Letusan Gunung Awu (Sangihe) dari dua periode berbeda (1856 dan 1892)
Letusan Gunung Awu (Sangihe) dari
dua periode berbeda (1856 dan 1892), serta fragmen opini keagamaan dan
pendidikan kolonial.
REKONSTRUKSI
SEJARAH KEBENCANAAN DAN DINAMIKA SOSIAL KEPULAUAN SANGIHE (1856–1892)
Disusun oleh : Alffian Walukow
Letusan gunung berapi Gunung Awu, 2
Maret 1856, Sangir Besar, alias Pulau Sangir, Sulawesi Utara, Indonesia bagian
utara. Korban jiwa yang ditimbulkan berkisar antara 2.000 hingga 6.000 orang.
Sumber foto : La Ilustracion Espanola y Americana,
diterbitkan tahun 1892.
Nama
Publikasi: La Ilustración Española y Americana (Majalah mingguan
Spanyol yang berfokus pada sains, seni, sastra, dan berita dunia yang terbit
antara tahun 1869–1921).
Tahun
Publikasi Gambar:
1892.
Jenis
Dokumen: Ukiran
cetak (engraving) atau litografi, yang lazim digunakan sebagai
dokumentasi visual media cetak pada abad ke-19 sebelum teknologi cetak foto
surat kabar meluas.
Deskripsi
Gambar: Ilustrasi
ini merekonstruksi kejadian letusan dahsyat Gunung Awu (Goenong Awoe) di
Pulau Sangir Besar, Sulawesi Utara, yang terjadi pada tanggal 2 Maret 1856.
Gambar tersebut menangkap momen kepulan asap tebal dari puncak gunung serta
sebuah kapal uap/layar yang sedang berlayar di perairan sekitarnya.
1. PENDAHULUAN
DAN LATAR BELAKANG GEOGRAFIS
Kepulauan Sangihe (dalam dokumen
kolonial disebut Sangi atau Sangir) secara administratif termasuk
ke dalam wilayah Keresidenan Manado, Sulawesi Utara. Pulau utamanya, Sangir
Besar, merupakan wilayah yang subur dan dibagi ke dalam empat kerajaan lokal (lanskap),
yaitu Taruna, Kandhar, Kalongan, dan Tabukan (Manganitu).
Kawasan kaki Gunung Awu dikenal
sebagai pusat agraris yang sangat produktif bagi masyarakat setempat. Sebelum
terjadinya rangkaian bencana, wilayah ini dipenuhi oleh hutan kelapa, kopi,
pisang, sagu, serta hamparan sawah padi, milu (jagung), dan batata
(ubi jalar). Sektor perdagangan komoditas kopra menjadi urat nadi perekonomian
utama yang menghubungkan kepulauan ini dengan jaringan pasar di Manado.
2.
KRONIK BENCANA I: LETUSAN DAHSYAT GUNUNG AWU (MARET 1856)
2.1 Fase
Erupsi Utama dan Fenomena Alam
Sebelum tahun 1856, gempa kecil
dianggap sebagai fenomena biasa oleh penduduk setempat. Berdasarkan kesaksian
seorang penjelajah asal Spanyol beberapa tahun sebelumnya, masyarakat percaya
bahwa Gunung Awu telah mati selamanya sehingga mereka bertani di lereng gunung
tanpa rasa takut. Namun, pada malam tanggal 2 Maret 1856, antara pukul 19.00
hingga 20.00, sebuah dentuman hebat yang tak terlukiskan menandai mulainya
erupsi besar.
Lahar panas mengalir turun dengan
menerjang hebat ke berbagai arah, menghanyutkan apa saja yang dilewatinya dan
membuat air laut mendidih seketika. Mata air panas di hulu pecah dan
menyemburkan air mendidih, menyapu bersih sisa-sisa wilayah yang belum habis
terbakar. Akibat kekuatan tektonik yang luar biasa, terjadi gempa laut
(tsunami) dahsyat yang merobek garis pantai dan menerjang daratan.
Sekitar satu jam kemudian,
bencana disusul oleh gemuruh guntur vulkanik yang memekakkan telinga. Kolom
batu dan abu hitam pekat membubung tinggi ke angkasa, lalu jatuh kembali
sebagai hujan api. Kegelapan
total menyelimuti wilayah tersebut, yang sesekali hanya diterangi oleh kilatan
petir yang menyambar.
Erupsi
ini juga disertai angin badai dahsyat dari arah tenggara yang menerbangkan abu
dan batu hingga jatuh di Pulau Maguindanao (Filipina Selatan). Belum sempat
pulih dari trauma, penduduk kembali dikejutkan oleh ledakan susulan pada
tanggal 17 Maret 1856 yang menghancurkan sisa-sisa perkebunan di sisi Tabukan.
2.2 Dampak
Kerusakan Wilayah dan Topografi (1856)
- Negeri Taruna: Pusat
pemukiman Taruna selamat karena aliran lahar terhalang oleh deretan
perbukitan di sisi selatan Teluk Taruna, sehingga lahar berbelok dan
terbuang ke laut di sisi barat. Kota
ini hanya mengalami hujan abu tebal.
- Negeri Kolongan: Hancur
total karena dilalui langsung oleh aliran lahar raksasa. Pemukiman
terkubur abu dan batu; yang tersisa hanya tiang-tiang rumah yang setengah
terbakar.
- Garis Pantai Kolongan–Kandhar:
Dataran pantai patah dan longsor ke dalam laut. Wilayah yang dulunya
landai berubah menjadi tebing batu vertikal yang curam dengan ketinggian
beberapa ratus kaki.
- Negeri Kandhar: Pusat
kota selamat karena terlindungi oleh tanjung rendah, namun wilayah
perkebunan di atas lereng habis dilalap lahar.
- Ujung Utara Pulau: Lahar
meluap dengan massa yang sangat masif. Saat mencapai pantai, material
vulkanik tersebut membentuk dua tandjong (tanjung) baru di lokasi
yang dulunya merupakan perairan dalam.
- Negeri
Tariang, Pembalaraeng, Labakasin, Patung, dan Hilang: Seluruh pemukiman dan dusun
ini hangus total terbakar lahar.
2.3
Data Korban Jiwa dan Pengungsi (1856)
Bencana
tahun 1856 merenggut nyawa tidak kurang dari 2.806 jiwa, dengan rincian
resmi sebagai berikut:
|
Wilayah (Lanskap) |
Jumlah Korban Jiwa (Pria, Wanita, Anak-anak) |
|
Taruna |
722
jiwa |
|
Kandhar |
45
jiwa |
|
Tabukan |
2.039
jiwa |
|
Total Korban |
2.806 jiwa |
Mayoritas
korban tewas adalah mereka yang berada di rumah-rumah kebun di lereng gunung
yang terlambat melarikan diri. Sebagian warga tewas mati lemas di atas pohon
akibat hawa panas yang menyengat, tertimbun runtuhan bangunan di dalam rumah,
atau tersapu oleh gelombang tsunami saat mencapai pantai. Lebih dari seribu
warga Taruna yang selamat terpaksa mengungsi ke Manganitu, Pulau Siau, dan
pulau-pulau sekitarnya.
3. KRONIK
BENCANA II: LETUSAN GUNUNG AWU (JUNI 1892)
3.1
Pelayaran Satuan Tugas Bantuan Pascabencana
Tiga
puluh enam tahun setelah letusan besar pertama, Gunung Awu kembali meletus pada
pertengahan tahun 1892. Pada tanggal 19 Juni 1892 pukul 18.00, Residen Manado
memimpin langsung ekspedisi kemanusiaan menggunakan kapal uap pemerintah, Zeemeeuw.
Rombongan
tersebut membawa serta pejabat Dewan Air, Calon Inspektur Wiggers van Kerchem,
serta putri-putri daerah dari Airmadidi dan Tanahwangko. Pendeta Verhoeff turut
serta sebagai perwakilan Panitia Bantuan Sangihe. Rombongan tiba di Taruna pada
tanggal 20 Juni 1892 pukul 11.00.
3.2 Situasi
Pascaletusan dan Kerusakan Infrastruktur (1892)
Pusat kota Taruna mengalami
kerusakan yang relatif lebih ringan. Rumah-rumah roboh akibat hujan abu hanya
terjadi di Desa Laland, yang kemudian direncanakan untuk dipindahkan ke lokasi
yang lebih aman di dekat Bosss. Kawasan Kampung China yang
rumah-rumahnya beratap seng dilaporkan utuh tanpa kerusakan. Namun, atap
fasilitas penjara runtuh total, menyebabkan para tahanan dan narapidana
melarikan diri.
Di sektor pertanian, pohon-pohon
kelapa kehilangan buahnya akibat rontok, namun diperkirakan dapat pulih dalam
waktu satu tahun. Komoditas perdagangan kopra lumpuh total, memaksa perputaran
uang kembali ke para pedagang besar karena penduduk harus membeli bahan pangan
dari luar.
3.3 Manajemen
Logistik dan Relokasi Penduduk
Panitia Sangihe segera
mendistribusikan bantuan perdana yang dibawa dari Manado serta membeli
komoditas lokal yang tersedia, meliputi:
- 200
karung beras (ditambah 1.730 karung logistik pemerintah untuk kebutuhan
17.600 jiwa).
- 200 tikar rotan, 50 karung garam, rusip (ikan
fermentasi), tembakau, selimut, dan anggur medis.
Karena bahan bangunan lokal
(atap, rotan, kayu) habis di area terdampak, kapal Zeemeeuw dikirim
kembali ke Manado untuk memuat material konstruksi darurat guna membangun gubuk
tempat berteduh sementara bagi penduduk dari cuaca buruk.
Pada peninjauan tanggal 22 Juni
1892 di Kolongan, ditemukan 40 korban luka yang kemudian dirawat oleh Dokter
Jawa dari Tanahwangko. Karena area Kolongan terlalu terbuka dan berbahaya dari
ancaman kawah yang masih mengepulkan uap, pemukiman tersebut dipindahkan ke
balik wilayah Bosss (dekat Tahuna baru). Sementara itu, Calon Pengawas Campagne
dan Wiggers van Kerchem ditugaskan untuk memimpin pembangunan kampung baru dan
relokasi massal penduduk Kandhar ke wilayah Ngalipaeng.
3.4 Fenomena
Mikroklimatologi Pascabencana
Sebuah fenomena alam unik
tercatat pascaletusan 1892, di mana hujan lebat turun hampir setiap hari
meskipun sedang berada di luar musim hujan. Gunung Awu tampaknya berfungsi
sebagai "pembuat hujan" (regenmaker).
Meskipun hujan ini bermanfaat
untuk membersihkan material abu di tanah dan menjaga sanitasi penduduk, hujan
deras ini memicu kerugian baru berupa banjir bandang dan badai sekunder di hulu
sungai, mengingat kondisi pegunungan telah gundul akibat sapuan lahar dan
kebakaran hutan.
4. DINAMIKA
SOSIAL, KEAGAMAAN, DAN PENDIDIKAN KOLONIAL
4.1
Kritik Pembiaran Keagamaan oleh Pemerintah Kolonial
Pascabencana
1856, sebuah kritik sosial tajam muncul mengenai pengabaian masyarakat Sangihe
oleh pemerintah kolonial. Ketika jalur perdagangan bergeser dan komunikasi sempat
terputus, masyarakat Eropa di Hindia Belanda dinilai melupakan penduduk
Sangihe. Selama lebih dari setengah abad, tidak ada pendeta maupun guru sekolah
yang dikirim ke sana.
Meskipun demikian, penduduk asli
secara kultural tetap memegang teguh identitas Kristen tradisional mereka
dengan merayakan hari Minggu dan memuliakan Alkitab kuno. Menteri Jajahan
melalui Pidato Takhta (Troonrede) sempat mengimbau masyarakat Belanda
untuk menggalang bantuan kemanusiaan bagi Sangihe demi menunjukkan manifestasi
nyata dari ajaran kasih.
4.2 Isu
Keadilan Akses Pendidikan Penduduk Muslim di Tabukan
Memasuki awal abad ke-20,
dinamika sosial di Sangihe bergeser ke arah tuntutan kesetaraan hak pendidikan
bagi komunitas Muslim, khususnya di Lanskap Tabukan yang populasinya
berimbang antara umat Kristen dan Muslim. Kritikus sosiopolitik melalui
publikasi lokal "Fadjar" mempertanyakan kebijakan Departemen
Pendidikan Kolonila (Departement van Onderwijs) yang tidak pernah
mengangkat guru kepala beragama Islam di sekolah-sekolah pribumi Sangihe.
Seluruh posisi guru kepala dan asisten selalu didatangkan dari Ambon dan
Minahasa yang beragama Kristen.
Kritik tersebut menolak stigma
bahwa anak-anak Muslim tidak kompeten atau bodoh karena gagal dalam ujian masuk
sekolah keguruan (kweekschool) di Ambon. Sebaliknya, diduga ada unsur
marginalisasi sistematis. Pemerintah didesak untuk menempatkan guru serta
asisten Muslim di sekolah-sekolah negeri kawasan Enemawira, Tariang, dan
Menalu.
Selain itu, ditemukan ketimpangan
anggaran di mana dana publik daerah Tabukan yang dihimpun bersama dari pajak
penduduk Muslim justru mayoritas dialokasikan untuk menyubsidi sekolah-sekolah
misi Kristen (misiemutua), sehingga dinilai merugikan kepentingan
pendidikan komunitas Muslim setempat.
5.
KUTIPAN HISTORIS (QUOTATIONS)
"Dari
puncak gunung sampai ke laut, semuanya telah menjadi hamparan pasir yang
gersang, liar, dan tandus, seperti mayat yang tak bernyawa lagi dan menguap
bagaikan kuda yang lelah... Hal ini seperti berlayar di sepanjang pantai Laut
Merah, dengan gunung-gunung yang gersang dan pasir, pasir dan lebih banyak
pasir."
—
Laporan Residen Manado, Peninjauan Lapangan Kawasan Kandhar (Juni 1892).
"Pohon-pohon
yang hangus, yang di beberapa tempat tetap berdiri dengan dahan-dahan dan
daun-daunnya yang terkulai, bangkit seperti pelayat di atas kuburan yang luas
ini."
— Catatan Deskripsi Lanskap
Pasca-Erupsi Kolongan (Maret 1856).
"Tuhan
telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri. Ia ingin disembah dalam
roh dan kebenaran. Tuhan tidak meminta penghormatan dari bibir kita, tetapi
penyerahan hati dan pikiran kita sepenuhnya... Kebebasan adalah prinsip agama
itu sendiri."
—
Édouard René de Laboulaye, ulasan Teologi Kebebasan Nurani (dikutip dalam
Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 1856).
DAFTAR
PUSTAKA
- Stakaan,
M. (1892). Laporan
Resmi Residen Manado mengenai Perjalanan Dinas dan Penanggulangan Bencana
Letusan Gunung Awoe di Kepulauan Sangi. Dokumen Arsip Keresidenan
Manado (Tidak Diterbitkan).
- Van Hoëvell, W. R. (1856). Tijdschrift
voor Nederlandsch Indië. Jaargang 18, Aflevering 7-12, Tweede Deel.
Zalt-Bommel: Joh. Noman en Zoon. (Memuat artikel khusus: Letusan Awoe,
2-17 Maret 1856 dan ulasan teologi kemanusiaan Eropa).
- Landsdrukkerij Batavia. (1903). Regeerings-Almanak
voor Nederlandsch-Indië 1903. Eerste Gedeelte: Grondgebied en Bevolking,
Inrichting van het Bestuur van Nederlandsch-Indië en Bijlagen.
Batavia: Landsdrukkerij. (Memuat Daftar Sekolah Tahun 1903 dan Data
Administrasi Lanskap Tariang Baru, Taboekan).
- Fadjar Newspaper. (S.a.). Pendidikan
Muslim di Pulau Sangir: Analisis Distribusi Anggaran Pendidikan dan
Keadilan Akses Guru di Enemawira, Tariang, dan Menaloe. (Artikel Opini Publik
Kolonial, dikutip dalam kompilasi arsip daerah).