TARERAN DULU DAN KINI

 

JALUR MIGRASI DAN GEOPOLITIK TONTEMBOAN : DARI PETA TARERAN 1857 MENUJU KESEPAHAMAN LAHIRNYA MINAHASA SELATAN

                       

 Sumber  Primer


                           

Peta  Tareran Tua

 

1. Analisis Spasial Peta Graafland 1857: Akar Teritorial

Berdasarkan peta N. Graafland (1857), kawasan Tareran digambarkan sebagai titik temu penting yang memiliki struktur pemukiman mapan. Deskripsi peta ini menunjukkan dua kutub besar yang dipisahkan secara sosiokultural:

Jalur  Persebaran

  • Garis Biru (Batas Komunitas): Merupakan garis demarkasi antara Komunitas Kawangkoan dan Komunitas Sonder. Batas ini bukan sekadar garis administratif, melainkan pembatas loyalitas Walak dan pelayanan gereja mula-mula.
  • Komunitas Kawangkoan : Meliputi  Rumoong Atas, Lansot, Wiau, Lapi, Talaitad, Wuwuk, Tumaluntung, Koreng, dan Kaneyan.
  • Komunitas Sonder: Meliputi Suluun, Pinapalankow, Kapoya, dan Pinamorongan.

2. Periodisasi Sosial: Dari Era Kawasaran hingga Administrasi Kolonial

Secara antropologis, wilayah ini berkembang melalui fase-fase tanpa sentuhan pengaruh Portugis:

  • Era Pakasaan (Kawasaran): Wilayah para pejuang yang menjaga kemurnian struktur Tontemboan melalui sistem Tumiit (pembukaan lahan).
  • Era Spanyol: Berfungsi sebagai jalur isolasi dan pengungsian penduduk pesisir menuju pedalaman pegunungan.
  • Etimologi Pertahanan  dimasa  Persekutuan  Spanyol  dan Mongondow, nama-nama seperti Lansot (nama  Buah), Wuwuk (Dupa), dan Pinamorongan (Poporong) adalah bukti sosiologis memori kolektif Perang Minahasa-Mongondow.


3. Dinamika Migrasi: Pola Persebaran "Satu Asal"

Peta 1857 secara jelas menggambarkan arah pergerakan manusia yang membentuk topografi sosial baru:

  • Garis Kuning (Arah Kawangkoan): Persebaran komunitas Kawangkoan dari pegunungan menuju Amurang. Jalur inilah yang membentuk pemukiman di dataran rendah yang tetap terhubung secara genealogis dengan Rumoong Atas dan Kawangkoan  Atas / Kawangkoan Tua sebagai induk.
  • Garis Putih (Arah Sonder): Pergerakan orang Sonder melintasi kawasan utara menuju Tumpaan hingga ke Tenga dan sekitarnya.
  • Jalur Tompaso: Pergerakan dari Tompaso Tua yang kemudian melahirkan kawasan Motoling Tua.

4. Relasi "Atas-Bawah" dalam Perspektif Adrianus Kojongian

Adrianus Kojongian menekankan bahwa mobilitas penduduk ini menciptakan fenomena desa "kembar" (Atas-Bawah). Kelahiran Kawangkoan Bawah dan Rumoong Bawah di pesisir adalah hasil adaptasi ekonomi masyarakat pegunungan tanpa memutuskan tali silsilah. Hubungan sosiologis ini memastikan bahwa meskipun secara geografis berjauhan, mereka tetap merasa sebagai satu entitas kultural yang sama.


5. Anomali Sosiopolitik Talaitad: Identitas yang Terpisah dari Induk

Secara antropologis, posisi Talaitad dalam pemekaran Kecamatan Suluun Tareran (SulTa) tahun 2007 dipandang sebagai anomali.

  • Berdasarkan peta 1857, Talaitad adalah bagian inti dari komunitas Kawangkoan Tua.
  • Penempatan Talaitad ke dalam wilayah SulTa (yang didominasi komunitas asal Sonder) merupakan pemaksaan administratif yang mengabaikan sejarah silsilah dan batas sosiokultural yang asli.
  • Secara sosiologis, Talaitad seharusnya tetap menyatu dengan Tareran Induk/Tua.

6. Sintesis Akhir: Fondasi Sosiologis Pembentukan Minahasa Selatan

Keseluruhan jalur persebaran penduduk yang terekam sejak abad ke-19 inilah yang kemudian melahirkan kesepahaman sosiologis untuk membentuk Kabupaten Minahasa Selatan.

  • Rasa "Satu Asal" muncul dari bertemunya kembali para keturunan migran dari Tareran, Kawangkoan, dan Tompaso di wilayah baru (Amurang, Tumpaan, Motoling).
  • Solidaritas kewilayahan ini bukan lahir dari keputusan politik semata, melainkan dari rekonsiliasi budaya dan ikatan sejarah panjang sebagai satu komunitas yang berasal dari hulu yang sama di pegunungan  Kawangkoan,Sonder, Tareran dan sekitarnya.

 

7. Daftar Pustaka

  1. Arsip Sinode GMIM. Buku Register Baptisan Jemaat Mula-mula Resort Sonder dan Kawangkoan (1840-1900).
  2. Graafland, N. (1857). Kaart van de Minahassa (Peta Tareran).
  3. Henley, David. (1996). Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies. Leiden: KITLV Press.
  4. Kojongian, Adrianus. (2010). Minahasa: Sejarah, Penataan Wilayah, dan Dinamika Penduduk. Manado.
  5. Lundström-Burghoorn, Wil. (1981). Minahasa Civilization: A Tradition of Change. Gothenburg.
  6. Schouten, M. J. C. (1998). Leadership and Social Mobility in a Southeast Asian Society: Minahasa, 1677-1983. Leiden: KITLV Press.
  7. Kajian Internal Tim Penyusun Sejarah berbagai desa di Tareran

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

PERIODISASI SEJARAH MINAHASA DAN CIKAL BAKAL PENGGUNAAN NAMA MINAHASA

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA