BAHANDIANG: BALAI RITUAL, ADU AYAM, DAN KOMUNIKASI DENGAN ROH GUNUNG BERAPI DALAM KEBUDAYAAN SANGIHE.
MENGENAL BAHANDIANG DAN BAHĔMBENG: EKSPLORASI TRADISI
RITUAL DAN NILAI GOTONG ROYONG SUKU SANGIR
Oleh ;
Alffian W.P. Walukow
Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan
cerminan dari peradaban, sistem kepercayaan, dan nilai sosial masyarakat
penuturnya. Dalam naskah kamus kuno bahasa Sangir (Sangihe) yang berpenjelasan
bahasa Belanda, terdapat dua kata yang sangat menarik untuk dikaji, yaitu bahandiang
dan bahĕmbeng. Kedua kata ini membuka jendela masa lalu mengenai
kehidupan spiritual dan sosial masyarakat di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
BAHANDIANG: BALAI RITUAL, ADU AYAM, DAN KOMUNIKASI DENGAN
ROH GUNUNG BERAPI DALAM KEBUDAYAAN
SANGIHE.
Bahandiang (atau dikenal juga sebagai sasendengang
dalam dialek Sangir Besar), membawa kita pada atmosfer ritual keagamaan kuno
yang magis di Pulau Siau. Bahandiang merupakan sebuah tempat khusus berbentuk
balai-balai atau dipan ritual.
Balai ini memegang peranan sentral dalam upacara besar yang
disebut pananĕmba ghĕguwạ (pesta adat persembahan besar) serta ritual mĕliun
taung yang diselenggarakan setelah masa panen usai. Pusat dari ritual ini
adalah memberikan persembahan kepada roh-roh penguasa gunung berapi—sebuah
refleksi geografis yang sangat kuat, mengingat Siau adalah rumah dari salah
satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, Gunung Karangetang.
Tata Cara Ritual Bahandiang
Ritual yang berpusat di daerah Moadĕ ini memiliki struktur
yang sangat ketat dan hierarkis:
- Strata
Sosial di Atas Balai: Tidak sembarang orang bisa menaiki bahandiang.
Hanya para ampuang dan baliang (pendeta suku atau dukun
perempuan) dari kalangan bangsawan yang memegang gelar tuhasĕ
(pemimpin adat/orang kuat) yang diizinkan menempatinya. Sementara itu,
masyarakat biasa berada di tanah sekitar balai-balai, mengiringi upacara
dengan membawakan tarian-tarian adat.
- Prosesi
Pengangkatan: Balai-balai bahandiang kemudian diangkat di atas bahu
beramai-ramai oleh masyarakat. Prosesi menaikkan dan menurunkan balai ini
selalu diiringi oleh dentuman keras dari tembakan meriam kuno yang disebut
lantaka.
- Adu
Ayam Ramalan (Divinasi): Bagian paling krusial dari ritual ini adalah
ketika dua orang ampuang wanita menaruh dua ekor ayam jantan—satu
berwarna putih dan satu berwarna merah—di atas bahandiang untuk diadu.
Pertarungan kedua ayam ini bukanlah hiburan sabung ayam biasa, melainkan
sebuah metode divinasi (peramalan). Hasil dari pertarungan tersebut digunakan
untuk menentukan keputusan adat yang besar: apakah pada tahun depan mereka
akan melaksanakan pesta adat serupa, atau harus melewatkannya selama satu
hingga beberapa tahun ke depan.
2. Bahĕmbeng: Manifestasi Gotong Royong, Ketulusan
Sosial, dan Identitas Geografis
Jika bahandiang mencerminkan hubungan vertikal antara
manusia dengan penguasa alam gaib, maka bahĕmbeng (atau dalam toponimi
lokal juga kerap dilafalkan sebagai Bahembang), mencerminkan hubungan
horizontal antar sesama manusia serta keterikatan kuat dengan alam sekitar.
Kata ini sarat dengan nilai-nilai komunal yang menjadi fondasi kehidupan
masyarakat kepulauan.
Dari kata dasar bahĕmbeng,
terbentuk beberapa variasi kata yang mendefinisikan tindakan menolong secara
mendalam:
- Mamahĕmbeng:
Berarti membantu, menyokong, atau menolong. Uniknya, kamus mencatat bahwa
tindakan ini tetap dianggap sebagai bentuk bantuan meskipun dilakukan dari
kejauhan atau hanya berupa pemberian nasihat dan saran. Ini menunjukkan
bahwa dalam budaya Sangir, kontribusi pemikiran dan perhatian moral
memiliki nilai yang sama tingginya dengan bantuan fisik.
- Bahĕmbengang: Menunjukkan kondisi atau keadaan
saat seseorang menerima bantuan (dibantu/ditolong).
- Bawahĕmbeng: Berarti sarana, alat, atau jalan yang
digunakan sebagai media untuk memberikan pertolongan kepada orang lain.
Jejak
Bahembang dalam Geografi dan Botani Sangihe
Selain bermakna
filosofis dalam tindakan sosial, kata ini juga mewujud dalam identitas wilayah
dan kekayaan alam Kepulauan Sangihe:
- Nama Desa di Tabukan Utara: Bahembang diabadikan sebagai nama
salah satu perdusunan di Kecamatan Tabukan Utara. Pada awal
pendiriannya, aktivitas pemukiman ini berpusat di sebuah lokasi yang
bernama "Kekumbanang". Nama ini berakar dari kata Kumbanang,
sebuah istilah lokal yang memiliki pengertian yang hampir sama dengan Kuse,
yaitu sejenis hewan endemik kus-kus kecil
Sangihe atau binatang yang dikelompokkan ke dalam kerabat kuse.
- Pohon
Endemik Pesisir: Istilah Bahembang juga merujuk pada nama salah satu
jenis pohon endemik khas Sangihe. Pohon ini memiliki habitat alami dan
banyak tumbuh subur di kawasan pesisir pantai wilayah Tabukan Raya.
Kesimpulan: Keseimbangan Hidup Masyarakat Sangir
Penggabungan makna dari bahandiang dan bahĕmbeng
memperlihatkan sebuah potret utuh mengenai filosofi hidup suku Sangir pada masa
lampau. Melalui tradisi bahandiang,
mereka berupaya menjaga harmoni dengan alam dan kekuatan supranatural yang
mengelilingi ruang hidup mereka. Mereka menyadari kecilnya manusia di hadapan
kekuatan alam (seperti gunung berapi), sehingga petunjuk spiritual sangat
diperlukan untuk melangkah ke masa depan.
Di sisi lain, ketidakpastian alam tersebut dihadapi bersama
di dunia nyata melalui semangat bahĕmbeng. Baik mewujud dalam tindakan saling
menyokong antarwarga, maupun terekam dalam toponimi desa dan vegetasi khas
pesisir seperti pohon Bahembang, nilai-nilai ini senantiasa menjaga komunitas
suku Sangir agar tetap kokoh berdiri di tengah tantangan kehidupan kepulauan.
