SEJARAH SEKOLAH HIS TAHUNA DAN SIAU

 

SEJARAH HIS TAHUNA   DAN  SIAU




Pengertian HIS

HIS merupakan singkatan dari Hollandsch-Inlandsche School, yaitu sekolah dasar yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda khusus bagi anak-anak penduduk pribumi (golongan Inlanders).

Tujuan Pendiriana HIS

Sekolah ini diselenggarakan untuk memberikan pendidikan formal bergaya Barat (Belanda) kepada anak-anak dari kalangan bangsawan, tokoh masyarakat terkemuka, dan pegawai pemerintahan pribumi.

Kurikulum dan Bahasa Pengantar

Berbeda dengan sekolah pribumi lainnya seperti Volksschool (Sekolah Desa), HIS menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar utama. Karena itu HIS dianggap sebagai sekolah elit dan prestisius pada zamannya.

Lama Pendidikan

Pendidikan di HIS ditempuh selama 7 tahun. Lulusan HIS dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setingkat sekolah menengah pertama berbahasa Belanda.

 

Kelahiran dan Berakhirnya HIS

HIS didirikan sebagai bagian dari pelaksanaan Politik Etis Pemerintah Hindia Belanda dan secara resmi mulai berdiri pada tahun 1914.

Tujuan pendiriannya adalah:

  • Memenuhi kebutuhan tenaga administrasi dan pegawai rendahan yang terampil serta mampu berbahasa Belanda.
  • Menjalankan birokrasi pemerintahan kolonial.
  • Menjadi bagian dari program "balas budi" pemerintah kolonial melalui bidang pendidikan.

Berakhirnya HIS

HIS berhenti beroperasi pada tahun 1942, bersamaan dengan runtuhnya pemerintahan kolonial Belanda akibat pendudukan Jepang.

Masuknya Jepang menyebabkan sistem pendidikan kolonial dibubarkan dan digantikan dengan sistem pendidikan yang disesuaikan dengan kepentingan pemerintahan militer Jepang.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sistem HIS tidak dihidupkan kembali dan digantikan oleh sistem pendidikan nasional Indonesia.

HIS sering dipandang sebagai simbol stratifikasi sosial pada masa kolonial. Akses yang terbatas serta penggunaan bahasa Belanda menjadikannya pintu masuk bagi lahirnya kaum intelektual pribumi yang kemudian berperan penting dalam pergerakan nasional Indonesia.

 

HIS TAHUNA

Seiring meluasnya peradaban dan semakin mendalamnya kehidupan rohani masyarakat, kebutuhan akan pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik semakin meningkat.

Di Minahasa yang bertetangga, sejak tahun 1865 telah berdiri Hoofdenschool di Tondano dan sejak November 1882 telah ada Meisjesschool di Tomohon. Beberapa penduduk Kepulauan Sangihe telah memanfaatkan sekolah-sekolah tersebut, namun jarak yang jauh dan biaya yang tinggi menjadi hambatan besar.

Di kalangan masyarakat berada muncul keinginan kuat untuk memiliki lembaga pendidikan serupa di wilayah mereka sendiri. Selain sekolah, dibutuhkan pula asrama bagi murid-murid yang berasal dari pulau-pulau lain.

Permohonan Pendirian HIS

Pada tahun 1906, beberapa Raja atau Zelfbestuurders mengajukan permohonan kepada Pemerintah agar dibuka sebuah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Kepulauan Sangihe. Namun permohonan tersebut tidak mendapat tanggapan.

Pada Konferensi Pemimpin Jemaat Pribumi tahun 1910, permohonan yang sama kembali diajukan. Akan tetapi, alasan kekurangan dana dan tenaga pengajar menyebabkan usulan tersebut kembali ditolak.

Meski demikian, persoalan pendidikan tetap menjadi agenda tahunan konferensi tersebut dan terus disampaikan kepada Komite Misi di Belanda. Komite berhasil memperoleh janji subsidi dari pemerintah, namun pecahnya Perang Dunia I menyebabkan pelaksanaan rencana itu tertunda.

 

Rencana Mendirikan HIS Kristen

Akibat terputusnya komunikasi dengan pimpinan misi di Belanda selama perang dunia, para pekerja misi dan tokoh-tokoh masyarakat pribumi mulai menyusun rencana untuk mendirikan HIS Kristen bersama pemerintah tanpa menunggu bantuan dari Belanda.

Tokoh utama gerakan ini adalah mendiang misionaris G. ten Broek.

Pada 25 September 1918, diadakan rapat umum di Manganitu untuk membahas pendirian sekolah tersebut.

Rumah misionaris yang kosong di Manganitu direncanakan menjadi sekolah dan asrama sementara. Sebuah bangunan tambahan akan dibangun sebagai tempat tinggal murid laki-laki.

Nona C. W. J. Steller, putri dari mendiang pekerja misi E. T. Steller, yang memiliki ijazah guru, bersedia menjadi kepala sekolah dan pengelola asrama sementara.

Untuk membantunya disiapkan:

  • Seorang pembantu pribumi untuk mengurus asrama.
  • Dua guru pribumi lulusan Volksschool.
  • Dua gadis pribumi lulusan Klein-Ambtenaar yang akan membantu di sekolah.

 

Pengumpulan Dana

Untuk membiayai sekolah dan asrama, setiap calon orang tua murid diminta membeli satu saham senilai 100 gulden, yang dapat dicicil sebesar 10 gulden per bulan.

Dana tersebut dimaksudkan untuk:

  • Menutupi biaya operasional awal.
  • Membangun gedung sekolah permanen.
  • Membangun asrama permanen.

Dalam rapat pertama terkumpul 87 saham, yang kemudian meningkat menjadi 175 saham.

Dibentuk pula sebuah pengurus yang terdiri dari:

  • Dua misionaris.
  • Seorang Zelfbestuurder.
  • Dua kepala distrik.
  • Seorang guru pemerintah.

Diputuskan pula bahwa apabila Komite Sangihe-Talaud kelak mendirikan HIS sendiri, maka perkumpulan ini akan dibubarkan.

 

Pembukaan HIS Manganitu

Pada tanggal 10 Januari 1919, sekolah resmi dibuka.

Upacara pembukaan dilaksanakan di Gereja Manganitu dan dihadiri banyak pejabat serta masyarakat.

Keesokan harinya Nona Steller bersama stafnya mulai mengajar:

  • 99 murid laki-laki
  • 43 murid perempuan

Sebagian besar murid baru bisa membaca dan menulis, sementara hanya beberapa orang saja yang telah memahami bahasa Belanda karena pernah bersekolah di HIS Minahasa.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak perlu dipaksa untuk bersekolah. Sebaliknya, mereka secara sukarela memberikan bantuan dana dan menunjukkan inisiatif sendiri untuk mewujudkan lembaga pendidikan tersebut.

 

Kedatangan Kepala Sekolah Eropa

Komite Misi di Belanda kemudian menunjuk P. G. W. Valderpoort, yang semula ditugaskan di lembaga pendidikan guru dan pemimpin jemaat di Kaluwatu, untuk menangani pendidikan HIS di Kepulauan Sangihe.

Tiga minggu setelah pembukaan sekolah, Valderpoort tiba di Manganitu sebagai kepala sekolah Eropa pertama.

Bersama istrinya, ia mengabdikan diri dalam pembangunan HIS dan menjadi berkat besar bagi perkembangan pendidikan di kepulauan tersebut.

 

Masa-Masa Awal yang Sulit

Pada awalnya sekolah menghadapi banyak kesulitan:

  • Rumah pribadi digunakan sebagai ruang kelas.
  • Sebagian murid belajar di gereja.
  • Sebagian lagi belajar di sekolah pemerintah.

Karena banyaknya murid, kemudian dibangun sebuah gedung sekolah sederhana dari bambu di pekarangan misi sehingga seluruh kegiatan belajar dapat dilaksanakan di satu lokasi.

Valderpoort juga harus menyusun:

  • Kurikulum.
  • Jadwal pelajaran.
  • Pelatihan bagi para guru pembantu.

Setiap malam pelajaran untuk hari berikutnya dibahas bersama para guru.

Keadaan mulai membaik ketika Nona A. S. Steller bergabung sebagai guru.

 

Perkembangan Asrama

Asrama dipandang sangat penting bagi pendidikan Kristen.

Awalnya dikelola oleh Nona C. W. J. Steller. Setelah usia lanjut membuat tugas tersebut terlalu berat, ia digantikan oleh Nyonya ten Broek, seorang janda misionaris yang kehilangan suaminya beberapa tahun sebelumnya.

Di sekolah dan asrama inilah para pemuda Sangihe dibentuk untuk hidup dalam keteraturan, disiplin, dan iman Kristen.

 

Pemindahan ke Tahuna (Taroena)

Setelah Komite menyediakan tenaga pengajar, sekolah diserahkan kepada Komite Misi.

Pemerintah kemudian mensyaratkan bahwa agar HIS memperoleh subsidi pendidikan dan bangunan, sekolah harus dipindahkan ke Taroena (Tahuna) sebagai pusat pemerintahan.

Karena itu sekolah meninggalkan Manganitu dan berpindah ke Tahuna.

Walaupun Tahuna pada waktu itu dianggap lebih panas dan kurang sehat dibanding Manganitu, di sana tersedia rumah misi dan lahan yang dapat dikembangkan.

 

Perkembangan HIS Tahuna

Pada Mei 1921, Pemerintah menyatakan bahwa HIS Tahuna memenuhi syarat untuk menerima subsidi.

Dengan bantuan pemerintah daerah (Landschappen), dibangun:

  • Asrama besar untuk murid laki-laki.
  • Asrama besar untuk murid perempuan.
  • Rumah direktur.
  • Gedung sekolah permanen yang kokoh.

Gedung permanen tersebut terwujud berkat subsidi pembangunan yang diberikan pada tahun 1929.

 

Para Kepala Sekolah dan Guru

Setelah Nona A. S. Steller meninggalkan sekolah untuk melanjutkan pendidikan, kepemimpinan sekolah diteruskan oleh:

  1. J. Reijnhout
  2. C. W. Faber

Keduanya dikenal mengabdikan diri sepenuhnya bagi HIS Tahuna.

Sementara itu, calon pengganti Reijnhout, yaitu Van der Biezen, meninggal dunia pada 6 Februari 1931 setelah sakit dalam perjalanan menuju Hindia Belanda.

Selain itu, turut mengajar:

  • Nona A. Goris
  • Nona M. M. Hondius

Namun kebijakan penghematan anggaran menyebabkan posisi guru Eropa di sekolah ini kemudian dihapus.

Karena itu peran para guru pribumi menjadi semakin penting dalam mendidik murid-murid HIS.

 

Pengelolaan Asrama Setelah 1922

Setelah Nyonya ten Broek kembali ke negerinya, Komite menunjuk Nona C. Bertsch, seorang wanita Jerman.

Ia tiba di Tahuna pada 19 April 1922 dan mengelola asrama dengan penuh dedikasi hingga tahun 1935, sebelum berpindah tugas ke rumah sakit.

 

Masa Sulit: Penyakit Kelapa dan Malaise

Pada tahun 1927, penyakit kelapa menyerang perkebunan rakyat sehingga pendapatan masyarakat menurun drastis.

Akibatnya banyak orang tua menarik anak-anak mereka dari sekolah.

Ketika keadaan mulai membaik, datang lagi krisis ekonomi dunia (Malaise) yang menyebabkan:

  • Banyak murid berhenti sekolah.
  • Subsidi pemerintah dipotong besar-besaran.

Walaupun demikian, pada akhir tahun 1934, HIS Tahuna masih memiliki:

  • 134 murid laki-laki.
  • 80 murid perempuan.
  • 53 penghuni asrama.

Namun pemerintah berencana menarik subsidi untuk kepala sekolah Eropa mulai tahun 1938.

 

Sukacita dan Prestasi HIS Tahuna

Di tengah berbagai kesulitan, HIS Tahuna juga mengalami banyak momen membanggakan.

Di antaranya:

  • Kunjungan Gubernur Jenderal Jhr. A. C. D. de Graeff pada September 1927.
  • Murid-murid lulusan yang melanjutkan studi ke Jawa.
  • Konferensi Pemuda tahun 1926 yang dihadiri banyak alumni dari berbagai daerah bahkan dari Jawa.

Banyak alumni kemudian menjadi:

  • Guru.
  • Pemimpin jemaat.
  • Pegawai pemerintahan.
  • Tokoh masyarakat.

Harapan besar pun muncul agar suatu saat seluruh kepemimpinan sekolah dapat diserahkan kepada tenaga pribumi tanpa kehilangan dasar iman Kristen yang telah diletakkan.

 

HIS OELOE (ULU) DI SIAU

Keberhasilan HIS di Sangihe Besar mendorong masyarakat Pulau Siau untuk memperjuangkan sekolah serupa sejak tahun 1918.

Tingginya harga kopra dan pala membuat masyarakat hidup berkecukupan. Namun terbatasnya lahan dan meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan banyak pemuda mencari pekerjaan di Manado, Makassar, bahkan Jawa.

Mereka menyadari bahwa kemampuan berbahasa Belanda membuka peluang pekerjaan yang lebih baik.

Karena itu masyarakat Siau mendesak agar HIS dibuka di pulau mereka sendiri.

 

Pembukaan HIS Oeloe

Di Oeloe telah berdiri Hollandsch-Chineesche School yang didirikan oleh pedagang Tionghoa.

Ketika perkumpulan sekolah Tionghoa menawarkan untuk menyerahkan murid-muridnya kepada sekolah HIS Misi yang akan dibuka, misi akhirnya memutuskan untuk mendukung pendirian HIS di Oeloe.

Pada tahun 1929, pemerintah menyetujui pemberian subsidi.

Pada 6 Januari 1930, HIS Oeloe resmi dibuka di bawah pimpinan G. Heeringa dengan:

  • 120 murid.
  • 3 kelas.

Kemudian turut mengajar:

  • Nona M. J. Bekkering.
  • D. Hekstra.
  • Sejumlah guru pribumi.

 

Penutupan HIS Oeloe

Badai penghematan anggaran pemerintah akhirnya menyebabkan HIS Oeloe tidak dapat dipertahankan.

Walaupun masyarakat dan pihak misi telah mengajukan banyak permohonan, sekolah tersebut tetap ditutup pada 1 Juli 1932.

Sebagai penggantinya dibuka sebuah Standaardschool, dengan bahasa Belanda hanya diajarkan pada kelas-kelas tinggi.

Namun masyarakat tetap menyesalkan hilangnya HIS yang dianggap jauh lebih bermutu.

 

Sistem Anak Asuh di Rumah Misionaris

Banyak keluarga tidak mampu mengirim anak mereka ke HIS.

Sebagai solusi, para misionaris membuka sistem pengasuhan anak asuh di rumah-rumah mereka.

Anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat tinggal dalam lingkungan keluarga Kristen dan memperoleh pendidikan karakter, disiplin, serta keterampilan hidup.

Para gadis mendapat pelatihan:

  • Pekerjaan rumah tangga.
  • Perawatan anak.

Sebagian kemudian melanjutkan pendidikan sebagai:

  • Perawat.
  • Bidan.

Para pemuda yang berbakat dipersiapkan menjadi:

  • Guru.
  • Pemimpin jemaat.
  • Diaken.

Ratusan anak telah merasakan manfaat sistem ini dan kemudian menjadi anggota jemaat yang setia serta pendukung penting kehidupan gereja dan masyarakat di Kepulauan Sangihe.

 

Sumber: Terjemahan dan adaptasi dari catatan sejarah misi mengenai perkembangan pendidikan HIS di Taroena (Tahuna) dan Oeloe (Siau) pada masa Hindia Belanda, mencakup periode 1906–1938.

 

 

PERIODISASI SEJARAH HIS TAHUNA DAN HIS OELOE (SIAU)

Masa Awal Pendidikan Modern di Kawasan Utara Sulawesi (1865–1905)

Tahun 1865

Di Tondano, Minahasa, didirikan Hoofdenschool, sebuah sekolah bagi penduduk pribumi yang kemudian menjadi salah satu tujuan pendidikan bagi sebagian masyarakat Kepulauan Sangihe.

Tahun 1882

Pada bulan November dibuka Meisjesschool (Sekolah Perempuan) di Tomohon. Sejumlah anak dari Kepulauan Sangihe memperoleh kesempatan belajar di sana, meskipun harus menghadapi kendala jarak dan biaya yang besar.


Masa Perjuangan Mendirikan HIS di Sangihe (1906–1918)

Tahun 1906

Para Raja atau Zelfbestuurders di Kepulauan Sangihe mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk membuka sebuah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di wilayah mereka. Permohonan tersebut tidak memperoleh tanggapan.

Tahun 1910

Dalam Konferensi Pemimpin Jemaat Pribumi, kembali diajukan usulan pendirian HIS. Namun pemerintah menolak dengan alasan keterbatasan dana dan tenaga pengajar.

Tahun 1914

Pemerintah Hindia Belanda secara resmi mulai menerapkan sistem pendidikan HIS sebagai bagian dari pelaksanaan Politik Etis.

Tahun 1914–1918

Komite Misi di Belanda berupaya memperoleh dukungan pemerintah bagi pendirian HIS di Sangihe. Rencana tersebut tertunda akibat pecahnya Perang Dunia I yang mengganggu komunikasi dan pelaksanaan program pendidikan.

25 September 1918

Diadakan rapat umum di Manganitu yang membahas pendirian HIS Kristen di Kepulauan Sangihe. Tokoh utama penggerak usaha ini adalah misionaris G. ten Broek.

Dalam rapat tersebut diputuskan penggunaan rumah misionaris sebagai sekolah dan asrama sementara. Dibentuk pula badan pengurus sekolah serta dilaksanakan pengumpulan modal melalui sistem saham. Jumlah saham yang terkumpul mencapai 175 bagian.


Masa Perintisan HIS Manganitu (1919–1920)

10 Januari 1919

HIS Kristen pertama di Kepulauan Sangihe resmi dibuka di Manganitu. Upacara pembukaan dilaksanakan di gereja dan dihadiri oleh para pejabat serta masyarakat.

Pada hari pertama kegiatan belajar mengajar tercatat:

  • 99 murid laki-laki
  • 43 murid perempuan

Sebagian besar murid belum menguasai Bahasa Belanda.

Awal Tahun 1919

Komite Misi Belanda mengirim P. G. W. Valderpoort sebagai kepala sekolah Eropa pertama. Ia tiba sekitar tiga minggu setelah sekolah dibuka.

Tahun 1919–1920

Masa awal sekolah diwarnai berbagai tantangan:

  • Kekurangan ruang belajar.
  • Penggunaan gereja dan sekolah pemerintah sebagai ruang kelas tambahan.
  • Pembangunan gedung bambu sederhana.
  • Penyusunan kurikulum dan pelatihan tenaga pengajar pribumi.

Pada masa ini pula sistem asrama mulai dibangun sebagai bagian penting dari pendidikan Kristen bagi murid-murid yang berasal dari berbagai pulau.


Masa Pemindahan dan Penguatan HIS Tahuna (1921–1926)

Mei 1921

Pemerintah menyatakan HIS memenuhi syarat untuk menerima subsidi pendidikan.

Tahun 1921–1922

Sebagai syarat memperoleh subsidi yang lebih besar, sekolah dipindahkan dari Manganitu ke Taroena (Tahuna) yang merupakan pusat pemerintahan Kepulauan Sangihe.

19 April 1922

Nona C. Bertsch, seorang tenaga misi berkebangsaan Jerman, tiba di Tahuna untuk mengelola asrama sekolah. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam pembinaan kehidupan murid.

Tahun 1922–1926

Sekolah berkembang secara bertahap. Asrama laki-laki dan perempuan diperluas, jumlah murid meningkat, dan HIS mulai menjadi pusat pendidikan menengah masyarakat Kristen Sangihe.

Tahun 1926

Diselenggarakan konferensi pemuda yang dihadiri para alumni HIS dari berbagai daerah, bahkan dari Pulau Jawa. Kegiatan ini menunjukkan mulai terbentuknya jaringan intelektual lulusan HIS asal Kepulauan Sangihe.


Masa Pertumbuhan dan Tantangan Ekonomi (1927–1929)

September 1927

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jhr. A. C. D. de Graeff, mengunjungi HIS Tahuna. Kunjungan ini menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah sekolah tersebut.

Tahun 1927

Perkebunan kelapa di Kepulauan Sangihe terserang penyakit yang menyebabkan pendapatan masyarakat menurun drastis. Banyak orang tua terpaksa menarik anak-anak mereka dari sekolah.

Tahun 1929

Dengan bantuan subsidi pemerintah, dibangun gedung sekolah permanen yang lebih kokoh di Tahuna. Pada masa yang sama asrama laki-laki dan perempuan juga diperluas.

Tahun ini pula pemerintah menyetujui pemberian subsidi bagi pembukaan HIS baru di Oeloe, Pulau Siau.


Masa HIS Oeloe di Pulau Siau (1930–1932)

6 Januari 1930

HIS Oeloe resmi dibuka di Pulau Siau di bawah pimpinan G. Heeringa.

Sekolah memulai kegiatan dengan 120 murid yang dibagi ke dalam tiga kelas.

Selain guru-guru pribumi, sekolah ini juga didukung oleh tenaga pengajar Eropa seperti M. J. Bekkering dan D. Hekstra.

6 Februari 1931

Calon kepala sekolah pengganti di Tahuna, Van der Biezen, meninggal dunia di Batavia setelah jatuh sakit dalam perjalanan menuju Hindia Belanda.

1 Juli 1932

Akibat kebijakan penghematan anggaran pemerintah kolonial (bezuiniging), HIS Oeloe resmi ditutup.

Sebagai pengganti dibuka sebuah Standaardschool yang hanya mengajarkan Bahasa Belanda sebagai mata pelajaran pada kelas-kelas atas.

Penutupan HIS Oeloe menimbulkan kekecewaan besar di kalangan masyarakat Pulau Siau.


Masa Krisis Ekonomi dan Upaya Bertahan (1932–1938)

Tahun 1932–1934

Krisis ekonomi dunia (Malaise) berdampak langsung pada masyarakat Kepulauan Sangihe.

Banyak keluarga kehilangan kemampuan untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Pada saat yang sama pemerintah mengurangi berbagai subsidi pendidikan.

Akhir Tahun 1934

Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, HIS Tahuna masih mempertahankan jumlah murid yang cukup besar, yaitu:

  • 134 murid laki-laki.
  • 80 murid perempuan.

Sebanyak 53 murid tinggal di asrama.

Tahun 1935

Nona C. Bertsch mengakhiri tugasnya sebagai pengelola asrama setelah lebih dari satu dasawarsa mengabdi di Tahuna.

Tahun 1938

Pemerintah merencanakan penghentian subsidi bagi kepala sekolah berkebangsaan Eropa. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan HIS Tahuna.

 

Masa Akhir HIS (1942–1945)

Tahun 1942

Pendudukan Jepang mengakhiri seluruh sistem pendidikan kolonial Belanda di Indonesia.

Hollandsch-Inlandsche School (HIS), termasuk HIS Tahuna, dibubarkan dan digantikan oleh sistem pendidikan yang disesuaikan dengan kepentingan pemerintahan militer Jepang.

Tahun 1945 dan Sesudahnya

Setelah Indonesia merdeka, sistem HIS tidak dihidupkan kembali.

Pemerintah Indonesia membangun sistem pendidikan nasional yang baru dan menggantikan seluruh struktur pendidikan kolonial yang sebelumnya berlaku.

 

Kesimpulan

Sejarah HIS Tahuna merupakan kisah perjuangan masyarakat Kepulauan Sangihe untuk memperoleh pendidikan modern berbahasa Belanda. Dimulai dari permohonan para raja pada tahun 1906, diwujudkan melalui pembukaan HIS di Manganitu pada tahun 1919, berkembang di Tahuna setelah memperoleh subsidi pemerintah, dan menjadi pusat lahirnya generasi terdidik Sangihe hingga berakhirnya pemerintahan Belanda pada tahun 1942. HIS tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan elit intelektual, guru, pemimpin jemaat, dan tokoh masyarakat yang berperan penting dalam perkembangan sosial dan keagamaan Kepulauan Sangihe pada paruh pertama abad ke-20.

 

 

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja