MANUSKRIP PUSTAHA LAKLAK Dari BATAK

 

KAJIAN MANUSKRIP PUSTAH LAKLAK




A LAKLAK 


1. Kajian Arkeologi (Materialitas & Teknik)
Melalui foto close-up, kita dapat melihat karakteristik fisik yang lebih spesifik:
Identifikasi Material: Serat kayu yang kasar dan berpori mengonfirmasi penggunaan kulit pohon Alim (Aquilaria malaccensis) yang diproses tanpa melalui tahap fermentasi panjang, sehingga tekstur alaminya masih sangat terlihat.
Alat Gores: Ketebalan garis pada aksara dan ilustrasi menunjukkan penggunaan panggul atau alat tulis dari lidi pohon aren. Tinta tampak meresap ke dalam serat kayu, menandakan kualitas tinta tradisional yang tinggi (campuran jelaga dan getah).
Jejak Lipatan: Pada foto kedua, terlihat jelas sisa-sisa lipatan akordeon yang menunjukkan bahwa naskah ini dirancang untuk dapat dibawa dengan mudah oleh seorang Datu dalam perjalanan.
2. Kajian Filologi (Diagram & Makna Tekstual)
Detail pada foto pertama memperlihatkan struktur "Buku Mantra" yang sangat teratur:
Diagram Geometris: Terdapat Porhalaan atau tabel divinasi yang lebih kompleks. Kotak-kotak dengan simbol titik dan garis di dalamnya merupakan kode astronomi untuk menghitung posisi bulan terhadap rasi bintang tertentu.
Ilustrasi Fauna: Gambar kalajengking atau serangga melata pada bagian bawah halaman kiri merupakan simbol pagar (perlindungan) atau bisa (racun/kekuatan). Dalam tradisi Pustaha, gambar ini sering berfungsi sebagai visualisasi dari kekuatan gaib yang dipanggil dalam mantra tersebut.
Simbol Matahari/Bintang: Di pojok kanan atas foto pertama, terdapat simbol lingkaran dengan sinar yang kemungkinan merepresentasikan matahari sebagai sumber energi atau penanda waktu ritual.
3. Kajian Linguistik (Paleografi & Epigrafi)
Foto ketiga (close-up tulisan) memungkinkan analisis karakter yang lebih mendalam:
Karakter Dominan: Terlihat jelas bentuk Ina ni Surat (huruf induk) seperti Ha (remah), Ma (menyerupai angka 8 terbuka), dan Na.
Tanda Baca (Anak ni Surat): Teramati penggunaan tanda Saborotan (vokal 'u' di bawah huruf) dan Sihora (vokal 'e' di samping huruf) secara konsisten.



Gaya Penulisan: Gaya goresannya menunjukkan karakter "Batak Toba" yang kaku dan fungsional. Tidak banyak ditemukan lengkungan dekoratif, yang menandakan teks ini lebih bersifat instruktif (manual kerja) daripada naskah sastra.
4. Sintesis Penanggalan & Keaslian
Berdasarkan saturasi warna tinta dan pola degradasi pada pinggiran kulit kayu dalam foto terbaru:
Estimasi Usia: Naskah ini menunjukkan tanda-tanda penuaan alami yang konsisten dengan barang peninggalan akhir abad ke-19 (sekitar 1870–1910).
Konteks Sejarah: Pada masa ini, naskah Pustaha masih diproduksi secara aktif di wilayah pedalaman Sumatra Utara sebelum dominasi kertas Eropa menggantikannya sepenuhnya.

DAFTAR PUSTAKA TERPADU
Kozok, U. (2009). Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak. Jakarta: KPG.
Voorhoeve, P. (1977). Codices Batacici. Leiden: Universitaire Pers Leiden.
Sibeth, A. (1991). The Batak: Peoples of the Island of Sumatra. London: Thames and Hudson.
Manik, T. R. (1977). Kamus Batak Toba - Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

PERIODISASI SEJARAH MINAHASA DAN CIKAL BAKAL PENGGUNAAN NAMA MINAHASA

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA