Ĕllang Sangiang, wanita pemberani dari kampung Tariang Lama.

 

KAJIAN LINGUISTIK DAN HISTORIS TENTANG NARASI ĔLLANG SANGIANG

DALAM TRADISI LISAN KAMPUNG TARIANG LAMA

Oleh :  Alffian  Walukow



Tradisi lisan masyarakat Sangihe merupakan bagian penting dari warisan budaya yang memuat sejarah lokal, identitas etnis, serta sistem pengetahuan masyarakat kepulauan. Salah satu narasi yang masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Kampung Tariang Lama adalah kisah seorang perempuan pemberani bernama Ĕllang Sangiang. Tokoh ini dikenal dalam cerita rakyat sebagai pelindung pemukiman Matane dari serangan bajak laut Mindanao pada masa lampau.

Dalam perkembangan modern, muncul perubahan penyebutan nama tokoh tersebut dari “Ĕllang Sangiang” menjadi “Olang Sangiang”. Perubahan ini menimbulkan persoalan linguistik dan historis karena diduga tidak sesuai dengan struktur leksikal Bahasa Sangir serta tidak didukung oleh makna etimologis yang tepat. Oleh sebab itu, tulisan ini bertujuan melakukan pelurusan narasi melalui pendekatan linguistik historis, semantik, dan kajian tradisi lisan.

 

Latar Historis Kampung Tariang

Kampung Tariang berakar dari sebuah perdusunan tua bernama Matane, sebuah pemukiman kecil yang berada di sekitar Tanjung Salimahẹ̆ dan kawasan Saban atau Sawang. Menurut catatan sejarah kolonial Belanda, penduduk awal Matane berasal dari Kendahe yang mengungsi akibat letusan Gunung Awu.

Keterangan mengenai Matane tercatat dalam karya François Valentijn berjudul Oud en Nieuw Oost-Indien (1724), yang dalam terjemahan Indonesia dikenal sebagai Hindia Timur Lama dan Baru. Valentijn menjelaskan bahwa pada tahun 1682 kawasan tersebut masih berupa dusun kecil dengan sekitar sepuluh hingga dua belas keluarga. Namun, pada tahun 1705 jumlah penduduk meningkat hingga sekitar 550 jiwa dengan 150 laki-laki dewasa yang sehat jasmani.

Dalam catatan tersebut dijelaskan pula bahwa Matane memiliki lingkungan yang subur dengan dua cabang sungai dari Gunung Saban (gunung  Sawang) dan ratusan pohon kelapa yang menjadikan kawasan itu nyaman untuk dihuni. Akan tetapi, aktivitas vulkanik Gunung Awu menyebabkan gelombang pengungsian besar pada beberapa periode, terutama setelah letusan tahun 1711, 1856, dan 1892.

Arus perpindahan penduduk dari Matane menuju wilayah Bahu, Tabukan, hingga Peta menunjukkan adanya migrasi besar masyarakat pesisir barat Pulau Sangihe menuju bagian timur dan selatan pulau. Dalam proses tersebut kemudian lahir pemukiman baru yang dikenal sebagai Tariang Baru.

Catatan mengenai Tariang Baru juga ditemukan dalam Mededeelingen van het Bureau voor de Bestuurszaken der Buitenbezittingen (1912), yang menyebutkan bahwa kampung tersebut telah ada sebelum letusan besar tahun 1892 dan dibangun kembali setelah kerusakan akibat erupsi Gunung Awu.

 

Tradisi Lisan tentang Ĕllang Sangiang

Dalam tradisi tutur masyarakat Tariang, dikenal seorang tokoh perempuan pemberani bernama Ĕllang Sangiang. Ia digambarkan tinggal di sebuah bukit dekat Matane dan memiliki kemampuan luar biasa untuk melindungi masyarakat dari serangan bajak laut Mindanao.

Cerita yang paling sering diwariskan menyebutkan bahwa setiap kali perahu bajak laut memasuki pantai Matane, Ĕllang Sangiang akan melompat dari bukit menuju pantai dan menyerang para perompak menggunakan senjata pusaka berupa pedang “Barạ” yang terbuat dari tulang ikan laut.

Tokoh ini tidak hanya dipahami sebagai manusia biasa, melainkan sebagai figur semi-mitologis yang memiliki kekuatan supranatural. Setelah meninggal dunia, masyarakat meyakini bahwa jasadnya dimakamkan di sekitar pemukiman tua Tariang Lama. Namun, berdasarkan rekonstruksi sejarah letusan Gunung Awu, kemungkinan besar makam asli telah hilang akibat bencana vulkanik, sehingga lokasi yang kini dikenal masyarakat hanyalah batu peringatan simbolis.

 

Analisis Linguistik Nama “Ĕllang Sangiang”

1. Makna Leksikal “Ĕllang”

Dalam kamus Bahasa Sangir, kata Ĕllang memiliki makna:

  • budak,
  • pelayan,
  • seseorang yang diperbudak.

Dalam variasi Sasahara dikenal istilah dadolorang, sedangkan bentuk verbalnya antara lain:

  • mangěllang = memperbudak,
  • mětahuěllang = memperlakukan seseorang sebagai budak.

Dalam dialek Siau dikenal pula bentuk:

  • manahuěllang,
  • ipětahuěllang.

Secara linguistik, kata Ĕllang memiliki akar morfologis yang jelas dalam sistem bahasa Sangir dan memiliki kesinambungan makna dalam beberapa dialek lokal.

 

2. Makna Leksikal “Sangiang”

Kata Sangiang dalam Bahasa Sangir berarti:

  • putri bangsawan,
  • anak perempuan dari seorang pangeran dan permaisuri,
  • bidadari surgawi.

Dalam Sasahara dikenal istilah Oļoriwų atau riwu. Dalam puisi tradisional, bentuk ini sering disingkat menjadi ngiang. Nama-nama seperti Sinangiang menunjukkan makna “dijadikan seorang putri”.

Dengan demikian, unsur “Sangiang” memiliki konotasi kemuliaan, kesucian, dan status sosial tinggi dalam budaya Sangihe.

 

Kajian Etimologi terhadap Kata “Ela”

Sebagian pemerhati budaya Tariang menjelaskan bahwa kata “Ĕllang” berakar dari kata Ela, yang berarti tahi lalat besar pada tubuh perempuan. Dalam kamus Bahasa Sangir ditemukan bentuk:

  • ela wulang = tahi lalat putih,
  • ela putung = tahi lalat merah,
  • ela mitung = tahi lalat hitam.

Dalam beberapa konteks budaya lokal, penamaan berdasarkan ciri fisik merupakan hal umum dalam masyarakat tradisional. Oleh sebab itu, kemungkinan bahwa tokoh Ĕllang Sangiang memperoleh nama berdasarkan ciri tubuh tertentu cukup masuk akal secara antropologis maupun linguistik.

 

Kritik Linguistik terhadap Bentuk “Olang Sangiang”

Perubahan nama dari “Ĕllang Sangiang” menjadi “Olang Sangiang” menimbulkan persoalan semantik karena kata Olang dalam Bahasa Sangir memiliki arti:

  • niat,
  • rencana,
  • kehendak untuk melakukan sesuatu.

Bentuk turunannya antara lain:

  • moļang = merencanakan,
  • simoļang = sesuatu yang direncanakan.

Secara linguistik tidak ditemukan hubungan semantik antara kata “Olang” dengan gelar “Sangiang”. Dengan demikian, frasa “Olang Sangiang” tidak memiliki konstruksi makna yang jelas dalam sistem leksikal Bahasa Sangir.

Hal ini memperlihatkan bahwa perubahan tersebut kemungkinan besar lahir akibat kesalahan transmisi lisan, lemahnya literasi bahasa daerah, atau reinterpretasi modern yang tidak berbasis pada sumber linguistik asli.

 

Tradisi Lisan dan Distorsi Sejarah

Dalam kajian folklor, perubahan bunyi, nama, maupun struktur cerita merupakan gejala umum dalam transmisi tradisi lisan. Akan tetapi, apabila perubahan tersebut menghilangkan makna asli suatu istilah budaya, maka dapat terjadi distorsi sejarah dan identitas kolektif masyarakat.

Kasus perubahan “Ĕllang” menjadi “Olang” menunjukkan bagaimana lemahnya dokumentasi bahasa daerah dapat memengaruhi pelestarian sejarah lokal. Oleh karena itu, pelurusan istilah menjadi penting agar narasi budaya tetap sesuai dengan sumber linguistik dan tradisi asli masyarakat Sangihe.

 

Kesimpulan

Kajian linguistik terhadap nama Ĕllang Sangiang menunjukkan bahwa istilah tersebut memiliki dasar leksikal dan semantik yang kuat dalam Bahasa Sangir. Kata “Ĕllang” dan “Sangiang” sama-sama ditemukan dalam kamus bahasa daerah serta memiliki hubungan makna yang logis dalam konteks budaya lokal.

Sebaliknya, bentuk “Olang Sangiang” tidak memiliki landasan etimologis maupun semantik yang jelas. Oleh sebab itu, penggunaan istilah tersebut berpotensi mengaburkan narasi asli tradisi lisan Tariang.

Tokoh Ĕllang Sangiang bukan sekadar figur legenda, tetapi juga simbol keberanian perempuan dalam memori kolektif masyarakat Sangihe. Pelestarian nama dan cerita aslinya menjadi bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya dan sejarah lokal masyarakat Kepulauan Sangihe.

 

Daftar Pustaka

  • Matantu, Sutarji & Walukow, Alffian. Sejarah Kampung Tariang Baru. Cirebon: Louvrinz Publishing, 2025.
  • Valentijn, François. Oud en Nieuw Oost-Indien. Dordrecht-Amsterdam, 1724.
  • Mededeelingen van het Bureau voor de Bestuurszaken der Buitenbezittingen. Batavia: Encyclopaedisch Bureau, 1912.
  • Adriani, Nicolaus & Kruyt, Albert C. Sangireesch-Nederlandsch Woordenboek. Leiden: E.J. Brill.
  • Danandjaja, James. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain. Jakarta: Grafiti Press, 1991.
  • Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
  • Ong, Walter J. Orality and Literacy: The Technologizing of the Word. London: Routledge, 1982.



ĔLLANG  SANGIANG

Pada zaman ketika Gunung Awu masih sering mengaum dan lautan Sangihe dipenuhi kapal-kapal perompak dari selatan Filipina, berdirilah sebuah perdusunan kecil bernama Matane di dekat pesisir Tariang Lama. Di tempat itu hidup seorang perempuan misterius yang namanya diwariskan turun-temurun oleh para tetua: Ĕllang Sangiang.

Masyarakat percaya bahwa ia bukan perempuan biasa. Tubuhnya tinggi, matanya tajam seperti burung elang laut, dan di pipinya terdapat tahi lalat besar yang membuat orang-orang memanggilnya “Ĕllang”. Ia tinggal sendirian di sebuah bukit batu menghadap laut, jauh dari rumah-rumah penduduk.

Setiap malam, ia selalu memandang laut seolah sedang menunggu sesuatu.

Suatu sore, angin dari utara bertiup keras. Ombak mulai memukul pantai Matane. Di kejauhan tampak layar-layar hitam mendekat.

Seorang anak kecil berlari ketakutan menuju kampung.

“Bapak! Perahu Mindanao datang! Banyak sekali!” teriaknya.

Penduduk langsung panik. Para perempuan membawa anak-anak masuk ke hutan kelapa. Para lelaki mengambil tombak dan parang, tetapi wajah mereka dipenuhi ketakutan.

“Kita tidak akan mampu melawan mereka…” bisik seorang lelaki tua.

Saat itulah terdengar suara dari atas bukit.

“Jangan biarkan mereka menyentuh tanah Matane.”

Semua orang menoleh. Di atas batu karang berdirilah Ĕllang Sangiang dengan rambut panjang diterpa angin laut. Di pinggangnya tergantung pedang Barạ, senjata pusaka yang konon dibuat dari tulang ikan laut raksasa.

Seorang pemuda berteriak kepadanya.

“Ĕllang! Mereka terlalu banyak!”

Perempuan itu hanya tersenyum tipis.

“Selama laut masih memanggil namaku, Matane tidak akan jatuh.”

Perahu-perahu bajak laut mulai merapat ke pantai. Teriakan perang menggema di antara debur ombak.

Pemimpin bajak laut tertawa sambil mengangkat pedang.

“Hari ini kampung ini menjadi milik kami!”

Namun tiba-tiba terdengar suara keras dari atas tebing.

“Tidak selama aku masih berdiri!”

Dalam sekejap, Ĕllang Sangiang melompat dari bukit batu. Tubuhnya melayang melewati angin seperti burung laut. Penduduk kampung terdiam menyaksikan perempuan itu jatuh tepat di tengah para perompak.

BRAK!

Pasir beterbangan.

Pedang Barạ berkilat diterpa cahaya matahari senja.

Seorang bajak laut menyerang lebih dahulu.

“Hancurkan dia!”

Tetapi Ĕllang bergerak terlalu cepat. Sekali tebas, tombak musuh patah. Sekali putaran, dua orang jatuh ke pasir.

Para bajak laut mulai ketakutan.

“Itu bukan manusia!” teriak salah seorang.

Pemimpin mereka mencoba menyerang dari belakang, namun Ĕllang berbalik cepat dan menempelkan ujung pedangnya ke leher sang pemimpin.

“Katakan kepada lautmu,” katanya dingin, “tanah Tariang bukan tempat untuk pencuri.”

Lelaki itu gemetar.

“K-kami akan pergi…”

“Pergi… dan jangan kembali.”

Malam itu perahu-perahu Mindanao meninggalkan pantai Matane dalam ketakutan. Penduduk kampung bersorak dan menangis haru.

Seorang perempuan tua mendekati Ĕllang.

“Engkau menyelamatkan kami lagi…”

Namun Ĕllang hanya memandang laut yang gelap.

“Aku hanya menjaga tanah leluhur.”

Sejak hari itu, kisah keberanian Ĕllang Sangiang terus diceritakan dari generasi ke generasi. Anak-anak Tariang tumbuh dengan mendengar cerita tentang perempuan penjaga pantai yang mampu melompat dari bukit dan mengalahkan bajak laut seorang diri.

Tetapi waktu terus berjalan.

Gunung Awu kembali meletus. Kampung-kampung tua hilang ditelan abu dan batu panas. Matane perlahan lenyap dari peta. Banyak makam tertutup lahar dan hutan.

Orang-orang percaya makam asli Ĕllang Sangiang pun telah hilang bersama kampung tua itu.

Kini hanya tersisa sebuah batu peringatan di Tariang Lama.

Pada malam tertentu, ketika ombak besar datang dari utara dan angin meniup pohon kelapa dengan keras, para tetua kampung berkata mereka masih mendengar suara perempuan dari atas bukit:

“Jaga tanah ini… jangan biarkan sejarah hilang.”

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja