BARAHAMA DARI KEPULAUAN SANGIHE
NARASI SEJARAH MARGA BARAHAMA DARI KEPULAUAN SANGIHE
Hubungan Maritim Kuno, Silsilah Kerajaan, dan Diaspora
Intelektual Abad ke-20
Kepulauan Sangihe yang terletak di beranda utara maritim
Nusantara dikenal melahirkan garis-garis keturunan yang memiliki daya jelajah
tinggi, ketangguhan, serta kontribusi besar bagi peradaban. Salah satu marga
asli Sangihe yang jejak historisnya terekam kuat dalam lembaran silsilah kuno
hingga arsip kolonial abad ke-19 dan ke-20 adalah Marga Barahama.
Eksistensi nama Barahama, keterhubungannya dengan koridor
laut Sulu-Mindanao, serta kaitannya dengan Silsilah Raja Cotabato (Mindanao)
dan Kerajaan Kendahe Tua membawa kita pada sejarah maritim Nusa Utara
(Sangihe-Talaud) yang sangat dinamis. Kawasan ini sejak berabad-abad lalu
terikat dalam relasi politik, perkawinan, dan penyebaran Islam dari Filipina
Selatan.
Bagian 1: Keterhubungan Geopolitik dan Silsilah Maritim
Kuno
1. Etimologi & Jejak Nama "Barahama" di
Lintas Maritim
Secara linguistik dan sosiologis, nama Barahama memiliki
keunikan karena ditemukan di dua wilayah yang dipisahkan oleh Laut Sulawesi:
Kepulauan Sangihe (Indonesia) dan kawasan Mindanao/Sulu (Filipina Selatan).
- Penyebaran
Regional: Di Mindanao dan Sulu, "Barahama" atau
"Brahama" sering kali menjadi nama depan atau nama klan
(misalnya, klan Barahama di Indanan, Sulu, serta tokoh lokal seperti
Barahama Sali di Pulau Basilan).
- Akar
Linguistik: Nama ini merupakan serapan lokal dari kata "Ibrahim"
dalam dialek rumpun bahasa Austronesia setempat atau dipengaruhi oleh
bahasa Sanskerta (Brahma).
- Faktor
Mobilitas: Melalui jalur perdagangan, pelayaran tradisional (pambut),
dan migrasi politik berabad-abad lalu, relasi antar-keluarga di perbatasan
ini sangat cair. Banyak warga keturunan Sangihe (termasuk bermarga
Barahama) yang menetap di pesisir Mindanao (seperti wilayah Glan dan
Cotabato), begitupun sebaliknya.
2.
Keterhubungan Silsilah Kerajaan Kendahe Tua dan Mindanao
Kerajaan
Kendahe Tua (yang dahulu dikenal dengan nama kuno Malinggaheng dan berpusat di
Makiwulaeng/Kendar Lama) memiliki hubungan darah yang sangat langsung dan
eksplisit dengan kesultanan-kesultanan di Mindanao. Bersama Kerajaan Tabukan,
Kendahe adalah pusat pengaruh kebudayaan Islam awal di Sangihe yang diserap
dari Sulu dan Mindanao.
Keterhubungan
silsilah penguasanya dapat diringkas sebagai berikut:
- Syarif Achmad Mansyur (Raja
Egaliwutang / Mehegalangi): Beliau adalah Raja Pertama Kendahe yang
memerintah sekitar tahun 1600–1640. Berdasarkan catatan silsilah Sangihe,
Egaliwutang adalah putra kandung dari Sultan Syarif Maulana / Sultan Ahmad
dari Kesultanan Mindanao. Kehadirannya di Sangihe sekaligus membawa
misi penyebaran Islam secara luas. Ia menikahi Taupanglawo, putri dari
Raja Tahuna (Tatehe Woba).
- Raja
Wuisan (Buisan): Kedudukan Egaliwutang digantikan oleh putranya yang
bernama Raja Wuisan. Dalam jalur silsilah lain yang bertalian, nama Buisan
sangat identik dengan Rajah Buisan / Datu Buisan dari Mindanao/Davao.
Putri kesayangan Egaliwutang yang bernama Lorolabo kemudian menikah dengan
Sultan Tabukan dan melahirkan putra bernama Joannes Calambuta, yang kelak
ditunjuk oleh Buisan untuk menjadi penerus takhta Kendahe (Rajah of
Candahar).
- Raja
Syam Syah Alam (Samensi Alang): Garis keturunan ini berlanjut hingga Raja
ke-IV Kendahe (1688–1711). Di masa pemerintahannya, ibu kota Kendahe Tua
tenggelam ke dalam laut akibat letusan dahsyat Gunung Awu pada tahun 1711.
3. Jalinan ke Kesultanan Maguindanao (Cotabato)
Wilayah Cotabato di Mindanao merupakan pusat dari
Kesultanan Maguindanao. Hubungan antara Kendahe dan Cotabato terjadi melalui
aliansi maritim dan perkawinan politik antara para Datu (pangeran) dari
Cotabato/Maguindanao dengan putri-putri penguasa di kepulauan Nusa Utara.
Pada abad ke-16 dan ke-17, Kesultanan Maguindanao (di
bawah figur kuat seperti Sultan Kudarat dan ayahnya, Datu Buisan) meluaskan
pengaruh politiknya ke selatan hingga ke Sangihe, Talaud, dan Maluku Utara
untuk membendung ekspansi kolonial Spanyol dan Belanda.
Kedatangan putra-putra Sultan Mindanao (seperti Syarif
Achmad Mansyur yang mendirikan dinasti di Kendahe) ke Sangihe menegaskan bahwa
penguasa Kendahe Tua pada dasarnya merupakan percabangan langsung (garis
keturunan lateral) dari Wangsa Kesultanan Maguindanao di Cotabato.
Sintesis Hubungan:
Ketika menelusuri nama Barahama di satu sisi, serta
silsilah Kendahe-Cotabato di sisi lain, kita sedang melihat satu hamparan
sejarah yang sama: Dunia Maritim Laut Sulawesi. Meskipun secara dokumen
administratif formal marga Barahama modern lebih banyak tercatat sebagai warga
definitif Kepulauan Sangihe (yang kemudian menyebar secara profesional sejak
era kolonial Belanda), eksistensi rumpun nama yang sama di Filipina Selatan dan
kuatnya darah Mindanao di dalam pendiri Kerajaan Kendahe Tua (Egaliwutang putra
Sultan Mindanao) membuktikan bahwa masyarakat pesisir Sangihe, Kendahe,
Cotabato, dan Sulu pada abad ke-17 hingga ke-19 adalah satu kesatuan silsilah
kultural yang tidak terpisahkan oleh batas negara modern.
Bagian 2: Jejak Diaspora Intelektual, Medis, dan
Profesional Modern
Catatan-catatan berkala, dokumen kepegawaian Hindia
Belanda (Regerings-almanak), hingga rilis pers lawas memperlihatkan
bagaimana para penyandang marga Barahama bermigrasi, menuntut ilmu, dan
mengabdi di berbagai belahan Nusantara, khususnya di bidang pelayanan kesehatan
dan keagamaan.
1. Awal Abad ke-20: Kepeloporan Medis dan Keagamaan di
Tanah Sangihe
Jejak tertulis paling awal mengenai keterlibatan aktif
marga Barahama dalam modernisasi di Kepulauan Sangihe berpusat pada tokoh
bernama Theophilus Barahama. Pada masa ketika pelayanan medis modern mulai
diperkenalkan di wilayah kepulauan melalui misi penginjilan (Zending),
kaum bumi putera Sangihe tidak tinggal diam sebagai penonton, melainkan tampil
sebagai aktor utama.
- Mobilitas
Antarpulau (1904): Transportasi laut antar-pulau menjadi urat nadi
diaspora ini. Arsip pelayaran melaporkan bahwa pada September 1904,
seorang tokoh bernama Th. Barahama tercatat menumpang kapal ss.
Speelman dari pelabuhan utama Hindia Belanda menuju Taroena
(Tahuna, Sangihe), yang menandakan tingginya mobilitas kaum terpelajar
Sangihe kala itu.
- Dedikasi
di Rumah Sakit Pembantu Sangihe (1912): Dokumen komite keagamaan Protestan
untuk Sangihe dan Talaud tahun 1912 mencatat nama Theophilus Barahama
dengan penuh penghormatan. Ia diidentifikasi sebagai seorang putra Sangihe
(Sangirees) yang memimpin sebuah rumah sakit pembantu (hulpziekenhuis).
Bersama dengan Pendeta Utusan (Zendeling), Theophilus
mendedikasikan hidupnya demi meningkatkan taraf kesehatan masyarakat di
Kepulauan Sangihe.
2. Era 1930-an hingga 1942: Kiprah Profesional
Keperawatan Elit di Nusantara
Memasuki pertengahan abad ke-20, representasi marga
Barahama meluas ke luar pulau melalui jalur pendidikan tinggi kedinasan. Sosok
yang sangat menonjol dalam lembaran Regerings-almanak dan surat kabar
nasional era 1930-an adalah seorang perempuan tangguh bernama Mej. G. Barahama
(yang di kemudian hari setelah menikah tercatat sebagai Mevr. C.
Hoesain-Barahama).
- Pendidikan
dan Sertifikasi Internasional (1937): G. Barahama merupakan bagian dari
generasi awal perempuan profesional Hindia Belanda yang menempuh ujian
keperawatan spesialis saraf dan jiwa (Zenuw- en Geesteszieken). Ia
dinyatakan lulus dalam ujian nasional pada Juni 1937 di Utrecht, Belanda,
sebelum akhirnya kembali ke Jawa untuk membuka praktik mandiri (vrij
beroep) di Surabaya dan ditempatkan di Magelang.
- Karier Kedinasan Strategis di DVG
(1939–1941): Sebagai perawat kelas satu (verpleegster 1ste klasse)
pada Dinas Kesehatan Pemerintah Hindia Belanda (Dienst der
Volksgezondheid), ia dipercaya memegang tanggung jawab besar. Pada
akhir tahun 1939, ia dipromosikan dan dipindahkan untuk mengepalai unit
perawatan di Pontianak, Kalimantan Barat.
- Mutasi Jelang Perang Dunia II
(1941–1942): Pengabdiannya terus berlanjut melintasi batas pulau.
Berdasarkan dekret resmi DVG, pada Januari 1941, G. Barahama dipindahkan
dari Pontianak menuju Makassar, Sulawesi Selatan, untuk memimpin Doorgangshuis
voor krankzinnigen (Rumah Penampungan Pasien Jiwa). Catatan di Regerings-almanak
tahun 1942 mengukuhkan posisinya sebagai representasi tenaga medis elit
bumi putera asal Sangihe sebelum pecahnya Perang Pasifik.
3. Catatan Kontemporer: Hubungan Lintas Batas Maritim
Secara antropologis dan geopolitik, rumpun nama Barahama
juga ditemukan membentang di sepanjang koridor maritim perbatasan utara
Sulawesi hingga Filipina Selatan. Pemberitaan media internasional pada akhir
abad ke-20 (tahun 1994) sempat mencatat dinamika lokal di Pulau Basilan yang
melibatkan figur bernama Barahama Sali. Fenomena bertahannya nama ini di
wilayah perbatasan laut menegaskan jalinan kultural dan historis yang panjang
di kawasan interaksi Sangihe-Mindanao.
Kesimpulan
Sejarah marga Barahama dari Kepulauan Sangihe menonjolkan
sebuah narasi tentang intelektualitas, adaptabilitas, dan pengabdian
kemanusiaan. Sejak awal abad ke-20, para penyandang marga ini telah membuktikan
diri mampu keluar dari batas geografis kepulauan asal untuk memelopori layanan
medis, keagamaan, dan sosial, yang kontribusinya diakui secara nasional di
berbagai kota besar di Nusantara.
Daftar Pustaka / Sumber Acuan
- Bataviaasch Nieuwsblad (21 Oktober 1938, 30 September 1939,
24 Desember 1940, 15 Januari 1941).
- Bredasche
Courant (29 Oktober 1938).
- De
Avondpost (28 Oktober 1938, 10 Oktober 1939).
- De Banier: Staatkundig Gereformeerd
Dagblad (19
Juni 1937).
- De
Indische Courant (22 Oktober 1938).
- De
Locomotief (20 Oktober 1938, 18 Oktober 1939).
- De Sumatra Post (08 Januari 1940, 19 Maret 1941).
- De
Volkskrant (09 Agustus 1994).
- Deli
Courant (03 Oktober 1939).
- Het Nieuws van den Dag voor
Nederlandsch-Indië (29 September 1939, 04 Januari 1940).
- Het Vaderland: Staat- en Letterkundig
Nieuwsblad
(17 Juni 1937).
- Mededeelingen vanwege het Comité tot
Voorziening in de Godsdienstige Behoeften van de Gevestigde Inlandsche
Protestantsche Christengemeenten op de Sangi- en Talauer Eilanden (No. 14, Tahun 1912).
- Nederlands Dagblad: Gereformeerd
Gezinsblad
(10 Agustus 1994).
- Regerings-almanak voor
Nederlandsch-Indië (Bagian 2, Tahun 1939, 1940, 1942).
- Soerabaijasch
Handelsblad (06 September 1904).
- Tijdschrift voor Ziekenverpleging:
Orgaan van den Ned. Bond voor Ziekenverpleging (Juli 1938).
- Catatan
silsilah lokal Sangihe & Mindanao (Referensi Tambahan).
daftar nama-nama penyandang marga Barahama yang telah
dirapikan dan dikelompokkan berdasarkan wilayah/lokasi geografis yang tertera
pada data Anda:
1. Kepulauan Sangihe (Tahuna, Manganitu, Marore)
- Willem
Barahama (Tahuna)
- Hostrin
Barahama Mahaling New (Tahuna – Alumni SMA Katolik Donbosco Bitung,
terhubung dengan Sanggar Apapuhang)
- Avrilia
Barahama (Tahuna)
- Jhounefer
Barahama (Tahuna – Politeknik Negeri Nusa Utara)
- Andika
Barahama (Tahuna)
- Barahama
Alben (Tahuna)
- Chrimella
Barahama (Tahuna)
- Georgia
Barahama (Tahuna – Jurusan Keperawatan SMK N 2 Tahuna)
- Refflect
Barahama Veri (Manganitu)
- Rispa
Barahama (Tahuna – Dinas Pertanian / SMA N 1 Tahuna)
- Simson
Barahama (Tahuna)
- Nia
Barahama (Wilem) (Tahuna – Universitas Trisakti)
- Moreno
Barahama (Tahuna)
- Anthonius
Barahama (Tahuna)
- Hiskia
Barahama (Tahuna)
- Obby
Barahama (Obby) (Tahuna – SMK N 2 Tahuna)
- Sriyanti
Dewi Barahama (Marore – Jurusan Kesehatan Politeknik Negeri Nusa
Utara Tahuna)
- Angel
Ticoalu Manake Barahama (Tahuna – SMK Muhammadiyah Naha)
- Junior
Barahama (Tahuna)
- Aldo
Deskianto Barahama (Tahuna)
- Devina
Barahama Maelite (Tahuna – SMA Negeri 1 Tahuna)
- Adel
Sarageti Barahama (Tahuna)
- Hasya
Barahama (Tahuna)
- Natalia
Barahama (Tahuna)
- Fanda
Barahama-Lalenoh (Tahuna – SMA Negeri 2 Tahuna)
- Victor
Qey Barahama Mendome (Tahuna – SMA N 2 Tahuna)
2. Manado & Sekitarnya (Minahasa, Tomohon, Sonder,
Bitung, Kotamobagu, Airmadidi)
- Diana
Barahama (Manado – Bekerja di Biro Administrasi Pimpinan Setda
Prov. Sulut)
- Bara
Mozza / Bella P. Barahama (Manado)
- Ferry
Barahama (Manado)
- John
Barahama (Manado – SMA Negeri 3 Manado)
- Barahama
Rio (Minahasa)
- Alfa
Barahama (Manado – SMK Negeri 1 Airmadidi)
- MhUnzkie
Barahama (Manado)
- Bimboy
Barahama (Sonder)
- Venli
Barahama (Manado)
- Theo
Barahama (Manado)
- Oknita
Barahama (Manado)
- Fince
Barahama (Manado – Dokter di Puskesmas Sario)
- Barahama
AB (Manado)
- Olha
Barahama (Olla) (Manado)
- Barahama
Ola (Manado)
- Dade
Barahama (Manado – SMA 8 Manado)
- Tika
Maniwu - Barahama (Manado)
- Jufri
Barahama (The New) (Manado)
- Andris
Barahama (Manado)
- Rommy
Barahama (Tomohon)
- Rebi
A. Barahama (Manado – Universitas Negeri Manado)
- Victoria Barahama (Manado – Bekerja di Dinas
Perhubungan Komunikasi dan Informatika Prov. Sulut)
- Adry
Barahama (Manado)
- Claudia
Barahama (Bitung)
- Yukelin
Barahama (Bitung)
- Barahama
Igirisa (Bitung)
- Erick
Barahama Jr. (Kotamobagu)
3. Kepulauan Talaud
- Jul
Tabaru Barahama (Melonguane-Talaud – SMA Udamakatray)
- Misel
Barahama (Lirung-Talaud – SMA Negeri 1 Lirung)
4. Luar
Sulawesi Utara (Maluku, Sulteng, Kalimantan, Jawa, Maluku Utara)
- Denny
Barahama (Weda, Maluku)
- Nick
Mb Barahama (Morowali, Sulawesi Tengah)
- Barahama
Mario (Bandung – Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus / Sinode GMIST)
- Sisar
Barahama (Ternate)
- Barahamacici
(Cici) (Ternate)
- Irene Barahama (Mangaran, Jawa Timur – Universitas
Negeri Manado)
- Ety
Barahama (Tobelo, Halmahera Utara)
- Barslow
Barahama (Bar) (Banjarmasin)
- Yunita
Barahama (Jakarta)
5. Luar Negeri
(Filipina, Amerika Serikat)
- Novem
Grace Barahama (Kota General Santos, Filipina)
- Elmas
Barahama (Kota General Santos, Filipina)
- Christin
Barahama (Los Angeles)
- Putra
Andaria-Barahama (Dede) (Sanger, California)
- Q
J Emanuela Barahama (Milano, Italia / Jakarta – Seamen Milano /
BP3IP Jakarta)
6. Nama
Lainnya (Belum Diketahui Lokasi Definitif)
- Wanita
Barahama, Barahama Debi, Dede Barahama, Christiano Derek (Putra), Barahama
Stiven, Enn Barahama (Alfren), Fransli Barahama, Noverials Barahama, Ciaa
Barahama, Delly, Disci Barahama, Bebijin Barahama, Putra Barahama,
Barahama Reky, Eki Barahama, Christovel Barahama, Demitrius Barahama,
Jandri Barahama, Alisye Barahama, Joel Barahama, Poster Barahama, Barahama
Yan, Matthew Barahama, Djoni Tatontohiang Barahama, T Barahama, Randy
Barahama, Gloria Barahama, Harjono Barahama, Niaa Barahama, Jeri Barahama,
Hengky Barahama, Mahaling Barahama Hostrin, Grasya Barahama, Barahama
Elias, Fredy Barahama, Malomis Barahama, Barahama Presdy, Nistol Barahama,
Yulian Barahama, Gea Barahama, Delvanto Barahama, Barahama Stevaldo, Milda
Barahama, Yan Barahama, Aris Barahama, Hendri Barahama, Mike Barahama,
Devid Barahama, Jun Barahama, Roy Barahama, Alpiane Barahama, Meylan
Barahama, Roslin Barahama, Barahama Hen, Lisa Barahama, Ritwan Barahama,
Roxan Pangumpia Barahama, Rimel Barahama, Yehzkiel Barahama, Mirsel Icel Barahama,
Lucky Barahama, Barahama Maxshee, Barahama Lia, Jufri Barahama, Adri
Barahama, Miranda Barahama, Itin Barahama, Adriana Barahama, Selvi
Barahama, Barahama Mendome, Benihutman Barahama, Jos Barahama, Barahama
Gunawan, Barahama Jhun, Sirin Barahama, Jimbris Barahama, Vin Barahama,
Jeni Barahama, Myke Barahama, Einhart Barahama, Martin Nesto Barahama, Yul
Barahama, Barahama Layang, Sartika Barahama, Anabhell Barahama, Gell
Barahama, Queenshe Barahama, Lely Barahama, Barahama Dex, Adelyn Sarageti
Barahama, Barahama Mandagi, Ovelia Melisa Barahama-Rahasia, Lin M
Barahama, Lia Barahama, Ramz Barahama L, Ikke Barahama, Wahyuni Laluhang
Barahama, Barahama Sihur, Indra Barahama, Benhard Leonard Barahama, Elias
Barahama, Risa Barahama, Niche Barahama, Bella Savona Barahama-Pagala,
Marlina Barahama, Tian Barahama, Selmy Barahama, Jefri Stifen Barahama,
Josua Barahama, Barahama Seven Rab, Putra Barahama Putra, Frankie
Barahama, Refly Lahope Barahama, Oknita Patricia Barahama, Agung Barahama,
Erlanga Barahama.
