Perlawan Rakyat Sojol Tahun 1905
Perlawanan Rakyat Sojol Tahun 1905: Rekonstruksi Historiografis, Dinamika Gerilya Lokal, dan Kritik atas Arsip Kolonial Belanda
Oleh : Alffian Walukow
Abstrak
Artikel ini membahas perlawanan rakyat Sojol di pesisir barat Sulawesi Tengah terhadap ekspansi militer pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1905. Fokus utama penelitian diarahkan pada rekonstruksi kronologis operasi militer kolonial, strategi gerilya masyarakat lokal, dinamika politik elite adat, serta pembacaan kritis terhadap arsip kolonial Belanda sebagai sumber historiografi. Penelitian menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber primer utama berasal dari laporan pers kolonial Belanda bertajuk Een Excursie in Midden-Celebes yang dimuat dalam surat kabar kolonial tahun 1905, dilengkapi dengan arsip administrasi kolonial dan literatur sejarah Sulawesi Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlawanan Sojol merupakan bagian dari proses resistensi lokal terhadap proyek Pax Nederlandica di kawasan timur Indonesia. Selain memperlihatkan kemampuan adaptasi gerilya masyarakat lokal terhadap medan geografis, kasus Sojol juga menunjukkan bagaimana kolonialisme bekerja melalui kombinasi kekuatan militer dan fragmentasi elite politik lokal. Artikel ini menegaskan pentingnya penggunaan arsip kolonial secara kritis dalam merekonstruksi sejarah lokal Indonesia.
Kata Kunci: Sojol, Tomai Tarima, Pax Nederlandica, Sulawesi Tengah, Historiografi Kolonial, Gerilya Lokal.
1. Pendahuluan
Ekspansi kolonial Hindia Belanda di kawasan luar Jawa pada awal abad ke-20 berlangsung dalam kerangka politik imperial yang dikenal sebagai Pax Nederlandica. Kebijakan ini bertujuan mengintegrasikan seluruh wilayah Nusantara ke dalam sistem administrasi kolonial modern melalui kombinasi kekuatan militer, reorganisasi birokrasi, serta pengendalian ekonomi dan perpajakan. Pax Nederlandica
Di Sulawesi Tengah, proses penetrasi kolonial meningkat tajam setelah pemerintah Hindia Belanda memperkuat kontrol administratif di Donggala dan wilayah pesisir Teluk Tomini. Menurut Sartono Kartodirdjo, ekspansi kolonial di daerah-daerah luar Jawa sering memunculkan “reaksi sosial bersenjata” sebagai bentuk penolakan terhadap penetrasi negara kolonial modern.¹
Salah satu bentuk resistensi tersebut muncul di wilayah Sojol (Sodjol), sebuah kawasan pesisir barat Sulawesi Tengah yang memiliki jaringan perdagangan maritim dan struktur adat yang relatif kuat. Perlawanan rakyat Sojol pada tahun 1905 dipimpin oleh seorang tokoh lokal bernama Somail atau lebih dikenal dalam tradisi lisan sebagai Tomai Tarima.
Dalam struktur sosial masyarakat pesisir Sulawesi Tengah, figur seperti Tomai Tarima bukan sekadar pemimpin militer, melainkan simbol legitimasi adat, pelindung komunitas, sekaligus penghubung jaringan politik lokal. Oleh sebab itu, upaya penangkapan dirinya oleh pemerintah kolonial memiliki dimensi simbolik yang jauh lebih besar daripada sekadar operasi keamanan biasa.
Tulisan ini bertujuan merekonstruksi kronologi perlawanan Sojol tahun 1905 berdasarkan arsip kolonial Belanda, sekaligus menelaah dinamika politik lokal dan strategi gerilya masyarakat setempat dalam menghadapi ekspansi kolonial.
2. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode sejarah klasik yang terdiri atas empat tahapan utama, yakni heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.²
Sumber primer utama berasal dari laporan jurnalistik kolonial Belanda berjudul Een Excursie in Midden-Celebes yang diterbitkan pada akhir tahun 1905 dalam surat kabar kolonial seperti De Locomotief dan Soerabaijasch Handelsblad.
Selain itu, penelitian juga menggunakan dokumen administratif kolonial berupa Memorie van Overgave pejabat kolonial Donggala serta berbagai studi sejarah regional Sulawesi Tengah.
Dalam penelitian ini, arsip kolonial tidak diperlakukan sebagai sumber netral. Sebagaimana dijelaskan Benedict Anderson, arsip kolonial merupakan bagian dari produksi pengetahuan kolonial (colonial knowledge production) yang sering merepresentasikan masyarakat pribumi dari sudut pandang kekuasaan kolonial.³ Oleh sebab itu, pembacaan terhadap sumber dilakukan menggunakan pendekatan reading against the grain, yakni membaca sumber kolonial secara kritis untuk menemukan perspektif masyarakat lokal yang sering tersembunyi di balik narasi resmi pemerintah kolonial.
3. Sojol dalam Struktur Politik Lokal Sulawesi Tengah
Sebelum penetrasi kolonial Belanda, wilayah Sojol merupakan kawasan pesisir yang memiliki hubungan erat dengan jaringan perdagangan Mandar, Kaili, dan Bugis. Struktur politik lokal bertumpu pada elite adat dan pemimpin maritim yang memiliki otoritas berdasarkan hubungan genealogis dan legitimasi tradisional.
Islamisasi pesisir barat Sulawesi Tengah sejak abad ke-18 turut membentuk identitas sosial masyarakat Sojol. Dalam konteks ini, kepemimpinan Tomai Tarima tidak hanya memiliki fungsi politik, tetapi juga simbolik dalam menjaga stabilitas komunitas adat.
Keberadaan elite maritim seperti Kapita Lau menunjukkan bahwa struktur politik Sojol memiliki keterkaitan erat dengan sistem perdagangan laut dan jaringan pelayaran regional di kawasan Sulawesi bagian tengah dan utara.
4. Kronologi Perlawanan Rakyat Sojol Tahun 1905
4.1 Penangkapan Tomai Tarima
Laporan kolonial Belanda menyebutkan bahwa pemerintah Hindia Belanda mengirim satuan patroli militer ke pedalaman Sojol pada Oktober 1905 di bawah pimpinan seorang perwira bernama Hagen.
Tujuan utama operasi tersebut ialah menghancurkan konsolidasi gerilya masyarakat Sojol yang dianggap mengganggu stabilitas kolonial dan menolak penerapan sistem pajak kolonial (belasting).
Pada tanggal 28 Oktober 1905, militer Belanda berhasil menangkap Tomai Tarima dalam sebuah operasi penyergapan mendadak.
Dalam laporan kolonial disebutkan:
“De leider Somail werd eindelijk gearresteerd na een korte omsingeling van zijn schuilplaats.”(“Pemimpin Somail akhirnya ditangkap setelah pengepungan singkat terhadap tempat persembunyiannya.”)⁴
Penangkapan tersebut menjadi pukulan psikologis bagi masyarakat Sojol, namun tidak berhasil menghentikan perlawanan.
4.2 Kontra-Ofensif La Singalam dan La Kontina
Setelah penangkapan Tomai Tarima, kepemimpinan perlawanan dilanjutkan oleh kedua putranya, yakni La Singalam dan La Kontina.
Kedua tokoh ini mengembangkan strategi gerilya dengan memanfaatkan medan hutan dan pegunungan Sojol. Mobilitas tinggi dan penguasaan jalur-jalur lokal membuat pasukan kolonial kesulitan melakukan pengejaran efektif.
Pada 8 November 1905, patroli militer Belanda kembali mengalami kegagalan ketika pasukan Hagen disergap pejuang Sojol.
Laporan kolonial mencatat:
“De patrouille moest zich terugtrekken wegens overmacht der inlanders.”(“Pasukan patroli terpaksa mundur akibat kekuatan besar penduduk pribumi.”)⁵
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa perlawanan Sojol bukan tindakan sporadis, melainkan gerakan kolektif dengan dukungan masyarakat luas.
Strategi gerilya masyarakat Sojol memperlihatkan karakteristik perang rakyat Nusantara: penguasaan medan ekologis, serangan mendadak, dan dukungan logistik komunitas lokal. Dalam konteks ini, keunggulan persenjataan modern Belanda tidak selalu efektif menghadapi mobilitas gerilya masyarakat pegunungan.
4.3 Ekspedisi Gabungan dan Politik Kolaborasi
Kegagalan patroli awal memaksa pemerintah kolonial mengirim ekspedisi gabungan yang lebih besar pada 21 November 1905. Operasi tersebut dipimpin oleh Hagen, Letnan Vink, dan seorang pejabat sipil kolonial bernama Maijer.
Pasukan kolonial juga melibatkan sejumlah elite lokal yang telah bersekutu dengan pemerintah Hindia Belanda.
Dalam situasi inilah muncul figur Kapita Lau, menantu Tomai Tarima sekaligus ipar La Singalam dan La Kontina. Dalam laporan kolonial, Kapita Lau disebut bersedia membantu Belanda melacak para pemimpin gerilya.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kolonialisme tidak hanya bekerja melalui kekuatan senjata, tetapi juga melalui fragmentasi elite lokal dan politik aliansi pragmatis.
Sebagaimana dijelaskan James C. Scott, kekuasaan kolonial sering bertahan melalui jaringan patronase lokal dan pemecahan solidaritas komunitas.⁶
Namun demikian, upaya penangkapan kembali gagal. Jaringan informasi rakyat Sojol berhasil mendeteksi rencana tersebut sehingga La Singalam dan La Kontina melarikan diri menuju Tinombo melalui jalur pegunungan.
5. Kritik Historiografis terhadap Arsip Kolonial
Kajian terhadap Perlawanan Sojol memperlihatkan pentingnya penggunaan arsip kolonial dalam rekonstruksi sejarah lokal Indonesia.
Meskipun sering memuat bias orientalis dan perspektif kekuasaan kolonial, arsip Belanda memiliki keunggulan dalam aspek kronologi, detail operasi militer, dan dokumentasi administratif.
Namun demikian, sumber kolonial harus dibaca secara kritis. Banyak laporan militer Belanda menggambarkan pejuang lokal sebagai “pengacau” atau “perampok”, sementara kekerasan kolonial sering dihilangkan dari narasi resmi.
Menurut Kuntowijoyo, tugas utama sejarawan bukan menerima sumber secara mentah, melainkan melakukan kritik internal dan eksternal terhadap sumber sejarah.⁷
Pendekatan micro-history dalam penelitian ini memungkinkan rekonstruksi detail peristiwa lokal untuk memahami proses kolonialisasi yang lebih luas di kawasan timur Indonesia.
6. Dampak Sosial Pasca-Perlawanan
Pasca-operasi militer tahun 1905, pemerintah kolonial memperkuat kontrol administratif di wilayah Sojol dan Donggala.
Beberapa dampak utama meliputi:
penguatan sistem pajak kolonial;
peningkatan pengawasan militer;
reorganisasi elite lokal;
integrasi administratif ke sistem pemerintahan kolonial;
melemahnya otonomi politik komunitas adat.
Dalam jangka panjang, proses ini menjadi bagian dari transformasi sosial-politik Sulawesi Tengah menuju sistem kolonial modern awal abad ke-20.
7. Kesimpulan
Perlawanan rakyat Sojol tahun 1905 merupakan salah satu bentuk resistensi lokal yang penting dalam sejarah kolonialisasi Sulawesi Tengah.
Melalui rekonstruksi historiografis berbasis arsip kolonial Belanda, terlihat bahwa proses pasifikasi kolonial tidak berlangsung secara damai, melainkan melalui konflik bersenjata, strategi gerilya, dan fragmentasi politik lokal.
Kasus Sojol juga memperlihatkan bahwa masyarakat lokal memiliki kapasitas organisasi, mobilitas perang, dan solidaritas sosial yang cukup kuat dalam menghadapi ekspansi kolonial.
Di sisi lain, penelitian ini menegaskan bahwa arsip kolonial tetap memiliki nilai penting dalam penulisan sejarah Indonesia, selama digunakan secara kritis dan tidak diterima sebagai narasi tunggal.
Daftar Pustaka
Sumber Primer
“Een Excursie in Midden-Celebes.” 1905. Dalam De Locomotief dan Soerabaijasch Handelsblad. Edisi November–Desember 1905.
Memorie van Overgave van den Assistent-Resident van Donggala. 1906. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta.
Buku dan Jurnal
Benedict Anderson. 1983. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.
Harvey S. Barbara. 1977. Permesta: Half a Rebellion. Ithaca: Cornell University.
James C. Scott. 1985. Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance. New Haven: Yale University Press.
Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Kutoyo, Sutrisno, dkk. 1981/1982. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Tengah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Van de Velde, J.J. 1982. Brieven uit de Buitengewesten: Militaire en Bestuurlijke Rapporten over de Pacificatie van Celebes (1905–1908). Den Haag: Martinus Nijhoff.
Catatan Kaki
Kartodirdjo, Sartono, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Gramedia, 1992), hlm. 45.
Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. 17–21.
Benedict Anderson, Imagined Communities (London: Verso, 1983), hlm. 163.
“Een Excursie in Midden-Celebes,” De Locomotief, November 1905.
Ibid.
James C. Scott, Weapons of the Weak (New Haven: Yale University Press, 1985), hlm. 29.
Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, hlm. 91.
