KAJIAN SEJARAH LAGU DAERAH SANGIHE JUDUL : “SANGIHE I KAKENDAGE”

 

KAJIAN SEJARAH LAGU DAERAH SANGIHE

JUDUL : “SANGIHE I KAKENDAGE” DAN TRANSFORMASINYA

DARI HIMNE KRISTEN KE LAGU PROFAN

Oleh  :  Alffian  W.P. Walukow

 

 

BAGIAN I

PENDAHULUAN DAN ASAL-USUL HISTORIS

 

1. Pendahuluan

Dalam kajian sejarah musik, sebuah lagu daerah tidak selalu lahir secara murni dari tradisi lokal. Banyak di antaranya merupakan hasil proses panjang berupa adaptasi, transformasi, bahkan reinterpretasi dari sumber lain, termasuk tradisi keagamaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa musik merupakan ruang interaksi budaya yang dinamis, di mana unsur global dan lokal saling bertemu dan membentuk identitas baru.

Salah satu contoh yang menarik adalah lagu daerah Sangihe berjudul “Sangihe I Kakendage.” Dalam memori kolektif masyarakat Kepulauan Sangihe, lagu ini dikenal luas sebagai lagu daerah yang merepresentasikan rasa cinta terhadap tanah kelahiran. Namun, penelusuran historis menunjukkan bahwa lagu ini memiliki akar yang kuat dalam tradisi himne Kristen Protestan.

Kajian ini bertujuan untuk:

  • Menelusuri asal-usul historis lagu
  • Mengkaji proses transformasi dari himne rohani menjadi lagu daerah
  • Menganalisis perubahan makna dalam konteks budaya modern

2. Asal-usul: Himne Kristen “Bersiap Bernanti Kedatangan Tuhan”

Secara historis, lagu “Sangihe I Kakendage” berakar pada sebuah lagu rohani berjudul “Bersiap Bernanti Kedatangan Tuhan.” Lagu ini kemudian dihimpun dalam buku himne Nyanyian Kemenangan Iman (NKI) nomor 238.

Buku Nyanyian Kemenangan Iman merupakan salah satu himnal penting dalam tradisi gereja Protestan di Indonesia, khususnya dalam lingkungan gereja-gereja Injili. Himnal ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Kalam Hidup pada tahun 1930 dan memuat ratusan lagu rohani yang sebagian besar berasal dari tradisi Kristen Barat abad ke-18 hingga ke-19.

 

2.1 Tema Teologis

Isi lagu tersebut menunjukkan karakter yang sangat khas dalam tradisi himne Protestan, terutama dalam konteks eskatologi (ajaran tentang akhir zaman). Tema-tema utama yang terkandung di dalamnya antara lain:

·        Penantian akan kedatangan Kristus kembali

·        Seruan untuk berjaga-jaga secara rohani

·        Simbol “pelita dan minyak” sebagai kesiapsiagaan iman

Tema ini secara langsung merujuk pada ajaran Alkitab, khususnya:

·        Injil Matius 25 (perumpamaan sepuluh gadis)

Dalam tradisi kebangunan rohani abad ke-19, lagu-lagu dengan tema seperti ini sangat populer dan digunakan untuk membangkitkan kesadaran spiritual umat.

 

3. Sumber Lebih Awal: Buku “Dua Sahabat Lama”

Sebelum dimasukkan ke dalam NKI, lagu ini telah lebih dahulu muncul dalam buku nyanyian rohani “Dua Sahabat Lama” (DSL) nomor 191.

Buku ini merupakan salah satu kumpulan nyanyian rohani yang berpengaruh di wilayah Indonesia Timur dan dipelopori oleh tokoh-tokoh berikut:

·        Schreuder (tokoh Belanda)  dikenal  juga sebagai G. Ch. J. Schreuder

·        Izaac Tupamahu ( Dari Ambon )

I. J. M. Tupamahu adalah salah satu tokoh penting dalam penyusunan buku nyanyian rohani "Dua Sahabat Lama" (DSL), yang merupakan buku himne tradisional yang sangat populer, terutama di kalangan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) di Indonesia.

 

3.1 Karakteristik Buku DSL

Beberapa ciri penting dari buku ini antara lain:

·        Banyak memuat lagu hasil terjemahan atau adaptasi dari Barat

·        Tidak selalu mencantumkan pencipta asli

·        Digunakan secara luas dalam kegiatan penginjilan dan ibadah

Dalam konteks ini, lagu “Bersiap Bernanti Kedatangan Tuhan” kemungkinan besar merupakan:

·        Adaptasi bebas dari himne Barat atau

·        Kompilasi tema dari beberapa lagu rohani

Ketiadaan sumber asli dalam bahasa Inggris yang identik menunjukkan bahwa lagu ini dapat dikategorikan sebagai himne anonim (anonymous hymn).

4. Konteks Teologis dan Tradisi Barat

Jika ditinjau dari isi dan struktur liriknya, lagu ini memiliki kedekatan yang kuat dengan tradisi himne bertema Advent, yaitu penantian akan kedatangan Kristus kembali.

Beberapa ciri khasnya meliputi:

·        Gambaran Kristus sebagai mempelai laki-laki

·        Seruan untuk berjaga-jaga

·        Penekanan bahwa waktu kedatangan tidak diketahui

Tema ini merupakan ciri khas teologi Protestan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, khususnya dalam gerakan kebangunan rohani di Eropa dan Amerika.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa:

Lagu ini berasal dari tradisi teologi Barat yang kemudian mengalami proses indigenisasi (penyesuaian ke dalam konteks lokal Indonesia).

 

5. Transisi Menuju Budaya Lokal Sangihe

Setelah melalui proses penyebaran melalui gereja dan kegiatan penginjilan, lagu ini kemudian mengalami transformasi di wilayah Kepulauan Sangihe.

Para seniman lokal mulai:

·        Mengadaptasi melodi

·        Menggubah lirik ke dalam bahasa daerah

·        Menyesuaikan makna dengan konteks sosial budaya setempat

Dari proses inilah kemudian lahir lagu: “Sangihe I Kakendage”

 

6. Lirik Lagu (Versi Sangihe – Disusun Ulang)

Sangihe I Kakendage

Sangihe i kekendage,
Sarang papateku.
Si dutu makaluase,
Dalungu naungku.

Maning pia dadedala,
Limembong bantuge.
Ta kere soang Sangihe,
Maning kurang damene.

Soang kinariadiangku,
Sangihe...
Sene ene naungku,
Taku tetahendungan,
Soang kinariadiangku.

 

7. Adaptasi Makna dalam Bahasa Indonesia

“Sangihe yang Kucintai”

Sangihe yang kucintai sampai akhir hayatku,
Tempat yang membahagiakan hatiku.
Biarpun di luar sana lebih makmur,
Namun Sangihe tetap lebih indah bagiku.

Tempat kelahiranku, Sangihe,
Yang selalu ku kenang,
Tempat kelahiranku, Sangihe.

Catatan:
Lirik ini bukan terjemahan langsung, melainkan bentuk reinterpretasi makna sesuai konteks lokal.

Bagian ini menunjukkan bahwa lagu “Sangihe I Kakendage” memiliki akar historis yang kuat dalam tradisi himne Kristen Protestan, khususnya melalui jalur:

  • Himne Barat (anonim)
  • Buku “Dua Sahabat Lama”
  • Himnal Nyanyian Kemenangan Iman

Selanjutnya, lagu ini mengalami proses lokalisasi di Sangihe yang mengubahnya menjadi lagu daerah dengan makna baru.

 

 

 

 

 

 

 

 

  

BAGIAN II

PROSES TRANSFORMASI, POPULARISASI, DAN

PERUBAHAN MAKNA

 

8. Proses Transformasi Budaya: Dari Himne ke Lagu Daerah

Perubahan dari lagu rohani “Bersiap Bernanti Kedatangan Tuhan” menjadi “Sangihe I Kakendage” tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dapat dijelaskan melalui tiga konsep utama dalam kajian budaya, yaitu inkulturasi, oralisasi, dan reinterpretasi.

 

8.1 Inkulturasi

Inkulturasi merupakan proses penyesuaian unsur luar (dalam hal ini himne Kristen Barat) ke dalam budaya lokal tanpa menghilangkan identitas dasar masyarakat penerima.

Dalam konteks masyarakat Sangihe:

  • Melodi lagu tetap dipertahankan
  • Lirik diubah ke dalam bahasa daerah Sangihe
  • Makna teologis mengalami pergeseran menjadi makna kultural

Dengan demikian, pesan religius yang semula bersifat eskatologis berubah menjadi ekspresi emosional yang berkaitan dengan:

  • Cinta terhadap tanah kelahiran
  • Ikatan identitas lokal
  • Nostalgia terhadap kampung halaman

8.2 Oralisasi

Oralisasi merujuk pada proses penyebaran budaya melalui tradisi lisan.

Di wilayah Kepulauan Sangihe, sebelum berkembangnya media rekaman:

  • Lagu ditransmisikan dari generasi ke generasi
  • Tidak terdapat teks baku yang mengikat
  • Variasi lirik dan pelafalan menjadi hal yang wajar

Akibat dari proses ini:

  • Struktur lagu menjadi fleksibel
  • Makna dapat berubah sesuai konteks sosial
  • Identitas asli lagu semakin kabur

 

8.3 Reinterpretasi

Reinterpretasi merupakan proses pemberian makna baru terhadap suatu karya budaya.

Dalam kasus lagu ini:

  • Tema “menanti kedatangan Tuhan”
    → berubah menjadi
  • “kerinduan terhadap tanah Sangihe”

Perubahan ini menunjukkan pergeseran yang jelas dari:

  • Religius (sakral)
    → menjadi
  • Kultural (profan)


9. Popularisasi di Era Modern

Memasuki era modern, khususnya sekitar tahun 1960-an, lagu “Sangihe I Kakendage” mulai dikenal luas sebagai lagu daerah di Kepulauan Sangihe.

Puncak popularitasnya terjadi ketika lagu ini dibawakan oleh:

  • Dampelos

melalui album:

  • Dampelos Volume 3 (1977)

 

9.1 Dampak Popularisasi

Sejak saat itu, lagu ini mengalami perubahan status yang signifikan:

  • Masuk ke dalam repertoar budaya populer Sangihe
  • Dianggap sebagai lagu daerah yang “asli”
  • Terlepas dari konteks religius awalnya

Media rekaman dan distribusi kaset pada masa tersebut berperan penting dalam:

  • Menstandarkan versi lagu
  • Memperluas jangkauan pendengar
  • Membentuk memori kolektif masyarakat

 

10. Transformasi dalam Budaya Populer Kontemporer

Dalam perkembangan selanjutnya, lagu ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mengalami berbagai bentuk adaptasi ulang, antara lain:

  • Aransemen ulang
  • Versi remake atau remix
  • Penggunaan dalam musik “disko’ pesta dan hiburan.

Kata “berdisko” dalam konteks pesta biasanya berarti menari mengikuti musik dengan gaya bebas seperti di disko (discotheque).

Istilah ini berasal dari kata “disko” (dari budaya hiburan malam ala disco), yang identik dengan:

·        Musik berirama cepat

·        Lampu warna-warni

·        Suasana santai dan bebas

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa lagu tersebut tetap hidup dalam masyarakat, meskipun telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi.

 

11. Perubahan Makna: Dari Sakral ke Profan

Salah satu aspek paling penting dalam kajian ini adalah perubahan makna yang terjadi secara signifikan.

 

11.1 Dari Lagu Sakral ke Lagu Profan

Pada awalnya, lagu ini merupakan bagian dari kehidupan religius dan memiliki fungsi sebagai:

  • Sarana penguatan iman
  • Media refleksi spiritual
  • Pengingat akan kesiapsiagaan eskatologis

Namun dalam perkembangan selanjutnya, lagu ini lebih sering digunakan dalam konteks:

  • Acara hiburan
  • Pesta rakyat
  • Pertunjukan musik populer

Lagu profan dalam hal ini dapat dipahami sebagai:

Lagu yang bersifat duniawi dan tidak berkaitan langsung dengan praktik keagamaan.

Secara etimologis, istilah profan berasal dari bahasa Latin profanum yang berarti "di luar kuil". Dalam dunia seni, musik profan dipahami sebagai musik yang bersifat duniawi, sekuler, atau tidak terkait dengan ritual keagamaan.

Berikut adalah definisi dan pengertian musik profan menurut beberapa sudut pandang ahli dan literatur musikologi:

1. Emile Durkheim

Meskipun dikenal sebagai sosiolog, pemikiran Durkheim mengenai dikotomi sakral dan profan menjadi fondasi utama. Menurutnya, hal-hal profan adalah segala sesuatu yang bersifat biasa, praktis, dan menjadi bagian dari rutinitas kehidupan sehari-hari manusia (duniawi), yang keberadaannya terpisah jauh dari hal-hal sakral yang dianggap suci dan terlarang.

2. David Ottman

Dalam studi sejarah musik, Ottman mengategorikan musik profan sebagai musik yang tidak memiliki fungsi liturgis (bukan untuk ibadah). Musik ini berkembang di luar otoritas gereja, seperti lagu-lagu rakyat (folk songs), musik hiburan di istana, atau musik yang bertemakan cinta, kepahlawanan, dan keindahan alam.

3. Karl-Edmund Prier (Pakar Musik Liturgi)

Prier menjelaskan bahwa musik profan adalah musik yang diciptakan untuk tujuan hiburan murni atau kepentingan artistik di luar ibadah. Musik ini menggunakan elemen-elemen yang akrab dengan telinga masyarakat umum dan sering kali mengekspresikan emosi manusia secara bebas, berbeda dengan musik sakral yang terikat pada aturan-aturan doktrin atau suasana yang tenang dan meditatif.

4. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Secara linguistik, profan didefinisikan sebagai:

"Luar biasa; tidak suci; sekuler."

Maka, lagu profan adalah karya musik yang lirik atau maknanya berkaitan dengan hal-hal di luar urusan ketuhanan atau keagamaan.

 

Ciri-Ciri Utama Musik Profan:

Untuk membedakannya dengan musik sakral, musik profan biasanya memiliki karakteristik berikut:

  • Tema Lirik: Mengangkat topik kemanusiaan, seperti cinta romantis, kritik sosial, perjuangan, atau kegembiraan pesta.
  • Konteks Penyajian: Dibawakan di tempat umum, pasar, panggung hiburan, atau pertemuan sosial.
  • Instrumen: Lebih bebas dalam penggunaan alat musik (misalnya penggunaan perkusi atau alat musik tiup yang pada zaman dulu sempat dilarang di lingkungan gereja tertentu).
  • Sifat: Bersifat menghibur (entertainment) atau ekspresi diri individu, bukan sebagai sarana komunikasi kolektif dengan Sang Pencipta.

Contoh Genre:

  • Zaman Pertengahan: Lagu-lagu dari kaum Troubadour dan Trouvere di Prancis yang menyanyikan tentang ksatria dan cinta.
  • Zaman Modern: Genre seperti Pop, Rock, Jazz, dan musik daerah yang berfungsi sebagai identitas budaya atau hiburan masyarakat.

 

11.2 Hilangnya Kesadaran Historis

Sebagian besar masyarakat, termasuk generasi muda dan bahkan pelaku seni  Sangihe, tidak lagi menyadari bahwa:

  • Lagu ini berasal dari himne Kristen
  • Mengandung pesan teologis yang kuat
  • Pernah digunakan dalam konteks ibadah

Akibatnya:

  • Terjadi pemutusan sejarah (historical disconnection)
  • Identitas asli lagu menjadi semakin kabur

 

 

11.3 Dilema Pelestarian Budaya

Transformasi ini menimbulkan dilema dalam pelestarian budaya.

Di satu sisi:

  • Lagu menjadi semakin populer
  • Diterima oleh generasi muda
  • Tetap hidup dalam praktik budaya

Di sisi lain:

  • Makna spiritual berpotensi hilang
  • Terjadi reduksi nilai historis
  • Muncul risiko komersialisasi berlebihan

 

12. Analisis: Hibriditas Budaya

Fenomena “Sangihe I Kakendage” dapat dipahami melalui konsep hibriditas budaya, yaitu percampuran antara unsur global dan lokal.

Dalam konteks ini:

  • Global (Barat): himne Kristen dan teologi Protestan
  • Lokal (Sangihe): bahasa daerah, identitas budaya, dan pengalaman sosial masyarakat

Hasil dari pertemuan ini adalah:

Sebuah bentuk budaya baru yang tidak sepenuhnya berasal dari Barat, tetapi juga tidak sepenuhnya murni lokal.

 

Kajian ini menunjukkan bahwa lagu “Sangihe I Kakendage” merupakan hasil dari proses historis yang panjang dan kompleks.

 

13.1 Rekonstruksi Historis

Perjalanan historis lagu ini dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Berasal dari tradisi himne Kristen Barat (anonim)
  2. Masuk ke Indonesia melalui buku “Dua Sahabat Lama”
  3. Dihimpun dalam Nyanyian Kemenangan Iman
  4. Diadaptasi ke dalam bahasa Sangihe
  5. Ditransmisikan melalui tradisi lisan
  6. Dipopulerkan oleh Dampelos sejak tahun 1970-an
  7. Mengalami transformasi menjadi lagu daerah dan lagu profan

 

13.2 Temuan Utama

Beberapa temuan penting dari kajian ini adalah:

  • Lagu daerah tidak selalu bersifat “asli”, tetapi dapat merupakan hasil adaptasi
  • Proses inkulturasi memainkan peran penting dalam pembentukan identitas budaya
  • Makna lagu dapat mengalami perubahan yang signifikan seiring waktu

 

14. Penutup

Memahami sejarah lagu “Sangihe I Kakendage” bukan berarti menolak perkembangan budaya modern, melainkan untuk:

  • Menghargai akar historisnya
  • Menjaga keseimbangan antara hiburan dan makna
  • Mempertahankan identitas kultural dan spiritual

Dengan kesadaran tersebut, masyarakat dapat:

Menikmati lagu sebagai bagian dari budaya populer tanpa kehilangan pemahaman terhadap nilai sejarah dan makna asalnya.

 

Catatan Sumber Audio-Visual

Sebagai bagian dari dokumentasi perkembangan modern lagu ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN III

PENDEKATAN ILMIAH, ANALISIS KOMPARATIF, DAN PERANGKAT AKADEMIK

 

15. Metodologi Penelitian

Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif-historis dengan penekanan pada analisis sumber tertulis dan tradisi lisan.

 

15.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat:

  • Deskriptif-historis, yaitu untuk merekonstruksi asal-usul lagu
  • Interpretatif, yaitu untuk memahami perubahan makna yang terjadi

 

15.2 Sumber Data

a. Sumber Primer

  • Buku himne Nyanyian Kemenangan Iman (NKI) No. 238
  • Buku nyanyian Dua Sahabat Lama (DSL) No. 191
  • Lirik lagu “Sangihe I Kakendage” dalam tradisi lisan dan rekaman musik

b. Sumber Sekunder

  • Literatur sejarah gereja di Indonesia
  • Kajian musik gerejawi dan etnomusikologi
  • Dokumentasi rekaman musik daerah Sangihe

 

15.3 Teknik Analisis

Analisis dalam penelitian ini dilakukan melalui tahapan:

  • Heuristik → pengumpulan sumber
  • Verifikasi → kritik sumber (keaslian dan kredibilitas)
  • Interpretasi → penafsiran makna
  • Historiografi → penulisan sejarah

 

16. Analisis Komparatif Teks Lagu

Untuk memahami transformasi yang terjadi, dilakukan perbandingan antara:

  • Lagu rohani: “Bersiap Bernanti Kedatangan Tuhan”
  • Lagu daerah: “Sangihe I Kakendage”

 

16.1 Struktur dan Tema

Aspek

Himne Kristen

Lagu Sangihe

Tema utama

Eskatologi (akhir zaman)

Cinta tanah kelahiran

Subjek

Tuhan dan umat

Individu dan tanah air

Nuansa

Sakral

Emosional-kultural

Fungsi

Ibadah

Hiburan dan identitas

 

16.2 Perubahan Makna

Transformasi makna dapat diringkas sebagai berikut:

  • Pelita dan minyak (kesiapan iman)
    → berubah menjadi
    kerinduan dan kesetiaan pada tanah Sangihe
  • Menanti kedatangan Kristus
    → berubah menjadi
    mengingat dan merindukan kampung halaman


16.3 Perubahan Fungsi Sosial

Fungsi Awal

Fungsi Baru

Liturgi gereja

Hiburan masyarakat

Penguatan iman

Identitas budaya

Refleksi spiritual

Ekspresi emosional

 

17. Analisis Musikologis

Walaupun tidak tersedia notasi musik lengkap dalam kajian ini, beberapa indikasi penting dapat dicatat:

  • Melodi cenderung mempertahankan pola himne Barat
  • Struktur repetitif memudahkan penghafalan (ciri tradisi lisan)
  • Ritme mengalami penyesuaian agar sesuai dengan selera lokal

Dalam versi modern:

  • Tempo sering dipercepat
  • Instrumen tradisional digantikan oleh alat musik modern
  • Aransemen mengikuti pola musik populer

 

18. Diskusi Akademik

 

18.1 Lagu Daerah sebagai Produk Transformasi

Kajian ini menegaskan bahwa:

Lagu daerah tidak selalu lahir secara “murni”, melainkan sering merupakan hasil interaksi budaya.

Fenomena ini umum terjadi di berbagai wilayah Indonesia, terutama daerah yang memiliki sejarah kuat dengan misi Kristen.

 

18.2 Peran Gereja dalam Produksi Budaya

Gereja tidak hanya berperan sebagai institusi religius, tetapi juga sebagai:

  • Agen penyebaran budaya
  • Medium transfer musik Barat
  • Ruang kreativitas lokal

Dalam konteks Sangihe:

  • Himne menjadi pintu masuk musik Barat
  • Masyarakat lokal mengadaptasi sesuai konteks budaya mereka

 

18.3 Tradisi Lisan dan Distorsi Sejarah

Ketergantungan pada tradisi lisan menyebabkan:

  • Hilangnya informasi mengenai pencipta asli
  • Perubahan lirik secara bertahap
  • Terbentuknya “versi kolektif” dalam masyarakat

Namun di sisi lain:

  • Tradisi lisan memungkinkan lagu tetap hidup
  • Fleksibilitas budaya tetap terjaga

 

19. Implikasi Kajian

 

19.1 Implikasi Kultural

  • Mendorong kesadaran sejarah dalam musik daerah
  • Menguatkan identitas budaya berbasis pengetahuan

 

19.2 Implikasi Pendidikan

  • Dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran Seni Budaya
  • Relevan untuk pengembangan kurikulum berbasis konteks lokal

19.3 Implikasi Teologis

  • Menunjukkan bahwa pesan religius dapat mengalami transformasi
  • Menjadi refleksi hubungan antara iman dan budaya

 

20. Daftar Pustaka (Sementara)

Sumber Primer

  • Nyanyian Kemenangan Iman (NKI). Bandung: Kalam Hidup, 1930.
  • Dua Sahabat Lama (DSL). (Edisi lama, tidak bertanggal pasti).

 

Sumber Sekunder

  • Iswara, Y. Sejarah Musik Gereja di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  • Sumarsam. Gamelan: Cultural Interaction and Musical Development. Chicago: University of Chicago Press.
  • Kartomi, Margaret. Musical Journeys in Indonesia.

 

Sumber Pendukung

  • Rekaman lagu oleh Dampelos (1977)
  • Dokumentasi lisan masyarakat Kepulauan Sangihe

 


PENUTUP

Kajian ini memperlihatkan bahwa lagu “Sangihe I Kakendage” merupakan hasil dari perjalanan sejarah yang kompleks, yang melibatkan:

  • Transfer budaya Barat melalui gereja
  • Adaptasi lokal oleh masyarakat Sangihe
  • Transformasi makna dari sakral ke profan

Fenomena ini menegaskan bahwa:

Budaya bukanlah sesuatu yang statis, melainkan hasil dari dialog panjang antartradisi.

 

Lampiran: Sumber Audio-Visual dan Konteks Himne Barat

A. Video Lagu Himne Kristen

 

B. Informasi Himne Barat

Lagu himne Kristen klasik berjudul “The Lord Is Coming” (atau “The Lord Is Coming By and By”) diciptakan oleh:

  • Elisha A. Hoffman  tahun 1891

Beberapa poin penting:

  • Ia adalah pendeta dan penulis himne asal Amerika Serikat
  • Menulis lebih dari 2.000 lagu injili
  • Salah satu karyanya yang terkenal: “Leaning on the Everlasting Arms”
  • Lagu ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1891 dalam Gospel Hymns No. 6 oleh Ira D. Sankey

Liriknya mengekspresikan penantian akan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, dengan nuansa sukacita dan kesiapsiagaan iman.

Perlu dicatat bahwa terdapat beberapa lagu dengan tema serupa, seperti:

  • Lagu oleh Daniel S. Warner (1885)
  • Lagu gospel modern “The King Is Coming”

Namun untuk himne klasik “The Lord Is Coming”, nama Elisha A. Hoffman adalah yang paling diakui secara luas.

 

C. Video Lagu Sangihe I Kakendage

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja