Sejarah GOR TAHUNA Pulau Sangihe
SEJARAH STADION DAN GOR TAHUNA, RENCANA PEMBANGUNAN BANDARA, PENDIRIAN SEKOLAH, UNIVERSITAS DAN AWAL MULA PENDIRIAN SEKOLAH TAMAN KANAK-KANAK DI TAHUNA
Sangir
Talaud: terpentjil tapi makmur
Selama
15 tahun merdeka berganti KDH sampai 15 kali
(1)
Surabaja
Oktober (IBR.) — Daerah Sangir Talaud adalah wilayah Negara kita jang letaknja
terpentjil diudjung utara, dan merupakan daerah perbatasan antara wilayah RI
dengan negara tetangga kita jang bersahabat, jaitu Filipina. Sungguhpun daerah
ini terpentjil namun merupakan suatu daerah jang makmur dan mempunjai harapan2
baik di hari depan. Demikian tinggi kemakmuran daerah ini, sehingga disana
tidak ada pengemis dan pentjuri, djuga istilah „maling” tabu untuk daerah ini.
Sangir
Talaud merupakan daerah Tingkat II jg. terdiri dari lk. 70 pulau besar, ketjil
dan berpenduduk lk. 200.000 djiwa. Meskipun daerah ini terpentjil,
namun dibidang pendidikan dapat dikatakan telah madju. Hal ini terbukti daerah
ini telah bebas dari Buta-huruf.
Menurut keterangan Kepala Daerah Sangir Talaud, Major
Sutodjo jg. dewasa ini sedang berkundjung ke Surabaja, dizaman kolonial oleh
pemerintah djadjahan radja2 jg. asli dihapuskan, dan diganti dgn. radja2 baru
jg. diangkat oleh Pemerintah djadjahan. Radja2 ini diambilkan dari rumpun
keluarga jg. besar, dan tiap2 wilajah mempunjai radja2 ketjil. Tudjuannja tidak
lain ialah untuk memetjah belah, dan sebagai akibat dari politik divide et
impera itu tiap pulau mempunjai perasaan superieur sendiri2. Karena sistim
pemerintahan sematjam itu, maka hanja keturunan radja2 itulah jg. mendapat
kesempatan menikmati pendidikan jg. lebih tinggi, sedang golongan lainnja djauh
ketinggalan.
Setelah
penjerahan kedaulatan ditahun 1949, maka disana lahirlah partai2 jg. masing2
mengorganisir golongannja masing2, dan mereka jg. menondjol dg. tidak
memperdulikan sedjarah hidupnja dimasa jg. lampau dapat mendjadi tokoh dari
partai2 itu. Berhubung dg. itu, maka partai2 itu sama saling berlomba untuk
mendapatkan anggota sebanjak2nja, sehingga lalu timbul famili partai dan
merupakan golongan Neo Feodal-ngo2.
Menurut
keterangan sedjak penjerahan kedaulatan hingga lk. dalam masa 15 tahun, Kepala
Daerahnja telah berganti 15 kali. Hal ini disebabkan karena setiap diangkatnja
KDH baru lalu timbul famili regering, jg. berakibat timbulnja birokrasi dan
korup. Berhubung dg. itu, maka hampir setiap detik Kepala Daerah ... djam
seluruh kekuatan Permesta menjerah. Setelah mendjabat sebagai komandan didaerah
tsb. selama lk. 8 bulan, Kapten Hari Sutodjo ditarik untuk kembali ke Djawa.
Berhubung
dg. penarikan itu, maka timbullah resolusi dari organisasi2 massa jg.
menghendaki tetap tinggalnja Kapten Hari Sutodjo didaerah tsb. Tetapi sebagai
seorang militer, maka meskipun ada resolusi2 itu, beliau tetap patuh pada
perintah atasan.
Dg. tidak
di-sangka2, maka pada waktu diundangkannja Pen Pres No. 6, timbullah perutusan
dari para mahasiswa asal Sangir Talaud jg. berada di Djawa jg. menjatakan,
bahwa Kapten Hari Sutodjo adalah seorang jg. tepat untuk mendjabat sebagai
Kepala Daerah Sangir Talaud. Pernjataan2 itu dikeluarkan berdasarkan
pertimbangan, bahwa selama beliau bertugas disana tidak merugikan masjarakat.
Pernjataan itu kemudian disusul dg. radiogram dari Panglima Kodam XIII Merdeka
(ketika itu jg. mendjabat Penguasa XIII-Merdeka, Overste Soenardjadi), jg. a.l.
menjatakan, bahwa masjarakat disana menghendaki agar Kapten Hari Sutodjo
diangkat sebagai KDH. Demikianlah, maka pada tgl. 6 Mei 1960 terdjadilah
timbang terima djabatan, dan sedjak waktu itu hingga sekarang Kapten Hari Sutodjo,
sekarang Major mendjabat sebagai KDH Sangir Talaud.
Untuk
mengkikis sisa2 feodal didaerah tsb. maka langkah pertama oleh KDH dilaksanakan
ambil alih Sarang Burung. Perlu diketahui, bahwa Sarang Burung itu dahulunja
adalah milik Radja, dan oleh karena jg. mendjabat Radja berganti2, maka
kemudian Sarang Burung itu dimiliki oleh keturunan2 radja jg. merupakan suatu
famili besar. Tetapi hakekatnja Sarang Burung itu adalah milik Negara dan bukan
milik famili. Pelaksanaan ambil alih itu tidaklah mudah, dan untuk ini
diperlukan perdebatan selama lk. 3 hari, tetapi achirnja pangambilan alih
terlaksana djuga.
Dengan pengambilan alih Sarang-Burung itu, maka perasaan golongan jg. satu lebih tinggi dari golongan jg. lain mendjadi berkurang. Lebih2 setelah terbukti, bahwa hasil Sarang Burung tsb. digunakan untuk bea-siswa bagi mahasiswa daerah jg. beladjar keluar daerah, misalnja ke Surabaja, Malang, Djakarta, Makassar dll. Djumlah mahasiswa jg. dibeajai daerah sedjak tahun 1960 hingga sekarang ini lk. 100 orang.
(Keterangan
Gambar)
Inilah
Stadion Sangir Talaud jang sangat megah, jang dibangun dalam rangka usaha
Nation Building dan untuk menghadapi hari depan daerah ini, jang besar sekali
kemungkinannja kelak akan mendjadi daerah tourisme.
Sangir
Talaud peng-hasil pala
JANG
MEMPUNJAI KWALITET DUNIA
Telah
memiliki universitas sendiri stadion megah dan sporthall
(II
habis)
SURABAJA,
31 OKT. (IBR.) – Karena letak geografisnja dan sulitnja perhubungan ditambah
adanja peninggalan2 zaman kolonial, dimana rasa lebih tinggi dari pulau satu
dengan pulau lainnja, sehingga rasa persatuan tidak ada. Untuk melandjutkan
perasaan persatuan sematjam itu maka sebagai program dasar ditahun 1961 mulai
mentjarangkan gema menggalang persatuan.
Langkah
pertama jaitu daerah perbatasan jang di luar 2 menteri kedaulatan daerah jang
akan datang akan dibuka perhubungan internasional, jang hal itu perlu disiapkan
sebelumnja, agar kelak apabila saatnja tiba daerah itu tidak mengetjewakan para
pelantjong jang mengunjungi daerah ini.
Menurut
KDH Sangir Talaud, pembangunan2 ini oleh Majelis Sub-distrik dipusatkan, bahkan
diunggupkan daerah ini akan diberi lapangan terbang, dan penambahan kapal2
untuk memperlantjar hubungan antar pulau. Dalam hubungan ini dapat diterangkan
bahwa untuk hubungan antar pulau Pemerintah Daerah cq Pelni (Perusahaan
Pelajaran Daerah Sangir) baru memiliki 2 buah kapal á 20 ton dan 5 buah lainnja
jang berukuran 25 sampai dengan 50 ton, jang kesemuanja belum mentjukupi
kebutuhan.
Dapat
ditambahkan, bahwa tahun baru ini telah pernah pergunakan untuk Pesta Olahraga
seluruh Sul-Yang (Sula-wesi Utara-Tengah) ... oleh para olahragawan dan para
official. Pesta Olahraga ini mendapat sukses besar, terutama bagi daerah itu
sendiri, karena kalau sebenarnja dibidang sepakbola atau bidang olahraga
lainnja, daerah ini selalu mendjadi djuaranja, maka dalam Pesta Olahraga ini
sepakbolanja menduduki tempat kedua. Peristiwa tsb merupakan kedjadian jang
untuk pertama kalinja dalam sedjarah daerah terpentjil ini menerima dan
mengakomodir tamu jang sebanjak itu.
Produksi
terpenting daerah ini.
Daerah jg.
tidak mempunjai penghasilan padi, dan jang mendjadi makanan pokok bagi penduduk
asli ialah sagu, keladi, rambat, kaspe dan sebagainja. Mengenai penanaman padi
dahulu pernah diadakan research di pulau Talud, tetapi hasil penjelidikan itu
menjatakan, bahwa tanahnja belum memenuhi sjarat untuk penanaman padi karena
masih dangkal. Kemudian barulah selama 3 bulan diadakan research lagi, jang
hasilnja mungkin daerah ini tidak dapat ditanami padi, dan sebagai rencana
untuk pertahanan akan dibangun parit2 irigasi. Karena tidak ada penghasilan
padi itu, maka petugas-petugas asal luar daerah kalau datangnja terlambat
terpaksa harus dapat makan seadannja.
Karena
tidak adanja hasil padi itu, maka tentunja timbul pertanjaan hasil apa jang
membuat daerah itu begitu makmur. Disini dapat dikemukakan angka2 produksi sbb:
Daerah ini tiap bulan menghasilkan 320 ton pala dan pala daerah ini terbaik
diseluruh dunia, hingga pemasarannja diluar negeri sangat baik. Fuli (kembang
pala) 35 dan kopra 2000 ton. Untuk pemeliharaan tanaman pohon pala disiang 1960
telah ditanam pohon baru sebanjak 1½ djuta batang. Dengan lambaian tanaman pala
itu, dalam djangka 3-4 tahun lagi terhitung mulai penanaman hasil pala daerah
itu akan meningkat hingga 4 kali dari produksinja jang sekarang. Sedang untuk
memperhatikan hasil kopranja telah diadakan replanting.
Kebaikan
daerah ini akan bahan export tidak kiranja menjinarik perhatian kaum petualang
untuk melakukan operasipenjelundupan. Dan penjelundupan memberikan
suatu subversip dan kontra revolusi digunakan untuk melakukan aksi2-nja. Tetapi
berkat bantuan CPM dan Kepolisian serta alat2 negara lainnja, maka sekarang
kegiatan kaum penjelundup itu telah dapat dilumpuhkan.
Bidang pendidikan
Dibidang pendidikan daerah ini mengalami kemajuan pesat,
kalau dahulu jang mendapat kesempatan beladjar itu lebih diutamakan untuk
golongan radja2 dan keluarganja, sehingga daerah itu tidak bebas dari
butahuruf. Dengan ini daerah tsb. memiliki 250 S.D. jang kemadjuan sekolah ini
jg. gedung sendiri, baik itu perorangan maupun semipemerintah jang
pembangunannja kesemuanja dibiajai oleh Pemerintah Daerah, SMA Neg. 3 buah, SGA
1, SMEA 2, SKP 2, SKP 11 termasuk milik swasta, SMP 21, ST 1 dan sebuah Taman
Kanak2. Satu lagi jang baru jang baru terachir ini ditaruh oleh Ny. Hari
Sutodjo, isteri KDH. Kemudian pada tahun 1964 ini oleh Pemerintah Pusat daerah
ini telah diberi sebuah Universitas jang pembukaannja meriah diresmikan pada
tgl. 17 Agustus 1964 jg. Pemberian itu disertai kehormatan jg. sangat besar,
karena untuk itu harus dibiajai oleh Pemerintah Daerah. Dewasa ini Universitas
itu memiliki 2 buah Fakultas, jaitu Ekonomi dan Hukum dengan djumlah mahasiswa
250 orang.
Tentang tuntutan resolusi K.D.H.
Mendjawab pertanjaan pers mengenai berita2 jg. achir2 ini
dilantjarkan jg. menjangkut diretonsia Major Hari Sutodjo sebagai KDH. Kepala
Daerah Sangir Talaud itu menerangkan bahwa tuntutan2 tsb. mempunjai latar
belakang tertentu, jaitu a.l. datang dari pihak2 jg. merasa dirugikan.
Untuk memberikan gambaran jg. agak djelas, oleh Major
Hari Sutodjo diuraikan kedjadian2 jg. terdjadi sebelum beliau mendjabat sebagai
kepala Daerah disana. Ketika itu setiap ada KDH baru, golongan2 tertentu itu
melakukan taktik mulai mendjalankan mendjagokan KDH jg. baru. Karena umumnja
KDH itu takut akan demonstrasi, maka segala tuntutan pendukungnja itu dipenuhi.
Tuntutan2 itu terus meningkat, dan setelah sampai kepada batas dimana KDH itu
tidak dapat memenuhi tuntutannja, mereka lalu mendjadi penentang KDH. Itulah
sebabnja mengapa daerah itu sering mengalami pergantian KDH.
Beladjar dari pengalaman itu, maka sewaktu beliau
diangkat sebagai KDH ia menggunakan sistim setjara langsung dg. rakjat.
Misalnja suatu daerah jg. memerlukan bantuan, KDH datang sendiri untuk
menjerahkan bantuan itu setjara langsung. Dengan tjara demikian, maka
masjarakat lalu mengakui, bahwa baru sekarang ini ada seorang KDH jg. benar2
mau mendekati rakjat.
Diterangkan
selandjutnja, bahwa didalam melakukan pembersihan terhadap aparat jg. merugikan
negara dan rakjat, beliau tidak memandang golongan, baik kiri maupun kanan
pasti terkena pisau pembersihan. Berhubung dari kebidjaksanaannja itu, maka
pada sidang Paripurna pertama DPRD-GR pada bulan Juni 1964 jl setjara aklamasi
KDH mendapat kepertjajaan penuh. Ditambahkannja, bahwa hingga saat ini beliau
telah mendjabat KDH selama 4½ tahun. Selama beliau mendjabat KDH tidak sedikit
bantuan golongan muda terutama para mahasiswanja jg. diberikan kepadanja, dan
berkat bantuan mereka itulah beliau dapat menunaikan tugasnja dg. baik. Dan
berkat kekajaan daerah ini jg. dipergunakan sebagaimana mestinja, maka dari
rakjat jg. semula gelap gulita, kini disetiap ketjamatan telah mendapat
penerangan listrik. Demikian a.l. djam Sangir Talaud.
Mengenai
diri Major Hari Sutodjo setjara singkat dapat diterangkan, bahwa beliau adalah
salah satu pelopor dari gerakan jg. menuntut pembubaran Negara Djawa Timur jg.
ketika itu beliau bertindak selaku Ketua Ikatan Pemuda Bekas Tawanan. Sedang
isterinja jg. lebih dikenal dg. nama getirnja Madjinah ditahun 1948 oleh
Pemerintah Kolonial Belanda telah didjatuhi hukuman 15 tahun pendjara, karena
kegiatannja menentang pemerintah kolonial. Akan tetapi ketika baru mendjalani
hukumannja 1 tahun tersusul oleh peristiwa penjerahan kedaulatan, dan beliau
oleh pemerintah kita dilepaskan dari pendjara.
Tentang
kundjungan Major Hari Sutodjo ke Surabaja sekarang ini selain untuk berobat
djuga untuk mengurus perlengkapan Universitas, a.l. pembinaan bakat dan
pemasaran ke Djawa untuk menggerakkan perlawanan ke Sangir Talaud ke Djawa
Timur Misalnja.
(Keterangan
Gambar di Kanan Atas):
Daerah Sangir Talaud jang terpentjil itu, didalam pembangunan tidak mau kalah dengan daerah2 lainnja, terutama dikelilingi oleh ragu. Kalau Surabaja Sporthall-nja sedang dibangun, maka Sangir telah lebih memiliki Sporthall jang megah seperti dapat dibuktikan dalam gambar ini. Harian Umum. (1964, 31 Oktober). Harian Umum. Badan Penerbit "HARIAN UMUM" P.T.
PROFIL
MAYOR HARI SUTODJO
Mayor
Hari Sutodjo nama
sebenarnya adalah Hari Sutodjo Pasandaran, berdasarkan
penuturan dari bapak
Jupiter Makasangkil (Sejarahwan Sangihe), Hari Adalah
seorang
putra tebaik asal
Siau yang diadopsi oleh keluarga
Jawa. Dari sumber berbeda : 1. Adrensi Bawelle
asal kampung Lenganneg yang
juga dikenal sebagai “Oma Ara” dalam
wawancara dengan Alffian Walukow tahun 2004 mengatakan bahwa
dia “Adrensi” adalah pembantu rimah
tangga Keluarga Hari Sutoyo.
Mulai menjadi pembantu
rumah tangga sejak
Hari Sutoyo menjadi
Bupati Kepulauan Sangihe Talaud. Adrensi masih tetap
bersama keluarga Hari
Sutoyo di Surabaya bahkan
setelah Ibu dan Bapak
sudah meninggal, dia masih
tinggal di rumah
di Surabaya. Seterusnya dia
mengakhiri pengabdiannya dan
pulang ke kampung
Lenganeng. Banyak cerita tentang
Hari Sutoyo dari
Adrensi Bawelle. Adrensi tidak menikah
sampai akhir menutup mata.
Major Hari
Sutodjo, yang di kemudian hari mencapai pangkat Letnan Kolonel (Purn),
merupakan sosok militer yang memiliki akar perjuangan kuat di Jawa Timur
sebelum ditugaskan ke wilayah perbatasan utara.
- Akar Perjuangan di Jawa Timur: Sebelum bertugas di Sangir,
beliau adalah pelopor gerakan pembubaran Negara Jawa Timur (negara boneka
bentukan Belanda) dan menjabat sebagai Ketua Ikatan Pemuda Bekas Tawanan.
- Koneksi Veteran: Namanya tercatat dalam
kepengurusan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), yang
menunjukkan bahwa dedikasi beliau terhadap negara berlanjut hingga masa
pensiunnya sebagai perwira menengah TNI.
- Kepemimpinan di Sangihe: Hubungan emosional beliau
dengan wilayah Sangihe tetap terjaga, terbukti dengan adanya alamat
korespondensi atau kantor veteran di Kabupaten Sangihe Sitaro, Jl.
Nustar Apeng Sembeka, yang merupakan wilayah inti tempat beliau pernah
mengabdi sebagai Kepala Daerah.
Letkol TNI
(Purn) Harry Sutoyo. KAB. SANGIHE SITARO Jl. Nustar Apeng Sembeka Rt 01 Link
IV. Sumber: Legiun Vetran RI.
Berdasarkan
dokumen arsip Harian Umum edisi 31 Oktober 1964, profil Major Hari
Sutodjo muncul sebagai sosok militer-birokrat yang menjadi kunci stabilitas
dan modernisasi di Sangir Talaud pada awal dekade 1960-an. Berikut
adalah kajian mendalam mengenai profil, latar belakang, dan kebijakan strategis
beliau:
Latar Belakang Militer dan Perjuangan
Sebelum menjabat sebagai Kepala Daerah (KDH), Major Hari
Sutodjo memiliki rekam jejak sebagai aktivis kemerdekaan dan perwira lapangan:
- Aktivis
Kemerdekaan: Beliau merupakan salah satu pelopor gerakan yang
menuntut pembubaran Negara Jawa Timur bentukan Belanda.
- Organisasi
Pemuda: Dalam pergerakan tersebut, beliau bertindak
sebagai Ketua Ikatan Pemuda Bekas Tawanan.
- Keluarga
Pejuang: Istri beliau, yang dikenal dengan nama Madjinah,
adalah seorang pejuang yang pernah dijatuhi hukuman 15 tahun penjara oleh
pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1948 karena aktivitas
perlawanannya. Beliau
kemudian dibebaskan oleh pemerintah RI pasca-penyerahan kedaulatan.
Karier Politik dan Pengangkatan sebagai KDH
Transisi
beliau dari dunia militer ke pemerintahan daerah terjadi melalui proses yang
tidak terduga:
- Penugasan di Sangir: Beliau awalnya datang ke
Sangir Talaud sebagai komandan militer selama kurang lebih 8 bulan untuk
menangani sisa-sisa kekuatan Permesta yang menyerah.
- Dukungan Rakyat: Ketika hendak ditarik
kembali ke Jawa, muncul resolusi dari organisasi massa dan mahasiswa
Sangir Talaud yang menginginkan beliau tetap tinggal karena dinilai tidak
merugikan masyarakat selama bertugas.
- Penetapan Resmi: Berdasarkan Penetapan
Presiden (Pen Pres) No. 6 dan dukungan radiogram dari Panglima Kodam XIII
Merdeka, Overste Soenardjadi, beliau resmi melakukan timbang terima
jabatan sebagai KDH pada 6 Mei 1960.
Kebijakan
Strategis dan Reformasi Birokrasi
Selama
menjabat sekitar 4,5 tahun (hingga laporan koran dibuat), Major Hari Sutodjo
melakukan beberapa langkah revolusioner:
|
Bidang |
Kebijakan
Utama |
|
Pembersihan
Aparat |
Melakukan pembersihan terhadap aparat yang merugikan
negara tanpa memandang latar belakang golongan ("kiri maupun
kanan"). |
|
Anti-Feodalisme |
Mengambil
alih aset "Sarang Burung" dari milik eksklusif keluarga raja
menjadi milik negara untuk membiayai beasiswa mahasiswa. |
|
Gaya
Kepemimpinan |
Menerapkan
sistem bantuan langsung kepada rakyat untuk memutus rantai birokrasi korup
yang sebelumnya sering terjadi (famili regering). |
|
Modernisasi |
Memprakarsai
pembangunan infrastruktur megah seperti Stadion, Sporthall, dan
menginisiasi pendirian Universitas serta Taman Kanak-Kanak. |
Misi ke
Jawa (Oktober 1964)
Pada saat
artikel tersebut ditulis, Major Hari Sutodjo sedang berada di Surabaya dengan
misi ganda:
- Kesehatan: Menjalani pengobatan medis.
- Pembangunan Pendidikan: Mengurus perlengkapan dan
pembinaan bakat untuk universitas yang baru diresmikan di Sangir Talaud,
serta memperluas jaringan pemasaran produk daerah (Pala) ke Jawa.
Keberhasilan kepemimpinannya dibuktikan dengan mufakat aklamasi dari DPRD-GR pada Juni 1964 yang memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk terus memimpin daerah perbatasan tersebut.
Kepulauan Sangir Talaud pada era 1960-an, yang disusun berdasarkan data dari arsip Harian Umum (Surabaya, Oktober 1964) dengan tambahan kajian historis yang relevan pada masa itu.
Sangir
Talaud: Menilik Kejayaan Daerah Perbatasan Era 1960-an
Pendahuluan:
Sebuah Wilayah Terpencil yang Makmur
Kepulauan
Sangir Talaud, yang terletak di ujung utara Nusantara dan berbatasan langsung
dengan Filipina, secara historis merupakan wilayah yang unik. Meskipun letaknya
terpencil, laporan tahun 1964 mencatat daerah ini sebagai wilayah yang sangat
makmur, bahkan istilah "maling" atau pencuri diklaim tabu karena
tingginya tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Dengan populasi sekitar 200.000
jiwa yang tersebar di kurang lebih 70 pulau, Sangir Talaud berhasil menghapus
buta huruf di saat banyak wilayah lain di Indonesia masih berjuang dengan
pendidikan dasar.
Kepemimpinan
Major Hari Sutodjo dan Stabilitas Politik
Pasca-penyerahan
kedaulatan pada tahun 1949, Sangir Talaud sempat mengalami ketidakstabilan
kepemimpinan yang ekstrem, di mana Kepala Daerah (KDH) berganti sebanyak 15
kali dalam kurun waktu 15 tahun. Hal ini sering kali disebabkan oleh praktik
"famili regering" atau birokrasi yang didasarkan pada hubungan
kekeluargaan yang memicu korupsi.
Perubahan
signifikan terjadi saat Kapten (kemudian Major) Hari Sutodjo menjabat.
Awalnya beliau adalah komandan militer di daerah tersebut selama masa
pergolakan Permesta. Setelah melalui dukungan luas dari organisasi massa dan
mahasiswa asal Sangir Talaud di Jawa, beliau resmi diangkat sebagai KDH pada 6
Mei 1960. Kepemimpinannya menandai era baru transparansi, di mana ia
melakukan pembersihan aparat tanpa memandang golongan dan terjun langsung
memberikan bantuan kepada rakyat.
Sejarah
Stadion dan Gedung Olahraga (Sporthall)
Salah satu
pencapaian yang paling menonjol dalam pembangunan fisik di Sangir Talaud pada
awal 1960-an adalah pembangunan infrastruktur olahraga yang megah.
- Stadion Sangir Talaud: Dibangun sebagai bagian dari
upaya Nation Building (Pembangunan Karakter Bangsa) yang
dicanangkan oleh Presiden Soekarno. Stadion ini dianggap sangat megah
untuk ukuran daerah terpencil dan diproyeksikan untuk mendukung potensi
pariwisata di masa depan.
- GOR TAHUNA
tidak dibangun dari
hasil Pala
Sporthall
(GOR): Sangir
Talaud bahkan sempat mengungguli Surabaya dalam kecepatan pembangunan fasilitas
ini. Saat Surabaya baru mulai membangun Sporthall-nya, Sangir Talaud
sudah memiliki gedung olahraga yang megah. Meski Gedung
Olah Raga di
bangun bersamaan dengan
masa pemerintahannya tetapi
dia tidak mau
memberi nama GOR tersebut
dengan nama GOR
Sutoyo. GOR tersebut kemudian dinamakan
GOR Tahuna. Yang
paling penting Adalah :
Pembangunan GOR Tahuna oleh
Sutoyo, bukan dari
penjualan Pala dan hasil bumi
Sangihe, tetapi dari
pendapatan asli daerah
dan dukungan pemerintah
pusat.
- Prestasi
Olahraga: Infrastruktur ini mendukung prestasi lokal.
Meskipun dalam Pesta Olahraga se-Sulawesi Utara-Tengah (Sul-Yang) cabang
sepak bola menempati posisi kedua, antusiasme masyarakat sangat luar
biasa, dan daerah ini dikenal selalu menjadi juara di bidang olahraga
lainnya.
Rencana
Pembangunan Bandara dan Konektivitas
Menyadari
hambatan geografis, pemerintah daerah di bawah Major Hari Sutodjo merancang
program strategis pada tahun 1961 untuk mempererat persatuan melalui
konektivitas:
- Lapangan Terbang (Bandara): Diungkapkan adanya rencana
pembangunan lapangan terbang untuk memecah keterpencilan wilayah. Meski perintisan Pembangunan Bandara
telah dirintis sejak
masa kekuasaannya tetapi
akhirnya kini Semua
jasanya telah dilupakan dan
Bandara Sangihe dinamakan Bandara Yuda
Tindas.
- Transportasi Laut: Penambahan armada kapal
dilakukan melalui Perusahaan Pelayaran Daerah Sangir (cq Pelni) untuk
menghubungkan pulau-pulau, meskipun pada tahun 1964 kapasitas yang ada (2
kapal 20 ton dan 5 kapal kecil) diakui masih belum mencukupi kebutuhan
masyarakat.
Revolusi Pendidikan: Dari Sekolah Dasar hingga
Universitas
Pendidikan
menjadi pilar utama kemajuan Sangir Talaud. Pada masa kolonial, pendidikan
bersifat elitis dan hanya dinikmati keturunan raja-raja. Namun, pada dekade
1960-an, peta pendidikan berubah drastis:
- Pendidikan Dasar dan Menengah: Hingga tahun 1964, telah
berdiri 250 Sekolah Dasar (SD) dengan gedung sendiri, 3 SMA Negeri,
1 SGA (Sekolah Guru B), 2 SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas), dan 2 SKP
(Sekolah Kepandaian Putri).
- Berdirinya Universitas: Momentum bersejarah terjadi
pada 17 Agustus 1964, di mana sebuah Universitas resmi diresmikan
oleh Pemerintah Pusat di daerah tersebut. Pada awal pendiriannya,
universitas ini memiliki dua fakultas, yaitu Hukum dan Ekonomi,
dengan jumlah mahasiswa perdana sebanyak 250 orang.
- Awal Mula Taman Kanak-Kanak
(TK) di Tahuna:
Dalam laporan tersebut dicatat bahwa sebuah Taman Kanak-Kanak baru
didirikan atas inisiatif Ny. Hari Sutodjo, istri dari Kepala
Daerah. Ini menandai dimulainya pendidikan anak usia dini yang
terorganisir di wilayah pusat pemerintahan tersebut.
Kajian
Ekonomi: Kejayaan Pala dan Nasionalisasi "Sarang Burung"
Kemakmuran
Sangir Talaud didorong oleh kekayaan alam yang dikelola untuk kepentingan
publik:
- Emas Hijau (Pala): Sangir Talaud diakui sebagai
penghasil pala dengan kualitas terbaik di dunia. Pada tahun 1960,
dilakukan penanaman massal sebanyak 1,5 juta batang pohon pala. Produksi
bulanannya mencapai 320 ton pala, 35 ton fuli, dan 2.000 ton kopra.
- Nasionalisasi
Sarang Burung: Untuk mengikis sisa-sisa feodalisme, Major Hari
Sutodjo mengambil alih pengelolaan Sarang Burung dari kepemilikan keluarga
raja (famili) menjadi milik Negara. Hasil dari usaha ini dialokasikan
untuk beasiswa bagi sekitar 100 mahasiswa Sangir yang belajar di kota-kota
besar seperti Surabaya, Malang, dan Jakarta.
Catatan
dari tahun 1964 ini menunjukkan bahwa Sangir Talaud bukan sekadar daerah
pinggiran, melainkan simbol keberhasilan pembangunan daerah di awal masa
kemerdekaan Indonesia. Melalui kepemimpinan yang kuat, pengelolaan sumber daya
alam yang mandiri, dan prioritas tinggi pada pendidikan dan infrastruktur
olahraga, wilayah ini berhasil membuktikan bahwa keterpencilan geografis
bukanlah penghalang bagi kemakmuran dan peradaban yang maju.
Sumber
:
1. Harian
Umum. " Surabaya : Sabtu
Legi, 31 Oktober 1964." Diterbitkan oleh Badan Penerbit "HARIAN
UMUM" P.T.
2. Walukow,
A. (2025). 600 Tahun Sangihe. Penerbit
Grandia Publisher, Jogyakarta



