352 TAHUN PEKABARAN INJIL DI PULAU SANGIHE DAN 343 TAHUN KHOTBAH BAHASA SANGIR.

 

352  TAHUN PEKABARAN  INJIL  DI  PULAU  SANGIHE  DAN 343 TAHUN  KHOTBAH BAHASA  SANGIR.



Menelusuri Sejarah Penginjilan Protestan Mula-Mula di Pulau Sangihe: Jejak Langkah dan Warisan Don Luis Melangin Takaulimang

Oleh  :  Alffian  Walukow

Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara menyimpan rekam jejak sejarah kekristenan yang panjang, berliku, sekaligus dramatis. Jauh sebelum lembaga misi modern menata pelayanan gerejawi di kawasan perbatasan ini, fajar kekristenan Protestan telah merekah melalui kedatangan para pendeta VOC (Verenigde Oostindische Compagnie), yang kemudian diteruskan oleh sosok monumental pribumi pertama: Raja Don Luis Melangin Takaulimang.

Bagaimana dinamika pekabaran Injil Protestan mula-mula di tanah Sangihe, dan seperti apa periodisasi sejarahnya hingga tahun 2026 ini? Berikut ulasan mendalamnya.

Awal Mula Penginjilan VOC dan Tantangan Kaum Ordo Yesuit

Jejak pekabaran Injil Protestan di kepulauan Sangihe dan Talaud dimulai secara sporadis pada paruh kedua abad ke-17. Kedatangan para pendeta Protestan dari VOC awalnya diwarnai oleh benturan pengaruh dengan misionaris Katolik Roma (Ordo Yesuit) yang telah lebih dulu menapakkan kaki di bawah naungan pengaruh Spanyol.

Pada masa-masa awal, pendeta Protestan berkunjung dalam selang waktu yang sangat jarang. Tercatat pada tahun 1674, Pendeta (Ds.) F. Dionysius (yang juga dikenal dengan nama Latinnya, Paludanus) melakukan kunjungan pastoral ke pulau-pulau ini. Malangnya, ia jatuh sakit dalam perjalanan dan meninggal dunia, lalu dimakamkan di Taroena (Tahuna).

Kematian Ds. Dionysius disusul oleh tragedi berikutnya ketika pendeta penggantinya, Ds. Is. Huisman, juga meninggal dunia dan dimakamkan berdampingan di Taroena. Setahun kemudian, Ds. J. Montanus mendapati kedua makam tersebut tertutup sedikit tanah dengan sangat bersahaja, hingga muncul niat dari seorang pejabat bernama Tuan de Ghein untuk membangunnya kembali menggunakan batu kapur. Baru pada tahun 1925, makam bersejarah di luar Taroena arah menuju Angges ini dipugar rapi atas biaya jemaat pribumi setempat.

Terobosan Bahasa oleh Cornelis de Leeuw

Kemandirian rohani di kepulauan ini mulai mendapat perhatian serius ketika klasis (ressort) Ternate dipecah dan dipindahkan ke Manado. Pendeta Cornelis de Leeuw, yang bertugas di Manado pada tahun 1680–1689, menjadi pionir penting.

Ds. De Leeuw tidak hanya menempatkan guru sekolah pertama di Talaud, tetapi juga menerjemahkan buku katekisasi ke dalam bahasa Sangihe. Bahkan pada tahun 1683, ia mengukir prestasi langka dengan berkhotbah langsung menggunakan bahasa Sangihe—sebuah pencapaian luar biasa pada zamannya yang membuat gajinya dinaikkan secara khusus oleh VOC menjadi 120 gulden per bulan.

Don Luis Melangin Takaulimang: Penginjil Pribumi Sangihe Pertama

Memasuki akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18, lahirlah babak baru kekristenan yang digerakkan oleh anak suku asli Sangihe. Tokoh utamanya adalah Raja Don Luis Melangin Takaulimang, yang memerintah pada tahun 1697–1705.

Don Luis Melangin bukan sekadar penguasa politik yang menandatangani perjanjian dengan Gubernur VOC Salomon le Sage di Ternate. Ia adalah seorang pemimpin yang mengawinkan otoritas kerajaan dengan panggilan rohani. Sejak ditetapkan menjadi Raja, ia turun langsung melaksanakan pelayanan Injil, menjadikannya pribumi Sangihe pertama yang bertindak sebagai pekabar Injil (misionaris) di tanah kelahirannya.

Salah satu jasa monumentalnya adalah memindahkan gedung gereja Protestan dari Tanjung Tahuna ke lokasi baru di pusat negeri, yang saat ini menjadi lokasi berdirinya Gereja GMIST Imanuel Tahuna.

Ketika Raja Don Luis mangkat pada tahun 1705, jenazah sang raja-penginjil ini dimakamkan di halaman rumahnya sendiri. Kini, lokasi tersebut telah beralih fungsi menjadi Rumah Dinas Ketua Sinode GMIST. Kendati memiliki kontribusi sejarah yang sangat masif bagi kekristenan Sangihe, ironisnya makam sang pionir ini sempat terabaikan dan tertimbun tanah tanpa ingatan kolektif yang layak dari generasi penerusnya.

Era Kemunduran: Pengabaian oleh VOC dan Krisis Finansial

Pasca-era Raja Don Luis, pelayanan rohani di Sangihe mengalami kemunduran hebat (het verval). Karena VOC mulai mengalami kemunduran finansial sejak akhir abad ke-17, anggaran untuk pelayanan rohani dipangkas habis-habisan. Pos pendeta dikurangi dan wilayah pelayanan diperluas.

Akibatnya, kunjungan pendeta Eropa ke Sangihe hanya terjadi sekali dalam sepuluh hingga dua puluh tahun. Pelayanan jemaat sehari-hari terpaksa diserahkan kepada guru-guru sekolah pribumi yang tidak mendapatkan pembekalan Alkitab maupun literatur yang layak. Dampaknya, kekristenan di Sangihe menjadi mandek. Ribuan orang dibaptis secara massal tanpa pemahaman iman yang mendalam.

Ketika Ds. A. Brand berkunjung pada tahun 1705, ia mendapati 3.298 orang Kristen di Siau, namun tidak ada satu pun yang paham esensi iman hingga Perjamuan Kudus tidak dapat dilayankan. Kondisi menyedihkan ini terus berlanjut hingga runtuhnya VOC secara total pada tahun 1796 akibat beban utang, yang menyisakan kepulauan Sangihe dalam kondisi "pintu yang terbuka, namun tidak ada seorang pun pendeta yang masuk ke dalamnya."

Periodisasi Sejarah Penginjilan Protestan Mula-Mula di Sangihe

Untuk memetakan linimasa sejarah penginjilan di Sangihe berdasarkan rangkaian peristiwa di atas, berikut adalah pembagian periodisasinya:

1. Periode Penjajakan Pastoral VOC dan Dominasi Ordo Yesuit (1664 – 1679)

  • 1664: Aliansi awal VOC di Tagulandang dengan Raja Bapias; pengaruh romo-romo Yesuit Spanyol (seperti Pastor Espagnol dan Pastor Turcotti) masih sangat kuat di Siau dan Talaud.
  • 1674: Kunjungan dan wafatnya Pendeta F. Dionysius di Taroena, disusul wafatnya Pendeta Is. Huisman dan kunjungan Ds. J. Montanus pada tahun berikutnya.
  • 1676: Kunjungan dan penyusunan laporan luas oleh Pendeta Peregrinus.

2. Periode Peletakan Dasar Konseptual dan Bahasa (1680 – 1696)

  • 1680–1689: Pendeta Cornelis de Leeuw bertugas dari Manado, menempatkan guru pertama di Talaud, dan menerjemahkan buku katekisasi ke dalam bahasa Sangihe.
  • 1683: Ds. Cornelis de Leeuw pertama kali berkhotbah dalam bahasa Sangihe.
  • 1685: Majelis Gereja Batavia mengecam kemerosotan moral Radja Tabukan, menandakan tantangan relasi gereja-penguasa lokal.

3. Periode Penginjilan Pribumi Pertama oleh Raja Don Luis (1697 – 1705)

  • 1697–1705: Masa pemerintahan Raja Don Luis Melangin Takaulimang. Ia menandatangani perjanjian dengan Gubernur VOC Salomon le Sage, memindahkan gedung gereja ke pusat kota Tahuna (cikal bakal GMIST Imanuel Tahuna), dan menjadi pekabar Injil pribumi pertama.
  • 1705: Wafatnya Raja Don Luis Melangin Takaulimang; di tahun yang sama Ds. A. Brand berkunjung dan mencatat adanya 2.000 orang Kristen di Talaud serta 3.298 orang Kristen di Siau yang mengalami krisis pemahaman iman.

4. Periode Kemunduran, Penelantaran, dan Runtuhnya VOC (1706 – 1798)

  • 1712–1771: Kunjungan berkala yang sangat jarang dan sporadis oleh pendeta VOC (Ds. Bo(o)terkooper, Ds. D. Sel, Ds. U. van Sinderen, dan Ds. E. J. Wiltenaar).
  • 1789: Kunjungan Ds. J. R. Adam(s), pendeta VOC terakhir yang menginjakkan kaki di Sangihe sebelum keruntuhan maskapai dagang tersebut.
  • 1796–1798: VOC bangkrut total, hak monopoli (Octrooi) dicabut, wilayah Hindia (termasuk Sangihe) memasuki masa kekosongan pelayanan rohani formal Eropa akibat menyusutnya jumlah pendeta secara drastis.

Usia  penginjilan  mula-mula  di  Sangihe :

  1. Berdasarkan Kunjungan Pastoral Protestan VOC Pertama (1674):

Jika dihitung dari kedatangan dan martir mulanya pelayanan Ds. F. Dionysius di Taroena pada tahun 1674, maka usia penginjilan Protestan di Sangihe telah mencapai  usia  352  tahun

  1. Berdasarkan Penginjilan Pribumi Pertama oleh Raja Don Luis Melangin (1697):

 Jika dihitung dari awal mula pergerakan mandiri kekristenan lokal Sangihe melalui penginjilan pribumi pertama oleh Raja Don Luis Melangin Takaulimang pada tahun 1697, maka usia misi pribumi Sangihe telah berjalan selama 329  tahun


Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja