Bombaran Makaminan Tokoh Nasionalis dan Cendekiawan Islam Sangihe dan Kebangkitan Islam Tabukan
Bombaran Makaminan Tokoh Nasionalis dan Cendekiawan Islam Sangihe dan Kebangkitan Islam Tabukan
Dalam sejarah sosial dan keagamaan Kerajaan Tabukan pada awal abad ke-20, muncul sebuah fase penting yang menandai kebangkitan kesadaran politik dan pendidikan umat Islam. Tokoh yang tampil di garis depan gerakan tersebut adalah Bombaran Makaminan (Mengkaminan), seorang pemimpin masyarakat Muslim Petta yang dikenal aktif memperjuangkan hak-hak pendidikan dan kepentingan sipil komunitas Islam di Tabukan. Kehadirannya menandai lahirnya generasi baru Muslim Sangihe yang mulai membangun organisasi, memperjuangkan pendidikan, serta menjalin hubungan dengan jaringan Islam yang lebih luas di Nusantara.
Ketegangan Soal Pendidikan di Kampung-Kampung Muslim
Ketika Dr. Hendrik Kraemer melakukan kunjungan penelitian ke Kerajaan Tabukan, salah satu persoalan utama yang segera disampaikan oleh Raja Tabukan adalah tuntutan masyarakat Muslim mengenai pendidikan.
Menurut laporan raja, telah berkembang gerakan yang cukup kuat di kalangan umat Islam yang menghendaki agar sekolah-sekolah zending (misi Kristen) yang berada di kampung-kampung Muslim diubah menjadi sekolah pemerintah yang bersifat netral. Masyarakat Muslim merasa keberatan apabila anak-anak mereka harus menempuh pendidikan di lembaga yang dikelola oleh misi Kristen.
Pada saat yang sama, mulai tumbuh kesadaran keagamaan baru di kalangan umat Islam Tabukan. Mereka mengumpulkan dana untuk mendirikan sekolah Islam sendiri dan bahkan telah mencoba menjalin hubungan dengan organisasi Muhammadiyah di Jawa guna memperoleh bantuan pendidikan, walaupun upaya tersebut belum membuahkan hasil yang nyata.
Pertemuan di Masjid Petta dan Munculnya Bombaran Makaminan
Untuk memahami situasi secara langsung, Kraemer mengunjungi Masjid Petta dan bertemu dengan para tokoh Muslim setempat. Dalam pertemuan tersebut, juru bicara masyarakat Islam adalah Bombaran Makaminan, seorang aktivis yang telah dikenal luas melalui berbagai tulisan dan laporan di media berbahasa Melayu.
Dalam forum resmi itu, Makaminan menyampaikan bahwa para perwakilan kampung-kampung Muslim telah mengadakan rapat besar pada malam sebelumnya. Dari pertemuan tersebut lahirlah sebuah mosi resmi yang dikirimkan kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia.
Isi pokok mosi tersebut adalah:
Memohon agar sekolah-sekolah misionaris yang berada di wilayah Muslim diubah menjadi sekolah pemerintah yang netral.
Menjamin hak pendidikan anak-anak Muslim tanpa tekanan keagamaan.
Meminta pemerintah memberikan perhatian yang adil terhadap kebutuhan pendidikan umat Islam.
Makaminan dan para tokoh Muslim berharap agar hasil penyelidikan Kraemer dapat menjadi saluran penyampaian aspirasi mereka kepada pemerintah pusat.
Memori Kolektif tentang Pengusiran Umat Islam
Di tengah pembahasan mengenai pendidikan, muncul pula kisah lama mengenai pengusiran umat Islam dari Tabukan pada dekade 1890-an.
Menurut versi yang beredar saat itu, keluarga-keluarga Muslim pernah mengalami diskriminasi karena anak-anak mereka tidak diterima bersekolah kecuali bersedia dibaptis menjadi Kristen. Mereka yang menolak disebut-sebut mengalami pengusiran dari wilayah Tabukan.
Peristiwa tersebut menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Muslim dan sering diangkat kembali sebagai simbol ketidakadilan masa lampau.
Hasil Investigasi: Fakta Sejarah yang Berbeda
Namun setelah melakukan penyelidikan lebih mendalam kepada berbagai sumber, baik dari kalangan Muslim maupun Kristen, Kraemer menemukan gambaran yang berbeda.
Menurut hasil investigasinya, akar persoalan pengusiran pada tahun 1890-an bukan berasal dari pihak zending, melainkan berkaitan dengan kebijakan Raja Tabukan saat itu, yaitu:
Cornelis Sirih Darea
Darea, yang sebelumnya menjabat sebagai jogugu (setingkat perdana menteri kerajaan), terlibat dalam konflik agraria dengan sejumlah warga Muslim. Dalam perselisihan tersebut ia memanfaatkan ketentuan lama warisan kontrak VOC yang melarang keberadaan "orang Moor" atau Muslim di wilayah Tabukan.
Ketentuan kolonial yang diskriminatif tersebut kemudian dijadikan dasar untuk menekan dan mengusir kelompok-kelompok Muslim yang dianggap sebagai lawan politik.
Karena itu, Kraemer menyimpulkan bahwa tragedi tersebut lebih merupakan konflik kekuasaan dan sengketa tanah yang dibungkus dengan sentimen keagamaan daripada tindakan yang digerakkan oleh lembaga misi.
Potret Islam di Tabukan dan Sangihe
Pada masa penelitian Kraemer, jumlah penduduk Kerajaan Tabukan diperkirakan sekitar 35.000 jiwa, dengan komunitas Muslim mencapai lebih dari 7.000 orang. Jumlah ini menjadikan Tabukan sebagai pusat utama Islam di Kepulauan Sangihe.
Islam masuk ke wilayah ini melalui dua jalur utama:
Dari Mindanao di bagian utara.
Dari Ternate di bagian selatan.
Walaupun jumlah umat Islam cukup besar, Kraemer mencatat bahwa sebagian besar masyarakat Muslim pedalaman masih memiliki pemahaman keagamaan yang terbatas. Praktik adat lokal masih sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari, bahkan dalam urusan perkawinan, perceraian, dan ritual keagamaan.
Di wilayah Bukide bahkan terdapat kelompok yang dikenal sebagai Orang Islam Hadat, yakni komunitas yang memadukan unsur-unsur Islam dengan tradisi lokal Sangihe.
Lahirnya Gerakan Kaum Muda
Perubahan besar mulai terlihat di Petta. Di kawasan pelabuhan ini muncul kelompok generasi muda Muslim yang lebih terdidik dan memiliki hubungan dengan dunia luar.
Mereka menamakan diri Kaoem Moedao (Kaum Muda).
Kelompok ini aktif membaca surat kabar Islam dari Jawa dan Sumatra serta menjalin hubungan dengan berbagai organisasi pergerakan Islam di Nusantara.
Agenda utama mereka meliputi:
1. Reformasi Pendidikan Islam
Mereka berusaha meningkatkan kualitas pendidikan umat Islam dan mendorong pemahaman agama yang lebih mendalam.
Untuk tujuan tersebut mereka merintis pendirian sekolah Islam modern bernama:
Madrasat al-Islamiyyah
Sekolah ini dirancang sebagai sarana pendidikan agama sekaligus pendidikan umum bagi generasi muda Muslim Tabukan.
2. Perjuangan Hak-Hak Sipil
Kaum Muda juga mendirikan organisasi:
Tanwir al-Watan
(Pencerahan Tanah Air)
Organisasi ini berfungsi sebagai wadah perjuangan politik dan sosial umat Islam dalam menghadapi pemerintah kolonial serta memperjuangkan hak-hak masyarakat Muslim secara damai dan terorganisasi.
Harmoni Islam dan Kristen di Sangihe
Terlepas dari berbagai perdebatan politik mengenai sekolah dan sejarah masa lalu, hubungan sosial antara umat Islam dan Kristen di Sangihe secara umum berlangsung harmonis.
Masyarakat hidup dalam jaringan kekerabatan adat yang kuat. Warga Muslim dan Kristen saling menghadiri pesta adat, membantu dalam kegiatan kemasyarakatan, dan menjaga hubungan sosial yang erat.
Kraemer bahkan mencatat bahwa dalam berbagai perayaan besar, warga Muslim kerap memberikan dukungan dan partisipasi kepada komunitas Kristen, sementara hubungan antarkeluarga lintas agama merupakan hal yang lazim dalam kehidupan masyarakat Sangihe.
Kesimpulan
Kemunculan Bombaran Makaminan menandai babak penting dalam sejarah Islam Tabukan. Ia menjadi simbol kebangkitan kesadaran baru umat Islam yang tidak lagi hanya berorientasi pada kehidupan keagamaan tradisional, tetapi juga mulai memperjuangkan pendidikan, organisasi sosial, dan hak-hak sipil secara modern.
Gerakan yang dipimpinnya menunjukkan bahwa pada dekade 1920–1930-an telah lahir suatu transformasi di kalangan umat Islam Tabukan: dari komunitas yang sebelumnya tersebar dan kurang terorganisasi menuju masyarakat yang mulai membangun lembaga pendidikan, organisasi politik, serta jaringan intelektual yang terhubung dengan arus pembaruan Islam di Nusantara.
Dengan demikian, sejarah Bombaran Makaminan bukan sekadar kisah seorang tokoh lokal, melainkan bagian dari proses panjang kebangkitan Islam Tabukan yang kelak memberi warna penting dalam perkembangan sosial, pendidikan, dan politik masyarakat Muslim di Kepulauan Sangihe.
Sumber Utama:
Hendrik Kraemer, Verslagen van reizen door Ned. IndiĆ« in de jaren 1926–1930 (sekitar 1930).
