KARAMNYA KAPAL VOC “DE SANDLOOPER” DAN MISTERI JANGKAR TANJUNG LESA TAHUNA
KARAMNYA KAPAL VOC “DE SANDLOOPER” DAN MISTERI JANGKAR TANJUNG LESA TAHUNA
Oleh : Alffian Walukow
Sebuah Kajian Sejarah Maritim tentang Bencana Vulkanik,
Jalur Pelayaran VOC, dan Artefak Bawah Laut di Kepulauan Sangihe
Perairan Kepulauan Sangihe sejak lama dikenal sebagai
salah satu jalur pelayaran penting di kawasan utara Nusantara. Posisinya yang
berada di antara Laut Maluku, Laut Sulawesi, Ternate, Mindanao, dan Manado
menjadikan wilayah ini lintasan strategis perdagangan rempah-rempah sejak masa
Portugis, Spanyol, hingga VOC Belanda.
Di kawasan Tanjung Lesa, Tahuna, ditemukan sebuah jangkar
tua yang selama beberapa dekade sering diasosiasikan oleh sejumlah peneliti
maritim sebagai peninggalan kapal Portugis abad ke-16. Namun apabila dikaji
kembali melalui sumber-sumber arsip VOC abad ke-17, terutama catatan mengenai
karamnya kapal VOC de Sandlooper pada tahun 1673, muncul kemungkinan
historis baru bahwa jangkar tersebut justru berkaitan dengan tragedi pelayaran
VOC akibat bencana vulkanik besar di Maluku Utara.
Kajian ini mencoba menghubungkan dua unsur sejarah
tersebut:
- penemuan
jangkar kapal di Tanjung Lesa Tahuna,
- serta
catatan resmi karamnya kapal VOC de Sandlooper tahun 1673.
1. Jalur Pelayaran VOC di Laut Sulawesi dan Kepulauan
Sangihe
Pada abad ke-17, VOC membangun jaringan pelayaran yang
menghubungkan pusat-pusat perdagangan utama di:
- Ternate,
- Manado,
- Makassar,
- Banda,
- Ambon,
- dan
Batavia.
Kepulauan Sangihe berada tepat di jalur laut antara
Ternate dan Manado. Karena itu, hampir seluruh kapal kecil VOC yang bergerak di
Laut Maluku dan Laut Sulawesi pasti melewati wilayah Tahuna dan sekitarnya.
Jalur ini sangat aktif terutama untuk:
- pengiriman
rempah-rempah,
- surat
diplomatik,
- logistik
militer,
- pengangkutan
pejabat VOC,
- dan komunikasi antarbenteng kolonial.
(DTPHN)
Dalam sistem
pelayaran VOC, kapal kecil jenis fluitje sering digunakan untuk navigasi
antarpulau karena mampu bergerak cepat di perairan sempit kepulauan.
2. Peristiwa Letusan Besar Tahun 1673
Tahun 1673 terjadi letusan vulkanik besar di kawasan
Maluku Utara yang dicatat dalam arsip kolonial Belanda. Letusan tersebut diduga
berkaitan dengan aktivitas Gunung Gamkonora di Halmahera dan kemungkinan
diikuti aktivitas vulkanik lain di sekitar Ternate.
Sumber arsip VOC mencatat bahwa bencana ini menimbulkan:
- gelombang
laut besar,
- arus
ekstrem,
- hujan
abu vulkanik,
- gempa
bumi,
- dan
gangguan navigasi laut.
Dalam surat diplomatik Ternate kepada Banda tertanggal 22
Agustus 1673 disebutkan bahwa kapal VOC de Sandlooper mengalami
kecelakaan pelayaran ketika sedang kembali menuju Manado. Kapal tersebut diterjang kondisi laut yang sangat
buruk hingga akhirnya terbalik dan tenggelam di perairan utara Sulawesi. (Sejarah Nusantara)
Walaupun
lokasi karam tidak disebut secara presisi, jalur pelayaran Ternate–Manado
secara geografis melewati kawasan Laut Sangihe dan Tahuna.
3. Tanjung Lesa Tahuna sebagai Jalur Navigasi Historis
Tahuna sejak masa kolonial merupakan salah satu titik
persinggahan alami kapal-kapal kecil yang berlayar dari Ternate menuju Manado.
Kawasan Tanjung Lesa memiliki karakteristik penting bagi pelayaran tradisional:
- teluk
relatif terlindung,
- dekat
jalur arus utama,
- serta memungkinkan kapal berlindung
ketika cuaca buruk.
Dalam konteks
pelayaran abad ke-17, kapal yang menghadapi badai atau gelombang ekstrem
biasanya akan mencoba menjatuhkan jangkar di pesisir terdekat untuk mengurangi
hanyut akibat arus.
Penemuan
jangkar besar di perairan Tanjung Lesa menunjukkan bahwa pernah terjadi
aktivitas kapal besar atau kapal dagang Eropa di kawasan tersebut.
4. Mengapa Selama Ini Dianggap Kapal Portugis?
Sebagian peneliti sebelumnya mengaitkan jangkar Tanjung
Lesa dengan kapal Portugis karena beberapa alasan:
- Portugis merupakan bangsa Eropa
pertama yang aktif di Maluku sejak awal abad ke-16;
- kawasan
Sangihe berada dekat jalur Portugis menuju Ternate;
- bentuk
jangkar dianggap menyerupai model kapal Iberia awal.
Namun terdapat
beberapa kelemahan dalam asumsi tersebut:
a. Tidak
adanya catatan karam Portugis di Tahuna
Hingga kini
belum ditemukan arsip Portugis ataupun Spanyol yang secara jelas mencatat
karamnya kapal Portugis di kawasan Tanjung Lesa.
b. Dominasi VOC abad ke-17
Setelah VOC menguasai Ternate pada awal abad ke-17, jalur
laut utara Sulawesi lebih banyak digunakan kapal-kapal Belanda dibanding
Portugis. (DTPHN)
c. Jalur de Sandlooper sangat sesuai secara
geografis
Rute pelayaran kapal de Sandlooper dari Ternate
menuju Manado sangat mungkin melintasi kawasan Tahuna dan Tanjung Lesa.
5. Hipotesis Historis: Jangkar Tanjung Lesa Berkaitan
dengan de Sandlooper
Berdasarkan hubungan geografis dan kronologis, terdapat
kemungkinan kuat bahwa jangkar yang ditemukan di Tanjung Lesa berkaitan dengan
peristiwa karamnya de Sandlooper tahun 1673.
Hipotesis ini didukung oleh beberapa faktor:
a. Kesesuaian Jalur Pelayaran
Kapal VOC dari Ternate menuju Manado hampir pasti
melewati Kepulauan Sangihe.
b. Kondisi
Laut Ekstrem
Gelombang
besar akibat aktivitas vulkanik dapat menyebabkan kapal:
- membuang
jangkar darurat,
- terhempas
ke pesisir,
- atau pecah di dekat pantai.
c. Tradisi Pelayaran VOC
Kapal kecil VOC jenis fluitje sangat rentan
terhadap:
- perubahan
arus,
- badai,
- dan
tsunami vulkanik.
d. Tidak adanya bukti Portugis yang kuat
Sementara teori Portugis lebih bersifat asumtif, catatan
mengenai de Sandlooper memiliki dasar arsip resmi VOC.
6. Kepulauan Sangihe dalam Sejarah Bencana Maritim
Kajian ini juga memperlihatkan bahwa Kepulauan Sangihe
bukan sekadar wilayah transit perdagangan, tetapi juga bagian penting sejarah
kebencanaan maritim Nusantara.
Posisi geografis Sangihe berada di kawasan:
- cincin
api Pasifik,
- jalur
gempa,
- dan
lintasan arus besar Laut Maluku–Pasifik.
Karena itu sejak masa kolonial wilayah ini sering
mengalami:
- badai,
- gelombang
tinggi,
- tsunami,
- dan dampak aktivitas vulkanik Maluku
Utara.
Karamnya de Sandlooper menjadi salah satu bukti
historis awal mengenai kerentanan pelayaran di kawasan ini.
7. Pentingnya Kajian Arkeologi Maritim
Apabila hipotesis ini benar, maka jangkar Tanjung Lesa
memiliki nilai sejarah yang sangat besar karena dapat menjadi:
- bukti
fisik tragedi pelayaran VOC tahun 1673,
- artefak
maritim kolonial abad ke-17,
- serta
penanda hubungan historis antara Ternate, Sangihe, dan Manado.
Karena itu diperlukan:
- penelitian
arkeologi bawah laut,
- analisis
metalurgi jangkar,
- pemetaan
sonar dasar laut,
- dan
penelusuran arsip VOC lebih lanjut di Belanda maupun ANRI.
Kesimpulan
Kajian ini menunjukkan bahwa penemuan jangkar kapal di
Tanjung Lesa Tahuna kemungkinan besar tidak berkaitan dengan kapal Portugis,
melainkan berhubungan dengan tragedi karamnya kapal VOC de Sandlooper
tahun 1673.
Hipotesis tersebut didukung oleh:
- kesesuaian
jalur pelayaran VOC,
- catatan
resmi arsip Ternate–Banda,
- dominasi
pelayaran VOC di kawasan utara Sulawesi,
- serta konteks bencana vulkanik besar
yang menyebabkan gelombang laut ekstrem.
Dengan
demikian, jangkar Tanjung Lesa dapat dipandang sebagai bagian penting sejarah
maritim VOC dan sejarah kebencanaan laut di Kepulauan Sangihe. Kajian ini
sekaligus membuka kemungkinan baru bahwa artefak bawah laut di Tahuna merupakan
saksi material dari salah satu tragedi pelayaran terbesar VOC di Laut Sulawesi
abad ke-17.
Daftar Pustaka
- Sejarah
Nusantara ANRI – Browse Letters VOC (Sejarah Nusantara)
- Dutch Trading
Post Heritage Network – Ternate (DTPHN)
- World
History Encyclopedia – European Discovery & Conquest of the Spice
Islands (Ensiklopedia
Sejarah Dunia)
- François Valentijn. Oud en Nieuw
Oost-Indiën. Dordrecht, 1724.
- Leonard
Y. Andaya. The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern
Period. Honolulu: University of Hawai‘i Press, 1993.
- M. A. P. Meilink-Roelofsz. Asian
Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago. Den Haag:
Martinus Nijhoff, 1962.
- Denys
Lombard. Nusa Jawa Silang Budaya. Jakarta: Gramedia, 2005.
- Arsip
VOC Ternate–Banda, 22 Agustus 1673.
- Open Archieven
VOC Records
