Jejak Iman K. Buchori Ibrahim

 

Jejak Iman K. Buchori Ibrahim: Kisah Sang Perwira Rohani Islam dan Pencarian Kebenaran dari Palembang



Bagi masyarakat Palembang di dekade 1950-an, sebuah pameo tak tertulis begitu kuat mengakar: "Hampir tidak ada orang Palembang asli yang beragama Kristen." Identitas kesukuan dan keyakinan religius laksana dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Namun, sejarah selalu punya celah untuk melahirkan kisah-kisah pencarian spiritual yang tak biasa.
Di tengah kokohnya tradisi itu, sebuah kesaksian yang dimuat dalam Warta Gereja Advent No. 11 Tahun 1959 mencatat babak unik dalam sejarah misi di Sumatra Selatan. Kisah itu milik K. Buchori Ibrahim, seorang anggota Tentara Republik Indonesia (TRI) kelahiran Banyuasin, 15 Juni 1924.
Benih yang Tertanam di Tanah Ambon
Perjalanan spiritual Buchori tidak bermula di tepian Sungai Musi, melainkan ribuan kilometer di timur Nusantara. Tujuh tahun sebelum kisah ini ditulis, tugas ketentaraan membawanya ke Ambon. Di sana, sang prajurit kepincut oleh seorang gadis lokal bernama J. Wenno, seorang penganut Masehi Advent Hari Ketujuh yang taat asal Piru, Seram Barat.
Cinta pun bertaut. Atas restu semesta, keduanya mengikat janji suci sebagai suami istri. Namun, penugasan militer yang dinamis segera membawa mereka kembali ke Sumatra. Di tengah kesibukan barunya, ingatan dan interaksi dengan gereja Advent perlahan memudar selama enam tahun berikutnya.
Sebagai seorang tentara, Buchori memikul tanggung jawab besar. Ia bahkan ditunjuk sebagai Pemelihara Rohani Bagian Islam di kesatuannya. Demi keselarasan karier, kepatutan sosial, dan pandangan publik di lingkungan militer, Buchori meminta sang istri untuk memeluk agama Islam. Sejak saat itu, sang istri dikenal dengan nama Muslimnya: Zubaidah.
Secara lahiriah, kehidupan mereka tampak mapan dan selaras dengan ekspektasi lingkungan. Namun, takdir Tuhan bekerja lewat cara-cara yang tak terduga.
Pertemuan "Kebetulan" di Samping Rumah
Sekembalinya mereka ke Kota Palembang, sebuah peristiwa yang tampaknya sepele menjadi pembuka rute baru hidup mereka. Suatu hari, seorang perawat bernama Zuster Idrus datang ke lingkungan mereka. Perempuan asal Ternate itu sebenarnya berniat bertamu ke rumah sebelah, namun si pemilik rumah sedang pergi.
Percakapan singkat pun terjadi di halaman rumah Buchori. Dari obrolan ringan tersebut, terungkaplah bahwa Zuster Idrus adalah seorang pekerja di Sidang Masehi Advent Palembang. Mendengar kata "Advent," kerinduan lama Zubaidah membuncah. Ia pun bercerita bahwa ia lahir dan dibesarkan dalam rahim iman Advent. Pertemuan tak sengaja itu menyalakan kembali api yang sempat redup.
Dari Lembaran Buku "Isa dalam Qur'an"
Tak lama berselang, magnet spiritual itu kembali menarik Buchori. Saat sedang berdinas di kantornya, ia dihampiri oleh seorang penjual literatur, Zuster J.W. Lumentut. Pandangan mata sang perwira tertuju pada sebuah buku kecil dengan judul yang memantik rasa ingin tahunya: "Isa dalam Qur'an."
Buchori membeli buku itu. Di malam-malam setelahnya, lembar demi lembar ia balik dengan saksama. Isi buku itu begitu menghentak nalar dan batinnya.
"Alangkah senangnya jika saya dapat bertemu dengan pengarangnya untuk bertukar pikiran lebih jauh," bisik Buchori dalam hati. Ia tidak tahu bahwa keinginannya akan dikabulkan dalam hitungan hari.
Pada suatu sore sekira pukul empat, pintu rumah Buchori diketuk. Zuster Idrus dan Zuster Lumentut datang berkunjung. Kali ini, mereka ditemani oleh dua orang pria. Salah satunya memperkenalkan diri dengan nama yang langsung membuat jantung Buchori berdesir: Rifai Boerhanoe’ddin—sang penulis buku Isa dalam Qur'an yang sedang ia cari.
Dialog Teologis Setiap Hari Minggu
Pertemuan sore itu mencairkan sekat-sekat dogmatis. Alih-alih berdebat kusir, sebuah kesepakatan intelektual dan spiritual tercapai. Mulai 27 April hingga 19 September 1958, setiap hari Minggu pukul empat sore, Rifai Boerhanoe’ddin dengan setia mendatangi rumah Buchori.
Di bawah temaram lampu sore Palembang, kedua pria ini duduk bersama, membuka lembaran Al-Qur'an dan Kitab Suci (Alkitab) secara berdampingan. Mereka meneliti, membandingkan, dan mendalami nubuat serta kedudukan Isa Almasih (Yesus Kristus).
Lewat penelusuran berbulan-bulan itu, Buchori menemukan perspektif baru mengenai kebesaran Isa Almasih di dunia dan akhirat, serta signifikansi hari Sabtu sebagai hari yang disucikan dalam garis sejarah iman. Keyakinannya bulat. Pemelihara Rohani Islam itu kini memantapkan langkah kakinya menuju jalur keyakinan yang baru.
Baptisan dan Sumpah Merawat Iman
Tepat pada 20 September 1958, K. Buchori Ibrahim bersama istrinya melangkah ke air baptisan. Peristiwa itu mencatatkan namanya sebagai orang Palembang asli ketiga yang memeluk iman Advent, mengikuti jejak dua pionir sebelumnya: Muhammad Akip dan Rifai Boerhanoe’ddin sendiri.
Melalui tulisan penutupnya di Warta Gereja Advent 1959, Buchori menyadari bahwa jalan di depannya tidak akan mudah. Sebagai perwira militer dan putra asli Palembang, keputusan ini berpotensi mendatangkan badai sosial, ejekan, dan cobaan dari lingkungan sekitar.
Namun, sembari mengirimkan salam hangat bagi keluarga istrinya di Ambon, Buchori menyelipkan sebuah doa dan komitmen yang teguh: agar ia dan Rifai Boerhanoe’ddin senantiasa diberi kekuatan untuk terus membagikan kabar keselamatan ini, terutama kepada tanah kelahirannya, suku Palembang asli.
Refleksi Sejarah
Kisah K. Buchori Ibrahim adalah sebuah potret bahwa sejarah iman sering kali digerakkan oleh "jembatan-jembatan kecil": sebuah buku yang terjual di kantor, obrolan di teras rumah karena tetangga yang pergi, dan dialog yang bersumber pada ketulusan mencari kebenaran. Dalam perspektif iman, tidak ada hal yang kebetulan. Segala sesuatu bergerak dalam rancangan agung yang rapi untuk memakai siapapun, di mana pun, dan kapan pun.
Sumber utama dari kisah sejarah populer di atas adalah dokumentasi arsip gereja yang dipublikasikan dalam:
Media Publikasi: Warta Gereja Advent (Majalah resmi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia pada masa itu).
Edisi/Tahun: No. 11, Tahun 1959.
Judul Asli Kesaksian: "Kami Sekeluarga Berterima Kasih" (ditulis langsung oleh K. Buchori Ibrahim).
Arsip digital dan foto dokumentasi fisik dari majalah tahun 1959 ini dipelihara dan dibagikan oleh komunitas sejarawan serta pegiat literasi sejarah melalui grup komunitas Sejarah Gereja Advent di platform Facebook.

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja