KAJIAN TOPONIMI DAN ONOMASTIK “MONANGO LABO”, “WENANG”, DAN “MANADO”

BERDASARKAN KAJIAN HISTORIOGRAFI, LINGUISTIK, DAN KAMUS BAHASA DAERAH SULAWESI UTARA


Oleh  :  Alffian  Walukow





Kajian ini berangkat dari tulisan berjudul Historiografi “Wenang”: Membedakan Wenang dari Manado Tua dan Manado karya Denni H.R. Pinontoan. Tulisan tersebut menekankan pentingnya membedakan tiga entitas historis yang selama ini sering dipertukarkan secara tidak tepat, yaitu Wenang, Manado Tua, dan Manado.

Dalam historiografi lokal Sulawesi Utara, nama “Wenang” dipahami sebagai nama asli kawasan daratan yang kini menjadi Kota Manado. Nama ini merujuk pada pemukiman tua di pesisir Minahasa yang berhubungan dengan keberadaan pohon wenang (Macaranga hispida). Sementara itu, “Manado” pada awalnya lebih berkaitan dengan pulau di Teluk Manado yang sekarang dikenal sebagai Manado Tua atau Babontehu.

Tulisan Denni H.R. Pinontoan juga mengangkat istilah “Monango Labo” sebagai bagian penting dalam memori kolektif masyarakat mengenai pelabuhan tua Wenang. Dalam pengantarnya, Pinontoan menyebut tulisan Meers Malky Tzedek berjudul Monango Labo (Pelabuhan Manado) dan tulisan Hendrik Rapar berjudul Monango Labo: Nama yang Hilang di Arsip, tetapi Bertahan dalam Ingatan Manado.

Menurut Pinontoan, istilah “Monango Labo” merujuk pada Wenang atau Pelabuhan Wenang yang berada di daratan Minahasa. Dengan demikian, istilah tersebut dipandang sebagai penanda eksistensi pelabuhan tradisional yang telah ada jauh sebelum nama “Manado” digunakan secara luas dalam administrasi kolonial.

Kajian ini kemudian memperluas pembahasan tersebut melalui pendekatan:

  1. Toponimi (asal-usul nama tempat),
  2. Onomastik (kajian nama),
  3. Linguistik historis komparatif,
  4. Analisis kamus bahasa daerah Sulawesi Utara,
  5. Kajian terhadap bahasa Sasahara dalam tradisi maritim Sangir.

 

I. Wenang sebagai Nama Asli Kawasan Daratan Manado

1. Wenang dalam Historiografi

Menurut Denni H.R. Pinontoan, kawasan yang kini menjadi Kota Manado pada mulanya dikenal sebagai Wanua Wenang. Kawasan ini merupakan pemukiman pesisir yang didirikan oleh Dotu Lolong Lasut.

Wenang bukan sekadar pemukiman, tetapi juga pusat perdagangan tradisional Minahasa yang dikenal melalui istilah:

  • Tumpahan Wenang,
  • Labuhan Wenang.

Wilayah ini menjadi titik temu antara masyarakat agraris Minahasa dan para pedagang luar.

Pinontoan menegaskan adanya perbedaan jelas antara:

  • Wenang → kawasan pesisir daratan,
  • Manado Tua → pulau di teluk,
  • Manado → nama kolonial yang kemudian menggantikan Wenang.

 

2. Wenang dalam Kamus Bahasa Tontemboan

Dalam kamus bahasa Tontemboan karya J. A. T. Schwarz ditemukan entri:

wenang: sejenis pohon, Macaranga hispida.

Bentuk lain:

mawenang → Macaranga Celebica.

Selain itu terdapat penjelasan:

“Wenang, Menado.”

Yang menunjukkan bahwa Wenang dipahami sebagai nama asli Manado.

Kamus tersebut juga mencatat:

tambenang → orang yang suka atau sering pergi ke Manado.

 

3. Wenang dan Sifat Tumbuhan

Dalam kamus Tontemboan ditemukan hubungan pohon wenang dengan rasa gatal:

la'ara im benang, i lana, in tjapaja

Terjemahan:

daun pohon wenang dan lana serta getah pepaya dapat menyebabkan rasa gatal.

Hal ini memperlihatkan bahwa nama Wenang mula-mula berkaitan dengan identifikasi vegetasi lokal sebelum berkembang menjadi nama tempat.

 

II. Monango Labo dalam Historiografi Lokal

1. Monango Labo Menurut Denni H.R. Pinontoan

Pinontoan menyebut:

  • tulisan Meers Malky Tzedek: Monango Labo (Pelabuhan Manado),
  • tulisan Hendrik Rapar: Monango Labo: Nama yang Hilang di Arsip, tetapi Bertahan dalam Ingatan Manado.

Dalam artikelnya, Pinontoan menegaskan bahwa:

Monango Labo merujuk pada Wenang atau Pelabuhan Wenang.

Dengan demikian, istilah ini menjadi bagian penting dalam memori historis mengenai pelabuhan tradisional Minahasa sebelum dominasi nomenklatur kolonial “Manado”.

 

2. Kritik terhadap Kajian “Menangelabo”

Dalam artikel Dari Menangelabo Menjadi Monango Labo disebutkan dugaan bahwa:

  • Menanga/Minanga → muara sungai,
  • Labo → besar atau luas.

Sehingga Menangelabo dimaknai sebagai:

“Muara Besar”.

Namun kajian tersebut tidak menjelaskan secara tegas:

  1. Dari bahasa apa kata “Labo” berasal,
  2. Tradisi lisan mana yang menjadi sumber,
  3. Historiografi lokal mana yang dimaksud.

Secara akademik, hal ini menjadi persoalan metodologis karena unsur etimologi harus ditunjukkan sumber linguistiknya secara jelas.

Kajian ini menilai bahwa:

unsur “Labo” sangat kuat berasal dari kosa kata Bahasa Sangir.

Pertanyaan penting yang muncul:

Mengapa unsur Sangir dalam historiografi “Monango Labo” sering tidak disebut secara eksplisit?

 

III. Analisis Linguistik Kata “Mona”, “Monango”, dan “Labo”

1. Kata “Mona” dalam Kamus Bahasa Sangir

Dalam kamus Bahasa Sangir karya Steller dan Aebersold:

mona

berarti:

  • haluan depan,
  • arah depan kapal.

Turunannya:

  • mêtimona → mengarahkan diri menuju sesuatu,
  • mangalimona → maju ke depan,
  • kalēmona / kalamona → lebih dahulu, paling depan.

Dalam Sasahara:

  • dolong,
  • lolong.

Ungkapan:

“kalamona kawuatukang / samuri kapahĕdoëng”

Artinya:

berjalan ke depan lalu dikejar, datang dari belakang lalu ditunggu (bayangan).

 

2. Kemungkinan Pembentukan Kata “Monango”

Secara linguistik, “Monango” dapat dipahami sebagai bentuk turunan dari “mona”.

Kemungkinan proses pembentukannya:

  • mona → monang → monango.

Dalam banyak bahasa Austronesia, penambahan akhiran:

  • -ng,
  • -ngo,
  • -nga,

sering membentuk:

  • keadaan,
  • lokasi,
  • arah,
  • aktivitas.

Dengan demikian, “Monango” dapat mengandung makna:

  • tempat mengarah,
  • tempat menuju,
  • haluan besar,
  • titik tujuan pelayaran.

Karena konteks Sasahara sangat kuat berhubungan dengan dunia maritim, maka makna navigasional lebih masuk akal dibandingkan sekadar “muara sungai”.

 

IV. Analisis Kata “Labo”

1. Labo dalam Bahasa Sangir

Dalam kamus Bahasa Sangir:

labọ

berarti:

  • besar,
  • luas,
  • agung,
  • melimpah.

Bentuk lain:

  • lawo.

Contoh:

  • tana-lawo → tanah besar/daratan utama,
  • bale-lawo → rumah raja,
  • majorĕ-labo → gelar kebesaran.

Dalam dialek Sangir Besar:

labo = banyak, melimpah.

Dengan demikian:

“Monango Labo” dapat dimaknai sebagai:

  • pelabuhan besar,
  • haluan besar,
  • tempat tujuan besar,
  • tempat labuh utama.

 

2. Hubungan dengan “Labuh”

Dalam rumpun Melayu:

  • labuh,
  • laboh,
  • labuah,

berhubungan dengan:

  • berlabuh,
  • tempat bersandar kapal.

Hal ini memperkuat kemungkinan bahwa:

Monango Labo memiliki makna maritim.

 

V. Sasahara dan Tradisi Bahasa Laut Sangir

1. Pengertian Sasahara

Menurut Nicolaus Adriani dalam Sangireesche Spraakkunst (1893):

Sasahara adalah bahasa rahasia masyarakat Sangir yang digunakan di laut agar roh-roh tidak mengetahui rencana pelaut.

Karakteristiknya:

  • berupa parafrasa,
  • deskripsi simbolik,
  • nama pengganti tempat,
  • sangat terkait navigasi laut.

 

2. Fungsi Toponimik Sasahara

Sasahara sering menciptakan:

  • nama alternatif pulau,
  • tanjung,
  • teluk,
  • pelabuhan,
  • muara.

Karena itu:

“Monango Labo” sangat mungkin berasal dari tradisi penamaan Sasahara.

Apalagi:

  • Manado berada pada jalur pelayaran penting,
  • pelaut Sangir telah lama aktif di Teluk Manado.

 

VI. Hubungan Wenang, Bena, Manaro, dan Manarow

1. Bena dalam Bahasa Sangir

Dalam kamus Sangir:

Bena = Wenang = nama asli Manado.

Dalam Sasahara:

Bena disebut Manaro.

 

2. Manaro dan Manarow

Manaro

dalam Bahasa Sangir:

  • nama pulau Manado Tua.

Manarow

dalam Bahasa Tontemboan:

  • Manado Tua,
  • pulau yang kemudian memberi nama kepada Manado sekarang.

Dengan demikian:

  1. Wenang → nama daratan,
  2. Manaro/Manarow → nama pulau,
  3. Manado → bentuk kolonialisasi nama pulau yang dipindahkan ke daratan.

 

VII. Hubungan dengan Istilah Minanga

1. Minanga dan Nimanga

Dalam kamus Tontemboan:

Nimanga = sungai bercabang.

Perbandingan linguistik:

  • Bare’e → winanga,
  • Bugis → minanga,
  • Mongondow → minanga,
  • Kaili → binangga,
  • Gorontalo → milango,
  • Batak → binanga.

Makna umumnya:

  • muara,
  • percabangan sungai,
  • pertemuan air.

 

2. Perbedaan Minanga dan Monango

Kajian ini menilai:

Monango tidak otomatis identik dengan Minanga.

Karena:

  • Monango memiliki kemungkinan asal dari “mona”,
  • Mona berkaitan dengan arah pelayaran,
  • Sasahara sangat dominan dalam terminologi laut.

Sementara:

  • Minanga lebih kuat berkaitan dengan hidrologi sungai.

 

VIII. Wenang, Bena, dan Cahaya Fajar

Dalam bahasa Tontemboan:

  • bena berkaitan dengan terang,
  • fajar,
  • cahaya pagi.

Contoh:

maantango ĕm bena → fajar menyingsing.

mĕselapo-mai ĕm bena i ĕndo → cahaya fajar mulai memancar.

Makna simboliknya:

  • timur,
  • cahaya,
  • awal,
  • tempat muncul terang.

Hal ini menarik karena:

  • kawasan Wenang berada di pesisir timur Teluk Manado,
  • menjadi titik pertama aktivitas pelayaran dan perdagangan.

 

IX. Kajian Onomastik

Secara onomastik, nama:

  • Wenang,
  • Bena,
  • Manaro,
  • Monango Labo,

memperlihatkan lapisan identitas budaya:

  1. Lapisan vegetatif (nama pohon),
  2. Lapisan geografis,
  3. Lapisan maritim,
  4. Lapisan kolonial,
  5. Lapisan bahasa rahasia pelaut.

Nama-nama tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling bertaut dalam jaringan budaya pesisir Sulawesi Utara.

 

Kesimpulan

Kajian ini menunjukkan bahwa:

  1. Wenang merupakan nama asli kawasan daratan yang kini menjadi Kota Manado.
  2. Manado Tua atau Manaro adalah entitas pulau yang berbeda dari Wenang.
  3. Nama “Manado” muncul kemudian dalam konteks kolonial dan perlahan menggantikan nama Wenang.
  4. Istilah “Monango Labo” dalam historiografi lokal sangat mungkin memiliki akar kuat dalam tradisi bahasa maritim Sangir, khususnya Sasahara.
  5. Kata “Labo” secara linguistik paling jelas berasal dari Bahasa Sangir dengan arti besar, luas, agung, atau melimpah.
  6. Kata “Monango” kemungkinan lebih dekat dengan akar “mona” (haluan, arah depan, tujuan pelayaran) dibanding sekadar turunan “minanga” (muara sungai).
  7. Tradisi penamaan di kawasan Manado memperlihatkan interaksi panjang antara budaya Minahasa, Sangir, pelayaran Nusantara, dan kolonialisme Eropa.

Dengan demikian, historiografi Wenang dan Monango Labo perlu dibaca bukan hanya sebagai sejarah lokal Manado, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan budaya maritim besar di Laut Sulawesi.

 

Daftar Sumber

  1. Adriani, Nicolaus. Sangireesche Spraakkunst. Leiden: A. H. Adriani, 1893.
  2. Steller, K. G. F., & Aebersold, W. E. Sangirees-Nederlands Woordenboek met Nederlands-Sangirees Register. Martinus Nijhoff, 1959.
  3. Schwarz, J. A. T. Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek. E. J. Brill, 1908.
  4. Dunnebier, W. Bolaang Mongondowsch-Nederlandsch Woordenboek. Martinus Nijhoff, 1951.
  5. Ten Hove, J. An Amut un Tarendem ne Tonsea Ipawolanda. Van der Roest Jr., 1904.
  6. Denni H.R. Pinontoan, “Historiografi ‘Wenang’: Membedakan Wenang dari Manado Tua dan Manado”.
  7. Artikel “Dari Menangelabo Menjadi Monango Labo”.
  8. Tulisan Meers Malky Tzedek, “Monango Labo (Pelabuhan Manado)”.
  9. Tulisan Hendrik Rapar, “Monango Labo: Nama yang Hilang di Arsip, tetapi Bertahan dalam Ingatan Manado”.

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja