MAKNA ZIARAH DALAM KEBUDAYAAN SANGIHE

 

KAJIAN ETNOLINGGUISTIK: KONSEP KUNJUNGAN  DALAM KOSAKATA SANGIHE DAN PERGESERAN MAKNA ZIARAH TRADISIONAL




Dalam kebudayaan tua suku Sangihe, konsep mengenai mobilitas fisik untuk menemui atau mendatangi suatu objek tidak dipandang sekadar sebagai perpindahan tempat yang profan. Berdasarkan analisis semantik terhadap kosakata kuno Sangihe-Belanda yang disajikan, kata "ziarah" dalam kosmologi kuno Sangihe memiliki akar filosofis yang berbeda dengan konsep ziarah modern (yang sering kali diartikan sebagai perjalanan khusus ke pemakaman umum atau tempat keramat yang jauh).

Dalam kebudayaan tua suku Sangihe, secara historis tidak ada tradisi berziarah ke makam atau kuburan. Hal ini dikarenakan karakteristik penguburan masa lalu masyarakat Sangihe tidak dipusatkan di lahan pemakaman umum yang terpisah. Sebagian besar kubur orang Sangihe di masa lalu berada di lingkungan domestik—terletak di dekat rumah, di samping rumah, di bawah kolong rumah, bahkan ada yang berada di dalam rumah hingga di dalam kamar tidur keluarga.

Oleh sebab itu, hubungan dengan orang yang telah meninggal bersifat intim dan harian, bukan sesuatu yang perlu dikunjungi secara musiman lewat perjalanan khusus. Kata-kata yang bermakna "kunjungan" (bezoek) dalam kamus tua Sangihe ini justru menjadi landasan filosofis tentang bagaimana arti "ziarah" sesungguhnya dalam tradisi purba mereka: sebuah tindakan menjaga harmoni ruang hidup, meneguhkan komitmen, dan merawat relasi kosmis serta sosial.

Berikut adalah kajian etnolingguistik mengapa kosakata tersebut dikaitkan dengan esensi ziarah dalam kebudayaan tua Sangihe:

1. Kedekatan Domestik dan Peneguhan Ikatan (Sake)

Kata sakẹ atau manakẹ berarti mengonfirmasi, meneguhkan, mengikat kuat-kuat, atau menambatkan. Kata ini juga digunakan untuk mengencangkan tali kulit pada perahu tradisional (kakiraeng dan linggisang).

  • Analisis Kebudayaan: Karena kubur para leluhur berada di dalam atau di sekitar rumah, interaksi dengan mereka adalah bagian dari keseharian. Tindakan "ziarah" dalam konteks ini berubah bentuk menjadi ritus harian untuk manakẹ—yaitu meneguhkan, mengonfirmasi, dan mengikat kembali ingatan anggota keluarga yang masih hidup dengan fondasi leluhurnya. Seperti tali yang menambatkan perahu agar tidak hanyut dibawa arus laut, keberadaan makam di dalam kamar atau samping rumah berfungsi sebagai "tambatan batin" agar manusia Sangihe tidak kehilangan arah hidup dan identitasnya.

2. Ziarah Kosmis ke Pusat Alam (Koto)

Melalui kata koto / mĕkoto, kita menemukan fungsi kunjungan yang beralih ke ranah alam, yaitu mengunjungi, melihat/memeriksa, atau memantau keadaan. Kosakata ini memuat frasa khusus seperti mĕkoto Awu (pergi melihat kondisi Gunung Awu) dan kakoto (persembahan/sesajen yang dibawa ke gunung berapi).

  • Analisis Kebudayaan: Suku Sangihe tua tidak melakukan ziarah ke kuburan karena para leluhur sudah "tinggal bersama" mereka di rumah. Namun, mereka melakukan ziarah kosmis ke gunung berapi (Gunung Awu). Aktivitas mĕkoto Awu oleh petugas khusus (mĕkakoto Awu) adalah bentuk ziarah ekologis-spiritual. Mendatangi puncak gunung dengan membawa kakoto (sesajen) bertujuan untuk memantau aktivitas alam sekaligus memohon restu keselamatan kepada penguasa jagat. Ziarah bagi orang Sangihe purba adalah perjalanan menemui alam, bukan menemui kematian.

3. Kemurnian Niat dan Ujian Kesiapan Batin (Niatạ dan Linggohọ)

Konsep mendatangi sesuatu dalam tradisi Sangihe menuntut kesiapan batin yang tinggi. Hal ini tecermin dari kata niatạ / mĕniatạ (pergi melihat/berkunjung) yang berkerabat dekat dengan mĕnaniatạ (menantang, menguji nyali/kesabaran melalui kata atau perbuatan), serta kata dumalinggohọ (berdiri berjinjit dan mendongak untuk melihat melampaui penghalang).

  • Analisis Kebudayaan: Perjalanan spiritual (seperti mendaki gunung suci atau mendatangi wilayah adat lain) dipandang sebagai proses mĕnaniatạ—sebuah ujian mental, nyali, dan kesabaran fisik. Ketika seseorang melakukan kunjungan suci, ia sedang menguji kemurnian niatnya. Tindakan dumalinggohọ (berjinjit dan mengangkat kepala) menggambarkan kerendahan hati sekaligus kesungguhan estetis manusia Sangihe untuk mengintip atau melampaui batas tabir pembatas antara dunia manusia dan kuasa gaib di luar dirinya.

4. Menengok Ruang Hidup sebagai Ritus Kedamaian (Linggo)

Kata linggo / mĕlinggo / luminggo memiliki arti kembar: sesekali pergi melihat/menengok dan mengusir/menakut-nakuti hama di kebun. Terdapat pula kata dalinggo (buah tangan saat berkunjung atau orang-orangan sawah).

  • Analisis Kebudayaan: Karena orang mati tidak perlu "diziarahi" ke pemakaman luar, aktivitas kunjungan luar rumah dialihkan untuk merawat tanah kehidupan. Menengok kebun secara berkala (taghalĕkowe lĕlinggoi waelĕ e) dipandang sebagai ziarah ekologis. Manusia mendatangi tanah yang memberinya penghidupan, membersihkannya dari gangguan hama menggunakan ipĕlinggo (pengusir hama), dan membawa pulang berkah. Ruang alam (kebun/sawah) disakralkan, sehingga aktivitas merawatnya memiliki bobot spiritual yang setara dengan ritus keagamaan.

5. Solidaritas Sosial Komunal (Limbogho dan Damạ)

Kata limbogho / mĕlimbogho berarti berkunjung karena rasa simpati/pedulian dengan membawa buah tangan, terutama menjenguk orang sakit (dumalimbogho). Sementara kata damạ / maramạ / karamakeng menggambarkan kunjungan dalam jumlah massa yang sangat besar atau serbuan kelompok sekaligus.

  • Analisis Kebudayaan: Fokus kebudayaan suku Sangihe tua adalah merawat yang hidup dan merawat harmoni komunitas (mĕdalimbogho—saling mengunjungi dan menolong). Ketika terjadi peristiwa adat besar, fenomena karamakeng (kedatangan tamu dalam jumlah massal) memaksa terjadinya asimilasi sosial yang erat, bahkan hingga harus meminjam peralatan makan ke tetangga (mangĕdangko lamạ). Kunjungan massal ini memperkuat rajutan sosial (social fabric) antar-keluarga Sangihe.

6. Ritus Transi-Fase Kehidupan (Dangeng dan Lako)

Siklus hidup manusia Sangihe dirayakan melalui tindakan saling mendatangi. Hal ini terlihat pada kata dangeng (proses menaiki tangga rumah, termasuk ritual adat nirangeng yaitu mengantar pengantin pria ke rumah pengantin wanita) dan lako (pergi, mengutus, atau mengirimkan pesan/bisikan rahasia).

  • Analisis Kebudayaan: Setiap transisi kehidupan dijalani dengan ritus kunjungan yang sakral. Proses menaiki tangga rumah (dumangeng) menuju ruang domestik tempat keluarga (dan makam leluhur) berada merupakan bentuk penghormatan struktural. Sementara kata lako (khususnya dalam bahasa sastra kuno Sasahara) yang melibatkan kalimat peribahasa / taku burungang iroị / siangeng iapalako / (sebuah rahasia akan kubisikkan kepadamu dan melepaskanmu pergi), menyiratkan bahwa setiap kunjungan kultural selalu membawa transfer pengetahuan dan petuah luhur dari generasi tua kepada generasi penerus.

Kesimpulan

Kosakata kuno Sangihe menegaskan struktur budaya asli mereka yang unik: mereka tidak mengenal tradisi ziarah kubur karena kuburan berada di dalam atau di samping rumah sebagai bagian dari ruang privat harian.

Istilah-istilah kunjungan (bezoek) dalam bahasa kuno Sangihe ini dikaitkan dengan esensi ziarah karena kebudayaan Sangihe mengalihkan tindakan spiritual "mendatangi" tersebut kepada tiga hal utama:

  1. Ziarah Domestik (Sakẹ): Merawat kedekatan dengan leluhur yang jasadnya menyatu di dalam lingkungan rumah.
  2. Ziarah Kosmis (Koto): Mengunjungi dan menghormati kekuatan alam/gunung berapi demi keselamatan komunal.
  3. Ziarah Sosial-Ekologis (Limbogho & Linggo): Mendatangi sesama manusia yang membutuhkan kepedulian serta merawat tanah/kebun sebagai sumber kehidupan.

Bagi suku Sangihe tua, rumah adalah tempat persemayaman sekaligus tempat bersekutu antara yang hidup dan yang mati, sedangkan dunia luar adalah ruang untuk bekerja, merawat alam, dan menjalin persaudaraan.

 

 

Arti  kata  secara  harafiah :

  • bezoek, dampagě, sake; — vijandig —, lako; — krijgen, sampagě.
  • bezoeken, daḷimbogho, koto, limbogho, linggo, niatạ; elkr —, dangeng, limbogho; i grote menigte tegelijk —, damạ; even —, linggohọ.

Arti secara  harafiah :

Dampagě ;

·        dampagĕ: kunjungan; melawat.

·        karampageng = karĕntaëng: datang tiba-tiba, dikejutkan/terkejut, kedatangan tamu di rumah.

·        kinarampageng u sakĕ lawo lawo, sala nisambange: dikagetkan/dikejutkan oleh banyaknya tamu yang datang berkunjung, ia menjadi sangat sibuk (seluruh waktunya tersita untuk melayani tamu).

·        cf sampagĕ: bandingkan dengan kata sampagĕ.

Penjelasan Tambahan Arti Kata :

·        Kunjungan / tamu.

·        Datang secara tiba-tiba.

·        Dikejutkan / dibuat terkejut.

·        Kedatangan tamu di rumah.

·        Karena dikejutkan oleh banyaknya kunjungan, dia menjadi sepenuhnya sibuk/tersita perhatiannya.

 

sake;

-        sakẹ / manakẹ: mengonfirmasi, meneguhkan, mengikat kuat-kuat, menambatkan.

-        manakẹ balang: mengencangkan/mengikat tali kulit pada kakiraeng dan linggisang (jenis perahu/bagian perahu tradisional); bandingkan dengan Pl 28/3, 4.

-        manakẹ kawilạ: memasang hiasan manik-manik pada kotak/wadah.

-        manakẹ panamba: memasang sahumạ (hiasan serat/bulu) dan hiasan lainnya pada topi.

-         manakẹ seha: mewarnai/mengecat hote (sejenis wadah/perahu kayu) menggunakan seha (bahan pewarna alami).

-        sasakẹ: bahan yang digunakan untuk mengikat/mengencangkan.

-        saketang:  Ditambatkan/diikatkan padanya.

Si nisaketang u pědu = Sa sawilang (sawilĕ) atau nihaikang (hai) u pědu: menjadi marah, mengamuk, naik pitam; istilah ini juga digunakan untuk orang yang sedang mabuk: nisaketang u inumang (terikat/dikuasai oleh minuman keras).

lako ;

·        lako: bentuk bahasa Sangihe (Sasahara) dari kata dolohĕ, artinya mengirim / mengutus.

·        iapalako: membiarkan pergi, dikirim / diutus.

(Bahasa Sastra/Bidal): / taku burungang iroị / siangeng iapalako /, maksudnya: sebuah rahasia akan kubisikkan kepadamu dan (dengan itu) melepaskanmu pergi, dengan bisikan aku akan mengirimmu pergi.

o   lumako: pergi, menuju ke suatu tempat, berusaha menjangkau/mencapai sesuatu (misalnya: berusaha mencapai pohon yang tidak bisa dipanjat dengan mudah, dengan cara menyeberang dari pohon lain atau dari batu menggunakan jembatan primitif/darurat) = lakoĕng atau lapeĕng; lumako = lumape, bandingkan dengan kata lape.

·        dalako:

Kunjungan yang bermusuhan (serangan musuh).

      • tumondon dalako = mangalo: berkelahi, bertarung, berperang.

buala ralako: buaya yang datang dari tempat lain ke wilayah yang biasanya tidak ada buaya.

o   dumalako = mĕtiwo: pergi ke suatu tempat sebentar saja (singgah/mampir).

o   dalakoĕng: dikunjungi sebentar / dikunjungi sekilas.

 

limbogho;

limbogho / mĕlimbogho / dumalimbogho / mĕtiwo: berkunjung/menjenguk karena rasa kepedulian atau simpati, sekaligus langsung membawa sesuatu (buah tangan/oleh-oleh) untuk orang yang dikunjungi.

mĕdalimbogho: saling mengunjungi, saling membantu/menolong satu sama lain.

talimbogho / tatalimbogho: segala sesuatu yang digunakan atau berfungsi untuk membujuk, mengalihkan perhatian, menenangkan, atau memikat seseorang.

manalimbogho: membujuk, menenangkan, mengalihkan perhatian, memikat/merayu.

dumalimbogho atau lumalimbogho: mencari, menjenguk, atau mengunjungi orang yang sedang sakit.

dangeng;

dangeng / mĕdangeng / mĕdanging: masuk atau menerobos ke dalam rumah secara paksa/menggunakan kekerasan sebagai musuh (menyerbu). Di daerah Talaud disebut danging.

dumangeng: menaiki tangga. Di Sangihe (Sas) disebut mairengkang (bandingkan dengan dengkang); di Bentonan (Bent) disebut rumangen; di Bisuka (Bis) disebut dangkat.

mĕndangeng: membawa ke atas, membawakan sesuatu menaiki tangga; (lihat Peribahasa/Ungkapan 147).

pĕndarangeng: waktu atau cara bagaimana sesuatu dibawa ke atas.

darangenang / pĕndarangenang: tempat atau jalur yang dilewati seseorang untuk berjalan menuju ke atas (tangga/jalan naik); (lihat Peribahasa/Ungkapan 162).

mĕdarangeng / mahĕndangenang: saling mendatangi ke atas rumah satu sama lain, saling mengunjungi.

nirangeng: pemuda (calon pengantin pria) yang diantarkan oleh orang tuanya ke rumah calon pengantin wanitanya (adat/istilah ini sifatnya kurang formal dibandingkan dengan istilah niĕntudĕ).

 

koto;

               1. koto (Kata Dasar Pertama)

·        koto / mĕkoto: mengunjungi, melihat/memeriksa, mencari tahu situasi atau memantau keadaan suatu hal.

·        dem mĕkoto si sire pira mĕkĕkasitirĕ: masih mengunjungi beberapa orang tahanan/narapidana.

·        mĕkoto limasĕ: ungkapan halus (eufemisme) untuk buang air kecil (kencing).

·        mĕkoto Awu: pergi melihat bagaimana kondisi Gunung Awu saat ini.

·        mĕkakoto Awu: orang-orang yang memiliki tugas khusus untuk secara berkala memantau dan melaporkan kondisi kawah Gunung Awu.

·        kakoto: barang atau buah tangan yang dibawa saat berkunjung; bisa juga berarti persembahan/sesajen yang dibawa ke gunung berapi.

2. kotọ (Kata Dasar Kedua)

·        kotọ: ujung dari dahan/ranting pohon (sinonim dari togorĕ), puncak pohon (sinonim dari pusung).

·        su kotọ u Moadĕ: di ujung sebuah gosong pasir (timbunan pasir di muara/laut).

·        kotọ u lanabĕ: awal dimulainya air pasang.

·        kotọ u irung: ujung hidung.

·        balawo kotọ: tikus.

·        lewako kotọ u irungu!: keluar/tergelincir! (ungkapan ketegasan atau ejekan).

·        tamakawołeng kalaeng bọu kotọ e: "seseorang tidak bisa menarik perahu kalaeng hanya dari ujungnya saja", sebuah peribahasa yang berarti: seseorang tidak bisa melakukan hal yang mustahil, terkadang kita harus menyerah atau mengakui keterbatasan.

·        mangotọ: (Bahasa Sastra Sangihe Selatan/ZSa) membuat struktur tiang (tĕdu) pendek yang tidak sampai menyentuh bagian atas (ampa).

·        kakotọ e: bait penutup atau ayat terakhir dari sebuah syair/nyanyian adat (kakumbaedĕ).

·        kotọ u ĕmme: padi yang paling pertama menguning/matang.

·        kotọ u tahiti: tetesan air hujan yang pertama.

linggo;

               linggo / mĕlinggo / luminggo:

Sesekali pergi melihat, menengok, atau mengunjungi.

Mengusir, menakut-nakuti (untuk menghalau); karena dengan pergi ke kebun, seseorang dapat menjaga jarak serta mengusir babi dan burung agar menjauh.

taghalĕkowe lĕlinggoi waelĕ e: tanaman itu harus sering-sering ditengok/diperiksa!

pakasauweng linggone, kai sem marĕngu ta nakalinggo manga ana: dia harus lebih sering berkunjung, sudah lama dia tidak bisa menjenguk anak-anaknya.

linggoĕng: dikunjungi, ditengok.

makalinggo: mampu mengunjungi, dapat menjenguk, atau dapat menakut-nakuti/mengusir.

ipĕlinggo: sesuatu yang digunakan untuk menakut-nakuti atau mengusir (hama).

dalinggo:

§  Sinonim dari kata tatiwo, yaitu buah tangan atau sesuatu yang dibawa saat datang berkunjung.

§  Orang-orangan sawah; atau segala sesuatu yang berfungsi untuk menakut-nakuti babi dan hewan lainnya agar tidak masuk ke dalam kebun.

bawiwe ta karalinggoĕng: babi yang tebal muka / tidak mau takut atau tidak bisa diusir.

linggoho;

linggohọ / luminggohọ: mengintip atau menengok sebentar ke tempat seseorang dari balik sudut/tikungan; selain itu maknanya sama dengan kata dumalinggohọ.

dumalinggohọ: meregangkan badan dan berdiri berjinjit (mengangkat tumit), serta mengangkat kepala/mendongak agar dapat melihat ke dalam sesuatu atau melihat melampaui suatu penghalang (menjenguk/berjinjit untuk melihat).

 

niatạ;

·        niatạ / mĕniatạ: pergi melihat sesuatu, menengok, atau berkunjung.

·        mĕnaniatạ: menantang, menguji (menguji nyali/kesabaran) seseorang baik melalui perkataan maupun perbuatan.

·        mananiatạ: orang yang pergi melakukan kunjungan; pengunjung atau pelawat.

 

damạ;

damạ / mĕndamạ: melepaskan dalam jumlah besar ke arah sesuatu, membuat (sesuatu) berdatangan berbondong-bondong.

maramạ: datang menyerbu atau bermunculan dalam jumlah yang sangat banyak sekaligus (untuk manusia maupun hewan).

sake kereng kalawọe naramạ su wale sĕmbau kĕbị: seluruh rombongan tamu/pengunjung itu semuanya datang berkunjung ke dalam satu rumah yang sama.

putung naramạ: obor para nelayan ketika ada banyak sekali obor yang menyala terang secara berdekatan.

karamakeng: dikunjungi, didatangi, atau diserbu oleh banyak orang/hewan secara bersamaan.

sasuang e tawe nariadi, nikaramakangkem bawing kĕhu sĕnggapaĕng: tanaman kebun itu tidak menghasilkan apa-apa (gagal total), karena telah diserbu oleh kawanan besar babi hutan.

baelĕ buhu niasị e tawe nariadi, nikaramakeng u manụ u lampung ta nisamĕ: sawah/ladang yang baru saja ditaburi benih padi itu gagal total, karena ayam-ayam tetangga yang tidak dikandangkan pergi merusaknya ke sana.

mangĕdangko lamạ u nikaramakengken sake ławọ e tawe nĕtiudĕ lamạ i kami tahanạ e: bolehkah saya meminjam beberapa piring? Kami kedatangan sangat banyak tamu dan piring kami tidak cukup untuk menjamu mereka.

nikaramakeng u tahiti: terjebak atau kehujanan tiba-tiba (kemasukan/diserbu oleh tetesan air hujan).

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja