RELIEF “ORANG SAMARIA” DI RS BETHESDA TOMOHON Kajian Ikonografi, Historis, Autentisitas, Genealogi Seniman, dan Nilai Monumental.
Kajian Sejarah Seni Rupa (Art Historical Study) berbasis pendekatan ikonografi dan historiografi seni lokal.
RELIEF “ORANG SAMARIA” DI RS BETHESDA TOMOHON
Kajian Ikonografi, Historis, Autentisitas, Genealogi Seniman, dan Nilai Monumental.
Relief “Orang Samaria” di RS Bethesda Tomohon merupakan karya seni rupa monumental yang memadukan nilai teologis, sosial, dan estetis dalam ruang publik pelayanan kesehatan. Kajian ini bertujuan menganalisis esensi artistik relief, hubungan historisnya dengan seniman pembuatnya, dinamika renovasi dan klaim kepengarangan, konteks genealogis keluarga seniman, serta kedudukannya dalam sejarah seni rupa Sulawesi Utara. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif melalui analisis visual, ikonografi, serta penelusuran sumber sejarah lokal dan kesaksian masyarakat. Hasil kajian menunjukkan bahwa relief tersebut secara historis berkaitan dengan pematung Sulawesi Utara Tarcisius Paat, sementara proses renovasi dan pewarnaan ulang oleh pelukis Soni Wungkar kemudian memunculkan dinamika interpretasi dan klaim artistik yang perlu dipahami secara kritis dalam perspektif historiografi seni. Relief ini juga dapat diposisikan sebagai salah satu karya relief tertua di Sulawesi Utara yang masih bertahan di ruang publik, sehingga memiliki nilai monumental dan historis yang signifikan.
Relief sebagai cabang seni rupa tiga dimensi merupakan bentuk pahatan pada bidang datar dengan variasi kedalaman yang menciptakan efek ruang melalui permainan cahaya dan bayangan. Dalam konteks religius dan institusional, relief berfungsi tidak hanya sebagai dekorasi, tetapi sebagai media naratif dan simbolik.
Relief “Orang Samaria” di RS Bethesda Tomohon mengangkat kisah Injil Lukas 10:25–37 tentang kasih tanpa batas etnis dan sosial. Penempatan karya ini di lingkungan rumah sakit memperkuat hubungan antara teks biblis dan praksis pelayanan kemanusiaan.
2. Esensi Artistik Relief
2.1 Struktur Komposisi
Komposisi relief berpusat pada dua figur utama:
Tokoh Samaria sebagai penolong
Korban yang terluka
Figur keledai menjadi elemen penghubung komposisi, sementara latar berupa pohon, lanskap, dan arsitektur Timur Tengah memperkuat konteks naratif. Garis diagonal tubuh korban dan arah gerak keledai menciptakan dinamika visual yang dramatis.
2.2 Teknik dan Material
Relief ini memperlihatkan karakter mezzo-relief (kedalaman sedang), dengan figur utama lebih menonjol dibanding latar. Material yang digunakan diduga berupa campuran semen/beton dengan teknik pahatan langsung pada dinding—teknik umum pada karya monumental Sulawesi Utara akhir abad ke-20.
Tekstur permukaan memungkinkan permainan cahaya alami yang memperkuat ekspresi emosional figur.
2.3 Ikonografi dan Makna
Ikonografi “Orang Samaria” melambangkan:
Kasih tanpa diskriminasi
Solidaritas terhadap penderitaan
Pelayanan sebagai tindakan iman
Dalam konteks rumah sakit Kristen, relief ini menjadi metafora visual bagi etos pelayanan medis yang berlandaskan kasih.
3. Hubungan Relief dengan Seniman Pembuat
Secara historis, relief ini dikaitkan dengan pematung dan pembuat relief Sulawesi Utara, Tarcisius Paat (Tarsi Paat). Ia dikenal melalui berbagai karya monumental berupa patung kepahlawanan, figur religius, dan relief gerejawi di Manado, Minahasa, dan Tomohon.
Ciri-ciri gaya yang menguatkan atribusi ini meliputi:
Figur realistis-naratif
Ekspresi emosional lembut
Komposisi dramatik tetapi komunikatif
Tema religius dan kepahlawanan
Periode pembuatan relief diperkirakan berada pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, yakni masa produktif karya monumental Tarcisius Paat. Namun dokumentasi arsip formal tahun pembuatan masih memerlukan penelitian lanjutan.
4. Renovasi, Pewarnaan Ulang, dan Klaim Kepengarangan
Relief ini telah mengalami beberapa kali pewarnaan ulang. Pada tahap tertentu dilakukan renovasi visual oleh pelukis Soni Wungkar dari Tareran, yang memberikan sentuhan gaya lukisan (pictorial repainting).
Dalam teori sejarah seni, penting dibedakan antara:
Pencipta bentuk (form creator) – seniman yang merancang dan memahat struktur dasar relief.
Renovator/restorator – pihak yang melakukan perawatan atau reinterpretasi visual tanpa menciptakan struktur awal.
Meskipun pernah muncul klaim bahwa relief tersebut merupakan karya pelukis yang melakukan renovasi, secara akademik kepengarangan tetap merujuk pada pencipta struktur dan komposisi awal. Pewarnaan ulang tidak secara otomatis mengubah atribusi artistik.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya dokumentasi karya seni publik agar tidak terjadi pergeseran narasi historis.
5. Silsilah dan Genealogi Keluarga Seniman
Kajian sejarah seni tidak dapat dilepaskan dari konteks biografis dan genealogis penciptanya.
Tarcisius (Tarsi) Paat menikah dengan Agustin Rosa Maria Paat Sumolang (17 Juli 1937 – 30 Oktober 2021). Sepanjang hidupnya, Agustin mendampingi perjalanan artistik sang suami dalam produksi karya monumental di Sulawesi Utara.
Mereka dikaruniai empat orang anak:
Robert Ivo Paat, S.E. – seniman penerus tradisi keluarga.
Richard Recky Paat – terlibat dalam bidang seni.
Frangky Paat – berdomisili di Jakarta.
Hetty C. Paat – berdomisili di Samarinda.
Keberadaan generasi penerus menunjukkan adanya transmisi artistik keluarga (hereditary artistic transmission), baik dalam teknik, nilai estetika, maupun tema religius.
6. Nilai Historis dan Status Monumental dalam Perkembangan Seni Rupa Sulawesi Utara
Relief “Orang Samaria” di RS Bethesda Tomohon dapat diposisikan sebagai salah satu karya seni rupa relief tertua yang masih bertahan di ruang publik Sulawesi Utara, khususnya dalam konteks institusi pelayanan kesehatan Kristen.
Dalam perkembangan seni rupa Sulawesi Utara, karya relief monumental pada akhir abad ke-20 masih relatif terbatas jumlahnya dibandingkan patung figuratif kepahlawanan. Oleh karena itu, keberadaan relief ini memiliki arti penting sebagai:
Representasi awal seni relief religius monumental modern di Sulawesi Utara
Jejak perkembangan teknik pahatan dinding berbahan semen/beton di ruang publik
Bukti visual interaksi antara seni, iman, dan institusi sosial
Dengan mempertimbangkan usia karya, keberlanjutan eksistensinya, serta kontribusinya dalam lanskap visual kota Tomohon, relief ini layak dikategorikan sebagai karya monumental bernilai sejarah dalam perkembangan seni rupa Sulawesi Utara.
Pengakuan terhadap status monumental ini bukan semata pada ukuran fisik, tetapi pada:
Nilai historis (age value)
Nilai artistik (aesthetic value)
Nilai sosial-religius (social-spiritual value)
Nilai genealogis (family artistic lineage value)
Dengan demikian, Relief “Orang Samaria” tidak hanya merupakan karya seni religius, tetapi juga artefak sejarah seni rupa daerah yang patut didokumentasikan, dilestarikan, dan diakui secara akademik.
Relief “Orang Samaria” di RS Bethesda Tomohon merupakan karya seni rupa monumental dengan nilai teologis, sosial, dan historis yang kuat. Secara historis dan stilistik, karya ini berkaitan dengan praktik seni figuratif religius yang dikembangkan oleh Tarcisius Paat pada akhir abad ke-20 di Sulawesi Utara.
Renovasi dan pewarnaan ulang oleh pelukis lain merupakan bagian dari proses perawatan estetis, namun tidak mengubah kepengarangan awal karya.
Sebagai salah satu karya relief tertua di Sulawesi Utara yang masih eksis di ruang publik, relief ini layak dipandang sebagai karya monumental bernilai sejarah dalam perkembangan seni rupa Sulawesi Utara.
