MARGA LAHUNDUITAN
MARGA LAHUNDUITAN
ANALISIS ETIMOLOGI, SEJARAH MIGRASI, DAN REKAM JEJAK
INTELEKTUAL
Oleh : Alffian
Walukow
Nama Lahunduitan (atau dalam ejaan lama: Lahoendoeitan)
bukan sekadar identitas keluarga, melainkan sebuah rekaman sejarah dan nilai
luhur masyarakat Sangihe. Melalui integrasi data sejarah dan leksikografi, kita
dapat memahami betapa mendalamnya makna yang terkandung dalam marga ini.
Fakta Sejarah dan Migrasi Marga
Bukti sejarah menunjukkan bahwa penduduk mula-mula di
Tariang Lama berasal dari Kendahe, yang bermigrasi akibat letusan Gunung Api
Awu pada tahun 1640-an. Dalam konteks ini, Upung Marange Lahunduitan
diketahui berasal dari Kerajaan Kendahe. Akibat bencana erupsi tersebut,
keluarga Lahunduitan berpencar menuju berbagai tempat pengungsian, salah
satunya di wilayah bernama Matane yang kemudian dikenal sebagai Tariang. Dari
Tariang inilah cikal bakal persebaran marga Lahunduitan bermula.
Letak “Matane”
di Pulau Sangihe
berdasarkan Peta
Francois Valentijn, 1724.
Analisis Etimologi dan Semantik
Berdasarkan Sangirees-Nederlands Woordenboek karya
K.G.F. Steller dan W.E. Aebersold, etimologi Lahunduitang berpijak pada lema "duị",
yang memiliki cakupan semantik luas:
- Tindakan
Fisik (měnduị): Mengangkat atau menempatkan ke posisi lebih tinggi.
- Tindakan
Sosial/Politik: Pengangkatan jabatan atau martabat, seperti
pengangkatan raja (irui datu).
- Fenomena Muncul (dumuị): Kemunculan massal, baik
organisme maupun hasil alam.
Secara
morfologis, "Duị" adalah bentuk hipokoristik dari nama diri laki-laki
(Daruị, Makarui, Gampangduị, Duitang), yang disandingkan dengan Lahunduitang.
Dalam konteks adat, Lahunduitan dimaknai sebagai "Penobatan Raja di
atas Raja atau Mẹ̆lahunduitang",
sebuah posisi hierarki kemuliaan lebih
tinggi daripada istilah Mĕlaniẹ̆ Tĕmbonang (penobatan Raja atau
Pemimpin Tertinggi). Nama ini
merepresentasikan otoritas puncak yang membawa keberkahan dan legitimasi
kekuasaan agung bagi komunitasnya.
Rekam
Jejak Historis dan Intelektual
Catatan
arsip kolonial (1909–1950) membuktikan kontribusi keluarga Lahunduitan dalam
berbagai bidang strategis:
- Pelayanan
Kesehatan: B. Lahoendoeitan tercatat sebagai tenaga kesehatan
di Enemawira dan Sawang (1909–1911).
- Pendidikan
dan Profesionalisme: M. Lahoendoeitan, P. Lahoendoeitan, dan I.
Lahoendoeitan aktif dalam pendidikan formal di Christelijke Muloschool
dan Middelbare Landbouw School (1938–1941). M. Lahoendoeitan juga meraih leraarsdiploma
ekonomi pada 1950.
Profil
Akademisi: Prof. Dr. Ir. S. Berhimpon, M.App.Sc.
Sebagai
keturunan dari tradisi intelektual ini, Prof. Dr. Ir. S. Berhimpon, M.App.Sc.,
yang lahir di Tahuna (9 Juni 1949), adalah cucu dari pasangan keluarga Lahunduitan-Macpal.
Beliau melanjutkan estafet kepemimpinan dan pendidikan marga ini dengan
rekam jejak:
- Direktur Pascasarjana
Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).
- Profesor di Politeknik Negeri
Nusa Utara (Polnustar).
- Dosen Tetap Pascasarjana
Unsrat.
Di luar dunia akademis, beliau dikenal sebagai pribadi
yang tangguh dengan hobi sepak bola, tenis, dan renang. Filosofi
"pengangkatan derajat" yang melekat pada marga Lahunduitan terwujud
dalam dedikasi beliau mengangkat martabat pendidikan tinggi di Sulawesi Utara.
Lahunduitan adalah simbol kekuasaan, martabat, dan
ketangguhan yang telah teruji oleh bencana alam maupun tantangan zaman. Dari
migrasi pasca-letusan Gunung Awu hingga pencapaian akademik di kancah nasional,
marga ini terus merepresentasikan nilai "Raja di atas Raja"—sebuah
simbol martabat yang tetap hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.
Sumber
Referensi:
- Sangirees-Nederlands
Woordenboek (K.G.F. Steller & W.E. Aebersold).
- Bataviaasch nieuwsblad (1938–1941, 1950).
- Geneeskundig
tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1909,
1911).
- Profil Profesor (Blogger.com,
25 Desember 2011).
- LinkedIn (Profil Siegfried
Berhimpon, Polnustar).
- Universitas Sam Ratulangi
(Pascasarjana.unsrat.ac.id).
Silsilah Keluarga Lahunduitan-Macpal
Sumber silsilah
: Josias Tatontos dihubungkan dengan silsilah lainnya.
Generasi I: Kakek-Nenek Buyut (Great-Grandparents)
- Kakek
Upung Lahunduitan menikah dengan Macpal
- Memiliki
anak:
- Lahunduitan
(perempuan)
- Nenek
Ara Lahunduitan (perempuan)
- Desi
Lahunduitan (perempuan)
- Izaak
(Dolongkirala) Lahunduitan (laki-laki)
- Lahunduitan
(perempuan)
- Lahunduitan
(perempuan)
Generasi II:
Kakek-Nenek (Grandparents)
- Lahunduitan (perempuan) menikah dengan Mocodompis
(laki-laki).
- Anak: Jehezkiel Mocodompis
(laki-laki), Uziel Mocodompis (laki-laki), Cornelia Mocodompis
(perempuan), Sayang Mocodompis (laki-laki).
- Nenek
Ara Lahunduitan (perempuan) menikah dengan Berhimpon (laki-laki).
- Nenek Desi Lahunduitan menikah dengan Manumpil
- Anak:
Hermanus Manumpil (laki-laki), Emma Manumpil (perempuan), Manumpil
(perempuan), Tatuwo Manumpil (laki-laki).
- Nenek (...........) Lahunduitan menikah dengan Berhimpon.
- Anak:
Suzana Berhimpon (perempuan), Izak Berhimpon (laki-laki), Marcus
Berhimpon (laki-laki).
Generasi III: Orang Tua & Paman/Bibi (Parents &
Uncles/Aunts)
- Keluarga Jehezkiel Mocodompis
(laki-laki):
- Menikah dengan Charlote Sakudu
(perempuan) [Ayah: Alnord Sakudu (laki-laki)]: Grietly Ribca Mocodompis
(perempuan), Bernard Gerald Mocodompis (laki-laki), Doksius Mocodompis
(laki-laki).
- Menikah dengan Uzulina Rodingan
(perempuan): Hemor Jerry Mocodompis (laki-laki), Zeth Mocodompis
(laki-laki), Petronella Mocodompis (perempuan), Elvira Mocodompis
(perempuan).
- Keluarga Uziel Mocodompis (laki-laki):
- Menikah dengan Paulina Jacobs
(perempuan): Engeline (perempuan), Eugenia (perempuan), Cornelia Paulina
(perempuan), Ana (perempuan), Adelheid (perempuan), Laura (perempuan).
- Lainnya:
- Cornelia Mocodompis (perempuan)
menikah dengan Adriaan (laki-laki).
- Sayang Mocodompis (laki-laki)
menikah dengan Gerson Tengkue (laki-laki).
Generasi IV: Sepupu (Cousins/Once Removed)
- Keluarga
Hermanus Manumpil (laki-laki):
- Menikah
dengan Ade Unknown (perempuan): Ratuliu Manumpil (laki-laki).
- Keluarga
Izak Berhimpon (laki-laki):
- Menikah
dengan Sony Sinsu (perempuan): Anton (laki-laki), Rachel (perempuan),
Siegfried (laki-laki), Beny (laki-laki), Tein/Opo (perempuan/laki-laki).
- Keluarga
Marcus Berhimpon (laki-laki):
- Menikah
dengan Dumaili (perempuan): Dalo (laki-laki), Konda
(perempuan/laki-laki), Christian (laki-laki).
Cabang Keturunan Lahunduitan yang Belum Terhubung
Hingga saat ini, beberapa garis keturunan besar dari marga
Lahunduitan belum dapat dihubungkan secara definitif ke silsilah utama Upung
Lahunduitan Marange, yaitu:
- Kẹ̆kitung
Lahunduitan
- Rame-Rame
Lahunduitan
- Sampingang
Lahunduitan
- Keturunan
Lahunduitan di Tariang Baru
- Keturunan
Lahunduitan dari Tete Burung Togelang
Silsilah Khusus: Kẹ̆kitung Lahunduitan
Kẹ̆kitung Lahunduitan merupakan salah satu anak dari Upung
Lahunduitan Marange (leluhur tinggi) yang berasal dari Kendahe.
Keluarga Kẹ̆kitung Lahunduitan (perempuan): Kẹ̆kitung
Lahunduitan menikah dengan Matius Samalam yang dijuluki "Kanari".
Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat orang anak, yaitu:
- Markus
Samalam (laki-laki)
- Yakob
Samalam (laki-laki)
- Rehabeam
Samalam (laki-laki)
- Ansiana
Samalam (perempuan)
Sumber Referensi:
- Data
Silsilah Keluarga (Catatan silsilah marga Lahunduitan mengenai cabang
keturunan Kẹ̆kitung dan daftar cabang yang belum terhubung ke Upung
Lahunduitan Marange).
1)
Naimang Lahunduitan
( kel. Berhimpong – Lahunduitan)
2)
Izak
Sasiriang Lahunduitan ( kel.
Lahunduitan – Katiandagho )
3)
Nenek Ara Lahunduitan ( kel. Berhimpong Lahunduitan )
4)
Desintje
Lahunduitan ( kel. Manumpil -
Lahunduitan ).
5)
Kel. Tatontos – Lahunduitan.
6)
Kel. Mokodompis -
Lahunduitan, memiliki empat
anak yaitu :
1. Naimang
Lahunduitan ( kel. Berhimpong –
Lahunduitan)
2. Izak Sasiriang/Dolongkirala (Kel. Tatontos – Lahunduitan)
3. Kel. Lahunduitan – Katiandagho
4. Nenenk Ara (Kel. Berhimpon Lahunduitan) memperanakkan :
3.1. Suzana
Berhimpon
3.2. Izak Berhimpon
3.3. Marcus Berhimpon
5. Desintje Lahunduitan ( kel.
Manumpil - Lahunduitan ).
Hendrik Bendari
Manumpil
menikah dengan Desintje Lahunduitan memperanakkan :
1)
Hermanus Manumpil ; lahir
tahun 1899
2)
Ema Manumpil ; lahir tahun 1902
3)
Adeleida Manumpil ; lahir
tahun 1908
4)
Johanis Marthin Luther Manumpil ( Tatuwo atau Tuwoliu) ; lahir tahun 18 November 1912
Hendrik Manumpil Adalah
Kapitalaung pertama kampung
Tariang Baru
Hermanus Manumpil. Lahir : tahun 1899
Hermanus mulai
bersekolah tgl.1 Juni 1904 pada usia
6 tahun, naik ke kelas-4
pada tanggal 4 Januari 1911, berhenti
sekolah karena sakit Bobento pada tanggal 24 Desember 1904. Setelah itu, Hermanus
masih melanjutkan Kembali
sekolahnya di Sekolah Gouvernements Tariang Baru
dan tamat pada
tanggal 31 Januari 1911.
Hermanus menyelesaikan study
di sekolah guru
kemudian menjadi Guru Injil yang dikenal juga
sebagai Penolong Injil. Orang Sangir menyebutnya “Nulong” dan Kepala Sekolag
SD Tarinag Baru.
( sumber Stamboek Sekolah Rakyat kampung
Tariang Baru)
Hermanus Manumpil
menikah dengan Ade Laida Laurens dan memperanakkan ;
- Ratuliu
Manumpil,
-
Yulin Manumpil,
-
Laemadang Manumpil,
-
Herman Pontoh Manumpil.
Ratuliu Manumpil menikah
dengan Heriet Penrika Dalope
dan memperanakkan ; Ricky Manumpil, Ripto Manumpil, Roy Manumpil, Rineke Manumpil, Robert Manumpil.
Emma Manumpil menikah dengan
̣Zakarias Abram ( guru/kepala
sekolah Tariang Baru, asal
Salurang) Memperanakkan ; Erns
Abram dan Christian Abram.
Erns Abram
menikah dengan Ruth Pontoh, memperanakkan
; Yohana Abram, Christopel Abram, Edison Abram, Ni Abram,
Leni Abram, Riplein Abram.
Sumber :
Sejarah Kampung Tariang Baru


