: Merupakan sosok dewi
(Kasuruan) yang bersemayam di Watu-leilei.
Watu-leilei
- Lokasi: Sebuah tempat suci
(kapëliian) di Pinamorongan, dekat jalan menuju Kapoja.
- Kisah Legenda: Tempat ini
dipercaya sebagai kediaman dewi Lumeilei. Menurut hikayat, ia diambil
sebagai istri oleh dewa Leilei. Namun, Leilei meninggalkannya tepat
setelah malam pertama karena ia hanya berniat mengambil kesuciannya saja (nieleiangkë'),
bukan untuk membangun rumah tangga yang sungguh-sungguh. Sejak saat itu,
Lumeilei tinggal sendirian di batu tersebut.
- Tradisi: Dalam doa atau
nyanyian adat (pareindengën), sering dikumandangkan seruan: "Leilei!
Leilei! Pantow i Marindo!" (Leilei! Leilei! Putera dari
Marindo!). Konon, dulu di atas batu suci ini tumbuh sebatang pohon
keramat.
Manëmbir
:
- Jenis: Nama laki-laki (ml. e.
n.).
- Definisi
Mitologi: Merupakan nama dewa pelindung (ipéwale) desa Kapoja.
- Tempat
Persemayaman: Diyakini tinggal di sebuah pohon besar yang terletak di
sebelah Timur Laut (N.O. - Noordoost) desa tersebut, tepat di
tepian Sungai Kapoja.
- Catatan Sejarah: Dahulu di
lokasi pohon tersebut terdapat mata air (waterspruit) tempat
penduduk desa mengambil air setiap harinya.
Manembo :
- Lokasi Geografis: Sebuah bukit
yang terletak di sebelah Barat Laut (N.W. - Noordwest) Kapoja.
- Status Tradisional: Dahulu merupakan
tempat suci (kapilïian) karena diyakini sebagai tempat bersemayamnya Dewa
Manembo.
- Etimologi/Silsilah: Menurut
kepercayaan lokal, Dewa Manembo adalah putra dari Lumimuut dan To'ar
(tokoh leluhur legendaris Minahasa).
Tumimperas
:
- Identitas:
Istri dari dewa Manëmbir (dewa pelindung Desa Kapoja).
- Tempat
Persemayaman: Diyakini bersemayam di sebuah air terjun yang memiliki nama
yang sama dengan dirinya (Air Terjun Tumimperas), yang terletak di dekat
wilayah Kapoja.
- Referensi:
Keterangan lebih lanjut dapat ditemukan dalam literatur Tt. T. Inl. Gr.
VII, No.
57.
Analisis
& Catatan Tambahan:
- Toponimi (Asal-usul Nama
Tempat): Dalam budaya Minahasa, sering kali nama fitur alam (seperti air
terjun atau gunung) identik dengan sosok dewa atau leluhur yang dipercaya
menjaganya. Tumimperas adalah contoh nyata di mana entitas spiritual dan
lokasi geografis menyatu.
- Konteks Geografis: Air terjun
ini secara administratif berada di wilayah seputaran Kapoja, yang dalam
catatan sebelumnya juga menjadi pusat aktivitas pemujaan terhadap
suaminya, Manëmbir.
- Koreksi
Referensi: Kode Tt. T. Inl. Gr. kemungkinan merujuk pada Tijdschrift
voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (Jurnal Linguistik,
Antropologi, dan Etnografi Hindia Belanda).
Ri'at :
(Padanan
dalam bahasa Tombulu: at; bahasa Lawët: lawët)
- Definisi: Sejenis
rumput-rumputan yang memiliki daun sangat tajam.
- Jenis-jenis:
- Ri'at Sëla (Scleria
scrobiculata): Jenis yang berukuran besar. (Referensi: Kd. 286).
- Ri'at Rintëk: Jenis yang
berukuran kecil.
- Istilah Terkait: * Sinarawët
in di'at: Terluka atau teriris oleh rumput tajam (serupa dengan luka
karena sayatan alang-alang).
- Nama Orang: Digunakan juga
sebagai nama laki-laki (ml. e. n.) di wilayah Kapoja.
Tanta'I :
(Dialek
Kapoja)
- Definisi: Sejenis kumbang yang
hidup atau menggali di dalam kotoran kuda atau kotoran babi (kumbang
kotoran/kumbang tinja).
Tani'in /
Tinani' :
- Definisi
Umum: Desa yang akan didirikan (tani'in) atau desa yang sudah
berdiri/didirikan (tinani').
- Definisi
Spesifik: Lokasi atau tempat khusus di mana sebuah desa baru dibangun.
Contoh
Penggunaan & Konteks Sejarah:
- Ën Kapoja tinani' i Asa' am
tëmbir in dojongan in Tjapoja:
"Desa
Kapoja didirikan oleh Asa' di tepi Sungai Kapoja."
- Ën ambitu tani'in i Lonto' a
si sërap tnai:
"Di
tempat itulah sebuah desa baru akan didirikan oleh Lonto' pada bulan
depan."
- Si iasao ën tani'in:
"Di
sinilah tempat di mana desa baru tersebut harus dibangun."
Tintis:
- Definisi: Nama sebuah sungai
kecil (anak sungai) di wilayah Kapoja.
- Geografi: Aliran sungai ini
bermuara atau mengalir ke sungai Tinongko'an.
Tintitj:
- Istilah/Ungkapan: Tintitj
in dano rumojong.
- Definisi: Buih atau busa air
yang memercik/melompat ketika air mulai mengalir deras (terutama fenomena
yang terlihat pada arus laut).
Tolei
- Definisi Mitologi: Nama
seorang Kasuruan (sosok dewa atau roh suci dalam kepercayaan Minahasa).
- Tempat Persemayaman: Diyakini
bersemayam di Air Terjun Tolei, yang terletak di wilayah Kapoja.
Catatan
Tambahan:
- Kasuruan: Istilah ini merujuk
pada entitas spiritual atau manifestasi Tuhan/Dewa dalam kosmologi tradisional
Minahasa.
- Konteks Geografis: Sama
seperti tokoh Manëmbir dan Tumimperas yang kita bahas
sebelumnya, Tolei memperkuat pola bahwa fitur-fitur alam di sekitar
Kapoja (seperti air terjun dan sungai) dipandang memiliki penjaga
spiritual tersendiri.
- Toponimi: Sering kali nama air
terjun tersebut diambil dari nama dewa yang menghuninya, atau sebaliknya.
Sumber : Schwarz, J. G. (1908). Tontemboansch-Nederlandsch
Woordenboek met Nederlandsch-Tontemboansch Register. 's-Gravenhage:
Martinus Nijhoff.
De KAPOYA :
"de kapoja = een houten prisma $\pm$ 1/4 M. lang,
waarvan de vier ribben van kervingen voorzien zijn;"
Terjemahan
& Penjelasan
Dalam
bahasa Indonesia, teks tersebut berarti:
"kapoja
= sebuah prisma kayu dengan panjang sekitar 1/4 meter, yang mana keempat
rusuknya (pinggirannya) diberi takikan atau guratan;"
Detail
Deskripsi
- Objek:
Menjelaskan alat atau benda bernama kapoja.
- Bahan:
Terbuat dari kayu (houten).
- Bentuk: Berbentuk prisma (prisma).
- Ukuran:
Panjangnya kurang lebih 25 cm (seperempat meter).
- Ciri
Khas: Memiliki takikan, lekukan, atau gerigi (kervingen) pada
keempat sisinya.
Ik heb de informatie omgezet in een lijst met de titel
"Geschiedenis uit de sagen der Minahasa".
Sumber :
Geschiedenis uit de sagen der Minahasa, Worotikan, J.A., Jaar van uitgave:
1931. Drukker/Uitgever: Lie Boen Yat.Nederlands Land van herkomst: Indonesie.
DEPARTEMEN ASISTEN PENDETA
(HULPPREDIKERSAFDEELING) SONDER
Termasuk dalam wilayah kerja asisten pendeta di Sonder
(3700) adalah: Pelayanan di Jemaat Kristen Pribumi di Kalangan-atas
(1355), Kiawa (1541), Leilem (1229), Tictyip (518), Timboekar
(256), Tangkoenai (232), Moenis, Soeloe'oen (714), Pinapolangkan
(364), Kapoja (525), Kawangkoan (1773), Kajoe'woetoe (537), Tombasian-atas
(1107), Ranoelambot (230), Pinaras (771), Roemboean (511),
Sawangan (176), Lahendong (352), Pangeloembian (764), Tondangan
(551) dan tempat-tempat di sekitarnya. (Angka-angka tersebut merujuk pada
jumlah jiwa yang termasuk dalam gereja Protestan). Pada akhir tahun 1922, di
departemen ini juga terdapat: 24 penganut kepercayaan lama (Heathen); 24 orang
Tionghoa; 2 orang Muslim; dan 323 orang Katolik Roma.
Divisi gerejawi Sonder mencakup 22 jemaat, 13 di
antaranya terletak di jalan utama yang diperkeras; yaitu jalan dari Tomohon
melalui Sonder dan Kawangkoan menuju Amurang, dan jalan dari Sonder melalui
Tictyip menuju pantai, yang berakhir di jalan utama dari Manado melalui
Tinoewangko menuju Amurang. Tempat-tempat ini dapat dengan mudah dikunjungi
menggunakan mobil atau bendi. Untuk sementara waktu, selama jembatan di sebelah
timur dan barat Timboekar belum diperbaiki, jemaat di Tictyip, Timboekar, dan Tangkoenai
menjadi pengecualian. Tempat-tempat tersebut dikunjungi dengan berjalan kaki
atau menggunakan gerobak sapi (oskar), begitu pula dengan jemaat Toecangan,
Pangeloembian, Pinaras, Roemboean, Sawangan, Ranoelambot, Soeloe'oen,
Pinapolangkan, dan Kapoja. Jika cuaca telah kering selama beberapa minggu
berturut-turut, maka semua tempat ini juga dapat dicapai dengan bendi.
Karena tidak adanya hotel dan pesanggrahan di dalam
divisinya, asisten pendeta terpaksa mengandalkan keramah-tamahan dari guru
pribumi setempat selama perjalanan dinasnya, atau jika tidak ada, dari guru
sekolah perkumpulan yang juga menjabat sebagai goeroe-djamaat (guru
jemaat).
Catatan:
Kata Kapoja yang Anda tanyakan sebelumnya muncul dalam teks ini sebagai nama
salah satu wilayah/jemaat dengan jumlah penduduk Protestan sebanyak 525 jiwa
pada saat itu.
|
Lokasi |
Populasi |
Aksesibilitas
(Kondisi Jalan) |
|
Sonder
(Pusat) |
3700 |
Jalan utama diperkeras (Mobil/Bendi) |
|
Kawangkoan |
1773 |
Jalan utama diperkeras (Mobil/Bendi) |
|
Kiawa |
1541 |
Jalan utama diperkeras (Mobil/Bendi) |
|
Kalongan-atas |
1355 |
Jalan utama diperkeras (Mobil/Bendi) |
|
Leilem |
1229 |
Jalan utama diperkeras (Mobil/Bendi) |
|
Tombasian-atas |
1107 |
Jalan utama diperkeras (Mobil/Bendi) |
|
Pinaras |
771 |
Jalan setapak (Berjalan kaki/Oskar) |
|
Pangeloembian |
764 |
Jalan setapak (Berjalan kaki/Oskar) |
|
Soeloe'oen |
714 |
Jalan setapak (Berjalan kaki/Oskar) |
|
Tondangan |
551 |
Jalan setapak (Berjalan kaki/Oskar) |
|
Kajoe'woetoe |
537 |
Jalan utama diperkeras (Mobil/Bendi) |
|
Kapoja |
525 |
Jalan setapak (Berjalan kaki/Oskar) |
|
Tintjep |
518 |
Akses
terhambat kerusakan jembatan |
|
Roemboean |
511 |
Jalan setapak (Berjalan kaki/Oskar) |
|
Pinapolangkan |
364 |
Jalan setapak (Berjalan kaki/Oskar) |
|
Lahendong |
352 |
Jalan utama diperkeras (Mobil/Bendi) |
|
Timboekar |
256 |
Akses
terhambat kerusakan jembatan |
|
Tangkoenai |
232 |
Akses
terhambat kerusakan jembatan |
|
Ranoelambot |
230 |
Jalan setapak (Berjalan kaki/Oskar) |
|
Sawangan |
176 |
Jalan setapak (Berjalan kaki/Oskar) |
|
Moenté |
Tercantum |
Jalan utama diperkeras (Mobil/Bendi) |
Sumber : Atlas der Protestantsche Kerk in Nederlandsch
Oost-Indië : Jaar van uitgave: 1925
Etimologi "Kapoja": Selain sebagai nama desa,
istilah Kapoja juga merujuk pada jenis pohon (Saurauja tristyla)
yang kayu-nya digunakan untuk membuat api dengan cara gesekan.
Sumber :
Houtsoorten van Nederlandsch Oost-Indië
Titel: Houtsoorten van Nederlandsch Oost-Indië : tevens
beschrijving der meest bekende boomen van den Nederlandsch-Indischen archipel
en hunne waarde voor de huishouding
Jaar van uitgave: 1905
DEFINISI “KAPOJA” MENURUT N. GRAFFLAN
Di sini kita tidak menemukan pagar tanaman atau jalan
setapak, dan kita tidak tahu ke mana atau bagaimana cara keluar kecuali
seseorang menunjukkan jalannya kepada kita.
Orang Negri ini adalah perwakilan setia dari
Minahassa zaman dahulu. Saya tidak ingin memimpin Anda
lama di antara rumah-rumah dan melewati bebatuan, dan
karena itu kita melanjutkan perjalanan, dan karena perut
kita sudah
cukup besar, kita ingin segera sampai di Kapoja.
Kita berada di Kapoja, yang namanya diambil dari popaja
/ Pepaya (1). Pilihan lokasi yang aneh untuk seorang negro. Medannya berupa
jalan pegunungan yang panjang. Pegunungan menjulang tidak beraturan di kedua
sisinya, dan mungkin tidak ada lokasi yang lebih cocok yang dapat ditemukan di
sekitar sini. Di sana, di atas gunung, berdiri bangunan sekolah dan gereja, dan
rumah kepala desa: ke sanalah kita akan pergi. Pria itu tidak diragukan lagi
adalah orang yang paling beradab di desa: kepala desa negro yang masih kafir
belum tahu bagaimana bergerak dengan benar ketika orang Eropa datang. Namun,
hal itu sangat jarang terjadi di sini. Meskipun demikian, tempat terpencil ini
tidak lagi sepenuhnya diselimuti kegelapan. Secara keseluruhan terlihat agak
lebih baik; rumah kepala desa adalah contoh kerapian; dan orang-orang tidak
lagi melewati Anda seperti orang hutan. Itulah yang telah dilakukan oleh
Kekristenan dan peradaban. Guru misionaris K. T. Hermann memulai pekerjaannya
di sini melalui seorang kepala sekolah. Terlepas dari penentangan dari kepala
sekolah dan pendeta, kemajuan sudah terlihat.
Terdapat jalan yang sangat bagus dari Kapoja ke pantai,
menuju Amoerang. Namun, belakangan ini jalan tersebut agak terbengkalai.
Sekalipun kondisinya sebagus itu, saya tidak akan memandu Anda lebih jauh di
sepanjang rute ini hari ini, karena itu berarti melewati salah satu daerah
terpenting yang dicari oleh hati umat Kristen di Minahassa. Oleh karena itu,
saya lebih memilih untuk memandu Anda menyusuri jalan yang belum banyak
dilalui, melalui hutan dan kebun, melalui jurang, dan di sepanjang dasar sungai
yang berbatu—Anda tidak akan menemukannya di peta.
-Bitoeng mengarah ke Amoerang. Seandainya kita langsung
turun dari Kapoja ke pantai, kita akan sampai di jalan ini dekat Tompaän. Di
dekat titik ini, jalan lain mengarah ke kiri menuju pegunungan dan hampir
sejajar dengannya ke Kapoja—jalan yang telah banyak diperbaiki dalam beberapa
tahun terakhir dan dibuat cocok untuk pengangkutan hasil pertanian. Jalan ini
melewati daerah-daerah yang indah dan makmur, melewati orang-orang Negro
Pinamě-rongan, tempat kita berada sekarang, dan lebih jauh ke atas melalui Woewoek,
Roemoöng-atas, dan melewati Tombassian-atas ke Kawangkoan, dll. Kita sekarang
berada di distrik Kawangkoan. Tanpa banyak petunjuk, buah dari Kekristenan dan
peradaban akan segera terlihat.
Katalog Benda-Benda untuk Pameran Internasional di
Amsterdam (1883) Diajukan oleh: Serikat Misionaris Belanda (Nederlandsch
Zendelinggenootschap – didirikan 1797)
Deskripsi Koleksi:
Kapoja :
Sebuah busana ritual yang digunakan oleh para pendeta asli (Walian) di
Minahasa. Pakaian ini dikenakan saat mereka masuk ke dalam hutan
untuk melakukan ritual konsultasi dengan boeroeng-malam (burung
malam/pertanda). Ritual ini bertujuan untuk mencari petunjuk gaib mengenai
strategi peperangan, penentuan waktu penataan kebun (pertanian), serta urusan
adat lainnya.
Sumber :
Nederlandsch Zendelinggenootschap. (1883). Catalogus van de voorwerpen voor
de Internationale Koloniale en Uitvoerhandel Tentoonstelling te Amsterdam,
ingezonden vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap (opgerigt in 1797).
Rotterdam: M. Wyt & Zonen.
Deskripsi Objek: Karai (Baju) dan Konteks Kapoja
Konteks dan Asal-usul:
Dalam terbitan berkala Mededeelingen van wege het
Nederlandsche Zendelinggenootschap (Kabar dari Serikat Misionaris Belanda)
tahun 1878, terdapat catatan mengenai sebuah busana atau potongan bahan yang
disebut Karai (Baju). Objek ini secara spesifik dikaitkan dengan Matheos
Lempar, seorang individu dari wilayah Kapoja, Minahasa, yang menyiapkan dan
memberikan potongan tersebut.
Karakteristik
Karai dalam Teks:
- Bahan dan Pembuatan: Karai
adalah baju tradisional khas Minahasa yang biasanya terbuat dari serat
kulit kayu (fuya) atau anyaman serat nanas/kofo. Teks menyebutkan
tentang "sepotong bahan yang diperuntukkan bagi karai",
menunjukkan proses pembuatan tangan yang teliti.
- Identitas Pengirim: Penyebutan
nama "Matheos Lempar dari Kapoja" menunjukkan bukti sejarah
tentang interaksi antara penduduk lokal yang telah memeluk agama Kristen
(terlihat dari nama baptis "Matheos") namun tetap mempertahankan
keahlian tradisional dalam pembuatan busana adat.
- Fungsi Sosial: Dalam budaya
Minahasa, Karai bukan sekadar pakaian biasa. Bergantung pada
hiasannya, baju ini sering kali mencerminkan status sosial, baik sebagai
pakaian perang maupun pakaian upacara bagi para pemimpin adat.
Penjelasan Tambahan:
Kalimat asli "den tutumballën; een stuk, bestemd
voor karai, bereid en gegeven door matheos lempar van Kapoja" berarti:
"...kepada orang-orang Tutumballën; sepotong
[bahan], yang diperuntukkan sebagai karai, disiapkan dan diberikan oleh Matheos
Lempar dari Kapoja."
Istilah Kapoja di sini merujuk pada lokasi asal tokoh
tersebut, yang sekaligus memperkuat identitas geografis dari benda sejarah yang
sedang dibahas.
Sumber :
Nederlandsch Zendelinggenootschap. (1878). Mededeelingen van wege het
Nederlandsche Zendelinggenootschap: Bijdragen tot de kennis der zending en der
taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 22, 29. Rotterdam: M.
Wyt & Zonen.
KUMPULAN CERITA
RAKYAT KAPOYA
CERITA PENYU
DARAT DAN KERA
Cerita dari KAPOYA
sejak tahun 1907
diceritakan oleh J. Rungkat kepada J. ALB. T. SCHWARZ, Oud-Hulpprcdikcr
van Sondër c.a
Penyu
sedang menanam pisang raja. Pohon pisang raja miliknya sudah berbuah, dan
ketika sudah matang, mereka pun dating Monyet terus-menerus melihatnya dan
terus menambahkan nama bagian dari jalan matang. Suatu hari Kura-kura pergi
lihatlah, dan disanalah para Monyet telah menghabiskan semua pisang rajanya. Lalu
dia berkata: “Tunggu saja sayang, aku akan menangkap jebakan untukmu."
Setelah beberapa hari berlalu, Monyet dating lagi. Ketika mereka hendak
mengambil pisang raja, mereka menendangnya di atas papan, dan papan itu
terlepas, dan salah satu (di antara mereka) dating mendarat di bambu runcing
dan mati. Sekarang Kura-kura datang, dan ketika dia melihat Monyet sudah mati,
dia membawanya pergi. Dia membakar tulang-tulangnya menjadi kapur. Lalu dia
mengadakan pesta dan mengundang para Monyet untuk datang dan menyanyikan lagu
pendeta. Sore harinya para Monyet kembali lagi masing-masing mengambil
bagiannya dari jeruk nipis yang telah diberikan kepada mereka oleh dia kepada
siapa mereka bernyanyi. Ketika dia belum melakukannya berada jauh, Kura-kura
berteriak sambil berkata: “Makanlah tulang-tulang temanmu." Kera menjawab:
"Apa?" Kura-kura berkata: “Perhatikan hal itu si kecil tidak terkena
dahan yang patah. Sekali lagi Kura-kura berteriak: “Sikat tulang temanmu!”
Monyet berkata: “Diamlah. Sekali lagi Kura-kura berteriak: “Kunyahlah dengan
baik tulang rekanmu!" Kera berkata: "Seolah-olah dia berkata:
tulang-tulang temanmu. Kalau begitu, itu dia tentu saja, siapa yang membunuh
rekan kita. Nyamuk, pergi ke padanya!" Kemudian Monyet pergi dan mengambil
Kura-Kura. Mereka berkata: “Tunggu saja, itu kamu, kawan kami terbunuh;
mengangkatnya dan memasukkannya ke dalam lubang pohon." Kura-kura
menjawab: "Kalau begitu, saya punya pohon yang bagus tempat tinggal!"
Monyet menjawab: "Letakkan di antara mereka buluh." Kemudian
Kura-kura berseru: "Hai hai!" Ketika dia berhasil melewatinya telah
dibuang dari mereka, dia berkata, “Yah, aku punya yang bagus rumah!"
Monyet melanjutkan: "Hei, bawa dia, bawa dia ke air!" Kemudian Kura-kura
menangis dan berkata, "Hai, hai, aku mohon ampun!” Kemudian mereka
melemparkannya ke dalam air dan dia merangkak ke dalam lubang dari sebuah batu.
Monyet berkata: “Sekarang Kura-kura ada di sini mati!” Ketika Kura-Kura
mendengarnya, alangkah menyenangkannya mereka melakukannya, dia berkata: “Wah! Sekarang aku punya rumah yang
bagus." Dia bersandar di batu, lalu monyet berkata: “Ambillah dia. Ketika
salah satu dari mereka menangkapnya, Turtle menggigitnya dia di jari-jarinya;
lalu Monyet mengangkat (tangannya). punggungnya dan berkata: "Sekarang
kamu, teman!" Sekarang ada yang menggantikannya bagi yang lain, hal yang
sama terjadi padanya. Mereka tidak mengatakan hal itu sama sekali tangan mereka
digigit oleh Kura-kura sampai mereka... pada akhirnya semua terluka. Mereka
masih di sana ketika Antelope lewat, dan dia berkata: “Mengapa kamu tetap diam
di sana seperti itu?” berkata: “Kami ingin mempekerjakanmu, Antelope, kamu
harus menggunakan danau ini kosong.' Antelope berkata: “Baiklah, tapi pergilah
ambillah sebuah batu dan tutupi pantatku dengan itu." Sekarang aku pergi
Antelope sedang menelan, tapi airnya belum juga habis, saat Antelope sudah
kenyang, sehingga masih intens harus kembali dan Monyet yang memegang batu itu
mereka terus-menerus ditahan dengan kekerasan, sampai mereka semuanya dibuang.
Lalu mereka pergi, karena itu tidak akan ada gunanya.
KUKUA
AN DO'OS' I MBILA-MBILANG WO SE WOLAI, SINISII I JAN RUNGKAT, DARI KOPOJA.
Sapaka si mBila-mbilang, ja matirantém sa'ut. Muntio n
sa'ut(é)na wo maio i méwowoso, ja maio ipara'nda-ra'nda e Wolai, wo
pengiro-ngirukenera i maindo se wozos. A si éndo makasa mangeo paileken i
mBila-mbilang, ja pakakaapuno e Wolai ém puntina. Ituoka ng kuanao:
"Tia'pe' kamu, wowo-ndasangkooka."
Nimaja' és éndo, ja maio ka'i se Wolai. Mindoo im panti sera, ja lumeako
tu'u am bowondas, milaso ém bowondas itjawe'eo-mio' an sala si ésa wo mate.
Mangen si mBila-mbilang, pailekénao nimateo si Wolai wo sia indomo-mai. En da'i
nie'mbara. Ituoka mapé'io sia wo tumowa se Wolai mai rameindeng. Marengo se
Wolai im bawa'ando, ja sera kinualian apu aiwe'e i pésareindenganera. Tajango
tojo' sera, ja rumangato-mange si mBila-mbilang, éng kuana:
"Tuménga-ténga'-mange in da'i i tjarapiniow." Sumowato-mai se Wolai: "Sapa?"
Kuano i mBila-mbilang: "Milo-ilek, en tia' se tuja'ang kasepian in
tjaju." Rumangato ka'i si mBila-mbilang: "Tuménga-ténga'-mange in
da'i i tjarapiniow." Kuano e Wolai: "Mene-penes!" Rumangato ka'i
si mBila-mbilang: "Tuménga-ténga'-mange in da'i i tjarapiniow." Kuano
e Wolai: "Tanusoka makosa in da'i i tjarapiniow. O! ja isia tu'u re'e
nimindo si tjarapéta. Morak, angen sia!"
Ituoka
mangeo se Wolai wo sera tumangka' si mBila-mbilang .lang. Eng kuana:
"Tia'pe' ko, itjo tu'u re'e si nimindo si tjarapiami; popoan sia wo mange
ipampun am posok." Sumowato si mBila-mbilang: "Je! waleku
sama'!" Sumowato se Wolai: "Isurip-ange an uner in saraw sia."
Situoka maame'o si mBila-mbilang: "I-i, hii!" Ja iwangkilera-mako
sia, eng kuana: "E! waleku sama'!" Sumowato se Wolai: "E!
indong-ke', iwali-mange an dano sia." Maame'o sia, eng kuana: "I-i,
hi-i, e mekiampung!"
Ilepoko
tu'u-mio' an dano sia, ja sia muntép ange am bu'mbu' im batu. Eng
kuano e Wolai: "Ja! nimateo tu'u si mBila-mbilang e!" Palingan-ako i
mBila-mbilang eng kasale-sale'anera, ja ng kuana: "E! waleku tu'uran
sama'!" Maleo-mio' am batu sia, eng kuano e Wolai: "Ro'mbes."
Ramo'mbo si esa, kareten-ai i mBila-mbilang ém bea'na in tjamana, wo itu
isomoina-mako a litjur, wo ng kuana: "Itjope', e kalo!" Sawelano ka'i
i esa sia, tani'tuka ka'i. Ra'itja ipakasa-kuarea in tjinareto i mBila-mbilang
eng kamu, iaka-akar sera im baja éng kinapela'an.
Ambituoka sera, lumangkoto-mai si Tu'a, eng kuana:
"Sapa n ipakaena'niow wana?" Kuano e Wolai: "Te'tekanami tjo, e
Tu'a, se'sepenu si wunong atio'." Kuano
i Tu'a: "Sama', ta'an mindo-mai watu kamu wo isepe'd in pé'aar(é)ku."
Sumé'sepo si Tu'a, ta'an en dano ra'itja nimakaapo, wo si Tu'a nimawésoo,
iaka-akar sia i nimenendi-mendioka, wo se Wolai nituminboi am batu, en tiodi im
batu, iaka-akar i mangawangkil. Ituoka marengo sera, an da'itja wana kinaakoan.
Terjemahan
:
Cerita
tentang mBila-mbilang dan se Wolai, diceritakan oleh Jan Ronkat, Kopoja.
Dahulu
kala, mBila-mbilang sedang menjemur padi. Setelah padinya kering dan hendak
disimpan, datanglah sekelompok Wolai yang lewat, lalu mereka mencuri dan
memakan padi tersebut sampai habis. Pada hari itu, mBila-mbilang melihatnya,
lalu ia mengejar para Wolai itu sampai ke sarang mereka. Ia pun berkata:
"Tunggulah kalian, dasar pencuri."
Keesokan
harinya, para Wolai itu pergi lagi. Mereka pergi ke kebun, lalu memanjat pohon
besar, namun saat melompat dari pohon, salah satu dari mereka terjatuh dan mati. Ketika
mBila-mbilang datang, ia melihat seorang Wolai telah mati dan ia pun mendekat.
Namun ia tidak langsung muncul. Ia bersembunyi dan melihat para Wolai datang
beramai-ramai. Karena para Wolai itu merasa lapar, mereka pun menyalakan api
untuk memasak. Saat mereka sedang berkumpul, mBila-mbilang berseru dari
kejauhan: "Lihatlah ke atas, ada sesuatu yang jatuh dari langit."
Para Wolai menjawab: "Apa?" mBila-mbilang berkata lagi:
"Lihatlah, jangan-jangan itu adalah berkat yang turun." mBila-mbilang
berseru lagi: "Lihatlah ke atas, ada sesuatu yang jatuh." Para Wolai
menyahut: "Mungkin saja!" mBila-mbilang berseru kembali:
"Lihatlah ke atas, ada sesuatu yang jatuh." Lalu para Wolai berkata:
"Ternyata benar ada yang jatuh. Oh! Benar-benar sial kita ini. Cepat,
tangkap dia!"
Maka pergilah para Wolai itu dan mereka mencoba menangkap
mBila-mbilang mBila-mbilang. Mereka berkata: "Tunggulah kau, ini
benar-benar dia yang telah mencuri (menghabiskan) jemuran kita; tangkap dia dan
bawa untuk dibuang ke dalam lubang pohon." mBila-mbilang menjawab:
"Aduh! badanku sakit semua!" Para Wolai menyahut: "Seret saja
dia di dalam semak-semak itu." Lalu mBila-mbilang merintih: "I-i,
hii!" Saat mereka menyeretnya, ia berseru: "Eh! badanku benar-benar
sakit!" Para
Wolai menjawab: "Eh, diamlah! lemparkan saja dia ke air (sungai)." Ia
merintih lagi, katanya: "I-i, hi-i, aku menyerah!"
Setelah
ia benar-benar dilemparkan ke air, ia justru masuk ke bawah celah batu. Para
Wolai berkata: "Ya! mBila-mbilang benar-benar sudah mati!" Namun
mBila-mbilang menoleh ke arah mereka yang sedang bersenang-senang dan berkata:
"Eh! badanku sekarang benar-benar segar!" Ia pun menghilang di balik
batu itu. Para Wolai berkata: "Selami dia." Salah satu dari mereka
menyelam, namun mBila-mbilang menjepit lehernya dengan celah kayu, lalu
menariknya ke belakang dan berkata: "Tunggu dulu, kawan!" Teman yang
satu lagi datang membantu, namun ia pun tidak berhasil. Mereka tidak menyadari
tipu muslihat yang dilakukan mBila-mbilang, hingga mereka semua kelelahan dan
menyerah.
Tak lama kemudian, datanglah si Tu'a (Si Tua/Kura-kura),
ia bertanya: "Apa yang sedang kalian lakukan di sana?" Para Wolai
menjawab: "Kami sedang berusaha, si Tu'a, untuk menghisap kering air
ini." si Tu'a berkata: "Baiklah, tapi kalian pergilah dulu ke sana
dan biarkan aku yang menghisapnya dengan kekuatanku." si Tu'a pun mulai
menghisap, namun airnya tidak kunjung habis. si Tu'a akhirnya menjadi sangat
kenyang (perutnya kembung), sementara para Wolai menunggu di atas batu. Mereka
terus menunggu dengan sia-sia, dan pada akhirnya mereka tidak mendapatkan
apa-apa.
Catatan: > * mBila-mbilang atau
kura-kura adalah nama tokoh (sering digambarkan sebagai tokoh cerdik
dalam fabel Minahasa).
- Wolai adalah sebutan untuk
monyet dalam bahasa lokal.
- Kopoja
adalah nama tempat/desa.
KUKUA
AN DORO’ I TU’A WO SI MOPOW WO RA BORAN, SINISII I NATANAEL RUMOKOY, SONDER, WO
SI JAN RUNGKAT, KAPOJA.
Kaindo-indono-mai
si Tu’a anio’, kumi’it in sisil e matumata’u, ja mawaja-waja’o an uner in
talun, ja polingunao-mange si Mopow menenge-nenge; kea’a si Tu’a mangeo milek
si Mopow. Sapaka si Mopow ja mako’ti-lo’tinj a linoindong in tjaje wangker.
Keilek i Tu’a si Mopow, ja ng keana: „E, kuangku re’e wangker si
tjainde’engkooka i malinga-mai me- ... ngangka-ngangko'. Tekis re'e,
tanuaka re'e rere ng keitjei; ja kuneono'o ka'i re'e-mio!" Kuano i Mopow:
"Mande tani-tuo!" Ta'an kuano i Tu'a: "Ame'e! pekangenta si
tjalat iu tu'ura i tjaju anio', sa si seija e makavo'so." Kuano i Mopow:
"Sama', itjo-wo, e Tu'a, somoioka aku."
Ja
mekango tu'u si Tu'a, ra'itja mawo'so. Ta'an an uner i Tu'a i mewerka-werkang
in tjalat, ja rimali'tj-i'-tjir in tjalat si Mopow, wo sia mailek-io' wo'so
itkek ri'ndirano-mio' i lalaina in tjaju. Makete-meke si
Tu'a e mewerkawerkang, ja ng kuana: "Itjope' ka'itje." Mekango-mio'
si Mopow, ireon-nao tu'u-mio' si wo'so si riri'ndirana i lalaina in tjaju, ja
makaunte-untep eng keitjei. Itu
si Tu'a wo malawi'o, akar sia i meneme-menesoka. Makalawi'o si Tu'a, ja
makasale'o si Mopow, wo eng kuana: "E, kendo'on aku in tjatckis tare!
metalitjaro tare kita, e Tu'a." Sitoska ja metalitjaro sera si Tu'a.
Metalitjaro
sera, ja si Mopow merajo-rajooka in owa'na, am pa'pa'an sia timakanoko si Tu'a,
wo mesenge-sengeoka: "Mopow! mopow-ow! mopow! mopow-ow!"
Memopo-mopowoka sia, ja sumumpuko-mange in ta'an, wo sia itjasere-mange im
Boran; ja ng kuana: "E, Woro! kua'a itu ko wo aiwa'kes ambana? Karregas ko
anio' en tow lewo'. Wona' pisaangker ko wo ko mawo'ko. Wona' ka'i situ eng
kawalanu wo ko aiwa'kes amhana." Ituska mumu'u si Woro, eng kuana:
"Sapa en ipemu'u-mu'u i Tjeno' anio'. Tani'tu in tjakento', wo mai monero-nero
iaku? Wona' ka'i itjope' e lewo'. Kua'a ko makento? Wona' pisangker ang kalewo'anu en iana,
iaka-akar eng keitjeimu lene'oka." Kuano
i Mopow: "Tio'o mengeli-ngeli mowa' ko, en tia' mangeku awesan i ma-kes.
Tambisana kendo'on aku, eng ko n aiwa'kes?" "Uli-ulit," eng
kuana i Woro, "metokol kita in dua, keresengku ko? en sa ko wo
kineres(e)ko, ra'to kawisa wo ko itjawita'pe'. Sumusute-mai tojo' wo
itekenzoka." Sumusute tu'u-mange si Mopow. Ra'itja sre
mentjo-mai m Boran, nindo in ta'an si Mopow, nisma' ang kanat. Kereret in
ta'an, ja mangko'o si Mopow.
"Cerita tentang Tu'a dan Mopow dan si Boran, ditulis
oleh Natanael Rumokoy (Sonder) dan Jan Rungkat (Kapoja)."
Isi
Paragraf:
Teks ini
menceritakan sebuah narasi tradisional atau fabel:
- Kaindo-indono-mai si Tu'a
anio': Dahulu kala ada seseorang yang disebut Tu'a.
- Kumi'it in sisil e matumata'u:
(Dia) melihat atau memperhatikan dengan saksama.
- Mawaja-waja'o an uner in
talun: Berjalan-jalan atau masuk ke dalam hutan.
- Polingunao-mange si Mopow:
Memanggil-manggil atau mencari si Mopow (Mopow kemungkinan adalah nama
burung atau hewan dalam cerita ini).
- Sapaka si Mopow ja
mako’ti-lo’tinj: Karena si Mopow sedang bersembunyi atau berada di balik
pohon besar (wangker).
- Keilek i Tu’a si Mopow: Saat
Tu'a melihat Mopow, dia berkata: "Wah, saya kira pohon besar
ini..." (kalimat terpotong di akhir gambar).
Teks ini menceritakan fabel atau dongeng rakyat yang
melibatkan interaksi antara beberapa tokoh (seperti Mopow dan Tu'a). Secara
garis besar, berikut adalah inti dari potongan teks tersebut:
Bagian Pertama: Mopow dan Tu'a sedang beradu akal. Tu'a
meminta Mopow untuk membuktikan kekuatannya atau kecepatannya melalui sebuah
tantangan (melompat atau melewati jerat/tali). Tu'a dengan licik mengatur jerat
atau tali di pepohonan. Mopow yang merasa yakin mencoba melewatinya namun
akhirnya malah terjepit atau masuk ke dalam lubang/perangkap. Tu'a pun tertawa
dan mengejek Mopow yang terjebak.
Bagian Kedua: Mopow berusaha melepaskan diri dan
berteriak-teriak ("Mopow! Mopow!"). Kemudian muncul tokoh lain
bernama Woro (atau Woran). Terjadi percakapan di mana Woro bertanya mengapa
Mopow berada dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Mopow mencoba membela diri
atau meminta bantuan, namun Woro justru membalas dengan kata-kata yang
menunjukkan bahwa itu adalah akibat dari kesombongan atau kesalahan Mopow
sendiri.
Bagian Akhir: Woro menantang Mopow atau memberikan syarat
untuk menolongnya. Mopow yang sudah tidak berdaya akhirnya mengikuti kemauan
tersebut, namun pada akhirnya ia tetap mengalami kesulitan (terjepit atau
tertimpa sesuatu).
Catatan:
Bahasa Tontemboan dalam teks ini menggunakan ejaan lama (seperti penggunaan
'tj' untuk bunyi 'c' dan 'j' yang terkadang berfungsi sebagai penanda
artikulasi tertentu). Teks ini kemungkinan besar berasal dari kumpulan cerita
rakyat Minahasa yang dibukukan pada awal abad ke-20.
Catatan
Tambahan
Teks ini
tampariknya berasal dari buku kumpulan cerita rakyat Minahasa lama. Nama tempat
seperti Sonder dan Kapoja mengonfirmasi bahwa ini adalah dialek dari wilayah
tersebut.
Apakah
Anda ingin saya mencoba mencari tahu lebih lanjut mengenai kelanjutan cerita
"Tu'a dan Mopow" ini?
Sumber : Schwarz, J. A. T. (1907). Tontemboansche
teksten: Aanteekeningen. Leiden: Brill.

