SEJARAH SEKOLAH HIS TAHUNA DAN SIAU
SEJARAH HIS TAHUNA DAN SIAU
Pengertian
HIS
HIS
merupakan singkatan dari Hollandsch-Inlandsche School, yaitu sekolah
dasar yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda khusus bagi anak-anak
penduduk pribumi (golongan Inlanders).
Tujuan
Pendiriana HIS
Sekolah
ini diselenggarakan untuk memberikan pendidikan formal bergaya Barat (Belanda)
kepada anak-anak dari kalangan bangsawan, tokoh masyarakat terkemuka, dan
pegawai pemerintahan pribumi.
Kurikulum
dan Bahasa Pengantar
Berbeda
dengan sekolah pribumi lainnya seperti Volksschool (Sekolah Desa), HIS
menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar utama. Karena itu
HIS dianggap sebagai sekolah elit dan prestisius pada zamannya.
Lama
Pendidikan
Pendidikan
di HIS ditempuh selama 7 tahun. Lulusan HIS dipersiapkan untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti MULO (Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs), setingkat sekolah menengah pertama berbahasa
Belanda.
Kelahiran
dan Berakhirnya HIS
HIS
didirikan sebagai bagian dari pelaksanaan Politik Etis Pemerintah Hindia
Belanda dan secara resmi mulai berdiri pada tahun 1914.
Tujuan
pendiriannya adalah:
- Memenuhi
kebutuhan tenaga administrasi dan pegawai rendahan yang terampil serta
mampu berbahasa Belanda.
- Menjalankan
birokrasi pemerintahan kolonial.
- Menjadi
bagian dari program "balas budi" pemerintah kolonial melalui
bidang pendidikan.
Berakhirnya
HIS
HIS
berhenti beroperasi pada tahun 1942, bersamaan dengan runtuhnya
pemerintahan kolonial Belanda akibat pendudukan Jepang.
Masuknya Jepang menyebabkan
sistem pendidikan kolonial dibubarkan dan digantikan dengan sistem pendidikan
yang disesuaikan dengan kepentingan pemerintahan militer Jepang.
Setelah Indonesia merdeka pada
tahun 1945, sistem HIS tidak dihidupkan kembali dan digantikan oleh sistem
pendidikan nasional Indonesia.
HIS sering dipandang sebagai
simbol stratifikasi sosial pada masa kolonial. Akses yang terbatas serta
penggunaan bahasa Belanda menjadikannya pintu masuk bagi lahirnya kaum
intelektual pribumi yang kemudian berperan penting dalam pergerakan nasional
Indonesia.
HIS TAHUNA
Seiring
meluasnya peradaban dan semakin mendalamnya kehidupan rohani masyarakat,
kebutuhan akan pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik semakin meningkat.
Di Minahasa yang bertetangga,
sejak tahun 1865 telah berdiri Hoofdenschool di Tondano dan sejak
November 1882 telah ada Meisjesschool di Tomohon. Beberapa
penduduk Kepulauan Sangihe telah memanfaatkan sekolah-sekolah tersebut, namun
jarak yang jauh dan biaya yang tinggi menjadi hambatan besar.
Di kalangan masyarakat berada
muncul keinginan kuat untuk memiliki lembaga pendidikan serupa di wilayah
mereka sendiri. Selain
sekolah, dibutuhkan pula asrama bagi murid-murid yang berasal dari pulau-pulau
lain.
Permohonan
Pendirian HIS
Pada
tahun 1906, beberapa Raja atau Zelfbestuurders mengajukan permohonan
kepada Pemerintah agar dibuka sebuah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di
Kepulauan Sangihe. Namun permohonan tersebut tidak mendapat tanggapan.
Pada
Konferensi Pemimpin Jemaat Pribumi tahun 1910, permohonan yang sama
kembali diajukan. Akan tetapi, alasan kekurangan dana dan tenaga pengajar
menyebabkan usulan tersebut kembali ditolak.
Meski
demikian, persoalan pendidikan tetap menjadi agenda tahunan konferensi tersebut
dan terus disampaikan kepada Komite Misi di Belanda. Komite berhasil memperoleh
janji subsidi dari pemerintah, namun pecahnya Perang Dunia I menyebabkan
pelaksanaan rencana itu tertunda.
Rencana
Mendirikan HIS Kristen
Akibat
terputusnya komunikasi dengan pimpinan misi di Belanda selama perang dunia,
para pekerja misi dan tokoh-tokoh masyarakat pribumi mulai menyusun rencana
untuk mendirikan HIS Kristen bersama pemerintah tanpa menunggu bantuan dari
Belanda.
Tokoh utama gerakan ini adalah
mendiang misionaris G. ten Broek.
Pada 25 September 1918,
diadakan rapat umum di Manganitu untuk membahas pendirian sekolah tersebut.
Rumah misionaris yang kosong di
Manganitu direncanakan menjadi sekolah dan asrama sementara. Sebuah bangunan
tambahan akan dibangun sebagai tempat tinggal murid laki-laki.
Nona C. W. J. Steller,
putri dari mendiang pekerja misi E. T. Steller, yang memiliki ijazah
guru, bersedia menjadi kepala sekolah dan pengelola asrama sementara.
Untuk
membantunya disiapkan:
- Seorang
pembantu pribumi untuk mengurus asrama.
- Dua
guru pribumi lulusan Volksschool.
- Dua gadis pribumi lulusan Klein-Ambtenaar yang akan
membantu di sekolah.
Pengumpulan
Dana
Untuk
membiayai sekolah dan asrama, setiap calon orang tua murid diminta membeli satu
saham senilai 100 gulden, yang dapat dicicil sebesar 10 gulden per
bulan.
Dana
tersebut dimaksudkan untuk:
- Menutupi
biaya operasional awal.
- Membangun
gedung sekolah permanen.
- Membangun
asrama permanen.
Dalam
rapat pertama terkumpul 87 saham, yang kemudian meningkat menjadi 175
saham.
Dibentuk
pula sebuah pengurus yang terdiri dari:
- Dua
misionaris.
- Seorang
Zelfbestuurder.
- Dua
kepala distrik.
- Seorang
guru pemerintah.
Diputuskan
pula bahwa apabila Komite Sangihe-Talaud kelak mendirikan HIS sendiri, maka
perkumpulan ini akan dibubarkan.
Pembukaan
HIS Manganitu
Pada
tanggal 10 Januari 1919, sekolah resmi dibuka.
Upacara
pembukaan dilaksanakan di Gereja Manganitu dan dihadiri banyak pejabat serta
masyarakat.
Keesokan harinya Nona Steller
bersama stafnya mulai mengajar:
- 99
murid laki-laki
- 43
murid perempuan
Sebagian
besar murid baru bisa membaca dan menulis, sementara hanya beberapa orang saja
yang telah memahami bahasa Belanda karena pernah bersekolah di HIS Minahasa.
Peristiwa
ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak perlu dipaksa untuk bersekolah.
Sebaliknya, mereka secara sukarela memberikan bantuan dana dan menunjukkan
inisiatif sendiri untuk mewujudkan lembaga pendidikan tersebut.
Kedatangan
Kepala Sekolah Eropa
Komite
Misi di Belanda kemudian menunjuk P. G. W. Valderpoort, yang semula
ditugaskan di lembaga pendidikan guru dan pemimpin jemaat di Kaluwatu, untuk
menangani pendidikan HIS di Kepulauan Sangihe.
Tiga
minggu setelah pembukaan sekolah, Valderpoort tiba di Manganitu sebagai kepala
sekolah Eropa pertama.
Bersama
istrinya, ia mengabdikan diri dalam pembangunan HIS dan menjadi berkat besar
bagi perkembangan pendidikan di kepulauan tersebut.
Masa-Masa
Awal yang Sulit
Pada
awalnya sekolah menghadapi banyak kesulitan:
- Rumah
pribadi digunakan sebagai ruang kelas.
- Sebagian
murid belajar di gereja.
- Sebagian
lagi belajar di sekolah pemerintah.
Karena
banyaknya murid, kemudian dibangun sebuah gedung sekolah sederhana dari bambu
di pekarangan misi sehingga seluruh kegiatan belajar dapat dilaksanakan di satu
lokasi.
Valderpoort
juga harus menyusun:
- Kurikulum.
- Jadwal
pelajaran.
- Pelatihan
bagi para guru pembantu.
Setiap
malam pelajaran untuk hari berikutnya dibahas bersama para guru.
Keadaan
mulai membaik ketika Nona A. S. Steller bergabung sebagai guru.
Perkembangan
Asrama
Asrama dipandang sangat penting
bagi pendidikan Kristen.
Awalnya dikelola oleh Nona C. W.
J. Steller. Setelah usia lanjut membuat tugas tersebut terlalu berat, ia
digantikan oleh Nyonya ten Broek, seorang janda misionaris yang
kehilangan suaminya beberapa tahun sebelumnya.
Di sekolah dan asrama inilah para
pemuda Sangihe dibentuk untuk hidup dalam keteraturan, disiplin, dan iman
Kristen.
Pemindahan
ke Tahuna (Taroena)
Setelah
Komite menyediakan tenaga pengajar, sekolah diserahkan kepada Komite Misi.
Pemerintah
kemudian mensyaratkan bahwa agar HIS memperoleh subsidi pendidikan dan
bangunan, sekolah harus dipindahkan ke Taroena (Tahuna) sebagai pusat
pemerintahan.
Karena itu sekolah meninggalkan
Manganitu dan berpindah ke Tahuna.
Walaupun Tahuna pada waktu itu
dianggap lebih panas dan kurang sehat dibanding Manganitu, di sana tersedia
rumah misi dan lahan yang dapat dikembangkan.
Perkembangan
HIS Tahuna
Pada
Mei 1921, Pemerintah menyatakan bahwa HIS Tahuna memenuhi syarat untuk
menerima subsidi.
Dengan
bantuan pemerintah daerah (Landschappen), dibangun:
- Asrama besar untuk murid laki-laki.
- Asrama
besar untuk murid perempuan.
- Rumah
direktur.
- Gedung sekolah permanen yang kokoh.
Gedung permanen tersebut terwujud
berkat subsidi pembangunan yang diberikan pada tahun 1929.
Para
Kepala Sekolah dan Guru
Setelah
Nona A. S. Steller meninggalkan sekolah untuk melanjutkan pendidikan,
kepemimpinan sekolah diteruskan oleh:
- J.
Reijnhout
- C.
W. Faber
Keduanya
dikenal mengabdikan diri sepenuhnya bagi HIS Tahuna.
Sementara
itu, calon pengganti Reijnhout, yaitu Van der Biezen, meninggal dunia
pada 6 Februari 1931 setelah sakit dalam perjalanan menuju Hindia Belanda.
Selain
itu, turut mengajar:
- Nona
A. Goris
- Nona
M. M. Hondius
Namun
kebijakan penghematan anggaran menyebabkan posisi guru Eropa di sekolah ini
kemudian dihapus.
Karena
itu peran para guru pribumi menjadi semakin penting dalam mendidik murid-murid
HIS.
Pengelolaan
Asrama Setelah 1922
Setelah
Nyonya ten Broek kembali ke negerinya, Komite menunjuk Nona C. Bertsch,
seorang wanita Jerman.
Ia
tiba di Tahuna pada 19 April 1922 dan mengelola asrama dengan penuh
dedikasi hingga tahun 1935, sebelum berpindah tugas ke rumah sakit.
Masa
Sulit: Penyakit Kelapa dan Malaise
Pada
tahun 1927, penyakit kelapa menyerang perkebunan rakyat sehingga
pendapatan masyarakat menurun drastis.
Akibatnya banyak orang tua
menarik anak-anak mereka dari sekolah.
Ketika keadaan mulai membaik,
datang lagi krisis ekonomi dunia (Malaise) yang menyebabkan:
- Banyak
murid berhenti sekolah.
- Subsidi
pemerintah dipotong besar-besaran.
Walaupun
demikian, pada akhir tahun 1934, HIS Tahuna masih memiliki:
- 134
murid laki-laki.
- 80
murid perempuan.
- 53
penghuni asrama.
Namun pemerintah berencana
menarik subsidi untuk kepala sekolah Eropa mulai tahun 1938.
Sukacita
dan Prestasi HIS Tahuna
Di
tengah berbagai kesulitan, HIS Tahuna juga mengalami banyak momen membanggakan.
Di
antaranya:
- Kunjungan
Gubernur Jenderal Jhr. A. C. D. de Graeff pada September 1927.
- Murid-murid
lulusan yang melanjutkan studi ke Jawa.
- Konferensi
Pemuda tahun 1926 yang dihadiri banyak alumni dari berbagai daerah bahkan
dari Jawa.
Banyak
alumni kemudian menjadi:
- Guru.
- Pemimpin
jemaat.
- Pegawai
pemerintahan.
- Tokoh
masyarakat.
Harapan
besar pun muncul agar suatu saat seluruh kepemimpinan sekolah dapat diserahkan
kepada tenaga pribumi tanpa kehilangan dasar iman Kristen yang telah
diletakkan.
HIS OELOE (ULU) DI SIAU
Keberhasilan
HIS di Sangihe Besar mendorong masyarakat Pulau Siau untuk memperjuangkan
sekolah serupa sejak tahun 1918.
Tingginya
harga kopra dan pala membuat masyarakat hidup berkecukupan. Namun terbatasnya
lahan dan meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan banyak pemuda mencari
pekerjaan di Manado, Makassar, bahkan Jawa.
Mereka
menyadari bahwa kemampuan berbahasa Belanda membuka peluang pekerjaan yang
lebih baik.
Karena itu masyarakat Siau
mendesak agar HIS dibuka di pulau mereka sendiri.
Pembukaan HIS
Oeloe
Di Oeloe telah berdiri
Hollandsch-Chineesche School yang didirikan oleh pedagang Tionghoa.
Ketika perkumpulan sekolah
Tionghoa menawarkan untuk menyerahkan murid-muridnya kepada sekolah HIS Misi
yang akan dibuka, misi akhirnya memutuskan untuk mendukung pendirian HIS di
Oeloe.
Pada tahun 1929,
pemerintah menyetujui pemberian subsidi.
Pada 6 Januari 1930, HIS
Oeloe resmi dibuka di bawah pimpinan G. Heeringa dengan:
- 120
murid.
- 3
kelas.
Kemudian
turut mengajar:
- Nona
M. J. Bekkering.
- D.
Hekstra.
- Sejumlah
guru pribumi.
Penutupan
HIS Oeloe
Badai
penghematan anggaran pemerintah akhirnya menyebabkan HIS Oeloe tidak dapat
dipertahankan.
Walaupun
masyarakat dan pihak misi telah mengajukan banyak permohonan, sekolah tersebut
tetap ditutup pada 1 Juli 1932.
Sebagai
penggantinya dibuka sebuah Standaardschool, dengan bahasa Belanda hanya
diajarkan pada kelas-kelas tinggi.
Namun
masyarakat tetap menyesalkan hilangnya HIS yang dianggap jauh lebih bermutu.
Sistem
Anak Asuh di Rumah Misionaris
Banyak
keluarga tidak mampu mengirim anak mereka ke HIS.
Sebagai
solusi, para misionaris membuka sistem pengasuhan anak asuh di rumah-rumah
mereka.
Anak-anak dari berbagai lapisan
masyarakat tinggal dalam lingkungan keluarga Kristen dan memperoleh pendidikan
karakter, disiplin, serta keterampilan hidup.
Para
gadis mendapat pelatihan:
- Pekerjaan
rumah tangga.
- Perawatan
anak.
Sebagian
kemudian melanjutkan pendidikan sebagai:
- Perawat.
- Bidan.
Para pemuda yang berbakat
dipersiapkan menjadi:
- Guru.
- Pemimpin
jemaat.
- Diaken.
Ratusan
anak telah merasakan manfaat sistem ini dan kemudian menjadi anggota jemaat
yang setia serta pendukung penting kehidupan gereja dan masyarakat di Kepulauan
Sangihe.
Sumber: Terjemahan dan adaptasi dari
catatan sejarah misi mengenai perkembangan pendidikan HIS di Taroena (Tahuna)
dan Oeloe (Siau) pada masa Hindia Belanda, mencakup periode 1906–1938.
PERIODISASI
SEJARAH HIS TAHUNA DAN HIS OELOE (SIAU)
Masa
Awal Pendidikan Modern di Kawasan Utara Sulawesi (1865–1905)
Tahun
1865
Di
Tondano, Minahasa, didirikan Hoofdenschool, sebuah sekolah bagi penduduk
pribumi yang kemudian menjadi salah satu tujuan pendidikan bagi sebagian
masyarakat Kepulauan Sangihe.
Tahun
1882
Pada
bulan November dibuka Meisjesschool (Sekolah Perempuan) di Tomohon.
Sejumlah anak dari Kepulauan Sangihe memperoleh kesempatan belajar di sana,
meskipun harus menghadapi kendala jarak dan biaya yang besar.
Masa
Perjuangan Mendirikan HIS di Sangihe (1906–1918)
Tahun
1906
Para
Raja atau Zelfbestuurders di Kepulauan Sangihe mengajukan permohonan kepada
Pemerintah Hindia Belanda untuk membuka sebuah Hollandsch-Inlandsche School
(HIS) di wilayah mereka. Permohonan tersebut tidak memperoleh tanggapan.
Tahun
1910
Dalam
Konferensi Pemimpin Jemaat Pribumi, kembali diajukan usulan pendirian HIS. Namun
pemerintah menolak dengan alasan keterbatasan dana dan tenaga pengajar.
Tahun 1914
Pemerintah Hindia Belanda secara
resmi mulai menerapkan sistem pendidikan HIS sebagai bagian dari pelaksanaan
Politik Etis.
Tahun
1914–1918
Komite Misi di Belanda berupaya
memperoleh dukungan pemerintah bagi pendirian HIS di Sangihe. Rencana tersebut
tertunda akibat pecahnya Perang Dunia I yang mengganggu komunikasi dan
pelaksanaan program pendidikan.
25 September
1918
Diadakan rapat umum di Manganitu
yang membahas pendirian HIS Kristen di Kepulauan Sangihe. Tokoh utama penggerak
usaha ini adalah misionaris G. ten Broek.
Dalam rapat tersebut diputuskan
penggunaan rumah misionaris sebagai sekolah dan asrama sementara. Dibentuk pula
badan pengurus sekolah serta dilaksanakan pengumpulan modal melalui sistem
saham. Jumlah saham
yang terkumpul mencapai 175 bagian.
Masa
Perintisan HIS Manganitu (1919–1920)
10
Januari 1919
HIS
Kristen pertama di Kepulauan Sangihe resmi dibuka di Manganitu. Upacara
pembukaan dilaksanakan di gereja dan dihadiri oleh para pejabat serta
masyarakat.
Pada hari pertama kegiatan
belajar mengajar tercatat:
- 99
murid laki-laki
- 43
murid perempuan
Sebagian
besar murid belum menguasai Bahasa Belanda.
Awal
Tahun 1919
Komite Misi Belanda mengirim P.
G. W. Valderpoort sebagai kepala sekolah Eropa pertama. Ia tiba sekitar
tiga minggu setelah sekolah dibuka.
Tahun
1919–1920
Masa awal sekolah diwarnai
berbagai tantangan:
- Kekurangan
ruang belajar.
- Penggunaan
gereja dan sekolah pemerintah sebagai ruang kelas tambahan.
- Pembangunan
gedung bambu sederhana.
- Penyusunan kurikulum dan pelatihan tenaga pengajar
pribumi.
Pada masa ini pula sistem asrama
mulai dibangun sebagai bagian penting dari pendidikan Kristen bagi murid-murid
yang berasal dari berbagai pulau.
Masa
Pemindahan dan Penguatan HIS Tahuna (1921–1926)
Mei
1921
Pemerintah
menyatakan HIS memenuhi syarat untuk menerima subsidi pendidikan.
Tahun
1921–1922
Sebagai
syarat memperoleh subsidi yang lebih besar, sekolah dipindahkan dari Manganitu
ke Taroena (Tahuna) yang merupakan pusat pemerintahan Kepulauan Sangihe.
19
April 1922
Nona
C. Bertsch, seorang tenaga misi berkebangsaan Jerman, tiba di Tahuna
untuk mengelola asrama sekolah. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh penting
dalam pembinaan kehidupan murid.
Tahun
1922–1926
Sekolah berkembang secara
bertahap. Asrama laki-laki dan perempuan diperluas, jumlah murid meningkat, dan
HIS mulai menjadi pusat pendidikan menengah masyarakat Kristen Sangihe.
Tahun 1926
Diselenggarakan konferensi pemuda
yang dihadiri para alumni HIS dari berbagai daerah, bahkan dari Pulau Jawa. Kegiatan ini menunjukkan mulai
terbentuknya jaringan intelektual lulusan HIS asal Kepulauan Sangihe.
Masa
Pertumbuhan dan Tantangan Ekonomi (1927–1929)
September 1927
Gubernur Jenderal Hindia Belanda,
Jhr. A. C. D. de Graeff, mengunjungi HIS Tahuna. Kunjungan ini menjadi
salah satu peristiwa penting dalam sejarah sekolah tersebut.
Tahun 1927
Perkebunan kelapa di Kepulauan
Sangihe terserang penyakit yang menyebabkan pendapatan masyarakat menurun
drastis. Banyak orang tua terpaksa menarik anak-anak mereka dari sekolah.
Tahun 1929
Dengan bantuan subsidi
pemerintah, dibangun gedung sekolah permanen yang lebih kokoh di Tahuna. Pada
masa yang sama asrama laki-laki dan perempuan juga diperluas.
Tahun ini pula pemerintah
menyetujui pemberian subsidi bagi pembukaan HIS baru di Oeloe, Pulau Siau.
Masa
HIS Oeloe di Pulau Siau (1930–1932)
6
Januari 1930
HIS
Oeloe resmi dibuka di Pulau Siau di bawah pimpinan G. Heeringa.
Sekolah
memulai kegiatan dengan 120 murid yang dibagi ke dalam tiga kelas.
Selain guru-guru pribumi, sekolah
ini juga didukung oleh tenaga pengajar Eropa seperti M. J. Bekkering dan
D. Hekstra.
6 Februari
1931
Calon kepala sekolah pengganti di
Tahuna, Van der Biezen, meninggal dunia di Batavia setelah jatuh sakit
dalam perjalanan menuju Hindia Belanda.
1 Juli 1932
Akibat kebijakan penghematan
anggaran pemerintah kolonial (bezuiniging), HIS Oeloe resmi ditutup.
Sebagai pengganti dibuka sebuah
Standaardschool yang hanya mengajarkan Bahasa Belanda sebagai mata pelajaran
pada kelas-kelas atas.
Penutupan HIS Oeloe menimbulkan
kekecewaan besar di kalangan masyarakat Pulau Siau.
Masa
Krisis Ekonomi dan Upaya Bertahan (1932–1938)
Tahun
1932–1934
Krisis
ekonomi dunia (Malaise) berdampak langsung pada masyarakat Kepulauan Sangihe.
Banyak keluarga kehilangan
kemampuan untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Pada saat yang sama
pemerintah mengurangi berbagai subsidi pendidikan.
Akhir Tahun
1934
Meskipun menghadapi berbagai
kesulitan, HIS Tahuna masih mempertahankan jumlah murid yang cukup besar,
yaitu:
- 134
murid laki-laki.
- 80
murid perempuan.
Sebanyak
53 murid tinggal di asrama.
Tahun
1935
Nona
C. Bertsch mengakhiri tugasnya sebagai pengelola asrama setelah lebih dari satu
dasawarsa mengabdi di Tahuna.
Tahun
1938
Pemerintah merencanakan
penghentian subsidi bagi kepala sekolah berkebangsaan Eropa. Kebijakan ini menimbulkan
kekhawatiran mengenai masa depan HIS Tahuna.
Masa
Akhir HIS (1942–1945)
Tahun
1942
Pendudukan
Jepang mengakhiri seluruh sistem pendidikan kolonial Belanda di Indonesia.
Hollandsch-Inlandsche
School (HIS), termasuk HIS Tahuna, dibubarkan dan digantikan oleh sistem
pendidikan yang disesuaikan dengan kepentingan pemerintahan militer Jepang.
Tahun
1945 dan Sesudahnya
Setelah
Indonesia merdeka, sistem HIS tidak dihidupkan kembali.
Pemerintah
Indonesia membangun sistem pendidikan nasional yang baru dan menggantikan
seluruh struktur pendidikan kolonial yang sebelumnya berlaku.
Kesimpulan
Sejarah
HIS Tahuna merupakan kisah perjuangan masyarakat Kepulauan Sangihe untuk
memperoleh pendidikan modern berbahasa Belanda. Dimulai dari permohonan para
raja pada tahun 1906, diwujudkan melalui pembukaan HIS di Manganitu pada tahun
1919, berkembang di Tahuna setelah memperoleh subsidi pemerintah, dan menjadi
pusat lahirnya generasi terdidik Sangihe hingga berakhirnya pemerintahan
Belanda pada tahun 1942. HIS tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi
juga menjadi sarana pembentukan elit intelektual, guru, pemimpin jemaat, dan
tokoh masyarakat yang berperan penting dalam perkembangan sosial dan keagamaan
Kepulauan Sangihe pada paruh pertama abad ke-20.
