DR. NICOLAUS ADRIANI: PAKAR BAHASA SANGIR DAN PERAIH GELAR DOKTOR DENGAN DISERTASI “TATA BAHASA SANGIR”

 

DR. NICOLAUS ADRIANI: PAKAR BAHASA SANGIR DAN PERAIH GELAR DOKTOR DENGAN DISERTASI “TATA BAHASA SANGIR”

Oleh  :  Alffian  Walukow



 

Di akhir abad ke-19, Pulau Sulawesi masih dianggap sebagai wilayah yang penuh misteri oleh banyak ilmuwan Eropa. Pulau ini memiliki ratusan bahasa daerah, tradisi lisan, dan kebudayaan yang sangat beragam. Di tengah situasi itu, hadir seorang ilmuwan Belanda bernama Dr. Nicolaus Adriani yang kemudian dikenal sebagai salah satu pelopor besar penelitian bahasa-bahasa Nusantara.

Nama Adriani sangat penting dalam sejarah linguistik Indonesia Timur karena ia merupakan salah satu ilmuwan pertama yang meneliti bahasa daerah Sulawesi secara sistematis. Dari sekian banyak bahasa yang ia pelajari di Pulau Sulawesi, Adriani akhirnya memilih bahasa Sangir atau bahasa Sangihe sebagai kajian utama disertasi doktoralnya.

Keputusan tersebut menjadikan bahasa Sangihe dikenal dalam dunia akademik internasional melalui karya ilmiah berjudul Sangireesche Spraakkunst atau “Tata Bahasa Sangir”.

 

Masa Muda dan Pendidikan Nicolaus Adriani

Nicolaus Adriani lahir pada 15 September 1865 di Oud-Loosdrecht, Belanda. Ia berasal dari keluarga religius dan intelektual. Sejak muda Adriani tertarik pada:

  • bahasa;
  • kebudayaan;
  • teologi;
  • dan masyarakat Timur.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden, salah satu pusat studi bahasa dan budaya Timur terbesar di Eropa pada masa itu. Di kampus inilah Adriani mulai mendalami bahasa-bahasa Nusantara dan linguistik Austronesia.

Berbeda dengan sebagian ilmuwan kolonial pada zamannya, Adriani memiliki ketertarikan mendalam terhadap kehidupan masyarakat lokal. Ia percaya bahwa untuk memahami suatu bangsa, seseorang harus memahami bahasa mereka terlebih dahulu.

 

Berkeliling Sulawesi dan Menemukan Bahasa Sangir

Sebelum menentukan fokus penelitian doktoralnya, Adriani mempelajari berbagai bahasa daerah di Pulau Sulawesi. Ia mengamati keragaman bahasa di:

  • Minahasa;
  • Gorontalo;
  • Bolaang Mongondow;
  • wilayah Sangir-Talaud;
  • hingga Sulawesi Tengah.

Dalam penelitiannya, Adriani menemukan bahwa setiap daerah memiliki kekayaan bahasa yang unik. Namun dari seluruh bahasa yang dipelajarinya, bahasa Sangir dianggap paling menarik secara ilmiah.

Menurut Adriani, bahasa Sangir memiliki:

  • tata bahasa yang kompleks;
  • sistem bunyi yang khas;
  • kosakata yang kaya;
  • serta hubungan linguistik yang erat dengan bahasa-bahasa Filipina Selatan.

Ketertarikannya terhadap bahasa Sangir semakin besar setelah ia mempelajari sastra lisan dan percakapan masyarakat Sangihe. Ia melihat bahwa bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga penyimpan sejarah dan identitas budaya masyarakat kepulauan.

Karena itulah Adriani akhirnya memutuskan menjadikan bahasa Sangir sebagai penelitian ilmiah tingkat doktor.

 

Meraih Gelar Doktor dengan Disertasi “Tata Bahasa Sangir”

Pada tanggal 1 Juni 1893, Nicolaus Adriani resmi memperoleh gelar doktor di Rijks-Universiteit te Leiden atau Universitas Leiden, Belanda.

Disertasi doktoralnya berjudul:

Sangireesche Spraakkunst

(“Tata Bahasa Sangir”)

Karya ini menjadi salah satu penelitian akademik pertama di dunia yang membahas bahasa Sangir secara sistematis dan ilmiah.

Dalam disertasinya, Adriani meneliti:

  • struktur tata bahasa;
  • fonologi;
  • bentuk kata;
  • sistem kalimat;
  • dan contoh percakapan bahasa Sangir.

Melalui penelitian itu, Adriani membuktikan bahwa bahasa daerah Nusantara memiliki sistem linguistik yang rumit dan layak dipelajari di universitas besar Eropa.

Disertasi tersebut kemudian menjadi dasar penting dalam perkembangan:

  • linguistik Austronesia;
  • penelitian bahasa Sulawesi Utara;
  • serta studi akademik tentang masyarakat Sangihe.

 

Menyelamatkan Cerita Rakyat dan Sastra Sangihe

Selain menyusun tata bahasa, Adriani juga mengumpulkan:

  • cerita rakyat;
  • dialog masyarakat;
  • ungkapan adat;
  • dan sastra lisan Sangihe.

Kumpulan itu diterbitkan dalam karya berjudul:

Sangireesche Teksten

Dokumentasi tersebut sangat penting karena menjadi rekaman budaya Sangihe abad ke-19 yang masih dipelajari hingga sekarang.

Banyak data tentang bahasa dan budaya Sangihe lama diketahui melalui catatan Adriani.

 

Dari Sangihe ke Sulawesi Tengah

Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Adriani datang ke Hindia Belanda dan kemudian bekerja di Sulawesi Tengah bersama misionaris Albert C. Kruyt.

Di wilayah Poso dan Tanah Pamona, ia melakukan penelitian bahasa dan budaya secara mendalam. Ia menyusun:

  • kamus bahasa daerah;
  • tata bahasa;
  • teks cerita rakyat;
  • serta menerjemahkan bagian Alkitab ke bahasa lokal.

Walaupun kemudian lebih dikenal karena pekerjaannya di Sulawesi Tengah, kontribusi Adriani terhadap bahasa Sangir tetap dianggap sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah linguistik Sulawesi.

 

Akhir Hidup Nicolaus Adriani

Dr. Nicolaus Adriani menghabiskan sebagian besar hidupnya di Sulawesi. Ia terus melakukan penelitian bahasa dan budaya hingga akhir hayatnya.

Adriani meninggal di Poso, Sulawesi Tengah, pada tahun 1926 ketika masih aktif bekerja dalam penelitian dan pelayanan zending. Setelah wafat, ia dimakamkan di wilayah Poso, daerah yang menjadi pusat pengabdiannya selama bertahun-tahun.

Tahun  kematiannya  di  Poso mengalami  ketidak  pastian   karena  Adriani  masih  berkunjung  di  Sangihe  pada  Tahun 1927.  Dalam  catatannya  : "Laporan-Laporan Perjalanan Melalui Hindia Belanda pada Tahun 1926-1930" (Terbitan sekitar tahun 1930)

LAPORAN DR. N. ADRIANI, MENGENAI PERJALANANNYA KE KEPULAUAN SANGIHE DAN TALAUD, Tanggal 28 November – 16 Desember 1927

Di Sulawesi Tengah dan wilayah Tentena, nama Adriani masih dikenang sebagai:

  • ahli bahasa;
  • peneliti budaya;
  • penerjemah;
  • dan tokoh pendidikan.

 

Warisan Intelektual Nicolaus Adriani

Warisan terbesar Nicolaus Adriani adalah keberhasilannya memperkenalkan bahasa-bahasa Nusantara ke dunia akademik internasional.

Melalui disertasinya tentang bahasa Sangir, Adriani:

  • membuka jalan bagi penelitian linguistik Sulawesi;
  • mendokumentasikan bahasa daerah yang sebelumnya hidup secara lisan;
  • menyelamatkan banyak cerita rakyat dari kepunahan;
  • dan menunjukkan bahwa bahasa daerah Nusantara memiliki nilai ilmiah yang tinggi.

Hingga sekarang karya-karyanya masih dipakai oleh:

  • ahli linguistik;
  • budayawan Sangihe;
  • antropolog;
  • sejarawan;
  • dan peneliti bahasa Austronesia.

Meski demikian, sejarah juga mencatat bahwa Adriani bekerja dalam konteks kolonial Belanda dan gerakan zending Protestan. Karena itu, sebagian akademisi modern memandang karyanya secara kritis.

Namun di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa Adriani termasuk ilmuwan awal yang serius menghargai bahasa dan budaya lokal Nusantara.

Dan dari seluruh bahasa yang pernah ia pelajari di Pulau Sulawesi, bahasa Sangirlah yang akhirnya dipilihnya sebagai karya ilmiah doktoral yang membuat namanya dikenang hingga hari ini.

 

Daftar Pustaka

  1. Adriani, Nicolaus. Sangireesche Spraakkunst. Leiden: E.J. Brill, 1893.
  2. Adriani, Nicolaus. Sangireesche Teksten. Leiden: E.J. Brill, 1894.
  3. Adriani, Nicolaus & Kruyt, Albert C. De Bare’e-sprekende Toradja’s van Midden-Celebes. Batavia: Landsdrukkerij, 1912–1914.
  4. Ensiklopedi Oosthoek. “Adriani, Nicolaas.” Belanda.
  5. Glottolog. “Reference on Sangirese Grammar by Nicolaus Adriani.”
  6. Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen (KNAW). Levensbericht Nicolaus Adriani.
  7. Kruyt, Albert C. Het Animisme in den Indischen Archipel. Den Haag.
  8. Noorduyn, J. “Studies on Sulawesi Languages and Culture.” Leiden University.
  9. Sejarah SABDA. “Biografi Nicolaus Adriani dan Pelayanan di Sulawesi.”
  10. Wikipedia. “Nicolaus Adriani.” dan “Albert Christian Kruyt.”

 

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja