KEPULAUAN TALAUD DALAM JALUR KUASA DAN MONOPOLI VOC ABAD KE-17 HINGGA AWAL ABAD KE-18
KEPULAUAN TALAUD DALAM JALUR KUASA
DAN MONOPOLI VOC ABAD KE-17 HINGGA AWAL ABAD KE-18
Oleh : Alffian Walukow
Kajian
ini merekonstruksi kondisi geografis, demografis, tata politik, militer, serta
dinamika sosial-keagamaan di Kepulauan Talaud pada akhir abad ke-17 hingga awal
abad ke-18. Dengan mengandalkan sumber primer kolonial, terutama mahakarya
François Valentyn, Oud en Nieuw Oost-Indië (1724), serta laporan
ekspedisi militer-sipil VOC, studi ini menunjukkan bahwa Talaud bukanlah
wilayah pinggiran yang pasif. Sebaliknya, Kepulauan Talaud merupakan arena
kontestasi geopolitik yang dinamis antara kerajaan-kerajaan lokal (Tabukan,
Taruna, Manganitu, Siau, dan Tagulandang), Kesultanan Ternate, Kesultanan
Maguindanao di Filipina Selatan, dan VOC yang agresif dalam memaksakan monopoli
rempah-rempah melalui kebijakan ekstirpasi.
BAB I: GEOGRAFI MARITIM DAN PETA
DEMOGRAFI KEPULAUAN TALAUD
1.
Letak Spesifik dan Signifikansi Navigasi
Dalam
konstelasi geopolitik maritim Asia Tenggara abad ke-17, Kepulauan Talaud (Talautse)
memegang peranan penting sebagai gerbang perbatasan utara Nusantara yang
berbatasan langsung dengan Filipina Selatan. Berdasarkan catatan navigasi masa
itu yang dihimpun oleh François Valentyn, gugusan pulau ini terletak di sebelah
timur laut pada posisi sekitar lima derajat Lintang Utara. Posisinya menjadi
titik transit strategis antar-kawasan dengan estimasi jarak pelayaran sebagai
berikut:
- 27
mil laut dari wilayah Mangindanao (Mindanao, Filipina Selatan).
- 12½
mil laut dari Pulau Sarangani.
- Sekitar
18 mil laut dari bagian utara Pulau Sangihe.
Di
antara titik-titik tersebut, terbentang lebih dari dua puluh pulau kecil yang
membentuk formasi Kepulauan Talaud. Masyarakat maritim setempat memiliki
tradisi lisan yang meyakini bahwa pada kondisi cuaca yang sangat cerah, mereka
dapat melihat pancaran cahaya dari kebun-kebun di Mangindanao. Namun, akurasi
klaim visual ini diragukan oleh Valentyn secara ilmiah. Melalui perhitungan
kartografi kolonialnya, jarak riil antar-kedua wilayah tersebut mencapai 23–24
mil laut, sebuah jarak yang terlalu jauh untuk pengamatan mata telanjang dari
wilayah pesisir.
2.
Klasifikasi Pulau dan Karakteristik Fisik
Secara
keseluruhan, gugusan ini memiliki tiga belas pulau utama di samping kluster
pulau kecil di sekitar wilayah Lirong dan Karkarottang. Berdasarkan
status keterhunian dan identifikasi toponimi pada akhir abad ke-17, klasifikasi
kepulauan ini terbagi atas:
- 4
pulau berpenghuni.
- 7
pulau yang telah teridentifikasi namanya secara pasti.
- 9
pulau tidak berpenghuni.
- 6
pulau kecil yang belum memiliki penamaan resmi.
Beberapa pulau yang dicatat
secara mendetail dalam laporan kolonial antara lain Noeffa (Noenoefa),
Karotta, Karkarottang, Karkalang (Karakelang), Lirong, dan Kabroewang.
- Pulau Karotta: Berupa
pulau kecil sepanjang setengah mil, lebar kurang dari setengah mil, dan
keliling satu setengah mil yang dikelilingi oleh formasi terumbu karang
berbahaya. Di sisi timur pulau ini, terdapat dua tonjolan karang yang
menjorok sejauh seperempat mil ke arah laut lepas.
- Pulau Noenoefa (Noeffa): Terletak
di sebelah timur Karotta, pulau ini dikelilingi gugusan karang kecil
dengan jarak keliling pulau sekitar empat mil. Noenoefa memegang peran
sentral sebagai salah satu basis permukiman terpadat dan episentrum
militer di Talaud pada periode tersebut.
BAB II: STRUKTUR POLITIK
KONDOMINIUM TRADISIONAL DI PULAU NOENOEFA
1.
Faksionalisasi Kekuasaan dan Aliansi Sangihe
Pulau Noenoefa menyajikan model
pemerintahan komunal yang unik dalam sejarah politik lokal. Wilayah ini tidak
tunduk pada satu penguasa tunggal, melainkan dibagi ke dalam tiga faksi
kekuasaan tradisional yang beraliansi dengan kerajaan-kerajaan besar di Pulau
Sangihe. Pola pemerintahan bersama ini menyerupai sistem kondominium maritim.
Tiga desa utama di Noenoefa mencerminkan peta pembagian kekuasaan tersebut:
A. Desa
Noenoefa
Merupakan pusat pemukiman
terbesar dengan estimasi populasi mencapai 1.200 jiwa. Wilayah administratif desa ini
dibagi secara setara ke dalam tiga faksi militer-politik:
- Faksi
Raja Tabukan:
Merupakan kekuatan dominan mutlak di desa ini dengan kemampuan mobilisasi
militer mencapai 300 pria bersenjata.
- Faksi
Raja Taruna (Taroena):
Menguasai zona kedua desa dengan kekuatan pertahanan sebesar 70 pria
bersenjata. Raja Taruna juga diketahui mendirikan kediaman resmi
di pulau ini.
- Faksi Raja Manganitu (Mangenitoe):
Menguasai zona ketiga dengan kekuatan militer terkecil, yakni 30 pria
bersenjata, dan memiliki rumah tinggal di wilayah tersebut.
B. Desa Lijang
Berbeda dengan dinamika faksional
di Desa Noenoefa, Desa Lijang berada di bawah kontrol eksklusif Kerajaan
Tabukan. Desa ini memiliki jumlah penduduk sekitar 520 jiwa dan didukung oleh
kekuatan pertahanan sebanyak 80 prajurit bersenjata. Pemerintahan harian di
Lijang dijalankan oleh seorang pejabat lokal bernama Tojongan yang bertindak
atas nama Raja Tabukan.
C. Desa
Bacaffa
Desa ini berpenduduk sekitar 300
jiwa dengan kekuatan militer mandiri sebanyak 30 pria bersenjata. Struktur
kekuasaan di Bacaffa dipimpin oleh seorang Goegoego (penguasa
wilayah/wakil raja) bernama David Pandjalang, yang menempatkan seorang pejabat
bernama Baylang untuk mengurus urusan birokrasi taktis di lapangan.
2.
Transformasi Birokrasi: Dari Pejabat Tradisional ke Zee-Voogd
Secara akumulatif, Pulau Noenoefa
mampu memobilisasi antara 440 hingga 450 prajurit bersenjata, menjadikannya
pangkalan militer yang diperhitungkan oleh VOC di perbatasan utara. Pada masa
awal, roda pemerintahan kolektif di Noenoefa dijalankan secara konsensus oleh
tiga pejabat tradisional utama, yaitu Malacca (wakil Raja Tabukan), Canonen
(wakil Raja Taruna), dan Lomisi (wakil Raja Manganitu).
Seiring meningkatnya penetrasi
politik VOC dan intervensi kerajaan induk di Sangihe pada akhir abad ke-17,
sistem pemerintahan kolektif ini direstrukturisasi. Jabatan ketiga tetua
tersebut digantikan oleh sistem Zee-Voogd (Pengawas Laut). Zee-Voogd
merupakan pejabat birokrasi maritim yang ditunjuk langsung oleh kerajaan pusat
untuk mengamankan kepentingan geopolitik, memantau perairan, serta menjadi
penyambung lidah kepentingan dagang kolonial Belanda.
BAB III:
GEOPOLITIK PULAU KARKALANG DAN SISTEM PEMBAGIAN ADMINISTRASI
1. Lanskap
Geografis Pulau Karkalang
Pulau Karkalang (Karakelang)—yang
dalam beberapa sumber kartografi disebut juga sebagai Pulau Poeloetang—merupakan
pulau terbesar di Kepulauan Talaud. Terletak sekitar lima mil laut ke arah
barat laut dari gugusan Noenoefa, pulau ini berbentuk menyerupai segitiga
dengan tiga sudut utama yang mengarah ke barat laut, timur tenggara, dan barat
daya.
Karakteristik topografis
Karkalang didominasi oleh rangkaian pegunungan di bagian selatan dan tenggara,
di mana wilayah tenggara merupakan titik tertinggi di pulau ini. Sebaliknya,
wilayah utara dan tengah pulau cenderung berupa dataran rendah yang landai.
Estimasi dimensi pulau ini berdasarkan survei abad ke-17 memiliki panjang
sekitar 7 mil, lebar 4 mil, serta keliling wilayah mencapai 20 mil perjalanan.
2. Konfigurasi
Sepuluh Desa dan Faksi Kekuasaan
Pulau Karkalang memiliki sepuluh
desa utama. Kekuasaan atas desa-desa ini terfragmentasi secara tajam ke dalam
empat faksi politik yang dikendalikan oleh Raja Tabukan, Raja Tagulandang, Goegoego
Thomas Wácla, dan Goegoego David Pandjalang:
STRUKTUR KEKUASAAN MILITER
PULAU KARKALANG
(Total: 970 Prajurit /
±2.000 Penduduk)
│
┌────────────────────────┬───────┴────────┬────────────────────────┐
│ │ │ │
┌────┴────────────┐
┌────┴────────────┐┌──┴─────────────┐ ┌──┴─────────────┐
│
Faksi Tabukan │ │ Faksi Tagulanda ││ Faksi T. Wácla
│ │Faksi Pandjalang│
│ (240 Prajurit) │
│ (510 Prajurit) ││ (150
Prajurit) │ │ (70 Prajurit) │
└────┬────────────┘
└────┬────────────┘└────┬───────────┘ └────┬───────────┘
├─ Naun (30)
└─ Poeloetang(510) ├─
Entsje (50) ├─ Makatara (50)
├─ Boendade (90) └─ Ajen (100) └─ Kiama (20)
├─ Gemy (30)
├─ Bomboe (50)
└─
Bolloedoe (40)
- Faksi
Raja Tabukan (Total 240 Prajurit): Mengendalikan lima desa utama, yaitu Desa Naun
(dipimpin seorang Marinho atau juru sita; 30 prajurit), Desa
Boendade (dipimpin Goegoego Pipi; 90 prajurit), Desa Gemy (dipimpin
Sengadji Tronga; 30 prajurit), Desa Bomboe (dipimpin Orangkaya
Balanga; 50 prajurit), dan Desa Bolloedoe (dipimpin Kapten Tatengken; 40
prajurit).
- Faksi
Goegoego Thomas Wácla (Total 150 Prajurit): Menguasai dua desa, yakni
Desa Entsje yang dipimpin oleh Tatogel (50 prajurit) dan Desa Ajen yang
dipimpin oleh Sengadji Memuas (100 prajurit).
- Faksi
Goegoego David Pandjalang (Total 70 Prajurit): Menguasai Desa
Machatarang/Makatara yang dipimpin Kimelaha Rarojong (50 prajurit)
dan Desa Kiama yang dipimpin Kapten Tolinbabi (20 prajurit).
- Faksi
Raja Tagulandang (Total 510 Prajurit): Menguasai secara absolut Desa Poeloetang. Desa
ini tercatat sebagai permukiman terkuat dan paling masif di seluruh
Karkalang. Raja Tagulandang menjalankan kendali dari pusat pemerintahannya
di Pulau Pangasare melalui seorang Zee-Voogd lokal bernama
Tobomila.
Secara demografis, Pulau
Karkalang berpenduduk sekitar 2.000 jiwa dengan kapasitas militer total
mencapai 970 pria bersenjata. Tingginya rasio militer terhadap populasi total
ini mencerminkan betapa dominannya fungsi pertahanan, peperangan antarpulau, dan
kesiapsiagaan militer dalam struktur sosial masyarakat Talaud di bawah tekanan
geopolitik eksternal.
BAB IV: PERISTIWA
DAN SENGKETA KEDAULATAN DI PULAU LIRONG
1. Keadaan
Geografis dan Administrasi Desa
Pulau Lirong (Talani)
terletak di antara Pulau Karkalang dan Pulau Kabroewang, memanjang dari arah
tenggara ke barat laut. Pulau dengan panjang 5 mil, lebar rata-rata setengah
mil, dan keliling 12–13 mil ini memiliki kontur perbukitan curam di bagian
tengah serta berbukit kembali di ujung barat laut. Pusat administrasi maritim
utama yang paling dikenali pada peta kolonial adalah Desa Saliloeboeda (Solibaboeda
/ Saleboeboe) yang terletak di sebuah teluk strategis di bagian
selatan-tenggara pulau.
Secara keseluruhan, Lirong
memiliki delapan desa yang terbagi ke dalam dua poros faksi kekuasaan:
- Poros Raja Tabukan (570 Prajurit):
Menguasai enam desa, meliputi Lirong-bawah (dipimpin Kapten Binka; 150
prajurit), Rinkallom (dipimpin Sengadji Lalafoe; 50 prajurit),
Mofon dan Selle (keduanya di bawah kontrol Sengadji Babwolle; total
100 prajurit), Kalonga (dipimpin Sengadji Mangoebo; 70 prajurit),
dan Saliloeboeda (pusat administrasi utama di bawah Goegoego Leffi;
200 prajurit).
- Poros David Pandjalang (250 Prajurit):
Menguasai dua desa, yaitu Desa Alloe (dipimpin Sengadji Berloe; 200
prajurit) dan Desa Lirong-atas (dipimpin Zee-Voogd atau Kapten Laut
Domoni; 50 prajurit).
2. Kronoligi
Konflik Legitimasi (1689–1705)
Dengan total populasi mencapai
2.500 jiwa dan kekuatan militer sebesar 820 pria bersenjata, Lirong menjadi
salah satu wilayah paling bergolak karena resistensi politiknya terhadap
hegemoni luar. Kronologi ketegangan politik di Lirong terekam dalam rentetan
peristiwa berikut:
- Tahun 1689 (Petisi Hukum Lirong kepada VOC):
Perwakilan masyarakat Lirong mengajukan petisi keberatan resmi kepada
utusan Kompeni (VOC). Mereka menuntut kejelasan status politik wilayah
mereka, hak-hak pemerintahan otonom jemaat lokal, serta memprotes
intervensi sewenang-wenang Raja Tabukan. Namun, petisi ini diabaikan oleh
VOC demi menjaga stabilitas hubungan dengan sekutu regionalnya (Tabukan).
- Strategi Konversi Agama dan Interniran ke Batavia:
Di tengah tekanan Tabukan, seorang pemimpin lokal Lirong mencoba
meluncurkan manuver politik radikal untuk melepaskan diri. Ia mendekati
VOC dan menyatakan diri berpindah keyakinan ke agama Kristen dengan
harapan mendapatkan perlindungan hukum dan pengakuan kemerdekaan politik
dari kedaulatan Belanda. Namun, atas desakan diplomatik Raja Tabukan yang
marah, pejabat VOC menangkap tokoh tersebut dan mengirimkannya ke Batavia
untuk diinterogasi. Permohonan kemerdekaan politik Lirong pun ditolak
mentah-mentah oleh Dewan Hindia (Raad van Indië).
- Tahun 1705 (Pembangkangan Terbuka Goegoego Rion):
Resistensi mencapai puncaknya ketika Goegoego Rion melakukan
penolakan terbuka terhadap klaim kedaulatan Raja Tabukan atas Pulau
Lirong. Rion secara berani membeberkan argumen hukum historis bahwa relasi
historis antara Lirong dan Tabukan di masa lampau murni sebatas traktat
bantuan militer timbal balik (mutual military alliance), kerja sama
taktis masa perang, dan ikatan persahabatan antar-pemimpin adat. Rion
menegaskan bahwa hubungan tersebut sama sekali bukan merupakan penaklukan
yuridis maupun penyerahan kedaulatan wilayah, sehingga mengutuk klaim
sepihak Raja Tabukan sebagai tindakan fiktif dan ilegal.
BAB V:
EKSTIRPASI REMPAH, KEKUASAAN SIAU DI KABROEWANG, DAN SUPREMASI TERNATE
1. Jurisdiksi
Kerajaan Siau di Pulau Kabroewang
Pulau Kabroewang terletak satu
mil laut di sebelah tenggara Pulau Lirong. Berbentuk hampir bulat dengan
panjang 4 mil, lebar 2 mil, dan keliling 9–10 mil, pulau ini memiliki
keuntungan maritim karena sebagian besar pesisirnya bebas dari terumbu karang
berbahaya. Berbeda dengan Noenoefa, Karkalang, dan Lirong yang didominasi
penetrasi faksi Sangihe, Kabroewang secara administrasi berada di bawah kontrol
penuh Kerajaan Siau.
Kabroewang
hanya memiliki dua desa utama yang menampung sekitar 1.000 penduduk dan 300
pria bersenjata:
- Desa
Tówa Debále:
Dipimpin oleh penguasa lokal bergelar Raja Papoela yang mendiami rumah
kayu besar tradisional.
- Desa
Manáre (Manenan):
Diurus oleh seorang Zee-Voogd bernama Mahenke yang bertindak
sebagai representasi resmi urusan maritim dan administratif Raja Siau.
Secara
makro, jika kekuatan Kabroewang dikombinasikan dengan seluruh pulau yang
dicatat Valentyn, total kapasitas militer yang dapat dimobilisasi di Kepulauan
Talaud mencapai 2.600 prajurit bersenjata dari total populasi 8.100 jiwa.
2. Kebijakan
Ekstirpasi Robertus Padtbrugge dan Perlawanan Pasif (1677–1689)
Pada masa kepemimpinan Gubernur
VOC di Maluku, Robertus Padtbrugge (1677–1682), VOC menerapkan kebijakan kejam
yang dikenal sebagai Ekstirpasi. Kebijakan ini mewajibkan pemusnahan dan
penebangan massal pohon cengkih dan pala di luar wilayah pusat produksi yang
ditentukan Belanda, demi menjaga kelangkaan barang dan mengontrol stabilitas
harga tinggi di pasar global. Talaud, yang secara historis memiliki pohon
cengkih tua alami dan kayu berkualitas tinggi seperti Kayu Lololing
(sejenis kayu hitam/ebony), menjadi target operasi pembersihan ini.
- Ekspedisi Inspeksi Akhir November 1689:
VOC mengirimkan tim inspeksi bersenjata yang dipimpin oleh perwira militer
Vaandrig (Letnan Dua) David Haak dan pejabat sipil Onderkoopman
Pieter Alstein. Misi utama mereka adalah melacak sisa-sisa pohon rempah
pasca-ekstirpasi dan memutus jalur penyelundupan ilegal yang menghubungkan
Talaud dengan wilayah Mangindanao di Filipina Selatan.
- Strategi Kamuflase Pemusnahan:
Saat diinterogasi oleh Haak dan Alstein, para tetua lokal di Kabroewang
awalnya bersaksi bahwa seluruh tanaman cengkih telah musnah total. Namun,
penyelidikan mendalam VOC membongkar taktik perlawanan pasif masyarakat
Talaud. Penduduk lokal terbukti secara sengaja menyembunyikan tunas
cengkih dan pala di wilayah pedalaman dan lembah rahasia untuk digunakan
sebagai obat tradisional. Untuk mengelabui patroli VOC, penduduk
membiarkan tunggul pohon bekas tebangan membusuk selama berbulan-bulan di
jalur utama agar para petugas kolonial percaya bahwa program pemusnahan
telah sukses. Langkah ini membuktikan adanya resistensi ekonomi yang
cerdas dari masyarakat Talaud melawan monopoli VOC.
3. Integrasi
ke Jaringan Kekuasaan Kesultanan Ternate
François Valentyn menyimpulkan
bahwa Kepulauan Talaud secara formal telah diintegrasikan ke dalam lingkup
pengaruh dan kedaulatan mahkota Kesultanan Ternate sejak pertengahan abad ke-17
(sekitar tahun 1640 atau lima puluh hingga enam puluh tahun sebelum Valentyn
menulis karyanya). Integrasi politik ini diperkuat oleh dokumen tata
pemerintahan masa Sultan Mandarsyah di Ternate yang bersekutu dengan VOC.
Melalui payung hukum Ternate inilah, VOC mendapatkan legitimasi formal untuk
menancapkan kuku kekuasaannya dan melakukan intervensi politik atas kepulauan
di perbatasan utara tersebut.
BAB VI:
DINAMIKA GEREJA KOLONIAL, INSIDEN KRIMINAL LOKAL, DAN MISTERI LALOUEGA
1. Hambatan
Penginjilan dan Laporan Kegagalan Infrastruktur (1701)
Upaya kristenisasi yang didukung
oleh VOC di Talaud berjalan sangat lambat dan sporadis. Tokoh misionaris
seperti Pendeta Jacobus Montanus sempat melakukan kunjungan rohani pada akhir
abad ke-17, namun kunjungan para pendeta ke Talaud umumnya tidak teratur karena
faktor cuaca buruk dan jarak yang terisolasi. Kehadiran rohaniwan biasanya
hanya bertahan singkat untuk keperluan pembaptisan massal, inspeksi gerejawi
sekilas, dan pencatatan jemaat.
Pada tahun 1701, Fiscaal
(Jaksa Kolonial) Daniel Fiers dan Geheim-Schrijver (Sekretaris Rahasia)
Joannes de la Fontaine melakukan inspeksi komparatif di Talaud. Dalam laporan
resminya, mereka mengumumkan kekecewaan mendalam karena tidak menemukan satu
pun sekolah Kristen yang mapan di wilayah permukiman Lirong maupun pulau
lainnya. Hambatan utama penginjilan ini berakar pada keragaman bahasa lokal
Talaud yang sangat kompleks, serta minimnya pemahaman masyarakat terhadap
bahasa Melayu yang digunakan sebagai bahasa pengantar teologis kolonial. Di
sisi lain, perhatian VOC sering terpecah akibat ambisi memburu komoditas emas
di Mangindanao, sehingga mengabaikan pembangunan infrastruktur sosial di
Talaud.
2. Skandal
Penculikan oleh Kriminal Eropa (1705)
Kewibawaan politik penguasa lokal
Talaud diuji kembali pada tahun 1705 melalui tindakan kriminal yang dilakukan
oleh dua orang Eropa bernama Sebastiaan Kelder dan Abraham Stuit. Tanpa
mengindahkan hukum adat dan persetujuan para penguasa setempat, Kelder dan
Stuit nekat melakukan aksi penculikan massal terhadap sekitar enam puluh orang
penduduk lokal Talaud. Korban penculikan tersebut terdiri atas lapisan
masyarakat miskin yang tidak memiliki perlindungan politik kuat, serta sejumlah
budak domestik.
Tindakan sewenang-wenang ini
memicu gelombang kemarahan besar dari para Goegoego dan kepala suku di
Talaud. Menunjukkan taji kedaulatan hukum lokal yang masih solid, para pemimpin
Talaud berhasil mengepung, menangkap, dan menjebloskan Sebastiaan Kelder serta
Abraham Stuit ke dalam penjara lokal. Kedua pelaku dipaksa secara hukum untuk
membayar ganti rugi finansial penuh atas segala kerusakan dan trauma sosial
yang ditimbulkan. Kasus ini menjadi bukti sejarah penting bahwa para pemimpin
tradisional Talaud memiliki ketegasan hukum untuk melawan kesewenang-wenangan
bangsa Eropa.
3. Ekspedisi
Pelayaran dan Tragedi Kemanusiaan di Pulau Laloega (1694)
Pada
akhir abad ke-17, sejarah maritim Talaud diwarnai oleh sebuah peristiwa di mana
sekelompok penduduk Talaud hanyut terbawa arus laut lepas sejauh ratusan mil
hingga terdampar di pantai Kesultanan Ternate. Peristiwa dramatis yang terjadi
sekitar lima belas atau enam belas tahun sebelum penulisan catatan Valentyn ini
memicu rasa penasaran geopolitik yang tinggi dari otoritas kolonial Belanda.
- Ekspedisi
Oktober 1694:
VOC mengerahkan dua kapal perang dari pangkalan Ternate dengan misi
melacak tanah asal para korban selamat tersebut dan mencari sebuah pulau
misterius bernama Pulau Laloega.
- Kendala
Linguistik Komunikasi:
Ketika mencoba berkomunikasi, para penerjemah resmi VOC mengalami jalan
buntu. Penduduk yang terdampar tersebut berbicara dalam bahasa lokal
spesifik yang sama sekali berbeda dari bahasa Melayu maupun bahasa
Ternate, mengonfirmasi tingginya diversitas linguistik di kawasan
perbatasan tersebut.
- Misi
Coenraad van Ottereren dan Tragedi Kanibalisme: Otoritas VOC kemudian
menunjuk pejabat kolonial Coenraad van Ottereren untuk berlayar
menggunakan kapal kecil guna memulangkan para korban sekaligus memetakan
Pulau Laloega. Namun, misi ini berujung pada tragedi kemanusiaan yang
mengerikan. Berdasarkan laporan pelayaran yang diterima Valentyn, ketika
rombongan ekspedisi van Ottereren mencoba melakukan penetrasi ke wilayah
pedalaman pulau, mereka disergap secara masif oleh penduduk lokal yang
agresif. Seluruh rombongan dikepung, diserang di tempat, dan tidak ada
satu pun personel yang berhasil kembali hidup-hidup ke pantai. Di kalangan
pelaut kolonial masa itu, berkembang rumor mistis bahwa para korban tewas
tersebut dibunuh dan dimakan dalam ritual kanibalisme penduduk pedalaman,
sebuah narasi stereotip yang kerap diproduksi dalam dokumen kolonial abad
ke-17 untuk menjustifikasi penaklukan militer.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumber
Primer (Manuskrip & Arsip Kolonial)
- Arsip Nasional Republik Belanda (Nationaal Archief),
Den Haag:
- Kode
Arsip: VOC
1554, No. 12.
- Judul
Dokumen: "Log-book
of a voyage to Mindanao by sub-merchant Pieter Alsteyn and Ensign David
Haak, Oct. 21, 1693 to March 24, 1694" (Folio 56).
- Valentyn, François. (1724). Oud
en Nieuw Oost-Indiën, vervattende een Naaukeurige en Uitvoerige
Verhandelinge van Nederlands Mogentheyd in die Gewesten. Dordrecht: Joannes van Braam.
Sumber
Sekunder (Buku & Kajian Jurnal Ilmiah)
- Laarhoven,
Ruurdje.
(1987). "The Chinese at Maguindanao in the Seventeenth Century".
Philippine Studies, Vol. 35, No. 1, hlm. 31-50. Diterbitkan oleh
Ateneo de Manila University (Mengkaji rute perdagangan maritim transit
yang melintasi kawasan perairan Sangihe-Talaud berdasarkan laporan
Alstein).
- Heeres, J. E., & Stapel, F. W.
(Eds.). (Koleksi Berkelanjutan). Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum.
Den Haag: Martinus Nijhoff (Memuat kumpulan dokumen perjanjian politik
resmi VOC dengan raja-raja Sangihe dan Talaud yang dinegosiasikan oleh
Daniel Fiers dan De La Fontaine).
- Roessingh,
M. P. H.
(1967). "Dutch Relations with the Philippines: A Survey of Sources in
the General State Archives, The Hague". Asian Studies: Journal of
Critical Perspectives on Asia, Vol. 05, No. 2, hlm. 377-407. Quezon
City: University of the Philippines (Mengulas instruksi dinas, pelayaran
rahasia, dan pemetaan demografis di Kepulauan Talaud oleh para komisioner
VOC).
