Bangunan Pertama GEREJA PROTESTAN LAPI, TARERAN
GEREJA PROTESTAN LAPI, TARERAN
Fondasi Pekabaran Injil dan Dinamika Pelayanan di Pedalaman Tareran (1861–1879)
Oleh : Alffian Walukow.
Kehadiran Misionaris C.J. van de Liefde dan Pendekatan Budaya
Sejarah pertumbuhan Jemaat Protestan di Lapi dan kawasan pegunungan Tareran, Minahasa Selatan, tidak dapat dipisahkan dari gelombang lanjutan pekabaran Injil yang digerakkan oleh Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG) pada paruh kedua abad ke-19. Pada tanggal 7 Juli 1861, Pendeta Cornelis Johannes van de Liefde (±1851–1879) tiba di Minahasa untuk memimpin Post Zendeling Amurang (Resor Amurang), menggantikan pendahulunya, Pendeta H.J. Tendeloo. Kehadiran Van de Liefde, yang datang bersama para teolog lain seperti H. Rooker, J. A. T. Schwarz, M. van der Wal, dan M. Brouwer, menandai fase pemantapan iman Kristen di saat gelombang kristenisasi di Minahasa tengah berkembang masif.
Sebagai kepala misionaris (Hulpprediker) yang kelak memimpin Resor Amurang, wilayah hukum pelayanan Van de Liefde membentang luas dari pesisir Tombasian hingga ke pemukiman tua di pegunungan Tareran, termasuk Rumoong, Lansot, Wiau, dan Lapi. Dalam menjalankan roda pelayanan, Van de Liefde menerapkan metode yang sangat adaptif dan sensitif terhadap budaya lokal. Terinspirasi oleh pendahulunya, S.D. van de Velde van Cappellen, ia mempelajari adat istiadat, struktur sosial, dan bahasa daerah setempat guna mengurangi resistensi masyarakat Alfuri terhadap ajaran Kristiani. Salah satu pilar utamanya adalah memprioritaskan bidang pendidikan dengan mendukung sekolah-sekolah zending yang mengakomodasi dialek lokal serta memanfaatkan media visual dalam pengajaran.
Ketegangan Pemerintah Kolonial dan Jeda Pelayanan
Pelayanan Van de Liefde di pedalaman Tareran tidak luput dari tantangan eksternal. Ia sempat terlibat perselisihan sengit dengan Residen Bosch, pejabat kolonial Hindia Belanda yang berusaha membangkitkan kembali ritual-ritual adat kuno dan tarian tradisional demi kepentingan politiknya. Residen Bosch bahkan menekan para kepala desa yang menolak kebijakan tersebut. Kontroversi ini mencerminkan benturan ideologis yang jamak terjadi pada masa itu, di mana agenda pemurnian iman oleh gereja kerap berseberangan dengan kepentingan stabilisasi sosial-politik pemerintah kolonial. Ketegangan ini baru mereda setelah posisi Bosch digantikan oleh pejabat baru yang lebih kooperatif terhadap misi kemanusiaan zending.
Pada tahun 1864, dinamika pelayanan mengalami jeda panjang ketika Van de Liefde mengambil cuti ke Belanda. Di tengah pelayaran, sebuah tragedi menimpanya; istrinya, Helena Louisa van Bergen, meninggal dunia di atas kapal. Duka yang mendalam ini memaksa Van de Liefde menetap sementara di Eropa untuk memulihkan diri, sekaligus bersaksi di hadapan jemaat di Utrecht dan Rotterdam mengenai pertumbuhan iman dan pembawaan jiwa-jiwa baru ke kaki salib Kristus di tanah Minahasa. Ia baru kembali ke pos pelayanannya di Amurang pada tahun 1872.
Potret Pertumbuhan Jemaat Mula-mula di Wiau dan Lapi (1861–1862)
Pondasi kuat yang diletakkan melalui kunjungan rumah ke rumah (huisbezoek) dan pelayanan baptisan massal tercermin dengan jelas dalam statistik jemaat awal. Berdasarkan laporan berkala Verslag Van Den Staat En De Werkzaamheden Van Het Nederlandsche Zendelinggenootschap periode tahun 1861 hingga 1862, kondisi pertumbuhan jemaat di dua wilayah bertetangga, Wiau dan Lapi, memperlihatkan perkembangan yang cukup kontras namun sama-sama progresif.
Di wilayah Wiau, tercatat terdapat 5 orang laki-laki dan 10 orang perempuan yang berstatus sebagai calon sidi jemaat, didampingi oleh 3 calon baptisan laki-laki dan 2 calon baptisan perempuan. Pada periode tersebut, institusi keluarga baru mulai dibangun melalui peneguhan 11 pasang perkawinan Kristen. Sektor pendidikan di Wiau juga mulai berjalan dengan kehadiran 11 anak laki-laki dan 7 anak perempuan di sekolah zending.
Sementara itu, wilayah Lapi menunjukkan angka pertumbuhan rohani yang lebih masif. Jemaat Lapi memiliki sebanyak 16 orang laki-laki dan 14 orang perempuan yang bersiap menjadi calon sidi, serta 4 orang calon baptisan laki-laki. Indikator paling mencolok di Lapi adalah tingginya angka peneguhan nikah yang mencapai 41 pasang perkawinan. Angka ini menegaskan bahwa institusi keluarga Kristen telah menjadi basis kultural yang sangat kokoh di Lapi. Antusiasme pendidikan di Lapi juga tergolong tinggi, yang dibuktikan dengan aktifnya 17 anak laki-laki dan 12 anak perempuan di sekolah bentukan misionaris.
Titik Balik Pembangunan Gedung Gereja Pertama Lapi: Dari Sabuah ke Rumah Panggung Permanen (1875–1878)
Pada masa-masa awal terbentuknya kekristenan di Lapi, jemaat Protestan setempat belum memiliki gedung peribadatan yang layak. Selama bertahun-tahun, aktivitas pelayanan firman, sakramen, dan persekutuan terpaksa dilangsungkan secara bersahaja di dalam sebuah sabuah—pondok darurat beratap daun dan berdinding sederhana yang juga berfungsi ganda sebagai sekolah zending. Namun, seiring dengan pertumbuhan rohani yang masif pada dekade 1870-an, kapasitas sabuah ini tidak lagi mampu menampung antusiasme jemaat yang kian hari kian bertambah.
Langkah maju untuk mendirikan gedung ibadah yang representatif mulai terekam secara resmi pada tahun 1875. Melalui surat tertulis Pendeta C.J. van de Liefde kepada Maandberigt van het Nederlandsche Zendelinggenootschap (No. 3, Maret 1875), ia melaporkan situasi krusial dari pos pelayanan Amurang pasca-pemulihan kesehatannya:
"...Di Toempaan dan Malikoe, warga kembali membangun gereja. Di Ritej, gedung sekolah baru sedang dibangun karena gereja tak lagi digunakan untuk sekolah. Di Pinamorongan, Woewoek, dan Lapi, kayu sedang dikumpulkan untuk bangunan baru karena bangunan lama sangat membutuhkan penggantian atau perbaikan besar."
Catatan tersebut menjadi saksi sejarah dimulainya fase awal pembangunan fisik gedung pertama Gereja Protestan Lapi. Jemaat segera meninggalkan sabuah darurat mereka dan mulai bergerak secara swadaya. Melalui semangat gotong royong (mapalus), para pria di Lapi bahu-membahu menebang serta mengumpulkan material kayu terbaik langsung dari hutan pegunungan Tareran.
Pondasi dan struktur utama bangunan gereja pertama ini dirancang dengan sangat kokoh menyesuaikan arsitektur khas Minahasa, di mana fisik bangunan terbuat dari susunan papan kayu dan balok-balok penyangga yang kokoh dalam rupa arsitektur rumah panggung. Model panggung ini tidak hanya memberikan nilai estetika tradisional yang megah, tetapi juga berfungsi adaptif terhadap kondisi alam setempat.
Proses pendirian gedung ini menuntut ketekunan yang luar biasa. Pembangunan sempat mengalami pasang surut dan penundaan berbulan-bulan karena jemaat harus membagi waktu dengan kesibukan musiman di ladang, terutama saat panen padi tiba. Kendati demikian, komitmen iman jemaat tidak surut. Setelah melalui proses pengerjaan yang memakan waktu dan menguras tenaga, bangunan gedung gereja pertama bermodel panggung kayu tersebut akhirnya benar-benar selesai dibangun secara penuh pada tahun 1878. Gereja ini dibangun diantara dua pohon beringin karet yang sangat besar, di tempat tersebut dimasa lalu adalah tempat pemujaan leluhur.
Estafet Kepemimpinan dan Transisi ke Era Guru Injil Pribumi
Pada tahun 1879, tepat setahun setelah selesainya gedung gereja pertama Lapi, terjadi pergeseran struktural besar di mana tata kelola gereja-gereja misi NZG di Minahasa secara resmi diambil alih oleh Indische Kerk atau Gereja Protestan Hindia Belanda (GPI). Dalam fase transisi ini, Van de Liefde diintegrasikan ke dalam struktur baru sebagai pendeta pembantu (hulpprediker) hingga akhir masa pelayanannya.
Seiring dengan kebijakan sekularisasi dan perluasan jangkauan gereja, estafet pelayanan mimbar di wilayah Tareran berangsur-angsur diserahkan kepada tenaga-tenaga pribumi terdidik. Figur sentral yang meneruskan tugas-tugas teologis Pendeta Van de Liefde dan Pendeta Capellen di jemaat Rumoong-Lansot, Lapi, dan Talaitad (Wuwuk Baru/Saroinsong) adalah Simon Simson Tumbelaka (1835–1917).
Simon Tumbelaka merupakan tokoh terpandang asal Amurang, lulusan Sekolah Sending Amurang yang dididik langsung oleh Pendeta K.T. Herman. Ia tercatat telah mengabdikan diri sebagai Penolong Injil (Inlandsche Hulpprediker) sejak tahun 1856 dan pernah mendampingi Pendeta Kelling di wilayah Luwuk. Kehadiran Tumbelaka sebagai Guru Injil Pribumi pertama di Tareran mengukuhkan kemandirian jemaat lokal.
Melalui bentangan sejarah dari masa-masa awal beribadah di bawah naungan sabuah, pengumpulan balok dan papan kayu pada tahun 1875, hingga berdirinya gedung gereja panggung yang megah pada tahun 1878, Jemaat Protestan Lapi telah mengukir bukti ketahanan imannya sebagai salah satu pilar kekristenan yang mula-mula, mandiri, dan kokoh di tanah Tareran, Minahasa.
Sumber : Buku Sejarah Desa Wiau Lapi
#NZG
#wiaulapi
#sejarahgmim
#sanggarapapuhang
