KRONOLOGI LENGKAP BENCANA MANALU 1913

 

BENCANA MENALU 1913: GEMPA TEKTONIK DAN LONGSORAN KATASTROFIK DI SANGIHE

Oleh  :  Alffian  Walukow

Pada 14 Maret 1913, wilayah Kepulauan Sangihe diguncang gempa bumi kuat yang mengakibatkan longsoran besar dan kehancuran sejumlah permukiman. Peristiwa ini paling parah melanda kawasan Tabukan dan desa Menalu (ditulis pula sebagai Menaloe atau Menalongko dalam arsip kolonial).

Bencana ini terekam dalam berbagai surat kabar Hindia Belanda, antara lain Bataviaasch Nieuwsblad (14 Mei 1913), Leeuwarder Courant (30 Mei 1913), Algemeen Handelsblad (9 Juni 1913), dan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië (1 April 1913). Dokumentasi tersebut memberikan gambaran rinci mengenai dampak geologis dan respons sosial pascabencana.

 

2. Latar Geologi dan Kerentanan Wilayah

Pulau Sangihe Besar berada pada zona subduksi aktif di pertemuan Lempeng Laut Filipina dan Lempeng Eurasia. Di bagian tengah pulau berdiri kompleks gunung api tua Gunung Sahendaruman, yang dalam laporan kolonial disebut sebagai “gunung berapi yang tertidur”.

Menurut laporan pejabat kontrolir J.J.C. van Dijk, tekanan bawah tanah diduga menjadi penyebab utama runtuhan lereng yang menimbun Kampung Lesabe. Laporan tersebut menyatakan:

“Tanah dari gunung itu terdorong ke atas oleh aktivitas bawah tanah yang sangat dahsyat, lalu bongkahan-bongkahan raksasa runtuh menimpa kampung tersebut.”
(Bataviaasch Nieuwsblad, 14 Mei 1913).

Meski istilah “letusan” digunakan dalam beberapa laporan, investigasi lapangan tidak menemukan kawah baru ataupun material piroklastik. Hal ini mengindikasikan bahwa peristiwa tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai gempa tektonik yang memicu longsoran besar (seismic-induced landslide).

 

3. Kronologi Peristiwa 14 Maret 1913

Gempa terjadi sekitar pukul 17.00 dan berlangsung antara 4–5 menit. Saksi mata melaporkan guncangan awal bersifat vertikal, kemudian berubah menjadi horizontal.

Dalam laporan Algemeen Handelsblad (9 Juni 1913) disebutkan:

“Guncangan vertikal yang sangat kuat diikuti oleh gerakan horizontal yang berkepanjangan; tanah tampak bergelombang dan retak di berbagai tempat.”

Kerusakan paling parah terjadi di Kampung Lesabe, bagian dari wilayah Menalu. Sebanyak 29 rumah tertimbun total. Jumlah korban tewas dilaporkan antara 117 hingga 147 orang, tertimbun di bawah lapisan tanah setebal 2–3 meter.

Area kehancuran membentang sekitar 1.000 meter dari kaki bukit yang disebut Gunung Endongo (±80 meter). Retakan tanah selebar 0,5 hingga 2 meter ditemukan di berbagai titik.

 

4. Dampak Regional

Selain Menalu, kerusakan signifikan juga terjadi di:

  • Tamako: sekolah negeri dan rumah warga runtuh.
  • Petta: garis pantai ambles sekitar 1 meter sepanjang ±150 meter.
  • Manganitu: rumah raja dan kantor distrik roboh.
  • Pulau Tehang: empat orang meninggal tertimpa batu.

Surat kabar Leeuwarder Courant (30 Mei 1913) melaporkan bahwa gempa dirasakan luas hingga ke laut dan menyebabkan kepanikan massal.

Beberapa laporan juga menyebut kemungkinan gangguan bawah laut, meskipun tidak ada bukti pasti mengenai letusan submarin.

 

5. Investigasi Lapangan dan Analisis Awal

Pada 24–25 Maret 1913, pejabat kolonial melakukan inspeksi langsung. Mereka menemukan:

  • Terbentuknya teras longsoran selebar ±25 meter.
  • Retakan memanjang mengikuti lereng.
  • Tidak adanya kawah baru.

Laporan resmi menyimpulkan adanya tekanan internal kuat di dalam tubuh gunung. Namun, dari perspektif geologi modern, ciri-ciri tersebut lebih konsisten dengan keruntuhan lereng akibat gempa tektonik.

Dengan demikian, bencana ini dapat diklasifikasikan sebagai:

Gempa tektonik kuat + longsoran lereng gunung api tua (catastrophic slope failure).

 

6. Respons Darurat dan Kebijakan Kolonial

Pemerintah kolonial segera mengambil langkah tanggap darurat:

  1. Distribusi beras dari kas pemerintah dan sumbangan lokal.
  2. Pembentukan komite bantuan lintas wilayah.
  3. Penyemprotan jenazah dengan karbol sebelum penguburan.
  4. Pemusnahan hewan liar untuk mencegah wabah.
  5. Relokasi penyintas ke dataran lebih tinggi (±100 meter dpl).

Dalam laporan disebutkan bahwa penggalian massal tidak dilakukan karena risiko kesehatan:

“Akan sangat berbahaya menggali seluruh jenazah yang telah membusuk di bawah lapisan tanah dua hingga tiga meter.”
(Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 1 April 1913).

Menariknya, pemerintah memutuskan tidak membangun kembali desa di lokasi lama. Kawasan tersebut dibiarkan sebagai kuburan massal alami demi alasan kesehatan masyarakat.

 

7. Dimensi Sosial dan Kepercayaan Lokal

Arsip kolonial mencatat bahwa masyarakat juga diliputi ketakutan terhadap roh jahat (Mahaliana). Trauma kolektif memperkuat keengganan untuk kembali ke lokasi terdampak.

Selain itu, wilayah pesisir rendah dikenal rawan malaria. Relokasi ke dataran tinggi secara tidak langsung meningkatkan kesehatan masyarakat.

 

8. Signifikansi Historis

Bencana Menalu 1913 memiliki arti penting dalam sejarah kebencanaan Indonesia:

  • Menjadi dokumentasi awal hubungan gempa dan longsoran gunung api dorman.
  • Memberikan data historis deformasi pesisir (amblesan 0,5–1 meter).
  • Menunjukkan pola mitigasi kolonial berbasis kesehatan masyarakat.
  • Memperkaya historiografi bencana di Indonesia Timur.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa gunung api yang dianggap “tidur” tetap memiliki potensi bahaya melalui ketidakstabilan lerengnya.

 

9. Kesimpulan

Bencana Menalu 1913 merupakan peristiwa gempa tektonik kuat yang memicu longsoran katastrofik di lereng kompleks Gunung Sahendaruman. Kampung Lesabe hancur total dengan korban lebih dari seratus jiwa.

Secara ilmiah, peristiwa ini lebih tepat dikategorikan sebagai bencana tektono-vulkanik daripada letusan magmatik. Dokumentasi sezaman menjadi sumber penting dalam memahami dinamika geologi kawasan Sangihe yang hingga kini tetap aktif secara tektonik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Surat Kabar Sezaman

Algemeen Handelsblad. 9 Juni 1913. “Aardbeving in de Sangihe-Eilanden.”

Bataviaasch Nieuwsblad. 14 Mei 1913. “Natuurramp op Groot-Sangi.”

Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië. 1 April 1913. “Aardbeving in de Sangihe-Archipel.”

Leeuwarder Courant. 30 Mei 1913. “Rampen in de Sangihe- en Talaud-Eilanden.”

Literatur Pendukung Modern

Hamilton, W. (1979). Tectonics of the Indonesian Region. U.S. Geological Survey Professional Paper 1078.

Hall, R. (2012). Late Jurassic–Cenozoic reconstructions of the Indonesian region and the Indian Ocean. Tectonophysics.

PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). (Berbagai laporan aktivitas gunung api Sulawesi Utara).


Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja